《Soul In Seoul》#Part 32 (Racun)
Advertisement
Semua karyawan Cessa Hotel langsung berdiri dan membungkuk hormat ketika Yong Ri Sa dan Yong Ri An berjalan melewatinya. Tak sedikit orang tersenyum lega ketika melihat Direktur mereka telah kembali beraktivitas. Tapi, ada beberapa orang yang juga menampakkan wajah masam saat melihatnya. Ya, tentunya orang-orang itu adalah orang-orang yang berada di pihak yang berseberangan dengan Yong Ri Sa. Sekelompok orang yang merasa posisinya terancam jika si rubah kecil itu benar-benar mengeluarkan kartu-kartu yang selama ini dia simpan sangat rapi.
Ketika melewati meja sekertarisnya, Yong Ri Sa menghentikan langkah kakinya.
"Sekertaris Park,.. Sekertaris Jung,.. ikut saya!" perintahnya dengan pelan namun masih dengan aura penuh wibawa.
Mendengar itu, kedua sekertaris itu langsung saling pandang karena sangat bingung. Kenapa atasannya meminta mereka masuk ke ruangannya bersamaan? Tidak biasanya hal itu terjadi. Sebelumnya hanya salah satu dari mereka yang diminta masuk jika Yong Ri Sa membutuhkan sesuatu. Apakah ada sesuatu penting yang ingin dibahasnya bersama kedua sekertarisnya itu?
Tak perlu menunggu lama, akhirnya kedua sekertaris Direktur Utama itu langsung berjalan mengular di belakang atasannya memasuki ruang kebesaran atasannya itu. Mereka berempat duduk di sofa yang berbentuk 'U' di ruang Direktur Utama. Yong Ri An duduk disisi kiri sedangkan kedua sekertaris itu duduk tegang di sisi kanan sofa yang diduduki oleh Yong Ri Sa.
"Lama tak jumpa. Bagaimana kabar anda berdua?" tanya Yong Ri Sa ramah.
Mendengar itu, ketegangan Sekertaris Park dan Sekertaris Jung langsung luntur dan merasa lebih lega.
"Kami baik-baik saja. Dan kami sangat senang, anda telah kembali beraktivitas seperti biasa." ucap Sekertaris Park mewakili.
"Lalu,.. apakah ada masalah ketika anda berdua melayani kakak saya selama dia menggantikan saya?" sedikit melirik ke Yong Ri An yang ternyata tengah mengernyit masam.
"Tidak ada masalah. Emmm,.. Sejujurnya kami berdua sangat kagum, bagaimana bisa kemampuan dan karakter anda berdua tidak jauh berbeda. Dan meski ada sedikit perbedaan, tapi itu justru perbedaan yang saling melengkapi. Sehingga itu membuat kami tidak harus beradaptasi lebih ketika Yong Ri An-ssi menggantikan anda." Jelas sekertaris Park yang membuat Yong Ri Sa tertawa kecil.
"Baguslah jika memang seperti itu." mengangguk senang. "Ah ya,.. tujuan saya meminta anda berdua kesini adalah,.. saya ingin Sekertaris Park mengundurkan diri dari Cessa Hotel. Dan Sekertaris Jung yang akan menggantikannya." Ucap Yong Ri Sa yang langsung membuat ketiga orang di hadapannya menganga. Bagaimana bisa ia memecat seorang sekertaris yang selama ini selalu setia padanya dan bahkan tak ada sedikitpun kesalahan yang dilakukannya?
"Hya! Ri Sa-ya,.. kenapa kamu memecatnya? Apa sekertaris Park melakukan kesalahan?" Tegur Yong Ri An yang masih terkejut dengan keputusan yang diambil oleh adiknya di hari pertama ia kembali mengisi jabatannya.
"Ya. Sekertaris Park memang melakukan kesalahan. Kesalahan karena terlalu setia dan terlalu kompeten. Maka dari itu, saya ingin sekertaris Park mengundurkan diri sebagai sekertaris Direktur Utama Cessa Hotel, dan setelah itu saya dengan senang hati mengangkatnya sebagai sekertaris pribadi saya." Jelasnya dengan sangat tegas. "Bagaimana? Apakah anda keberatan, sekertaris Park?" tanyanya pada sekertaris Park yang saat itu terlihat cukup bingung dan tak percaya mendapat tawaran seperti itu dari seorang Yong Ri Sa.
Mendapati sekertaris Park hanya mengunci mulutnya karena efek keterkejutan, akhirnya Yong Ri Sa mengeluarkan suaranya, "Saya yakin, anda juga tau tentang tanggung jawab baru yang saya emban. Saya tidak lagi hanya berstatus sebagai pelajar SMA dan Direktur Utama Cessa Hotel. Tapi juga,.. sekarang saya mendapat tanggung jawab di yayasan Jinhyang dan restaurant Hong Diamond. Maka dari itu, saya membutuhkan seorang sekertaris pribadi. Bagaimana? Apakah anda bersedia?" tanyanya lagi.
Sekertaris Park menyebar pandangannya ke Yong Ri An dan sekertaris Jung, berharap ada komentar yang akan mereka keluarkan.
###
Setelah sekertaris Park dan sekertaris Jung keluar dari ruang Direktur Utama, suasana di ruangan itu hening sejenak meski di ruang tersebut masih ada Yong Ri Sa dan Yong Ri An yang masih duduk di posisi yang sama dengan sebelumnya. Yong Ri An masih merasa telah dipermainkan oleh adiknya, sedangkan Yong Ri Sa terlihat sedang menikmati ekspresi kekesalan kakaknya itu.
Advertisement
"Hya! Kukira kamu akan benar-benar membuang sekertaris Park. Kenapa sebelumnya kamu tidak bilang jika ingin mengambil sekertaris pribadi? Aku kan juga bisa melakukannya. Jadi tak perlu merombak posisi sekertaris direktur." Ucapnya yang masih cukup kesal karena tidak biasanya Yong Ri Sa tidak mengatakan sesuatu padanya jika merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan adiknya itu.
"Oppa kira, aku akan nyaman jika oppa harus terus melayaniku? Kegiatanku pasti akan lebih padat dari sebelumnya. Jadi aku yakin oppa akan kualahan jika jadi sekertaris pribadiku. Lagipula aku ingin oppa selalu berjalan disampingku, dan bukan di belakangku." Jelasnya dengan sisi remaja yang manis.
Yong Ri An langsung terdiam mendengar ketulusan yang disampaikan adiknya itu.
"Huhhh,.. baiklah. Aku ngerti. Dan aku sangat lega kamu memilih si paket komplit seperti sekertaris Park. Kompeten, setia, disiplin, gagah, tak rewel dan satu lagi,.. dia bisa sekaligus jadi bodyguard buatmu. Contohnya seperti kejadian penyerangan waktu itu. Jadi,.. selanjutnya aku tak perlu was-was kamu akan menggunakan kemampuan karatemu lagi. Karena sekarang ada orang yang bisa bela diri yang akan selalu bersamamu." Komentarnya.
"Jadi,.. Oppa tidak akan protes lagi dengan keputusanku untuk mengangkat sekertaris Park sebagai sekertaris pribadiku kan? Oppa bilang, sekertaris Park adalah paket komplit. Hahaha,.." disambung dengan tawa kecil.
"Ya ya ya,.. aku tak akan protes lagi." Singkatnya. "Tapi tunggu sebentar. Apa kamu menyukai sekertaris Park layaknya pria dan wanita?" selidiknya.
Mendengar itu, Yong Ri Sa langsung tertawa terbahak-bahak. "Omong kosong macam apa itu? aku memang menyukainya. Tapi bukan sebagai pria. Aku sudah menganggapnya sama seperti kakak bagiku. Jadi aku sekarang punya dua kakak. Tak apa kan? Hahaha,.."
"Benarkah?" selidiknya lagi dan langsung disambut dengan anggukan dari Yong Ri Sa yang masih tak dapat menahan tawanya.
###
Beberapa hari kemudian,..
Yong Ri Sa duduk seorang diri di ruang Direktur Utama dengan beberapa map berisi tabel dan grafik pengeluaran dan penerimaan Cessa Hotel. Dalam grafik itu terlihat pengeluaran dalam beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan yang cukup besar begitu pula dengan penerimaan. Untuk penerimaannya mengalami peningkatan yang lebih besar dan konsisten dari tingkat pengeluarannya. Dan itu adalah tingkat keberhasilan dengan rekor tertinggi sejak Hotel itu berdiri. Senyumnya semakin lebar ketika melihat grafik itu. Karena itu artinya usaha dan pengorbanan waktu serta tenaganya tidak sia-sia. Seluruh karyawan Cessa Hotel pun sudah benar-benar menerima dirinya sehingga itu membuat mereka juga memiliki semangat yang sangat besar agar tidak mengecewakannya.
Di tengah-tengah kesibukannya itu, tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di mejanya berbunyi sekali, tanda ada sebuah pesan masuk di ponsel tersebut. Tanpa ragu ia langsung mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya. Di layar ponsel itu tertulis 'Sekertaris Park'. "Sekertaris Park? Kenapa dia harus ngirim pesan? Dia kan bisa langsung masuk kesini jika ingin menyampaikan sesuatu." Gumamnya seraya membuka pesan itu.
Ketika melihat isi pesan itu, Yong Ri Sa tiba-tiba mengernyit. 'Yong Ri Sa-ssi,.. ada yang ingin saya sampaikan pada anda. Maaf, Saya tidak bisa mengatakannya di ruangan anda. Bisakah anda datang ke tangga darurat lantai 20 sekarang?' itulah isi pesan singkat yang dikirim oleh sekertaris pribadinya. "Aneh. Memangnya apa yang ingin dia sampaikan? Kenapa tidak bisa mengatakannya disini?" batinnya sambil menutup map yang sedari tadi ia periksa. Dan kemudian ia langsung beranjak dari ruangan itu.
Yong Ri Sa baru keluar dari balik pintu ruangannya, ia tidak melihat sekertaris Park di tempat duduknya. Di balik meja itu hanya ada sekertaris Jung yang tengah sibuk dengan keyboard yang ada didepannya.
"Sajang-nim,.. apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya sekertaris Jung ketika menyadari Yong Ri Sa telah berdiri didepan mejanya.
"Tidak ada. Lanjutkan saja pekerjaan anda." Jawabnya dan langsung melangkah menjauh dari hadapan sekertaris Jung.
Advertisement
Tak berselang lama, Yong Ri Sa sudah sampai di depan pintu darurat di lantai 20. Tanpa ragu ia membuka pintu itu dan memasuki area tangga darurat. Saat baru berada ditempat itu, ia langsung mengernyit heran. Sekertaris Park tidak ada di tempat itu. Yang ada ditempat itu hanya seorang wanita tengah berdiri membelakanginya. Wanita itu mengenakan jaket coat selutut warna coklat muda dan menggerai rambut lurus yang menjulang menutupi punggungnya.
Tanpa ada aba-aba, wanita itu membalikkan badannya dan sontak itu membuat Yong Ri Sa terbelalak. "Eonni?" lirihnya tanpa sadar karena efek keterkejutannya.
"Ya. Ri Sa-ya,.. ini aku." Ucapnya hangat dengan dibumbui senyuman yang sudah lama tak tampak dari diri Heo Yoon Woo jika bertemu dengan Yong Ri Sa.
"Apakah yang mengirim pesan itu adalah..." ucapannya menggantung.
"Maaf jika aku memintamu kesini menggunakan ponsel sekertaris pribadimu." Potongnya.
Yong Ri Sa terdiam sejenak.
"Maafkan aku, selama ini semua tindakan dan ucapanku telah melukai hatimu. Meski itu bukanlah kemauanku, tapi itu memang harus kulakukan untuk membantumu. Sama seperti yang kamu lakukan selama ini,.. Kamu berusaha melindungiku tanpa aku mengetahuinya hingga aku sempat salah paham padamu. Dan alasanku mengundangmu kesini adalah,.. aku ingin memberikan ini padamu." Menyerahkan sebuah flashdisk hitam pada Yong Ri Sa. "Di dalamnya ada sesuatu yang bisa kamu gunakan untuk menyerang Heo Yong Min dan kakekku. Aku tidak bisa menyerahkan ini saat di ruanganmu. Karena mereka terus mengawasi pergerakan kita berdua. Tidak hanya CCTV, tapi disana juga ada--"
"Alat penyadap suara." Potong Yong Ri Sa. "Jika memang alasannya adalah penyadap suara di ruangan itu, kenapa eonni menghubungiku lewat ponsel sekertaris Park? Bukankah tak masalah jika eonni menghubungiku lewat ponsel eonni sendiri? Dan kenapa selama diluar ruangan itupun sikap eonni benar-benar sangat dingin padaku? Tidak hanya di lingkungan ini. Di lingkungan sekolah pun tidak ada bedanya. Jadi itu membuatku berfikir, eonni benar-benar telah membenciku. Dan ini,.. kenapa eonni tiba-tiba memberikannya padaku?"
"Aku tau. Kamu pasti sangat bingung sekarang. Dan itu membuktikan bahwa Yong Ri An memang tidak mengatakan apapun tentang rencana yang telah kusiapkan sejak sebelum kamu terbaring koma, sesuai dengan permintaanku. Dan seperti yang dikatakan oleh Yong Ri An. Misi ini memang tak semudah dugaanku. Aku justru semakin sulit untuk menghubungimu sesuka hatiku. Mereka menempatkan mata-mata di sekelilingku dan memasang penyadap di ponselku. Mata-mata itu bergerak ketika di sekolah dan diluar lingkungan hotel. Sedangkan saat di lingkungan ini, mereka menggunakan CCTV dan alat penyadap lain untuk mengawasiku. Maka dari itu, mungkin memang tempat yang paling aman adalah tangga darurat ini. Itupun, kita tetap tidak bisa sering bertemu disini." Jelasnya. "Maafkan aku, atas segala sikapku selama ini." menundukkan kepalanya.
Mencoba perlahan menelaah kata-kata Heo Yoon Woo. "Jadi,.. Ri An Oppa sudah mengetahuinya dari awal?" Yong Ri sa sangat terkejut mendengar penjelasan dari Heo Yoon Woo.
"Ya. Awalnya dia melarangku melakukannya. Tapi aku sudah terlanjur sakit hati pada keluarga yang telah mengasingkanku sejak kecil." Jelasnya lagi. "Aku ada di pihakmu. Meski aku tak bisa terang-terangan, tapi aku berada di pihakmu. Aku akan membantumu. Aku akan mengirimkan bukti-bukti lain lewat sekertaris Park. Tidak hanya Heo Yong Min yang harus kamu tumbangkan, tapi tumbangkan kakekku juga. Aku mendukungmu." Yakinnya.
Yong Ri Sa menghela nafas berat. "Ini benar-benar sulit dipercaya. Jadi itu artinya eonni akan mengkhianati keluarga eonni sendiri?"
"Itulah darah yang mengalir dalam diriku. Darah sang pengkhianat dari Heo Joon Wang. Dan saat ini, dialah yang akan kukhianati. Tak masalah kan?" ucapnya ringan.
"Apakah eonni sudah benar-benar mempercayaiku?" tanya Yong Ri Sa, yang langsung disambut anggukan pasti dari Heo Yoon Woo dengan senyuman yang merekah dari bibirnya.
Tiba-tiba Heo Yoon Woo teringat sesuatu. "Ah ya. Bersikaplah seperti biasanya. Bersikaplah seolah-olah kamu tidak bertemu denganku dan tidak mendengar apapun yang kukatakan hari ini. Tetaplah jadi si rubah yang pandai mengelabui lawanmu. Arracci?"
"Itulah keahlianku eonni. Eonni juga harus hati-hati. Berada di wilayah lawan adalah tempat paling mematikan jika mereka menyadari niat eonni." Ucapnya hangat.
"Tentu aku sudah memperkirakannya. Aku tidak akan gegabah. Dan soal mata-mata di lingkungan sekolah, akan segera kuurus. Aku sudah tau siapa orangnya."
Senyuman Yong Ri Sa semakin lebar kala mendengar kata-kata yang dibalut nada hangat dari sahabatnya itu. Nada hangat yang sangat ia rindukan selama setahun belakangan.
###
Heo Yoon Woo yang masih mengenakan seragam SMA Dongjo, berjalan menuju kolam renang yang ada di SMA Dongjo. Dari awal ia melangkahkan kakinya, ia sudah merasakan pergerakan orang tengah mengawasinya. Meski ia sudah mengetahui hal itu, tapi ia tetap berjalan seolah-olah tidak merasakan apapun. Ia berusaha mengabaikannya dengan mengenakan earphone yang sedari tadi ada di genggamannya.
Saat baru melewati gedung basket SMA Dongjo, ia melihat ada Kang Jung Tae baru keluar dari gedung tersebut dan melihatnya yang tengah diikuti orang yang sangat ia kenal. Kang Jung Tae terlihat hanya mengernyit melihat pemandangan didepannya. "Dia ngapain terus-terusan mengular di belakang Heo Yoon Woo? Kayak nggak ada kegiatan lain aja." Celanya pelan namun masih bisa Heo Yoon Woo dengar.
Ketika sudah cukup jauh dari pintu lapangan basket, ia menyadari arah pandangan Kang Jung Tae yang masih tertuju pada dirinya dan orang yang mengikutinya, ia pun membatin, "Apakah ini saatnya?" tak lama kemudian, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan membalik badan, sehingga saat itu orang yang ada dibelakangnya dengan jarak kurang dari 5 meter itu langsung terkesiap salah tingkah.
"Hya! Hwang Hae Ra! Sampai kapan kamu akan terus mengikutiku? Dibayar berapa kamu?" ucapnya kasar.
"Ap-Apa maksudmu?" mencoba berkilah.
"Apakah kamu tidak punya kegiatan lain selain memata-mataiku? Hehh,.. kau fikir selama ini aku nggak tau segala pergerakanmu? Okey,.. sekarang laporkan pada Heo Yong Min, saat ini kamu sudah ketahuan. Dan juga bilang padanya, aku bukanlah anak kecil yang akan takut menghadapinya. Setelah itu, berhentilah memata-mataiku! Atau,.. akan kubuka rahasia tentang percobaan pembunuhan yang pernah kau lakukan. Aku bukanlah Yong Ri Sa ataupun Yong Ri An yang betah menyimpan kartu orang terlalu lama. Apalagi jika itu kartu milik orang yang menyebalkan seperti dirimu. Ingat itu!" ancamnya.
Hwang Hae Ra menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering akibat telah tertangkap basah oleh Heo Yoon Woo. "Jadi selama ini,.. kamu sudah menyadarinya?"
"Tentu saja. Kemampuanmu memata-matai orang itu sangat-sangatlah buruk. Bahkan aku sudah lama menyadarinya. Ternyata kamu juga tidak terlalu peka ketika sudah ketahuan seperti itu."
"Jadi kamu telah mengelabuiku? Dan kamu benar-benar sudah ada di pihak Yong Ri Sa?" menyeringai.
"Apakah itu harus? Apakah aku harus ada di pihak Yong Ri Sa untuk melawan Heo Yong Min? Jangan lupa katakan padanya, ular kecilnya telah bangkit dan siap mematukkan racun mematikan." Kembali membalikkan badannya sehingga sudah membelakangi Hwang Hae Ra.
Hwang Hae Ra menyeringai kembali, "Berbicara tentang racun mematikan, apakah kamu sudah dengar bahwa sepupumu dan kakekmu itu telah menyiapkan racun mematikan untuk Yong Ri Sa? Tepatnya saat rapat umum pemegang saham bulan ini. Bagaimana caramu menghadapi itu setelah kamu mengetahuinya? jika memang kamu tidak berada di kedua belah pihak, apakah kamu akan membantu kakekmu atau hanya diam menunggu kabar kematian sahabat lamamu?" Pancingnya.
Heo Yoon Woo yang mendengar kata-kata itu hanya diam dan berusaha untuk tetap tenang, meski sebenarnya hatinya terasa panas dan was-was mengetahui nyawa sahabatnya sedang terancam sedangkan dirinya masih tidak bisa terang-terangan berada di pihaknya. Setelah itu ia langsung kembali melangkahkan kakinya menuju kolam renang untuk mengikuti latihan renang di saat-saat terakhirnya sebagai siswa SMA Dongjo.
Sementara itu Kang Jung Tae yang juga bisa mendengar percakapan mereka berdua, sudah tak mampu berfikir jernih lagi. Apakah ia harus memberitahu Yong Ri Sa tentang hal itu? Dia memang mencintainya, tapi dia juga masih memendam kebencian padanya. Yang manakah yang lebih berkuasa? Rasa cintanya ataukah kebenciannya? Dia mengacak-acak rambutnya karena saking frustasi atas dilema dalam hatinya.
###
Kang Jung Tae terus mondar-mandir di depan meja makan yang hanya ada segelas air putih yang baru saja ia teguk sebelumnya. Deru nafasnya terdengar tak karuan dan menyiratkan saat itu fikirannya tengah melayang tak tentu arah memikirkan sesuatu hal yang benar-benar membuatnya pusing sepuluh keliling. Sesekali ia menggaruk-garuk ujung dahinya dan diiringi helaan nafas kasar. Di tengah-tengah perilaku anehnya itu, ia langsung tersentak ketika tiba-tiba di depannya sudah berdiri seorang Yong Ri Sa yang baru saja pulang dan masih mengenakan setelan kerja formal warna putih tulang.
"Hya! Neo wae? (kamu kenapa?)" tanya Yong Ri Sa.
"Niga wae? (aku kenapa?)" tanyanya balik dengan ekspresi sedikit linglung.
Mendengar itu, Yong Ri Sa hanya nyengir aneh. "Molla. (Entahlah)" ucapnya kasar sambil berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Sementara itu, Kang Jung Tae masih betah berdiri di tempatnya semula dengan ekspresi yang sama.
Ketika Yong Ri Sa sudah kembali dengan membawa segelas air putih, akhirnya Kang Jung Tae angkat bicara.
"Yong Ri Sa! Kapan RUPS Cessa Hotel?" tanyanya dengan nada gengsi.
Tertawa dingin. "Tumben ingin tahu. Ada angin apa ini? bener-bener kebelet ingin mengambil alih jabatan ya?" candanya.
"Mumpung aku baik seperti ini, jangan pancing emosiku." Ungkapnya kesal.
"Ya ya,.. 2 minggu lagi. Kenapa?" jawabnya singkat.
"2 minggu lagi? Bukankah itu pas ujian akhir?"
"Yups. Mereka memang sengaja memilih tanggal yang sama dengan tanggal ujian. Mereka berusaha menghalangiku untuk bisa hadir. Minimal menghalangiku datang tepat waktu." Jawabnya ringan.
"Jadi kamu akan tidak hadir di RUPS? Atau,.. kamu akan tidak mengikuti ujian?"
"Tidak ikut ujian? Aku tidak akan mengulang satu tahun di SMA. Tenang aja, aku juga tak akan mengacaukan usaha nenekmu mengangkatku jadi penerusnya. RUPS adalah momentum sangat penting. Dan aku juga tidak akan melewatkannya."
Advertisement
- In Serial52 Chapters
Graven
In 2029, thirteen unearthly structures called Doorways appeared across the world. Any human that entered immediately disappeared. Thousands were never seen again, but every once in a while, someone would come back out after a few days, garbed in strange clothing and possessing superhuman powers. Despite the odds, many of the desperate, ambitious, and hopeful surged through the Doorways in search of personal power.Eleven years have passed, and the world has undergone catastrophic changes as the result of superhuman conflict. Entire continents and civilizations have been lost, a supervillain epidemic threatens those societies that remain, and the world's greatest superhero team has just been destroyed. In the wake of this latest tragedy, a band of powerful superhuman bounty hunters comes together to track down the source of these disasters, and perhaps save what remains of the falling world.
8 183 - In Serial19 Chapters
The Descendants
"You're going to die screaming..." A wraith crawled on the ground. Katie smirked before kneeling down and slashing him across the throat. "You know what? I would really like that." Follow the masochist Katie as she slashes and dashes her way through the supernatural world. As of the moment, the update rate will be one chapter every three to four days, roughly. I am proud to announce all the rights of this fiction is completely mine. and if you enjoy this story, or just want to give me money, go to my paetron page in the donation tab and support me by either following me or becoming my patron. Also thanks to Lokumi, Tmq5521, and Imperator of Benera for doing beta-reading for this story.
8 164 - In Serial24 Chapters
Seraphim. Nocturna of the Eternal Chains
Turned into a demon based on a technicality… Skye’s life takes a spiral through dimensions as she is forced to answer summons, make deals, conclude bargains and settle contracts to pay for keeping her own soul. The only way out is to become powerful enough to topple the system that governs her evolutionary growth…
8 130 - In Serial11 Chapters
Hymn of Ignis
If a man is told to walk from the moment of his awakening to the world, what will he do? He will walk. What if along his path he stumbles and falls? He will get up, and walk. What if along his path others bar the way? He will push through, and walk. What if along his path a storm hinders his passage? He will overcome it, and walk. What if along his path the sky changes color and light no longer guides the way? He will remain on his path, and walk. What if along his path the very ground gives way to oblivion? He will press on, and walk. What if along his path he becomes more than a man? Will he stop? Release schedule will be either weekly, or biweekly, depending on the time I have available. Hopefully that will change for the better along the way. As for the story itself, opinions matter a lot! I appreciate both soft, and hard criticism, so don't hold your punches.
8 243 - In Serial66 Chapters
Divinity
“Let an old warrior caution you, there are parts of every tale that are not told. The part where none of those mighty champions died peacefully in their beds. The part where the hero meets their end surrounded by the enemy and in horrible agony. They were alone in their final moments and unsure if their sacrifice would bear fruit. I do not want that for you.” The Heavens created the Realm of Man and saved it from the eternal silence of the Void - once. Centuries later, humanity’s unity has fractured beneath the weight of time and the whims of man. Raegn Edelgard fights on in his home of Bastion, one of two everlasting fortifications to protect the Realm from the remnants of the darkness that still persist. Raegn hoped to be written into legend alongside the stories that inspired him since childhood, yet the scouting skirmishes and small battles that have been fought since the time of his forefathers offer little chance at glory. When the Void wakes once more the Realm questions if the first war was ever really won…and if they might be saved again. Raegn is left searching for purpose and must navigate through a world teetering on the brink of extinction. Dire times create the greatest heroes, but tales that stand the test of time are written twice - in blood before ink.Divinity is a fantasy series about Raegn Edelgard, a young man who must make his way through a world that is struggling to realize it is, for the second time in its history, teetering on the brink of extinction. Book Cover Credits: Photo by Prince Akachi on Unsplash | Design by eric.margusity.com
8 232 - In Serial25 Chapters
Piece By Piece
Y/n Maximoff- One of the triplets. Experimented on by Hydra along with her brother and sister, she gained incredible and dangerous powers. Pietro's death in the battle against Ultron crushed Y/n and her sister, but while everyone comforted Wanda, Y/n was blamed for his death. She had watched, as a her big brother by 31 minutes ran to save Clint and a child, knowing he would be filled with bullets. As her brother was being a hero and sacrificing himself, Y/n watched, frozen in fear, as he died. It didn't even cross her mind to use her powers to protect him. Now, six months later, Bucky joins the group, and to Y/n's surprise, actually speaks to her. Against the Avenger's advice and warnings of Y/n being a traitor and coward, Bucky grows close to her. They grow to comfort each other and slowly, heal each other. However, as Y/n's mental state slowly unravels itself, it begins to look like not even Bucky can save her from herself.
8 158

