《[✓] Mate || Park Jihoon》Chapter 3.
Advertisement
Besok paginya Jihan yang sedang kerasukan semangat pagi itu sudah rapih untuk pergi ke kampus, celana jeans biru tang top putih yang dipadukan blazer dengan warna yang senada membuat penampilan sederhana terlihat sangat cantik dipakai oleh seorang park Jihan.
"Pagi Ma! Pa!." Sapa Jihan kemudian mencium pipi mama dan papanya sebelum duduk untuk sarapan.
"Pagi sayang, tumben kamu udah rapih biasanya nunggu mama kamu marah-marah dulu baru bangun." Ucap papa dengan nada meledeknya.
"Mama juga bingung ada apa dengan Jihan pagi-pagi sekali udah bangun."
"Aku itu ada kelas pagi Ma! Pa! Lagi kalian tuh aneh deh, anaknya bangun pagi salah bangun kesiangan salah, emang ya anak itu selalu salah."
"Gak gitu sayang, kami hanya heran doang kok, tapi gak apa-apa setidaknya ada peningkatan untuk kamu bangun pagi." Ucap papa.
"Udah mending sekarang kamu sarapan dulu, nanti berangkat nya mau di antar sama papa atau naik taksi lagi?!." Tanya mama.
"Bareng papa aja deh, udah lama aku gak di antar sama papa, boleh kan pa?!."
"Boleh dong sayang, malahan papa suka kalo nganterin kamu ke kampus, jadi ingat dulu papa selalu nganterin kamu ke sekolah juga." Ucap papa tersenyum lebar ketika mengingat masa lalu saat ia selalu mengantar Jihan pergi ke sekolah.
Saat mereka larut dalam menikmati sarapan pagi mereka, papa melirik ke arah Jihan yang sedang asik menghabiskan nasi goreng kimchi buatan mama nya.
"Jihan, nanti malam keluarga Park akan datang ke rumah kita, jadi papa mohon sama kamu bersiap-siap dan bersikap baiklah nanti."
"Aku tau kok pa, papa tenang saja, tapi ngomong-ngomong ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama papa."
"Bicara saja nak."
"Kalo semisalnya keluarga Park akan datang nanti malam, otomatis aku dengan pria yang dijodohkan dengan ku akan bertemu dan kita akan menyetujui perjodohan ini, terus kalo semisalnya nanti aku menikah aku akan tetap tinggal di sini kan?!."
Tatapan mata mama dan papa saling bertemu kemudian mama tersenyum dengan mengelus rambut jihan.
"Kalo kamu sudah menikah kamu akan tinggal bersama suami kamu, karena nanti kamu sudah menjadi tanggungjawab suami kamu bukan tanggungjawab mama dan papa lagi, tugas kami menjaga, membimbing dan merawat kamu sudah kami serahkan ke suami kamu nanti, tapi bukan berarti kami melepas kamu begitu saja." Ucap mama.
Jihan mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ucapan mama, ia tak pernah menyangka menikah itu akan seserius ini pembicaraan nya.
Advertisement
"Benar apa yang di bilang sama mama, setelah kamu menikah nanti, kamu tidak boleh seperti sekarang yang bebas berkeliaran dan pulang sesuka hati kamu, setelah menikah kamu memiliki tanggungjawab sebagai istri, yang harus masak dan mengurus suami kamu, kalo mau pergi harus izin dengan suami kamu itu pun harus jelas tujuannya dan pergi dengan siapa." Ucap papa.
"Tapi kan kami berdua Belum tentu langsung memiliki perasaan layaknya dua pasangan yang jatuh cinta, bukankah tidak apa-apa kalo kami belum memiliki perasaan, kami bebas ingin ngapain saja?!." Tanya Jihan.
"Pernikahan bukanlah suatu hal yang bisa untuk dipermainkan, menikah adalah suatu hal yang sakral dimana kalian akan mengucap janji suci pernikahan di depan pendeta dan ribuan undangan, dijari kalian akan ada cincin yang menjadi saksi pernikahan kalian, Jihan, Jangan pernah kamu memainkan pernikahan nak, masalah perasaan itu pasti akan datang dengan sendirinya." Ucap Papa.
"Papa benar jihan, memiliki atau tidak kamu harus menghargai dia sebagai suami kamu, hargain pernikahan kamu, memang menjalani pernikahan itu gak mudah, tapi mama dan papa percaya sama kamu kalo kamu bisa menjadi istri yang baik untuk suami kamu nanti."
Jihan terdiam, ia bingung harus menjawab apa karena mungkin benar, pernikahan bukanlah hal yang untuk dimainkan, bahkan Jihan sendiri menginginkan suatu pernikahan yang bahagia di kehidupannya dan dia ingin menikah sekali dalam hidupnya, walaupun ia tau pernikahan ini dilakukan karena adanya perjodohan antara keluarga Park.
"Baiklah, aku janji sama mama dan papa, aku akan menjaga pernikahanku nanti, aku akan menjadi istri yang baik untuk suami ku nanti, kalian tenang saja ya."
"Terimakasih sayang, kamu benar-benar hal yang berharga yang kami punya, maaf jika perjodohan ini membuat kamu harus menerima dengan paksa." Ucap Mama.
"Tidak ma, tidak perlu minta maaf karena aku menerimanya dengan tulus dari hati, aku yakin kok, pilihan mama dan papa adalah yang terbaik untukku."
*****
Saat sampai di kampus, Jihan turun dari mobil tapi sebelum itu ia mencium pipi papa nya yang sudah menjadi kebiasaan dirinya sejak kecil.
"Semangat ya kuliahnya." Ucap papa.
"Pasti dong pa, papa hati-hati ya di jalan." Ucap Jihan, lalu ia pun melambaikan tangannya saat mobil papa melaju pergi dari halaman kampus.
Saat Jihan berjalan memasuki koridor kampus, ia tak sengaja berpapasan dengan sungchan pria itu sedang kesusahan membawa banyak barang di dalam kardus besar, Jihan berjalan mendekati sungchan saat berada di dekat sungchan wajah pria itu ketutup barang yang dia bawa, lantas Jihan langsung membantunya dengan membawa sedikit barang-barang itu.
Advertisement
"Kalo butuh bantuan itu bilang." Ucap Jihan.
"Lho, Jihan sejak kapan kamu ada di sini?!." Tanya Sungchan.
"Baru saja, ayo biar aku bantu bawakan." Ucap Jihan.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri kok." Ucap sungchan tersenyum manis.
"Yaa! Tadi saja kau kesusahan membawanya, tidak apa-apa aku memiliki cukup tenaga untuk membantumu." Ucap Jihan, sungchan benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan gadis periang seperti Jihan.
"Baiklah, maaf jika aku merepotkan mu, Jihan."
"Tidak! Tidak! Aku senang membantumu, jadi mau ditaruh dimana barang-barang ini?!."
"Ke ruang seni."
"Oke kalo gitu ayo pergi."
Jihan pergi membantu sungchan membawa semua barang-barang itu keruang seni, di sepanjang jalan sungchan tak henti-hentinya menatap wajah Jihan, bahkan, senyuman itu terus saja muncul di bibir sungchan.
Saat di ruang seni, jihan dibuat kagum dengan lukisan-lukisan terbaik di sana, banyak lukisan yang sangat bagus bahkan desain lukisan itu sangat unik di mata Jihan.
"Wah, keren banget lukisannya." Ucap Jihan yang berkeliling di ruangan itu melihat lukisan yang terpajang di dinding.
Sungchan yang meletakkan kardus besar di meja nya langsung menatap kearah Jihan.
"Kau menyukainya?!." Tanya sungchan.
Jihan mengangguk,"Aku menyukainya, ini sangat luar biasa."
Sungchan berjalan mendekati Jihan, tangannya mengambil satu buah papan dengan lukisan indah dimana lukisan itu menggambarkan sebuah bunga sakura yang cantik.
"Dari banyaknya lukisan di sini, aku menyukai lukisan satu ini." Ucap Sungchan.
"Benar, aku juga menyukainya." Ucap Jihan, mereka tersenyum kala pandangan mata mereka bertemu.
"Lukisan dengan latar bunga sakura, kamu tau apa arti dari bunga sakura?!."
"Tidak memang nya apa?!."
"Bunga sakura dapat diartikan sebagai kenangan, harapan, kebahagiaan dan bisa juga sebagai perpisahan, aku menyukai lukisan ini karena dari lukisan ini aku bisa melampiaskan emosional ku di sana."
Jihan tersenyum ketika sungchan menatapnya, namun, tanpa sepengetahuan mereka di luar ruangan tepatnya di depan pintu ada seorang pria yang melihat Jihan dan sungchan berduaan di ruang seni, siapa lagi kalo bukan Park jihoon.
"Jihan dan sungchan?! Mereka ngapain berduaan di ruang seni, apa mereka gak takut ketiganya setan, eh tunggu dulu ketiganya setan berarti aku dong?! Aish, lebih baik aku ke kelas."
Jihoon pergi dari sana, sedangkan Jihan yang melirik kearah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan yang berarti lima menit lagi kelas akan di mulai.
"Hm sungchan, aku pergi dulu ya sebentar lagi kelas masuk, sampai jumpa nanti." Ucap Jihan.
"Jihan tunggu." Ucap sungchan, sontak jihan pun membalikkan tubuhnya menghadap sungchan.
"Terimakasih sudah membantuku tadi." Ucap sungchan.
"Sama-sama, kalo gitu aku pergi dulu, sampai jumpa lagi." Ucap Jihan tersenyum, sungchan menganggukkan kepalanya dengan menatap kepergian Jihan dari ruang seni.
"Gadis yang menarik." Batin sungchan dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.
*****
Di kelas, Jihan hendak masuk ke dalam, namun, saat hendak masuk ia harus berpapasan dengan jihoon yang juga akan masuk ke dalam.
"Minggir." Ketus Jihan.
"Tidak, kau yang minggir." Ucap jihoon.
"Kenapa harus aku?! Kamu saja yang minggir, aku masuk duluan."
"Enak saja, aku yang masuk duluan, awas minggir."
"Bisa tidak kamu sehari saja tidak membuat mood ku jelek, jihoon! Sekarang minggir aku mau masuk.
"Aku tidak perduli mau mood kamu bagus ataupun tidak, yang jelas sekarang minggir aku yang masuk duluan."
Jihan menarik ujung sweater hitam jihoon yang membuat jihoon sedikit berjalan mundur.
"Yaa! Kau pikir aku kucing ha!." Sarkas jihoon.
"Tidak perduli, aku masuk duluan, bye!." Ketus Jihan lalu pergi masuk kedalam kelas, jihoon memutar bola matanya malas.
Jihan berjalan duduk di mejanya, Sooyoung yang sudah menunggunya di kelas pun menatap kearahnya.
"Darimana saja?! lama sekali." Ucap Sooyoung.
"Tadi aku membantu sungchan dulu menaruh barang di ruang seni."
"Oalah sepertinya ada yang mulai care dengan pria tampan itu." Goda Sooyoung.
"Jangan aneh-aneh aku hanya membantunya saja, tidak mungkin aku membiarkan pria itu kesusahan di koridor tadi."
"Tetap saja kalian seperti sedang pdkt."
"Sooyoung apa kau pernah melihat kursi ini melayang mengenai wajah mu?!." Ketus Jihan dengan ekspresi wajah datarnya.
"Baiklah, aku hanya bercanda jangan serius seperti itu." Ucap Sooyoung, Jihan memutar bola matanya malas.
Saat menunggu dosen masuk, Jihan tak sengaja melirik kearah tempat Jihoon berada, ia bisa melihat bagaimana pria menyebalkan itu sedang asik bermain ponsel dengan earphone di telinga nya, Jihan menggelengkan kepalanya dengan senyum kecil di bibirnya, tak lama kemudian dosen pun masuk ke dalam kelas.
Advertisement
- In Serial29 Chapters
Just Don't Shoot the Quartermaster
Aliens are real! And monsters! But that's racist, don't call them that. And there's magic too! The life of humble, hard-working Carioca*¹² Rafael Barro is thrown into disarray when the interstellar Multi-Unity Alliance comes knocking. During the negotiations to take Earth in as a Protected Member-Planet for the glory of our AI overlords, the aliens ‘accidentally’ break the Veil that keeps the mythics protected from humanity’s knowledge, revealing the creatures of legend and myth that were hiding among us for millennia — from the doorman to global leaders. After a series of mishaps in his ever chaotic Brazil, our intrepid hero decides to join the Unity's Army, where he ends up as a inglorious… quartermaster. The Unity takes all recruits to make matters worse, including the mythics! And the cherry on the damn pie is Rafael Barro’s extra assignment: writing this historical first-hand report on the wonders of Earth’s diversity, the seamless adaptation of all its members, and on his gallant units’ first stellar expedition ever to defend another precious*³ world! Are we talking about the same planet? (Reader discretion is advised; Contains Graphic Language and Potentially Excessive Swearing) *¹ Carioca = demonym of someone from Rio de Janeiro, Brazil. *² humble and/or hardworking Cariocas = not necessarily mythics, ordinary ones actually exist. *³ precious = inasmuch every living planet is precious. Editor's Note: Someone disable his permission to edit the draft on UnityDocs, please! Hello, I'm McKing and I aim to write an original story with elements I've never seen put together before. Feel free to point out any mistakes you see — I'm not a native speaker, so I'm sure a few will pass me by. Sci-fi; Humor; (Brazilian) Urban Fantasy; faint shades of LitRPG. **Be warned it has a bit of an (absurd) slice-of-life beginning though the story is being subtly (I hope) worked on and eventually shifts gears (a bit). I planned to say that from the beginning, but I forgot to add it.** I hope that you enjoy it and that I can grow as a writer with your contributions. No Fixed Update Schedule. My inspiration comes in bursts and so will the Chapters. Sorry if that displeases you (I love regular updates too), but I'm afraid that's the best I can do for now. Keep in mind that it is a work in progress and things can eventually change a bit - I'll try to always note the changes. Sorry for the bad cover, it was the best my sorry skills could do! I hope you enjoy it,Mcking
8 85 - In Serial13 Chapters
System Hunter
Reincarnated as Ernesh Ungar of Gram Clan born with the weakest core must find a way to become stronger in this strange new world.
8 129 - In Serial28 Chapters
Temsivar Greengrass and the Mystery on the Hogwarts Express (Harry Potter Fan Fiction)
A boy wizard and his new friends are bound to work their first detective case on impossible thefts even before arriving at their first year at magical school. Temsivar Greengrass is on his way to his first year at Hogwarts, one year after Voldemorts defeat by Harry Potter. His dream is to become an Auror, and he therefore jumps on the opportunity of solving impossible-seeming thefts on the Hogwarts Express. Helped by fellow first-years he has to navigate through various obstacles, not solely external. This young adult story is fanfiction in the world of Harry Potter, but with mostly original characters in the vein of The Three Investigators. Updates twice a week on Sundays and Thursdays.
8 148 - In Serial20 Chapters
The Exodus Project
This is the original version of Origin before I rewrote it. It's much more simpler, some names and personalities are a little different. THere's nowhere near as much back story or character development/interaction. But the story is essentially at the end of book one. I wrote this 15 odd years ago, and with a bit of polish it doesn't look too bad. The story like Origin is about a group of college students who find a ship that is the last remnant of an ancient human space faring civilisation, they fix her up and go back into space. Along they way they'll meet alot of aliens, religious fundamentalists and conmen.
8 179 - In Serial27 Chapters
Triumph Book 1
Audrey's life started out hard. one miss fortune after the other, she wonders if her life will ever get better. Audrey is a young orphaned Werewolf who knows nothing of her birth parents, to only be raised by a man who abuses her. She was Abandoned by just about everyone she has ever loved, the few who should have been forever where only there momentarily. This is rated for mature, there will be violence, sex, and strong language.
8 107 - In Serial34 Chapters
Miraculous Reveal One Shots / Shorts
This is a compilation of short reveal scenarios i've imagined as i watch mlb :) there are some short stories as you go through but mainly cute reveals :)hope you enjoy 👍disclaimer: i do not claim any rights to the mlb characters this is simply some fan fic :) all credits go to the miraculous team :)*i do not own the artwork used**COVER ART BY Czashi-Draws9 ON PINTREST*
8 200

