《[✓] Mate || Park Jihoon》Chapter 30.
Advertisement
Jihoon, mashiho dan Sooyoung berdiri di depan pintu toilet wanita menunggu Jihan yang sedang mengganti pakaiannya dengan baju kaos putih milik Sooyoung yang sengaja di tinggal di loker kampus.
Pintu toilet terbuka lebar dan saat itu juga pandangan mereka langsung tertuju pada Jihan yang sudah mengganti pakaiannya.
"Kamu yakin tidak mau sekalian ganti celana juga?! Aku bawa celana jeans juga kok." Ucap Sooyoung.
"Yakin young, lagi juga basahnya cuman sedikit doang tidak apa-apa, aku pinjam dulu bajunya nanti aku kembalikan."
"Tenang saja, kamu bisa kembalikan baju itu kapan saja."
"Baiklah, terimakasih."
"Sama-sama." Ucap Sooyoung tersenyum lebar.
"Jihan, kamu beneran tidak apa-apa?! Yujin tidak melukai kamu kan?!." Tanya Jihoon dengan wajah khawatirnya.
Jihan mengangguk,"Benar jihoon, aku baik-baik saja, oh ya jaket kamu basah jangan di pakai dulu ya.
"Syukurlah kalo tidak di apa-apain oleh yujin." Ucap Jihoon mengusap kepala Jihan.
"Aku heran deh kok bisa-bisanya yujin bikin masalah seperti ini." Ucap Sooyoung.
"Namanya juga cinta apa saja bakalan dilakukan olehnya, kalian dengar sendiri kan kalo yujin mencintai jihoon jauh sebelum perjodohan jihoon dan Jihan terjadi." Ucap Mashiho.
"Memang benar, tapi sepertinya cara dia itu salah deh, buktinya dia nempelin poster wajah Jihan di Mading bertujuan untuk menjelekkan nama jihan lalu tadi apa?! Dia sengaja berbuat seperti itu ke Jihan agar anak kampus menghujat Jihan." Ucap Sooyoung.
"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, yang penting sekarang pernikahan aku dan jihoon sudah diketahui anak-anak kampus termasuk yujin dan sungchan, kami juga sudah memberikan penjelasan di depan mereka tadi, jadi menurut aku tidak perlu kalian bahas kejadian yang sudah berlalu." Ucap Jihan.
"Tapi yujin sudah kelewatan Jihan, dia sudah menjelekkan kamu di depan anak kampus lalu menyirami kamu dengan air kotor bekas pel'an."
"Sudahlah young, tidak perlu dipikirkan lagipula aku juga baik-baik saja kan sekarang, malahan aku merasa bersalah sama yujin."
"Kenapa?!." Tanya Mashiho.
"Iyah bersalah aja, dia kan bilang kalo sudah mencintai jihoon jauh sebelum jihoon menikah denganku, itu berarti aku ibaratnya orang ketiga dalam hubungan yujin dan jihoon."
"Yaa! Kamu ngomong apa si?! Kamu itu orang pertama bukan orang ketiga, sebelum aku tau perjodohan ini saja aku sama sekali tidak tertarik dengan Yujin, bahkan Dia selalu mendekati aku saja selalu aku cuekin." Ucap Jihoon.
"Benar, aku saksinya, dari dulu Jihoon selalu bersikap cuek bahkan terkesan tidak perduli dengan Yujin yang sedang berusaha keras untuk mencari perhatiannya, lagipula perasaan itu tidak bisa dipaksakan." Ucap Mashiho.
"Tetap saja aku tidak enak dengan yujin, kasihan banget udah ngedeketin tapi tidak taunya malah diambil orang."
"Udahlah percuma kamu tidak enakan dengannya kalo kalian saja sudah menikah, lebih baik sekarang pikirkan saja pernikahan kalian untuk kedepannya bagaimana, bukannya orangtua kalian minta cucu segera." Ucap Sooyoung dengan wajah jahilnya.
Advertisement
"Lagi proses pembuatan." Celetuk jihoon yang membuat Jihan membulatkan matanya.
"Ih jihoon kenapa ngomong begitu!."
"Lho kenapa memangnya?! Benarkan, lagi proses pembuatan di rahim kamu."
"Iyah deh tau yang udah malam pertama mah berbeda." Ledek Sooyoung.
"Kenapa tidak live streaming si?! Kan lebih seru." Ucap Mashiho.
"Maunya gitu tapi dipikir-pikir lagi jangan deh takut ada yang syirik nanti, ABS aku ini cuman boleh dilihat oleh istriku sendiri dia VVIP nya disini." Ucap Jihoon.
"Tapi enak?! Gimana rasanya?!." Tanya mashiho yang makin menjadi-jadi, Jihan wajahnya sudah memerah karena pembahasan seperti ini.
"Berapa ronde mainnya?!." Tambah Sooyoung.
"Ada kali ya sepuluh mah." Ucap Jihoon.
"Wow Jihan kamu kuat juga main dengan park Jihan di kasur." Ucap Sooyoung menggoda Jihan.
"Aish, kalian kenapa jadi bahas ini si, tau deh ah aku mau ke kantin aja, bye!." Sarkas jihan lalu pergi.
"Malu-malu kucing dasar." Ledek Sooyoung.
"Udahlah ayok susul." Ucap Jihoon.
Saat Jihan berjalan di koridor ia tidak sengaja berpapasan dengan sungchan yang juga tidak sengaja menatap kearah Jihan, namun, semenjak kejadian di ruang seni sungchan sepertinya menghindar dari Jihan bahkan dia menjadi sosok pria dingin dari sebelumnya.
Jihan mengerutkan keningnya saat sungchan berjalan melewati dirinya tanpa menyapa bahkan sungchan melewati jihoon, mashiho dan Sooyoung yang berada di belakang Jihan.
"Apa sungchan membenciku karena kejadian saat itu?!." Batin Jihan.
"Yaa! Park Jihan, sungchan menyapamu tadi?!." Tanya Sooyoung.
Jihan menggeleng,"Tidak, bahkan melirikku saja sinis."
"Apa kamu ingin aku memanggilnya agar menyapamu?!." Tanya Jihoon.
"Apa maksudmu?! Sudahlah biarkan saja, mungkin dia membenciku karena kejadian kemarin."
"Kau yakin tidak apa-apa, jihan?!." Tanya Mashiho.
"Yaa! Kalian aneh banget, memangnya aku kenapa?! Aku baik-baik saja, sudahlah ayok ke kantin aku lapar."
Jihan melanjutkan jalannya bersama dengan Sooyoung sedangkan mashiho menepuk pundak jihoon agar pria itu tidak memikirkan hal tadi, jihoon yang mengerti dengan tepukan mashiho itu pun mengangguk pelan kemudian menyusul Jihan dan Sooyoung yang sudah menjauh dari pandangan mereka.
Sungchan berhenti berjalan lalu menolehkan kepalanya kebelakang dengan tatapan mata yang sulit di jelaskan.
"Maafkan aku Jihan, aku tidak membenci kamu, aku hanya menghindar agar perasaanku menghilang dengan begitu aku bisa melupakan kamu dari hidupku secepatnya." Batin Sungchan.
*****
Saat hari mulai menjelang sore sudah saatnya mereka semua pulang karena materi pelajaran di kampus sudah selesai, Jihan dan jihoon yang sudah berada di mobilnya dan menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah mereka.
"Aku udah lama tidak ketemu mama dan papa." Ucap Jihan saat mereka lagi di jalan.
"Kamu mau ke rumah mama?! Biar sekali kita ke sana." Tanya Jihoon.
Advertisement
"Jangan sekarang deh." Ucap Jihan.
"Kenapa?! Bukannya tadi kamu bilang udah lama tidak ketemu mereka."
"Iyah memang, tapi jangan sekarang aku lagi males kemana-mana, mau tidur seharian."
"Tumben banget, ada apa?!."
"Ya mana aku tau, aku tiba-tiba saja lelah dan mau tidur seharian."
"Kamu sakit Jihan?! Mau ke rumah sakit sekarang?!." Tanya Jihoon, tangan kirinya memegangi kening Jihan.
"Aku tidak sakit jihoon, aku hanya lelah mau tidur, udah deh jangan banyak tanya! Mending cepetan bawa mobilnya." Sarkas Jihan.
"Kok malahan marah-marah si, kamu mau datang tamu ya?!."
"Berisik! Cepetan bawanya atau mending aku yang nyetir deh."
"Iyah Iyah aku ngebut, daripada kamu yang bawa mobil bukannya nyampe ke rumah malahan nyampe di rumah sakit." Ucap Jihoon.
Setengah jam kemudian mobil jihoon sampai di bagasi mobil, namun, ada satu hal yang membuat pasangan ini mengerutkan keningnya saat melihat pagar rumah terbuka dan garasi mereka ada dua mobil Alphard terparkir.
Jihoon dan Jihan yang udah keluar dari mobil itu pun menatap kearah dua mobil Alphard di bagasi rumah mereka.
"Ini mobilnya siapa?!." Tanya Jihan.
"Apa jangan-jangan ini mobil papa dan mama." Ucap Jihoon menatap kearah Jihan.
"Mereka ganti mobil lagi?! Yaa! Yang benar saja sebulan bisa sepuluh kali ganti mobil." Sarkas jihan.
"Aku saja jarang ganti mobil lah ini mereka mau ngalahin anak muda, tapi ngomong-ngomong mereka ngapain ke rumah tidak bilang dulu."
"Entahlah mama juga tidak memberitahuku kalau mau ke sini."
"Ya sudahlah, ayok masuk."
Saat mereka berdua masuk ke dalam rumah, hal pertama yang mereka lihat adalah papa jihoon yang sedang mengobrol dengan papa Jihan di sofa sedangkan mama mereka sedang sibuk di dapur.
"Papa! Mama!." Ucap Jihan, sontak mereka menoleh kearah Jihan yang berdiri tak jauh dari sofa.
"Kalian berdua sudah pulang ternyata, sini duduk." Ucap Papa Hyungsik.
"Jihan, kamu sudah pulang." Mama Jihan yang datang dengan membawa dua cangkir kopi pesenan dua pria tua itu.
"Hua mama Jihan kangen sama mama." Ucap Jihan yang langsung meluk tubuh mama kandungnya itu.
"Mama juga kangen sama kamu sayang, gimana kabar kalian?! Baik-baik saja kan?!." Tanya mama.
Jihan mengangguk,"Kami baik kok ma."
"Syukurlah kalo gitu." Ucap mama tersenyum.
"Oh jadi kamu kangen cuman sama mama doang Jihan?!."
Jihan menoleh ke mama Shoji yang mengerucutkan bibirnya di belakang mama kandungnya.
"Ah tidak gitu, Jihan juga kangen sama mama." Ucap Jihan mengerucutkan bibirnya lalu memeluk tubuh mama Shoji.
"Astaga, imut banget si mantu mama ini, mama juga kangen sama kamu sayang." Ucap mama Shoji.
"Sejak kapan Jihan jadi manja begitu, papa baru lihat sifatnya yang manja ke mama nya." Ucap papa Jihan terkekeh geli.
"Jangan kaget pa, setiap hari juga kalo Sama jihoon gitu manjanya."
"Wah, ada sesuatu nih kayaknya sama Jihan." Ucap Papa Hyungsik.
"Sesuatu apa maksud papa?!." Tanya Jihan.
"Kamu lagi isi sayang?!." Tanya papa jihan.
"Isi?! Isi apaan?!." Tanya Jihan makin bingung.
"Maksudnya papa itu kamu lagi hamil sayang?!." Tanya mama Jihan.
"Hamil?! Ya tidak mungkin lah ma."
"Kok tidak mungkin?!." Tanya Mama Shoji.
"Ya karena Jihan." Ucap Jihan bingung melirik kearah jihoon meminta bantuan untuk berbicara, tidak mungkin Jihan bilang ia baru semalam melakukan itu dengan jihoon masa sudah hamil saja.
"Maksudnya itu tidak mungkin kalo Jihan lagi hamil Ma! Pa! Biasanya kan orang yang baru nikah itu tidak mungkin langsung cepat dapat anak apalagi hubungan rumah tangga kami saja baru jalan sebulan, tapi ya semoga saja secepatnya Jihan dikasih momongan." Ucap Jihoon melirik kearah Jihan yang membuang nafas leganya.
"Benar juga, mama waktu hamil Jihan saja pas jalan dua bulan pernikahan baru hamil." Ucap Mama.
"Tidak apa-apa, kita doakan saja biar Jihan bisa cepat dapat momongan dan kita bisa gendong cucu nanti." Ucap Mama Shoji.
Mereka semua menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan mama Shoji.
"Oh ya, mama sama papa sejak kapan sampai di rumah kami?! Terus kenapa tidak menghubungi aku atau Jihan kalo ingin datang ke rumah."
"Sengaja biar surprise saja." Ucap papa Jihan.
"Tapi kalian nginep kan di sini?!." Tanya Jihan.
"Iyah dong sayang, kami akan nginep di sini buat hilangkan rasa kangen kami sama kalian." Ucap Mama Shoji.
"Ya sudah, jihan kamu ke kamar ganti baju terus turun ke bawah ya, mama berdua mau masak buat makan malam." Ucap Mama jihan.
"Aku mau bantuin mama, tunggu ya Jihan mau mandi dulu, jangan masak dulu, tungguin lho, aku ngambek nanti kalo kalian udah masak." Ucap Jihan berjalan ke arah tangga.
Mama, papa dan Jihoon yang melihat tingkah Jihan menggelengkan kepalanya gemas.
"Iyah sayang, hati-hati nanti kamu jatuh di tangga." Tegur mama.
"Astaga, ada-ada saja kelakuan mantu papa." Ucap papa Hyungsik terkekeh geli.
"Apalagi jihoon pa, kadang gemes mau jihoon gigit." Ucap Jihoon.
"Ya jangan dong Ji, dia istri kamu bukan daging sapi." Ucap papa Jihan.
"Haha Iyah pa, bercanda doang kok."
Advertisement
- In Serial40 Chapters
Somebody Stop Her
In a world of villains and heroes, the Kilborne family moved to the small town of Saint Mary. Their new neighbors, living in the 1888 Saint Mary cathedral, turned out to be a family of supervillains. Martin Kilborne would find school perfectly mundane if it wasn't for Alexa Terranova who is: constantly bothering him with a pocket raygun, demanding he become her minion and threatening to blow up the principal's office in a series of unnecessarily complicated, wacky plots. The more Martin learns about Alexa, the more dangerous and insane his life becomes as he is dragged into terrible, misfortunate, no good adventures of doom. A wholesome, slice of life, superhero / supervillain sci-fi comedy, sprinkled with elements of horror.Participant in the Royal Road Writathon challenge - 55'555 words in 35 days!Dedicated to my daugher who has an unbendable stubborn spirit and my friends at the Silver Pen server who motivated me to write new things!
8 243 - In Serial13 Chapters
A Demon, Probably
For a demon, Bal isn't that bad. Being bad is unfortunatly a rather large part of being a demon. Stuck among the lower rungs of demonic society, Bal has had to make a living using his cunning to trick the most distrusting creatures in existence, but all that changes when a portal swallows him whole and he is summoned to the world above hell. A world ripe with the two things Bal loves most: oppurtinity and fools. Along with his two companions: Ell, a young princess hunted by her murder-happy siblings, and Cas, her sworn protector with too much bravery and too little brains, Bal sets out to see what this world can offer a resourceful young demon.
8 188 - In Serial18 Chapters
The Fated Saviour
A young boy lived his life in boredom. Living alone in his home while his parents were out there in the vast world. He thought it would never change, but that was until he met something that would change his life forever. Another boy lived his life in the slums outside of the walls of a richer city. He thought he would continue living the same as always; always being at the mercy at those with power, but he too would soon discover a supernatural power.They were given a chance to change their situations, but this world is not as simple as that. One can not hope to achieve change without hardships and risks.
8 175 - In Serial6 Chapters
STEEL ABYSS
A new era is upon Kailsh. Floating above the waves of her endless oceans, the great cityships of humanity are undergoing a revolution. Ancient flotillas and sailing boats, once the lifelines of a dying race, have been transformed into towering metropolises and mighty vessels of steel through the ancient salvage upon the sea floor. It is a time of war. From once disparate tribes are born nations, fighting over the remains of dead gods deep in the abyss. Battleships sail across elysian seas and fighter jets carve trails upon a pale blue sky: a world turning upon itself in the throes of conflict. And one Coalition Warship to save it all: the battleship Archipelago. Crewed by an emergency crew of raw cadets and an artificial mind salvaged from the ruins of ancient civilizations beneath the waves, the Archipelago will face not only the enemies of the Coalition, but of humanity’s very existence on Kailsh. For some secrets are better left undiscovered, and in the embrace of the STEEL ABYSS.
8 147 - In Serial12 Chapters
Bayani
"A Hero doesn't need to stand up for himself when the world doubts him because the people he saved will do it for him" Our Hero's life revovled around those words but what will happen if the people he saved were the ones who had planned to kill him all along?
8 174 - In Serial20 Chapters
(Foxy x Mangle book 1) Mangled Love
*Book 1*Mangle and Foxy are in love. Chica is in love with Foxy too, but Foxy secretly hates her. When Chica hurts Mangle, Foxy gets really mad and tells her exactly what he thinks of her. Chica gets really upset and angry with Mangle. Every day, when Foxy isn't with her, she hurts her. Soon, Mangle is all broken and Foxy fights Chica. But Foxy gets hurt! And Mangle is about to be killed.... Will Chica learn her lesson? Will Foxy save Mangle?
8 157

