《Soul In Seoul》#Part 31 (Pencuri)
Advertisement
Yong Ri Sa langsung mengernyit melihat sebuah brankas dilengkapi dengan tombol-tombol angka, tersembunyi dibalik lukisan naga tersebut "Password lagi?" dan sekali lagi dia harus memecahkan teka-teki password untuk membukanya. Ia mencoba memasukkan kombinasi angka yang sama dengan kombinasi angka di brankas sebelumnya. Namun, ternyata itu tidak berhasil. Kemudian dia mencoba memasukkan kombinasi-kombinasi angka yang sebelumnya gagal untuk membuka brankas yang lain. Dan ternyata berlaku juga dengan brankas itu. Kombinasi-kombinasi angka tersebut tidak ada satupun yang bisa digunakan untuk membuka brankas warna emas itu. Yong Ri Sa sudah mulai merasa frustasi meladeni kerumitan nenek angkatnya untuk menyembunyikan benda-benda berharga miliknya.
"Jika brankas yang itu passwordnya tanggal pernjanjianku dengannya, mungkinkah password brankas ini tanggal pertemuan pertamaku dengannya? Saat aku menolongnya dari gangster." Melirik lemas bekas luka yang ada di lengan kanannya yang merupakan bekas luka akibat ia menolong Han Seo Jin dari gerombolan gangster.
Ia mengarahkan jarinya untuk menekan kombinasi angka yang tak lain adalah kombinasi tanggal pertemuan pertamanya dengan Han Seo Jin. Karena ia sudah tak terlalu berharap percobaan ini akan berhasil, alhasil dia menekannya dengan sangat lemah. Dan tiba-tiba ia dibuat terkejut. Brankas itu berhasil terbuka. "Berhasil?" ungkapnya yang masih tak percaya nenek angkatnya akan menggunakan tanggal pertemuan pertama mereka sebagai kombinasi angka pada brankas rahasianya.
Perlahan ia membuka pintu brankas itu. Didalamnya ada setumpuk dokumen penting dan sangat rahasia. Meskipun tidak sebanyak berkas di brankas sebelumnya, brankas itu terlihat memiliki tingkat keberhargaan yang jauh lebih tinggi dari brankas sebelumnya. Bisa dilihat dari, untuk membukanya saja harus memasukkan sidik jari dan harus memasukkan password sebuah kombinasi angka yang tak lain adalah sebuah tanggal yang ia sangat yakin hanya mereka berdua yang tahu tanggal pertemuan pertama itu.
Berbeda dari sebelumnya, ia tidak memeriksa satu persatu dokumen. Matanya tertuju pada sebuah buku yang terlihat seperti buku agenda tapi juga seperti buku diary. Ia langsung mengambilnya dan membuka buku itu. Dirasa dia harus menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membaca buku itu, akhirnya diapun menutup kembali brangkas itu dan menekan tombol disamping alat pembaca sidik jari untuk mengembalikan lukisan naga itu ke tempat semula. Setelah itu ia menuju ke balik meja kerja, tanpa menutup kembali brankas pertama yang masih terbuka. Berkas-berkasnya pun masih tertumpuk di lantai didepan brankas tersebut.
Dengan sangat serius, ia membaca satu persatu kata yang tertulis di buku itu. Di halaman-halaman awal ia masih merasa biasa-biasa saja. Namun ketika sudah memasuki halaman 25, ia langsung tersentak. Meski di halaman itu hanya tertulis 'Akhirnya aku menemukan emas itu. Emas yang sangat berharga. Emas yang akan menghancurkan kastil Heo dan penyelamat White House.' Ia sangat yakin kata 'emas' dalam kalimat itu adalah dirinya. Karena halaman tersebut ditulis tertanggal tepat di hari ia menyelamatkan Han Seo Jin dari segerombolan gangster.
Tak ingin terlalu lama terpaku pada halaman 25, akhirnya ia membuka halaman-halaman berikutnya.
'Perlahan tapi pasti. Emas itu sudah semakin dekat.' Di halaman 27 yang tertanggal tepat di hari ia dan kakaknya mendapatkan beasiswa penuh. "Jadi saat itu dia sudah mulai mengikatku?" gumamnya dingin.
Di halaman berikutnya tertulis, 'Emas berkilau tidak hanya akan mengundang sepasang netra. Jika tak bisa menguasainya, White House yang akan teraniaya. Jika tak bisa menariknya, dia yang harus mati.' Tangannya langsung mengepal kala menyadari saat itu nyawanya lah yang sebenarnya jadi taruhan jika ia tidak menyetujui perjanjian itu dan bukan kakaknya.
'Sudah kuduga. Emas itu benar-benar sulit ditaklukkan. Umpan untuk mendapatkan emas adalah perak yang berkilau.' di halaman 34 yang tertanggal tepat di hari penolakannya terhadap penawaran pengangkatannya sebagai cucu di keluarga Yong. Kepalan tangan Yong Ri Sa semakin kuat ketika membaca kata-kata 'Umpan untuk mendapatkan emas adalah perak berkilau' "Perak berkilau? Dan dia menggunakan Ri An Oppa untuk mendapatkan emasnya. Hehhhh,.." menyeringai.
Advertisement
Ia membuka lembar-lembar berikutnya dan memfokuskan matanya untuk terus membaca buku catatan itu.
'Baru beberapa bulan, emas itu sudah bisa kokoh dan sangat berkilau tanpa harus kupoles lagi.'
'Aku percaya padanya. Aku tak akan mengganggu apapun rencananya. Dia takkan berkhianat. Dia si emas yang setia.' Tulisan itu langsung membuat wajahnya datar sedatar papan tulis. Ia mulai tak dapat berfikir jernih. Fikirannya serasa kaku ketika membaca kata-kata 'Dia si emas yang setia.' "Ini buku diarynya, dia nggak mungkin menulis kebohongan disini. Apa Direkur Han benar-benar mempercayaiku? Setelah perjanjian konyol itu, apa dia sudah benar-benar mempercayaiku?" gumamnya yang masih tak dapat mempercayainya.
Kemudian dia membuka lembaran berikutnya dan lagi, dia terhenyak hingga airmatanya memberi aba-aba untuk jatuh. 'Pion? Dia bukanlah pion. Dia juga bukan perisai. Dia adalah emasku. Dia adalah cucuku. Dia adalah penerusku.' Saat membaca tulisan itu, hatinya langsung bergetar, jantungnya langsung berdetak lebih kencang, dan airmatanya perlahan jatuh membasahi pipi cantiknya. "Halmeoni,.. Joesonghamnida,.. joesonghamnida telah salah paham terhadap anda. Joesonghamnida, Halmeoni. (Maafkan saya, Nek.)" ia memeluk buku itu dan terisak pilu. Ia sangat menyesal telah salah memahami maksud orang yang telah mengangkatnya sebagai cucu. Bahkan ia pun sempat memiliki fikiran untuk mengkhianatinya. Ia benar-benar menyesali itu.
Di tengah-tengah tangisan yang sangat memilukan itu, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan muncul sosok Yong Ri An yang langsung berjalan mendekat padanya.
"Kamu kenapa?" tanyanya heran kala melihat adiknya menangis sejadi-jadinya.
Yong Ri Sa langsung mengangkat wajahnya dan menatap sayu kakaknya. "Oppa,.." lirihnya seraya menyerahkan buku yang masih terbuka dan sebelumnya ia peluk erat.
"Apa ini?" tanya Yong Ri An lagi, yang tiba-tiba langsung mengernyit saat membaca lembar tulisan terakhir yang dibaca oleh Yong Ri Sa. "Pion? Dia bukanlah pion. Dia juga bukan perisai. Dia adalah emasku. Dia adalah cucuku. Dia adalah penerusku." Ucapnya pelan mengikuti kata-kata yang tertulis di buku itu. "Apa maksudnya? Apakah,.. Direktur Han benar-benar tidak menganggapmu jadi pionnya? Direktur Han benar-benar menganggapmu sebagai cucunya? Apa ini masuk akal?"
Yong Ri Sa menyeka air matanya seraya berkata, "Ini memang terasa tidak masuk akal. Tapi, buku itu disimpan di tempat yang sangat rahasia. Bukan di brankas ini." menoleh ke brankas yang masih terbuka tak jauh darinya. "Tapi di brankas lain. Yang untuk membukanya aja, sangat rumit dan ditempatkan di lokasi yang tak ada orang yang tau, jika orang itu sebelumnya tidak terlalu banyak berhubungan dengannya. Oppa tau kan, apa itu artinya? Buku itu adalah sisi lain darinya, sisi lain yang sesungguhnya dirasakan oleh orang yang telah mengangkat kita sebagai cucunya. Dan karena ini, aku semakin yakin dan semakin menguatkanku untuk meneruskan rencana yang telah kususun, dan menyelesaikan segala masalah yang berhubungan dengan keluarga ini." jelasnya.
Yong Ri An menatap lekat adiknya. Mulutnya terkunci sejenak, otaknya terus berfikir. "Baiklah. Aku akan membantumu." Singkatnya yang langsung disambut dengan senyuman oleh Yong Ri Sa.
###
Saat itu sudah jam 2 malam, tapi mata Yong Ri Sa masih belum bisa benar-benar terpejam. Ia sudah hampir 2 jam berusaha untuk tidur, namun ada sesuatu hal yang membuatnya tidak nyaman dan dia tak tau apa yang membuatnya tidak bisa tidur hingga selarut itu. Berkali-kali ia membolak-balikkan badannya di tempat tidur Golden Room berharap ia menemukan posisi yang nyaman dan dapat membuatnya terlelap tidur. Rasanya usahanya sia-sia, dia tetap saja tak dapat benar-benar memejamkan matanya dan tiba-tiba ia merasa kehausan. Ia meraih sebuah cangkir yang diletakkan di meja samping tempat tidurnya. Dan sialnya cangkir itu telah kosong, sehingga mau tak mau dia harus beranjak dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Tak ada seorang pun di dapur. Ya,.. tak mengherankan memang, itu sudah tengah malam. Para asisten rumah tangga dan para pengawal tak ada yang akan memasuki dapur di jam-jam itu, kecuali jika memang situasi sangat memerlukan para pengawal patroli tengah malam. Saat itu Yong Ri Sa duduk di balik meja makan sambil menuangkan air putih ke cangkir yang sebelumnya ia bawa, kemudian meneguknya. Di tengah ia meneguk air minumnya, ada suara seorang laki-laki yang sangat dikenali olehnya.
Advertisement
"Ternyata ada yang tak bisa tidur." Itulah suara lelaki itu yang langsung membuat Yong Ri Sa tersentak hingga hampir tersedak oleh air yang ia minum.
Lelaki itu berjalan mendekat ke Yong Ri Sa. "Kenapa kamu tidak bisa tidur? Masih kepikiran tentang hakku yang telah kau rebut? Atau,.. kepikiran bagaimana caranya pergi dari keluarga ini dengan membawa kabur hak-hakku?" itulah kata-kata dingin lelaki itu yang tak lain adalah Kang Jung Tae.
Yong Ri Sa hanya diam tanpa sepatah katapun terucap, hingga Kang Jung Tae sudah duduk disampingnya.
"Kenapa kamu diam? Jadi,.. yang kukatakan tadi benar? Kamu akan kabur dengan membawa hak-hakku?" ungkap Kang Jung Tae semakin dingin.
"Apakah yang kukatakan waktu itu kurang jelas? Cukup buatlah aku mempercayaimu, maka kamu akan mendapatkan kembali hak-hakmu. Aku sama sekali tidak tertarik dengan harta nenekmu." Ucap Yong Ri Sa dan kemudian dia langsung beranjak dari tempat duduknya.
Dengan sigap, Kang Jung Tae menahan tangan Yong Ri Sa dan ikut berdiri menghalangi langkah pergerakan Yong Ri Sa. Saat itu Kang Jung Tae berhasil menyudutkannya di ujung meja. Tatapan matanya menyiratkan sebuah emosi yang telah lama ditahannya, namun tatapan itu tidak mampu membuat gentar Yong Ri Sa yang masih setenang biasanya.
"Kamu tau? Kenapa aku sangat membencimu?" Kang Jung Tae penuh emosi.
Yong Ri Sa hanya diam.
"Kamu yang bukan siapa-siapa dan tiba-tiba muncul dengan waktu singkat telah mendapatkan pengakuan dari nenekku. Sedangkan aku yang cucu kandungnya dan telah tinggal bersamanya lebih dari sepuluh tahun, tak pernah ada pengakuan darinya. Bahkan sampai sekarang marga yang ada di namaku pun masih milik ibuku dan bukan marga ayahku yang dari keluarga ini. Kamu tau? Bagaimana rasanya tidak dianggap di keluarga sendiri? Yah,... memang benar, kelahiranku tidak diinginkan di keluarga ini. Berbagai cara telah kulakukan untuk menarik perhatiannya. Tapi tak satupun berhasil membuatnya mengarahkan pandangannya kepadaku. Terutama ketika kamu tiba-tiba muncul, seolah benar-benar telah menghapus fakta darah yang mengalir dalam diriku ada darah keluarga Yong."
"Menarik perhatiannya?" tertawa dingin. "Maksud kamu berbuat konyol, bertingkah bodoh dan hampir setiap hari membuat onar, itu adalah caramu menarik perhatiannya? Sepertinya kamu tidak mengenal nenekmu dengan baik. Yang bisa menarik perhatiannya adalah orang yang bisa ia gunakan untuk melancarkan segala aksinya. Cucu yang akan dia akui adalah cucu yang bisa meneruskan kegemilangannya, bukan cucu yang membuatnya harus menahan malu. Kalau saja, kamu tidak melakukan hal-hal konyol itu, kemungkinan besar aku tak perlu terjebak di situasi ini."
"Terjebak? Bukankah kamu menyukainya? Dasar pencuri yang sangat licik." Umpatnya.
"Bagaimana bisa aku menyukainya? Ketika aku harus kehilangan sahabat yang sangat berarti untukku, ketika aku tidak bisa menikmati masa-masa remajaku, ketika hampir setiap saat mendapat ancaman-ancaman nyawa yang tidak hanya ditujukan padaku tapi juga kepada kakakku satu-satunya. Bagaimana bisa aku menyukainya?" Yong Ri Sa terpancing emosi. "Dan lagi,.. kamu bilang aku pencuri yang sangat licik? Yah,.. aku memang sangat licik bagi lawan-lawanku. Tapi aku bukanlah pencuri." Terusnya.
"Kamu jelas-jelas adalah seorang pencuri. Pencuri yang sangat licik."
Yong Ri Sa hanya mengunci mulutnya dengan menyuguhkan tatapan tajam pada Kang Jung Tae.
"Kamu telah mencuri kekuasaanku, kamu telah mencuri ketenaranku, kamu telah mencuri perhatian nenekku, kamu telah mencuri hakku dan satu lagi,.. kamu telah mencuri hatiku." Ucapnya penuh dengan penekanan setiap kata-katanya.
Wajah Yong Ri Sa langsung datar ketika mendengar kalimat penutup dari mulut Kang Jung Tae, yang benar-benar membuatnya tak mampu berfikir jernih. "Hya! Kamu gila ya?! Bagaimana bisa aku mencurinya? Aku tidak melakukan apapun--"
Ucapan Yong Ri Sa itu dipotong oleh Kang Jung Tae, "Jadi kamu nggak merasa telah mencurinya? Baiklah,.. sekarang akan aku ambil sendiri satu hal yang telah kau curi." Kalimat itu diakhiri dengan sebuah kecupan mesra dari Kang Jung Tae yang langsung membuat mata Yong Ri Sa membola seketika akibat mendapat perlakuan seperti itu dari seorang Kang Jung Tae.
Yong Ri Sa berusaha mendorong tubuh Kang Jung Tae dan berharap bisa lolos dari kunciannya. Namun sialnya tenaga yang dimiliki Yong Ri Sa masih tidak sekuat dulu. Tenaganya masih belum benar-benar pulih dan bekas luka tusukan di perutnya pun sempat membuatnya meringis kesakitan. Alhasil dia pun hanya bisa pasrah atas perlakuan dari sepupu angkatnya itu. Tangannya yang berada di dada Kang Jung Tae, merasakan ritme detak jantung yang sangat cepat. Entah itu ritme detak seorang yang sangat emosi atau detak jantung seseorang didekat orang yang sangat dicintainya. Ia tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dirasakan orang yang didepannya itu.
Tak lama kemudian, Kang Jung Tae menjauhkan bibirnya dari bibir Yong Ri Sa. Hanya tatapan nanar yang ia suguhkan saat itu. Ia juga berusaha mengatur nafas dan ritme detak jantungnya yang masih tak karuan. Sedangkan pemandangan sangat berbanding terbalik ada pada Yong Ri Sa. Ia sangat marah mendapat perlakuan lancang dari seorang Kang Jung Tae. Tatapannya sangat tajam. Hingga Kang Jung Tae mampu melonggarkan kunciannya dan membuat Yong Ri Sa bisa segera bergegas dari hadapannya.
Langkahnya masih tertatih cukup berat menuju kamarnya. Bekas luka di perutnya masih membuatnya tak bisa bergerak dengan leluasa. Satu per satu anak tangga ia naiki dengan sangat pelan. Tangannya juga berpegangan erat pada pinggiran tangga. Sesekali ia berhenti untuk mengambil nafas dan merutuki hal yang baru saja terjadi di dapur. Bagaimana bisa Kang Jung Tae memiliki perasaan khusus padanya? dan bagaimana bisa dia semudah itu mencuri bibirnya? Ahhh,.. rutukannya pada diri sendiri itu membuatnya tak sadar bahwa Kang Jung Tae sudah berjalan tepat di belakangnya dan langsung mengangkatnya. Yong Ri Sa sangat terkejut saat mendapati kini ia telah berada di gendongan Kang Jung Tae. "Hya! Aku bisa jalan sendiri. Turunkan aku!" ucapnya pelan, namun tidak diindahkan oleh Kang Jung Tae. Lelaki itu terus berjalan menaiki satu persatu anak tangga dari lantai 1 ke lantai 3 dengan Yong Ri Sa berada di gendongannya. Jika saja saat itu mereka berdua saling mencintai, itu pasti adalah momen yang sangat romantis. Tapi sayangnya Yong Ri Sa tidak memiliki perasaan itu, sehingga momen itu justru membuatnya tak nyaman.
"Turunkan aku!" perintahnya ketika sudah berada di depan pintu Golden Room.
Tanpa mengatakan sesuatu, Kang Jung Tae langsung menurunkannya dan pergi ke Bronze Room. Hal itu membuat Yong Ri Sa mengernyit heran dengan tingkah lelaki itu.
"Detak jantungnya sangat cepat. Kukira tadi detak jantungnya secepat itu karena sedang marah. Tapi saat menggendongku, ritme jantungnya tak berubah. Ini tidak benar. Sekarang dia adalah sepupuku. Yah,.. meski tak memiliki ikatan darah, tapi status sebagai keluarga sudah mengikat. Apalagi masa lalu sebagai musuh, adalah masa lalu yang merupakan salah satu alasan kita mustahil bisa bersatu. Bisa akur saja, syukur. Tapi sekarang,.. disaat kita sudah jadi keluarga seperti ini, semakin mustahil juga aku bisa menerima perasaan khususnya itu." batinnya ketika sudah memasuki ruangan yang dipenuhi dengan warna emas itu.
###
Pagi itu seperti biasa Yong Ri An bersiap-siap mengawali harinya yang sudah memakai seragam SMA Dongjo. Buku, peralatan sekolah dan setelan olahraganya telah masuk ke tas selempang yang selalu menemaninya ke sekolah sejak ia bersekolah di SMA Dongjo. Yah,.. meski sekarang dia sudah diangkat di keluarga kaya, namun kesederhanaannya tetap mendarah daging dalam dirinya. Tidak banyak barang favoritnya yang bertambah. Kebanyakan barang-barang yang ada di kamarnya adalah barang-barang yang dipakainya ketika masih bermarga 'Lee', sedangkan perbedaan mencolok dari sebelumnya adalah warna mayoritas di kamarnya saja yang tak lain adalah warna perak.
Saat sudah siap berangkat, ia pun bergegas mengenakan jaket dan tas selempangnya. Kemudian dia langsung keluar dari Silver Room dan mendapati adiknya yang sudah lengkap dengan setelan seragam SMA Meongso dibalik jaket tebal panjang yang ia kenakan, dan dipunggungnya juga sudah ada tas ransel hitam yang menempel mesra, tengah berjalan menuju tangga.
"Hya! Ri Sa-ya,.. apa kamu yakin akan mulai sekolah hari ini? memangnya perutmu sudah tak sakit?" tanya Yong Ri An yang sudah berjalan sejajar dengannya menuruni tangga.
"Ya. Aku sudah siap dan yakin. Nyerinya juga sudah tak terlalu mengganggu. Aku bisa mengatasinya. Jadi tak perlu cemas. Okey?!" yakinnya dengan keceriaan yang kini hanya ia suguhkan pada kakak kesayangannya.
"Jangan terlalu memaksa jika memang tidak kuat. Pulihkan dulu fisikmu." Nasihatnya yang langsung disambut dengan anggukan dari Yong Ri Sa.
###
Dalam perjalanan menuju sekolahnya, Yong Ri Sa yang duduk bersebelahan dengan kakaknya di mobil pribadi keluarga Yong, lebih banyak menunduk dengan cukup gelisah. Sesekali pandangannya ia arahkan ke luar kaca pintu disampingnya. Melihat kegelisahan adiknya itu, membuat Yong Ri An penasaran dan cukup cemas, "Kamu kenapa?" tanyanya.
Pertanyaan itu tidak hanya mengalihkan perhatian Yong Ri Sa yang duduk disampingnya, tapi juga Kang Jung Tae yang duduk di kursi penumpang didepannya. Kang Jung Tae langsung melirik ke cermin depan agar bisa melihat ekspresi orang-orang yang duduk dibelakangnya.
"Aku tidak apa-apa." Singkatnya.
"Benarkah? Tapi sepertinya ekspresimu berkata lain." Sanggah Kang Jung Tae yang sesekali masih melirik ke arah cermin.
Yong Ri Sa tak sedikitpun menanggapinya. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke jalanan.
"Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Yong Ri An.
Mendengar itu, Yong Ri Sa membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. "Apakah ada dalam sejarah, seorang Ketua Yayasan merupakan salah satu siswa di yayasan itu?" ucapnya lemah, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Hanya dengan mendengar kata-kata itu Yong Ri An langsung mengerti arti kegelisahan yang tampak dari raut wajah adiknya. "Tenanglah,.. ini memang kejadian yang sangat langka. Tapi bukan sesuatu yang tak mungkin kan? Apalagi jika itu adalah kamu. Bukankah sebelumnya kamu juga sangat gundah ketika diminta menggantikan Direktur Han di Cessa Hotel waktu itu. Tapi akhirnya kamu berhasil mengatasi itu."
Yong Ri Sa menghembuskan nafas kasar sebagai tanda bahwa saat ini dia benar-benar gelisah dan tidak dalam suasana hati yang baik.
Advertisement
- In Serial10 Chapters
Synchronizing Minds - A first contact story
So what are the intelligent aliens like? The humans didn't know for quite some time, since even though they had ventured out far, they had only found few animal species and those had been as far from sapience as common earthworms. But now they had finally stumbled upon someone and a first contact meeting is happening. Can ambassador Neil, the represantitive of humans, find friendship standing before a vastly different sapient creature that is six times her size and just learned about the concept of language? Or are the humans actually the weird ones?
5 64 - In Serial20 Chapters
Sword System Academia
2/17 NOTICE: I'm putting this on hiatus, possibly permanently. I didn't want to spam with an "update chapter", so hopefully here and in the story blurb will get enough eyeballs. There are a couple reasons for ending SSA for now. 1) I wrote the next chapter but wasn't happy with it. I've been less and less satisfied with SSA's quality the more I thought about it. Part of the reason is... 2) I am seriously thinking about trying to publish some novels to help pay the bills, since I don't have my other source of income anymore. I have never asked for anything from SSA readers, no money, not even a review or rating. SSA is written for fun to amuse myself, primarily, and I would kind of feel bad actually charging someone money for something as unserious as that. I don't think it is good enough to ask anything in return. To use an analogy from music, SSA is more like a jam session with a bunch of friends. You're just chiling and having fun playing some music. I mean, if you are Mozart or even Eminem, your jam session is good enough to sell, but for an amateur beginner like myself, haha, no. If I want to publish something, I feel like I need to go the proper route of practice and rehearsals, which might be more similar to a classical concert performance. With SSA, I work from worldbuilding notes and a loose outline, but what you are essentially getting is the first draft with lots of so-called pantsing. Pushing out a web novel like this also means it is very difficult to go back and improve things without breaking everything else downstream. I wanted to try this "jamming" approach, as it was a good way to teach me about another aspect of writing, but to move forward, I think I need to hone my "classical" techniques, which emphasize rewriting, or at least, revising outlines. 3) While I intend to try to make $$$, my actual current goal is to "get gud". I've spent a lot of time recently trying to understand the self-publishing industry, and I'm pretty sure I can make some money by using short-term strategies with my current amateur skill level. But I've seen too many authors come and go/burnout, and really, the only way that I think I can enjoy writing and still make money on a long-term basis is to become a better writer. And the next step for me, which I haven't done much before, is to spend more time on rewriting and outlines. That is pretty much antithetical to the way SSA is developing. I've always been kind of 20/80 plotting/pantsing, but I want to spend a lot more time outlining before I even start writing. SSA jam sessions don't really fit my goal anymore. If you're curious about what's next, read on... Among other regrets, I regret not finishing SSA. It's the first story I've dropped, but then again, it's the first web novel I've attempted, so I suppose that's not a surprise. I don't think traditional web novel formats suit me that well. The whole SSA story I had loosely planned (beyond a first book or major arc) is way too large as well. Big story = good for neverending webnovel with Patreons, bad for penniless and fickle writer like me. I am currently outlining a complete trilogy to another story in great detail. I want the story to end concisely, and I also want the chance to really spend a lot of time on the full outline to spot pacing problems, character issues, lost themes, and so on. I'll still share this story on RR. What I intend to do is finish book 1, flash-publish the whole thing here for a few weeks, then publish on the big Zon. Repeat for books 2 and 3. The upcoming story will be about crafting heroes. The backdrop is an isekai-like setting, where elves will summon humans to their world as heroes, but the whole hero crafting business is still in its infancy. The elven mage researchers are figuring out how to imbue heroes with power, while the heroes are trying to figure out how to use the powers that they gain. Humans are the best hero templates because they are blank and have no intrinsic magic. Or at least that what the elves thought. The human MC has his own secrets... There will be some similarities with litrpgs, but I would call it more a progression fantasy or gamelit story. For example, the stats are very low, at least initially. Say we have a stat called Str. Going from Str = 1 to Str = 2 is a huge deal. Also, going from Dex = 0 to Dex = 1 is an even bigger deal. I guess you could call it a "low-stat litrpg", haha. Also, the heroes won't be gaining stats simply by killing things or leveling up. You can't increase stats arbitrarily, either. There will be rules to how stats can increase, and how they work with each other. The elven mages will be figuring out these rules in order to craft stronger and stronger heroes. Some inspiration will be from cultivation magic systems, but there won't be overt cultivation, at least for now. A theme I really want to explore is the idea of interactions. That includes things like hero crafter vs hero, tactics vs strategy, skill synergies, racial interactions (dwarves, elves, etc), and son. Yeah, so hero crafting. I'm super excited about this project and venturing into publishing. If you want to check out the upcoming story, you can follow my RR author profile to see when it drops here. Finally... THANK YOU TO EVERYONE! I'm very sorry that SSA is stopping, but I hope at least some of you will find the next story at least as enjoyable, if not more. Thanks to all the readers who gave SSA a shot. Big hug or solid fistbump to all of you, whichever you prefer! I hope this message is not a downer but an upper, because I am psyched!! -purlcray -------------- BLURB: Talen, youngest Master of the Koroi, makes his way to the Empire's capital to salvage his clan's fate. But the bustling city has few opportunities for the traditionalist. For the old sword clans are fading. With the rise of alchemy, gold can purchase strength that ordinarily took years of training to cultivate. Sword artists, once rare and accomplished, are quickly growing in number, especially among the wealthy noble class. Even with such alchemy, though, no one has advanced to the rank of Grandmaster in countless years. Talen's true dream is to walk the path of a sword artist to the very end while fulfilling his clan duties. And then the Swordgeists return, fabled founders of all sword arts, gods who had touched the world long ago and vanished. These myths turned into reality warn of a coming threat. Alongside this warning, they issue an invitation to the Sword System Academy, a path to power beyond the mortal realm. But first, they will hold an entrance exam... Story notes:Sword System Academia blends elements of western and asian fantasy such as xianxia and litrpg. I took parts from different genres I enjoyed and twisted them into my own creation. There will be an explicit system, both of the litrpg kind and the hard(ish) magic kind, but it is embedded within an academic structure that will develop over the course of the story. This is my attempt to design a unique type of system, the System Academia.
8 153 - In Serial15 Chapters
Deep Within
A vampire from a royal family, a close friend of the king, Derek Valtaheim seemingly had the world in the palm of his hand. But when the lies of his past and a murderous scheme came bubbling to the surface, Derek would be swept up in a revenge plot years in the making.
8 840 - In Serial104 Chapters
PERCEPTION (A New Begining)
After a serious head injury, Tom can't help but notice his perception of the world changing. He gains the ability to control his perception of time. What would happen to a normal human if they could see/think at superhuman speeds? What would they be capable of? Follow Tom as he finds out what he is capable of and realizes the consequences of his newfound power. PLEASE DO NOT READ IF YOU CAN'T HANDLE OFFENSIVE AND DARK SUBJECTS. (This isn't a ploy to get more people to read. If you even think you might not be able to handle it just read something else.)
8 96 - In Serial16 Chapters
One Life
With everything in tatters, Jason jumps on the bandwagon of One Life: Virtual Vacations and Adventures. Giving up everything he knows, he logs in to the game, hoping to find a purpose beyond the rut he had found himself in, in the real world. Lucking out early, Jason discovers a questline no one had managed to find, the now Deran finds himself in a sticky situation, relying on his new friends to help him stay alive. Especially since in this game, you only get one life.
8 131 - In Serial20 Chapters
A Broken Promise
Sayhas was a killer. He was a mindless blade. A mercenary, a brigand, an outlaw Thief, Assassin. Murderer. He's done it all. Now, he's had a change of heart; he wants to go home and grow old by a fire with the ones he holds dear. But the past cannot be so easily forgotten, and grievances of long ago haunt him at every step. Instead, he travels the world, waiting for old friends to come and collect their dues, hoping that there will come a day when he can finally go home. Unfortunately, Sayhas' talents have caught the unwanted attention by the gods themselves. And when even the god's nasty plots are intertwined with Sayhas, he has two options: To run and pray it all blows over. Or to fight, and to pick a side.
8 96

