《BRAINWASH》31. TITIK BALIK
Advertisement
Keesokan harinya Papa menelepon. Papa bilang nanti malam akan menjemputku untuk makan malam bersama. Rumah makan milik teman Papa ada yang sedang mengadakan soft opening. Aku menolaknya, kukatakan saja kalau sedang banyak tugas. Kudengar nada kecewa dari Papa. Sebelum menutup telepon, Papa masih mencoba merayuku untuk ikut tapi jawabanku tetap enggak. Aku beranjak menelepon Erlangga tapi urung kulakukan karena pipi yang tiba-tiba menghangat. Otakku memutar kejadian kemarin di ruang tamu, saat Erlangga bilang suka sama aku. Dasar Erlangga, kenapa ngomongnya pada waktu enggak tepat sih. Udah jelas-jelas aku masih pusing sama masalah keluarga, dia pakai acara nembak segala. Itu kan namanya dia bikin aku makin pusing. Kubenamkan wajah ke bantal. Ingin rasanya tidur seharian, lalu saat bangun nanti masalahku sudah selesai.
Memang sih, setelah bilang suka, Erlangga enggak memintaku jadi pacarnya. Tapi ... gimana ya, aku jadi enggak enak hati mau minta tolong dia. Jadi enggak bisa bayangin kalau keluar berdua. Rasanya pasti beda, aku bisa gugup dan enggak bisa mikir selama bareng dia. Aduuhh gimana dong! Sebenarnya aku punya rencana akan mengajak Erlangga memata-matai Papa saat makan malam keluarga, tapi kalau sepanjang bareng Erlangga aku gugup dan dag dig dug begini kayaknya mending aku tidur aja sampai besok pagi. Tiba-tiba ponselku berdering, ada nama Erlangga tercetak pada layar. Aduh!
“Hal, halo. Iya ... iya, Ngga,” sapaku terbata.
“Kamu kenapa? Kayak habis lihat hantu aja.”
Itu gara-gara kamu, Erlangga. Baru ditelepon saja aku sudah gugup dan salah tingkah begini, gimana kalau ketemu.
“Eng? Enggak.”
“Entar malam keluar, yuk,” ajak Erlangga. Nada bicaranya enteng banget. Seolah-olah kemarin dia enggak bilang hal yang spesial ke aku. Kok bisa dia santai begini padahal aku dag dig dug setengah mati. Aku jadi enggak bisa bayangin gimana rasanya pergi berdua bareng Erlangga.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas, langsung saja kuutarakan kepada Erlangga. “Emm, Ngga. Sebenarnya tadi papaku ngajak makan malam keluarga.”
“Oh, bagus dong,” komentarnya.
“Tapi tadi aku tolak. Emm, aku ada rencana lain. Gimana kalau kita ikutin keluarga papaku makan malam? Tapi, kita ajak Alya sama Frenda.”
“Ngapain ngajak mereka?”
“Aku takut kita enggak punya kesempatan bisa sedekat waktu menguping pembicaraan Tante Ambar dan papaku waktu itu. Jadi biar Alya dan Frenda yang maju. Tante Ambar sama papaku kan enggak kenal mereka. Jadi mereka bisa bebas mau duduk sedekat apa.”
“Hemm, masuk akal sih. Oke, nanti malam aku jemput. Kamu kasih tahu Alya dan Frenda, ya.”
“Oke, siap!” kataku riang.
Kudengar Erlangga tertawa, lalu sunyi. Dia belum menutup teleponnya, aku juga begitu. Ada rasa aneh yang menyeruak di antara kami.
“Emm, ya udah, Mai. Aku jemput nanti,” ucap Erlangga dengan nada penuh ragu sebelum menutup telepon.
Aku bersyukur karena Erlangga setuju dengan ideku. Tujuan lain ideku itu sih karena aku enggak mau mati gaya waktu cuma berdua sama Erlangga. Segera kuhampiri kamar Alya dan Frenda. Mereka berdua teman yang baik. Aku sering satu kelompok dengan mereka. Mereka juga sudah tahu masalahku meski hanya garis besarnya saja. Aku memang pernah cerita ke mereka waktu awal-awal indekos di sini. Aku cerita kalau sedang ada masalah keluarga makanya aku indekos. Kukatakan juga kalau kedua orang tuaku sudah bercerai dan papaku menikah lagi. Cuma sebatas itu dan mereka enggak tanya-tanya lagi apalagi sampai kepo cari tahu. Alhamdulillah mereka bukan teman yang seperti itu.
Advertisement
Malam pun tiba. Erlangga datang bersama honda jazz hitamnya. Aku mengambil duduk di samping Erlangga. Alya dan Frenda di belakang. Mobil Erlangga membawa kami ke rumah papaku. Kami akan mengikuti ke mana saja mobil Papa pergi. Mobil yang kami naiki berhenti di depan sebuah rumah kosong. Letaknya hanya berbeda dua rumah dari rumah Papa. Sesaat setelah Erlangga menghentikan laju mobil, ponselku berdering. Ternyata Papa yang menelepon. Papa masih berusaha mengajakku ikut. Aku tetap menolak meski Papa menunjukkan di mana letak dan keistimewaan rumah makan itu.
Mobil Papa melaju menuju Sleman, lalu berhenti di depan sebuah rumah makan bergaya adat jawa. Aku dan Erlangga tetap di mobil sementara Alya dan Frenda turun lebih dulu. Bila memungkinkan, kami ikut turun. Kalau enggak, dengan terpaksa harus menunggu di mobil atau kami berdua pergi dulu baru menjemput Alya dan Frenda nanti. Sepuluh menit berlalu, Frenda mengirim pesan dan foto lokasi duduknya yang bersebelahan dengan meja Papa. Itu berarti aku dan Erlangga harus tetap di mobil. Erlangga memutuskan untuk membawa mobil pergi dari rumah makan.
“Kita cari kafe, ya. Mereka berdua pasti lama.”
Untuk pertama kalinya menghabiskan waktu sejam bersama Erlangga serasa setahun. Bukan enggak nyaman, justru dia cowok yang menyenangkan. Aku hanya bingung menempatkan diri dan sepertinya Erlangga sadar akan hal itu. Saat Frenda menelepon memberitahu bahwa Papa dan keluarganya sudah siap-siap meninggalkan rumah makan, kami kembali ke rumah makan sambil membicarakan hubungan ini.
“Ada yang kamu pikirin, Mai?”
“Emm, keluargaku,” jawabku singkat meski terselip rasa ragu.
“Selain itu,” desak Erlangga.
“Apa ya?”
“Aku? Bilang aja, enggak apa-apa kok.”
“Ih, Ge-er!” aku tertawa sambil menikmati rasa hangat di kedua pipi.
“Sorry deh, kalau aku ngomongnya di waktu yang enggak tepat. Mana enggak romantis lagi.” Erlangga menggaruk bagian kepala di dekat telinga. “Sebenarnya malah udah aku ungkapin sejak dua minggu yang lalu.”
Erlangga terdiam sejenak sebelum melanjutkan berbicara. “Aku ngomong ke kamu tentang perasaanku itu, soalnya aku mau jujur dan ngungkapin apa yang aku rasa. Hal yang dipendam itu kan enggak baik buat hati.”
“Makanya, aku berharap kamu jujur dan ngungkapin apa yang kamu rasa, Mai. Terutama soal masalah keluargamu ini. Kalau soal kita ... aku enggak maksa buat kamu jawab. Aku mau nunggu kok.”
“Jawab? Aku harus jawab, gitu? Memangnya yang kamu ungkapin ke aku itu pertanyaan? Itu kan sebuah pernyataan, Ngga,” kilahku menggodanya.
“Oh, begitu. Oke, oke.” Erlangga melempar senyum sambil mengacak rambutku sekilas.
Rumah makan tempat di mana Alya dan Frenda berada sudah terlihat, segera kutelepon Franda agar secepatnya keluar. Begitu sosok Alya dan Frenda terlihat di depan rumah makan, Erlangga mendekati mereka. Mobil meluncur pergi setelah Alya dan Frenda masuk.
“Jadi gimana tadi waktu kalian ketemu papaku?” tanyaku pada Alya dan Frenda.
“Sambil mengobrol, sambil makan ini nih, keripik usus.” Alya membuka kantong plastik berisi keripik usus yang katanya dia beli di dekat kasir rumah makan.
Advertisement
“Habis berapa tadi? Aku ganti, ya,” kataku sambil mengulurkan tangan berusaha mengambil keripik.
“Gampang, Mai. Yang penting selesaikan dulu masalahmu,” kata Alya.
Kata Alya, meja mereka bersebelahan dengan meja Papa jadi pembicaraan di meja papaku bisa mereka dengar dengan jelas. Kata Frenda, mereka membicarakanku. Mereka ingin saat di pantai Siung terulang lagi. Evalia memujiku saat mendaki ke bukit Pengilon dan saat aku berbagi bekal dengannya. Mama Ambar terus memujiku kala aku membantunya di dapur. Kata Frenda, Evalia dan Mama Ambar meminta Papa untuk menjemputku pulang.
“Papamu memang enggak banyak bicara, Mai. Tapi kelihatan banget kalau paling bingung dibandingkan Mama dan adik tirimu. Emm, Oh iya, Papamu bilang, “Papa juga sebenarnya ingin menjemput Maira pulang ke sini lagi. Papa mau minta maaf, Papa mau jadi ayah yang baik buat dia. Tapi apa Maira masih mau kasih kesempatan itu?” Nyesek banget waktu denger papamu bilang gitu,” cerita Alya panjang lebar.
“Ada lagi perkataan papanya Maira yang bikin aku terharu. Emm, waktu itu papanya bilang, “Papa nyuruh Maira indekos itu bukan karena benci. Tapi supaya Maira fokus sama kuliah, merasa nyaman karena enggak ketemu kita. Papa tahu, Maira sering merasa sedih kalau kita berkumpul. Padahal, Papa ingin Maira ikut seneng kalau kita lagi rame-rame. Tapi ya, gimana. Kita enggak bisa memaksa kesenangannya orang. Apa lagi kebahagiaan menurut Maira dan menurut Papa itu beda.” Aku bukan Maira, ya, tapi aku ingin nangis waktu papanya Maira bilang begitu. Batinku waktu itu, harusnya Maira ada di sini dan denger langsung perkataan papanya.” Franda ikut menimpali.
“Thank’s Franda, udah bikin aku nangis,” kataku dengan suara bergetar.
“Tuh, kan!” kata Franda dan Alya hampir bersamaan.
“Aku sama Franda memang enggak ngerti masalah kamu, Mai. Tapi kalau lihat keluarga papamu tadi, mereka sayang banget sama kamu. Mama tirimu aja bolak balik memuji makanan yang ada di meja sambil bilang kalau kamu pulang akan dimasakkan seperti itu.”
Aku mulai goyah dan merasa Erlangga benar untuk enggak hanya memikirkan diriku tapi juga kebahagiaan papaku. Aku jadi enggan melanjutkan misiku. Aku mulai membandingkan mana yang lebih membuatku dan Papa bahagia. Saat bersama ke pantai dengan suasana akrab bersama keluarga Papa atau saat aku bersama Mama dan Papa. Aku menarik napas panjang, enggak berminat makan keripik usus lagi. Keripik yang tadinya terasa gurih tiba-tiba terasa hambar.
“Makasih Maira, dadah Erlangga,” kata Alya sebelum turun. Perkataan Alya menyadarkanku kalau kita sudah sampai indekos.
“Aku yang makasih banyak sama kalian. Alya, habis berapa tadi? Aku bayar.” Segera kuambil dompet dari dalam tas.
“Nanti aja, gampang. ” Alya bergegas turun.
“Mai, ikut aku ke toko buku dulu, ya.”
“Ngusir nih, ceritanya. Awas ya, Ngga kalau udah jadian enggak traktiran, ciee,” goda Franda gara-gara Erlangga mengajakku ke toko buku.
Aku hanya melempar senyum menanggapi perkataan Franda, berbeda dengan Erlangga yang tampak tersipu. Ditekannya klakson berulang kali dengan jeda pendek-pendek agar Franda segera turun. Aku tertawa melihat tingkah Erlangga. Ternyata lucu juga wajah Erlangga yang tersipu.
“Langsung ke toko buku, ya.” Erlangga mulai menjalankan mobil.
Keadaan mobil menjadi sepi. Kuputuskan untuk menelepon Mama. Akan aku katakan semuanya kepada Mama termasuk apa yang menjadi kemauanku.
“Halo, assalamualaikum, Mama,” kataku begitu Mama menjawab telepon.
Langsung saja kuceritakan mengenai investigasi yang kulakukan dua hari ini. Terang-terangan kukatakan bahwa Papa bahagia bersama keluarganya. Aku pun memutuskan nggak akan mengganggu keluarga Papa lagi. Mama langsung marah-marah dan memaki-maki aku. Enggak cuma itu, Mama juga mengungkit-ngungkit soal banyaknya biaya untuk sekolah, les, dan kuliahku. Hal ini yang membuatku jadi benci sama Mama. Kalau memang Mama enggak ikhlas mengeluarkan uang buat aku sekolah, les ini itu, dan kuliah, ya udah jangan suruh aku melakukan semua itu. Atau kalau perlu, Mama bisa minta keringanan biaya sekolah maupun kuliahku. Air mata membanjiri wajah bagai air bah. Kututup telepon dari Mama tanpa berpamitan. Aku jadi merindukan kehangatan keluarga Papa.
***
Sudah tiga hari aku menghindar dari telepon Mama. Meski begitu, Mama tetap mengirim pesan dan terus memaksaku untuk menjalankan misi menghancurkan keluarga papanya. Hingga hari ke-4 pada aksi diamku, enggak ada pesan dari Mama. Aku jadi eggak enak hati, akhirnya kucoba menelepon Mama tapi nggak diangkat. Setelah makan siang dan salat zuhur pun Mama masih susah ditelpon. Kok tumben sih, aku jadi khawatir, ada apa dengan Mama, ya? Aku memutuskan menelepon Eyang Uti menanyakan perihal Mama yang susah ditelepon.
“Mamamu kan sudah berangkat ke Jogjakarta tadi pagi. Memangnya mamamu enggak bilang?”
Aku refleks terkejut karena sebelumnya Mama enggak bilang kalau akan ke sini. Aku bergidik, jangan-jangan Mama punya rencana lain. Bila memang begitu, Mama pasti ke rumah Papa. Aku harus segera ke sana. Aku bilang pada Erlangga kalau enggak ikut kuliah jam berikutnya. Aku harus ke rumah Papa. Erlangga berniat mengantar, tapi aku menolaknya. Aku enggak mau dia terlambat masuk kelas gara-gara mengantarku. Dengan diantar ojek online aku menuju rumah Papa.
Sesampainya di rumah Papa kudapati pintu pagar yang enggak dikunci. Biasanya, keadaan begini ketika ada tamu di rumah. Kulihat enggak ada mobil selain mobil Papa dan Mama Ambar, enggak ada motor selain motor matic yang biasa dipakai Evalia. Jangan-jangan ada tamu dari jauh sehingga enggak ada kendaran lain di sini. Saat mendekati teras aku mendengar keributan yang berasal dari dalam rumah. Siapa itu?
Advertisement
- In Serial54 Chapters
Seasick (yandere males x reader)
[[[ BEGAN: June 29, 2020 - __]]][[X READER VERSION]]You are a runaway princess, escaping your life as a caged up royal, sick of rules and the cruel reign of your parents.However, you are naive and sweet, too kind for the outside world, and had no idea that boarding a random ship was the worst mistake you could make.Little did you know, you boarded the Scorched Bones, the pirate ship of the Demon Crew. Onboard are four equally bloodthirsty demon pirates that have taken a liking to the mystery that is you. Imprisoned by the captain your life is now a wild journey of danger, mishaps, romance, oftentimes comedy, and fantasies you never thought you would see with your own eyes. As you battle your own inner conflicts, doing your best to keep your true identity hidden, you must keep up with your four vastly different captors.All while the pirates go from a slight liking to an obsessive seasick love rather quickly.Though, two men from your past are unwilling to just allow you to escape them and will stop at nothing to stand by your side again.Princess (Y/N), your adventure starts here. {* I do NOT own any of the photos or music that appear as references and backgrounds of this story unless otherwise said.*} Demon Yandere Pirates X PRINCESS reader+ TWO other yandere love interests that will remain anonymous for now :)
8 155 - In Serial33 Chapters
Once More • J.Jk FanFic. ✔️
❝Your son, he looks very similar to Jungkook...❞Leave it to a 3-year-old to bring two parents back together.HR: #1 in Fanfiction & #2 in RomanceThis story is completed✔️CEO and Father AUA Jeon Jungkook Fanfiction
8 345 - In Serial41 Chapters
His To Keep (COMPLETED)✔️
"What's your name?" He gently asked as he approached me, the rage and hatred that had once painted his features now gone."A-Avery," I stammered out, my body slightly shaking out of fear."Avery," he repeated, my name sounding beautiful as it slid past his lips. The moon trickled through the treetops and illuminated his goldy body as he continued stroking my cheek beneath the soft moonlight. I found myself closing my eyes and leaning into his strangely addicting touch and despite how badly I wanted to pull away, but body refused to and basked in the warm sparks that only my dangerous and feared mate could cause. ***The day Avery's parents decided to leave her and go rogue was the day her once happy heaven became a scorching hell with her demon of an Alpha relentlessly abusing her along with the pack members, being able to have her do whatever they want without any boundaries or limits. One night, the infamous Blood Crescent anti-pack attacks her home, leading to the death of her Luna, the only one who'd cared for her, and creating a new hell for her to endure. But what happens when she finds out her mate is the heartless Alpha of this anti-pack that destroyed everything she'd ever known? Will she be able to keep her head above water or will her mate's dark secrets and past tie themselves to her ankles and drown her in the sea of uncertainty and doubt? (It's not as cliche as it seems, trust me. Try it and I'm sure you'll like it)Copyright © 2015Rewritten version © 2017All rights reservedBeautiful cover by @BloodyToni
8 398 - In Serial28 Chapters
Restless Ballet (OHSHC)
A girl who dances to the emotions she feels, instead of the music that plays. She is alone and is afraid to be happy. This lovely maiden is famous for the way she dances.And a certain host is a huge fan. And another related to the restless dancer. With long lost siblings to biggest fan to a new romance blooming. Join the Host Club in Restless Ballet.--I DO NOT OWN OURAN HOST CLUB. OR THE PHOTOS AND VIDEOS. ONLY MY OC AND PLOT. ENJOY!
8 209 - In Serial48 Chapters
Dalaric
a hehe bookDalaric "Ricky" Mikael was known for two things; being the country's best assassin and being a silent brute. His demons enveloped him in darkness and he saw no light at the end of any tunnel.Until a girl, who's weird and wears nothing but a pair of black jeans and t-shirts that are too big for her, called him pretty.(No one dies in the end)Word Count [145k]#2/170K in Cute : 14/9/2020 #1/54.9K in Anxiety : 19/10/2020 #4/50.8k in Crazy : 7/10/2020 #7/28.1K in Goodgirl : 21/9/2020 #1/22k in Interracial : 16/9/2020 #1/13.9K in Cold : 21/9/2020 #1/11.5K in Adorable : 9/9/2020 #1/4.1K in Serious : 4/9/2020 #3 in Young AdultTrigger Warnings : abuse & ptsd (mentions of psychotherapy) Copyright @ARKHNN 2020 - All rights reserved.
8.57 32515 - In Serial22 Chapters
Quarterback's Study Buddy
Noelle Cartwright did everything by the book. Some call her 'stuck-up.' But, she never cared. She's a high-school senior with a lot on her plate and no room for romance. All she wants to do graduate high-school and finally start her life. That is, until Carson Holt, captain of the football team, Carson Holt flashes her a dazzling smile and begs for her help in Biology. Carson Holt is the stereotypical slutty footballer whose main concern is getting his grades up and getting off the bench. He needs help in Bio but he didn't think he'd get mixed up with a sweet, quiet girl. Who would have thought he'd actually care for her.
8 378

