《[✓] Mate || Park Jihoon》Chapter 34.
Advertisement
Saat mereka sudah sampai di rumah sakit, sungchan menggendong yujin masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter! Suster! Tolong teman saya!!."
Teriakan sungchan langsung membuat Dua Suster dan dua perawat pria langsung membawa sebuah brangkar untuk yujin, lalu mereka membawa yujin ke ruang UGD.
"Maaf mas, Tolong tunggu di luar." Ucap Suster langsung menutup pintu ruang UGD.
Seorang dokter tampan bernamtag dokter yunhyeong yang terlihat masih muda itu berjalan ke arah ruang UGD.
"Dokter, saya mohon tolong teman saya." Ucap Sungchan.
"Tuan tolong tenang ya, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan teman anda." Ucap Dokter yunhyeong lalu masuk ke dalam ruang UGD.
"Yaa! Sungchan tenanglah, aku yakin yujin pasti akan baik-baik saja." Ucap Mashiho.
Jihoon merangkul pundak Jihan yang terlihat sangat khawatir akan kondisi yujin yang mengeluarkan banyak darah, sedangkan sungchan pria itu bersandar di dinding samping pintu UGD.
"Jihoon, yujin akan baik-baik saja kan?!." Tanya Jihan.
Jihoon mengangguk,"Yujin akan baik-baik saja, Kamu jangan khawatir ya."
Sekitar dua jam kemudian mereka menunggu di kursi depan ruang UGD dengan perasaan cemas karena dokter Tak kunjung keluar dari ruang UGD kini tidak lagi, mereka sama-sama berdiri menatap dokter yang keluar dari ruang UGD.
"Dokter, bagaimana keadaan teman kami?!." Tanya Mashiho.
"Pasien kehilangan banyak darah akibat kecelakaan tersebut, benturan keras di kepalanya juga untungnya tidak membuat pasien harus kehilangan ingatannya, dan sekarang kami membutuhkan golongan darah yang sama dengan golongan darah pasien, namun, di rumah sakit ini golongan darah yang sama seperti pasien sedang kosong."
"Kalo boleh tau apa golongan darahnya dok?!." Tanya Jihoon.
"Golongan darah pasien adalah A, dan kami membutuhkan sekitar dua kantung darah secepatnya."
"Golongan darah ku AB, jadi tidak bisa mendonorkannya untuk yujin." Ucap Mashiho.
Melihat ketiga pria ini memasang wajah bingung nya karena golongan darah mereka yang berbeda, Jihan pun menarik nafasnya panjangnya sebelum memutuskan keputusannya.
"Aku akan mendonorkan darah ku, kebetulan golongan darah ku adalah A." Ucap Jihan, sontak ketiga pria itu menatap kearah Jihan.
"Jihan, kamu serius?!." Tanya Sungchan.
"Aku serius, aku akan mendonorkan darah ku untuk Yujin." Ucap Jihan.
"Dari semua yang udah yujin lakukan sama kamu, kamu mau mendonorkan darah kamu untuk yujin?!." Tanya Mashiho.
"Aku tidak perduli dengan apa yang sudah yujin lakukan terhadap aku, yang penting sekarang adalah keselamatan yujin, aku tidak mungkin diam saja melihat yujin terluka dan membutuhkan bantuan kita saat ini, dokter ayok lakukan sekarang."
"Jihan." Ucap jihoon menahan tangan jihan yang hendak pergi.
"Biarkan aku menyelamatkan nyawa yujin, setidaknya aku tidak memiliki rasa penyesalan jika aku tidak mendonorkan darah ku untuknya."
Jihoon bisa melihat ketulusan dari mata Jihan, ia tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan Jihan yang ingin menyelamatkan nyawa yujin.
Advertisement
Jihan tersenyum saat mendapatkan persetujuan dari Jihoon.
"Terimakasih, ayok dok." Ucap Jihan, lalu ia pun berjalan mengikuti dokter.
Satu jam kemudian mereka bertiga menoleh kesamping dimana Jihan bersama dokter dan satu suster bernamtag rose yang membawa sebuah kotak berisi dua kantung darah yang didonorkan jihan untuk yujin, mereka bertiga pun berdiri saat jihan berdiri di dekat mereka.
"Kami akan segera transfusi darah ini ke pasien." Ucap Dokter yunhyeong.
"Baiklah, kami mohon selamatkan teman kami dok." Ucap Sungchan.
"Saya permisi dulu, ayok sus."
Saat dokter yunhyeong dan suster rose masuk ke dalam ruang UGD, Jihan duduk di kursi sebelah jihoon, sedangkan sungchan berdiri bersandar di dinding.
"Terimakasih banyak atas bantuan kamu Jihan, maafkan aku dan yujin yang memiliki niat jahat sama kamu, maaf juga untuk kamu jihoon aku benar-benar tidak bermaksud merusak rumah tangga kalian." Ucap Sungchan.
"Sudahlah tidak perlu dibahas, aku sudah memaafkan kamu, seharusnya aku berterimakasih karena berkat kamu kita semua bisa menyelamatkan Jihan." Ucap Jihoon.
"Jihoon benar, terimakasih sungchan." Ucap Jihan.
"Tidak, jangan berterimakasih kepadaku, aku melakukan ini semua karena aku tidak ingin yujin semakin jauh melukai Jihan." Ucap Sungchan.
"Tetap saja kamu sudah sangat membantu kami, bagaimana kalo kita lupakan kejadian dulu dan menjadi teman saja?!." Tanya mashiho yang merangkul pundak sungchan.
"Memangnya tidak apa-apa?!."
"Yaa! Aku suka dengan ucapan mashiho, kita berdamai lupakan kejadian dulu dan jadi teman baik sekarang." Ucap Jihoon lalu beranjak berdiri berjalan mendekati sungchan lalu menjulurkan tangan kearah sungchan.
"Jihan pernah menceritakan sedikit tentang kamu yang kesepian karena ditinggal pergi oleh orangtua kamu, jadi mulai sekarang bukan hanya Jihan yang menjadi teman kamu, tapi aku dan mashiho juga akan menjadi teman kamu, apapun itu kamu boleh menceritakannya ke kami, bagaimana?!." Tanya Jihoon.
"Baiklah, aku menyetujuinya." Ucap Sungchan menerima jabatan tangan dari jihoon.
"Kalo gitu kapan-kapan kita makan ramen bersama, setuju?!." Tanya mashiho yang merangkul pundak jihoon dan sungchan.
"Setuju!." Ucap mereka berdua, Jihan yang melihat hal itu tak henti-hentinya tersenyum tulus, bagaimana tidak seorang park jihoon yang dulu sangat tidak suka dengan sungchan kini menuruni ego nya dan memilih untuk berteman baik dengan Sungchan.
Tiga jam kemudian setelah dokter memberitahukan bahwa kondisi yujin sudah semakin membaik karena transfusi darah, kini yujin sudah sadar sesekali ia memegangi kepalanya yang di perban, di kamar inap yujin hanya ada sungchan, Jihoon dan Jihan sudah pulang dua jam lalu karena Jihan harus istirahat sedangkan mashiho juga pulang dan besok akan kembali ke rumah sakit.
Yujin menolehkan kepalanya ke samping di mana sungchan tidur dengan melipat kedua tangannya untuk dijadikan bantalan kepalanya.
"Sungchan." Ucap yujin dengan suara lemahnya.
Sungchan yang merasa terusik tidurnya itu pun terbangun kemudian menatap ke arah yujin yang sudah membuka mata.
Advertisement
"Yujin, kamu sudah sadar?!." Tanya Sungchan.
"Aku dimana?!." Tanya Yujin.
"Kamu di rumah sakit, untunglah aku dan yang lainnya cepat membawa kamu ke rumah sakit."
"Memangnya ada apa denganku?!."
"Akibat kecelakaan tadi malam, kamu kehilangan banyak darah, dan stok darah yang sama dengan kamu sedang habis, untunglah Jihan golongan darahnya sama dengan kamu jadi dia yang mendonorkan dua kantung darah untuk kamu."
"Jihan mendonorkan darah untukku?!." Tanya Yujin.
Sungchan mengangguk,"Iyah, dia bilang keselamatan kamu paling penting sekarang."
Yujin terdiam dengan perasaan berkecamuk dalam dirinya, ia merasa bersalah karena sudah jahat dengan Jihan, ia terlalu mengikuti ambisinya untuk mendapatkan jihoon sampai hampir saja membuat Jihan kehilangan nyawanya, ia pikir dibalik sifat jahatnya Jihan akan membenci dirinya tapi itu semua salah, lihatlah betapa baiknya Jihan yang lebih mementingkan keselamatan dirinya.
"Yujin, jangan berpikir yang macem-macem tentang Jihan, dia mendonorkan darahnya ke kamu itu tulus dari hatinya, aku mohon berubah lah menjadi baik, lupakan ambisi kamu untuk mendapatkan jihoon, karena bagaimanapun itu semua tidak akan berhasil, biarkan mereka bahagia yujin, mereka sudah ditakdirkan untuk bersama."
Sungchan menatap mata yujin seperti memohon untuk yujin berubah, karena bagaimanapun semuanya akan sia-sia saja jika di teruskan.
"Sungchan, apa boleh aku bertemu dengan Jihan." Ucap yujin.
"Kamu mau bertemu dengan Jihan?!."
"Iyah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Jihan, apa boleh?!."
Sungchan menganggukkan kepalanya,"Tentu saja, aku akan menghubungi Jihoon besok pagi."
"Terimakasih sungchan dan maafkan aku karena sudah meminta kamu untuk ikut rencana jahat ku." Ucap Yujin dengan tatapan sendunya.
"Tidak apa-apa, aku sudah memaafkan kamu, lagi pula ini tidak sepenuhnya salah kamu, sudahlah jangan di ingat-ingat lagi sekarang kamu tidur biar kondisinya semakin pulih." Ucap Sungchan.
"Baiklah." Ucap Yujin tersenyum manis.
*****
Keesokan harinya, Setelah menjelaskan kronologi penculikan Jihan dan kecelakaan yujin kemarin malam ke mama dan papa mereka membuat orang tua mereka khawatir, namun, sebisa mungkin jihoon maupun jihan menyakini kalo semuanya sudah baik-baik saja, dan bilang kalo yujin tidak sejahat itu, ini semua hanya karena di dasari oleh perasaan.
Kini kondisi Jihan baik-baik saja, begitupun jihoon luka di wajahnya juga sudah di obati oleh mama Shoji, pagi ini jihan turun dari lantai 2 dan melihat kedua mama nya yang sedang berada di ruang tamu Jihan pun berjalan dan duduk di tengah mereka.
"Lho, Jihan kamu sudah bangun?!." Tanya Mama Shoji yang kaget karena kedatangan Jihan.
"Kalo belum mana mungkin aku ada di sini mama." Ucap Jihan, mama Shoji terkekeh geli lalu mengusap rambut menantu kesayangannya itu.
"Kamu baik-baik aja kan?! Kalo masih lemes mending istirahat saja di kamar." Ucap Mama.
"Aku udah baikan kok ma, kemarin mungkin karena abis donor darah aja makanya aku rada lemes tapi sekarang udah baikan, jadi jangan khawatirkan Jihan ya."
"Mama lega karena kamu baik-baik saja sayang, kemarin mama sangat takut kamu kenapa-kenapa." Ucap Mama Shoji.
"Benar, bahkan mama rasanya mau nyusul jihoon ke sana buat selamatkan kamu." Ucap mama Jihan.
"Astaga, aku baik-baik saja kok ma, lagi juga masalahnya udah selesai, cuman karena soal perasaan aja kok."
"Tapi mama cukup kagum sama kamu Jihan, di balik sifat wanita yang jahat sama kamu itu, kamu sama sekali tidak memiliki dendam kepada wanita itu melainkan membantunya saat wanita itu membutuhkan donor darah." Ucap Mama Shoji.
"Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang memiliki penyesalan karena tidak membantu orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan, mau bagaimanapun sikap yujin ke aku, tetap saja yujin itu orang baik sebenarnya."
"Mama bangga sama kamu sayang."
"Apalagi mama, bangga sekalipun bersyukur karena Tuhan memberikan menantu yang baik hati seperti kamu."
"Mama bisa aja, udah deh jangan menggodaku terus, aku malu."
Mama dan mama Shoji hanya tersenyum lebar melihat wajah Jihan yang menahan malu karena ucapan mereka berdua, di sela-sela obrolan mereka tak lama kemudian jihoon turun dari lantai dua dan berjalan ke arah ruang tamu.
"Lho, kamu sudah bangun?!." Tanya Jihan.
"Kalo telepon aku tidak bunyi mungkin aku masih tidur sampai sekarang." Ucap jihoon.
"Memangnya siapa yang nelepon kamu ji?!." Tanya mama Jihan.
"Sungchan ma, teman kami berdua."
"Sungchan nelepon kamu?! Tumben, ada apa?!." Tanya Jihan.
"Dia kasih tau kalo semalam yujin sudah sadar terus dia mau ketemu kamu, katanya sih ada yang mau yujin bicarakan." Ucap Jihoon.
"Yasudah kalo gitu, jam sepuluh saja ke rumah sakitnya." Ucap Jihan.
"Nanti aku kasih tau sungchan sekalian aku ajak mashiho dan Sooyoung juga nanti." Ucap Jihoon.
"Baiklah, oh ya kamu mau minum sesuatu biar aku buatkan."
"Aku mau teh hijau yang kamu suka bikin." Ucap jihoon.
"Ya sudah, aku buatin dulu."
"Aku temenin." Ucap jihoon yang sebenarnya mau modus aja sama Jihan.
"Lihat deh mereka padahal udah sebulan menikah tapi seperti pengantin baru kemarin nikah." Ucap Mama Shoji.
"Benar, tapi aku suka lihatnya, itu berarti mereka sudah bisa menerima perjodohan ini dan yang terpenting mereka sudah saling mencintai."
"Yah aku berharap semoga Jihan cepat-cepat diberi momongan, aku tidak sabar ingin menggendong cucu pertamaku."
"Aku juga."
Para mama muda itu hanya bisa melempar senyum manis melihat kedua anak mereka yang terlihat sangat bahagia sekarang.
Advertisement
- In Serial9 Chapters
Magical Elevator
An amazing elevator. Takes the main character through one world after another. The protagonist slowly grows into an awesome person
8 141 - In Serial41 Chapters
The Thaumatist Incident
The towers fell over a century ago, and the Good King united the land. Under his voice the Thaumatists took the knee or took the sword. The University still stands, but for how long? This story is broken up into two parts. Chronologically, the two parts overlap. Part One Emile, a girl with a Talent not seen since the good king's war as she tries to find help to save her beloved father from a cruel accident. Julie, raised in a small farming village on her quest to become someone people will sing about. Part Two Wendel, a recent graduate of the University, an intense school that functions first as a police force to control the use of magic and secondly as an educational institution. Demetrius, a servant at the school who loses his home and his safety. Edits are ongoing. Reviews and comments will only help the editing the process, and I am grateful for any and all input. So, if you have been reading already, Jericho has been removed. It's been brought to my attention that his chapters detract from the flow of the narrative. They still exist, and are still going to be made available at some point in some way shape or form, but for the time being what happens with him and the king in Puissant city will be off camera so to speak.
8 110 - In Serial25 Chapters
Gryl the Enchanter - A LitRPG fantasy adventure
VR gaming is cutthroat. All Matt wanted was to land the dream job at the best game company in the world. Matt gets everything he wanted, but he'd never imagined the steep price he'd have to pay. Now he'll do anything to get out... but the only way the company will let him out is death...
8 112 - In Serial6 Chapters
Vertigo
Trading Card Games aren't quite the same in the virtual world. Cas decided she needed to take some time for herself. No following her best friend, Jupiter, on whatever hair brained idea he had. No jumping into danger in a fantasy virtual world. She wants to get back to basics. And what's more basic than a trading card game? But when you move a card game into virtual space there are some pretty big changes. Add in the natural greed of humanity and there might really be something to this Virtual Reality Trading Card Game. Welcome to Vertigo. Virtigo is a side quest story from The Hub World Series. You do not have to read The Hub World to enjoy Vertigo, but if you would like more with Cas you can check them out.
8 164 - In Serial10 Chapters
Road
Life is a road we thread. This story is about the life of people trying to live a second, better life.
8 91 - In Serial6 Chapters
The Landvaettir
Varen Ashtar, a Junior Archivist with an unhappy past, is sent to investigate the truth of a prophecy he uncovers. It will send him far south into the Unknown Territories, where Vaettir roam without number. Will he succeed in his task? Or will his time run out before the Cataclysm cleanses the world?
8 151

