《Senja Jingga Dan Cerita Yang Telah Usai》Aku dan matahari pagi
Advertisement
"Alam memang selalu memberi warna tersendiri bagi siapa saja yang mau bersusah payah dan pantang menyerah."
kutipan salah satu kawan yang merangsang pikiranku untuk berani mencoba sesuatu yang benar benar baru dikehidupanku.
hari ini aku barlyn widiansyi atau akrab disapa (zens) seorang wanita yang sudah muak dengan dunia kota yang ingin melarikan diri ketempat yang sepi.
Pikiran senang campur khawatir selalu muncul. Takala teringat keputusanku untuk menyetujui ajakan Wildan kawanku untuk pergi ke salahsatu gunung tertingga di jawa barat. Entah bagaimana aku nantinya seorang yang bahkan tak tau kejamnya dunia luar seperti apa.
Ah coba saja toh tak ada salahnya mencoba meskipun khawatir akan menyusahkan kawanku nantinya tapi aku harus semangat dan yakin akan keputusanku ini.
Satu bulan sebelum berangkat wildan menghubungiku menyarankanku agar rutin berolahraga agar tidak terlalu shock nantinya karena perjalanan yang ditempuh akan menyeka banyak keringat, waktu yang panjang juga melelahkan pastinya.
*****
Seperti yang telah disetujui sebelumnya sehari sebelum keberangkatan kami berkumpul disalah satu rumah teman kita Gita memang rumahnya strategis mudah diakses darimana saja untuk memebeli logistik atau barang apa saja yang perlu dibawa untuk kebutuhan kelompok.
Aku tiba lebih awal karena memang jarak antara rumah dan tempat tinggal gita cukup jauh. Biar bisa istirahat dulu nantinya pikirku.
Terlihat raut wajah bahagia gita ketika aku tiba di terminal karena sudah hampir dua tahun tidak pernah bertemu. Melepas rindu dengan memeluknya sambil menahan tangis haru masih terbayang jelas masa masa kita sebelum berpisah. kebiasaannya masih sama tak berdandan, masih jauh dari sifat peminim yang diharapkan orangtuanya. tapi kecantikannya terlihat karena dia terlihat natural.
"jam berapa dari bekasi zens?" pertanyaan basa basi yang sering terdengar ketika sudah lama tidak bertemu.
"jam 11 git, biasa jalanan indonesia" jawabku kemudian.
"kok gak bareng ridwan, dia kan dari bekasi juga."pikirnya heran
"dia udah dirumah sodaranya dari minggu kemaren di bandung katanya."memang ada teman kuliah ku dulu dari bekasi yang akan ikut mendaki bersama kami.
"yaudah yuk kita langsung ke rumah fajar dulu nanyain apa saja yang harus dibawa."
"ajay belum dirumah lu git?" dengan dahi ,mengkerut ku bertanya.
"katanya masih beresin revisian skripsinya belum di acc sama pak surya" Dosen pembingbing yang resenya minta ampun.
"masih sibuk organisasi dia sampe skripsinya gaberes beres? Ledek ku
"iyaa biasalah prinsip nya kan masuk kampus ini tuh susah ngapain keluar cepet cepet" kami tertawa sembari melangkahkan kaki menuju mobil gita.
*****
Hari yang menjadi perjalanan pertamaku dimulai dengan hati yang berdebar ketika nampak dari kejauhan gunung tinggi yang berdiri kokoh itu adalah tujuan yang akan menjadi pengalaman sekaligus perjalanan pertama terjauh seumur hidupku.
Setelah mengurus perizinan pendakian kami semua (Ridwan,Fajar,wildan,aku dan gita) berdoa terlebih dahulu untuk keselamatan selama pendakian.
Semua berjalan lancar gunung ini masih asri masih jarang orang berkunjung karena letaknya yang susah diakses juga biaya yang dikeluarkan terbilang cukup mahal untuk sekedar melakukakn perjalanan yang melelahkan. Semua itu terbayar ketika kulihat pemandangan yang terpampang dihadapanku keindahan hutan belantara yang masih hijau dengam sambutan suara burung burung yang cantik berlalu lalang dari dahan satu berpindah ke pohon lainnya begitu sampai tak terasa sembari saling berbagi cerita antara kami berlima. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung seperti perasaanku yang tadinya sembringah berganti menjadi cemas tak kala hujan rintik rintik mulai turun. karena kelalaian ku membawa jas hujan yang diwanti wanti sebelum berangkat oleh wildan bisa dibilang ketua kelompok dalam perjalanan ini."mungpung hujannya belum gede, nanti di pos 3 kita break dulu sambil pake dulu jas biar baju kalian gak basah.'' melihat raut muka ku seperti orang bingung wildan menghampiriku dan bertanya.
"Lu ko kaya binggung gitu zens?"
"gua lupa bawa jas hujan wil"seketika wajah yang tadinya biasa berubah seperti menahan amarah.
Advertisement
"kan gua udah wanti wanti sebelum berangkat bawa jas hujan mau kepake atau engga juga tetep bawa ah lu gimana sih."masih dalam keadaan marah wildan berjalan dan mengecek semua anggota membawa jas hujan.
"udah lah wil kita neduh aja dulu di pos 3 gua kira hujannya juga gaakan lama ko lagian gua juga laper kita masak masak kecil aja disana ya gak wan." disertai ketawa ketawa kecil yang langsung disetujui oleh Ridwan.
"gimana git? Tanya wildan
"gua setuju wil daripada dipaksain ntar kasian zens kalo harus jalan ntar kedinginan" gita mulai bicara sambil memelukku
"yaudah kita neduh dulu di pos 3 semoga hujannya cepet reda."
"udah zens jangan diambil hati wildan kan gitu kalo lagi kesel tapi lo kan tau niatnya baik ko biar lu gakenapa kenapa f."Ridwan membuka suara ketika telah hening sesaat. Setengah jam kami melanjutkan perjalanan sampai di pos 3 dan cukup membuat bajuku menjadi basah.
****
Dan hujan pun sudah mulai reda kami memutuskan untuk memasang tenda darurat di sana.
Wildan menghampiriku dan menyarankanku untuk menganti dulu baju yang basah sementara ridwan dan fajar sibuk memasang tenda darurat untuk berteduh.
"ganti baju dulu gih ntar lo sakit lagi"
"gapapa udah gaterlalu basah ko wil"
"zens ini belum setengah jalan lho udah lo ganti dulu bedain dong ini bukan di kota yang cuacanya stabil ini di gunung cuacanya ga beraturan."Nada suara wildan mulai meninggi
"santai kali wil gausah marah marah juga" Ridwan menghampiri kami berdua dengan minuman hangat buatannya.
"Nih minum dulu biar ga kedinginan."
"lu bawa baju lebih kan? Yaudah ganti dulu aja walaupun gitu wildan bener juga ntar lo kena hypotermia dijalan repot nanti Git git temenin zeans ganti baju dulu gih biar gua yang lanjutin masak"
"serah deh susah diatur lu zens" gerutu wildan seraya pergi meningkalkan kita.
"temenin gua ganti baju git gaenak gua nyusahin wildan mulu daritadi."keluh ku pada gita
"ayoo, gita menarik tanganku untuk bangun dari duduk menuju pepohonan yang lumayan tertutup
"mau kemana zeans? Fajar bertanya sambil memasang gaya.
"Ganti baju, awas ya lu jangan ngintip."gita menjawab pertanyaannya dengan nada meledek dan tatapan sinis.
"Dih kuya nyamber aja, gua nanya zeans juga."aku hanya tersenyum menjauh dari mereka masuk kedalam pepohonan untuk pertama kalinya.
"gua ga enak sama wildan git,"
"Udahlah jangan diambil hati dia sebenernya care sama lu dari pertama berangkat juga dia udah merhatiin lu mulu,jangan jangan dia ada rasa sama lu zeans."
"ah lu aneh aneh aja gua kan temenan sama dia udah lama manamungkin dia mendem rasa sama gua."
"tapi dari gelagatnya dia ke elu tuh kaya ada sesuatu yang dia coba tutupin dari lu zeans" sambung gita
"udah ah ngaco ngomong lu lama lama git"kami berdua tertawa lepas sekali seperti tidak ada beban saa sekali di hidup kita padahal sebelum berangkat aku sedang ada masalah dengan Bima seseorang yang sangat amat aku sayang berani menghianati ku.
"ngomong ngomong gimana lu sama Bima kapan dong lu nyebar undangan inget umur woy lu udah lulus kuliah apa lagi yang lo tunggu."gita bertanya tentang hubunganku dengan bima.aku tak bisa menjawab hanya melamun membayangkan kalo yang care seperti wildan itu adalah bima, ah senang sekali mungkin rasanya.tapi itu tidak mungkin mana mau bima diajak menjelajah hutan seperti ini.
"woyy ko bengong sih,?" gita menyadarkan lamunanku
"eh eh iya lo nanya apa barusan?"
"lo mikirin apaan sih zeans ?sampe ngelamun gitu"
"engga gua cuma keinget sama bima aja git."
"Gua kan tadi nanyain bima, gimana hubunganlo sama dia."
"kurang baik git, dia ada perempuan lain dibelakang gua"
"serius lo?, gua kira baik baik aja ko lu pinter banget sih nyembunyiin ini dari gua?biasanyakan kalo ada apa apa lo cenggeng selalu cerita sama gua."
Advertisement
"udah hampir dua bulan ini hubungan gua sama dia digantung tanpa kepastian."
"terus lo tau dari siapa kalo bima selingkuh? jangan cuma lo denger kata orang terus lo percaya gitu aja zens, dalam hubungan pasti ada aja orang yang gak seneng dengan hubungan lo sama bima."
gua senderan dibahu gita tanpa terasa cukup lama ku ceritakan semua tentang kita dan air mata ini tak bisa kutahan lagi akhirnya jatuh. Buru buru ku sela agar gita tak tau aku sedang menangis.
"gua liat pas ulang tahun ghea git."
"udah lah lo jangan berharah terlalu tinggi kalo gitu inikan lagi di gunung jadi lepasin bebanlu disini semua tinggalin kesedihanlu semua disini.
"thank ya git, lo emang sahabat gua yang paling ngertiin perasaan gua"ku peluk gita sekencang kencang nya seaakan air mata ini tau kapan harus menetes dan untuk siapa ia jatuh.
Dari kejauhan terdengar wildan memangil manggil nama kita
"zeans,gita dimana si lo udah belum ganti bajunya lama amat."
"kita disini udah ko ini bentar lagi kesana." teriak gita sambil melangkah kedepan mendekati wildan
"yuk zens udah jangan sedih lagi" aku hanya memberikan senyuman tipis sembari meyekat kembali air mata di pipiku.
"Lama amatt sih tuh fajar udah masak buat kita makan biar tenaga kembali pulih, perjalanan kita masih jauh nih."
"Zeans lo ko nangis?,lo kenapa."dari raut wajah marah berubah menjadi cemas wildan bertanya
"Gua gak papa ko wil"kelilipan air ujan aja tadi."jawabku tanpa membuatnya khawatir.
"lo nangis gara gara gua tadi ya?"
"zens lagi ada masalah pribadi wil udah deh lu sana duluan aja biar nanti gua sama zeans dibelakanglu,"
"bener gak papa ?"yaudaa kalo gituu ayok kita makan dulu.
Sekitar pukul 11 siang setelah beristirahat dan makan yang cukup juga hujan yang sudah reda kami melanjututkan perjalanan menuju camping area yaitu di pos 5 perjalanan pun cukup memakan waktu yang lama sekarang berganti posisi yang tadinya wildan dibagian depan menjadi leaders bergiliran dengan ridwan, fajar tetep dibelakang ridwan ,kini wildan menjadi sweeper posisi paling belakang aku dan gita masih berada ditengah untuk memastikan tidak terjadi hal hal yang tak diinginkan saat perjalanan.
Perjalanan dilalui tanpa ada kendala fisik karena semua anggota kami sudah terbiasa berolahraga sebelumnya juga aku atas anjuran wildan jadi rutin olahraga yang tadinya jarang sekali berolahraga.
"zeans bener lo gak marah sama gua?" wildan khawatir karena sikapnya tadi membuat zeans tersinggung karena ucapannya.
"ngak lah wil santai aja bukan gara gara lo ko gua lagi ada sedikir problem aja."
"Yaudah selama pendakian ini gua buat peraturan baru semua anggota dilarangbersedih sampai kita semua selesai turun, kalo bisa sampe selamanya gausah sedih."wildan mengepalkan tangannya dan menyentuhkannya dengan tanganku "tos""
"bisa aja lo wil."kita senyum ku tak dipaksakan senyum yang benar benar lepas."
"gitu dong senyum kan manis."gita yang mendengar percakapan kita berdua berteriak.
"Moduss tuh zeans awass wildan itu dulukan terkenal tukang modusin cewe kampus." haha kami semua tertawa,wildan hanya tersenyum sambil menyeringai.
Sekitar pukul 3 sore kami beristirahat kembali di pos 4 lumayan memakan waktu 4 jam karena kami berjalan santai tidak tergesa gesa untuk sampai di pos 5 karena haripun belum cukup sore untuk mendirikan tenda. Menyenangkan ternyata menjelajahi alam bebas jauh dari riuk piuk keramaian kota yang ada hanya beberapa bapak bapak pencari kayu dan kicauan burung yang membuat telinga dan mata menjadi rilex.kehijauan hutan yang masih terjaga kelestariaannya membuatku nyaman berada dilingkungan yang baru ku jejaki ini, ah sial kenapa tidak dari dulu wildan mengajaku seperti ini mungkin kalau tau seperti ini aku akan kecanduan menjelajah alam.
Pukul 6 sore kita sampai di pos 5 dan langsung mendirikan tenda.
Kita tidak langsung melanjutkan menuju puncak karena untuk perjalanan menuju puncak kira kira diperlukan waktu 6 sampai 7 jam tergantung kekuatan fisik tiap masing masing orang .aku bersyukur selama perjalanan tidak ada hal hal yang tidak diinginkan terjadi semua berjalan lancar fajar masih sering melucu untuk membuat suasana perjalanan semakin berwarna dan sangat mampu menghibur kita selama perjalanan.
Setelah shalat magrib bersama Kini bagian aku dan gita yang masak karena wildan dan fajar sedang mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun penghangat cuaca yang dingin diatas sini.
"Git lu sama zens sekarang masak dulu ya gua sama fajar cari dulu kayu bakar buat nanti malem
"Ridwan kemana wil?"tanya gita.
"ridwan masih beres beres di dalem tenda biar enak nanti tidur kalian berdua."
Sungguh perjalanan yang tak akan bisa ku lupakan selama hidupku bagaimana tidak berbagai pengalaman dan pelajaran berharga ku dapat begitu banyak walaupun baru beberapa jam berada di tempat baru ini.
Lepas dari kecanduan handphone jauh dari alat komunikasi hanya ada teman yang benar benar mengerti dan menjaga seperti keluarga.
Ridwan masih sibuk dengan urusan didalam tenda sedang wildan dan fajar melum juga kembali berkumpul, masakan sudah siap semua wildan dan fajar dibantu ridwan sedang menyalakan api unggun untuk penerangan sekaligus penghangat untuk kita bersama.
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam sekeliling gelap hanya ada beberapa tenda pendaki lain yang sudah padam lampunya mungkin kelelahan saat mendaki. rasa ngantuk pun mulai menghampiri kami semua tapi tidak dengan ridwan dia masih sibuk menulis entah apa yang ia tulis sampai satu satu dari kami mulai berpamitan untuk tidur]
"Gua tidur duluan ah dingin disini, git lu mau ikut sama abang tidur"celoteh fajar melangkahkan kaki menuju tenda disertai tertawa kami semua
"idihh abang, abang toyib kali lo ya haha urus sana anak sama bini lo ditinggal mulu."kami semua tertawa tetapi ridwan masih saja dengan senyum tipis khas nya memang dia tipe orang yang jarang sekali tersenyum apalagi tertawa.
"gita juga ikut pergi masuk ke tenda khusus kita berdua."
Tinggalah kami bertiga aku ditengah diantara wildan dan ridwan.
Wildan mulai membuka kembai obrolah setelah seketika hening.
"gimana zeans trip kali ini?seruu kan gua bilang juga apa lo gaakan nyesel deh ikut gua naik gunung."
"iya wil thanks ya udah ngenalin alam seindah ini sama gua ya walaupun gamudah buat nyampe kesini tuh butuh tenaga yang extra gua keluarin haha."
"gua juga bilang apa, asik kan jauh dari kota dan handpone ituu utamanya biar lo ga di rumah mulu kaya anak autis lo lama lama dirumah haha." ledek dia sambil tertawa
"gua juga udah mulai ngantuk nih gua tidur duluan ya nanti jam 3 subuh bangun kita summit biar sunrise nya dapet, lo belum ngantuk zeans?"wildan bertanya sambil bangkit dari duduknya.?
"belom wil gue masih enak ngangetin badan dulu disini"
"wan lu juga belum ngantuk?"
"belom wil nanti aja nangung nih."
"Yaudah gua tinggal dulu ya lo jagain zeans wan kalo udah mau tidur tu api siram pake air bekas masak tadi."
"oke" hanya itu kata kata yang ridwan keluarkan.
Dalam keadaan pencahayaan yang seadanya ridwan terus saja sibuk dengan kertas nya. Karena penasaran akupun memulai bertanya apa yang sedang ditulis oleh ridwan.
"anteng bener dari tadi nulis, nulis apaan sih wan?"
"Biasalah nyalurin hobi gua dari dulu."memang hobi ridwan menulis dan menggambar sejak pertama ku kenal dengannya.
"gimana skrng kerjaan lo?" aku mulai penasaran dengan pekerjaannya.
"lagi kurang bagus zeans tulisan gua ngak di acc sama perusahaan percetakan buku biasanya,alasannya kurang menarik sih."
"tapi gua lagi revisi lagi mau coba nanti diajuin lagi mudah mudahan berhasil."
"amiin gua doain berhasil deh wan kan kalo sukses bisa traktir gua makan sate depan kampus lagi haha." ridwan hanya tersenyum.
"terus gimana kerjaan lo zeans?" dia balik bertanya.
"kayanya gua mau risend deh wan soalnya kurang pas posisinya sama gua, gua takut keteteran ngerjain nya."
"ya jangan dulu pesimis dong zens kan lu kerja baru beberapa bulan sapa tau lama kelamaan juga lo terbiasa sama kerjaan lo yang skrng."
"tapi gua takut gabisa jaga amanah perusahaan wan."
"yang namanya kerjaan itu pasti ada gagalnya dulu zeans ga selalu mulus sama kaya urusan cintalah kurang lebih,disitulah kekuatan kita sebenarnya di uji, zeans disitulah kita bisa menilai kekuatan diri kita sebenarnya." saran nya yang begitu memotivasi ku.
"tumben lo ngomngin cinta wan gua kira semenjak putus sama winda lo udah ga tertarik sama yang namanya perempuan haha."ledek ku disertai pukulan kecil bahunya.
"engga gitu juga kali haha, sepertinya emang belom ada yang bisa ngertiin kepribadian gua zens kecuekan gua, ya intinya belum ada yang bisa ngerti sifat gua yang sebenernya sih."
percakapan kami menjadi semakin serius tak kala bintang bintang diatas sana begitu indah mengintip dibalik rindangnya pohon pohon besar yang begitu lebat. Suasana seperti ini yang aku rindukan ketika teringat dengan bima bercengkrama berdua hanya menceritakan pengalaman masing masing yang tak terlalu penting tapi bisa membuatku nyaman.
"ah bima, kamu dimana?" berbicara dalam hati yang penuh harap zeans menunduk tak mengeluarkan sepatah katapun.
"gua ngerti zens, lo lagi ada masalah, meski gua gatau masalah lo apa, tapi seberat apapun masalah lo, lo harus kuat jangan tunjukin sifat lemah lo sama orang yang udah bikin lo sedih lo harus bisa tersenyum walaupun gua tau itu sulit buat lo lakuin percaya deh semua yang menjadi ikhlas akan berakhir dengan senyuman lepas." aku hanya tersenyum kecil,
lagi lagi kata kata ridwan mampu membuat ku semakin larut dalam hayalan berandai andai yang berbicara seperti itu adalah bima, tapi itu fana mana mau dia peduli dengan urusanku saat ini setelah ada perempuan baru yang lebih menarik dariku.
"udah jam 10 lewat zens lo tidur gih lo harus istirahat perjalanan masih jauh lo harus nyampe puncak pokoknya biar semua rasa lelah lo kebayar abis disana." ridwan menyarankanku tak terasa 2 jam begitu terasa singkat kami berbagi cerita.
"lo ga tidur wan?"seraya bangkit dari dudukku.
"Gua jaga tenda dulu nanti giliran sama fajar tidurnya."
"yaudah gua masuk duluan ya."
Tak ada jawaban hanya senyuman yang ia lemparkan kepadaku.
****
Setelah tidur cukup terlelap karena kelelahan terdengar suara usil fajar yang membangunkan kami semua akhirnya dengan berat mata ku terbangun
"berisik bangett tuh si fajar"gerutu gita sambil berganti posisi tidur yang tadinya menyamping kini terlentang bebas karena cukup luas tenda untuk kami berdua.
Kulihat jam ditanganku masih pukul 2 tapi wildan mulai sibuk packing untuk keperluan selama summit nanti
"kan masih jam 2 wil." kumembuka obrolan
"biar nga ada yang kelupaan zens."jawabnya sekedarnya. Aku hanya mengangguk binggung karena mungkin faktor nyawa setelah tidur belum berkumpul semua.
Dengan tidak ingin merepotkannya untuk kedua kali berbekal pengetahuan yang alakadarnya dari internet aku juga ikut packing barang barang pribadi yang diperlukan seperti jaket syal penutup kepala dan masker pelindung mulut.
Advertisement
- In Serial49 Chapters
The Primordial Tower [Re]
The Eternal Lion, Conqueror of the 98th floor, Lord of Destruction watched in horror as his companions were slain, one by one. Humanity had made a fundamental mistake in assumption from the beginning, for this was no fair trial. His rage knew no bounds, but alas it was to no avail. The only reason he still drew breath was because of a being stronger than even God offering him his twisted pity, making him watch as his companions, his sworn comrades, were slain one by one in front of him as a punishment for daring to affront Him. He only saw one final glimmer of hope to overturn this accursed outcome, which lay in the reward for completing the hidden piece on the 98th floor. [The Inheritance] Allow your knowledge and experience to flow back in the river of time, back to the beginning of the Primordial Tower's awakening on Earth. Entrust the fate of humanity to one of your kind. Cost of Activation: Erasure of existence from the river of time. To think that all his efforts would only lead to becoming a stepping stone for another. With a final roar in defiance, he activated the skill. "Let the roar of the eternal lion tear through the boundaries of time." Get ready for one hell of an adventure. Now do it all over again! Follow Noah Smith's journey, a young man struggling to find a job in a sluggish economy, as his life gets overturned and the fate of the world is suddenly thrust upon his shoulders! One opportunity to change his very perception of reality, will Noah rise to the occasion and give Earth the savior it needs, or will he watch from the sidelines as it heads to damnation? Sometimes, an ant can see what the mighty lion, in hubris, overlook. Updates Friday.
8 193 - In Serial33 Chapters
The Ordinary Life of Tom Nobody
[participant in the 2018 NaNoWriMo Royal Road challenge] The Ordinary Life of Tom Nobody is a LitRPG system story where each person transitions into the system, or SCHEMA as this system is known, innocent and unaware of his former life. Following the tutorial, memories return, but by this point, each person has a better chance of accepting their new world. It also gives them an opportunity to start from scratch, fresh without all the baggage of their former lives dictating their decisions in the early stages of the process. I don’t expect this will necessarily turn into an action-packed heroic tale, my intent is to create a character who wants to have just an ordinary, but reasonably comfortable life. I don’t know myself how well he will succeed, there may be twists and Tom may discover some heroism hidden deep inside. I guess we’ll find out together. This is my first writing attempt. I’ve wanted to write all my life, but I’ve never been able to develop the proper discipline to put in the work. I hope I complete the challenge and work my way past this hump. I am writing this as part of the NaNoWriMo Royal Road Challenge. While I will try to self-edit as I go, the challenge requires close to 2,000 words a day, so parts of the story may be rough, and things like plot lines may not make as much sense as any of us would like. If all goes well, and I complete the challenge, I plan on going back through everything and trying to polish it up. In the meanwhile, thank you for reading and I hope I don’t disappoint.
8 129 - In Serial96 Chapters
A World of Monsters
From a sundered Universe, a Sorceress is made to reborn. But a human, the Sorceress is no more. Born an insect, a vermin with a mere 90 days of life, the Sorceress seeks reasons to live. Suffering the curse of unending starvation, the Sorceress must ceaselessly eat or die.Meanwhile, Kiran leaves his home to defy mediocrity. Named after the hope he represents, he seeks a [Class] so austere that hundreds fail in their search. Yet, before this [Class] even the Gods bow their heads in respect. P.S. This is NOT a number-crunching LitRPG. The System is an add-on, not the story itself. Also known as I Reincarnated as an Immortal Caterpillar, the story follows a monster and humans in a system word with a Buddhist/Hindu philosophy. The System is especially influenced by this philosophy. Cover by the ever so awesome Jefferymoonworm Warning! Not for trauma survivors.
8 116 - In Serial15 Chapters
Now That's Entertainment(a system apoc litrpg)
Julia Crane was an experienced police officer who'd thought she'd seen it all. When the world as she knows it ends and the games begin, she realizes she hasn't seen anything yet. Follow along through this system apocalypse style litrpg novel. Contains adult language, realistic depictions of violence, and other possible triggers. I've self published a couple of other novels, but I'm new to royal road so formating and posting schedule is up in the air until I get a handle on the site.
8 92 - In Serial47 Chapters
Stone of Eclipse
A stone of ancient legend. Word has it that this stone is so absurdly powerful, it could grant people anything they wanted. Riches, fame, power, reformation, creation of a new world, you name it! One who obtains this stone will earn such dominance. But such absurdity has its demerits. After all, it is just a legend, right? Who would even believe in the existence of such a miraculous object? Was it even an object? Wasn't it more of an abstract energy existing within mankind? Or was it some form of celestial body that only appears during an eclipse? Where does it even exist? DOES it even exist? As such, the legend of this seemingly magical stone entered the realm of being termed as myth. Anybody stating their dream was to find the Stone of Eclipse would be branded as a laughing stock. Regardless, rumor or not, the whole idea of the stone has been deeply rooted into the history of humanity. Society, culture, kingdoms, governments, religions, cults - all have some form of group whose works are driven based on the stone. Enter, Diavolo Signore and his friends, an ignorant trio who have been sent off from their home island to learn of the world, having seen potential, by their island chief. After getting to know the story of this grand stone, they've together decided to compete between each other to see who finds and obtains it first......even if they have no idea where or how to start. Additional tags and content warnings will be added as the story progresses. Updates every Sundays.
8 106 - In Serial248 Chapters
Dreamland
Dolores is a lucky girl with a high-level avatar in a very popular game. She did not level it up; she got it through some fortunate circumstances. She is not interested in fighting and levelling; all she wants is to have some fun and follow her own fantasies. If only there would not be all those idiots who intend to kill her, capture her, or simply use her. And those flaws in the game! Wait, what? Those pesky game characters now appear in the real world? And they can do magic? How did this happen? Adding to her troubles, her crush does not even look at her. As Dolores tries only to survive and hide between 'normal' people, she encounters stranger and stranger things that force her hand and, in the end, she has the answers to a lot of questions. It is a slow-developing story. I had a lot of fun writing it and hope to share it with you, dear reader if you also enjoy it. On the other hand, putting it in an acceptable form requires much work and energy. I intend to bring it to its end and not let it unfinished. I hate it when I encounter unfinished stories, so I understand the feeling. This is not a classical isekai story. There is travel between the two worlds, and the game world seems to be so very real... well, this is one plot of the story. This is not an MMORP game story. Part of the action happens inside a game world, but it is treated as a real world. Updates on a weekly basis, at least Monday and Friday, with additional bonus chapters as time and energy allow. Cover art: White Flower as A Dark Fairy by Darkrealmsmaiden Yolanda gracefully allowed me to use her dark fairy as cover. There are many more beautiful works of art to be discovered at her site: https://www.deviantart.com/darkrealmsmaiden Additional Grammar Trigger Warning: As a non-native speaker, I do my best. Unfortunately, this is not enough for people with a low tolerance for warped sentences and... they may want to skip the story :( Well, you have been warned :) I appreciate it when a reader points out a sentence that needs rework. That may spare a follow-up reader some pain and helps me understand where my English grammar problems are. * We thought we made the best game in Earth's history We thought we made the best interfaces ever seen We thought we made it - lifelike But it far exceeded our expectations. Dolores, I hope you're happy now. I hope you're alive now...
7.91 283

