《Timeless [ Kaisoo GS] ✔️》#12
Advertisement
Even when darkness came while walking on this far path
We held hands and were always together
Do Kyungsoo - Crying out
Entah apa karna keberuntungan atau refleknya dan si sopir mobil itu begitu tajam yang jelas dia selamat.
" nona! apa kau gila?! bagaimana jika aku menabrakmu! kau tidak lihat lampunya masih merah! aku tidak mau tanggung jawab urus saja luka mu sendiri!!" seru pria paruh baya itu sebelum akhirnya kembali melajukan mobilnya meninggalkan Kyungsoo yang tengah di kerumuni orang-orang.
Tidak ada luka yang berarti, hanya lacet di siku dan pinggulnya yang terasa sakit karna terbentur badan jalan. Gadis itu langsung menoleh, mencari orang yang berkemungkinan besar mendorongnya dan dia hanya melihat seorang gadis yang tengah menutupi wajahnya sebatas hidung menggunakan tudung jaketnya dan menyeringai sebelum beranjak pergi dari balik kerumunan.
" Soo~ya gwaenchana? mana yang sakit katakan padaku eoh?" ujar Jong-in yang tiba-tiba muncul dengan wajah panik dia bahkan meneliti setiap jengkal tubuh Kyungsoo yang membuatnya mencengkram tangan Jong-in.
" Gwaenchana. . ." ujar Kyungsoo sambil berusaha mengulas senyum. tapi tidak dengan Jong-in, pria itu langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi dari jalan. Kyungsoo bahkan masih bisa merasakan tangan pria itu yang gemetaran.
"Aku baik-baik saja Jong-in~a. . . kau tak perlu. . "
"aku perlu Soo~ya. . . " potong Jong-in dengan mata yang menatap tajam kearah depan menuju mobilnya.
"karna aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika kau terluka "
***
Kris menyentak jas yang ia kenakan setelah turun dari mobil menatap tajam beberapa orang sudah berjejer menyambutnya dan seperti biasa, sekretarisnya, Ong Seongwoo berada di belakangnya. Dia tampak tidak menyukai tempat dimana dia berdiri sekarang, rumah besar yang menghancurkan keluarganya, tidak bukan rumah itu, tapi orang yang ada didalamnya yang menyerupai iblis. Pria itu bahkan tidak berniat untuk menyapa beberapa orang yang mungkin sengaja di pasang untuk melindungi rumah itu.
Pria itu terus berjalan mengikuti pengawal yang mengarahkannya hingga sampai di hadapan pria paruh baya yang tengah duduk dengan angkuhnya, membuat siapapun enggan mendekat atau mungkin menyapanya.
" kau datang juga, duduklah" ujar pria itu sambil meletakkan gelas yang ia pegang dan mengulas senyum yang sama sekali tidak indahkan oleh Kris, pria itu hanya membungkuk lalu duduk di hadapan pria itu, menatap dengan dingin pria paruh baya di depannya.
"Kapan kau datang ke Korea"
" kurasa anda tidak perlu berbasa-basi tuan, karna jelas anda tahu kapan saya mendarat disini"
" bagaimana dengan istrimu, kudengar . . ."
" sejak kapan kau peduli? Bahkan putramu meninggal di tangan putrimu sendiri saja kau bungkam." potong Kris yang terdengar sangat dingin, entah mengapa dia tidak suka dengan pria dihadapannya yang dulu sempat ia panggil ayah menanyakan kehidupannya. Tidak setelah kematian Sehun yang jelas merupakan putra kandungnya.
" ambil alih lah perusahaan karna aku sudah tua." ujar pria itu sambil mengangkat cangkir teh yang ada diatas meja lalu mengesapnya perlahan. Kris tidak menyadari bahwa tangan pria pruh baya didepannya gemetaran.
" Sudah kukatakan aku tidak butuh hartamu dan jika itu yang kau inginkan lebih baik saya pu. . "
" Yeon hee" potong pria itu tepat saat Kris berdiri untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Pria tua itu meletakan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal diatas meja yang membuat Kris menyeringit bingung dengan maksud pria tua itu.
" bacalah maka kau akan menemukan dimana Yeon hee" ujar pria itu lagi sambil meletakan cangkir itu diatas meja, bahkan senyum pria itu sedikit membuat Kris sakit. Terlalu lembut untuk ukuran tuan Oh yang terkenal dingin.
Dia memang menyadari bahwa pria dihadapannya ini sangat berbeda dari terakhir kali dia melihatnya, dia terlalu kurus dari sebelumnya bahkan dia bisa melihat sebuah plester luka kecil di punggung tangannya yang sangat jelas menujukan bahwa pria itu tidak baik-baik saja, terlebih senyum yang sama sekali tidak lepas dari wajahnya, sangat berbeda dari sosok pria tua yang ada diingatannya.
Advertisement
Kris melonggarkan dasi yang melingkar erat di lehernya lalu duduk kembali dikursi yang sama dan langsung mengambil berkas yang ada diatas meja. Wajahnya memperlihatkan bagaimana isi dokumen yang ada ditangannya yang bahkan tanpa dia sadari dia sudah merepas ujung dokumen yang dia pegang.
" dan satu permintaanku," celetuk pria itu yang membuat kris mengangkat kepalanya untuk menatap pria dihadapannya
" tangkap putriku itu hidup atau mati"
" putrimu? lucu sekali, kau yang membuatnya tumbuh seperti monster sekarang kau berniat menyuruhku membunuhnya? " ujar Kris sinis sambil menyerahkan dokumen itu pada Seongwoo
" Ya. kau benar, setelah itu kau boleh membunuhku dan sebelum itu, tanda tangan ini " pria tua itu bahkan sama sekali tidak menyangkalnya yang membuat Kris makin kesal, bahkan sangat jelas terdengar gemeletuk gigi pria itu.
" Sebenarnya apa yang kau inginkan"
" Manfaatkan saja pria tua ini selagi dia masih hidup dan yah hartaku ini sebagai kopensasi agar aku bisa melihat anak dan istrimu" ujar pria tua itu tanpa ragu bahkan hampir bisa di bilang terlihat sangat bahagia dengan ucapan yang baru saja dia katakan yang membuat Kris tidak tahan hingga dia langsung bangkit dari kursinya dan berjalan kearah pintu.
Pria paruh baya itu hanya menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya ke punggung sofa menghilangkan ketegangan di bahunya. yah. . .dia hanya pria tua yang kesepian dan meratapi kebodohannya.
" namanya Tao, Hwang Zi Tao" ujar Kris yang sama sekali tidak berniat membalik tubuhnya untuk sekedar menatap pria tua itu yang terlihat sangat bahagia mendengar apa yang Kris ucapakan.
" aku akan meminta istriku untuk mengunjungimu nanti dan lagi. . ."
" Jangan seperti itu lagi, karna kau tidak terlihat seperti dirimu, Abeoji" lanjut pria itu sebelum kahirnya menghilang dari balik pintu itu.
***
" Tunggu Zhang seongsaengnim, bagaimana bisa. . ."
" tidak adil jika kau berada di bangsalku Do Kyungsoo~sii." potong Yixing yang membuat Kyungsoo akhirnya bungkam, karna memang yang dikatakan Yixing semuanya benar. Sangat tidak adil jika dia di bangsal penyakit kejiwaan sedangkan residen lain berada di bangsal yang bisa di bilang untuk tidur saja sulit.
Yixing menghela nafas lalu menepuk bahu Kyungsoo yang membuat gadis itu mengangkat kepalanya .
" Aku tahu kau ingin belajar lebih banyak di bangsal ini, hanya saja kau juga harus tahu rasanya sebagai dokter karna kau dokter Kyungsoo~ya dan akupun tahu UGD bukan tempat yang mudah untuk residen, bahkan aku sekalipun, tapi setidaknya kau bisa belajar dari sana." ujar Yixing berusaha memberikan pengertian pada gadis dihadapannya.
Memang alasannya memindahkan Kyungsoo ke UGD memiliki alibi yang kuat_untungnya memiliki alibi yang kuat walaupun alasan sebenarnya karna permintaan Suho yang membuatnya mau tidak mau membuang gadis itu ke bangsal UGD. Dia bahkan bisa melihat kekecewaan yang tergambar di wajah gadis itu tapi semua ini juga demi kebaikannya.
"ah. . . bagaimana jika begini saja, kau ku beri izin untuk menangani Yanxi, karna ku rasa dia lebih terbuka denganmu di bandingkan dengan ku" celetuk Yixing yang membuat Kyungsoo seketika mengangkat wajahnya yang terlihat berbinar, seolah dia mnadapatkan jackpot yang sangat menguntungkannya.
" benarkah, Zhang seongsaengnim?! Tuhan terimakasih" jerit gadis itu yang langsung menghambur, memeluk Yixing yang membuat gadis itu tersentak kaget dengan gerakan implusif Kyungsoo, namun deik berikutnya dia langsung tersenyum sambil menepuk punggungnya.
" Syaratnya kau harus menyelesaikan tugasmu di UGD baru kau bisa menemui Yanxi. ah. . . kau bisa menemuinya sekarang"
" Zhang seongsaengnim, kau yang terbaik!"
" berhenti bertingkah seperti anak kecil! sudah sana pergi. " perintah Yi xing yang langsung mendapat anggukan semangat yang membuat gadis itu seketika berlari meninggalkan Yixing.
"Yak! jangan lupa laporanmu!"
***
" jadi kau di pindahkan ke UGD eonnie?" tanya gadis itu yang bahkan terlihat hampir menangis yang membuat Kyungsoo hanya tersenyum sambil mengalungkan lengannya di bahu gadis itu.
Advertisement
Disinilah mereka berdua, ditaman rumah sakit dengan tangan yang masing-masing memegang cup ice americano. Kyungsoo sengaja mengajak gadis ini keluar untuk menghirup udara segar sekaligus melihat respon gadis itu pada keramaian dan yah, gadis itu masih terlihat ketakutan hingga dia selalu bersembunyi di punggungnya bahkan saat dia kafetaria dia sama sekali tidak berani melepaskan cengkaramannya dari lengan Kyungsoo dan menyembunyikan wajahnya dipunggung Kyungsoo.
" hei kau tak perlu sedih seperti itu, kau kan sudah boleh keluar dari kamarmu " ujar krungsoo sambil mengusak rambut gadis itu.
" tapi kau jadi sangat sibuk. menyebalkan" sunngut gadis itu yang membuat Kyungsoo tersenyum geli, gadis ini memang baru berusia 20 tahun, masih di bilang anak-anak.
" aku masih bisa kekamarmu, Zhang seongsaengnim sudah mengizinkanku untuk itu tenang saja" ujar Kyungsoo yang kali ini membuat gadis itu tampak tersenyum dfengan binar diwajahnya.
"wooo. . . kau keren eonnie"
" kau juga keren, jangan pernah berpikir kau sendiri lagi, arra?" gadis itu hanya mengangguk, menjawab ucapan Kyungsoo yang membuat Kyungsoo kembali mengusak kepalanya. yah gadis itu tampak lebih baik dari sebelumnya dengan kaki dan tangannya yang terikat dan terlihat ketakutan pada siapapun yang yang terlihat di depan matanya.
" ah. . . Yanxi~ya, kau memiliki keluarga?" celetuk Kyungsoo yang seketika merubah air muka Yanxi, gadis itu langsung menunduk lalau menggeleng sebagia jawaban.
" maaf bukan maksudku, tapi jika kau tidak ada tempat untuk pulang kurasa aku bisa menyarankanmu tinggal di panti asuhan yang ku kenal. Kau mungkin bisa membantu suster disana dan aku tentu akan mengujungimu, kau mau?" Yanxi masih saja diam sambil menatap kakinya yang berayun karna tidak sampai menyentuh tanah terlebih kakinya yang masih terbungkus gips.
"jangan takut mereka tak akan menyakitimu"
" apa aku masih belum sembuh?" gumam gadis itu yang masih saja menunduk.
" kau sudah sembuh. siapa bilang kau sakit."
" angkat kepalamu, kau tidak akan menemukan uang di tanah yang ada kau malah akan jatuh tersandung" celetuk Kyungsoo yang membuat gadis itu seketika mengangkat kepalanya.
" kalau kau menunduk seperti itu, sama saja kau lemah, Yanxi~ya, kau akan terlihat sangat lemah sekalipun kau kuat dan kau akan terus diremehkan meskipun mereka tidak pantas meremehkanmu. Jadi, angkat kepalamu dan tatap orang yang bicara padamu agar tidak ada lagi yang meremehkanmu." terang Kyungsoo yang membuat Yanxi langsung menatap kagum mendengar ucapan Kyungsoo.
" kenapa keren bukan? sayangnya itu bukan kata-kataku. seseorang pernah mengatakan hal itu pada anak kecil dan tanpa sengaja aku mendengarkannya."
***
Suho menatap orang yang berada disudut cafe yang baru saja ia masuki dengan tatapan tidak suka, sedangkan pria yang berdiri disamping pria itu langsung mengenalinya dan membungkuk memberi salam hingga pria yang sejak tadi terdiam menyadari kehadiran Suho ikut berdiri. Dengan langkah gontai, suho berjalan mendekati pria itu.
" lama tak bertemu Suho~ya. . ." sapa Kris sambil mengulurkan tanganya kearah Suho hanya saja pria itu sama sekali tidak berniat membalasnya, dia langsung duduk dan menatap tajam kearah Kris.
" katakan saja apa yang kau inginkan, Kris, aku cukup lelah untuk basa-basi"
" kau berubah banyak ternyata"
" setelah tahu kau dalang dari kematian Sehun dan tragedi yang menimpa adikku, tentu aku harus berubah bukan?"
Kris sedikit tersentak kaget saat mendengar pernyataan Suho tapi dia juga tidak berniat mengelak saat ini karna memang itu yang sebenarnya. Pria itu langsung memberikan isyarat pada sekretarisnya untuk memberikan berkas yang sejak tadi ia bawa ke pada Suho.
" Kyungsoo dalam bahaya, kau tak akan bisa mengenali Yeon hee yang sekarang bahkan aku juga termasuk. itu semua berkas yang kau perlukan untuk menjebloskan aku dan adikku kepenjara walaupun semua itu tidak akan mengembalikan Sehun tapi setidaknya aku bisa menebus sedikit rasa bersalahku."
"kuharap kau menggunakannya dengan baik, hubungi aku jika kau perlu bantuan, karna aku sudah tak peduli adikku ditemukan hidup atau mati."
***
" Yaa. . sebentar. ." teriak Chanyeol sambil menarik paksa kaus yang ada dilemarinya lalu memakainya langsung, mengabaikan tetesan air dari rambutnya. Pria itu melempar handuk yang tadinya memilit di pinggangnya yang sekedar menutupi bagian intimnya lalu di gantikan dengan celana dalam dan celana training hitam.
Pria itu kembali mendengus kesal saat bel rumahnya kembali terdengar, membuat pria itu tanpa sadar membanting pintu lemari lalu membuka pintu kamarnya kasar, bel itu berbunyi di tengah acara mandinya dan terus berbunyi memekakan telinga karna terdengar tidak sabaran yang membuat pria itu berniat menyemprot siapapun yang berani mengusik ketenangan apartementnya ini, sekalipun hanya dia penghuni lantai ini. dan dia gagal marah saat melihat sosok gadis yang entah bagaimana bisa terlihat begitu menawan dengan senyum yang jarang sekali di perlihatkan untuknya, bahkan seolah terjadi slow motion di matanya saat melihat gadis itu sekarang.
" aku balas dendam, habis mandi ya? Kau punya wine?" ujar gadis itu yang langsung menerobos masuk kedalam apartement Chanyeol, sedangkan pria itu masih membeku di depan pintu dengan tatapan kosong seolah nyawanya terbang entah kemana.
" Yak! Park dobi!"
" Ye?" jawab Chanyeol yang membuat Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepala bingung dengan tingkah pria itu, bahkan baru saja dia menyahut dengan sangat formal.
"aku tahu aku cantik, tapi jika kau berdiri didepan pintu seperti itu, siapa yang akan memberikan ku wine!"
"Aa. . . yak tunggu! bagaimana kau bisa masuk, Baek?" seru pria itu sambil menujuk kearah Baekhyun yang hanya menghela nafas sambil mengeleng heran dan memilih menyusuri apartement pria itu sendirian_lebih tepatnya menengok isi kulkas pria itu.
" kepala mu terbentur ternyata astaga. . ." gumam gadis itu berbeda dengan mulutnya, wajah gadis itu terlihat sangat bahagia karna baru saja menemukan harta karun di balik lemari pendingin khusus yang sejak pertama mencuri perhatian gadis itu.
Bahkan tanpa ragu gadis itu langsung menyisir deretan brand wine yang berjejer rapi dan tanpa perlu pria itu jelaskan Baekhyun sudah tahu bahwa pria itu menyusunnya berdasarkan tahun pembuatannya.
" sedang apa kau disini"
" kau tidak dengar Park Chanyeol~sii?? Balas dendam." ujar gadis itu penuh penekanan dengan sebotol wine di pelukannya lalu menutup pintu lemari pendingin itu dengan pinggulnya dan meninggalkan Chanyeol yang masih membuntutinya.
"Rumah mu lumayan juga, kau tidak keberatan aku mencuri minumanmu bukan? kau ada game baru?" tanya gadis itu yang dengan mudahnya mengganti topik hingga membuat Chanyeol yang pada dasarnya masih linglung dengan kemunculan gadis itu membuatnya makin bingung untuk menjawab pertanyaan Baekhyun.
Sedangkan gadis itu sejak tadi berputar-putar entah mencari apa yang jelas sedikit mengerutu karna tak menemukan benda yang dia cari hingga matanya menemukan korek api dan meletakan botol wine diatas meja lalu membakar leher botol itu yang perlahan mengakat Cork_sponge yang menutup botol wine itu.
Chanyeol yang melihatnya hanya mendesah sebelum akhirnya merebut wine itu lalu membukanya dengan alat pembuka botol wine dan dengan sekali tarik lalu memberikan gelas yang cukup mewah untuk wine.
" waa. . . peka sekali. Jadi kau mau membelikan game terbaru, atau kau mau bertanding di LoL_League of Legend dengan ku? Eum. . . kurasa CSGO_Counter Strike Global Offensive juga seru, kau mau bertanding? tunggu . . . kau pun. . ." ucapan gadis itu tercekat saat Chanyeol tiba-tiba mengangkat tubuh Baekhyun lalu mendudukannya diatas meja makan bersama dua gelas wine yang sejak tadi memang berada disana.
" Baiklah Byun Baekhyun, kau tahu aku sedang mengincarmu bukan? jadi kenapa seolah seakarang kau tengah melemparkan diri padaku hm?"
" dan kau terlihat bodoh, tentu saja aku ingin melihatmu kelimpungan " ujar gadis itu yang kali ini malah dengan sengaja melingkarkan lengannya di leher Chanyeol membuat pria itu menelan ludahnya dengan susah payah.
" kau sedang menantangku hm?"
" yah. . . aku memang dari tadi menantangmu berduel. Kau pilih mana LoL atau CSG. . ." Ucapan Baekhyun tercekat saat Chanyeol dengan rakusnya memangut bibi gadis itu, mengesapnya bahkan mengigitnya untuk memperoleh celah agar dia bisa menjelajah rongga mulut gadis itu.
Pria itu bahkan tidak memberikan jeda untuk sekedar menarik nafas dan parahnya lagi, Baekhyun seolah juga ikut hanyut dalam permainan Chanyeol meskipun di masih sedikit memiliki kendali dirinya sendiri. Gadis itu memberontak dengan memukul dada Chanyeol agar dia segera melepaskan pangutannya.
"kau mau membunuhku huh?" dengus gadis itu sambil mengusap saliva yang membasahi bibir dan dagunya lalu menenggak kasar wine langsung dari botolnya membiarkan wine yang sudah tersedia di gelas.
" sayangnya aku ingin berduel denganmu di ranjang, eotthe?"
***
" Yak! kenapa kau membawaku kesini?!" Ujar Kyungsoo
" siapa suruh kau tidur, ayo turun." kekeh Jong-in sambil melepas seatbelt yang melingkar di tubuhnya dan Kyungsoo. Kyungsoo sendiri masih kaget saat mengetahui dimana dia sekarang, salahnya memang yang tidur selama perjalanan. Entah mengapa hari ini sangat melelahkan bagi Kyungsoo dan beruntung dia di perbolehkan pulang hari ini. Namun sayangnya pria ini mengacaukan jadwal tidurnya dengan membawanya kesini, pantai. Entah orang gila mana lagi yang rela menyetir mobil berjam-jam untuk sekedar melihat pantai.
" bukankah aku sudah bilang jika aku dipindah ke UGD mulai besok?!" dengus Kyungsoo tak terima yang hanya di balas dengan senyuman lalu meninggalkan Kyungsoo sendiri didalam mobil sedangkan pria itu langsung pergi kearah bibir pantai.
Bahkan yang terlihat sekarang hanya lampu kecil dari nelayan yang tengah melaut dan pantulan cahaya perumahan di permukaan laut, tentunya suara deburan ombak dan semilir angin dingin yang berhembus membelai rambut mereka berdua.
Dua hari terakhir Jong-in memang terlihat lebih pendiam dari biasanya dan sedikit lebih dingin terlebih sejak kejadian saat dirinya hampir di tabrak mobil membuat pria itu tak pernah melepasnya barang sejengkalpun terkecuali di rumah sakit.
Seperti sekarang, dia duduk di tepi pantai membenamkan jari kakinya kepasir dan menatap lurus kearah laut malam dalam diam. Bukan hanya Jong-in, kakaknya pun sama, bahkan akhir-akhir ini pria itu tampak berantakan saat tiba dirumah, tak bisa diajak bicara atau bahkan bercanda barang secuil.
" ada yang ingin kau katakan padaku, Jong-in~a?" tanya Kyungsoo sambil memposisikan diri duduk disamping pria itu dan ikut menatap kearah laut.
" kau ingat batu Amber milik Sehun?"
Advertisement
- In Serial7 Chapters
Entrusted, Didn't Lasted
Battle Against Adversity - In times when there were two choices, how will he choose?
8 165 - In Serial12 Chapters
The Exploits of Lilly, the Scoundrel
Lilly is an attractive, young, goat-woman, in the prime of life. But she is in mental and physical decline. She has become increasingly isolated, living alone. Her sustenance and shelter are covered by a stipend she receives from her parents abroad, in exchange for working as the superintendent of their apartment building, where she lives, and for attending college. Although she is intelligent, she has stopped attending college due to her boredom with the subjects, her declining ability to concentrate, or even to communicate. She fills her empty hours with her ‘art’ projects, and preying on middle-aged salarymen.
8 172 - In Serial62 Chapters
The Man She Betrayed
Is it fair to let a mistake define a person? .......... "Miss...?" he assessed my face with his calculative eyes, waiting for me to tell him my surname. The file was in front of him but he didn't bother to look into it. He wanted to hear it from my mouth, as if he wanted me to feel the guilt reverberating through each cell of my body. "Clara." I said, lowering my head so that I won't have to look into his eyes. "Clara Vincent?" he asked in a serious tone, his piercing gaze boring hole in my forehead. "Avery. Clara Avery!" I said, my voice thickened with guilt and embarassment. ..........Just when Clara Avery thought she was able to left her past behind, destiny brings her back to the place from where she started. Six years after she broke Aaron Vincent's heart, she is forced to work with him but after what she did to him, would she ever be able to look into his eyes?#1 in Young Adult (4/9/2019)#14 in Romance (20/1/2019)
8 311 - In Serial55 Chapters
Say Yes Sir +18 ✔️
Sequel of Family Ties (Cover by @_navyblueee_Second book of the Valentino series Smut Warning🤫🔥_________#2 in plot twist "Your not allowed to cum, moan or speak" he said before I felt his fingers over the laced of my underwear."Do you understand?" he asked and I nod. He raised an eyebrow and I quickly caught up to myself"Yes sir" I said and he nod with smirkHe started moving his fingers in a circular motion and I bit down on my lip so I wouldn't moan. I could feel how wet I was getting by his actions and how my body was pressed against his. He then pulled my underwear to the side. Our eyes made contact as he played with my clit. I was very wet and my core arched for his touch. My hands went to his shoulders and he entered me using two fingers. "Stop biting your lip" he ordered and I released my lip. He wasn't making this easy for me His fingers going in and out of me at a slow paced. "Remember what I said" he asked and I nod multiple times as my grip tightened on his shoulders. He started going faster, his fingers pumping in and out of my hole. I wanted to moan so badly Just when I was getting used to it he added another finger. Twisting and turning his long fingers my eyes rolled back in pleasure. Fuck Leon My mouth formed an O and he smirked. I could feel a knot forming in my stomach. He went even faster as he pulled out of one my boobs. He started sucking my nipple and I tried pulling away from him. "Stay still" he ordered and a whimper passed my lipsI was going to come and he knew it. "Leon" I moaned and he wrapped his free hand around my waist tightly, holding me still. He went even faster and my head rested on his shoulder. I hugged him as I bit down on to his shoulder. "I'm gonna- fuck" I screamed as I came. My body was shaking embarrassingly and he held me close to his body. After recovering from my orgasm his hold loosened around my waist."You spoke, you moaned and you came" he said into my ear.
8 379 - In Serial37 Chapters
You Used to Be My World
Charlie Jiang doesn't really care about the marriage with Mandy Song. During the three years of their marriage, he doesn't even try to understand her. He has always only listened to Vivi Qiao's one-sided words and condemns Mandy Song of crimes she never committed. Has it never occurred to him that when there is a crisis in Jiang family, Mandy Song agrees to their marriage without slightest hesitation, for what? Charlie Jiang never cares for Mandy Song, so he never knows that for such a long time he used to be her world, her whole world. But even if he knows, what difference would that make? I, Mandy Song, is simply not the one he cherishes in heart. For Charlie, only Vivi matters the whole world to him. How pathetic! Read all latest chapters of You Used to Be My World on Flying Lines.
8 209 - In Serial60 Chapters
Crimson Moon
Waking after a accident just three weeks before her high school realizing she had changed. It's a struggles with her change in her in her daily life. What would she do as she goes on knowing the fact that she's now a vampire.
8 75

