《Senja Jingga Dan Cerita Yang Telah Usai》Aku dan matahari pagi
Advertisement
"Alam memang selalu memberi warna tersendiri bagi siapa saja yang mau bersusah payah dan pantang menyerah."
kutipan salah satu kawan yang merangsang pikiranku untuk berani mencoba sesuatu yang benar benar baru dikehidupanku.
hari ini aku barlyn widiansyi atau akrab disapa (zens) seorang wanita yang sudah muak dengan dunia kota yang ingin melarikan diri ketempat yang sepi.
Pikiran senang campur khawatir selalu muncul. Takala teringat keputusanku untuk menyetujui ajakan Wildan kawanku untuk pergi ke salahsatu gunung tertingga di jawa barat. Entah bagaimana aku nantinya seorang yang bahkan tak tau kejamnya dunia luar seperti apa.
Ah coba saja toh tak ada salahnya mencoba meskipun khawatir akan menyusahkan kawanku nantinya tapi aku harus semangat dan yakin akan keputusanku ini.
Satu bulan sebelum berangkat wildan menghubungiku menyarankanku agar rutin berolahraga agar tidak terlalu shock nantinya karena perjalanan yang ditempuh akan menyeka banyak keringat, waktu yang panjang juga melelahkan pastinya.
*****
Seperti yang telah disetujui sebelumnya sehari sebelum keberangkatan kami berkumpul disalah satu rumah teman kita Gita memang rumahnya strategis mudah diakses darimana saja untuk memebeli logistik atau barang apa saja yang perlu dibawa untuk kebutuhan kelompok.
Aku tiba lebih awal karena memang jarak antara rumah dan tempat tinggal gita cukup jauh. Biar bisa istirahat dulu nantinya pikirku.
Terlihat raut wajah bahagia gita ketika aku tiba di terminal karena sudah hampir dua tahun tidak pernah bertemu. Melepas rindu dengan memeluknya sambil menahan tangis haru masih terbayang jelas masa masa kita sebelum berpisah. kebiasaannya masih sama tak berdandan, masih jauh dari sifat peminim yang diharapkan orangtuanya. tapi kecantikannya terlihat karena dia terlihat natural.
"jam berapa dari bekasi zens?" pertanyaan basa basi yang sering terdengar ketika sudah lama tidak bertemu.
"jam 11 git, biasa jalanan indonesia" jawabku kemudian.
"kok gak bareng ridwan, dia kan dari bekasi juga."pikirnya heran
"dia udah dirumah sodaranya dari minggu kemaren di bandung katanya."memang ada teman kuliah ku dulu dari bekasi yang akan ikut mendaki bersama kami.
"yaudah yuk kita langsung ke rumah fajar dulu nanyain apa saja yang harus dibawa."
"ajay belum dirumah lu git?" dengan dahi ,mengkerut ku bertanya.
"katanya masih beresin revisian skripsinya belum di acc sama pak surya" Dosen pembingbing yang resenya minta ampun.
"masih sibuk organisasi dia sampe skripsinya gaberes beres? Ledek ku
"iyaa biasalah prinsip nya kan masuk kampus ini tuh susah ngapain keluar cepet cepet" kami tertawa sembari melangkahkan kaki menuju mobil gita.
*****
Hari yang menjadi perjalanan pertamaku dimulai dengan hati yang berdebar ketika nampak dari kejauhan gunung tinggi yang berdiri kokoh itu adalah tujuan yang akan menjadi pengalaman sekaligus perjalanan pertama terjauh seumur hidupku.
Setelah mengurus perizinan pendakian kami semua (Ridwan,Fajar,wildan,aku dan gita) berdoa terlebih dahulu untuk keselamatan selama pendakian.
Semua berjalan lancar gunung ini masih asri masih jarang orang berkunjung karena letaknya yang susah diakses juga biaya yang dikeluarkan terbilang cukup mahal untuk sekedar melakukakn perjalanan yang melelahkan. Semua itu terbayar ketika kulihat pemandangan yang terpampang dihadapanku keindahan hutan belantara yang masih hijau dengam sambutan suara burung burung yang cantik berlalu lalang dari dahan satu berpindah ke pohon lainnya begitu sampai tak terasa sembari saling berbagi cerita antara kami berlima. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung seperti perasaanku yang tadinya sembringah berganti menjadi cemas tak kala hujan rintik rintik mulai turun. karena kelalaian ku membawa jas hujan yang diwanti wanti sebelum berangkat oleh wildan bisa dibilang ketua kelompok dalam perjalanan ini."mungpung hujannya belum gede, nanti di pos 3 kita break dulu sambil pake dulu jas biar baju kalian gak basah.'' melihat raut muka ku seperti orang bingung wildan menghampiriku dan bertanya.
"Lu ko kaya binggung gitu zens?"
"gua lupa bawa jas hujan wil"seketika wajah yang tadinya biasa berubah seperti menahan amarah.
Advertisement
"kan gua udah wanti wanti sebelum berangkat bawa jas hujan mau kepake atau engga juga tetep bawa ah lu gimana sih."masih dalam keadaan marah wildan berjalan dan mengecek semua anggota membawa jas hujan.
"udah lah wil kita neduh aja dulu di pos 3 gua kira hujannya juga gaakan lama ko lagian gua juga laper kita masak masak kecil aja disana ya gak wan." disertai ketawa ketawa kecil yang langsung disetujui oleh Ridwan.
"gimana git? Tanya wildan
"gua setuju wil daripada dipaksain ntar kasian zens kalo harus jalan ntar kedinginan" gita mulai bicara sambil memelukku
"yaudah kita neduh dulu di pos 3 semoga hujannya cepet reda."
"udah zens jangan diambil hati wildan kan gitu kalo lagi kesel tapi lo kan tau niatnya baik ko biar lu gakenapa kenapa f."Ridwan membuka suara ketika telah hening sesaat. Setengah jam kami melanjutkan perjalanan sampai di pos 3 dan cukup membuat bajuku menjadi basah.
****
Dan hujan pun sudah mulai reda kami memutuskan untuk memasang tenda darurat di sana.
Wildan menghampiriku dan menyarankanku untuk menganti dulu baju yang basah sementara ridwan dan fajar sibuk memasang tenda darurat untuk berteduh.
"ganti baju dulu gih ntar lo sakit lagi"
"gapapa udah gaterlalu basah ko wil"
"zens ini belum setengah jalan lho udah lo ganti dulu bedain dong ini bukan di kota yang cuacanya stabil ini di gunung cuacanya ga beraturan."Nada suara wildan mulai meninggi
"santai kali wil gausah marah marah juga" Ridwan menghampiri kami berdua dengan minuman hangat buatannya.
"Nih minum dulu biar ga kedinginan."
"lu bawa baju lebih kan? Yaudah ganti dulu aja walaupun gitu wildan bener juga ntar lo kena hypotermia dijalan repot nanti Git git temenin zeans ganti baju dulu gih biar gua yang lanjutin masak"
"serah deh susah diatur lu zens" gerutu wildan seraya pergi meningkalkan kita.
"temenin gua ganti baju git gaenak gua nyusahin wildan mulu daritadi."keluh ku pada gita
"ayoo, gita menarik tanganku untuk bangun dari duduk menuju pepohonan yang lumayan tertutup
"mau kemana zeans? Fajar bertanya sambil memasang gaya.
"Ganti baju, awas ya lu jangan ngintip."gita menjawab pertanyaannya dengan nada meledek dan tatapan sinis.
"Dih kuya nyamber aja, gua nanya zeans juga."aku hanya tersenyum menjauh dari mereka masuk kedalam pepohonan untuk pertama kalinya.
"gua ga enak sama wildan git,"
"Udahlah jangan diambil hati dia sebenernya care sama lu dari pertama berangkat juga dia udah merhatiin lu mulu,jangan jangan dia ada rasa sama lu zeans."
"ah lu aneh aneh aja gua kan temenan sama dia udah lama manamungkin dia mendem rasa sama gua."
"tapi dari gelagatnya dia ke elu tuh kaya ada sesuatu yang dia coba tutupin dari lu zeans" sambung gita
"udah ah ngaco ngomong lu lama lama git"kami berdua tertawa lepas sekali seperti tidak ada beban saa sekali di hidup kita padahal sebelum berangkat aku sedang ada masalah dengan Bima seseorang yang sangat amat aku sayang berani menghianati ku.
"ngomong ngomong gimana lu sama Bima kapan dong lu nyebar undangan inget umur woy lu udah lulus kuliah apa lagi yang lo tunggu."gita bertanya tentang hubunganku dengan bima.aku tak bisa menjawab hanya melamun membayangkan kalo yang care seperti wildan itu adalah bima, ah senang sekali mungkin rasanya.tapi itu tidak mungkin mana mau bima diajak menjelajah hutan seperti ini.
"woyy ko bengong sih,?" gita menyadarkan lamunanku
"eh eh iya lo nanya apa barusan?"
"lo mikirin apaan sih zeans ?sampe ngelamun gitu"
"engga gua cuma keinget sama bima aja git."
"Gua kan tadi nanyain bima, gimana hubunganlo sama dia."
"kurang baik git, dia ada perempuan lain dibelakang gua"
"serius lo?, gua kira baik baik aja ko lu pinter banget sih nyembunyiin ini dari gua?biasanyakan kalo ada apa apa lo cenggeng selalu cerita sama gua."
Advertisement
"udah hampir dua bulan ini hubungan gua sama dia digantung tanpa kepastian."
"terus lo tau dari siapa kalo bima selingkuh? jangan cuma lo denger kata orang terus lo percaya gitu aja zens, dalam hubungan pasti ada aja orang yang gak seneng dengan hubungan lo sama bima."
gua senderan dibahu gita tanpa terasa cukup lama ku ceritakan semua tentang kita dan air mata ini tak bisa kutahan lagi akhirnya jatuh. Buru buru ku sela agar gita tak tau aku sedang menangis.
"gua liat pas ulang tahun ghea git."
"udah lah lo jangan berharah terlalu tinggi kalo gitu inikan lagi di gunung jadi lepasin bebanlu disini semua tinggalin kesedihanlu semua disini.
"thank ya git, lo emang sahabat gua yang paling ngertiin perasaan gua"ku peluk gita sekencang kencang nya seaakan air mata ini tau kapan harus menetes dan untuk siapa ia jatuh.
Dari kejauhan terdengar wildan memangil manggil nama kita
"zeans,gita dimana si lo udah belum ganti bajunya lama amat."
"kita disini udah ko ini bentar lagi kesana." teriak gita sambil melangkah kedepan mendekati wildan
"yuk zens udah jangan sedih lagi" aku hanya memberikan senyuman tipis sembari meyekat kembali air mata di pipiku.
"Lama amatt sih tuh fajar udah masak buat kita makan biar tenaga kembali pulih, perjalanan kita masih jauh nih."
"Zeans lo ko nangis?,lo kenapa."dari raut wajah marah berubah menjadi cemas wildan bertanya
"Gua gak papa ko wil"kelilipan air ujan aja tadi."jawabku tanpa membuatnya khawatir.
"lo nangis gara gara gua tadi ya?"
"zens lagi ada masalah pribadi wil udah deh lu sana duluan aja biar nanti gua sama zeans dibelakanglu,"
"bener gak papa ?"yaudaa kalo gituu ayok kita makan dulu.
Sekitar pukul 11 siang setelah beristirahat dan makan yang cukup juga hujan yang sudah reda kami melanjututkan perjalanan menuju camping area yaitu di pos 5 perjalanan pun cukup memakan waktu yang lama sekarang berganti posisi yang tadinya wildan dibagian depan menjadi leaders bergiliran dengan ridwan, fajar tetep dibelakang ridwan ,kini wildan menjadi sweeper posisi paling belakang aku dan gita masih berada ditengah untuk memastikan tidak terjadi hal hal yang tak diinginkan saat perjalanan.
Perjalanan dilalui tanpa ada kendala fisik karena semua anggota kami sudah terbiasa berolahraga sebelumnya juga aku atas anjuran wildan jadi rutin olahraga yang tadinya jarang sekali berolahraga.
"zeans bener lo gak marah sama gua?" wildan khawatir karena sikapnya tadi membuat zeans tersinggung karena ucapannya.
"ngak lah wil santai aja bukan gara gara lo ko gua lagi ada sedikir problem aja."
"Yaudah selama pendakian ini gua buat peraturan baru semua anggota dilarangbersedih sampai kita semua selesai turun, kalo bisa sampe selamanya gausah sedih."wildan mengepalkan tangannya dan menyentuhkannya dengan tanganku "tos""
"bisa aja lo wil."kita senyum ku tak dipaksakan senyum yang benar benar lepas."
"gitu dong senyum kan manis."gita yang mendengar percakapan kita berdua berteriak.
"Moduss tuh zeans awass wildan itu dulukan terkenal tukang modusin cewe kampus." haha kami semua tertawa,wildan hanya tersenyum sambil menyeringai.
Sekitar pukul 3 sore kami beristirahat kembali di pos 4 lumayan memakan waktu 4 jam karena kami berjalan santai tidak tergesa gesa untuk sampai di pos 5 karena haripun belum cukup sore untuk mendirikan tenda. Menyenangkan ternyata menjelajahi alam bebas jauh dari riuk piuk keramaian kota yang ada hanya beberapa bapak bapak pencari kayu dan kicauan burung yang membuat telinga dan mata menjadi rilex.kehijauan hutan yang masih terjaga kelestariaannya membuatku nyaman berada dilingkungan yang baru ku jejaki ini, ah sial kenapa tidak dari dulu wildan mengajaku seperti ini mungkin kalau tau seperti ini aku akan kecanduan menjelajah alam.
Pukul 6 sore kita sampai di pos 5 dan langsung mendirikan tenda.
Kita tidak langsung melanjutkan menuju puncak karena untuk perjalanan menuju puncak kira kira diperlukan waktu 6 sampai 7 jam tergantung kekuatan fisik tiap masing masing orang .aku bersyukur selama perjalanan tidak ada hal hal yang tidak diinginkan terjadi semua berjalan lancar fajar masih sering melucu untuk membuat suasana perjalanan semakin berwarna dan sangat mampu menghibur kita selama perjalanan.
Setelah shalat magrib bersama Kini bagian aku dan gita yang masak karena wildan dan fajar sedang mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun penghangat cuaca yang dingin diatas sini.
"Git lu sama zens sekarang masak dulu ya gua sama fajar cari dulu kayu bakar buat nanti malem
"Ridwan kemana wil?"tanya gita.
"ridwan masih beres beres di dalem tenda biar enak nanti tidur kalian berdua."
Sungguh perjalanan yang tak akan bisa ku lupakan selama hidupku bagaimana tidak berbagai pengalaman dan pelajaran berharga ku dapat begitu banyak walaupun baru beberapa jam berada di tempat baru ini.
Lepas dari kecanduan handphone jauh dari alat komunikasi hanya ada teman yang benar benar mengerti dan menjaga seperti keluarga.
Ridwan masih sibuk dengan urusan didalam tenda sedang wildan dan fajar melum juga kembali berkumpul, masakan sudah siap semua wildan dan fajar dibantu ridwan sedang menyalakan api unggun untuk penerangan sekaligus penghangat untuk kita bersama.
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam sekeliling gelap hanya ada beberapa tenda pendaki lain yang sudah padam lampunya mungkin kelelahan saat mendaki. rasa ngantuk pun mulai menghampiri kami semua tapi tidak dengan ridwan dia masih sibuk menulis entah apa yang ia tulis sampai satu satu dari kami mulai berpamitan untuk tidur]
"Gua tidur duluan ah dingin disini, git lu mau ikut sama abang tidur"celoteh fajar melangkahkan kaki menuju tenda disertai tertawa kami semua
"idihh abang, abang toyib kali lo ya haha urus sana anak sama bini lo ditinggal mulu."kami semua tertawa tetapi ridwan masih saja dengan senyum tipis khas nya memang dia tipe orang yang jarang sekali tersenyum apalagi tertawa.
"gita juga ikut pergi masuk ke tenda khusus kita berdua."
Tinggalah kami bertiga aku ditengah diantara wildan dan ridwan.
Wildan mulai membuka kembai obrolah setelah seketika hening.
"gimana zeans trip kali ini?seruu kan gua bilang juga apa lo gaakan nyesel deh ikut gua naik gunung."
"iya wil thanks ya udah ngenalin alam seindah ini sama gua ya walaupun gamudah buat nyampe kesini tuh butuh tenaga yang extra gua keluarin haha."
"gua juga bilang apa, asik kan jauh dari kota dan handpone ituu utamanya biar lo ga di rumah mulu kaya anak autis lo lama lama dirumah haha." ledek dia sambil tertawa
"gua juga udah mulai ngantuk nih gua tidur duluan ya nanti jam 3 subuh bangun kita summit biar sunrise nya dapet, lo belum ngantuk zeans?"wildan bertanya sambil bangkit dari duduknya.?
"belom wil gue masih enak ngangetin badan dulu disini"
"wan lu juga belum ngantuk?"
"belom wil nanti aja nangung nih."
"Yaudah gua tinggal dulu ya lo jagain zeans wan kalo udah mau tidur tu api siram pake air bekas masak tadi."
"oke" hanya itu kata kata yang ridwan keluarkan.
Dalam keadaan pencahayaan yang seadanya ridwan terus saja sibuk dengan kertas nya. Karena penasaran akupun memulai bertanya apa yang sedang ditulis oleh ridwan.
"anteng bener dari tadi nulis, nulis apaan sih wan?"
"Biasalah nyalurin hobi gua dari dulu."memang hobi ridwan menulis dan menggambar sejak pertama ku kenal dengannya.
"gimana skrng kerjaan lo?" aku mulai penasaran dengan pekerjaannya.
"lagi kurang bagus zeans tulisan gua ngak di acc sama perusahaan percetakan buku biasanya,alasannya kurang menarik sih."
"tapi gua lagi revisi lagi mau coba nanti diajuin lagi mudah mudahan berhasil."
"amiin gua doain berhasil deh wan kan kalo sukses bisa traktir gua makan sate depan kampus lagi haha." ridwan hanya tersenyum.
"terus gimana kerjaan lo zeans?" dia balik bertanya.
"kayanya gua mau risend deh wan soalnya kurang pas posisinya sama gua, gua takut keteteran ngerjain nya."
"ya jangan dulu pesimis dong zens kan lu kerja baru beberapa bulan sapa tau lama kelamaan juga lo terbiasa sama kerjaan lo yang skrng."
"tapi gua takut gabisa jaga amanah perusahaan wan."
"yang namanya kerjaan itu pasti ada gagalnya dulu zeans ga selalu mulus sama kaya urusan cintalah kurang lebih,disitulah kekuatan kita sebenarnya di uji, zeans disitulah kita bisa menilai kekuatan diri kita sebenarnya." saran nya yang begitu memotivasi ku.
"tumben lo ngomngin cinta wan gua kira semenjak putus sama winda lo udah ga tertarik sama yang namanya perempuan haha."ledek ku disertai pukulan kecil bahunya.
"engga gitu juga kali haha, sepertinya emang belom ada yang bisa ngertiin kepribadian gua zens kecuekan gua, ya intinya belum ada yang bisa ngerti sifat gua yang sebenernya sih."
percakapan kami menjadi semakin serius tak kala bintang bintang diatas sana begitu indah mengintip dibalik rindangnya pohon pohon besar yang begitu lebat. Suasana seperti ini yang aku rindukan ketika teringat dengan bima bercengkrama berdua hanya menceritakan pengalaman masing masing yang tak terlalu penting tapi bisa membuatku nyaman.
"ah bima, kamu dimana?" berbicara dalam hati yang penuh harap zeans menunduk tak mengeluarkan sepatah katapun.
"gua ngerti zens, lo lagi ada masalah, meski gua gatau masalah lo apa, tapi seberat apapun masalah lo, lo harus kuat jangan tunjukin sifat lemah lo sama orang yang udah bikin lo sedih lo harus bisa tersenyum walaupun gua tau itu sulit buat lo lakuin percaya deh semua yang menjadi ikhlas akan berakhir dengan senyuman lepas." aku hanya tersenyum kecil,
lagi lagi kata kata ridwan mampu membuat ku semakin larut dalam hayalan berandai andai yang berbicara seperti itu adalah bima, tapi itu fana mana mau dia peduli dengan urusanku saat ini setelah ada perempuan baru yang lebih menarik dariku.
"udah jam 10 lewat zens lo tidur gih lo harus istirahat perjalanan masih jauh lo harus nyampe puncak pokoknya biar semua rasa lelah lo kebayar abis disana." ridwan menyarankanku tak terasa 2 jam begitu terasa singkat kami berbagi cerita.
"lo ga tidur wan?"seraya bangkit dari dudukku.
"Gua jaga tenda dulu nanti giliran sama fajar tidurnya."
"yaudah gua masuk duluan ya."
Tak ada jawaban hanya senyuman yang ia lemparkan kepadaku.
****
Setelah tidur cukup terlelap karena kelelahan terdengar suara usil fajar yang membangunkan kami semua akhirnya dengan berat mata ku terbangun
"berisik bangett tuh si fajar"gerutu gita sambil berganti posisi tidur yang tadinya menyamping kini terlentang bebas karena cukup luas tenda untuk kami berdua.
Kulihat jam ditanganku masih pukul 2 tapi wildan mulai sibuk packing untuk keperluan selama summit nanti
"kan masih jam 2 wil." kumembuka obrolan
"biar nga ada yang kelupaan zens."jawabnya sekedarnya. Aku hanya mengangguk binggung karena mungkin faktor nyawa setelah tidur belum berkumpul semua.
Dengan tidak ingin merepotkannya untuk kedua kali berbekal pengetahuan yang alakadarnya dari internet aku juga ikut packing barang barang pribadi yang diperlukan seperti jaket syal penutup kepala dan masker pelindung mulut.
Advertisement
- In Serial35 Chapters
I'm A Boat
A wizard enchants his row boat to row itself around the Endless Sea. If only he had paid more attention to the guiding intelligence part of the spell when he was casting it. Once a human with a mundane life, Robert now finds himself with a second chance made of wood and canvas. Now if only he can convince everyone he’s a male boat. [participant in the Royal Road Writathon challenge]
8 419 - In Serial50 Chapters
The Nebula
Twenty years after the release of the world famous VRMMORPG (Virtual Reality Massively Multiplayer Online Role-Playing Game) Second Life produced by Virtual Works. Numerous games have been released in that time and once again Virtual Works shock the world with the announcement of their newest creation THE NEBULA, the thing that sets this game apart from the rest is that it's about space and the surrounding Galaxy. Follow Noah as he travels throughout the Galaxy searching for adventure and freedom in the final frontier SPACE.
8 189 - In Serial36 Chapters
YAOS 1 - Limitless Adventures - Yet Another OP Story Book 1
December 23rd 2018: Book 1 is now up at Smashwords and at Amazon. December 30th 2018: V1.1.2 of YAOS Book 1 is out, some content additions, fixed typos. Amazon's enhanced typesetting now displays tables properly. YAOS is shown through the eyes of some genius athlete getting OP inside a VR, ah wait, Full Immersion game, ?F.I.O?. Not a Hero, not a Nerd, just a driven individual paying for mistakes made, biding time until he can return to the Real World. He isn't defined like you'd normally do it, you can pick his looks and name all on your own, just like you do in video games. Believe it or not, keeping his looks undefined is harder than you think. His backstory isn't expounded in detail, but it drives his choices. Book 1 isn't about depressing sob stories but about fun and rushing forward, pursuing new horizons. Oh, and you'll end on a cliffhanger! Well, most serials do, so you will probably expect that without being told explicitly. But it isn't that bad, there's a lot of reveals and more to come once this book, that is the first in a planned three-part series, is finally ready for release on amazon et al. The published version will have: 1.) Godawful speaker tags, I hate them, they make you stop thinking and speed up editing so much. In hindsight they should have been in to begin with. But I stand by my goals proclaimed earlier. You guys should think while reading, that is the whole point of the exercise. Apply the knowledge and ideas, improve yourself, get creative! 2.) Pretty colored tables, the damned blue boxes, a lot of work, 69 in one book. Finally fixed amazon's centering issue. Can't say I liked the hours needed to debug that. 3.) The promised Mitara chapters. 4.) A cover! 5.) And lastly, updated polished versions of several chapters. MC shares more of his past, some terrible chapters (esp. 32) finally work. Some new scenes, minor rewrites in parts. Text flow and other issues. The current challenge is to maintain essential ambiguity while satisfying people wanting to know more without thinking three steps ahead. Balancing one with the other is tough. The smut which was in remains, but the story told is not to be superseded by it. A 15+ rating for the first book is also important, not to mention, YAOS wasn't meant to contain any smut to begin with. If the Author can turn to writing full time his output should increase, so please support YAOS #1 once it does finally release. ~Thank You~ No maps so far, that should be in, but is really hard to get done right. Again, tips are appreciated. Update September 2017: Stubbed chapters, sorry guys, currently don't have time to upload them elsewhere, polishing book 1 and 2, writing 3, takes precedence. Book 1 is in heavy editing, too much to keep synced and continuing editing. I'd need a site which offers JS-free rapid managing of chapters and comments. Coding one myself or setting a premade up is out of scope until I'm done with the books. RRL-old offered that, nuff said. This is only here because the author believes in fairies, nobody reads this, most likely. October to December 2017: Life threw some curveballs. February 2018: Book 2 draft 1 completed, at ~150K words. Book 2 is fairly epic in scope, requires 1 rewritten chapter, some editing. Tables and miscellanea are in, but needs at least a grammar pass. March 2018: Book 3 at 28k words, first arc, rest needs serious planning for spin-off and satisfying conclusion. July 2018: Yet another proofing/editing session of books 1-3, 101+ chapters, ~300k words. B3 at 48k, starts out great, but no ETA, no wordcount limit, in flux. But prioritizing my writing cannot be done, I hate the delays as much as you, but you will prefer the whole released in a timely fashion rather than wait. Knowing myself how excruciating waiting can be, at least you'll get significantly polished versions and an ETA on book 2 by release of book 1. December 23rd 2018: Book 1 is now up at Smashwords and in the process at Amazon et. al.. . To all who wait patiently, offered feedback, thanks again!
8 141 - In Serial12 Chapters
Save State
What would happen if an ability to traverse time and space has been given to a quiet yet fierce individual?
8 99 - In Serial8 Chapters
How Far I'll Go
"It's just my family I guess." Tommy mumbled upset."What's wrong with your family?" Mr Awe asked, feeling confused. "I don't think it's what's wrong with them, I'm beginning to think it's what's wrong with me." Tommy answered, not looking up to meet his teacher's eyes. "What do you mean by that, Tommy?" The older asked, spinning around in his chair to show Tommy that he had his full attention and would be listened to. "It's just- like- I show them how well I'm doing in school and they don't even care! Like aren't parents meant to be proud of their children or something? That's what I hear but my dad is never proud of me! It's always 'Wilbur this' or 'Techno that' but it's never about Tommy! Am I not good enough for them or something?" Tommy blurted out before he could stop himself. It was like once he got one word out, the rest just came tumbling after. He had waited his whole life to get this off his chest and he had finally found a willing listener. OR, Tommy Craft is a neglected eleven year old who just wants somebody to listen to him. And he finds a few people while enjoying doing something he loves.
8 88 - In Serial12 Chapters
Blood Is Thicker
Valerie Delaney has been leading a life of crime since she was little. What choice did she have, really, as the only daughter of her criminal father? With fierce loyalty to her dad, she’d bound to stir up some trouble.Disaster strikes when Valerie is kidnapped on a mission by an enigmatic man of dark secrets. Despite her desperation to escape and his intent to kill her father, she find herself inexplicably drawn to him, a dangerous event for someone like her. With her word crumbling beneath her feet, she finds him as an anchor, letting her actions lead to demise.
8 88

