《BRAINWASH》32. ENDED UP (END)
Advertisement
Aku menahan langkah di dekat pintu utama rumah papa. Kukerahkn kekuatan untuk mempertajam indera pendengaranku. Aku enggak salah mendengar, ini benar-benar suara mama. Menyadari dugaanku benar, jantungku langsung memompa cepat. Untuk apa mama ada di sini? Apa yang mama lakukan?
"Jangan sok suci kamu, Ambar! Semua ini salahmu. Kalau bukan karena kamu, Gunardi pasti sudab kembali padaku!" Itu suara mama. Suaranya terdengar bergetar penuh kemarahan dan kesedihan.
"Cukup, Nila," bentak papa yang juga membuatku berjenggit.
Aku baru saja merasa bersalah pada papa dn keluarganya, tapi mendengar mama membuatku kembali merasakan pedihnya hidup kami di masalalu. Kali ini, papa masoh juga enggan membuka hatinya. Papa masih saja enggak menyadari orang yang selama ini tulus menunggunya.
"Enggak usah mendramatisir, Nila. Kalaupun enggak ada Ambar di dalam hidupku, belum tentu aku sudi kembali padamu," kata papa yang seperti pedang menggunus tepat ke dadaku yang kurasa juga menusuk hati mama.
Gelombang kesedihan kembali menerpaku. Aor mata kembali menggelayut di pipiku. Sebenci itukahpapa pada mama?
"Jangan lupa, Nila. Kamu penyebab pereraian kita. Ketamakanmu yang membuat kamh lupa cara bersyukur. Kamu enggak pernah puas dan selalu merasa kurang dengan gajiku. Sampai akhirnya kamuberselingkuh dengan bossku demi bisa bergaya bersama teman-teman sosialitamu?"
Kali ini ucapan papa membuatku terkejut. Belasa tahun aku hidup dengan dicekoki cerita tentang perpisahan papa dan mama, tapi enggak pernah sekaligus mama membahas hal ini.
Aku berharap mama membantah atau mengatakan bahwa apa yang papa katakan adalah fitnah, tapi hingga menit berlalu yang terdengar hanya isakan mama. Apa ini artinya ucapan papa benar?
"Dua kali, Nil, dua kali. Kamu berselingkuh dariku. Yang pertama aku bisa memaafkan, tapi kedua kalinya kamu berselingkuh sampai ke kamar hotel, lelaki mana yang sudi memaafkan kelakuanmu?" sinis papa lagi. "Meski begitu, apa pernah aku menjelekkan kamu di depan Maira? Apa pernah aku membuka aibmu pada anakku? Enggak, Nil. Enggak pernah secuilpun aku membuka aibmu. Aku enggak mau Maira terluka karena perbuatanmu. Aku lebih memilih menjaga perasaan Maira daripada egoku."
Fakta yang terucapkan dari mulut papa seperti sambaran petir bertubi-tubi untukku. Kakiku lemas, aku jatuh terduduk di dekat pintu. Sekuat tenaga aku menahan tangis dan isakanku. Aku enggak mau mereka menyadari kehadiranku.
"Kamu pikir aku enggak sakit hati dengan perbuatan kedua orang tuamu yang melarang aku menjenguk Maira? Aku bisa saja menuntut hak asuh atas Maira, terlebih karena kelakuanmu dan kedua orang tuamu, tapi lagi-lagi aku memikirkan kebahagiaan Maira. Apa pernah kamu memikirkannya juga, Nil? Apa kamu pernah memprioritaskan kebahagiaannya? Yang kamu tahu cuma meracuni otak dan hati Maira yang polos," cecar papa lagi.
"Jangan melempar kesalahan, Gunardi!" Kata mama dengan nada tinggi. "Akui saja kalau kalian memang sudah menjalin hubungan sebelum kita bercerai. Jangan jadikan perselingkuhanku sebagai pembenaran perselingkuhanmu."
"Apa buktinya kalau kami berselingkuh?" tantang papa.
Dari tempatku duduk, aku bisa melihat lebih jelas ke arah sumber keributan di rumah ini. Mama Ambar berdiri di belakang papa, satu tangannya mengusap punggung papa. Sedangkan Evalia mematung di dekat anak tangga tepat dibelakng mama Ambar dan papa. Mama berdiri di hadapan papa dan mama Ambar. Tangannya terangkat dan menunjuk tepat ke arah Evalia.
"Dia buktinya," kata mama dengan suara penuh kebencian. "Anak haram itu buktinya."
Evalia mulai menangis, sedang wajah mama Ambar memerah. Dia maju satu langkah demi mendaratkan sebuah tamparan keras tepat di pipi mama.
"Mbak Nila boleh ngomong apa saja tentang saya. Mbak juga boleh memfitnah saya sesuka Mbak, tapi jangan pernah berani menghina anak-anak saya," kata mama Ambar dengan suara tegas meskipun suarany bergetar. Dari tatapannya, jelas menggambarkn kemarahan yang setinggi gunung.
"Gila kamu, Nil. Benar-benar hilang akal kamu," kata papa setelah menarik mundur mama Ambar untuk meredam emosinya. "Kamu bukan orang bodoh, Nil. Jangan menyumbat otakmu dengan kedengkian di hati. Kehamilan bisa terjadi meski pernikahan baeu seumur jagung. Kamu enggak lupa cara menghitung usia kandungan, kan? Kamu juga enggak lupa, kan, kalau setiap wanita itu kesuburannya beda-beda. Jangan hanya karena kamu butuh waktu satu tahun untuk mendapatkan Maira, lantas semua wanita harus sama sepertimu."
Advertisement
Mama menggeleng kesal. "Bohong!" teriak mama. Dia juga meraih vas bunga yang ada di dekatnya, kemudian melemparnya hingg nyaris mengenai mama Ambar.
"Hanya karena Mbak berselingkuh, lantas semua orang Mbak nilai sama seperti kelakuan Mbak," kata mama Ambar.
Ucapan mama Ambar kembali menyulut api amarah mama jauh lebih besar dari sebelumnya. Mama bersiap menerjang mama Ambar. Dengan cepat aku berlari ke arah mama Ambar. Aku berdiri tepat menghalangi mama Ambar hingga pukulan mama mengenai bahuku. Enggak ada satu orang pun yang enggak terkejut dengan kehadiranku.
Mama Ambar langsung memelukku sambil mengusap bahuku yang kena hajar mama. "Kamu enggak apa-apa, Mai? Lengannya sakit enggak?" tanya mama Ambar. Dari wajahnya terlihat betul ia panik bercampur khawatir.
Aku baru akan menyahuti mama Ambar saat lenganku yang lainnya di tarik menjauh dari mama Ambar.
"Jangan sok baik sama anakku!" hardik mama.
Aku melepaskan pegangan mama. Kutatap matanya dengan lekat. Mamq teelihat bingung dengan sikapku. "Apa benar yang papa omongin, Ma?" tanyaku sambil menahan sesak di dada. Mama menggeleng, tapi enggak bisa berkata-kata. "Jawab aku, Ma. Apa klian cerai karena mama selingkuh?" desakku lagi.
Mama enggak bisa menjawab. Bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa mengeluarkn sepatah katapun.
Tuhan, jadi benar selama ini mamalah penyebab kehancuran keluarga ini? Jadi selama ini aku hanya diperalat dan mama berhasil mencuci otakku dengan hasutan jahatnya?
"Maira sayang. Dengar mama dulu, Nak." Mama mencoba membelai rambutku, tapi dengan cepat aku menjauh dari gapaian mama. "Mama memang salah, Nak, tapi mama yakin seratus persen kalau saja perempuan oni enggak datang di kehidupan kami, papamu pasti akan kembali pada mama, Nak."
Hah? Apa katanya kembali?
Aku menggeleng. Kupejamkan mata merasakan setiap kekecewaan dan getir yang menyerang jiwaku. "Maira kecewa sama mama." Akhirnya hany kalimat itu yang mampu kuucapkan. "Lebih baik sekarang mama pulang."
"Enggak," tolak mama. "Mama emggak bakal pulang sebelum ngasih pelajaran sama pelakor ini."
"Cukup, Ma. Tante Ambar bukan pelakor. Enggak ada yang ngerebut papa, yang ada hanya mama yang menyia-nyiakan papa. Sekarang lebih baik mama pulang," kataku mencoba membangunkan mma dari kehaluannya.
"Enggak. Mama enggak bakal pulang. Kita hampir berhasil, Mai."
"Pulang atau aku telepon polisi? Mama sudah bikin keributan di sini. Apa mama mau nama mama masuk ke kolom berita? Mencoreng nama mama karena berurusan dengan penegak hukum?" ancamkh yng bukan sekadar isapan jempol. Kali ini mama enggak melawan. Karir dan citranya adalah hal utama bagi mama.
Aku membawa keluar mama sambil menelepon taxi. Enggak kubiarkan mma berlama-lama di dalam rumah. Aku enggak ingin mama semkin membuat kekacauan. Waktu lagi menunggu taxi, ponselku berbunyi. Nama Erlangga muncul dj layarnya.
"Halo," sapaku begitu panggilan suara terhubung.
"Kamu di mana, Mai? Aku ke kosanmu, tapi kamu enggak ada," cerocos Erlangga.
"Di rumah papa, Ngga," sahutku berbarengan dengan mama yang kembali menarik tangannya dari genggamanku. Dia bersiap kembali ke dalam rumah.
Yang bisa kudengat dengan baik sari ucapan Erlangga berikutnya hanya, "ada apa?" Setelahny aku enggak bisa menngkapnya.
Jadi kujawab saja, "semua sudah berakhir, Nggak."
Yang Erlangga maksud pasti kelanjutan rencanaku untuk membuat papa bercerao dengan mama Ambar.
"Apanya yang berakhir?" tanya Erlangga.
"Semuanya. Sorry, aku enggak bisa jelasin sekarang," sahutku sambil menahan tangan mama sekuatnya.
"Kamu masih si rumah papamu?" tanya Erlangga lagi.
"Sebental lagi sih mau ke stasiun kereta, Ngga. Ku udah pesan tiket buat sore ini," sahutku. "Sudah dulu ya," imbuhkh yang langsung mematikan telepon dan memasukkanny kembali ke saku celana.
Beruntung taxi yang kupesan langsung datang ketika selesai menerima telepon. Dengan cepat kubawa mama duduk di dalam taxi.
"Kanapa kamu tahan mama? Kita harus bawa pulang papamu," omel mama sepanjang perjalanan kami.
Advertisement
Setelah jengah memdengan omelan mama, kukatakan padanya, "aku sudah enggak kepengin papa balik lagi sama kita. Aku lebih bahagia lihat papa sama keluadga barunya."
Mama membelalak. Matanya nyaris menggelinding. Aku enggak peduli. Mama emggak bisa selamanya bersikap seenaknya sendiri. Bukan hanya mama yang memiliki perasaan di dunia ini, tapi aku, papa, Mama Ambar dan Evalia juga. Bukan hanya mama yang berhak dan harus bahagia, tapi aku dan yang lainnya juga.
Kutatap mata mama lekat. "Ma, sadar enggak, sih, kalau dengan menyimpan dendam kita cuma menjadj penghalang kita ke masa depan yang bahagia. Mama tahu alasannya kenapa mama belasan tahun ini enggak bahagia?" kataku dengan nada rendah, berharap dengan begini bisa membuka pikiran mama. Mama bergeming, tapi tetap memusatkn perhatiannya padaku. "Karena mama cuma fokua dengan bagaimana caranya menghancurkan hidup mama Ambar. Kebencian, kedengkian dan dendam yang mama pupuk hingga berakar dan beetumbuh lebat hanya menutupi pandangan mama pada jutaan alasan untuk bahagia."
Kali ini kugenggam tangan mama dan mengusapnya pelan. "Mengikhlaskan itu memang enggak mudah, Ma. Makanya hadiahnya hati yang lapang dan kebahagiaan, kalau mudah pasti hadiahnya piring cantik," kataku mencoba mencairkan suasana. "Papa sudah menemukn kebahagiaannya, mama enggak mau bahagia juga? Apa enggak capek nyiksa batin mama dengan kebencian?"
Bulir bening mulai menggelayuti mata cantik mama. Aku tahu pintu hati mama mulai terbuka. "Mama enggak akan menemukan cinta dari memaksakan ego pada orang lain, Ma. Kalau mama sampai menghalalkan segala cara begini demi mendapatkan papa, coba telaah lagi itu cinta atau obsesi?"
Mama enggak menyahutiku. Setelah membersit ingus beberapa kali, ia memalingkan wajah pada jendela taxi di sebelah kanannya. Akh juga enggak berusaha mengganggunya lagi. Aku yakin mama sedang melawan sisi buruk dirinya. Aku juga yakin, mama masoh tetap sama seperti dulu sebelum dendam menyelinao di hatinya. Mama orang baik, wanita lembut dengan hati tulus. Aku percaya sisi baiknya akan menang kali ini. Mama hanya butuh waktu agar bisa memikirkan semuanya.
Aku membeli dua tiket kereta agat bisa memastikan mama duduk di kursinya sampai kereta membawany kemvali ke Surabaya. Aku turun dari kereta setelah pengumuman keberangkatan. Aku baru benar-benar melepas pandanganku dari mama yang duduk dengan anggun kereta setelah kereta mulai melaju. Kereta api Sancaka malam membawa mama kembali ke Surabaya. Kacamata hitam bermerk dengan harga selangit sukses membuat mama terlihat anggun dan berkelas. Kacamata itu juga sukses menyembunyikan perasaan mama yang hancur lebur sore ini.
Enggak apa-apa, Ma. Maira yakin mama pasti bisa melalui ini. Mama pasti bisa menemukan kebahagiaan mama sendiri.
Perlahan, aku berjalan menuju pintu kedatangan. Langkahku terhenti saat mataku menangkap sosok yang kukenali. Dia berjalan tanpa arah dan terlihat panik. Ia terus mengedarkan pandangannya ke sana- ke mari. Peluh berjatuhan di dahinya. Kaos putih polos di balik kemeja merah dengan pola kotak-kotak sedikit basah akibat keringat. Dia berhenti ketika oandngannya bertemu dengan mataku.
Ragu-ragu, aku tersenyum kaku ke arahnya. Alih-alih membalas senyumanku, dia malah berlari menghampiriku. Dia juga langsung meraihku ke dalam dekapannya. Enggak ada sepatah kata pun yang teeucap dari bibir merah dengan lekukan indah miliknya. Dia hanya terus memelukku dengan erat.
"Ada apa, sih?" tanyaku yang masoh berada diantara dekapannya. Dia enggak menyahutiku. "Aku enggak bisa nafas, nih," keluhku.
Perlahan peluka itu mengendur. Aku jadi bisa melihat matanya yang memerah. "Kamu kenapa, sih?" tanyaku lagi.
"Kupikir kamu bakal pergi ninggalin aku," katanya setengah merengek. "Jangan pergi, Mai. Jangan tinggalin aku. Jawaban aja belum dapat, masa mau dotonggal, sih."
Aku enggak tahu kalau Erlangga memiliki kemampuan merajuk begini. Biasanya dia selalu terlihat keren dan penuh kharisma.
Keningku berkerut mendengar kalimatnya. "Ninggalin kamu? Aku enggak ngerti, deh," kataku lagi.
"Tadi di telepon kamu bilang selesai. Kamu juga bilang mau ke stasiun kereta. Jadi, kupikir kamu mau pulang selamanya ke Surabaya," papar Erlangga.
Aku berusaha menahan tawa meski gagal dan malav menimbulkan suara aneh menyerupai kenrut tertahan. "Astaga. Kita pasti miskom, deh. Aku memang ke stasiun kereta api, tapi aku enggak ikut, kok."
Daripada menimbulkan kesalah pahaman lebih banyak lagi, jadi kuputuskan untuk menceritakan semuanya pada Erlangga.
"Sudah, ah. Sudah mau mahgrib. Kita ke kosanku yuk," ajakku setelah selesai bercerita.
Erlangga menahan tanganku. "Aku rasa ada baiknya kalau kamu ke rumah papamu dulu, deh. Banyak hal yang mesti kalian perbaiki," kata Erlangga yang langsung kutolak. "Mai, semarah-marahnya orang tua sama anak, pasti mau menerima maaf anaknya yang tulus," kata Erlangga lagi.
"Tapi, aku malu, Ngga. Aku udah ngomong macam-macam tentang mereka. Aku juga udah jahat banget sama mereka selama ini," kataku hampir menangis.
Dengan lembut Erlangga mengusap bahuku. "Bagus kalau kamu sadar kamu salah. Sekarang kewajibanmu buat minta maaf, Mai. Biar hatimu makin lapang. Yuk, aku antar," tawar Erlangga.
Kali ini aku pasrah saja dengan ide Erlangga. Sepanjang jalan aku mempersiapkan diri ubtuk segala kemungkinan yang paling buruk. Aku siap kalau diusir mama Ambar. Aku siap kalau dimaki Evalia. Aku siap kalau dibenci papa. Aku juga siap kalau mereka enggak mau memaafkanku.
Waktu aku sampai, mobil papa sudah terparkir di teras rumah, mesinnya menyala. Sepertinya mereka akan pergi. Pintu rumah juga enggak tertutup. Ragu, aku melangkan perlahan ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," kataku pada papa, mama Ambar dan Evalia yang terlihat tengah bersiap di ruang tengah. Mereka semua kompak melihat ke arahku.
Mereka twelihag terkejut dengan kedatanganku, tapi mereka juga langsung menyerbuku. Papa langsung memelukku. Mama Ambar jhga mengusap rambutku. Evalia yng datang terakhir ikut bergabung dalam pelukan.
"Maafin Maira, Pa. Maafin Maira, Ma," kataku yang sudah enggak kuasa menahan tangis. "Maafin aku ya, Evalia."
Aneh. Mereka malah ikut memangis bersamaku. Bukankah seharusnya mereka marah dengan apa yang sudah mamaku lakukan? Bukankah seharusnya mereka membenciku setelah semua perbuatan jahatku pada mereka? Kenapa mereka malah menyayangiku begini?
"Maafin papa yang enggak pernah peka sama perasaanmu, Mai. Maafin papa yang menyembunyikan kebenaran sampai kamu bisa mengambil jaln yang salah begini," kata papa. Aku menggeleng sambil terus berurai air mata.
"Maafin tante ya kalau ternyata kehadiran tante menyakiti hati kamu. Demi Allah, tante enggak pernah berniat menyakiti siapapun, terlebih kamu yang sudah tante anggap seperti anak kansung tante," kata mama Ambar.
Aku melepaskan pelukan papa. Kutatap mama ambar dengan penuh rasa bersalah. "Boleh ku peluk?" tanyaku ragu-ragu.
Meski air mata sudah membasahi pipinya, mama Ambar tetap saja berusaha menahan tangisnya. Ia mengangguk dan membuka kedua tangannya lebar untuk menerimaku.
"Tante keberatan enggak kalau aku panggil mama Ambar?" tanyaku setelah kami berpelukan.
Isakan mama Ambar bertambah. Dia memgangguk cepat. "Mama bakal seneng banget kalau kamu mau manggil gitu," jawabnya.
Papa dan Evalia kembali memeluk kami. Kami susah seperti teletubies yang berpelukan, tapi aku enggak keberatan. Seharusnya inilah yang kulakukan sejak dulu. Seharusnya aku menurut waktu Erlangga menasehatiku.
Ehh, Erlangga? Oh, iya. Aku hampir melupakannya. Aku, kan, ke sini bareng dia.
Terlambat. Ternyata papa lebih dulu menyadari kehadiran Erlangga. Papa melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah Erlangga. Gerakan papa menyita perhatian mama Ambar dan Evalia yang jadi melihat ke arah papa.
"Wah, siapa ini, Mai?" tanya papa.
Erlangga dengan cepaf mengulurkan tangan kanannya. Enggak sekadae menjabat tangan, Erlangga malah mencium punggung telapak tangan kanan papa.
"Saya Erlangga, Om, teman yang digantungin sama Maira," kata Erlangga.
Evalia sampai menahan tawa yang justru mengeluarkan suara seperti kentut tertahan.
"Digantungin gimana maksudnya, Mai," desis mama Ambat di telingaku.
Aku tergagap enggak menyangka kalau Erlangga bakal senekat itu. Apa yang harus kukatakan pada papa dan mama Ambar?
Papa mengajak Erlangga duduk di ruang tengah. Kami juga mengikuti papa dan duduk berkumpul di ruang tengah.
"Jadi, apanya yang digantung, Nak Erlangga?" tanya papa membuka pembahasan.
Erlangga menggaruk kepalanya yang kuyakini enggak gatal. Setelah nyengir lebar banget, dia berkata, "status kami, Om."
Tuhan. Jantungku melorot dari tempatnya. Anak ini ngaco atau gimana, sih? Dia sadar enggak sih sama siapa dia lagi ngomong ini? Dia sadar enggak, sih, sama efek ucapannya?
"Kalau kamu serius ...." Belum sempat papa menamatkan kalimatnya, Erlangga dengan cepat memotongnya.
"Saya serius, Om. Saya bersedoa membuktikan keseriusan saya," kata Erlangga yang membuat kami menatapnya dengan serius. "Insya Allah setelah menamatkan kuliah, saya bakal buktiin keseriusan saya," imbuhnya lagi.
Papa terkesiap mendengar penuturan Erlangga. Aku sudh tersipu malu campur senang. Setelah mengerjap beberapa kali, papa langsung menepuk bahu Erlangga yng duduk di sebelahnya.
"Lelaki itu yang bisa menepati janjinya, bukan hanya ucapannya. Kamu laki-laki?" tanya papa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Erlangga. "Buktikan kalau gitu."
Setelah ngomong begitu, papa lmgsung mengajak mama Ambar dan Evalia masuk ke ruang makan. Saat kupikir mereka sudah duduk di ruang makan, papa kembali lagi demk berkata, "jangan macam-macamin Maira sebelum dia sah jadi milikmu. Ingat, Maira itu wanita bukan barng kreditan. Kamu enggak bisa mengambil apa yang belum kamu lunasi."
Wajah Erlangga memerah. Aku yakin dia malu karena aku juga sama. Lagian siapa juga yng pengin berbuat macam-macam? Papa, nih, ada-ada saja.
Setelah sukses membuat wajah kami semerah tomat, dengan sntainya papa kembali ke ruang makan meninggalkan aku dan Erlangga yang salah tingkah.
"Kamu gila," kataku setelah ditelan hening yang cukup lama.
"Salah sendiri gantungin aku kayak pisang candevise di minimarket. Udah single, pake digantung pula," elaknya cepat.
"Tapi, kan, enggak mesti langsung ngomong sama papa, Ngga," kataku lagi.
Kali ini Erlangga menatapku dengan intens. Retina cokelat terang miliknya mengikat pandangan kami. "Aku enggak pernah main-main, Mai, apalagi soal perasaan. Aku bukan lelaki yang gampang bilang cinta. Aku juga bukn orang yang mau sembarangan menjalin hubungan. Waktu aku bilang sayang sama kamu, itu artinya aku benar-benar yakin sama kamu. Saat akh yakin sama kamu, itu artinya aku pengin sama kamu selamanya. Apa itu enggak cukup jadi alasan kenapa aku langsung minta kamu ke papamu?"
Advertisement
- In Serial83 Chapters
Two Brothers
This is the story of two rich brothers.Two Brothers, one smart, fun and happy go lucky and the other ruthless, heartless and manipulative. But their bond is something no one can break. They always got each other's back. Revenge, love, hate and desire, all of them are deadly combinations. And with haunting past and new enemies, life is not so easy for them.
8 642 - In Serial70 Chapters
Look Back at Me (Fleckney Fields Series, Book 1)
After ten years, Viola Holyoake returns to the peaceful picturesque village of Fleckney Fields, the home of the large family of her ex-husband, Rhys. Since their divorce, she's received her medical degree, got married, built her career, gone through a second, much less dramatic divorce - and now she's ready to enjoy the quiet countryside life and medical practice that she's always dreamt of. Thanks to the patronage of Nana Mable, the matriarch of the Holyoake family, Viola will now take the position of a partner in the local surgery, as well as a lodger of Dr. Fenton, the most prominent bachelor of the village. Will the village of Fleckney Woulds prove to be the just as homely and serene as she fondly remembers it? Will Viola overcome her unwillingness to open her heart to the possibly of a new romance - or an old one, perhaps?
8 125 - In Serial64 Chapters
My Unrequited Love
Zabardasti zid puri hoti hai, mohabbat nahi.Mir Mustafa AhwaanToot kar chaaha tha tumko, mohabbat sachi thi meri, gawah hai har namaaz ki dua.Maria Ali Ahwaan•My love for him is unrequited. I love him but he is someone else's. But I will move on. I'll try my best to forget him. I'll never look back. My love ended the moment he said ' I do ' taking her under his Nikah. The end of his chapter in my life will be the start of my new beginning...
8 223 - In Serial26 Chapters
OBSSESSED [2019 WATTYS ENTRY]
The story of a CIA agent. A ruthless and merciless assassin. A man who kill first and think later without any regret, who is rock hard like a mountain had his stone heart melted and he was fallen.
8 189 - In Serial51 Chapters
Elias
𝙄𝙣𝙛𝙖𝙩𝙪𝙖𝙩𝙞𝙤𝙣 could begin from a single touch.---After the death of Ambrosia Hill's grandmother, Josephine Hill, Ambrosia joins her family and relatives at the deceased woman's house to mourn their loss, accompanied by a lawyer and her son. Ambrosia and her sister question the cause of their grandmother's death and come to the conclusion that she was in fact murdered.Now she must uncover the dark secrets of her grandmother, but what will happen when Ambrosia falls in love with the young man whose mind is so very ill?---WARNING: Themes and chapters in this book may be unsuitable and disturbing for some readers. Such as murder, suggestive words, and descriptive events.Please read at your own risk. :)
8 174 - In Serial99 Chapters
Sent To The Past (Interracial Romance)
What would you do when out of nowhere you were sent to the past?? and not like Martin Luther King Jr days.Like the B.C past, yes before Jesus Christ his self days.what would you do? When you're sent to a place where you end up protecting someone from danger. Someone very special to his people but also wanted dead by some of his people.especially since that danger is being caused by someone who is suppose to love him but hates him and wants him dead. Knowing this person is a king from the past and you need his help to survive in this Era but what happens when you start falling? falling for someone in the past. someone who you have read in history books, what do you do when you know this person is going to be killed? what do you do when you start to love him? Would you change the past and save him? or let him die. But remember this, the past is never meant to change. So.... would you stay in the past or go back to the year you were living? ? Especially finding out you could go back home.Would You leave the people you have grown to protect and keep safe......Would you leave the man you have to learn to Love?#14 Brownskin #14/62
8 188

