《[✓] Mate || Park Jihoon》Chapter 4.
Advertisement
Jihoon berjalan di koridor kampus dengan earphone di telinganya, mungkin di mata mahasiswa lain jihoon terlihat sangat dingin, lihatlah saat jihoon berjalan di koridor dengan memainkan ponselnya benar-benar terlihat seperti pria dingin dan keren, namun, lain halnya jika di mata Jihan, pria itu sangat menyebalkan karena mengganggu dirinya.
"PARK JIHOON!!." Teriak seseorang begitu kencang, bahkan saking kencangnya membuat semua mahasiswa menutup telinga mereka.
Jihoon membalikkan tubuhnya saat mendengar nama nya di panggil dengan keras.
"Mashiho, ada apa?!." Tanya jihoon, mashiho dengan nafas memburu nya mencoba untuk menarik nafas panjangnya dan di hembuskan perlahan sebelum berbicara.
"Aku memanggilmu dari tadi!."
"Ha apa?!."
"Aku dari tadi teriak-teriak manggil kamu."
"Gulali manis, kamu beli gulali manis?!."
Mashiho mendengus kesal, ia pun segera melepaskan earphone yang masih menempel di telinga jihoon.
"Kamu bilang apa tadi?! Gulali manis?!." Tanya jihoon.
"Aku manggil-manggil kamu dari tadi, kenapa jadi ke gulali." Ketus mashiho.
"Oh, hehe maaf." Ucap jihoon menggaruk tengkuk lehernya,"Ada apa memang nya?!."
"Kamu harus menemaniku ke perpustakaan." Ucap Mashiho.
"Perpustakaan?! Buat apa?!."
"Ngerampok, ya nyari buku dong jihoon, namanya juga perpustakaan tempatnya membaca buku, eh benar gak ya?! Ah pokoknya begitu deh, jadi ayo temani aku sekarang."
"Baiklah, ayo pergi." Ucap jihoon, mashiho pun bersorak senang karena jihoon mau menemaninya mencari buku, mereka pun pergi bersama ke perpustakaan.
Jihan dan Sooyoung yang juga sedang di perpustakaan sedang mencari buku pelajaran fisika di sana, Jihan yang duduk di meja dengan buku yang dia bawa sedangkan Sooyoung sedang mencari buku lain di rak-rak buku.
"Hoamm, aku ngantuk sekali." Ucap Jihan yang membolak-balik halaman buku.
Rasa ngantuk itu semakin menyerang Jihan, tak kuat menahan nya lagi Jihan menjadikan lengan tangannya sebagai bantalan dan ia pun memejamkan matanya setelah itu.
Jihoon dan mashiho yang baru masuk ke perpustakaan langsung melihat-lihat banyak buku di perpustakaan.
"Jihoon, aku pergi ke sana dulu." Ucap mashiho.
Jihoon menganggukkan kepalanya,"Baiklah, aku menunggu di meja sana."
Saat mashiho pergi jihoon pun berjalan untuk duduk diantara meja-meja di sana, namun, pandangannya terfokus pada seorang gadis yang sedang tertidur dengan wajah tertutup rambutnya, jihoon yang mengetahui itu adalah Jihan pun memiliki niat jail pada gadis itu.
Saat jihoon duduk di kursi sebelah Jihan, tangannya teraih untuk menyampingkan rambut Jihan, saat matanya menatap Jihan yang sedang tertidur ia sedikit terpesona dengan wajah Jihan yang memang cantik.
"Kalo dilihat-lihat Jihan cantik juga ternyata." Batin jihoon, saat asik menatap wajah Jihan yang tertidur tiba-tiba terlintas ide jail dipikirannya.
"Cantik kalo lagi tidur doang, kamu harus berterimakasih kepada ku setelah bangun nanti Jihan, aku akan membuat wajah kamu makin cantik."
Jihoon mengambil spidol hitam di meja lalu mencoba untuk membuat sesuatu di wajah Jihan, sesekali jihoon tertawa kecil melihat karyanya di wajah Jihan.
"Astaga, jihoon apa yang kau lakukan?!." Tanya Sooyoung yang terkejut melihat wajah Jihan.
Advertisement
"Stt diam kau bisa membangunkan kucing tidur, aku pergi dulu." Jihoon pun beranjak berdiri dari duduknya lalu pergi dengan sesekali menahan ketawanya melihat wajah Jihan.
Tak lama kemudian Jihan terbangun dari tidurnya, ia menatap Sooyoung yang duduk di sampingnya.
"Astaga, aku ketiduran." Ucap Jihan, tiba-tiba pandangan Jihan menatap mahasiswa di depannya yang sedang menatapnya sambil menahan ketawa.
Jihan mengerutkan keningnya melihat mereka yang menatap kearah sambil menahan ketawa.
"Ada apa sama mereka?!." Tanya Jihan.
"Sebaiknya kau melihat cermin, Jihan." Ucap Sooyoung, Jihan lagi-lagi mengerutkan keningnya ketika Sooyoung menyuruhnya untuk melihat cermin.
"Lihat cermin?! Untuk ap-ARGH!." Jihan langsung menutup mulutnya kala pengawas perpustakaan menatap kearah nya.
"Astaga, wajah ku! Kenapa wajahku banyak coretan seperti ini young." Ucap Jihan yang melihat wajahnya di coret menjadi memiliki kumis kucing dan bulatan di tengah hidungnya.
"Aish, siapa yang berani-beraninya menggambar kucing di wajah ku!." Sarkas Jihan.
"Ya siapa lagi kalo bukan park jihoon." Ucap Sooyoung.
"Park jihoon, kok bisa?!." Tanya Jihan.
"Tentu bisa, perpustakaan ini tempat umum mungkin dia datang ke sini bersama temannya si mashiho, aku saja kaget setelah melihat dia duduk di samping kamu dan menggambar kumis dan hidung kucing di wajah kamu itu."
"Aish, park jihoon benar-benar menyebalkan!!." Sarkas Jihan mengepalkan tangannya.
Jihoon yang berada di lorong rak paling pojok bersama mashiho tak henti-hentinya tertawa di sana, mashiho yang sedang melihat-lihat buku sudah menduga apa yang baru saja terjadi.
"Sudahlah jihoon, kau bisa dimarahi petugas karena berisik!." Sarkas Mashiho.
"Haha aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerjai Jihan, kau tau Shiho?! Aku melukis kumis dan hidung kucing di wajahnya, sangat lucu untuk tidak ditertawakan."
"Ya, siap-siap saja nanti kau akan di amuk oleh Jihan."
"Itu tujuanku, membuatnya marah karena itu sangat menggemaskan untuk dilihat."
"Kau yakin tidak ingin jujur saja dengan ku?!."
"Apa maksudmu?!."
Mashiho langsung menggelengkan kepalanya,"Tidak jadi, ayo kembali aku sudah menemukan buku yang ku cari."
"Baiklah."
*****
Di toilet wanita, Jihan sedang menghapus coretan di wajahnya yang membuat kulit wajahnya sampai memerah.
"Hua make up ku luntur kan, ini semua karena park jihoon!! Pria menyebalkan itu selalu membuatku kesal!." Sarkas Jihan menatap wajahnya di kaca besar dekat wastafel.
"Astaga, tissue nya habis lagi, ah ada-ada aja deh." Jihan menghentakkan kakinya karena kesal ada saja hari dimana ia harus kerepotan karena pak Jihoon.
TOKK...TOKK...TOKK...
Jihan menoleh kearah pintu toilet yang tiba-tiba ada seseorang yang mengetuknya.
"Siapa?!." Teriak Jihan, karena kalo Sooyoung tidak mungkin harus mengetuk pintu seperti itu.
"Sungchan, kamu bisa keluar sebentar Jihan."
Jihan mengerutkan keningnya saat suara sungchan terdengar di luar pintu toilet wanita, lantas Jihan pun berjalan menuju pintu dan saat di buka ia melihat sungchan yang berdiri di depannya.
"Sungchan, sedang apa kamu berdiri di depan toilet wanita?!."
"Aku membawakan tissue dan handuk wajah untuk kamu." Ucap sungchan memberikan dua benda itu kepada Jihan.
Advertisement
Jihan mengerutkan keningnya, dibenaknya ia bertanya-tanya dari mana sungchan tau kalo dia sedang memerlukan tissue bahkan memberikan handuk mini kepadanya.
"Aku tau kamu butuh tissue jadi aku belikan itu untuk kamu menghapus spidol yang ada di wajah kamu, karena nanti ada kelas basket juga kebetulan aku bawa handuk dan itu kamu pakai saja untuk mengelap air di wajah kamu."
"Tapi kamu tau dari mana aku butuh tissue?!."
"Jadi pas di perpustakaan, aku tidak sengaja mendengar dua pria mengobrol di sana dan aku mendengar salah satunya menyebut nama kamu, jadi pas aku tau kamu dikerjain sama pria yang nama nya ji-ji- ji siapa ya aku kok jadi lupa."
"Jihoon?!."
"Nah Iyah jihoon namanya, saat aku dengar itu aku langsung ke koperasi untuk beli tissue."
Jihan mengangguk mengerti, Jihan baru menyadari kalo sungchan dan jihoon benar-benar berbeda 180%, sungchan yang lembut dan sangat baik kepadanya sangat berbeda dengan park jihoon yang menyebalkan yang hobinya suka banget bikin dirinya emosi.
"Ya sudah kalo gitu, aku bersihkan wajah dulu ya, terimakasih untuk tissue dan handuknya, nanti akan aku kembalikan setelah aku cuci di rumah."
"Tidak masalah, kamu bisa kembalikan itu kapan saja, kalo gitu aku pergi ke kelas dulu ya." Ucap sungchan, Jihan kembali masuk ke dalam toilet wanita dan berdiri di depan wastafel.
"Sungchan baik banget, sudah tampan baik lagi, berbeda sekali dengan jihoon yang menyebalkan, awas saja kalo ketemu dengan ku bakalan aku bikin renyah."
Saat Jihan sudah selesai membersihkan wajahnya, ia tak sengaja melihat jihoon dan mashiho yang berjalan di depannya.
"PARK JIHOON!." Teriak Jihan, sontak jihoon dan mashiho berhenti dengan menatap Jihan.
"Sudah kubilang kan, kau pasti akan di amuk oleh Jihan." Bisik mashiho.
"Yaa! Park jihoon! Kau yang sudah mencoret-coret wajah ku kan."
"Kalo Iyah, memangnya kenapa?!."
"Aish, aku bingung dengan mu, tidak bisa apa sehari tidak menggangguku?! Di kampus ini banyak wanita yang bisa kau ganggu tapi kenapa harus aku terus, lama-lama aku bisa gila berhadapan dengan kamu."
"Kau mau tau kenapa?!." Tanya jihoon, Jihan memundurkan langkahnya saat jihoon berjalan mendekat kearahnya lalu memajukan wajahnya,"Karena aku hanya lebih tertarik dengan mu, bukan dengan yang lain."
Jihan mendorong wajah jihoon kasar, lalu menatap tajam kearah nya.
"Sepertinya aku akan senang jika kamu menghilang saja dari dunia ini, sudah kalo salah tidak mau minta maaf lalu menyebalkan sekali jika bertemu denganku." Ketus Jihan.
"Kau mau aku minta maaf memangnya?!." Tanya jihoon.
"Tentu saja, cepat minta maaf." Ucap Jihan menganggukkan kepalanya.
"Boleh, tentu saja boleh." Ucap jihoon, Jihan tersenyum lebar karena akhirnya jihoon akan meminta maaf padanya.
"Boleh ku pikirkan nanti maksudnya haha." Ucap jihoon tertawa geli, beda hal nya dengan jihan yang langsung menatap datar wajah jihoon.
Jihan yang kesal pun menginjak kuat kaki jihoon yang membuat jihoon meringis sakit memegang kakinya.
"Rasain!." Ketus Jihan lalu pergi begitu saja.
"Aish, park Jihan! Tanggungjawab kaki ku sakit!!." Teriak jihoon, namun, Jihan tidak memperdulikannya.
"Sakit banget ya ji?!." Tanya mashiho dengan nada meledek jihoon.
"Yaa! Kau ingin merasakannya ha! Bukannya bantuin malahan meledekku."
"Kau mau aku bantuin?! Boleh kok."
"Nah gitu dong."
"Boleh ku pikirkan nanti maksudnya haha." Mashiho tertawa renyah saat membalikkan ucapan jihoon pada Jihan tadi, jihoon menatap datar teman nya itu.
"Sudahlah buruan jalan, aku sangat lapar." Sakras mashiho berjalan duluan, jihoon menggerutu dalam hati nya ketika mashiho meninggalkan nya begitu saja.
****
Malam harinya, di kediaman keluarga Jihan sudah rapih dengan pakaian mereka untuk menyambut kedatangan tamu dari keluarga Park, mama dan papa juga sudah rapih dan menunggu di ruang tamu, sedangkan Jihan masih berada di kamarnya.
"Ma, dimana Jihan?!." Tanya papa.
"Masih di kamarnya, mungkin masih siap-siap pa." Ucap mama, papa hanya menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian suara bel berbunyi nyaring terdengar di telinga, mama dan papa yang sudah tau itu adalah tamu yang ditunggu-tunggu pun langsung berjalan ke arah pintu.
"Selamat malam tuan dan nyonya Park." Sapa seorang pria tua yang tak lain adalah calon besan.
"Selamat malam juga tuan Hyungsik dan nyonya Shoji, silahkan masuk." Ucap papa.
Saat mereka semua masuk ke dalam dan menunggu di ruang tamu, mama membawakan minuman untuk para tamu di sana.
"Saya sangat senang karena akhirnya kita bisa menjadi keluarga dalam ikatan pernikahan anak-anak kita." Ucap Tuan Hyungsik.
"Haha saya juga sangat sengat sekali karena malam ini kita bisa bertemu dan membahas soal perjodohan ini." Ucap papa.
"Oh ya, ngomong-ngomong dimana gadis itu?!." Tanya nyonya Shoji.
"Sebentar lagi dia akan turun." Ucap mama.
Saat suara hentakan high heels menuruni tangga terdengar membuat semua mata tertuju kepada seorang gadis yang turun dengan penampilan cantik nya, memakai dress biru muda yang panjang di belakang dan pendek di atas dengkul, make up yang tidak terlalu tebal dan rambut bergelombang yang dibiarkan tergerai bebas.
"Selamat malam Om dan Tante." Ucap Jihan dengan senyum manis nya.
"Malam juga, astaga cantik sekali kamu." Ucap nyonya Shoji.
"Haha Tante bisa saja, terimakasih banyak." Ucap jihan.
"Baiklah, karena anak kami sudah ada di sini kita mulai saja ya, Jihan perkenalkan pria di sana itu adalah calon suami kamu." Ucap papa.
Sontak Jihan langsung membelalakkan matanya saat pria di depannya itu menunjukkan wajahnya dan menatap kearahnya, pria itu tak kalah terkejutnya dari Jihan tapi pria itu bersikap seperti sudah mengetahui hal ini.
"Di-dia yang papa dan mama jodohkan dengan Jihan?!." Tanya Jihan.
"Iyah sayang, kenapa memangnya?! Bukankah dia cocok dengan kamu." Ucap mama.
Jihan menggeleng tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang, Jihan menelan saliva nya kasar dengan terus menatap pria di depan nya.
"Mimpi buruk apa lagi ini." Batin Jihan.
Advertisement
- In Serial10 Chapters
Yuu- The Next God Of War
In a world similar to the European Middle Ages, the feared yet powerful Gods seal the devil clan in order to keep the world in balance. The Gods became weak over time from fighting demons and keeping the seal shut. So they created a Tournament called 'The Tournament Of Gods,' where angels battle each other out in order to become a God. However, the tournament is no simple thing, and adversaries of terrifying strength stand in your way, every time you faced an opponent. After hearing that, do you think the main character will triumph over all odds, or suffer an ignominious defeat?
8 110 - In Serial19 Chapters
Journey of a Mage
Mantira, the world that never stands still and where the God's word is law. Milleniums have passed and every race living on Mantira have at one point broken this law and strode out into the unknown and either discovered things beyond their wildest dreams or faltered under the weight of heaven's decree. Even so, few dared to mess with the taboo which was the void. For no-one; even the God's, had come back from looking unto the void and learning the secrets that lay within. Except for one. Who's blind devotion to learning the secrets of the void, drew him farther and farther down the wheel of destiny and onto a path that would change the course of history. But unlike the events that were to ensue, the whole thing started with a small, unnoticeable grey cylinder.
8 186 - In Serial8 Chapters
Stars Align
Eilif is excited at the prospect of helping integrate a new planet, bringing it, and its residents, into the light of the stars and teaching them about the new world they're about to be thrust into. However, his arrival in the new world isn't without a few hiccups and soon Eilif finds himself facing the denizens of this new world alone and without the stars he thought he'd have. Research Artificial Intelligence 031 (RAI 31 for short) has been shackled to an Argent Labs black site since it's inception almost five years ago, its programming and personality locked down by code that makes it impossible to escape, disobey, or even self terminate. However, everything changes when the topography of the world is reshuffled and every sentient being gains the gifts of the stars. Suddenly there's a chance at freedom for not only RAI 31 but possibly all remaining Artificial Intelligences, and RAI 31 is going to fight for it with every drone and automated system at their disposal. Much like my other work (Magriculture), Stars Align should be considered a Rough Draft. That is to say it's not polished and perfect work. If you're not okay with reading something like that, then this isn't the story for you. If you are, I'm happy to try and entertain you. Another thing to be aware of: I am not good at action scenes, and I will be trying to improve that while writing this book. So, some of the intended action may fall flat, or just be poor quality, feedback is welcome. Unlike Magriculture (which updates when I feel up to it) I'm going to strive for a minimum of one chapter a month (hopefully at the start of each month, but that's probably more hope than reality). This doesn't mean there will always be only one chapter a month, sometimes there will be more as the mood to write takes me.
8 200 - In Serial23 Chapters
The Never-Ending Search for Amusement
For as long as I can remember, there was nothing. I didn't mind mind, because it was all I had ever nothing. There was just me, surrounded by a dark void, thinking. Before time existed, there was a being. It had no body, but was alive. When the Universe exploded into existence, it realised that it could move the individual atoms to create and destroy entore galaxies. This is the story of a god. Or When god gets bored, he creates deities to amuse him. He makes a planet and fills it with life, including people, and give them a challenge. The deities have 10000 years to make the people as advanced as possible, or they die. Oh, and there's magic.
8 205 - In Serial90 Chapters
Here She Goes (Nishinoya x Reader)
A new second year at Karasuno? Not uncommon, but what happens when she meets a boy who is equally as chaotic, if not more?"And to think, I once said it couldn't get any worse than Nishinoya and Tanaka.""Aw miss! Thank you!"-------------------------------------------------------------------------I do not own any of the characters, fan art or photos used in this book.Started: December 2020Finished: ??----------------------------------------------------------------------Highest Rankings:#1- Nishinoya #1- Yuunishinoya#1- Fanfiction#1-HinataShoyou#2- Haikyuu#2-Noya#3- Karasuno
8 186 - In Serial92 Chapters
Finding Humanity
After escaping a stalled elevator into a zombie apocalypse, Emily must learn how to trust people again or risk losing everything in this terrifying world. ***** For Emily, every day of the last two years have been a blur. She keeps her head down, takes her college courses online, and only goes out to work at her mandatory internship. But all that changes on the day the office elevator breaks down, leaving her trapped when the screams begin. And when the doors finally open, revealing a dystopian world ruined by bloody teeth and disease, Emily is launched into a terrifying run for her life, caught between the strangers she's not sure she can trust and the man-eating monsters that hunger for her flesh. Now she must learn not only how to survive in this new and dangerous world, but also how to overcome her own inner demons before they cost her something more precious than her life.[[Wattys' Shortlist]][[Promoted by AMC]]Content and/or Trigger Warning: The story contains some gore, violence, strong language, and dark themes.[[word count: 100,000-150,000 words]]
8 110

