《Timeless [ Kaisoo GS] ✔️》#10
Advertisement
Happy reading 😘
When we die, we will turn into songs, and we will hear each other and remember each other
-Rob sheffield, Love is a mix tape -
Kyungsoo sejak tadi hanya terdiam menatap kosong kearah bolpoint yang sejak tadi dipeganganya. Ingatannya kembali. Ya tidak seluruhnya kembali, tapi dia mengingat kehidupannya dulu bersama kedua pria itu dan juga Baekhyun, namun tragedi itu yang masih tidak bisa diingatnya, hanya samar ingatannya tentang hal itu saat Jong-in terkapar bersimbah darah dan Sehun senyum terakhir sebelum dia mengembuskan nafasnya dihadapannya.
Dia merindukan mereka, bahkan ingin sekali dia berkata bahwa dia mengingat semuanya namun entah mengapa dia merasa tidak menemukan waktu yang tepat, bahkan pagi ini dia tidak bisa menatap Jong-in dan langsung kabur tidak menemukan apapun dan berakhir di bangsal penyakit jiwa dan melamun seperti sekarang. Dia hanya seorang residen yang terlihat sangat segar dibanding residen lain yang hampir tidak pernah tidur.
" apa kau tertular stres karna berada di bangsal ini? "
" Zhang Songsaengnim, Juseonghamnida" ujar gadis itu yang langsung bangkit dan membungkuk kearah wanita keturunan China itu.
" kau mau ikut aku? ada satu pasien terluka parah karna dianiaya dan dia sama sekali tidak mau bicara dan terlihat ketakutan." ujar wanita itu sambil membolak balik kertas yanga da ditangannya dan menatapnya dengan teliti.
" kau mau memeriksanya songsaengnim?"
" tentu, kau pikir apa gunanya aku bekerja?" Jawab Yixing sambil memberikan senyum terbaiknya pada Kyungsoo sebelum meletakan kembali berkas yang tadi dia baca sebelum melenggang pergi.
" ayo." ujar gadis itu yang membuat Kyungsoo langsung berlari dan berjalan di belakang gadis itu
" kau sedang ada masalah?" tanya wanita itu yang membuat Kyungsoo tersentak kaget lalu menggeleng sebagai jawaban. Yixing hanya mengangguk, memilih untuk tidak terlalu ingin tahu masalah orang lain.
" apa saya bisa bertanya sesuatu?" celetuk Kyungsoo yang masih berjalan di belakang wanita itu
" tanyakan saja."
" apa manusia bisa menghilangkan sebagian ingatannya dengan mudah? maksudku, hanya karna satu tragedi yang dia lupakan padahal itu hal yang penting, apa itu mungkin?"
" kau membicarakan dirimu? "
" eh? "
" itu semacam trauma yang menyebabkan sebagian otakmu memilih untuk menyimpannya dalam-dalam, itu salah satu bentuk pertahanan diri. " terang Yi xing yang hanya di tanggapi Kyungsoo dengan anggukan kepala, namun tiba-tiba gadis itu berbalik sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku jas putihnya yang membuat Kyungsoo sedikit tersentak kaget dan mundur satu langkah dari gadis itu.
" aku sedikit penasaran, jarang sekali ada residen dokter umum di kirim ke bangsalku, kau mengisi apa didaftar pengajuan magangmu?"
" saya berniat melanjutkan ke Psikiater setelah lulus nanti" terang Kyungsoo sambil menampilkan senyumnya yang membuat Yi xing sedikit terkejet saat menyadari bahwa bibir gadis itu bebentuk hati bahkan dengan rambut bobnya, dia terlihat begitu cantik yang membuat Yi xing tanpa sadar berdeham menghilangkan rasa gatal yang menjalar lehernya tiba-tiba.
"ah. . . begitu rupanya, kalau begitu bisa kau coba diagnosa gadis ini nanti?" tawar Yi xing tiba-tiba yang membuat senyum Kyungsoo meredup digantikan tatapan horor yang membuat Yi xing seketika takut saat melihat perubahan ekspresi gadis itu yang begitu drastis
"eh? Tapi. . . "
"aku akan membantumu" ujar gadis itu sambil menepuk bahu Kyungsoo yang membuat gadis itu gugup sekaligus antusias.
Terlihat dari kejauhan dua orang suster masuk keruangan itu yang yang membuat Yi xing mencegah Kyungsoo masuk dan memilih mengamati dari depan pintu.
Kyungsoo hanya bisa menatap miris gadis itu, wajahnya penuh dengan luka lebam kakinya penuh dengan sayatan dengan tatapan kosong, anehnya gadis itu sekarang menetapnya lekat-lekat seolah dia mengenalnya.
" Yán xī ~sii bagaimana hari mu?" sapa salah satu suster yang membuat gadis itu langsung beringsut ke ujung ranjang dan meringkuk dengan tatapan takut.
Advertisement
" pergi! menjauh!!"
" tidak ada yang akan melukaimu disini "
" pergi! lepaskan aku!!" jerit gadis itu sambil melempar seluruh barang yanga ada didekatnya.
" Kyung, kau mau mencoba mendekatinya? Jangan paksa untuk menceritakanya, hanya sapa dia saja, kau mengerti?" tawar Yi xing yang sejak tadi hanya mengamati gadis itu dari luar ruangan.
Kyungsoo hanya mengangguk mengerti sebelum menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafas lalu berjalan masuk kedalam kamar itu dengan senyum terbaiknya yang membuat suster tadi memilih mundur.
" hai. . . " sapa Kyungsoo
" yoojin eonnie. . ."
"eh?" Kyungsoo terlihat kebingungan saat gadis itu memanggilnya dengan nama orang lain yang membuatnya langsung menoleh kearah Yi xing. gadis itu hanya memberi isyarat untuk melanjutkannya.
" eumm. . . aku bukan yoojin, mianhae" ujar Kyungsoo hati-hati yang seketika membuat gadis itu mulai memandang kosong kearah Kyungsoo.
" ah. . . kenalkan, aku Kyungsoo, Do Kyungsoo. Kau mau berteman denganku?" celetuk gadis itu sambil menjulurkan tangannya kearah gadis itu.
" kau boleh menganggapku kakak jika kau mau" lanjut Kyungsoo sambil meraih tangannya dan menakupnya dengan kedua tangannya.
"kita berteman? eotthe?"
***
" kau tidak berniat kabur lagi kan, soo?" celetuk seseorang yang membuat Kyungsoo tersentak kaget dan hampir saja terbentur tiang didekatnya jika tangan pria itu tidak melindungi kepalanya.
" Yak! kau mengagetkanku dasar hitam!" sungut gadis itu yang langsung melayangkan tendangan kearah bokong kearah Jong-in, tak peduli pria itu baru saja menyelamatkan kepalanya.
" aish itu salahmu sendiri yang melamun. ayo pulang"
" aku lapar." rengek gadis itu yang tanpa dia sadari membuat Jong-in terkejut, pasalnya ini kali pertama gadis itu merengek seperti itu padanya setelah ingatannya menghilang.
" kau bisa memasak dirumah" celetuk pria itu.
"yak kau tidak lihat aku baru pulang kerja?!" sungut gadis itu yang makin membuat Jong-in heran dan hanya bisa menghela nafas didetik berikutnya.
" arraseo arraseo Kajja " ujar pria itu yang tiba-tiba meraih dan menggenggam tangan Kyungsoo yang seketika membuat wajah kyungsoo memerah.
Gadis itu hanya diam saat Jong-in menuntunnya kearah cafe yang ada diseberang jalan lalu mengambil salah satu meja diujung ruangan yang tidak terlalu mencolok.
ada hal yang mengganggunya sejak pertama kali bertemu dengan Jong-in. Pria itu selalu memakai masker saat keluar, bahkan terkadang terlihat seperti penculik lengkap dengan topi yang menutupi seluruh wajahnya yang membuat Kyungsoo heran. Bahkan sampai sekarang dia masih tidak memahaminya padahal ingatannya sudah kembali dan tidak ada yang buruk yang pria itu lakukan sebelumnya hingga dia harus bersembunyi.
" ini terakhir kali ku tanya, kenapa kau harus memakai masker dan topi seperti itu setiap kali kau keluar? sebenarnya kau bersembunyi dari siapa?" tanya Kyungsoo akhirnya saat pria itu melepas seluruh atribut yang melekat di wajahnya.
" bukankah ini trend?"
" Yak Kim Jongin!" sungut gadis itu yang membuat Jong-in hanya berdecak malas.
" kau tak perlu semarah itu, soo. aku hanya tidak suka menjadi pusat perhatian. "
" kau percaya diri sekali" dengus gadis itu yang meulai jengah, sepertinya sifat narsis dan kekanakan pria ini masih belum hilang.
" tentu, kau saja yang hilang ingatan, aku pewaris tunggal Jumong corp, soo. apa jadinya jika wartawan melihatku berkeliaran?" ujar pria itu yang seketika membuat Kyungsoo mengangguk mengiyakan pernyataan pria itu, karna jelas pria itu akan menjadi pusat perhatian terlebih Baekhyun pernah bilang jika Jong-in sempat koma dan baru sadar, itu artinya dia koma selama empat tahun, tentu jika keberadaanna tercium media akan membuatnya di buru untuk diwawancarai atau sekedar disorot kamera dan pria itu memang sejak dulu tidak mau diperlakukan seperti itu.
" lalu bagaimana keadaan kakek?" celetuk Kyungsoo tanpa dia sadari bahwa hal itu berkemungkinan besar mambuat Jong-in tahu bahwa ingatannya telah kembali.
Advertisement
"eum maksudku, kakekmu, jika kau pewaris tunggal Jumong corp tentu keluargamu satu-satunya adalah pemilik Jumong corp. Kim Sang gyu, beliau kakekmu bukan?" lanjut gadis itu berusaha untuk tidak terlalu ketara bahwa dia sedang panik sekarang.
" kakek baik-baik saja. " ujar pria itu yang terlihat tidak tertarik dengan arah pembicaraan mereka.
" lalu kenapa kau tidak pulang? kenapa kau tinggal di rumahku"
" karna aku suamimu dan kau istriku, lagipula kakek lebih baik-baik saja tanpa aku " ujarnya sambil menumpukan kepalanya pada telapak tangan menatap Kyungsoo dengan posisi miring.
Sedangkan Kyungsoo hanya menatap jengah pria dihadapannya ini, entah bagaimana bisa dia bisa hampir tertipu ucapan pria itu saat itu.
" aku bukan istrimu, Kim Jong-in." desis kyungsoo.
" apa bukti waktu itu belum cukup?"
" Yak! itu bukan bukti, bodoh! kau saja yang mesum!" sungut gadis itu dengan wajah yang seketika memerah.
" apa salahnya mesum pada istri sendiri"
"Yak. . ." gadis itu baru akan melayangkan pukulan ke arah pria itu saat seorang pelayan menghampiri mereka dengan nakas yang penuh dengan minuman dan makanan yang mereka pesan.
"permisi, pesanannya tuan" sapa pelayan itu kearah Jong-in yang membuat Kyungsoo mengerutkan keningnya mata gadis itu bahkan tidak mau lepas dari wajah Jong-in yang entah mengapa membuatnya kesal karna di abaikan disini.
" terimakasih" ujar Jong-in sambil melempar senyum kearah pelayan perempuan itu yang membuat Kyungsoo melotot karna wajah gadis itu tampak bersemu merah.
" Wae? kau cemburu soo~ya?" celetuk Jong-in yang ternyata menyadari perubahan air muka gadis yang duduk dihadapannya itu.
" tidak, untuk apa" dengus gadis itu sambil menarik peach squashnya lalu mengaduknya dengan jengkel yang tentu membuat Jong-in geli dibuatnya.
" kau bahkan terlihat ingin mencongkel mata gadis itu, soo" kekeh Jong-in, gadis itu terlihat makin kesal lalu menarik piring spaghetinya dan memutarnya dengan kesal
" aku tidak"
"kau iya"
" tidak "
" kau mau berkencan denganku hari ini?"
"aku ti. . . tunggu kau tanya apa?" ujar Kyungsoo yang akhirnya mengangkat kepalanya karna tidak menangkap dengan jelas apa yang pria itu katakan dan langsung bertemu dengan manik mata hitam yang pria itu yang membuatnya tanpa sadar terpukau untuk sekian detik saat melihat senyuman yang jelas sekali di tujukan untuknya.
" oke! kita kencan hari ini"
"yak!"
***
" kencan disini? ku pikir kau akan membawaku ke panti asuhan atau tempat-tempat yang penuh dengan anak kecil. tapi apa ini? game center? tidak sekalian saja kau mengajakku ke warnet?" sungut gadis itu saat pria itu dengan sengaja menyeretnya game center.
" aku hanya butuh olahraga dan kurasa ide ke warnet juga tidak buruk. " ledek pria itu yang langsung mendapat hadiah berupa pukulan yang langsung dia dapatkan dilengannya.
" Aish," dengus gadis itu sedangkan Jong-in hanya diam sambil mengusap lengannya yang terasa panas setelah mendapat pukulan mematikan dari pria itu.
" baiklah Kim Kyungsoo, aku kalah"
" jangan mengganti marga ku seenak jidatmu sendiri, dasar hitam."
" kau kan istriku"
" demi tuhan Kim Jong-in! berhenti mengatakan aku istrimu." dengus gadis itu yang sama sekali tidak di indahkan oleh pria itu, dia malah mengalungkan lengannya di bahu Kyungsoo dan memaksanya untuk mengelilingi game center.
Langkah mereka terhenti didepan mesin flying tickets_mirip dengan flappy bird yang membuat kyungsoo menyeringit bingung dan menatap Jong-in yang terlihat sedang merencanakan sesuatu.
" mau bertaruh?" tawar pria itu yang membuat Kyungsoo menatap malas pria itu.
" aku jelas akan kalah, kau kan maniak." gumam gadis itu yang terlihat malas menanggapi Jong-in dan berusaha menyingkirkan lengan pria itu namun gagal karna dia malah melingkarkannya di leher Kyungsoo dan menumpukan kepalanya di pucuk kepala Kyungsoo dengan sedikit mencekik leher gadis itu.
" Seorang Kim Kyungsoo takut? "
"Yak! sakit, kau mau membunuhku hah?!" sungut gadis itu berusaha untuk melepaskan diri tapi tidak dengan pria itu, dia malah makin mengeratkan lengannya yang membuat gadis itu makin meronta untuk melepaskan diri.
" penawaranku sangat menguntungkanmu kurasa. kau menang, maka kau bisa meminta apapun dariku dan jika kau kalah kau hanya perlu menciumku? mudah bukan?"
" YAK! ITU TANDANYA AKU AKAN KALAH SEPANJANG PERMAINAN !" sungut gadis itu yang masih meronta yang membuat beberapa orang langsung melirik kearah mereka dan sedikit was-was mengingat Jong-in dengan pakaiannya yang mencurigakan dan posisi yang terlihat sangat mengancam.
" kau menolaknya maka itu tandanya kau takut, kau bisa mengusirku dari rumahmu jika kau menang, atau apapun yang kau mau. dan seingatku kau tidak pernah mau kalah sebelum bertanding, eotte?"
Kyungsoo hanya bisa menghela nafas malas, tidak ada yang bisa mencegah keinginan seorang Kim Jong-in, tidak menurutinya sama saja dengan mendengar ocehannya tiap waktu dan dia tidak mau mendengarkan kata-kata ledekan yang keluar dari mulut pria itu
" arraseo. hanya sekali setelah itu tidak ada lagi taruhan"
" call"
***
Kyungsoo berjalan menghentak-hentak kesal, mendahului Jong-in yang sengaja ia tinggalkan di dalam mobil. Terang saja dia kesal karna seperti dugaannya, pria itu menang dengan mudah dan tentu membuatnya super kesal dan memilih pulang dari pada melanjutkan pertengkaran konyol yang tidak ada habisnya.
Kyungsoo langsung masuk kekamarnya dan membanting pintu itu kamarnya dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Tak lama terdengar suara pintu kamarnya terbuka yang membuat Kyungsoo mendengus kesal.
" mau apa kau?"
" tentu saja menagih hadiahku. kau tidak pura-pura lupakan, soo" ledek Jong-in yang memilih duduk di tepi ranjang menatap Kyungsoo yang masih menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya lalu bangkit dan berdiri depan pria itu yang masih duduk diatas ranjang lalu di detik berikutnya dia mengecup pipi pria itu, tidak ada yang berubah dari air wajah Kyungsoo, dia masih terlihat kesal.
" hei aku memintamu untuk mencium bibirku, kenapa malah pipi?"
" demi tuhan kai, tidak ada peraturan seperti itu! sudahlah aku mau mandi, keluarlah dari kamarku" dengus gadis yang berniat beranjak dari hadapan pria itu namun tiba-tiba tangannya dicekal dan membuat Kyungsoo langsung menatap Jong-in tajam.
"apa lagi, sudah kubilang aku ti. . ."
" kau sudah mengingatnyakan, soo? tentang aku, baekhyun, sehun." potong pria itu tiba-tiba membuat tubuh Kyungsoo menegang bahkan hampir gemetaran mendengar hal itu.
" aku tahu kau sudah mengingatnya karna seharian kau bertingkah seperti Kyungsooku yang suka merengek, kau baik-baik saja?" tanya pria itu dengan suara teduh dan tanpa sadar air mata sudah kyungsoo sudah meringsek keluar membasahi pipi gadis itu yang membuat pria itu bangkit mengusap lembut pipi gadis itu lalu menariknya kedekapannya.
" Jalhaesseo, soo~ya. . ."ujar Jong-in yang membuat Kyungsoo mencengkram baju pria itu dan menangis sekeras-kerasnya. Dia merindukan pria ini lebih dari apapun, bahkan setelah seharian bersamanya.
" kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu huh, apa kau juga berniat mati lalu meninggalkanku? Demi tuhan Sehun, hiks hiks aku. . ." tangis Kyungsoo makin tak terkendali yang membuatnya mengeratkan lengannya ditubuh Jong-in yang masih setia mengusap kepala gadis itu dan menumpukan kepalanya di pucuk kepala Kyungsoo.
" Mianhae. . ." gumam Kyungsoo yang teredam oleh tubuh Jong-in yang membuat pria itu melepaskan pelukannya dan beralih menatap Kyungsoo lalu menangkupkan tangannya ke pipi gadis itu, menghapus air mata yang membasahi pipi gadis itu lalu menyibak anak rambutnya ke belakang telinganya. Dia sedikit menarik wajah gadis itu ke depan, membuat wajah mereka nyaris tak berjarak.
Pria itu sengaja berlama-lama menahan gerakannya, membiarakan bibir mereka berjarak kurang dari satu inci tanpa ada tanda-tanda akan menyentuhnya, sedangkan Kyungsoo hanya diam menunggu dalam tegang.
Jari Jong-in menyusup masuk kedalam helaian rambut Kyungsoo, memberikan sensasi nyaman dan sengatan yang aneh seolah ada aliran listrik yang menyengat kulitnya.
" aku merindukanmu, soo. ." ujar pria itu lalu menekan bibirnya dengan perlahan ke permukaan bibir gadis tersebut, sebelum akhirnya memberikan ciuman rakus dan mendesak, melepaskan segala hal yang sejauh ini berusaha ditahannya.
Dia menelusupkan lidahnya masuk kedalam mulut Kyungsoo yang sedikit terbuka, mengeksploitasi rongga mulut gadis itu dan membelit lidah gadis itu tanpa ampun.Dia sedikit terkejut saat Kyungsoo membalas ciumannya dan tangannya yang bergerak naik kearah leher dan meremas rambut pria itu.
Pria itu langsung menghempaskan tubuh Kyungsoo keranjang saat mendengar desahan yang tidak sengaja keluar dri bibir gadis itu yang membuat ciuman mereka semakin panas.
Dan entah siapa yang memulainya yang jelas pria itu sudah berhasil melepaskan seluruh kancing kemeja gadis itu dan menyisakan bra yang masih melekat ditubuh gadis itu, begitupula Kyungsoo yang entah sejak kapan melepas kemeja pria itu dan melemparnya jauh-jauh dari jangkauannya.
***
Gadis itu tampak berputar-putar tak bisa menyembunyikan senyumannya didalam ruangannya yang gelap dengan senandung yang keluar dari bibir tipisnya dan tak lupa kedua tangannya yang memegang pisau yang terlihat berkilau terkena pantulan sinar bulan.
" Do kyungsoo, do kyungsoo lalala do Kyungsoo, neraka neraka sudah menunggu, hahaha. . . astaga dia bodoh sekali" tawa gadis itu setelah satu bait lagu yang dia nyanyikan namun tawanya meredup menatap kearah keluar jendela lalu membiarkan tubuhnya terduduk dilantai sambil menempelkan pisau kedagunya menyalurkan sensasi dingin besi itu.
" eumm. . . kurasa jurang itu bagus, aku harus mendorongmu sama seperti yang kau lakukan pada Sehun oppa."
"yup! sudah ditentukan, aku akan membunuhmu di jurang itu lagi." seru gadis itu sambil bangkit dan terlihat sangat bahagia.
" lalala do kyungsoo lalala si bodoh, matilah matilah, kau ditanganku.. hahahaha"
-
Advertisement
- In Serial58 Chapters
Loveless Marriage
He did not love her. It was a loveless marriage to him. In his eyes, she is just a burden who cooks food for him. And in return, he will earn money and place it in her bank account. But she fell for him the moment she had laid eyes on him. It was love at first sight. She would lovingly cook him breakfast, but he would not even glance at her in the morning. In attempts to get him to glance at her, she fooled and embarrassed herself in front of him. She was close to giving up. A small part of her had hoped someday he would change the way he views her. But the fragment of hope diminishes very quickly. Little did she know that one simple action will cause everything to change. That one day he going to start feeling something for her, when her heart is broken. That he is going to start feeling something for her, with a dark past.Will she have to continue to wonder whether it will always be a loveless marriage or a new journey where they fall in love with each other together instead of one-sided love. Will he be able to love her like she loves him?
8 333 - In Serial13 Chapters
Falling in love with a witch
"The sun today will be the judge of you men, burning you and your sins, as the wind will sweep away the ashes of you fools. We witches pray to mother nature and she shall save us, as our souls are pure gold unable to rust". A witch spoke these words on the day of her death. Centuries later a hidden tale is unraveled in the 21st century in the town of Mount Giest. What secrets will be discovered and who is lying, whilst who is telling the truth? A love story between a boy and a witch. They learn to bond and heal each other wounds growing together, with a hint of darkness that lurks behind all of us. release dates hopefully if I'm not busy: Tuesday and Friday note: l do not own any copyrights over the cover image l used
8 202 - In Serial23 Chapters
The Family (VOL. 1)
Matilda and her boyfriend Matt are injured in a car crash and left stranded in the rural backwoods of Texas. All the commotion draws the deadly attention of a sinister family of cannibals who capture Matilda and Matt, separating them from one another until the mute butcher can take care of them. Matilda offers to teach him sign language in order to gain his trust and escape, but instead, she gains something else. His devotion.
8 212 - In Serial6 Chapters
My Rose (Goku Black x Reader lemon)
"Why do I love after all he's done... even if he did do all of those things. He's shown me so many different sides of him that no one can even imagine, But I how will things end up if don't finish the Job."(This is the actual full book of my practice book everything is spelled correctly ahem hopefully and my character development and storyline go some what different from my other book)
8 76 - In Serial74 Chapters
A Vampire's Pride
"Kilian Vergio." I whisper his name, almost frightened to say it. The fire flickers as I stare at the summoning spell- would this come to bite me in the ass later on? Maybe. I take a deep breath and run my eyes along the spell one more time before saying it out loud. As soon as the words are out of my mouth, the fire goes out. I feel a cool breeze caress my shoulders and I shiver. Had I done it? Had I summoned him? The fire lights back up- but this time, there's another person in the room with me. "Oh fuck." I curse, the reality spreading of what I had actually done slapping me in the face. He's leaning on the fireplace, red eyes connect with mine as he gives me a wicked smirk. He takes a step forward as my heart sinks, dread piling up in my stomach, and also- butterflies? His fangs gleam in the fire light as he eyes me down. "Happy anniversary, sweetheart." His voice smooth like silk rings out. I go pale. •• Viola is tired of wondering her entire life what it would have been like if she'd been raised by her mother- so she strikes up a deal with Kilian; a demon so powerful, so deadly, and so beautiful. She has no idea what she's getting herself into. Especially when her dad goes missing the next day. She has to solely rely on herself, her new acquaintanceship with a wicked force such as him, and a family that she's never known in order to find him and complete the prophecy. But how difficult will that be, when her ice powers try to take her over- and a devishly handsome demon tries to make grabs for her very own heart. She might find her dad safely, but will she ever come back the same? IMPORTANT:•CAN BE READ AS A STAND ALONE- NO NEED TO READ THE FIRST ONE. •
8 272 - In Serial55 Chapters
Gaining Traction | Formula 1
COMPLETED"Seems to me," he whispered, his lips brushing her ear, "that you have two heartbeats." "Oh really?" Dakota raised a brow, unconsciously pressing her thighs together. Alessandro hummed in response, his green eyes dark with lust. His racing suit hung loosely over his hips, the skin tight fireproof showing off his rippling muscles. "One here," he began, pushing a lock of hair off her shoulder. He took her hand, pressing it against her chest. Her heart hammered against her rib cage as if it was threatening to jump out. "Would you like to know where the other one is, Dakota?" Her breath hitched at her name leaving his lips. He spun her around, the two falling back onto the couch that was against the wall. She held her breath as he took her hand again. Slowly, he led her hand down her stomach. Lower. Lower.-------------------------The roar of V6 engines. The whirring of wheel guns. The sweet taste of champagne. All things that made Alessandro's heart race. The thrill of racing on tracks at speeds one could only imagine. The 2021 season was one that Italian Alessandro Moreno never saw coming. His first year as a Formula One driver. A chance to be 1 of 20 lucky enough to race in the most elite & selective sport in the world. He only had one shot. Out of nearly 7.9 billion people, only 20 had the opportunity. And there was no way he was letting anything fuck it up. Or so he thought. There was only one thing Dakota Sánchez loved in life. Speed. A thrilling feeling spread through her body at the sound of engines revving. The hustle and bustle up and down the pitlanes. The drama, the overtakes, the wheel to wheel racing. F1 had stolen her heart. COMPLETE - In a sport dominated by upper-class males, Dakota knew her options were limited. But she wasn't going to give up that easy. With one phone call on a late January evening, Dakota found herself in a shiny Aston Martin Safety Car. Original Character x Driver⚠ mature cont
8 88

