《Timeless [ Kaisoo GS] ✔️》#15 (END)
Advertisement
in the haze of hell, I have dreamt that you'd lift this wing and see you are my first wound _ and that long ago, in some distant past, with open eyes, I kissed you till it bled.
Ciardha - Segovia Amil
Kyungsoo membuka matanya perlahan dan tersadar penuh, menyadari dirinya berada dikamar yang sama yang selalu dia lihat setiap harinya namun untuk pertama kalinya juga dia merasa asing dikamar itu, terlalu banyak cahaya yang menyambutnya seolah dia lupa untuk menutup jendela dan mematikan lampu. Satu hal yang bahkan hampir tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Gadis itu merangkak duduk melihat sekeliling sebelum akhirnya tertuju pada kedua telapak tangannya. Mimpi, entahlah semuanya tampak seperti mimpi yang begitu mengerikan namun terlalu nyata jika hanya sebuah mimpi. Dia bahkan masih bisa melihat beberapa luka gores di sepanjang lengannya dan rasa ngilu dikaki dan lengannya salah satu bukti bahwa hal itu bukanlah mimpi belaka.
Tak lama kemudian seseorang membuka pintu membuat perhatiannya tertuju pada pintu. Heboh, mungkin itu satu perumpamaan yang terjadi sekarang mengingat pria itu langsung menghambur kearah Kyungsoo, menggenggam kedua tangannya. Pria itu tak berhenti mengucap syukur dengan menggenggam erat kedua tangan Kyungsoo kearah keningnya.
"Oppa. . ." Satu kata meluncur dari bibir Kyungsoo. Yang membuat pria itu mengangkat kepalanya mengangguk dalam diam seolah tidak akan mengintrupsi apapun sebelum gadis itu bicara.
" Jong-in, dia baik-baik saja bukan?"
***
Suho hanya bisa menghela nafas lelah, entah apa yang harus dia lakukan agar Kyungsoo bicara. Gadis itu hanya diam sejak kata terakhir yang keluar dari mulutnya. Dia merasa bodoh mengatakan bahwa Jong-in hilang.
Yah... pria itu hilang di lokasi kejadian, Baekhyun yang saat itu menjadi satu-satunya saksi yang masih sadar pun bilang bahwa Jong-in jatuh kejurang bersama Yeonhee. Dan untuk Yeonhee, gadis itu tewas di tempat yang sama seperti tempat kematian Sehun. Satu-satunya tangis yang terdengar saat jenazah Yeonhee diangkat dari jurang adalah suara ibunya namun tidak ada sedikitpun jejak dari Jong-in.
Satu-satunya orang yang mengintip ke pinggir jurang setelah Yeonhee dan Jong-in jatuh hanya Kyungsoo, namun gadis itu pula yang sekarang diam. Dia memang tertidur hampir 5 hari dan sekarang setelah bangunpun dia sama sekali tidak bicara, yang dia lakukan hanya mengangguk, menggeleng dan tersenyum.
"S.suho~ya. . ." Ujar seseorang sambil meneyntuh lembut bahunya. Yixing masih mengusap bahu pria itu sampai pria itu memilih menarik tangannya hingga dia berdiri dihadapan Suho dan dengan satu tarikan pria menenggelamkan wajahnya diperut Yixing.
" semuanya sudah berakhir, Kyungsoo hanya syok mengertilah, hm?" Ujar Yixing berusaha menenangkan Suho tapi pria itu masih diam.
Dia tidak bisa melihat adiknya seperti mayat hidup seperti itu, entah bagaimana ada sisi didalam dirinya membuatnya menyalahkan Jong-in sekalipun pria itu sudah menggagalkan kematian Kyungsoo namun yang sekarang pun hampir tidak ada bedanya. Tak lama kemudia terdengar suara bel rumah yang ditekan tidak sabaran yang membuat Suho mendengus tidak suka.
"Biar aku yang membukanya." Usul Yixing dan berjalan kearah pintu. Gadis itu tampak terkejut saat melihat Baekhyun berdiri didepan rumahnya.
Oh, jangan lupa Baekhyun juga cukup terkejut saat melihat Yixing dihadapannya.
"Anu apa yang anda. . . " tanya Baekhyun yang terlihat ragu namun Yixing dengan cepat menangkap apa yang akan ditanyakan oleh Baekhyun.
"Aku kekasih Suho, kau mau bertemu Kyungsoo bukan? Dia ada dikamar." Ujar Yixing sedikit membuat Baekhyun terkejut dan berniat melempar beberapa pertanyaan namun pada akhirnya enggan dia lakukan, dia memilih berlari masuk tanpa permisi.
Advertisement
Suho yang melihat Baekhyun berlari tanpa menyapanya hanya menyeringit bingung dan berniat menegurnya saat Yixing datang mencegah pria itu.
" Baekhyun pasti punya cara, kita hanya perlu menunggu, hm?"
***
Kyungsoo masih tidak mengerti kemana Baekhyun akan membawanya, yang jelas dia memaksanya untuk ikut, Kyungsoo awalnya menolak namun Baekhyun bersikeras bahwa Kyungsoo akan menyesalinya jika dia berani menolaknya. Disinilah dia didalam mobil yang melaju cepat menembus keramaian ibu kota dan memasuki daerah sejuk penuh pepohonan.
Pemandangan itu biasanya menarik perhatian Kyungsoo tapi isi kepalanya melayang entah kemana dia benar-benar tidak memperhatikan jalan dan hanya diam.
"Kyung. . ." Ujar Baekhyun akhirnya berusaha memecah keheningan dan sepertinya mendapat respon cukup baik.
" Apa Chanyeol baik-baik saja Baek?" Bukan Baekhyun yang bertanya, Kyungsoo memilih membuka topik lebih dulu. Entahlah dia merasa tidak nyaman jika Baekhyun juga harus menanyakan Jong-in.
"Dia baik, meski tidak cukup baik untuk bangun dari atas ranjang."
"Syukurlah" gumam Kyungsoo dan gadis itu kembali diam.
"Chanyeol, bukankah dia menyukaimu Baek?" Tanya Kyungsoo lagi yang sebenarnya asal dia ucapkan. Entahlah dia benar-benar ingin menjauh dari topik yang membahas kejadian di tebing itu dan juga Jong-in.
"Arra. . ."
"Lalu?" Baekhyun tampak menghela nafas lelah namun matanya masih fokus ke jalan, tentu dia tidak mau mati konyol karna kecelakan.
"Dia mengajakku menikah, bahkan setelah dia bangun tidak ada kata lain kecuali 'ayo menikah' kurasa mantan kekasihmu benar-benar sinting" dengus Baekhyun.
Yah dia memang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Chanyeol. Dia yang ketakutan setengah mati saat pria itu tak kunjung membuka matanya dan saat dia membuka matanya bukan kalimat penenang seperti 'berhenti menangis' atau 'aku baik-baik saja' dia malah melamarnya dengan tampang bodoh.
"Lalu jawabanmu?" Tanya Kyungsoo lagi yang kali ini membuat tubuh Baekhyun menegang, dia rasa dia tidak perlu menjadi profesor untuk tau apa jawaban Baekhyun setelahnya dan jelas membuat Kyungsoo tersenyum dibuatnya.
"Ya. Yak! Jangan mentertawakanku, dia yang mengambil kesempatan dalam kesempitan"
"Yoksi, Chanyeol memang selalu melihat peluang agar tidak ada yang bisa menolaknya" ujar Kyungsoo mengangguk nyatanya dia pernah terjebak oleh pria itu. Baekhyun tentu mengangguk setuju dengan pernyataan Kyungsoo.
" Jadi kapan kalian menikah, kuharap kau bersabar menunggu kakiku sembuh" ledek Kyungsoo yang membuat Baekhyun mendengus kesal.
" Kau sudah bisa meledekku ternyata." Ujar Baekhyun yang seketika membuat senyum diwajah Kyungsoo hilang. Ya tentu Baekhyun tahu Kyungsoo hanya sedang mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?"
"Kita sudah sampai" ujar Baekhyun yang tanpa Kyungsoo sadari sudah memasuki pelataran rumah yang sangat Kyungsoo kenal. Rumah yang pernah dia singgahi bersama Jong-in dan juga tempat pertama kali pria itu. . .
"Darimana kau tahu tempat. . ."
" Jong-in, dia yang memberitahuku tempat kencan rahasia kalian." Ledek Baekhyun sambil melepas sabuk pengamannya kemudian turun dan mengitari mobil lalu membuka kan pintu untuk Kyungsoo dan membantu gadis itu untuk naik keatas kursi roda.
Ada seorang wanita, cukup tua dengan baju suster lengkap dengan kalung salib yang menggantung dilehernya lalu seorang anak laki-laki yang mungkin berusia 5 tahunan bersembunyi dibelakangnya, tampak tidak asing namun dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
"Bibi Hwang?" Tanya Kyungsoo memastikan dan wanita paruh baya itu hanya mengangguk mendekat kearah Kyungsoo lebih tepatnya berlutut lalu meremas kedua tangannya Kyungsoo dan tentu membuat gadis itu tidak nyaman.
Berbeda dengan wanita paruh baya itu, anak laki-laki itu hanya dia tertegun seolah mengenalnya namun juga terlihat terkejut entah karna apa.
Advertisement
"Bibi bersyukur kau baik-baik saja nak. Kau pasti kesulitan selama ini" ujar wanita itu sambil terus mengusap tangan Kyungsoo dia bahkan terlihat hampir menangis entah karna apa Kyungsoopun tidak tahu.
"Bibi bangunlah, jangan seperti ini"
"Kalian tiba-tiba menghilang membuat bibi khawatir. Ingatanmu sudah kembali nak?" Tanya wanita itu yang terlihat tengah memastikan. Kyungsoo nampak ragu namun tetap mengangguk sebagai jawaban.
" tidak sepenuhnya tapi. . ."
" tidak apa, kau melakukannya dengan baik nak. Tuhan melindungimu sayang" ujar wanita itu yang tak hentinya mengucap syukur. Tidak dengan wajah bingung Kyungsoo dia masih belum bisa memahami maksud kedatangannya sendiri ketempat ini.
"Min joon~a, ayo sapa nunna" perintah wanita peruh baya itu yang membuat anak laki-laki yang sejak tadi bersembunyi di balik punggungnya mengintip ragu. Kyungsoo tidak pernah melihat anak itu, karna pada dasarnya ingatannya tidak kembali seperti semula, hanya potongan-potongan kecil.
"Kalian dulu sangat lengket satu sama lain." Ujar wanita paruh baya itu lagi yang membuat Kyungsoo merasa tercubit karna tidak bisa mengingatnya. Dengan sedikit dorongan pada kursi rodanya, dia mendekat kearah anak itu, mengulurkan kedua tangannya memberi isyarat pada anak laki-laki itu untuk mendekat.
Minjoon berdiri di depan Kyungsoo sebatas bentangan tangan Kyungsoo, setidaknya hingga gadis itu bisa menggenggam kedua tangan anak itu.
"Namamu Minjoon?" Tanya Kyungsoo dan anak itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Maafkan nunna karna melupakan Minjoon, nunna sempat sakit hingga melupakan Min joon dan yang lain. Minjoon mau memaafkan nunna?" Pinta Kyungsoo tulus namun anak itu masih diam, dia hanya menunduk sambil mencengkram kuat tangan Kyungsoo hingga setitik air mata jatuh yang membuat Kyungsoo sontak kaget.
"Mi. .minjoon~a. . ."
"Hyung. . Hyung bahkan hiks hyung bahkan tidak mau hiks membuka matanya, se.. hiks sekarang nunna melupakan hiks Minjoon" ujar anak itu yang membuat Kyungsoo merasa teriris dan tanpa sadar menarik tubuh Minjoon dan memeluknya erat. Bukan berhenti menangis, anak itu menangis makin keras dan membuat Kyungsoo makin merasa bersalah.
"Maafkan nunna Minjoon~a. . ." Rapal Kyungsoo berkali-kali namun anak itu masih menangis dan mencengkram tubuh Kyungsoo kuat-kuat seolah tidak akan melepaskan Kyungsoo apapun yang terjadi. Sedangkan Kyungsoo berusaha menenangkan Minjoon dengan menepuk punggungvanak itu dan mengusap lembut berharap tangisnya reda.
"Hyung. . . Tidak hiks hiks tidak mau bangun nunna. . ." Adu anak itu yang membuat Kyungsoo makin bingung, pasalnya dia tidak paham siapa yang Minjoon maksud.
"Hyung nugu, Minjoon~a. . ." Tanya Kyungsoo yang kali ini membuat Minjoon terdiam. Anak itu mundur perlahan melepaskan Kyungsoo, wajah kagetnya tak kalah membuat Kyungsoo bingung.
" Nunna juga melupakan Hyung?" Tanya anak itu yang tampak tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Minjoon. . ." Panggil Baekhyun yang tiba-tiba berjongkok di sisi tubuh Minjoon mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu mengusap jejak air mata yang membasahi pipinya lalu mengusap kepala anak itu perlahan dengan lembut.
"Kyungsoo nunna ingin melihat hyung, Minjoon bisa mengantar nunna bukan?" Ujar Baekhyun yang kali ini juga membuat Kyungsoo bingung, entah siapa yang mereka maksud, sedangkan Minjoon mengangguk lalu memposisikan diri dibelakang kursi roda Kyungsoo dan berniat mendorong Kyungsoo.
Kyungsoo melempar tatapan pada Baekhyun meminta penjelasan, namun gadis itu hanya tersenyum dan seolah memintanya untuk diam dan ikut. Dan Kyungsoo akhirnya memilih diam dan membiarkan dua orang itu membawanya.
Tiap langkah yang dia lewati hanya pepohonan, mereka memang melewati rumah utama dan terus berjalan hingga menemukan rumah minimalis dipenuhi dengan kaca seolah merasa deja vu dengan apa yang dia lihat.
Kyungsoo masih tidak berkomentar saat Baekhyun dan Minjoon membawanya masuk kerumah itu. Sunyi, tidak ada suara apapun di rumah itu, namun saat mereka mendekati sebuah ruangan, bunyi alat deteksi jantung terdengar cukup keras yang membuat Kyungsoo yakinada seseorang didalam sana.
"H.hyung. . . Minjoon masuk" gumam anak itu di depan kubang kunci sebelum mendorong pintu dan membukanya lebar-lebar.
Kyungsoo masih diam tidak mengerti namun detik berikutnya tangisnya pecah, dia bahkan menutupi mulutnya yang hampir menjerit histeris saat melihat sosok yang beberapa hari terakhir dia cari. Gadis itu langsung menggenggam tangan kurus orang itu.
Dia hampir tidak mengenalinya, dia terlalu kurus terlebih dengan rambutnya yang tampak dipotong asal, tampak panjang dan berantakan.
"A. . Apa yang terjadi, dia tidak mungkin. . . " ujar Kyungsoo tampak meminta penjelasan pada Baekhyun.
Gadis itu tidak berkata apapun, dia hanya menyerahkan sebuah surat pada Kyungsoo dan membawa Minjoon kesisinya.
"Itu pesan yang dia titipkan padaku. Bacalah"pinta Baekhyun sebelum berlalu pergi meninggalkan Kyungsoo sendiri diruangan itu. Dengan perlahan Kyungsoo membuka lembar itu dan membaca perlahan mulai dari baris pertama.
Detik berikutnya hanya terdengar jerit tangis Kyungsoo yang terdengar penuh putus asa .
***
Kyungsoo terdiam, dia tidak bergeming. Masih menatap jauh kearah bawah lembah yang sepertinya pernah dia kunjungi dengan pria itu meski sekarang tampak berbeda, dulu tempat itu hanya lembah biasa yang tersembunyi di balik hutan namun sekarang berubah menjadi lembah yang tersembunyi dibalik rumah minimalis. Dia memang meminta Baekhyun membawanya ketempat dimana dia bisa melihat matahari tenggelam.
Tidak dia bukan penggemar sunset, dia lebih menyukai sunrise yang hangat dan menyilaukan dibanding sunset yang tampak menyedihkan.
Kyungsoo tersenyum miris saat mengingat satu kata yang pernah ia ucapkan pada pria itu. Di tangannya masih dia pengang surat peninggalan Jong-in. Yah. . . Yang tergeletak tak berdaya didalam sana adalah Jong-in yang sekarang yang akan bangun dua tahun mendatang.
"Dasar bodoh. . ." Gumam Kyungsoo tanpa sadar bersamaan dengan setes air mata yang membasahi pipinya.
"Aku tidak pernah memintamu membangun rumah disini."
"Tapi kau menyukainya bukan?" Ujar seseorang yang membuat Kyungsoo tersentak kaget.
"Ti. .dak mungkin"gumam Kyungsoo
" ternyata masih sempat. . " kekeh pria itu sambil berjalan menghampiri Kyungsoo mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukannya dipagar balkon tempat dimana mereka berdiri sekarang. Mereka tampak diam tidak satupun dari mereka berusaha melepaskan pandangan mereka.
Sebelum akhirnya Kyungsoo mengangkat tangannya mengusap lembut wajah pria itu.
"Kau baik-baik saja. . ."
"Setelah terjun ke jurang? Hampir mati tentu saja" ujar pria itu setengah bercanda dan detik berikutnya sebuah pukulan yang melayang ketubuh Jong-in.
"Brengsek! Kenapa kau menghilang begitu saja! Kau tidak tahu. . ." Ucapan Kyungsoo tercekat saat Jong-in mencengkram tangan Kyungsoo dan mengecup sekilas bibir Kyungsoo.
"Waktuku tidak banyak. . ." Ujar Jong-in sambil menyusupkan sebuah cincin kejari manis Kyungsoo.
"Tetaplah hidup sampai aku membuka mataku mengerti?" Ujar Jong-in sambil menangkup kedua belah pipi Kyungsoo dan tangis gadis itu kembali pecah.
"Tidak tidak, jangan menangis kumohon. ."
"Kau akan pergi." Isak Kyungsoo namun Jong-in menggeleng sebagai jawaban.
"Aku selalu disini." Ujar Jong-in
" Dan selalu mencintaimu. . ." Bisik Jong-in yang membuat Kyungsoo tanpa sadar mengalungkan lengannya keleher pria itu dan menempelkan keningnya pada kening Jong-in.
"Nado. . ."
Detik berikutnya entah siapa yang memulai namun saat bibir itu menyatu hanya terasa keputusasaan dan kerinduan. Tidak ada yang berniat melepaskannya hingga sinar matahari itu lenyap bersama sosok pria yang memeluknya. Tidak ada duka, hanya senyum perpisahan karna pada akhirnya dia hanya perlu menunggu hingga matahari kembali padanya.
--
Advertisement
- In Serial425 Chapters
Rise
Su Xue, a woman in her mid 20s, is struggling both in paying rent and finding her path in life. Her latest stint has her trying to become a popular League of Legends streamer, though to poor results. One day, she is interrupted in the middle of a livestream by a surprise visit from her landlady. She is informed that she will be having a new roommate. The landlady’s nephew, Lin Feng, a 18 year old boy who has just transferred over to Shanghai for his last year of high school.Though initially opposed to it, Su Xue reluctantly agrees to the arrangement. She learns that the two share a common interest—League of Legends—and that he’s really amazing at the game. Lin Feng also reveals to her he wishes to become the best professional League of Legends player in the world.The next day. Lin Feng attends his first day of school as a transfer student at High School 13. He meets Ouyang and Yang Fan, and the trio find a common passion in League of Legends. Lin Feng is then introduced to Ren Rou, the president of the esports club with a fiery personality, and Tang Bingyao, a quiet bookworm with a love for money and a surprising talent for the game.A little about Lin Feng’s past is revealed. He was a once pro player, the youngest in history and a contender for the best player in the world. Until the finals of the Season 1 World Championship. There, he lost to his arch-rival, an equally brilliant Korean youth. That was the peak of his career, and also the turning point in his life. He stepped down from his team and disappeared from competitive play altogether. Now, after a four year long hiatus, he aims to make a comebackOver the next couple of weeks, Lin Feng learns about the upcoming Shanghai 16 School Tournament, and that his school’s esports club had performed especially poorly the previous year. He agrees to coach the club’s team and help them win the first place trophy this year. And so, he starts the members of the club out on an intense training bootcamp.Meanwhile, the Season 5 League of Legends World Championship is taking place at around the same time. Tian Tian, one of Lin Feng’s former teammates and best friend, is on one of the Chinese teams playing at Worlds. After a poor showing, he is on the verge of a mental breakdown. Lin Feng witnesses everything in a viewing party with the esports club members and becomes worried.On the day of the Shanghai 16 School tournament, Lin Feng reunites with Tian Tian on the phone. He tells Tian Tian he’s going to return to the professional scene, that he’s making a new team and plans to invite him. But Tian Tian has to vow not to give up at Worlds and keep winning. Tian Tian agrees, and Lin Feng promises he’ll fight alongside him. Lin Feng then heads into his match with renewed resolve, to climb from the bottom all the way back to the top, and overcome the rival that defeated him so many years ago.
8 1144 - In Serial479 Chapters
Phoenix's Requiem
Painfully shy and conflict-averse, Yun Ruoyan is a scion to a noble house only in name, a puppet embroiled in political machinations beyond her ken. At the tender age of eighteen, poisoned and at death’s door, she finds herself thrown out into the streets. Her relatives have all been executed, betrayed by her dear husband and her cousin. With her dying breath, she curses her own weakness and swears revenge.When Yun Ruoyan awakens once more, she is thirteen, transported five years into the past by the will of the heavens. Her death-defying experience has changed her: no longer is she the malleable creature she once was. But more questions await at every corner—what is the truth behind the birthmark that disfigures her appearance? What are the circumstances surrounding her mother’s mysterious death?Will the phoenix rise from the ashes, or will she fall once more in thrall to fate?
8 653 - End489 Chapters
Poison Physician Consort
Follow Bai Luochu on a journey back to the peak as she reincarnates into the body of an orphaned daughter of the former great general of the Cloud Water Nation.With the Three Great Immortal Sects in front of her, her mortal enemies who caused her death, how would she rise to the top again?With her astounding medical skills and ability to create heaven defying poison, Bai Luochu heals the crippled meridians of her new body and attracts the attention of all three princes of the Cloud Water Nation!
8 1755 - End413 Chapters
Rebirth of a Fashionista: This Life Is Soo Last Season
Cinderella went from rags to riches, but when you are already at the top, fate is more than happy to kick you down. A car accident kicks off Sheng Jiaoyang's reverse Cinderella story by trapping her soul in the body of a poor girl, leaving her to succumb to fate and wait for her Prince Charming to come to her rescue -- obviously not!Like a phoenix rising out of the ashes, Sheng Jiaoyang forges her own way back up to the upper echelons of society, clearing obstacles, taking revenges, and bagging her handsome and rich childhood friend on the way.If you are tired of reading about poor damsel in distress waiting for a man to rescue her, and wants a female lead that can carry herself to the top, Rebirth of A Fashionista is the novel for you!
8 282 - End448 Chapters
The Attack of the Wastrel
Her rebirth gave her a second chance at life. She was back with a vengeance and wanted to make those that had harmed her pay. But to those that helped her, she wanted to repay them. Her evil stepmother? She would slowly pull out her claws, one by one. Her evil stepsister? She would crush her pride. She thought that by getting her revenge for her past life, she would be happy in this life. However, she never would have thought that danger would chance upon her time and time again. The hatred from her clan and whether their bloodline would continue to exist, lay solely on her shoulders. Luckily, on this thorny path, someone had always been protecting her. "Third Prince, have you ever regretted being with me?" That person laughed lightly and peered at her with a loving yet weary look, "As long as I am together with you, I have no regrets."
8 1466 - End401 Chapters
Demoness's Art of Vengeance
Jun Xiaomo, notoriously known as “Lady Demoness”, finds herself chained and bound in a dungeon. Her hard-earned cultivation has been completely crippled, and she has no means of escape. Qin Shanshan, a lady she used to called her “close friend”, mocks Jun Xiaomo, revealing that Jun Xiaomo had been used by the people around her. Even her lover, Qin Lingyu was one of the masterminds scheming against her. Jun Xiaomo watches her life flash before her eyes and realizes that she had indeed blindly placed her trust in people. Her naivety had led to her current predicament. Jun Xiaomo wanted to end it all. However, she is determined to deliver a swan song. Over the hundreds of days tormented in that very dungeon, Jun Xiaomo had painstakingly painted a complicated formation array with her own blood. With a determined look, Jun Xiaomo burns her life force to activate the array. Her sole intent? To bring with her as many schemers to the gates of hell as she could. The bright red light from thearray intensified, and the end was nigh.…or was it? Jun Xiaomo opens her eyes and finds herself alive again; time had rewound right back to when she was sixteen years of age, albeit only at the eighth level of Qi Cultivation. Armed with the knowledge and memories of her previous lifetime, Jun Xiaomo is determined to learn from her mistakes and bring retribution to those who so deserve…
8 379

