《Soul In Seoul》#Part 29 (Mata-mata)
Advertisement
Kurang lebih 30 menit berlalu. Kini Yong Ri An telah menginjakkan kaki di rumah sakit tempat adiknya mendapatkan perawatan. Setiap langkahnya tampak begitu cepat hingga ia sampai di ruangan adiknya dirawat dalam waktu singkat. Tapi ia sangat terkejut ketika tidak mendapati adiknya di ruangan itu. Ia bingung dan sangat khawatir. Apakah terjadi sesuatu padanya? Kenapa tidak ada yang memberikan kabar untuknya? Dimana Yong Ri Sa?
Tanpa ragu ia bertanya kepada dokter yang tengah berjaga di lorong ICU. Ekspresi panik dan cemas begitu jelas nampak di wajah rupawannya.
"Uisa-nim (Dokter), Pasien yang bernama Yong Ri Sa kenapa tidak ada di ruangannya? Apakah dia sudah dipindahkan?" berusaha mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
"Iya. Pasien telah bangun dari komanya. Jadi, sore tadi pasien telah dipindahkan ke ruang perawatan yang lain."
Mendengar itu, akhirnya ia bisa bernafas lega. "Ahh,.. gamsahamnida." Ucapnya dengan senyum penuh kelegaan.
Setelah mendapatkan informasi tempat perawatan adiknya yang baru, Yong Ri An langsung berjalan cepat menuju ruangan yang dimaksud oleh dokter jaga di ICU tersebut. Satu per satu lorong ia lewati hingga ia sampai di sebuah bangsal khusus untuk perawatan lanjutan pasien VVIP. Dengan tergesa-gesa, ia membuka pintu sebuah ruangan dan langsung masuk ke dalamnya. Senyumnya semakin lebar kala melihat adiknya tengah bersandar sambil membaca sebuah buku, meski di hidungnya masih terpasang selang alat bantu pernafasan.
"Hya! Ri Sa-ya,..! kamu benar-benar jago banget membuat jantungku berhenti detak tiba-tiba. Ckckck,.." candanya sambil berjalan ke arah Yong Ri Sa.
Yong Ri Sa justru tertawa pelan bahkan seperti ditahan karena luka di perutnya membuatnya meringis kesakitan sesekali.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Yong Ri An ketika sudah duduk di kursi samping ranjang yang ditempati oleh Yong Ri Sa.
"Aku sudah tak apa-apa. Jangan khawatir!" berusaha menyuguhkan sebuah senyuman meski masih tampak dipaksakan.
"Kapan kamu tak membuatku khawatir? Bahkan ini kali ketigamu koma. Rasanya jantungku benar-benar berhenti ketika mendengar kamu terkena luka tembak dan luka tusukan sekaligus. Ini yang terakhir. Okey?!"
"Ye,.. ye,.. (iya,.. iya,..)" jawabnya dengan setengah hati. "Emmm,.. memangnya saat dapat kabar itu, oppa ada dimana? Kata Kang Jung Tae, oppa bahkan tidak kunjung datang saat dapat kabar aku kritis. Apakah oppa tidak benar-benar khawatir padaku?"
"Bagaimana aku tidak khawatir padamu? Aku langsung kembali ke Seoul pas dapat kabar itu."
"Kembali ke Seoul? Memangnya oppa dimana saat itu?"
"Gangnam. Ada yang harus aku selesaikan disana." Jawabnya singkat.
"Tentang apa?" selidiknya.
"Sudahlah,.. kamu tak usah memikirkan banyak hal dulu. Lagipula masalah itu sudah kuselesaikan. Sekarang istirahatlah! Ini sudah lewat tengah malam. Tak baik untuk pemulihanmu, jika begadang begini." Nasihatnya dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Istirahat? Aku sudah terlalu lama istirahat. Bahkan ini adalah rekor baruku. Tidur hampir satu bulan penuh dan baru bangun hari ini. huhhhh,.. Cam,..(tunggu,..) mengenai masalah. Masalah apa yang membuat oppa harus jauh-jauh ke Gangnam? Kenapa sebelumnya tak memberiku kabar?"
Yong Ri An langsung nyengir mendengar pertanyaan adiknya, yang ternyata tak semudah itu dibelokkan olehnya. "Tak bisakah kamu tak sepenasaran itu?"
"Oppa,.. bukankah sudah janji, tidak akan ada rahasia diantara kita." Yong Ri Sa sedikit merajuk.
Menghela nafas. "Ye ye,.. aku ke Gangnam untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut kita dan Hwang Hae Ra. Kakaknya sempat mengancamku akan membuka identitas kita pada orang-orang Indonesia awalnya, makanya waktu itu ingin kuselesaikan secara langsung saja hingga aku memutuskan menemuinya di Gangnam. Kami bicara empat mata disana. Dan berakhir dengan sebuah perjanjian."
Alis Yong Ri Sa langsung terangkat. "Perjanjian apa?"
"Untuk tidak saling membuka rahasia. Yahhh,.. karena Hwang Hae Ra sudah terlanjur membuka rahasia kita sebelumnya, maka dari itu perjanjian itu hanya berlaku selama Hwang Hae Ra tidak membuat masalah lagi dengan kita."
Advertisement
"Lantas, jika Hwang Hae Ra membuat masalah pada kita, itu artinya kakaknya mempersilakan kita membuka rahasia adiknya? Perjanjian macam apa itu? apa kakaknya sebenarnya tidak memihak Hwang Hae Ra?" seringainya.
"Yang kulihat saat bertemu dengannya,.. sepertinya dia menyimpan kemarahan pada Hwang Hae Ra. Bukankah dia akhirnya harus melepas gelar jaksanya di Malaysia gara-gara menutupi kasus Hwang Hae Ra itu? Dan mungkin karena Hwang Hae Ra adalah adiknya, dia masih memberikan kesempatan padanya, sebelum benar-benar akan mengacuhkannya."
"Jika oppa punya adik seperti itu, apakah oppa akan melakukan hal seperti yang dilakukan kakaknya Hwang Hae Ra? Mampu mengacuhkan adiknya." Selidiknya lagi.
"Entahlah. Tergantung seberapa parah kesalahan yang diperbuatnya. Bisa saja, aku akan langsung mengacuhkannya." Ucapnya dengan nada yang tak begitu serius.
"Tapi kenapa oppa tidak mengacuhkanku? Bukankah gara-gara aku, oppa terdampar disini. Hingga harus kehilangan identitas, kehilangan semuanya, merintis dari awal dan bahkan begitu sering hampir kehilangan nyawa. Orang-orang berusaha bermain-main dengan nyawa oppa gara-gara aku. Bukankah itu bahkan lebih parah dari tingkat kehilangan yang dirasakan oleh kakaknya Hwang Hae Ra? Kenapa oppa masih tidak mengacuhkanku?"
Lagi-lagi Yong Ri An harus menghela nafas panjang untuk meladeni rasa penasaran adiknya itu. "Kamu tau kenapa? Karena aku akan jadi kakak terburuk di dunia, jika aku mengacuhkanmu. Dibanding diriku, kamu bahkan kehilangan jauh lebih banyak. Dan selain itu, kamu adalah satu-satunya keluargaku. Kalau terjadi sesuatu padamu, ayah dan ibu di surga sana pasti akan sangat marah padaku."
Mendengar itu, Yong Ri Sa tiba-tiba terdiam sejenak dan menghela nafas berat. "Berbicara tentang ayah dan ibu,.. sebenarnya saat aku koma, mereka masuk ke dalam mimpiku. Mereka menghampiriku. Dan bahkan tidak hanya mereka. Saat itu ada Halmeoni juga yang tiba-tiba muncul di dunia putih yang sangat aneh itu. Tapi itu tidak berlangsung lama. Mereka muncul sangat sebentar, memintaku untuk segera kembali. Dan tak lama kemudian mereka bergantian perlahan menghilang meninggalkanku di dunia putih yang aneh itu." tanpa sadar airmatanya menetes.
"Di tempat yang sama? Di waktu yang sama?" tanya Yong Ri An dengan sangat hati-hati.
Yong Ri Sa hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan kakaknya.
Sesaat suasana langsung hening, hingga suara dengkuran Kang Jung Tae yang tengah tidur di sofa ruangan itu terdengar jelas. Mendengar dengkuran itu, Yong Ri An langsung mengarahkan pandangannya ke tempat Kang Jung Tae berbaring. "Ckckckck,.. ini yang sakit siapa, yang tidur siapa." Gerutunya yang masih terdengar di telinga Yong Ri Sa.
"Sepertinya dia benar-benar kelelahan. Setelah latihan basket tadi, dia langsung mengurus kepindahanku ke ruang ini. Mungkin belum sampai 1 jam dia tidur disitu." Belanya.
"Huhhh,.. kadang aku bingung dengan sikap Kang Jung Tae. Dia itu sebenarnya sudah menerima kita sebagai sepupunya atau tidak? Kadang dia seperti membenci kita. Tapi, terkadang dia juga bisa sangat perhatian." Masih mengarahkan pandangannya ke Kang Jung Tae.
"Entahlah. Suka tidak suka,.. dia harus bisa menerima kita sebagai sepupunya. Sekarang hanya kita keluarganya yang tersisa."
Mendengar itu, Yong Ri An langsung tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke Yong Ri Sa.
Yong Ri Sa mendehem sebelum berkata lagi, "Oppa,.. selama oppa menggantikanku, tidak terjadi masalah kan? Tidak ada keributan kan disana?"
"Jangan khawatir, semua aman terkendali." Jawabnya singkat.
"Lalu,.. bagaimana dengan eonni? Apa eonni tidak mempermasalahkannya?"
Mendadak wajah Yong Ri An langsung berubah gelisah dengan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Melihat tingkah aneh kakaknya, Yong Ri Sa langsung kembali bertanya, "Oppa,.. tidak terjadi sesuatu dengan hubungan kalian kan?"
Yong Ri An memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas panjang untuk mengendalikan hatinya. Bagaimana cara menjelaskannya pada Yong Ri Sa? Yong Ri Sa masih belum mengetahui tentang Heo Yoon Woo yang telah mengetahui rahasia penyebab kematian kedua orang tua Heo Yoon Woo. Selain itu, sebelumnya dia telah mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan Heo Yoon Woo dan masih belum mengetahui rencana yang sedang dijalankan olehnya.
Advertisement
Tak lama berselang, ia kembali membuka matanya dan membasahi tenggorokannya, "Hubungan kami telah berakhir. Itulah keputusan kami. Kamu jangan khawatir, ini memang keputusan yang terbaik untuk kita semua. Dengan begini, kami tak harus merasa menyakiti dan disakiti nantinya, jika keluarga kita saling serang. Untuk mempertahankan sesuatu yang berharga, kita juga harus rela kehilangan yang berharga juga. Bukankah begitu?"
Mendengar penjelasan kakaknya, tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka karena efek dari keterkejutannya. "Tapi,.. terus bagaimana cara kita melindungi eonni jika hubungan kalian berakhir? Saat ini eonni masih membenciku, dan sekarang hubungan kalian juga berakhir?"
"Sekarang kamu jangan berfikiran berat dulu. Pulihkan dulu kesehatanmu. Baru setelah itu kita bisa menyusun rencana selanjutnya."
Yong Ri Sa diam sejenak. "Sepertinya aku memang harus segera kembali ke posisiku. Dengan begitu oppa dan eonni tidak harus merelakan hubungan kalian berakhir seperti ini. Biar aku saja yang maju ke perang melawan Heo Joon Wang dan Heo Yong Min."
"Ri Sa-ya,.. kamu jangan memaksakan diri seperti itu. Aku akan membantumu. Aku akan membantumu melawan mereka."
"Apa oppa akan tega melawan eonni? Apa oppa tega menyakitinya? Biar aku saja yang melakukannya. Dengan begitu kalian tidak perlu saling melukai. Cukup aku aja. Ye?" pintanya.
Yong Ri An langsung terdiam mendapati kekeraskepalaan adiknya yang sudah semakin sulit untuk diluluhkan itu. Sehingga suasanya di ruangan tersebut hening seketika.
Dalam keheningan itu tiba-tiba Yong Ri An teringat akan sesuatu. "Ri Sa-ya,.. apakah di ruang direktur ada alat penyadap suara?"
Yong Ri Sa mengernyit, "Kenapa oppa tanya seperti itu? Apa oppa merasa ada keanehan di ruangan itu?"
Yong Ri An terdiam sejenak. Dalam fikirannya, mungkinkah Yong Ri Sa tidak menyadari di ruangan itu ada alat penyadap suara?
"Oppa,.." lirihnya yang langsung membuyarkan lamunan Yong Ri An.
"Kurasa di ruangan itu ada penyadap suara. Apa sebelumnya kamu tak menyadarinya?" tanyanya.
"Di ruangan itu memang ada penyadap suara yang dipasang oleh Heo Yong Min. Aku sudah tau sejak lama. Sepertinya alat itu dipasang sejak 2 bulan aku menggantikan Direktur Han."
"Sudah selama itu? kenapa nggak kamu lepas penyadapnya? Bukankah itu sangat berbahaya jika mereka selalu tau apapun pembicaraan di ruang direktur?"
"Selama ini aku pura-pura tidak tau. Terserah mereka ingin memata-mataiku seperti apa, yang jelas mereka tak akan mudah tau apa rencana yang tengah kususun selama ini. Mereka mungkin bisa menyadap suaraku, tapi tidak akan bisa menyadap otakku." "Emmm,.. oppa tidak mengatakan hal-hal aneh kan selama di ruangan itu?"
"Ya. Tak perlu ada yang harus kamu khawatirkan. Sekarang, kamu istirahat aja. Kamu bisa kembali mengisi posisimu setelah kesehatanmu benar-benar pulih. Okey?"
Mulut Yong Ri Sa hanya diam. Tapi tidak untuk otaknya. Didalam otak jeniusnya itu beradu begitu banyak hal. Mulai dari pertanyaan, analisa keadaan dan juga susunan rencana yang akan ia lakukan selanjutnya.
###
Heo Yoon Woo berjalan keluar lingkungan SMA Dongjo bersamaan dengan teman-temannya yang lain, karena memang jam sekolah dan jam latihan telah usai. Seperti biasa, ia mengenakan tas ransel cokelat yang selalu menemaninya dan masih lengkap dengan seragam SMA Dongjo. Saat baru keluar dari gerbang SMA Dongjo, ia mendengar lengkingan sahabatnya yang juga masih mengenakan seragam SMA Meongsonya.
"Eonni,..!!" suara lantang penuh keceriaan itu muncul dari mulut Yoon Yeom Mi sambil berlari menuju Heo Yoon Woo.
Mendengar suara lengkingan khas sahabatnya itu, ia langsung membalikkan badannya sehingga saat ini ia sudah berhadapan dengan Yoon Yeom Mi dengan senyum tipisnya. "Ada apa? Kenapa kamu lari-larian gitu?" tanyanya.
Yoon Yeom Mi masih berusaha mengatur nafasnya yang masih bertempo sangat cepat itu. "Eonni Eonni,.. Eonni sudah tau belum?" ucapan masih menggantung karena memang nafasnya belum bisa lebih tenang.
Heo Yoon Woo hanya mengernyitkan dahinya karena masih tidak mengerti kenapa sahabatnya bertingkah seperti itu.
"Eonni,.. Yong Ri Sa sudah bangun dari komanya. Kemarin sore dia bangun dan sudah dipindahkan dari ICU. Kita jenguk dia yuk,.." ajaknya.
Mendengar itu, Heo Yoon Woo hanya diam dengan ekspresi yang campur aduk. Sebenarnya sebelumnya dia sudah diberi kabar oleh Yong Ri An bahwa Yong Ri Sa sudah bangun dari masa kritisnya. Dalam hatinya ia ingin sekali mengunjungi sahabat yang telah rela mengorbankan nyawa untuk dirinya. Namun, otaknya terus memohon untuk menahannya, demi kelancaran rencana yang telah mulai ia laksanakan.
Melihat ekspresi dari Heo Yoon Woo, Yoon Yeom Mi merasa cukup kecewa. Apakah Heo Yoon Woo masih membenci Yong Ri Sa? Apakah pengorbanan Yong Ri Sa tak ada artinya bagi Heo Yoon Woo? Dan apakah memang sudah tak ada harapan persahabatan mereka bertiga menjadi satu lagi? Itulah fikiran-fikiran yang bersarang di otak Yoon Yeom Mi saat itu. Ia hanya bisa menghela nafas berat melihat ekspresi Heo Yoon Woo yang tak sedikitpun berubah sumringah kala mendengar ajakannya untuk menjenguk Yong Ri Sa. "Apa eonni masih marah padanya?" tanyanya lemas.
Setelah cukup lama mengunci mulutnya untuk bicara, akhirnya Heo Yoon Woo menghela nafas panjang sebelum mengiyakan ajakan sahabatnya, "Baiklah. Kita kesana." Itulah jawaban singkatnya.
Yoon Yeom Mi langsung melebarkan senyum manisnya dan menggandeng tangan Heo Yoon Woo, kemudian melangkahkan kakinya beranjak dari tempat mereka berdiri sebelumnya.
###
Selama berjalan menuju ruang perawatan Yong Ri Sa, Yoon Yeom Mi terus saja menggandeng tangan Heo Yoon Woo. Seakan ia tak ingin Heo Yoon Woo tiba-tiba mengurungkan niat dan kabur. Dalam hatinya sangat senang, karena masih ada kemungkinan persahabatan mereka bisa kembali seperti dulu. Saat sebelum marga yang melekat pada nama Ri Sa masih 'Lee' dan belum berubah menjadi 'Yong'. Ia sangat berharap bisa berkumpul dan bercanda tawa seperti saat itu.
Ketika mereka berdua sampai di ruang perawatan Yong Ri Sa, mereka berdua melihat Yong Ri Sa sedang tertidur seorang diri di ruangan itu. Senyum tipis sempat tampak dari wajah Heo Yoon Woo ketika mendapati Yong Ri Sa sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Meski saat ini selang oksigen masih menancap di hidungnya, ia sudah nampak jauh lebih baik dari sebelumnya.
Sayangnya, senyum Heo Yoon Woo tidak bertahan lama. Senyum itu tiba-tiba pudar ketika ia merasa ada yang mengikuti dan mengawasinya. Matanya sedikit melirik ke belakang dan melihat ada bayangan dari pintu ruangan tersebut. Sontak itu membuat dirinya langsung meningkatkan kewaspadaan.
"Sudah lihat keadaannya sekarang kan? Sekarang kita pergi aja dari sini. Lagipula dia masih tidur. Nggak bagus juga jika dia dibangunkan." Ajak Heo Yoon Woo pelan pada Yoon Yeom Mi.
"Tunggu sebentar lagi ya,.. kasian dia. Nanti dia sendirian lagi. Tunggu sampai ada orang yang datang menemaninya."
Heo Yoon Woo menghela nafas berat. "Ya sudah kalau begitu. Kamu disini aja. Temani dia. Aku pergi duluan."
Yoon Yeom Mi kembali merasa kecewa atas sikap Heo Yoon Woo yang terlihat masih acuh pada Yong Ri Sa. Mereka belum sampai 10 menit berdiri di ruangan itu. Tapi Heo Yoon Woo sudah berencana untuk pergi.
"Eonni,.. tak bisakah tunggu sebentar saja? Sudah lama kita tidak berkumpul bertiga seperti ini. Apa eonnie tidak merindukan masa-masa kebersamaan kita?"
Meski volume suara Yoon Yeom Mi sangat kecil, tapi itu mampu membuat Yong Ri Sa terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Setelah cukup tersadar, ia mengarahkan pandangannya ke Yoon Yeom Mi dan Heo Yoon Woo yang masih berdiri tak jauh dari tempat ia berbaring.
"Eonni,.. Yeom Mi-ya,.. apa kalian sudah lama disini?" tanya Yong Ri Sa dengan sangat lemah.
Yoon Yeom Mi menyuguhkan sebuah senyuman, tapi Heo Yoon Woo tidak. Ekspresinya cukup dingin seakan acuh pada Yong Ri Sa.
"Belum terlalu lama. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu masih lama harus berbaring disini?" tanya Yoon Yeom Mi dengan berjalan mendekat ke Yong Ri Sa.
"Aku sudah tak apa-apa. Beberapa hari lagi mungkin aku sudah boleh pulang." tersenyum.
Sejenak suasana hening. Mendapati keheningan itu, akhirnya Yoon Yeom Mi mengalihkan perhatiannya ke Heo Yoon Woo yang berdiri disampingnya. "Eonni,.. apa eonni akan diam saja? Apa tak ada hal yang ingin eonni katakan padanya?"
Mendengar itu, Heo Yoon Woo menarik nafas panjang dan menghela pelan. Dalam benaknya terus beradu. Apa yang harus ia katakan pada Yong Ri Sa. Dia tak boleh gegabah. Apalagi saat ini ada orang yang tengah mengawasinya. Dan dia masih belum tau siapa yang memata-matainya saat itu. "Apakah kamu memang harus sejauh ini, Yong Ri Sa?" akhirnya pertanyaan itulah yang keluar dari mulut dinginnya.
Perhatian Yong Ri Sa dan Yoon Yeom Mi langsung mengarah pada Heo Yoon Woo. Mereka berdua langsung mengernyit heran.
"Apa maksud eonni?" tanya Yong Ri Sa pelan.
Heo Yoon Woo tertawa dingin. "Kamu fikir aku nggak tau rencanamu, Yong Ri Sa. Kamu dan Direktur Han yang merencanakan penyerangan itu kan? Dan kamu datang seolah-olah jadi pahlawanku, sehingga kemungkinan yang akan tertuduh adalah kakek atau sepupuku. Karena rencana itu sedikit meleset, akhirnya membuat Direktur Han terkena serangan jantung setelah mengetahui cucu kesayangannya kritis dan hampir kehilangan nyawanya."
Deg,... Yong Ri Sa terdiam mendengarnya. Dadanya serasa ada yang menekan, matanya pun juga sudah sangat mendung.
"Eonni,.. bagaimana bisa eonni mengatakan itu? kenapa eonni berfikiran seperti itu? eonni tau jelas seperti apa Yong Ri Sa kan? Dia tak mungkin punya fikiran untuk melakukan hal sekeji itu." Yoon Yeom Mi langsung emosi mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Heo Yoon Woo.
"Apakah kamu yakin, Yoon Yeom Mi? Banyak orang yang telah menganggap dia tak ada bedanya dengan rubah. Penuh dengan tipuan." Sorot matanya sangat tajam yang ia arahkan pada Yoon Yeom Mi dan Yong Ri Sa secara bergantian.
Advertisement
- In Serial94 Chapters
No Absolution, An Antagonist LitRPG
Colin is bored out of his skull and has been getting more and more restless of late, and his wife, McKenna, has noticed. To help, she decided to get him one of the most sought after devices on the planet, A headset for the Ineffable Gaming System and its revolutionary game Rosengard Worldwide. The most advanced virtual reality video game and the only one with a near-perfect total immersion system, McKenna hoped that the activity in the game could help him overcome his boredom for the foreseeable future. On his first day in the game, he's betrayed for loot, killed, and even made to suffer. Unknown to these players, Colin (DevilWalker in-game) was an Assassin for hire that takes loyalty and betrayal seriously. It was never just about business, and this was not just another aspect of the game for him. This game was a gift from his wife, and he wasn't just going to stop. Now these players and anyone who harbors them are on his list. There will be no compromise, no remorse, and No Absolution to any who betrays Colin Drummond, The DevilWalker. * * * * * * * * * * This story is a LitRPG Action/Adventure story that will feature levels, skills, abilities, monsters, douchebag players, exciting and cool equipment with so much more. I have so much planned for this that it should be fun and entertaining for readers who enjoy the LitRPG genre as much as I do. Please join me as I recount the tale of a man who becomes a legend — both in-game and out of it. I plan to attempt a weekly update schedule. Upload Sunday evening(for me). Warning! This story will involve some amount of cussing to help add some realism and some insinuated sex that will fade to black the moment the fun begins. I am hoping to mostly keep this Rated PG-13 with maybe a few Chapters going rated-R due to language.
8 506 - In Serial48 Chapters
Path of Boundless Adventure
When Mana flooded back to Earth after billions of years, most felt lost in the new world. Some managed to adapt. For Michael, he felt like he'd finally found his path. Follow him as he fights monsters, explores new lands and most of all, seeks adventure. This is my first novel, never written anything before, so please be kind and patient with me, I'm doing my best. A more light-hearted post-apocalyptic novel with large amounts of game elements. MC has a unique advantage but is not massively overpowered and there's more of a focus on exploring and discovering new things rather than defeating a series of arch-nemesis' or building an empire. Winner of the Royal Road Writathon April 2022
8 98 - In Serial8 Chapters
The Knight's New Day
Succumbing to his final battle, a knight thinks that his death is the end of his story.... until he is given a chance to live again, to earn a place in paradise.
8 199 - In Serial8 Chapters
Born an Iron
His origin unkown and his talent, one of a prodegy, Julius is brought up by his master, one of the seven great Overlord sages, the sage of the glaive. Since his memory began all he knew were two words 'Pain' and 'Training', and only to make it harder, the expectation of taking his masters place as one of the Sages, he, Julius the one person in the world who was born as an Iron, his body type unkown but special. As Julius searches for his origin will he find it? And if so what Path will he take, the one of pure vengence, or will he continue his masters path and wander for justice? And when his Master mysteriusly disapears, what will he choose to do? (Takes place in The Cradle World from the Cradle series by will wight, I may have buchered some of the places and made up a new setting, however, it still incudes remnants, dreadgods, and the cultivation/cycling ways.) (The cover is an online picture of a glaive)
8 296 - In Serial23 Chapters
M I S D E E D
Symone and Symere's parents ran a drug business. They were well respected and feared. One night someone looking to take that title takes their life. What will happen to Symone and Symere? Read and find out.
8 88 - In Serial25 Chapters
Her Wolf Heart
Book Three in Her Destiny Series ||| ❝And she thought they were heartless monsters.❞ ▫▫▫▫ ▫▫▫▫ ▫▫▫She had nightmares about the creatures that lurked in the night and howled to the moon. One of them nearly killed her once and since the accident, she has never been the same. She tried to avoid the wolves at all costs but it was one snowstorm that intertwined her destiny with them. She found them by accident and despite all odds, she welcomed six orphaned wolf pups into her life and promised to raise them. Little did she know that they would change her life forever and for the better. ▫▫▫▫ ▫▫▫▫ ▫▫▫▫This book CAN be read as a stand alone.This is NOT in Reeve's point of view.⌦ WARNING! This book contains dark emotions and themes, disturbing and graphic content, language, emotional triggers, spelling mistakes, and possible plot holes. Read at your own risk! ⌫ ▫▫▫▫ ▫▫▫▫ ▫▫▫▫ Cover is made by me. Copyright © 2018-2021 Josie Marie Any relation to other stories or characters is entirely coincidental and not intentional.
8 168

