《Soul In Seoul》#Part 27 (Kabar Duka)
Advertisement
Lampu tanda operasi sedang berjalan sudah menyala di atas pintu ruang operasi rumah sakit swasta terbaik tak jauh dari restaurant Hong Diamond. Di depan ruangan itu sudah duduk seorang Heo Yoon Woo yang masih gemetar ketakutan dan rasa bersalah pada orang yang saat ini berjuang untuk bertahan hidup di meja operasi. "Eonni,.. uljima,.. na,.. gwaenchan-ayo. Ul-ji-ma,.."" Ul-ji-ma,.. na,.. gwaenchan-a." Ya, itu adalah kata-kata terakhir Yong Ri Sa sebelum tak sadarkan diri yang terus terngiang di telinganya. Dan kata-kata itulah yang menambah intensitas gemetar tubuh Heo Yoon Woo saat itu.
Di depannya juga tengah berdiri sekertaris Park yang baru saja menghubungi seseorang melalui ponselnya. Wajahnya juga cukup kacau saat itu. Kepanikan masih tampak pada raut wajah rupawan penuh memar dan luka itu, setelah ia gagal melindungi atasannya hingga atasannya itu berada di ujung kematian. Sejenak ia menyadari kondisi Heo Yoon Woo yang tak kalah kacau darinya. "Agasshi,.. (nona). Sebaiknya anda istirahat saja. Biar saya yang menunggu disini. Mungkin sebentar lagi keluarganya akan datang." Ucap sekertaris Park pada Heo Yoon Woo yang sedari tadi menunduk sambil menggigiti kuku ibu jarinya dan terus menitikan air mata.
Mendengar itu, Heo Yoon Woo perlahan mengangkat wajahnya. "Gwaenchan-ayo. Geogjeonghajima." Jawabnya lemah dan suaranya terdengar sangat serak.
Saat melihat wajah sekertaris Park yang penuh memar dan ada beberapa luka menghiasinya serta ekspresi pria itu sesekali meringis menahan sakit entah bagian tubuh mana yang membuat pria itu berekspresi seperti itu, Heo Yoon Woo cukup terhenyak karena baru menyadari ada orang lain yang juga terluka saat itu. "Luka anda,.. sebaiknya itu diobati dulu. Anda bisa meminta perawat mengobatinya."
Diam dan berfikir sejenak. "Ne,.. tapi, apakah anda juga terluka?" tanyanya kala melihat baju Heo Yoon Woo yang penuh darah.
Menyadari pandangan pria itu mengarah ke baju penuh darah yang ia kenakan, ia berkata, "Geogjeonghajima,.. saya tidak terluka. Ini bukan darah saya." Diikuti menghela nafas panjang untuk mengendalikan emosinya.
Mendengar itu, sekertaris Park tersenyum lega dan kemudian pergi ke ruang UGD untuk mengobati lukanya.
Kurang lebih 3 jam kemudian, sekertaris Park kembali ke depan ruang operasi dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Saat itu ia sudah memakai pakaian pasien rumah sakit. Dahinya sudah dibalut perban, pipinya pun juga sudah diplester. Tanpa diduga sebelumnya, ternyata bahunya juga mengalami cidera akibat pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh pria-pria kekar itu, sehingga saat itu untuk sementara ia juga harus menjadi salah satu pasien di rumah sakit itu untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.
"Sekertaris Park, jadi anda juga terluka?" tanya Kang Jung Tae yang sudah berdiri di depan ruang operasi, kala melihat keadaan berbeda dari diri sekertaris setia neneknya itu.
"Gwaenchan-ayo,.. saya hanya mengalami cidera ringan. Satu atau dua hari lagi mungkin saya sudah tak perlu memakai pakaian ini." jawabnya. "Emmm,.. Bagaimana dengan keadaan Direktur Yong? Apakah sudah ada penjelasan dari dokter?" tanyanya pada Heo Yoon Woo dan Kang Jung Tae yang berada di tempat itu.
Heo Yoon Woo hanya menggelengkan kepalanya tanda memang belum ada dokter yang keluar dari ruang operasi, sehingga belum ada orang yang bisa dimintai keterangan mengenai keadaan Yong Ri Sa.
"Hya! Heo Yoon Woo! apa kamu belum memberitahu kekasihmu, kalau adiknya sedang kritis saat ini?" tanya Kang Jung Tae cukup kasar pada Heo Yoon Woo, yang memang saat itu Yong Ri An belum muncul untuk memastikan keadaan adiknya.
Heo Yoon Woo diam sejenak membasahi tenggokannya yang tiba-tiba terasa kering, "Mungkin dia sudah perjalanan kesini. Tadi saat kuhubungi, dia bilang sedang diluar kota untuk mengurus masalah mereka. Jadi kamu jangan emosi seperti itu." jelasnya.
"Luar kota? Masalah mereka? Apa sebegitu pentingnya? Dasar pengecut yang selalu sembunyi di balik ketiak adiknya." Umpatnya.
Advertisement
"Jika kamu disini hanya untuk marah-marah dan menjelekkan Yong Ri An, lebih baik kamu pergi dari sini. Yong Ri Sa didalam sana sedang berjuang untuk bertahan. Dan Yong Ri Sa pasti akan sangat marah jika dia tau kakaknya kamu jelek-jelekkan seperti itu." tegur Heo Yoon Woo yang ikut tersulut emosi.
Tiba-tiba ponsel Kang Jung Tae berdering tanda ada panggilan masuk. Tanpa ragu ia pun mengangkat panggilan itu dan mendengar kata demi kata yang diucapkan orang yang di seberang sana. Tak lama mendengar kata-kata dari orang itu, Kang Jung Tae terlihat sangat terkejut dan panik. Setelah panggilan itu berakhir, tanpa aba-aba ia langsung pergi ke lorong lain di rumah sakit itu tanpa berkata sesuatu pada Heo Yoon Woo dan sekertaris Park yang langsung bingung dengan tingkahnya.
Kang Jung Tae terus melangkah cepat dan mencari-cari ruang ICU yang dimaksud oleh si penelpon. Tak perlu mencari lama, akhirnya Kang Jung Tae menemukan sekertaris Jung sedang mondar-mandir didepan ruang ICU bersama 2 bodyguard Han Seo Jin.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa halmeoni..." tanya Kang Jung Tae yang masih berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah, pada tiga orang yang yang ditemuinya itu.
Han Seo Jin sedang duduk di kursi yang telah ia serahkan pada cucu angkatnya. Salah satu tangannya mengetuk-etuk meja, sedangkan tangan satunya memijat pelan keningnya yang terasa berat. Matanya memejam, badannya ia sandarkan dan nafasnya sesekali terhela berat. Hal itu berlangsung selama hampir 1 jam dan ia masih betah di posisi tersebut. Hingga ia mendengar suara pintu ruangan itu diketuk seseorang dan muncul suara sekertaris Jung yang nafasnya terdengar seperti orang itu sedang dilanda kepanikan, "Sajang-nim,.. kabar buruk." Berhenti sejenak berusaha mengatur nafasnya.
Perlahan Han Seo Jin membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke sekertaris Jung. "Ada apa?" tanyanya lemah dan tidak seperti Han Seo Jin biasanya.
"Cucu anda,.. Direktur Yong,.. sedang kritis di rumah sakit."
"Mwora??! (apa?)" kini kepanikan dan kekalutan langsung terpancar di wajah Han Seo Jin.
Han Seo Jin langsung bergegas keluar dari ruang Direktur. Dan ketika baru beberapa langkah di luar ruang Direktur, ia berpapasan dengan Heo Joon Wang dan Heo Yong Min. Wajah kedua orang bermarga 'Heo' itu terpancar sebuah senyum kemenangan.
"Melihat kamu sepanik ini, sepertinya kamu sudah mendengar cucu kesayangan yang kamu banggakan itu tengah terbaring kritis di rumah sakit. Aku turut berduka, Han Seo Jin." Ucap Heo Joon Wang.
Han Seo Jin langsung menggeretakkan giginya, "Apa yang telah kalian lakukan pada cucuku?" masih berusaha untuk mengendalikan emosinya di depan musuh bebuyutannya itu.
"Kami tidak melakukan apapun. Cucu anda saja yang bertindak sok pahlawan." Kali ini Heo Yong Min yang mengeluarkan suara.
Han Seo Jin hanya diam menatap tajam pada kedua orang bermarga 'Heo' itu.
"Mungkin anda harus tau, kemungkinan cucu kebanggaan anda itu akan mengkhianati anda. Karena buktinya, dia masih berpihak pada sahabatnya yang tak lain ada di pihak kami. Dia kritis seperti saat ini, karena berusaha menjadi pahlawan sahabatnya itu. Apakah anda tidak takut dia akan benar-benar berkhianat?"
Han Seo Jin kembali diam tanpa kata dengan wajah datar. Namun, tiba-tiba seringaian justru tampak pada dirinya. "Tidakkah kalian fikir, yang akan jadi pengkhianat adalah anggota keluarga yang kalian sembunyikan itu? Bagaimana bisa ada seseorang yang tidak punya rasa terima kasih setelah diselamatkan? Terlebih lagi dia adalah sahabatnya. Setelah kufikir-fikir, kemungkinan yang akan menyeberang ke pihak lawan adalah dari pihak kalian dan bukan dari pihakku." Ucapnya dalam penuh ketenangan yang susah payah ia munculkan di situasi itu.
"Kamu jangan seyakin itu. Sampai kapanpun, darah lebih kental daripada air. Dan bukankah itu artinya cucu kandung akan lebih setia dibanding cucu angkat? Terlebih lagi, dia lebih dulu mengenal sahabatnya itu dibanding orang yang mengangkatnya. Jadi, lebih baik kamu yang lebih hati-hati dengan cucu yang kamu banggakan itu sebelum dia benar-benar akan mengkhianatimu. Itu pun bukan hal yang tidak mungkin, melihat sifat dan kemampuan yang dia miliki. Kemampuan layaknya rubah. Si rubah yang sangat licik."
Advertisement
Itulah kalimat panjang lebar yang diutarakan oleh Heo Joon Wang sebelum pergi bersama Heo Yong Min meninggalkan Han Seo Jin yang masih diam membeku di tempat itu.
Mendengar kata-kata yang meluncur bebas dari Heo Joon Wang, tangan kanan Han Seo Jin tanpa sadar sudah mengepal, giginya pun sudah menggeretak, kepalanya serasa mau pecah dan jantungnya seperti akan meledak. Ingin rasanya ia meluapkan emosinya pada 2 orang yang berdiri didepannya itu, karena telah membuat cucu kebanggaannya kritis di rumah sakit. Ketika Heo Joon Wang sudah tidak terlihat lagi, nafas Han Seo Jin memburu sesaat sebelum berubah tersengal-sengal. Tiba-tiba Ia kesulitan bernafas dan merasa ada yang menekan dadanya. Kedua tangannya merenggut dada yang terasa sesak dan wajahnya pun meringis kesakitan.
Melihat keadaan atasannya kesulitan bernafas dan bahkan jatuh tak sadarkan diri, sekertaris Jung langsung semakin dilanda kepanikan.
Sekertaris Jung telah menjelaskan kronologis sebelum Han Seo Jin jatuh pingsan sesuai dengan yang ia ketahui pada Kang Jung Tae yang langsung mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi. Kedua anggota keluarganya masuk ke rumah sakit di hari yang sama dan dalam keadaan sama-sama kritis. Meskipun kronologis penyebabnya berbeda, namun orang yang di balik semua itu adalah orang yang sama. Yaitu orang yang dulunya merupakan sahabat yang bahkan sudah dianggap saudara oleh kakeknya, justru berkhianat dan berubah jadi musuh bebuyutan anggota keluarga orang yang dahulu sebagai sahabatnya itu. Siapa lagi kalau dia bukan Heo Joon Wang? Si pria ambisius dan serakah.
###
Lampu tanda operasi sedang berjalan telah dimatikan, dan tak lama kemudian muncul para dokter yang menangani operasi tersebut. Heo Yoon Woo bergegas berdiri ketika menyadarinya bersama sekertaris Park dan Yong Ri An.
"Bagaimana dengan Yong Ri Sa, dok? dia masih bisa bertahan kan?" tanya Heo Yoon Woo yang masih panik.
"Secara keseluruhan, operasi berjalan lancar. Pendarahan di dua lukanya sudah kami atasi. Hanya saja yang perlu diberikan perhatian khusus adalah luka tusukan di perut yang sudah merobek organ hatinya. Lukanya cukup dalam dan lebar. Untung saja pasien cepat mendapatkan penanganan. Jika tidak, kemungkinan besar pasien tak dapat tertolong." Jelas dokter itu.
"Jadi, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Yong Ri An dengan wajah cemasnya.
"Saat ini pasien masih kritis. Dan melihat kondisi pasien saat ini, kira-kira harapan hidupnya kurang dari 20%. Kami masih akan terus berusaha sebaik mungkin. Permisi." Jelas dokter itu lagi, dan setelah itu langsung beranjak dari hadapan mereka bertiga.
Setelah mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut dokter yang menangani adiknya, Yong Ri An langsung terduduk lagi di kursi yang sebelumnya ia duduki. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Namun di saat matanya masih terpejam itu, air matanya sempat jatuh tanpa disadari. Hatinya serasa hancur ketika mengetahui keadaan kritis yang dialami adiknya itu. Saking hancurnya dan sudah tak sanggup menangani kecemasan dan kesedihannya itu, iapun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Inilah yang kutakutkan,.. inilah alasan kenapa aku melarangmu menggunakan kemampuan karatemu lagi. Ini sudah ketiga kalinya kamu kritis dan bahkan koma seperti ini. Maafkan aku karena tak bisa melindungimu, adikku." Jerit batinnya.
###
Heo Yoon Woo berdiri di samping pintu lorong ICU bersama sekertaris Park. Sedangkan Yong Ri An sedang mengurus segala administrasi yang harus dipenuhi dalam perawatan adiknya. Tak lama berselang, Yong Ri An pun sudah bergabung kembali dengan mereka berdua.
"Sekertaris Park,.. sebaiknya anda istirahat saja. Anda juga pasien saat ini. Tidak baik untuk pemulihan anda jika anda masih berkeliaran di luar ruang perawatan anda." Saran Yong Ri An.
"Baiklah. Tapi bolehkah saya minta diberitahu, apabila ada kabar apapun tentang direktur Yong? Saya merasa sangat bersalah karena tidak dapat melindungi atasan saya." Pintanya.
Yong Ri An mengangguk cepat tanda mengiyakan permohonan sekertaris Park. Dan setelah itu, perhatiannya beralih kepada Heo Yoon Woo yang berdiri disampingnya.
"Yoon Woo-ya,.. sebaiknya kamu juga istirahat. Aku akan minta pengawal Nam mengantarmu pulang dan memberikan penjagaan ketat disekitar rumahmu. Aku takut orang-orang itu akan kembali menyerangmu. Tak apa kan?"
"Ri An-ah,.. tapi,.. emmm,.. baiklah. Jangan lupa berikan kabar padaku juga." Jawab Heo Yoon Woo takut dan ragu untuk pergi dari tempat itu.
Yong Ri An mengangguk cepat dan memberikan sebuah senyuman meski itu terkesan dipaksakan olehnya. Kemudian ia memberikan isyarat pada pengawal Nam yang berdiri tak jauh dari mereka bertiga untuk mengikuti perintahnya, yang langsung dimengerti oleh pria itu.
Dalam sekejap, sekertaris Park telah pergi ke ruang perawatannya, Heo Yoon Woo juga telah pergi bersama pengawal Nam. Sedangkan Yong Ri An masuk ke lorong ICU seorang diri.
Tak lama ia memasuki lorong ICU, ia melihat Kang Jung Tae baru keluar dari salah satu ruang perawatan di lorong ICU. Dengan cepat ia langsung menyadari itu adalah ruang perawatan nenek angkatnya yang juga baru saja dilarikan ke rumah sakit karena mengalami serangan jantung mendadak. Cepat-cepat ia mendekat ke arah Kang Jung Tae.
"Kang Jung Tae,.. bagaimana keadaan direktur Han?" tanyanya.
"Masih kritis." Jawabnya singkat. Nadanya terdengar cukup lemas untuk ukuran seorang Kang Jung Tae. "Bagaimana dengan Yong Ri Sa? Apa operasinya sudah selesai?" tanpa memandang wajah Yong Ri An.
"Ya. Operasinya berjalan lancar. Dia baru dipindah ke ruang itu." sambil menunjuk sebuah ruang yang tepat disamping ruang perawatan nenek angkatnya.
Mengetahui itu, Kang Jung Tae langsung membalik badannya dan mengarahkan pandangannya ke ruang yang ditunjuk oleh Yong Ri An. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat Yong Ri Sa yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri dengan banyak alat medis mengelilinginya. Beberapa diantaranya juga menancap di tubuh remaja perempuan itu.
"Saat ini dia koma. Kata dokter, tingkat harapan hidupnya kurang dari 20%." Jelas Yong Ri An.
Mendengar penjelasan Yong Ri An, tangan Kang Jung Tae langsung mengepal. Karena tiba-tiba ia teringat oleh penjelasan sekertaris Jung beberapa waktu yang lalu. "Heo Joon Wang." Gumamnya dengan hati yang sangat membara.
"Heo Joon Wang? Apa maksudmu?" tanya Yong Ri An.
"Orang itulah yang mendalangi ini semua." Ungkapnya.
"Mwo? Jadi maksudmu, orang itu menempatkan cucunya dalam bahaya?" Yong Ri An serasa sulit mempercayainya. "Kalau itu adalah Heo Yong Min, mungkin aku masih bisa menduganya. Tapi ini Heo Joon Wang?"
"Entah Heo Yong Min ataupun Heo Joon Wang, bagiku itu sama saja. Mereka adalah orang yang tidak akan segan menumpahkan darah dalam persahabatan bahkan anggota keluarganya." Ucapnya sangat dingin.
Mendengar itu, sontak nafas Yong Ri An tertahan sejenak. Ia memejamkan matanya untuk kembali menenangkan hati dan fikirannya. Perkiraan dan ketakutannya benar-benar terjadi. Orang-orang yang dicintai dan dikasihinya berada dalam bahaya saat ini.
###
Berada di dunia kosong serba putih, Yong Ri Sa berdiri seorang diri. Ia menyebarkan pandangannya ke segala arah penuh kebingungan. Tempat apakah ini? kenapa aku hanya sendiri disini? Itulah yang di fikirannya saat itu. Matanya perlahan berkaca-kaca dan seperti ingin segera menjatuhkan airmatanya. Hatinya diliputi rasa takut dan gelisah. "Tempat apa ini? apakah aku benar-benar sudah mati?" gumamnya.
Perlahan ia melangkahkan kakinya tak tentu arah. Matanya tak henti-henti mengarah ke segala penjuru. Hatinya semakin gelisah dan takut saat menyadari tak seorang pun ada di tempat itu. Tempat itu seperti tak berujung. Sebuah tempat yang tak ada pembatas satupun dan tak ada warna lain selain putih. Bahkan baju yang melekat pada tubuhnya pun berwarna serba putih.
Saat ia merasa sudah lelah, iapun memutuskan untuk berdiri mematung dan menutup matanya. "Dimana aku sebenarnya? Apakah ini yang namanya kehidupan setelah kematian? Saat aku koma dulu, suasananya tak sesunyi ini. Ini benar-benar beda. Benar-benar tak ada batas dan tak ada ujungnya. Apakah ini sudah bukan dunia manusia?" batinnya.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil nama lamanya, "Reyka,.."
Suara lembut itu sontak membuat Yong Ri Sa cepat-cepat membuka matanya dan mencari sumber suara. Ia mengarahkan pandangannya ke segala arah lagi, tapi tak ada siapapun di tempat itu.
"Reyka,.. kenapa kamu ada disini?" suara itu adalah suara wanita yang sangat dikenalnya dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang langsung membuatnya tersentak.
Mendengar suara yang kedua itu, ia langsung membalikkan badannya karena memang sumber suara berasal dari belakangnya.
Airmatanya langsung menetes tanpa aba-aba saat melihat sosok yang sangat ia rindukan. "I-ibu,.." lirihnya. Airmatanya tak ada tanda-tanda akan berhenti kala melihat dua sosok pria dan wanita yang belum sempat ia berikan baktinya sebagai seorang anak, berdiri di hadapannya.
"Kenapa kamu berada disini? Kenapa kamu tidak bersama kakakmu?" ucap pria yang berdiri disamping wanita itu yang juga menggunakan bahasa Indonesia.
"A-ayah? Apa anda ayah kandung saya?" tanyanya yang masih belum bisa mempercayai siapakah sosok pria yang berdiri di samping ibunya itu? Pertanyaan itu memang sangat berdasar. Ia memang belum pernah sekalipun melihat ayahnya sejak kecil. Bahkan sejak bayi ia tidak pernah bertemu dengan sosoknya. Ayah kandungnya meninggal jauh sebelum ia mengetahui tentang keluarga kandungnya. Sedangkan ibunya meninggal beberapa waktu setelah mengetahui ia adalah anak kandungnya.
Tak ada kata yang keluar dari mulut pria dan wanita itu. Yang ada hanyalah senyuman dari sang wanita sebagai tanda jawaban 'iya' untuk pertanyaan yang diajukannya.
Mendapat jawaban itu, Airmata Yong Ri Sa semakin deras. Ia merasa sudah benar-benar mati dan meninggalkan kakaknya sendirian. Tapi airmata itu juga mengandung arti betapa bahagianya ia ketika bisa bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Ayah,.. Ibu,.. saya tak tau harus bahagia atau sedih disini. Akhirnya saya bisa berkumpul dengan kalian. Sebelumnya saya tidak sempat memberikan bakti saya pada anda berdua. Maafkan saya! Maaf!" ucapnya penuh penyesalan.
"Kembalilah! Masih belum waktunya kamu disini. Tempatmu bersama Romi disana. Bukan disini." Tegas ayahnya.
"A-ayah,.." lirihnya.
Tiba-tiba terdengar suara wanita dengan bahasa korea, "YONG RI SA! Kenapa kamu masih disini?"
Mendengar suara itu, Yong Ri Sa langsung mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Dan ternyata sumber suara berasal dari arah kirinya. Suara itu adalah milik orang yang juga sangat ia kenal. "Hal--Halmeoni?! Apa yang anda lakukan disini? Kenapa anda ada disini?" ucapnya sangat terkejut dengan kehadiran sosok nenek angkatnya yang berada di dunia aneh itu.
Advertisement
- In Serial59 Chapters
Beyond The Worlds[BTW]
Would you like to travel to another world? Crossing different dimensions and realities? reach a power that no one has ever reached? Shin Akash did not know that he had started his journey to reach the ABSOLUTE. Finding companions along his journey and forming an invincible team, he climbed step by step. From student to team leader. from an ordinary human being to the Absolute. ------------------------------------------------ - ----- Warning! The characters in this novel will have an extremely high power level, so the protagonists will have some big power boosts throughout the series; however, this will not be frequent and they will grow up "healthy". I guarantee you will understand why in the end. This story will not be focused on the Harem. The protagonist will not be the full focus of the story. All the main characters in the story will have their highlights 1- English is not my native language, so I apologize for the spelling mistakes; 2-the whole story is original; however, there are some minor references to other works. 3-All worlds are fictional (including our protagonist's world), so don't use the "common sense" of our world in this novel Chapter words: 800-1500 ATTENTION THE COVER ART IS NOT MINE; HOWEVER, I HAVE NOT FOUND THE ARTISTS' NAME YET, IN IT I OFFER MY FULL CREDIT TO THE BEAUTIFUL ARTS. Book cover: pinterest
8 226 - In Serial41 Chapters
The Time Mage
Kason Vale has lived in Selmore village all his life. Brought up in the shadows of the Blackwood, he has never seen much magic and is woefully lacking in knowledge of life outside the village. But that all changes when he begins his journey to Constantine's 4th College for the Arcane Arts, one of the most prestigious centres for magical learning in the country, where he himself is to learn the mystic arts! What awaits Kason? He doesn't know. And as long as he gets to learn magic, he doesn't really care either.
8 179 - In Serial14 Chapters
Fortune's Fate
Amaris is a girl who just wants an interesting life. In this "cute and creepy" adventure, she's going to get exactly what she asked for. Major Editors: Shilic, Pink Mann, Guldringr, VoidTemplar2000 Complete! Published in several other locations, but the home area is my site. Which leads to everything else relevant. -GM, master of Pitch
8 98 - In Serial46 Chapters
Apartment 239
Abe Barrett is surrounded by ghosts - some of them are even his roommates! But now Abe's visions show something dark coming, and it wants Abe dead. ***** When Abe Barrett's family died, he started seeing ghosts. Soon he was living with three of them, and it turns out ghosts are just as eccentric as people. Abe is bothered by the ghosts constantly since he doesn't want to solve their murders, avenge them or do much of anything. He just wants to do his job and relax. His dreams, however, have been getting darker as people in town start to disappear. Soon Abe realizes there is something hunting him, and that same threat was involved with his family's deaths. A legacy of darkness is chasing Abe Barrett, and his supernatural roommates may not be enough to save him.[[word count: 60,000-70,000 words]]
8 103 - In Serial49 Chapters
Descendant of Dawn
Mary was born with immense magical talent, but abandoned at the door of an orphanage for reasons she can't understand. When fortune shines her way she sets out on a quest to see the world and discover her origins.
8 241 - In Serial17 Chapters
A God's Purpose
For ages, the Great Tree was content to simply bask in the sun and feed on the earth, but then one day, it saves a young child's life when she was being pursued by a bandit. Henceforth worshiped as a God by the girl’s village, the Great Tree must protect his newfound followers from a multitude of threats, and in doing so unearths not only ancient secrets about the world it calls home, but also learns more about its own true nature.
8 55

