《Soul In Seoul》#Part 21 (Jerit Hati)
Advertisement
Sekitar 30 menit kemudian listrik di aula Cessa Hotel pun nyala kembali. Banyak orang masih berada di ruangan itu dan ada juga yang menghabiskan waktunya di luar ruangan. Saat itu ternyata yang padam hanya di ruang aula, sedangkan ruangan lain tidak mengalami pemadaman.
"hya! Kang Jung Tae! Dimana Yong Ri Sa?" tanya Yong Ri An yang tidak melihat batang hidung adiknya saat listrik sudah nyala.
Dan tidak hanya Yong Ri Sa yang tak tampak saat itu. Choi Moo Gak, Yoon Yeom Mi bersama keluarga besar mereka pun tak tampak di ruangan itu sementara. Beberapa saat kemudian mereka bersama-sama pun muncul kembali dari pintu masuk kecuali Yong Ri Sa.
Kang Jung Tae langsung menghampiri Choi Moo Gak yang saat itu berada disamping Yoon Yeom Mi.
"Kalian dari mana?" tanyanya.
"Ada yang harus diurus tadi. Ada apa?" ucap Yoon Yeom Mi sedikit ketus.
"Kalian tau dimana Yong Ri Sa?" ekspresi cemas terpancar dari wajah Kang Jung Tae.
"Molla. (tak tau). Harusnya kamu jaga pasanganmu biar nggak lepas." Yoon Yeom Mi seperti sudah tak mampu menahan amarahnya dan pergi dari hadapan mereka.
Sementara itu, Yong Ri Sa ternyata berada dalam lift sendirian dan baru memencet tombol nomor 20. Ya itu adalah lantai dimana ruang kerjanya berada. Ia berusaha menahan sesuatu yang membuat dadanya sesak. Tangan kirinya mengepal sedangkan tangan kanannya merenggut dadanya. Matanya memerah menahan airmata yang ingin segera membanjirinya. Dan benar saja, tempat tujuannya memang ruang kerjanya. Langkahnya tertatih-tatih memasuki ruangan itu. Tanpa aba-aba air matanya pun jatuh dengan isakan yang memilukan. Ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang menyiksa batinnya.
"Dari awal aku punya firasat kamu akan berbuat ulah. Ternyata aku benar." Ucap kasar nyonya Choi pada Yong Ri Sa. Saat itu Yong Ri Sa berdiri di hadapan seluruh keluarga Choi dan keluarga Yoon di salah satu ruangan tak jauh dari aula tempat acara ulang tahun Choi Moo Gak. Mereka duduk berjajar seperti sedang menyidang Yong Ri Sa.
"Saya tidak melakukan apapun. Kenapa anda menyalahkan saya?" bela Yong Ri Sa.
"Aku yakin, pemadaman listrik di ruang aula itu adalah rencanamu kan? Bukan hal sulit pastinya, mengingat kamu adalah salah satu direktur di Cessa Hotel." Ujar nyonya Choi.
"Anda benar. Saya memang bisa saja melakukannya. Tapi apa gunanya merusak acara sahabat sendiri? Bahkan jika itu terjadi, pastinya kerugiannya jauh lebih besar dari keuntungannya. Menggunakan kekuasaan hanya untuk urusan pribadi? Saya bukanlah tipe orang yang sebodoh itu."
"Sahabat? Siapa sahabatmu? Sepertinya aku terlalu bodoh, jika tetap bersikap baik padamu. Sebelumnya kamu sudah mengkhianati salah satu sahabatmu, dan bukan tidak mungkin kamu akan mengkhianati sahabatmu yang lain juga. Apakah itu yang namanya sahabat?" tak disangka, kata-kata itu meluncur bebas dari mulut Yoon Yeom Mi.
"Yeom Mi-ya?!" Yong Ri Sa terkejut dengan sikap yang ditunjukkan sahabatnya. "Baiklah, bukan kamu yang bodoh. Akulah yang bisa dianggap bodoh dalam hal ini, karena selama ini berpura-pura tidak menyadari niatmu. Seolah-olah mempertahankan persahabatan kita agar aku tidak mengambil Sunbae darimu. Bukankah kamu tau persis, aku tidak akan pernah memiliki niat untuk mengkhianati sahabatku. Dan kamu telah memanfaatkan itu." Masih berusaha menahan emosinya.
"Tidak akan pernah memiliki niat untuk mengkhianati sahabat? Harusnya kamu sesuaikan kata-katamu dengan tindakanmu. Bukankah kamu telah mengkhianati Yoon Woo eonni yang jelas-jelas adalah orang yang kamu bilang sebagai sahabatmu? Dan selanjutnya kamu diam-diam mengkhianatiku. Apa aku salah?"
"Aku tidak akan bilang, kamu salah. Tapi kata-kata itu pun juga tidak 100% benar." Menurunkan tingkat emosinya.
"Sudah jelas, siapa kamu sebenarnya. Aku tidak akan membiarkan Yeom Mi bersahabat dengan rubah kecil yang sangat licik sepertimu. Bukankah itu julukanmu di dunia bisnis saat ini?" kata nyonya Yoon.
Advertisement
"Dan kamu jangan sekali-kali mengusik hubungan Choi Moo Gak dan Yoon Yeom Mi!" tambah nyonya Choi.
Sudah tak ada lagi sanggahan yang terucap dari mulut Yong Ri Sa, yang membuat mereka bergegas pergi dari ruangan itu.
Ketika hanya tersisa Yoon Yeom Mi yang belum meninggalkan ruangan itu, Yong Ri Sa menghampirinya dan berkata, "Sungguh aku tak menyangka kamu akan bersikap seperti ini. Sudah lama aku menyerah tentang Sunbae, kenapa kamu justru masih mengungkitnya? Sejak aku tau kalian telah dijodohkan, saat itulah aku menyerah dan berusaha menghindar darinya. Aku bisa saja bertahan dan mengambilnya, tapi aku sudah memutuskan untuk menyerah. Sekali aku memutuskan, aku tak akan goyah jika itu tidak menyangkut nyawa seseorang. Tak masalah buatku jika harus patah hati lagi. Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini." dengan suara sangat pelan.
"Tak usah banyak membual lagi di hadapanku! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang kalian lakukan tadi saat listrik padam. Aku sungguh sangat kecewa padamu."
"Jika kamu benar-benar mengenalku, mungkin kamu tak akan mengatakan kata-kata menyakitkan itu."
Yoon Yeom Mi menatap lekat Yong Ri Sa. "Ya, aku memang tidak benar-benar mengenalmu. Sepertinya Yoon Woo eonni benar. Kamu penuh dengan rahasia. Sekarang aku tanya, apa kamu masih menganggapku sahabat?" tanyanya.
"Tak ada gunanya meski aku menceritakannya. Karena dari dulu kamu tidak benar-benar mempercayaiku. Kamu telah dibutakan oleh cintamu pada Sunbae. Yang pasti pada intinya, ada hal yang harus dilepas dan ada hal yang harus dilindungi. Hingga aku berada di situasi ini. Situasi dimana aku dianggap sebagai pengkhianat meski aku tak melakukan pengkhianatan pada kalian."
Berulang kali isakannya terdengar. Air matanya tak henti-hentinya jatuh membasahi pipinya. Ia berdiri di depan meja kerjanya dengan tangan mengepal erat di atas meja. Sejenak ia menatap papan namanya yang ada di atas meja. "Semuanya dimulai dari ini. aku kehilangan banyak hal lagi. Seakan tak ada yang percaya lagi padaku. Sahabat-sahabat yang menemaniku sudah tidak ada lagi. Mereka sudah tak mempercayaiku. Jika aku masih Lee Ri Sa, apa mereka tidak akan seperti ini? apa hanya karena nama Yong Ri Sa, mereka menjauhiku? Terus bagaimana jika mereka tau tentang diriku sebagai Reyka? Apa mereka benar-benar tak akan kembali?" air matanya jatuh kembali. "Aku sudah sejauh ini. Aku tak bisa berhenti disini. Aku masih harus melindungi mereka. Oppa, Eonni, nae irem (namaku)." Gumamnya dengan semakin mengeratkan kepalan tangannya.
Sementara itu di tempat lain Kang Jung Tae dan Yong Ri An secara bergantian berusaha menghubungi ponsel Yong Ri Sa. Namun, tak ada satupun panggilan yang diangkatnya. Sms pun juga tak ada yang ia balas.
"Bagaimana? Apa dia masih tidak bisa dihubungi?" tanya Choi Moo Gak yang berdiri diantara Heo Yoon Woo dan Yoon Yeom Mi.
"Dia nggak mungkin seperti ini jika sebelumnya tidak terjadi sesuatu. Apa kalian tau dia kenapa?" tanya Yong Ri An pada Choi Moo Gak dan Yoon Yeom Mi.
Mereka berdua hanya diam tanpa kata.
"Ah,.. ruang direktur ada di lantai berapa? Apa mungkin dia ada disana?" tanya Choi Moo Gak.
"Apa maksudmu dia gila kerja? Malam-malam gini di ruang kerjanya?" ucap Heo Yoon Woo.
Mendengar itu, tanpa mengatakan apapun Kang Jung Tae langsung pergi sendirian ke lift dan memencet tombol angka 20 tanpa menghiraukan yang lainnya yang masih beberapa meter dari lift.
Kang Jung Tae berlari menuju ruangan yang ada di ujung koridor yang tak lain adalah bekas ruang kerja Han Seo Jin yang kini digantikan oleh Yong Ri Sa. Ia membuka pintu sangat keras dan langsung masuk ke ruangan yang ternyata tidak di kunci itu. matanya langsung berkeliling ke seluruh sudut ruangan. Namun tak ada sosok Yong Ri Sa di tempat itu. Yang ada hanyalah tas dan ponselnya di atas meja kerja.
Advertisement
"Dia tidak ada disini. Hanya ada tas dan ponselnya saja." Lapor Kang Jung Tae pada Yong Ri An melalui ponselnya.
Cepat-cepat Kang Jung Tae kembali berlari keluar dari ruang kerja Yong Ri Sa.
Dalam kesendiriannya Yong Ri Sa duduk di lantai pojokan tangga darurat dengan angka 19 di dinding bawahnya dan angka 20 di dinding atasnya. Ya, saat itu Yong Ri Sa berada di lantai darurat antara lantai 19 dan 20. Di tangannya telah menggenggam sebuah kaleng bir yang sesekali ia teguk. Tak hanya di genggamannya, di lantai terlihat juga sebuah kaleng bir yang telah kosong. Airmatanya terus menetes meski saat itu dia sudah kehilangan lebih dari setengah kesadarannya.
Tak berapa lama kemudian terlihat sosok pria berlutut didepannya dan merebut kaleng bir yang ada di genggaman Yong Ri Sa.
"Ri Sa-ya! Sadarlah!" pria itu memegang bahu kanan Yong Ri Sa.
Yong Ri Sa diam dan menatap lesu ke pria itu.
"Apa Sunbae sudah puas? Sunbae berhasil membuatku benar-benar seperti pengkhianat sahabat-sahabatku. Puas?!!" matanya benar-benar merah dan bengkak sambil memukul-mukul dada dan bahu pria itu menggunakan tangan kirinya.
Pria yang tak lain adalah Choi Moo Gak itu langsung terdiam mendengar ucapan Yong Ri Sa.
"Aku sudah berkali-kali meminta Sunbae untuk membuang perasaan itu. Tapi apa ini? ha??! Mereka menganggapku pengkhianat meski aku tak melakukan pengkhianatan. Tak bolehkah aku melindungi sesuatu yang ku punya? Apa aku harus membiarkan ada nyawa-nyawa yang hilang karena diriku? Tak bolehkah aku melindunginya? Kenapa aku justru dianggap sebagai pengkhianatnya? Siapa yang ingin berada di situasi ini? siapa? Tak ada lagi yang percaya sama aku. Sekuat tenaga aku bertahan diantara kalian. Sekuat tenaga aku menahannya. Sekarang itu semua seperti tak ada artinya. Tak ada artinya!" airmatanya semakin deras dan pukulannya pun semakin melemah.
"Mian-hae! (maafkan aku!) Aku memang salah. Aku tak bisa mengatur hatiku sesuai dengan yang kamu inginkan. Aku nggak bisa mengarahkan hatiku sesukaku. Aku tak bisa. Mian-hae!" menahan air matanya.
Yong Ri An bersama Heo Yoon Woo yang melihat dan mendengar Yong Ri Sa saat itu mampu meneteskan air matanya. Saat itu mereka berdiri di pintu darurat lantai 20. Rasa bersalah langsung kembali menggelayuti hatinya. Ia merasa dirinya telah menempatkan adiknya di situasi yang sangat sulit, hingga harus kehilangan sahabat-sahabatnya. Kang Jung Tae yang datang bersama mereka juga sempat terdiam mendengar kata-kata yang meluncur bebas dari mulut Yong Ri Sa itu, kemudian turun dan langsung menggendong Yong Ri Sa.
Di pagi harinya Yong Ri An membawakan minuman pereda mabuk untuk adiknya yang ternyata masih terbaring tak berdaya di kamarnya. Ia duduk di bibir ranjang Yong Ri Sa. Ia masih terus merasa bersalah karena tak dapat melakukan apapun untuk meringankan beban adiknya. "Aku memang bukan kakak yang baik untukmu. Maafkan aku! Tak seharusnya aku menempatkanmu di situasi ini. Saat itu aku harusnya tidak menandatangani kontrak itu. Aku harusnya lebih berani untuk menolaknya. Aku terlalu takut kehilanganmu hingga melakukan tindakan bodoh itu. Maafkan aku!" pinta batinnya menunduk lemas.
"Oppa,.. apa yang terjadi? Ah,.. kepalaku pusing banget." Yong Ri Sa berusaha duduk.
"Minum dulu ni." Menyerahkan segelas minuman yang ia bawa sebelumnya dan langsung diminum oleh Yong Ri Sa. "Sejak kapan kamu berani mabuk-mabukan seperti itu? udah tertular Kang Jung Tae kamu?"
"Mabuk?" berusaha mengingat-ingat. "Aissh,... padahal tingkat alkoholnya sangat rendah. Benar-benar peminum yang buruk." Dumelnya.
"Sekalipun rendah, tetap saja itu alkohol. Kamu belum waktunya untuk minum-minum kayak gitu. Jangan diulangi lagi! Arracci? (ngerti?)"
"Ne. Mian-hae Oppa! (Ya. Maafkan aku kak!)" tertunduk lemas.
"Harusnya aku yang minta maaf. Ini semua salahku. Ini semua berawal dari kebodohanku. Aku yang tak berdaya dan tak mampu melindungi adikku. Maafkan aku!"
"Ini bukan salah Oppa. Sudah kubilang, dari awal yang mereka incar adalah aku. Ini memang sudah tugasku. Jadi berhentilah menyalahkan diri Oppa." Tersenyum.
Yong Ri An hanya ikut tersenyum meski sedikit dipaksakan.
###
"Perhatian semuanya!" seru guru Nam pada siswa-siswi di kelas 3-1 SMA Meongso.
Suasana yang awalnya sedikit riuh, langsung sunyi seketika.
"Perayaan ulang tahun yayasan tinggal kurang dari 2 bulan lagi. Dan kelas kita dapat bagian tampil drama musikal, jadi mulai hari ini jadwal kita akan semakin padat untuk latihan. Atur waktu kalian agar waktu belajar tidak terganggu. Saya sangat berharap kalian semua bisa ikut andil dalam acara ini."
"Seonsaengnim,.. joesonghamnida. Saya tidak dapat bergabung. Tidak ada waktu latihan bagi saya. Saya tidak ingin merusak pertunjukannya." Ucap Yong Ri Sa berdiri di bangkunya.
"Aisshhhh sayang sekali. Padahal kamu sudah seperti maskot kelas ini. Jadi terasa hambar tanpa ada kamu nanti." Ucap Jo Dae Wook.
"Joesonghamnida." Yong Ri Sa hanya bisa memintamaaf kembali.
"Baiklah, saya terima keputusanmu. Persiapan drama musikal memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dan sudah tak ada sela di jadwal harianmu. Huhhh,.." desah guru Nam dalam menanggapi keputusan Yong Ri Sa. "Meskipun kamu tidak ikut tampil, berikan semangat untuk teman-temanmu. Aracci? (mengerti?)" lanjutnya.
"Ne." Yong Ri Sa duduk kembali.
"Untuk yang lain, luangkan waktu setelah jam sekolah mulai besok untuk latihan." Pinta guru Nam dan setelah itu langsung melenggang pergi dari kelas 3-1.
1 bulan kemudian,..
Han Seo Jin datang ke ruang kerja Yong Ri Sa seorang diri dengan hanya membawa tas jinjing di tangannya.
"Apa Yong Ri Sa ada jadwal rapat hari ini?" tanyanya pada sekretaris Park di depan ruangan itu.
"Ne, 1 jam lagi ada rapat bersama seluruh petinggi hotel." Jawabnya sambil berdiri di balik meja.
"Apa dia ada di dalam?"
"Ne, geundeuh joesonghamnida,.. (iya, tapi maaf). Saat ini Direktur Yong sedang ada tamu dan tak ingin diganggu."
"Nugu-ya? (Siapa tamunya)"
"Cucu anda. Yong Ri An."
Han Seo Jin mengeryitkan dahinya. "Yong Ri An? Apa yang membawanya kemari? Tak biasanya,.." gumamnya yang kemudian berjalan ke pintu ruangan dan menguping pembicaraan mereka dari sela-sela pintu yang ternyata tidak tertutup rapat.
Di dalam ruangan Yong Ri Sa, Yong Ri An menyerahkan sebundel dokumen pada adiknya.
"Igo mwo-ya? (ini apa?)" tanya Yong Ri Sa saat meraih dokumen itu.
"Kamu bisa menggunakannya untuk melawan Hwang Hae Ra jika sewaktu-waktu dia mengancammu. Perkiraanmu benar, dia terlebih dulu berusaha mengancamku daripada menemuimu lebih dulu. Dia memintaku untuk mengijinkanmu tampil sebagai lawan karatenya saat ulang tahun yayasan Jinhyang nanti. Jika aku tidak memberi izin, dia akan menyebarkan fakta tentang identitas lama kita. Sekarang, aku sudah memberi izin. Tapi keputusan tetap ada di tanganmu. Karena kamu yang akan melakukannya." Jelas Yong Ri An.
"Sejak kapan Oppa menyiapkan ini semua?" membuka setiap lembar dokumen itu.
"Sejak kamu memintaku untuk mengawasinya. Tapi aku belum menggunakan itu untuk menyerangnya. Karena kufikir, akan tidak ada artinya jika aku yang menggunakannya. Berbeda denganmu."
"Gumawo Oppa. Sepertinya suatu saat nanti ini akan berguna."
"Untuk jaga-jaga, aku akan tetap mengawasinya. Karena kita tidak tau apa yang telah direncanakan oleh Hwang Hae Ra dengan memintamu untuk kembali ke karate lagi."
"Selain Oppa,.. tidak ada yang tau tentang ini kan? Termasuk Yoon Woo eonni."
"Hanya kita berdua." Jawab Yong Ri An singkat.
>> Part 22
Advertisement
- In Serial37 Chapters
The Lady's Handbook of Intrigue and Murder (High Fantasy Politics)
Summary:The daughter of a dying house is summoned to the Imperial City to meet and perhaps marry a handsome prince. It sounds like a fairy tale. Except Mydea doesn’t have the advantage of a half-forgotten childhood encounter, supreme magic to match the highest echelons of society, or even the privilege of an ally. In order to survive and make a name for herself, she must beat the Imperial Court at its own game. At least no one's tried to kill her—yet. Notes: Basically, if you liked the magic of Harry Potter and the politics of Game of Thrones, you'll probably like this. While the first book focuses on the female lead, and the interplay of competing regional and imperial interests, subsequent books will also cover warfare and how I imagine that differs wildly from historical norms with the introductions of a magical aristocracy. Updates every Mon / Thurs / SatAdvance Chapters available on my Patreon [participant in the Royal Road Writathon challenge]
8 144 - In Serial7 Chapters
The Crippled Seed
Even a small child in Adrias knows that everyone is born with some magic. It is common knowledge that magic blooms at around the age of 13, and even though the gift of magic varies from person to person, everyone possesses it. When Nina is 14 years old, her magic tests report that she has no magic inside her. To hide that fact, she has to quit school against her wishes and live a sheltered life. That lifestyle, however, lasts for a mere two years as bandits strike her village and she has to move out, forced to survive and be something—anything—in this world full of magic...without possessing a single speck of it.
8 164 - In Serial17 Chapters
Angel and Wolf
A man given power after being zapped by a power crystal, making him an Enhanced Individual of Power. A housekeeper with a secret. A world on the brink of chaos.
8 146 - In Serial18 Chapters
This project has no purpose
Summary: This is the story about the life of a "human" amidst a world that only appears to be earth at first glance. Long ago the face of this world resembled the typical tales of yore; of knights and fairies, swords and magic, however such an era has come and gone. Even the world of fantasy has progressed steadily into the modern epoch filled with the wonders of science and technology! In the ancient times a certain crisis had occured that lead to the quick decline of various magical species. Due to their low population and general incompatibility with the other races they could not crossbreed to save their numbers. Left with no other choice the major races of the world gathered together in an attempt to change the fate of this dying world. Their only hope was a special 'world-tier' magic known as 'the dusk of harmony'. The result of this magic would dissolve every race into their purest essences known as 'aspect' and instill them within the human population. The humans were the best choice as their numbers were numerous and form was similar to most races. As such, the various races of this world managed to save themselves in essence and soul only, though perhaps there was no other choice. With the various humans now carrying the weight and aspects of those who came before, life has continued onto the modern age. Yet, even amongst these hybrids 'Pures' emerge from time to time, beings who have inherited not only aspects of the ancient races, but their forms too. These Pures are often times exceptionally talented and seen as near deities. This is the story of a perculiar boy who is born with the soul of a stranger from the world known as 'Earth'. With the memories and soul of a human, he too is a rare Pure; a pure human. --- This project literally has no purpose and is being written because I felt like it. There isn't any semblance of a solid direction nor have I thought about any characters aside from the main character and a few auxiliary cast. If you would like to contribute to building this world with me then please contact me through a DM or by leaving a comment, I will be sure to credit you.
8 118 - In Serial23 Chapters
Plaguesbane
'Daisy is our only hope!'Red Plague has broken out in the kingdom of Frailing, introduced by dark sorcerer and Wise Woman hater, Morwain. The only cure is the Plaguesbane fruit that grows in a forbidden garden in the heart of enemy territory. Trainee Wise Woman and Shape-Shifter, Daisy must undertake a perilous journey to retrieve it and save her kingdom. Before it's too late.Book Two of the Annifer Trilogy but you don't have to have read the first book to understand it#19 in Fantasy 1st March 2021#1 in Action 3rd October 2020, 1st February 2021#3 in Unicorn 3rd April 2020#10 in Mystery 4th October 2020
8 147 - In Serial42 Chapters
Solangelo
This is a cute solangelo story after what happens in blood of Olympus. Enjoy!This is completed! (And really old if u hate it I don't blame u I have recent books that are MUCH better)-this was written when I was 11-12. I am much older and have become a much more skilled writer-
8 143

