《Soul In Seoul》Soul In Seoul #Part 6
Advertisement
"Ri Sa-ya,.. tangan kamu tidak diobati dulu?" teriak Ri An.
"Nanti saja diobati. Gwaenchanh-ayo oppa,.." Ucapan Ri Sa terpotong ketika ia mendapat pemberitahuan pesan bahwa video itu terkirim ke semua penghuni yayasan Jinhyang. Ri Sa hanya senyum dingin dan berkata pelan, "Kurang dari 1 jam lagi. Apa dia yakin tidak akan memintaku menghentikan timer-nya dan membiarkan video ini disaksikan oleh seluruh penghuni Seoul? Sungguh saat yang kurang bagus untuknya."
###
Setelah dari SMA Dongjo, Ri Sa langsung menuju ke ruang kesehatan SMA Meongso untuk mengobati luka di tangannya tanpa memberitahu teman-teman sekelasnya. Di ruangan itu ia berfikir sejenak apa yang selanjutnya harus ia lakukan untuk membuat Kang Jung Tae menyerah. Ia merasa harus lebih hati-hati karena ia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Lee Ri An.
Tak berselang lama, setelah dari ruang kesehatan Lee Ri Sa menuju ke kantin untuk membeli minuman pada mesin penjualan otomatis yang tersedia di kantin tersebut. Di tempat itu ia bertemu dengan Choi Moo Gak yang juga ingin membeli minuman.
"Hai,.. Lee Ri Sa." Sapa Choi Moo Gak sambil membawa minuman yang ia beli.
"Ye,.. Sunbae." jawabnya hangat dan sedikit menoleh ke arahnya.
Saat Ri Sa ingin membuka tutup botol minumannya, Moo Gak tidak sengaja melihat telapak tangan Ri Sa yang dibalut perban. "Igo, wae-yo??" tanyanya.
"Gwaenchanh-ayo Sunbae,.." jawabnya menghindar dan berbalik arah. Namun ia menabrak seseorang yang membuatnya langsung berubah ekspresi. Dia tak lain adalah Kang Jung Tae bersama teman-temannya.
"Wae??!" ucap Ri Sa kasar pada orang yang tepat didepannya.
"Hentikan timer pengirimannya!!" dengan mengangkat kerah seragam Ri Sa dengan sangat kasar.
Menghela nafas dan memutar bola matanya sejenak sebagai tanda ia sedang muak meladeni orang yang ada didepannya itu. "Apakah seperti ini caramu meminta sesuatu pada orang? Hmm?"
"Jangan banyak bicara! Cepat hentikan timer-nya!" semakin mengangkat kerah Ri Sa.
"Aku tidak akan menghentikannya jika sikap kamu tetap seperti ini Kang Jung Tae,..!" mata Ri Sa terlihat sangat menyeramkan.
Mendengar itu, Jung Tae langsung melepasnya. "Terus? Apa kamu ingin aku sujud di kaki kamu? Jangan harap aku melakukan itu." Dengan tetap mengutamakan gengsinya.
"Lagipula bukan itu syaratnya." Ucap Ri Sa yang berhasil membuat Jung Tae terdiam.
"Syaratnya adalah,.. kamu dan siswa SMA Dongjo lainnya, harus berjanji untuk tidak mengganggu SMA Meongso dan terutama jangan mengganggu Lee Ri An. Kamu bertindak sebagai perwakilannya. Dan akan lebih baik juga jika kamu mengubah sikap kamu. Apa kamu bisa?" lanjutnya.
"Mwo?!" penuh emosi dan alisnya pun terangkat tinggi.
"Harusnya,.. kamu cepat mengambil keputusan. Waktumu tinggal tidak sampai 5 menit sebelum video itu tersebar lebih luas. Apa kamu sudah siap?" sambil sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Kang Jung Tae terdiam dengan menahan kemarahan. Ia berulang kali menghela nafas berat.
"Okey,.. aku akan menuruti kemauanmu. Jadi sekarang matikan timernya." akhirnya kata-kata itulah yang meluncur dari mulut Kang Jung Tae dengan ragu.
Mendengar itu, Ri Sa memasukkan tangannya ke kantong seragamnya sejenak dan langsung mengeluarkannya lagi.
"Kalau begitu, ucapkan janjinya!" suruh Ri Sa.
Kang Jung Tae diam sejenak dan menarik nafas agar dapat lebih tenang menghadapi Ri Sa yang sepertinya menggoyahkan kepercayaan dirinya.
"Aku Kang Jung Tae mewakili siswa SMA Dongjo, berjanji untuk tidak mengganggu SMA Meongso dan,... Lee Ri An."
"Jika kamu melanggar, hukuman apa yang kamu terima?!"
"Apapun hukumannya, akan aku terima. Puas?!"
"Bagus,.. orang-orang pasti tidak akan percaya kamu mengucapkan janji itu. So,.. aku sudah merekamnya sebagai bukti." Sambil mengeluarkan ponsel dari kantong seragamnya dan mematikan proses record-nya.
"K-Kau?! Apa yang kamu lakukan?" sambil ingin merebut ponsel yang ada di tangan Ri Sa.
Advertisement
"Hey,.. kamu sudah lupa dengan janji yang baru kau ucapkan?" yang terus menghindar.
"Tanpa kamu suruh, aku juga sudah akan mematikannya." Sambil mengotak-atik ponselnya untuk mematikan timer pengiriman video yang tersisa 1 menit itu.
"Sudah aku lakukan. Jika kamu telat sedikit saja, semua orang akan tau seperti apa sisi lain dari atlit basket yang bernama Kang Jung Tae. Dan kamu jangan lupa dengan janji yang kamu ucapkan tadi. Arasseo?!" Lanjutnya sebelum pergi dari hadapan Jung Tae.
Banyak orang yang menyaksikan perseteruan antara Lee Ri Sa dan Kang Jung Tae di tempat itu. Mereka langsung berani mencibir serta merendahkan Kang Jung Tae. Dan sebaliknya, perhatian dan rasa segan tertuju pada Lee Ri Sa. Dan di tempat yang sama Choi Moo Gak yang dari awal ikut tegang melihat perseteruan antara Kang Jung Tae dan Lee Ri Sa tanpa dapat melakukan sesuatu dan hanya diam melihat momen yang ada didepannya itu. Dan akhirnya hanya bisa tersenyum lega dan kagum ketika Lee Ri Sa memenangkan perseteruan itu.
###
Keesokan harinya, saat Lee Ri Sa makan siang di kantin yayasan Jinhyang bersama Heo Yoon Woo dan Yoon Yeom Mi, pembicaraan mereka terus membahas tentang kejengkelan mereka pada Kang Jung Tae dan mengelu-elukan Lee Ri Sa.
"Aku sungguh tidak suka Jung Tae masih bebas berkeliaran. Tapi Ri Sa,.. kamu bener-bener keren kemarin. Aku penasaran, apakah Jung Tae masih tetap seperti itu?" ujar Yeom Mi.
"Hemmmm melihat yang dilakukan Ri Sa,.. sepertinya Jung Tae tidak akan diam gitu saja. Kamu harus hati-hati Ri Sa." Saran Yoon Woo yang terlihat lebih dewasa dibanding dua siswi didepannya.
Ri Sa tersenyum santai. "Apapun yang dilakukannya, Itu tidak akan membuatku takut."
"Wauuuuu,.... inikah sifat asli Lee Ri Sa? Sangat menakutkan. Daebak." puji Yeom Mi dibalut dengan tawa ringan.
Mendengarnya, Ri Sa hanya diam dan tersenyum santai. Ia meneruskan makan siangnya. Saat itu ia menggunakan tangan kirinya untuk makan karena tangan kanannya masih belum mampu digunakan untuk memegang sumpit maupun sendok.
Tak lama kemudian Oh Jung Hee datang dengan membawa menu makanan yang sama dengan yang diterima siswa-siswa lain.
"Boleh saya gabung dengan kalian?" tanya Jung Hee. Di hari itu Oh Jung Hee merubah penampilannya dan terlihat lebih tertutup dengan dress di bawah lutut berwarna krem dibalut blazer warna coklat tua.
"Ne,.. Seonsaengnim." Jawab Ri Sa.
Mendengar itu Oh Jung Hee langsung mengambil tempat duduk berhadapan dengan Ri Sa.
"Seonsaengnim,.. tentang kemarin, Joesong-hamnida." Ucap Ri Sa membuka pembicaraan.
"Gwaenchanh-ayo. Saya yang salah. Saya tidak mengenali orang paling jenius di SMA Meongso. lebih tepatnya orang paling jenius di yayasan Jinhyang. Mian-haeyo."
"Itu pujian yang terlalu tinggi. Saya sama dengan yang lainnya." Lee Ri Sa sedikit menundukkan kepalanya.
"Aisshhh,... kenapa kamu tiba-tiba merendah? Melihat apa yang kamu lakukan, kamu orang yang sangat luar biasa. Sebagai guru, saya sangat bangga sekaligus malu karena telah ditegur oleh siswanya seperti kemarin."
"Tapi sebenarnya itu tidak baik ketika seorang siswa yang justru melakukan itu pada gurunya. Joesong-hamnida." menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda ia benar-benar memintamaaf saat itu.
"Tidak ada manusia yang sempurna. Jadi ketika ada yang salah, tegur saja." Ucap Jung Hee Bijak.
"Emmm,.. jadi Seonsaengnim sudah memaafkan Lee Ri Sa?" tanya Yeom Mi.
Oh Jung Hee mengangguk pasti dan pembicaraan mereka berlanjut dengan candaan yang keluar dari mulut ke mulut guru dan murid itu.
Masih di tempat yang sama, ada seorang siswa SMA Meongso datang mendekat ke meja mereka. "Lee Ri Sa, kamu diminta datang ke ruang Direktur sekarang." Ucap orang itu.
"Ah ya,.. ada apa ya?" tanya Lee Ri Sa sedikit bingung.
"Mollayo. Tapi yang pasti kamu diminta menghadap ke ruang Direktur sekarang." Jelasnya.
Advertisement
"Okey. Gumawo." Setelah mendengar ucapan Lee Ri Sa tersebut, orang itu langsung pergi dari hadapan mereka.
Tanpa fikir panjang, Yoon Yeom Mi mencoba menebak, "Apa karena yang dilakukan Ri Sa kemarin? Sampai Direktur yayasan Jinhyang terjun langsung? Daebak."
"Apa Ri Sa melakukan kesalahan yang besar? Seingat saya, saya tidak lapor ke Direktur tentang kejadian di kelas kemarin." Tanya Oh Jung Hee.
"Mungkin karena kemarin Lee Ri Sa terlibat keributan dengan Kang Jung Tae di kelas saya. Hingga puncaknya Lee Ri Sa mengirim video Kang Jung Tae ke seluruh warga yayasan Jinhyang. Seonsaengnim tidak tau?" jelas Heo Yoon Woo sedikit mengarahkan badannya ke Oh Jung Hee yang duduk disampingnya.
"Jadi yang mengirim video itu Lee Ri Sa?" tanya Oh Jung Hee dengan menyebar pandangan ke Lee Ri Sa, Heo Yoon Woo dan Yoon Yeom Mi, berharap mendapat jawaban segera atas pertanyaannya.
Yeom Mi mengangguk pasti dan berkata, "Siapa lagi kalau bukan dia, yang berani membuat Kang Jung Tae kalah telak?"
"Kalau butuh saksi, aku bersedia menjelaskan bagaimana kejadian yang sebenarnya. Karena kemarin aku ada di tempat itu juga." Ucap Yoon Woo menatap langsung Lee Ri Sa yang duduk di depannya.
"Gwaenchanh-ayo,.." hanya kata itulah yang akhirnya terucap dari mulut Lee Ri Sa sebelum ia pergi menuju ruang Direktur yayasan Jinhyang.
Ketika baru masuk, Lee Ri Sa hanya melihat seorang wanita yang terlihat sudah tua menghadap ke jendela sehingga saat itu orang itu masih membelakangi Lee Ri Sa. Dan ia langsung mengucapkan, "Annyeonghaseyo,.. naneun Lee Ri Sa ibnida." Diikuti membungkukkan badannya tanda memberi hormat.
Tak lama kemudian orang itu membalikkan badannya dan menghadap langsung ke arah Lee Ri Sa. "Akhirnya kita bertemu lagi Lee Ri Sa." Ucapnya yang langsung membuat ekspresi terkejut di wajah Lee Ri Sa. Pasalnya orang itu adalah seorang nenek yang pernah ia tolong dari gengster hingga membuat tangannya harus diperban berhari-hari.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu? Ayo duduk." Ajaknya untuk duduk di kursi khusus tamu yang berada ditengah ruangan itu dengan tegas namun tetap ada sisi kelembutan.
Mendengar itu, Lee Ri Sa langsung mengikuti orang itu dan duduk di sebelah kirinya. Karena memang susunan kursinya berbentuk L sehingga terlihat posisi diagonal antara mereka berdua.
"Gamsahamnida,.. waktu itu kamu sudah menyelamatkan saya dari gangster yang ingin berbuat jahat pada saya. ah,.. sebelumnya saya belum memperkenalkan diri. Saya Han Seo Jin. Dan kamu sudah menyelamatkan orang paling berpengaruh di yayasan Jinhyang."
Wajahnya masih datar dengan penuh keterkejutannya, "Orang yang berpengaruh? Maksud anda, jadi anda Direktur yayasan Jinhyang?" tanya Ri Sa yang memang tidak mengetahui siapa Direktur yayasan Jinhyang.
Han Seo Jin mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Lee Ri Sa. "Saya juga pemilik yayasan Jinhyang. Ini kartu identitas siswa punyamu kan? Waktu itu jatuh saat kamu melawan orang-orang itu." Sambil menyerahkan kartu tersebut. "Dan karena kartu itu, saya jadi tau siapa yang menolong saya. Tanpa saya sadari ternyata orang itu adalah siswa SMA Meongso. Jujur, saya tidak menyangka ada siswa SMA Meongso yang punya kemampuan bela diri sehebat itu." Lanjutnya.
"Anda terlalu memuji. Dan maafkan saya, karena saya tidak mengetahui bahwa anda adalah Direktur sekaligus pemilik yayasan Jinhyang." Lee Ri Sa semakin menundukkan kepala.
"Itu tidak masalah. Yang menjadi masalah sekarang adalah, kenapa kemarin kamu sangat terburu-buru keluar dari gedung SMA Meongso di saat masih jam pelajaran? Apa karena kamu punya IQ yang sangat tinggi sehingga kamu bisa meninggalkan kelas semaumu sendiri?" ucapnya santai namun justru membuat Lee Ri Sa segan dan merasa bersalah.
"Joesong-hamnida,.. kemarin saya mendapat pesan singkat ancaman dari seseorang dan tanpa pikir panjang saya langsung lari menemuinya." jelasnya.
Sedikitkan mengernyitkan dahinya, "Ancaman apa dan dari siapa?"
Tanpa mengatakan sesuatu, Lee Ri Sa langsung menunjukkan pesan singkat ancaman dari Kang Jung Tae kepada Han Seo Jin.
"Kang Jung Tae?" Han Seo Jin menghela nafas panjang ketika melihat pesan singkat itu. Seolah ia sudah tau banyak tentang Kang Jung Tae. "Dan apa alasan kamu menyebar video tentang Kang Jung Tae?" tanyanya lagi.
"Saya pribadi sudah geram dengan kelakuannya. Saya ingin membuat dia sadar kalau yang dia lakukan itu sangat salah. Dia menjadikan kakak saya dan banyak siswa SMA Meongso menjadi korban dari hobby-nya itu. Meskipun saya memiliki kemampuan bela diri, tapi saya menahan diri untuk menggunakannya. Karena kekerasan dilawan dengan kekerasan tidak akan ada akhirnya, Makanya saya melakukan itu. Dan saya akan menerima apapun konsekuensi dari pihak yayasan atas kesalahan yang saya lakukan. Joesong-hamnida." Jelas Lee Ri Sa.
"Sekarang saya minta, kamu hubungi walimu untuk datang kesini sekarang." tegas Han Seo Jin.
Lee Ri Sa menundukkan kepalanya, "Joesong-hamnida,.. wali saya masih ada jam pelajaran jadi kemungkinan tidak dapat langsung menemui anda sekarang."
"Mwo? Wali kamu masih seorang siswa?"
"Ne,..Wali saya siswa kelas 2 di SMA Dongjo."
"Nugu-ya?"
"Lee Ri An."
Wajah Han Seo Jin terlihat lebih sumringah dari sebelumnya. "Maksud kamu atlit lompat tinggi sekaligus siswa dengan IQ tertinggi di SMA Dongjo?"
Lee Ri Sa mengangguk pasti.
"Minta dia kesini sekarang."
Mendengar itu, Lee Ri Sa langsung mengirim pesan singkat ke Lee Ri An untuk datang ke ruang Direktur segera.
Beberapa menit kemudian, Lee Ri An datang ke ruangan itu. Dan di ruangan itu masih ada Lee Ri Sa dan Han Seo Jin. Lee Ri An terlihat bingung kenapa ia dipanggil ke ruangan itu karena memang Lee Ri Sa tidak memberitahu alasannya ia diminta datang ke tempat itu.
"Silakan duduk!" ucap Han Seo Jin.
Mendengar itu, Lee Ri An langsung duduk disamping Lee Ri Sa, "Joesong-hamnida,.. ini ada apa ya?" tanyanya.
Han Seo Jin tersenyum melihat Lee Ri An dan Lee Ri Sa. "Saya sangat senang memiliki siswa seperti kalian. Sangat jenius. Dan saya baru tau kalau kalian adalah kakak beradik."
"Mungkin langsung saja ke pokok bahasannya, saya tidak mempermasalahkan apa yang terjadi kemarin. Sebenarnya saya mengundang kalian ke ruangan ini untuk memberitahu bahwa yayasan Jinhyang memberikan beasiswa penuh untuk kalian karena IQ yang kalian miliki dan keberanian Lee Ri Sa yang telah menyelamatkan orang berpengaruh di yayasan Jinhyang. Jadi kalian tidak perlu lagi memikirkan biaya sekolah sampai kalian lulus dari SMA Dongjo dan SMA Meongso." lanjutnya.
Kedua kakak beradik itu langsung ternganga mendengar kalimat yang diucapkan Direktur yayasan. Sungguh kalimat yang tak terduga, apalagi setelah orang nomor 1 di yayasan Jinhyang itu mengetahui kesalahan yang telah dilakukan Lee Ri Sa di hari sebelumnya.
"Beasiswa? Jadi anda benar-benar tidak mempermasalahkan apa yang saya lakukan kemarin?" tanya Lee Ri Sa yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Tersenyum, "Iya. Tadi saya hanya memastikan orang seperti apa siswa dengan IQ tertinggi di yayasan Jinhyang ini. Dan sekarang saya yakin untuk memberikan beasiswa penuh untuk kalian. Jadi saya harap kalian bisa lebih fokus untuk memberikan banyak prestasi di bidang kalian untuk yayasan. Selanjutnya kalian tidak harus banting tulang kerja paruh waktu lagi. Karena kalian juga dapat uang saku dari beasiswa itu setiap bulannya untuk kehidupan kalian sehari-hari sampai kalian lulus." Jelas Han Seo Jin.
Mendengar itu Lee Ri Sa dan Lee Ri An sangat senang dan terharu karena mereka tidak pernah menyangka akan dapat beasiswa sebesar itu di tempat baru semacam daerah Seoul, Korea Selatan.
"Gamsahamnida,.. jeongmal Gamsahamnida. Kami akan memanfaatkan beasiswa ini sebaik-baiknya." Ucap Lee Ri Sa.
"Kami janji akan memberikan prestasi yang terbaik untuk yayasan." Yakin Lee Ri An.
Senyuman Han Seo Jin semakin lebar.
Ketika baru keluar dari ruang Direktur yayasan Jinhyang, mereka berjalan beriringan. Awalnya mereka hanya diam dengan seribu pemikiran yang ada di otak mereka. Namun ketika akan menuruni tangga, Lee Ri Sa membuka suara, "Oppa,.. Mian. Sebelumnya aku telah membuat Oppa khawatir. Aku kira aku bakalan dapat sanksi atas apa yang aku lakukan kemarin."
Lee Ri An langsung menghentikan langkahnya. "Memangnya kapan kamu tidak membuatku khawatir?" ucapnya dingin.
"Kenapa jadi dingin gitu? Okey,.. aku minta maaf karena selalu membuat kakak khawatir. Tapi kan setidaknya kita sekarang tidak perlu terlalu memikirkan masalah finansial kita. Dan aku juga masih memegang janjiku untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah kan?"
"Iya iya bawel,.. mulai sekarang, kamu harus lebih fokus dengan sekolah. Nggak usah memikirkan hal yang aneh-aneh lagi. Okey?!" sambil mengacak-acak rambut Lee Ri Sa.
Lee Ri Sa menghalau tangan Lee Ri An, "Oppa,..!! Arasseo,.." ucapnya dan langsung pergi ke kelasnya.
###
Sesuai janjinya, Lee Ri An berusaha untuk menorehkan prestasi untuk yayasan Jinhyang. Dua bulan setelah ia mendapatkan beasiswa itu, ia sudah menyabet dua medali emas se-Seoul dan satu medali emas se-Korea Selatan di bidang lompat tinggi di event yang berbeda. Hal itu sekaligus menempatkannya sebagai atlit yang paling produktif di Seoul untuk di bidang atletik sehingga membuatnya langsung terkenal dan banyak remaja putri yang mengaguminya tidak hanya sekedar fans namun juga lebih dari itu.
Tidak jauh berbeda dengan Lee Ri An, sejak ia mendapatkan beasiswa itu Lee Ri Sa juga mulai memperlihatkan kecemerlangan prestasinya di bidang akademik. Selama dua bulan itu, ia sudah menorehkan prestasi sebagai juara 1 lomba Matematika se-Seoul, juara 1 lomba Sains se-Korea Selatan dan satu lagi yang tak kalah membanggakan adalah dia bersama kelompoknya yakni Baek Il So dan Choi Moo Gak telah menjadi juara 1 di ajang lomba Sains teknologi se-Asia Timur. Disebabkan seringnya pertemuan antara Choi Moo Gak dan Lee Ri Sa untuk mempersiapkan diri menuju lomba bergengsi itu, menjadikan mereka berdua semakin dekat. Banyak hal yang telah mereka bagikan berdua. Canda tawa sering terdengar dari mereka sehingga banyak yang mengira mereka memiliki hubungan khusus, padahal mereka tidak lebih dari teman.
###
Di hari itu seperti biasa Lee Ri Sa datang mengunjungi perpustakaan. Baru beberapa bulan ia bersekolah di SMA Meongso, hampir semua buku yang ada di perpustakaan sekolah itu sudah ia baca. Sehingga kini ia sudah mulai bosan dan kebingungan ingin membaca buku apa lagi. Ya, kebiasaannya membaca segala jenis buku masih melekat dalam dirinya dari Indonesia hingga ke Korea tetap saja tidak berubah. Saat itu ia berjalan menelusuri setiap lorong rak buku yang ada di perpustakaan berharap ada buku yang sempat terlewat ia baca. Sudah hampir 30 menit ia berkeliling namun tetap saja tidak menemukan buku yang belum pernah ia baca. Semakin lama ia bertambah bosan dan terus berjalan dengan terus mengedarkan pandangannya ke seluruh buku yang tertata rapi di rak tersebut.
Advertisement
- In Serial12 Chapters
Shedling
Far away from the planet Earth, long after it was conquered, a shedling was given to a human woman. Killerie never found out why her parent species didn't want her, and her abilities were hobbled by their technology, but that has never stopped her from trying to be the best person (and the best daughter) she possibly can. Follow her on her adventure alongside her mother Madeline as she finds out who she is and where she fits into this universe... and why her own species, the shedlings that rule the universe, were unable to take care of her.
8 175 - In Serial74 Chapters
Art of Mortality
New Synopsis after chapter 56: Long long ago, there was a mortal who despised the gods and envied the immortals. Why do the mortals have to die when the gods wish them to? Why do worlds have to perish when the gods say so? Why do only immortals get to live forever, why not mortals like him? As his family, friends, and his loved one died, he lamented. He wailed, he cried. He cursed the immortals, blasphemed the gods, spat at the heavens. But he was just a mere mortal. His curses were pointless, his blasphemous words were useless, and his spits only returned back to fall on his face. At last, he thought, enough was enough, he would definitely do something about it. He decided that it was time for the multiverse to know what a mortal can do. He was the first mortal to cultivate. Eventually, after a long struggle, he killed the Immortals, enslaved the Gods, and shattered the heavens. He reshaped the multiverse and rewrote his fate. In the end, he reincarnated as he decided upon a grand scheme, a scheme to rule 'All and Always'. He came up with the concept of what is known today as 'Paragon'. And with this, all of reality, 'All and Always', was finally reforming, according to a Mortal's Wish. Synopsis (Old): In the vast and complex multiverse, what can a mortal accomplish? In the grand scheme of things, what can a mortal change? In truth, what is a mortal, and what is mortality? Being mortal is being ordinary, the same as being trash, or so says The World. "No, mortality is an art, and a true mortal is a grand artist. Being the root of all, a mortal can become anything.", says a young mortal boy. Meet Edward Alexander, a mortal boy walking the path against gods and immortals, fighting to the end to rewrite his destiny, and change the grand scheme of things. Can he really change the grand scheme of things? Or maybe he himself is the Grand Schemer? To know the answer, follow Edward Alexnder on his journey to demonstrate the Art of Mortality.*******
8 162 - In Serial41 Chapters
His Heart to Love
"Been about you, since I met you and imma keep it that way"You're special to me. You're the only one who I wouldn't mind losing sleep for, the only one who I can never get tired of talking to, and the only one who crosses my mind constantly throughout the day. You're the only one who can make me smile without trying, bring down my mood without the intention to and affect my emotions with every action of yours. I can't explain with just words how much you mean to me, but you're the only one I'm afraid of losing and the one I want to keep in my life. So, please don't leave me.~April 18, 2021~July 21, 2021Rankings:#4 in mentaldisorder 9/16/2021#6 in highschoolsweethearts 9/16/2021#38 in urban 9/16/2021#14 in blacklove 9/16/2021#5 in angerissues 9/16/2021#12 in urbanromance 9/16/2021#3 in bwbm 9/16/2021#20 in contemporarylit 9/16/2021#29 in urbanstory 9/16/2021#2 in africanamerican 9/16/2021
8 246 - In Serial10 Chapters
Eric the Unready
Just your typical day at college, until on the way to your next class you find yourself in a forest inhabited by pretty nerve-wracking monsters. This is a story about an average student who finds himself in a new world. Erik the Unready.
8 127 - In Serial36 Chapters
The Summoned Queen[Revamp]
Synopsis Suno Temeria's heritage was of the royal family of the Temerian Empire. With the Temerian Empire annexed by the Kingdom of Toria, Suno, now ex-royalty, is currently the target of hate and disgust in the academy he is attending.However, this did not stop him from being a genius at magic, giving him more options than what he has at the moment. So with his extensive knowledge, he came up with a plan to get a companion to talk to and to help him along the way. He decided to use a summoning spell to do this and what came out of the portal was....“I am the Queen of Toria, Sora Lune what might thee want from me?”"Eh!?!"_______________________________________________________________________________________________This is my first time posting a fiction so please be gentle when you give your reviews on my story and depending on my mood I will have a chapter out. Summary/Synopsis by LordofVoids
8 80 - In Serial32 Chapters
The Bridge To Nihon (BOOK ONE)
Highest Rank #1 Fantasy - Bridges are meant to be crossed, aren't they?And yet, Sofia doesn't know of anybody who has ever crossed into Nihon, the shrouded unknown half of the world where magic rules and reality is pliable.One day, Sofia meets Orì, a girl with light blue skin from the other side of the river, and the two girls strike up an unlikely friendship. But Sofia is supposed to follow her aunt and become the Guardian of the Bridge, doomed to spend her life on the lookout for the things that nobody seems to want to see...When Orì suddenly vanishes, will Sofia have the courage to finally cross the bridge to Nihon and go to her friend's rescue?(First Book of the Nihon Series)
8 134

