《[✓] Mate || Park Jihoon》Chapter 1.
Advertisement
"Park Jihan, cepat bangun! Mau sampai kapan kamu tidur terus, ini sudah jam tujuh pagi, jihan!."
Mama yang pagi-pagi sudah teriak-teriak di depan kamar Jihan itu harus mengelus dada karena menghadapi anak semata wayangnya ini.
Pintu kamar Jihan terbuka memperlihatkan gadis itu yang masih menguap dengan rambut acak-acakan, mama Jihan menggeleng tidak percaya melihat anaknya ini.
"Hoamm, Jihan ngantuk ma lima menit lagi ya."
"Tidak ada penambahan waktu, cepat siap-siap atau kamu terlambat masuk kampus hari ini, mau sampai kapan kamu membuat mama harus di tegur dosen kamu karena ulah kamu yang selalu datang terlambat, jihan!."
Jihan tak mendengarkan melainkan memejamkan matanya bersandar di pintu kamarnya, ia sesekali mengangguk pelan yang membuat mama nya kehabisan akal sehat untuk menghadapi anak satu-satunya ini.
"Kamu dengerin mama gak si Han!." Sarkas Mama.
"Dengar kok ma, aku dengar mama marahin aku kan tadi, ini masih pagi gak baik ngomel-ngomel, mending mama tunggu di meja makan ya aku mau mandi." Ucap Jihan.
"Mama udah gak ngerti lagi gimana caranya ngasih tau kamu Han." Ucap mama membuang nafas panjang nya sebelum Kembali berbicara,"Mama tunggu di meja makan, dalam sepuluh menit kamu gak turun liat saja nanti."
"Iyah Iyah Mama sayang, ini aku mau mandi kok, mama pergi turun duluan saja ya." Ucap Jihan membalikkan tubuh mama nya pelan untuk pergi dari kamar.
Saat mama nya sudah pergi dari kamarnya, Jihan masuk ke kamar dan mengambil handuk miliknya yang digantung di dekat lemari, ia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap pergi ke kampus.
Di meja makan sudah ada papa yang sedang menikmati kopi kesukaannya, papa yang melihat mama datang dengan wajah kesalnya sudah menebak jika wajah mama begitu pasti karena ulah anak perempuan nya yang tak lain adalah park Jihan.
"Kenapa?! Jihan susah dibangunin." Tanya papa.
"Ya kamu bisa lihat sendiri deh gimana anak kamu itu, mama capek banget setiap hari ada aja kelakuannya."
Papa tersenyum manis mengelus rambut istrinya itu guna memenangkan istrinya.
"Sayang, kamu tenang saja setelah ini papa yakin Jihan gak akan pernah bisa sebebas ini, kamu harus ingat kalo keluarga kita sudah mengadakan pertemuan untuk membahas mengenai perjodohan Jihan dengan keluarga Park."
"Iyah mama tau, tapi apa papa yakin Jihan mau menerima perjodohan ini?!."
"Mau menolak bagaimanapun, perjodohan ini sudah ada dari dulu, contohnya seperti kamu saja dulu dijodohkan sama papa selalu menolak keras tapi akhirnya Nerima juga kan."
"Ih apaan si kok jadi bahas kejadian dulu, itu udah masa lalu ya pa jangan dibahas lagi." Ucap mama terkekeh kecil mengingat dulu ia juga pernah menolak keras tapi akhirnya menerima perjodohan ini sampai sekarang.
"Oh ya, jadi kapan kita akan bertemu dengan keluarga Park?!." Tanya mama.
"Besok malam, kebetulan papa semalam abis teleponan untuk membahas mengenai perjodohan ini dan mereka bilang besok malam akan datang ke rumah kita."
Advertisement
"Jihan gak setuju!." Mama dan papa yang mendengar suara putrinya itu menoleh ke samping dimana Jihan berdiri.
"Jihan, duduk sini papa mau bicara sama kamu."
Jihan berjalan mendekati meja makan lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan papa nya.
"Pa, Jihan gak mau di jodohin, aku masih mau kuliah pa."
"Jihan dengerin papa ya, usia kamu sudah dua puluh satu tahun kamu sudah dewasa sayang, di keluarga kita memang ada yang namanya perjodohan mama dan papa juga dulu seperti itu kok, kamu tenang saja untuk masalah kuliah kamu masih bisa kuliah seperti sekarang tapi bedanya kamu sudah memiliki suami nanti."
"Tapi usia aku masih muda pa masa udah nikah aja si."
"Mama malahan dulu nikah sama papa saat usia mama sembilan belas tahun dan papa dua puluh tahun, emang kamu pikir mama dulu mau nerima perjodohan ini?! Gak sayang, mama menolak perjodohan ini."
"Terus kenapa mama nikah sama papa?!."
"Karena mama gak punya pilihan lain selain menerima dan menjalankan perjodohan ini, awalnya mama pikir mama gak akan bahagia nikah sama papa kamu, tapi ternyata itu semua salah, mama justru bersyukur karena perjodohan ini mama bisa kenal papa."
"Tapi kan itu mama bukan Jihan, kalo Jihan gak bahagia sama laki-laki yang di jodohkan sama Jihan bagaimana?! Kalo dia kasar sama Jihan, gimana?! Kalian gak kasihan apa sama Jihan anak kalian yang cantik imut menggemaskan ini."
"Dengar sayang, papa dan mama percaya kalo laki-laki ini bisa menjaga kamu dan bisa menjadi suami yang baik untuk kamu, masalah suka atau tidak kamu tidak perlu memikirkan itu, papa yakin kok setelah kalian menikah dan saling beradaptasi satu sama lain, rasa cinta itu akan datang dengan sendirinya, percaya sama papa ya."
Jihan menarik nafas panjang nya dan dihembuskan perlahan, ia tak ada pilihan lain selain menerima perjodohan ini, entah apa yang akan terjadi nanti biarkan itu dipikirkan nanti oleh Jihan.
Jihan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Baiklah, aku mau menerima perjodohan ini, aku percaya dengan pilihan papa dan mama, aku bersedia."
Mama dan papa yang mendengar Jihan menyetujui perjodohan ini pun bisa bernafas lega dengan senyum bahagia di bibir mereka.
"Akhirnya kamu bersedia juga, terimakasih sayang." Ucap papa tersenyum lebar.
"Sama-sama, jadi kapan aku bisa ketemu calon suami aku?!."
"Besok malam mereka akan datang ke rumah kita, jadi mama harap kamu bisa bersiap-siap nanti."
"Baiklah, kalo gitu aku berangkat kuliah dulu ya Ma! Pa." Jihan beranjak dari duduknya dan meraih tas ransel miliknya, sebelum pergi Jihan menyempatkan untuk mencium pipi mama dan papanya.
"Hati-hati dijalan Jihan." Ucap mama.
"Iyah ma!." Teriak Jihan yang berjalan keluar dari rumah.
*****
Jihan melangkahkan kakinya berjalan masuk di koridor kampus, pagi ini sudah banyak mahasiswa yang sudah berada di kampus, penampilan Jihan memang tidak di ragukan lagi mau dia memakai baju tomboy ataupun dress sekalipun dia tetap terlihat cantik.
Advertisement
"Yaa! Park jihan!."
Jihan yang mendengar namanya dipanggil itu pun langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang.
"Oh, selamat pagi Sooyoung." Ucap Jihan tersenyum manis menatap sahabatnya itu.
"Selamat pagi juga Jihan, tumben gak terlambat." Ledek Sooyoung.
"Sekali-kali aku harus rajin biar mama gak marah-marah terus." Ucap Jihan yang melanjutkan perjalanan menuju kelas, Sooyoung berjalan di samping Jihan.
"Oh ya, istirahat nanti kamu mau nemenin aku ke perpustakaan gak?! Ada yang mau aku pinjam di perpustakaan." Ucap Sooyoung.
"Boleh, mari kita pergi nanti." Ucap Jihan tersenyum lebar melirik Sooyoung dan melanjutkan perjalanan menuju kelas mereka.
Saat Jihan dan Sooyoung melewati lapangan basket yang memang ada di dalam basket mereka di kejutkan oleh teriakan seorang pria.
"HEI AWAS!."
Saat Jihan dan Sooyoung menoleh kearah lapangan basket, mata Jihan membelalak kala sebuah bola basket dengan mulusnya mengarah kearah nya dan mendarat tepat mengenai kepala Jihan yang membuat Jihan terjatuh ke lantai.
"Aaww.." ringis Jihan memegangi kepalanya.
"Astaga, Jihan kamu baik-baik saja?!." Tanya Sooyoung, Jihan yang kesal lalu berdiri mengambil bola basket itu.
"Yaa! Siapa yang melempar basket kearah ku ha! Ngaku kalian!." Teriak Jihan.
"Aku." Jihan menoleh ke samping kanan dimana ada seorang pria berdiri memakai kaos hitam dengan celana pendek hitam tak lupa wajah datarnya.
"Bisa kau kembalikan basket ku." Ucap pria itu tanpa ekspresi senyum sama sekali.
"Yaa! Park jihoon! Kau pasti sengaja kan melempar basket ini ke arah ku, ngaku!."
Jihan akan selalu emosi jika bertemu pria seperti park jihoon, pria datar yang memiliki sifat dingin dan tidak banyak bicara ini sangat terkenal di kampus, bahkan, tak aneh jika banyak wanita yang menyukainya di kampus.
"Kembalikan basket itu." Ucap jihoon.
"Tidak mau, minta maaf dulu baru akan aku kembalikan basket ini." Ucap Jihan.
"Aku tidak salah, cepat kembalikan basket itu." Ucap jihoon.
"Jihan sudahlah kembalikan saja." Bisik Sooyoung, namun, Jihan menggelengkan kepalanya cepat.
"Dia harus minta maaf dulu karena sudah berani mengarahkan basket ini kearah aku, kamu pikir kepala aku gak sakit kena basket?! Sakit young." Ucap Jihan mengerucutkan bibirnya.
Jihoon yang paling malas berlama-lama pun memutar bola matanya malas kemudian mengambil bola basket itu dari tangan Jihan.
"Kamu pikir aku akan minta maaf, begitu?! Park jihoon gak pernah minta maaf duluan, mengerti."
Jihoon pergi membawa bola basketnya itu meninggalkan Jihan yang menatapnya tajam, bagi seorang Jihan, park jihoon dimatanya itu gak ada sisi tampan nya tapi sisi nyebelin nya mungkin banyak.
"Yaa! Park jihoon lenyap saja kau dari dunia ini!! Aish, kesal sekali aku lama-lama dengan pria itu." Sarkas jihan menghentak kaki nya di lantai.
"Jihan sudahlah tenang, kamu seperti baru kenal jihoon saja, dia memang begitu kan anak nya, sudahlah lebih baik kita masuk kelas sekarang." Ucap Sooyoung meraih tangan Jihan dan menarik nya untuk pergi dari lapangan basket.
Jihoon melirik kearah Jihan yang ditarik tangan nya oleh Sooyoung, jihoon dan Jihan memang tidak akrab tapi jihoon sangat suka membuat gadis itu kesal karenanya, hanya Jihan gadis pertama yang membuat jihoon tertarik.
"Kalo suka kenapa tidak didekati saja?!."
Jihoon menoleh kebelakang dimana teman dekatnya mashiho sedang meledek kearah nya.
"Aku tidak menyukai gadis itu, hanya suka saja melihatnya kesal seperti tadi." Ucap jihoon lalu melempar bola basket sampai masuk ke ring basket.
"Kau memang aneh jihoon, di kampus ini hampir semua wanita menyukai kamu tapi hanya ke gadis itu saja kamu tertarik."
"Entahlah, aku juga tidak tau." Ucap jihoon lalu melempar bola basket itu kearah Shiho,"Mari bertanding lagi sebelum kelas di mulai."
"Ck, siapa takut, aku akan mengalahkan kamu setelah ini." Ucap Shiho.
*****
Di kelas, Jihan dan Sooyoung sedang serius memperhatikan dosen di depan, mereka menulis apa saja yang penting-penting di buku tugas mereka.
Saat sedang serius memperhatikan dosen, mata Jihan menatap ke arah pria yang masuk ke dalam kelas siapa lagi kalo bukan park jihoon, pria itu masuk dan duduk di meja paling atas di pojokan.
"Jadi dia ngambil jurusan yang sama dengan ku, aish bisa-bisanya aku satu jurusan dengan manusia menyebalkan seperti dia." Batin Jihan menatap jihoon dengan mengerucutkan bibirnya.
Sooyoung yang penasaran dengan Jihan mengikuti arah pandang Jihan, kemudian tersenyum jail saat tau siapa yang sedang dilihat oleh Jihan.
"Aku tau dia tampan tapi gak perlu dilihat sampai segitunya." Bisik Sooyoung sambil tertawa kecil.
"Ih apaan si gak jelas deh kamu." Ucap Jihan yang langsung kembali menatap kearah dosen, Sooyoung hanya bisa menggeleng kecil melihat Jihan yang mengalihkan pertanyaannya.
*****
Sesuai dengan ucapannya kini Jihan sedang menemani Sooyoung mencari buku di perpustakaan, saat Jihan sedang mencari buku di rak yang berbeda dengan Sooyoung, ia mencari-cari buku yang bisa dia nikmati selain buku pelajaran.
"Huh.. seharusnya mahasiswa di sini tuh demo biar diadakan rak buku novel atau tidak komik di sini, benar-benar membosankan aku berkeliling tapi tidak ada buku lain selain pelajaran." Gumam Jihan.
BRUKK!!
Jihan yang berjalan mundur tidak melihat seseorang dibelakang nya itu menabrak tubuh orang itu yang membuat Jihan hampir saja terjatuh jika seseorang itu tidak menahan tubuh Jihan.
Jihan menatap wajah pria yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai, Jihan terdiam saat tatapan mata mereka bertemu.
Saat mereka berdua tersadar, Jihan pun langsung berdiri semula dengan wajah canggung nya begitupun pria tinggi di sampingnya.
"Maaf saya tidak sengaja." Ucap Jihan.
Pria itu menatap wajah Jihan, pria itu tersenyum kearah Jihan yang membuat Jihan menelan Saliva nya kasar karena pertama kali dia melihat pria yang tersenyum manis kearahnya.
"Tidak apa-apa, saya juga minta maaf karena tidak melihat jalan." Ucap pria itu, suara lembut nya menusuk Indra pendengaran Jihan.
Pria itu menjulurkan tangannya kearah Jihan,"Saya sungchan."
"Park Jihan, panggil saja Jihan." Ucap Jihan menerima jabatan tangan dari sungchan.
Advertisement
- In Serial1363 Chapters
VRMMO: The Unrivaled
Lu Chen used to be a ranker of the most popular VRMMO game, Spirit of Grief. After a car accident turned his dreams into dust, his disability left him incapable of escaping the pit of mediocrity he was thrown into. Helpless and defeated, his story ended.Two years later, the Eternal Moon Corporation launched a new VRMMO called "Heavenblessed", and Lu Chen stumbled into another terrible accident that left him in a complicated situation far beyond his ability to handle. That won't stop him from rising to the top, however. Not again.Come witness the rise of the sword-wielding zombie and the relationships he makes during his journey to the apex! For riches and bi- ahem, for career and love!He wields a demonic sword from Hell, he dons armor shining with Heaven's light. His boots stride across the sky as his helmet devours the souls of his enemies. On his left side sits the Goddess of Death. On the other, the Angel of Beauty.From the land of ice and death, a generation of Asura Kings rises, their roars reverberating throughout the world.Tremble in fear, noobs!
8 8158 - In Serial1353 Chapters
Refining the Mountains and Rivers
A young man's life changes when he stumbles upon a mysterious item. Qin Yu had never been a lucky person. Weak of body, bullied by his peers, and with only his friend as his family, he struggles day-by-day to live. But everything changes when he stumbles upon a little blue lamp. An immortal and demonic cultivating adventure.
8 3346 - In Serial2455 Chapters
Mortal Cultivation Biography
A poor and ordinary boy from a village joins a minor sect in Jiang Hu and becomes an Unofficial Disciple by chance. How will Han Li, a commoner by birth, establish a foothold for himself in in his sect? With his mediocre aptitude, he must successfully traverse the treacherous path of cultivation and avoid the notice of those who may do him harm. This is a story of an ordinary mortal who, against all odds, clashes with devilish demons and ancient celestials in order to find his own path towards immortality.
8 1057 - In Serial1503 Chapters
Dragon Prince Yuan
Destiny stolen at birth, the prince of the once mighty Great Zhou Empire, Zhou Yuan, has been plagued all his life by a fatal poison, forced to suffer powerlessly until one day when fate draws him into a mysterious domain where he meets a beautiful girl in green, a bizarre dog-like creature and an unfathomable old man in black.Join Zhou Yuan as he is thrust into the whirlpool of destiny while he seeks the pinnacle of cultivation.
8 1060 - In Serial677 Chapters
Ranker's Return
In the early days of the virtual reality game, Arena, meleegod was the strongest ranked player! He deleted his character and suddenly left. In order to restore his bankrupt family, he returned to Arena!"Do you want to create a character?"
8 1719 - In Serial1525 Chapters
Monarch of Evernight
Qianye rose from hardship but was felled by betrayal. From then, one man, one gun; he tread the path between Evernight and Daybreak and became a legend. Even if Evernight was destined to be his fate, he still intends to become the ruler who dictates.
8 22867

