《My Love Made in the 90's》II
Advertisement
Bunyi semburan air berasal dari keran westafel yang mengalir. Ga Eun membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berupaya menenggelamkan pikiran yang akhir-akhir ini mengganggunya. Kini dirinya merasa cukup lebih baik dari sebelumnya.
Entah kenapa semenjak kejadian yang dialami dirinya terhadap Daniel membuatnya ingin tahu lebih jauh akan laki-laki itu, lebih-lebih selintas yang dikatakan Heeseung. Bahwasanya Ga Eun masih tidak begitu percaya apa yang dikatakan Heeseung, namun disisi lain Heeseung tidak mungkin berbohong dan asal bicara saja. Apalagi Heeseung adalah anak yang dikenal sangat jujur dan berkepribadian baik.
Yang dialami Ga Eun kini rupanya baru pertama kali. Ya, baru pertama kali ia berbelas kasih yang begitu mendalam kepada seseorang. Tunggu, berbelas kasih? Rasanya tidak tepat untuk menerangkan dirinya pada Daniel saat ini.
Apakah ini memang sebentuk empati saja? Atau faktor lainnya? Ga Eun sungguh-sungguh belum menemukan tanggapannya seorang diri.
Tok tok tok
"Ga Eun, berapa menit lagi kau didalam?"
"10 menit lagi aku akan selesai. Kenapa?"
"Apa kau tidak apa-apa aku tinggal? Aku akan keluar sebentar, ingin membeli beberapa cemilan kita untuk nanti malam. Kau tunggu di kostan saja ya"
"Ah, Nee Umji. Aku akan baik-baik dan disini saja"
Setelah mendapat jawaban Ga Eun dari dalam toilet, Umji bersicepat meninggalkan ruangan.
Memang sudah 2 hari belakangan ini Ga Eun tidak pulang ke rumah, dia menginap di kostan Umji yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka, tentu saja atas dasar perizinan kedua orangtuanya terlebih dahulu Ga Eun dapat bersama Umji. Umji adalah seorang anak tunggal di keluarganya, Ayahnya seorang pemilik usaha mabel furniture dan ibunya seorang relawan di negri gingseng itu sekaligus pengajar bagi penyandang disabilitas. Sebab kesibukan ke dua orangnya, Umji tidak sesekali saja merasakan kesepian di tengah kesendiriannya. Daripada ia tinggal di rumah yang mewah hanya bersama seorang asisten rumah tangga dan supir, lebih jelas ia tinggal sendiri ditempat singgahnya yang sekarang. Umji merasa jauh lebih bisa berdamai dengan dirinya apabila sedang meluapkan segala emosinya, disamping itu sahabatnya Ga Eun selalu setia bersamanya. Walaupun tidak begitu banyak menghabiskan waktu bersama dengan kedua orangtuanya, hubungan keluarga Umji tetaplah baik-baik saja, adakalanya orangtua Umji menghubunginya dan begitu juga sebaliknya guna memastikan kabar diantara mereka.
Disebuah kostan disalah satu wilayah Hanam dengan fasilitas full option bertipekan 1,5 room ini cukup besar dan memadai jika dihuni Umji dan Ga Eun. Semenjak masuk di sekolah yang sama, disanalah awal mereka menjalin pertemanan. Sejak disekolah menengah pertama keduanya selalu satu kelas dan menjadi teman sebangku. Tak aneh bagi keduanya jika bersilih kekonyolan, karena semakin mereka dekat semakin keduanya ingin menunjukan sisi yang apa adanya, sejauh ini mereka menerima personalitas masing-masing. Apalagi pribadi keduanya tidak jauh berbeda, misalnya dari hobi, makanan favorite dan beberapa hal lainnya membuat Ga Eun dan Umji sangat cocok. Bagaikan mother and father's other siblings, disebutnya.
*****
"Ah, bagaimana aku bisa lupa membawa daftar belanjaan persediaan dikostan? Dan ini sudah setengah jalan." Umji seakan mengutuk dirinya sendiri, karena dia telah lengah meninggalkan daftar belanjaan yang sudah ia catat tadi pagi, didalam catatan tersebut sekaligus ada beberapa rincian untuk persediaan bulanan.
"Semoga aku ingat apa saja yang harus dibeli"
Lalu Umji melanjutkan perjalanannya, ditengah musim dingin yang sedang aktif Umji tentu saja mengenakan mantel atau coat wol upaya menghangatkan raganya.
Sekitar beberapa meter lagi Umji akan sampai diminimarket, semakin mempercepat langkahnya lantaran udara kian menusuk tulangnya. Namun, belum setibanya di tempat tujuan terdengar suara yang entah darimana terdengar cukup gaduh. Mengundang Umji ingin tahu darimana sumber suara tersebut?
Menunda tujuannya yang ingin pergi ke minimarket, Umji seolah lebih terbawa atas suara yang jujur saja agak mengejutinya.
Braaaaaak. Tang. Sraaaaaaak. Braaaaaaaak
Bunyi itu semakin jelas pada indra pendengaran Umji, tepatnya di sudut gang melewati beberapa kios lebih dahulu. Suasananya senyap dan gulita, tetapi Umji tidak memperdulikan hal itu.
Advertisement
Tak seperti dalam bayangan sebelumnya, didapatnya beberapa kawanan sedang menghantam seseorang, tepatnya sosok itu terlihat bagaikan sedang diamuk masa. Salah satu diantara mereka, dengan maniaknya berkali-kali melibas sang korban memakai sepenggal kayu.
Seumur hidup Umji baru kali ini ia menampak pertikaian dengan mata telanjang, denyut jantungnya seakan tidak berfungsi baik sebagaimana mestinya. Sekujur tubuhnya bersilih memanas, ia mengatup rapat-rapat bibirnya agar tidak serta-merta berteriak apa yang telah ia dapati.
Selain khawatir dan tidak ingin keberadaanya diketahui oleh kawanan itu, Umji berusaha berpikir jernih apa yang seharusnya ia lakukan sekarang, seandainya dia hanya cukup mengetahuinya saja mungkin anak itu bisa kehilangan nyawanya. Di segi lain, dia tidak ingin menjadi salah satu tersangka andaikata polisi tiba-tiba datang dan menjaring kawanan itu, meskipun ia tidak terlibat dalam perselisihan tersebut tetap saja dia merasa dirinya tergambar ditempat kejadian perkara. Maka dari itu, Umji sadar memang selayaknya dia melakukan sesuatu dan bertindak cepat.
Ah, itu sudah terbesit dibenak ku! Kenapa aku tidak menelfon kantor polisi? Bodoh.
Lekas Umji menghubungi kantor polisi sekitar, bersama suaranya yang bergetar Umji berupaya menjelaskan dimana kejadian itu berlangsung dan Umji berhasil mendatangkan polisi mengarah lokasi yang ditunjukan.
*****
"Hah, kenapa bisa-bisanya telfonnya sibuk? Kemana Umji sebenarnya pergi? Mengapa selama ini dia pergi ke minimarket?" Ga Eun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Berkali-kali panggilannya tidak di jawab dan terakhir justru sibuk.
Ga Eun semakin begitu mencemaskan atas ketiada datangan Umji. Tidak pernah dilakukan Umji bisa selama ini jika hanya ke minimarket saja.
Tidak ada gunanya menurut Ga Eun apabila dirinya mencemaskan dengan berdiam diri seperti ini. Akhirnya, Ga Eun memutuskan untuk menyusulnya.
Tergesa-gesa ia mengenakan fall sweatersnya, kemudian mengunci cepat pintu kamar. Sesanggup mungkin Ga Eun harus lekas menyusul Umji, angan-angan Ga Eun kini semakin tidak berakal, samar-samar masalah terbesit di pikirannya, Umji yang diculik atau kejadian yang tidak di inginkan lainnya.
Akan tetapi, belum sampai menurunkan langkah kakinya ke anak tangga disamping bidang kostan, dilihatnya dua orang sedang menarik langkah ke atas. Pandangan Ga Eun seakan melebar, dikunjunginya itu adalah Umji dan................. Seon Oppa?
"Um, umji apa yang telah terjadi?"
"Nanti saja ku ceritakan didalam, sekarang kita harus membawanya ke dalam. Cepat! Bantu aku" ucapan Umji begitu tebal. Tanpa berpikir panjang Ga Eun membantunya dengan membiarkan lengan Seon kini berada di bahu kedua gadis itu demi memudahkan jalannya.
Seon terbaring lurus disofa bersama luka-lukanya, pakaian yang dikenakannya kini berbancuh dengan darah disertai kotoran akibat bekas hempasan tubuhnya ke aspal.
Umji dan Ga Eun saling bertatap muka, keduanya menjadi kacau terlebih kebingungan apa yang harus mereka lakukan. Keadaan Seon kelihatannya sangat tersentak, pandangannya searah melihat langit-langit.
Tubuhnya mematung, tidak beralih sama sekali, entah apa yang ada dalam benak Seon saat ini. Disamping Seon yang tengah terdiam, Ga Eun seketika menarik Umji kebelakang dapur.
"Umji, bagaimana bisa keadaan Seon oppa seperti itu huh? Kau bertemunya dimana?"
"Ceritanya sungguh panjang Ga Eun, aku akan menceritakan semuanya jika Heeseung setibanya disini"
"Kau menghubungi Heeseung?"
"Tentu saja aku menghubunginya, Seon Oppa yang memintanya"
"Kenapa kau tidak membawa dia kerumah sakit? Kenapa kau membawanya kesini? Sepertinya luka itu cukup parah. Aku sampai tidak sanggup melihatnya" jelas Ga Eun kini menutup wajahnya yang tidak tega mengingat kondisi Seon.
"Dia menolaknya. Selama dijalan, aku memberanikan diri untuk bertanya-tanya. Dia malah berkilah, menyuruhku untuk menghubungi Heeseung. Jadi setelah itu aku tidak berbicara apa-apa lagi didalam mobil selama membawanya kesini"
Duk duk duk
"Ah, sepertinya itu Heeseung" tebak Umji.
Bergegas Umji melangkahkan kakinya ke arah pintu utama, ya benar saja Heeseung yang didapatinya.
"Kemana Seon Hyung?"
"Ada di dalam, cepat masuk" ajak Umji tanpa perbahasaan.
Heeseung mendapati dimana Seon terbaring diatas sofa dengan luka dimana-mana. Begitu tampak tidak berdaya, Seon masih sama saja dengan posisinya yang tadi dengan ekspresi yang tidak berubah.
Advertisement
"Seon hyung, apa yang terjadi?" tanya Heeseung ketika sudah dihadapan Seon, terdengar begitu kacau dan mengiba.
Mendapati suara yang dikenalnya, Seon baru mengalihkan posisinya. Akhirnya dia menepatkan dirinya dengan hati-hati, dibantu juga oleh Heeseung dan Umji.
"Seon hyung, sebelum kau menceritakan semuanya aku mohon bersihkan dulu luka-lukamu itu dan ganti dulu pakaianmu agar terasa lebih baik. Ini aku membawa bajuku, kau bisa memakainya. Umji, Ga Eun apa kalian menyimpan kotak P3K?"
"Iya aku memilikinya, sebentar aku ambilkan" jawab Umji meninggalkan mereka bertiga.
"Heeseung, aku akan ambilkan minum untukmu dan Seon hyung dahulu ya. Maaf, sesampainya disini Seon hyung belum sempat minum, kami pikir dia terlihat masih shock. Jadi kami khawatir mengganggunya" Ga Eun menjelaskan sedikit situasinya.
"Tidak apa-apa Ga Eun, justru aku sangat berterimakasih kau dan Umji sudah mau membawanya ketempat kalian" balas Heeseung terdengar tulus.
Sial, jika dilihat-lihat dengan teguh Heeseung tampan juga ditambah senyumannya yang khas dan berbicara manis seperti tadi. Begitu asing.
Ah, apa yang ada didalam pikiranku? Ga Eun menggeleng-gelengkan kepala untuk menolak lebih jauh apa yang sedang dalam rasionya, kemudian berlalu dari pandangan Heeseung menuju dapur.
Saat ini Umji berada di sisi kaki Seon, dengan sedikit mencongkongkan tubuhnya, di tangan kanannya terdapat sekotak P3K berlanjut mencari sesuatu penawar upaya menyembuhkan lukanya, Seon yang melihat aksi Umji refleks merenggangkan posisinya
"Mau apa kau?"
"Diam! Diam disitu, jangan bergerak! Sekali lagi kau bergerak aku akan menambahkan lukamu. Apa kau tidak lihat keadaanmu sendiri? Tidak tepat jika kau ingin berkelakuan congkak sekarang" tiba-tiba Umji menghardik Seon, sambil menarik kaki Seon, mengakibatkan Seon mendesis karena sakitnya.
"Aku tidak akan takut padamu hari ini, jika melihat kondisimu sekarang saja seperti ini. Kau tidak bersama dengan daya upayamu, jadi tolong biarkan kami membantu menyembuhkan lukamu" lanjut Umji ditengah meneteskan obat purgatif tepat diluka demi luka Seon dan menyalutinya menggunakan perban lalu direkat oleh plester kecil. Seon yang semata-mata melihat perangai Umji didepannya tatkala tersentak, bukan hanya Seon saja Heeseung dan Ga Eun juga mendapati apa yang telah dilakukan Umji ikut terperangah, terutama perkataan yang diberikan secara frontal pada Seon.
Apa yang membuat nyali Umji sedemikian nekat? Apa kewarasan dia sudah hilang? tanya Ga Eun didalam hatinya sendiri, matanya yang mendelik masih membekas. Sedangkan Umji, tampak tenang-tenang saja masih tengah serius mengobati kecederaan Seon.
*****
Jarum spidometer menunjukan kecepatan 80 km/jam, melintasi jalan layang yang tidak begitu banyak pengendara berlalu lalang padahal bila dilihat malam belum begitu larut, namun tampak sunyi nyatanya.
Entah kemana seseorang ini bertujuan bersama mobil yang dikemudikannya atau justru dia tidak memiliki tujuan? Benar saja, sudah kurang lebih 2 jam dia memboroskan waktunya diperjalanan, tanpa jeda dan beristirahat. Satu sisi tangannya menyangga di sisi pintu mobil, sedangkan lainnya tentu menggenggam stir mobil.
Melewati beberapa koridor disebuah komplek lelaki ini melambatkan kecepatan, sebab jalannya begitu sempit jika ia menacapkan gas.
Braaaaaak. Tang. Sraaaaaaak. Braaaaaaaak
Si pengendara spontan terhenti menggunakan rem tangannya, ia merasakan ada sesuatu yang mengenai samping pintu mobilnya. Ditangkap kedua mata si pemilik mobil dari kaca spion, ada sejumlah orang yang seakan menuju ke arahnya dengan tatapan sengit. Diantara mereka pun ternyata sudah ada yang berdiri tepat didepan si pemilik mobil, seperti ingin merampok.
Hah, siapa mereka? Belum seperkian detik dari tanda tanyanya siapa sekelompok yang menghalangi si pemilik mobil, tiba-tiba seseorang membuka paksa pintu dimana si pengemudi berada dengan mengetuk kasar kaca mobil.
Tiada pilihan lain, si pemilik mobil turun bersama keraguan serta keheranannya.
"Akhirnya kita bertemu Seon" cakap laki-laki dengan menunjukan smirknya di akhir katanya.
Ternyata si pemilik mobil ini adalah Seon.
"Siapa kalian?"
Praaaaaaaaaaaang! Taaaaaang! Sraaaaaaak!
Alih-alih menjawab pertanyaan Seon, salah satu diantara sekawanan ini justru melempar Seon kesudut pembatas gerbang, tubuh Seon membentur dinding dan terjungkal ke sebuah drum sehingga menimbulkan suara yang bangkar. Namun, tempat ini cukup renggang dari tinggalnya penduduk sehingga dapat dipastikan tidak ada yang mendengar bahkan mengetahui keributan yang terjadi.
"Mungkin malam ini adalah kesempatan dalam hidupku untuk menghabiskan nyawamu!" kata lelaki itu serentak memukul Seon dengan separa kayu, sedangakan yang lainnya begitu puas menyaksikan.
Yang ada dibayangan Seon kini, mungkin benar dirinya akan kehilangan nyawanya pada hari itu juga. Berserah dan memperkenankan takdir menarik sukmanya, binasa dengan cara yang durjana. Mengingat memang sepantasnya menanggung hukuman atas apa diperbuatnya selama ia hidup, terlebih lagi ia mengenali dirinya sendiri yang bersikap buruk pada orang terdekatnya. Sebelum jiwanya benar-benar berakhir, setidaknya ia sempat mengenang apa yang dilewatinya walaupun waktu tidak memberinya kemungkinan untuk Seon meminta maaf pada orang yang dimaksud olehnya.
Serangan demi serangan melunyah akan tubuhnya, tetapi raga Seon seolah bergeming membuat Seon masih dalam sadar meskipun berkelukur darah.
"Hentikan! Dan Angkat tangan! Jangan bergerak!"
Dengan bersamaan sekawanan tersebut mengalihkan pandangan ke arah suara itu berasal. Dilihatnya sejumlah polisi sudah dihadapan mereka, membidikkan pistolnya guna menggaham apabila ada yang berani melarikan diri.
Doooooor!
Benar saja, diantara mereka berupaya melarikan diri alhasil peluru kini menghunjam sebelah kiri kakinya dan lainnya mengangkat tangan, terutama pelaku yang membabi buta memukul Seon. Satu persatu kawanan tersebut naik ke mobil polisi.
"Selamat malam Nona, apakah anda yang menghubungi kami atas kejadian ini?" sapa seorang polisi pada seorang wanita yang dihampirinya.
"Iya benar Pak, saya dengan Son Ye Umji pelajaran di Seoul Victory School". Ternyata wanita itu adalah Umji.
"Baik, apa anda bersedia kami bawa ke kantor untuk dimintai beberapa keterangan selaku saksi mata pada kejadian malam ini?"
"Saya bersedia Pak. Tapi sebelum itu, saya meminta izin untuk bertemu korban"
Setelah mendapat perizinan dari polisi tersebut, Umji mendatangi dimana korban itu berada dan didapati masih dengan samar di dalam mobil, sepertinya itu kendaraan miliknya selepas dari pencariannya, Umji memastikan pandangannya. Tak ia terka sebelumnya, seseorang yang telah menjadi korban yakni sosok yang ia kenali. Mata kontan terbeliak, sedangkan kedua tangan Umji menangkup mulutnya yang kini terbuka, menyatakan dirinya hampir tidak percaya.
"Se......... seon Hyung?"
*****
"Jadi, sekawanan busuk itu orang-orang bayaran? Sungguh makhluk binal!" pekik Heeseung selepas mendengar apa yang diceritakan Seon.
Pada akhirnya, Seon angkat suara setelah beberapa jam terdiam dan menerangkan apa saja yang telah terjadi. Seon terlihat lebih baik dibandingkan Seon pada awal masuk dalam ruang kostan. Pakaian yang bersih berkat Heeseung yang dibawanya dari rumah dan luka terikat perban dengan baik dibantu oleh Umji.
Makan malam mereka tadi membuat ke empatnya sedikit lebih leluasa untuk saling beralih cerita, tidak sekikuk pada mulanya. Bahkan Umji berani menjelaskan kenapa dirinya begitu refleks memerintah Seon untuk menuruti dirinya guna diobati. Umji menahan geramnya atas penolakan Seon berkali-kali, awalnya Umji menawarkan kepada Seon untuk membawanya ke rumah sakit namun Seon menapik itu.
Dari yang diceritakan Seon, kawanan itu adalah orang suruhan bekas pekerja dari perusahaan dimana milik ayah Seon. Pekerja itu di cabut atas jabatannya lantaran penyalahgunaan evidensi firma. Merasa terpukul dan tidak terima keputusan ayahnya, entah apa yang dipikirkan manusia bedebah itu justru Seon menjadi objek sasaran pelampiasannya.
"Ketika mereka berusaha akan menghabisi aku, yang ada dipikiranku saat itu selain hancur adalah seseorang terdekatku selama ini." lanjut Seon disela-sela ceritanya yang mungkin masih bersambung.
"Siapa?" tanya Heeseung, Ga Eun dan Umji serentak.
Seon menatap bergantian pada ketiganya, pada kesudahannya lalu ia menjawab
"Daniel"
Heeseung yang awalnya duduk mengenyampingkan Seon kini meluruskan posisinya ke hadapan Seon, seolah meminta juga untuk mengulang pernyataannya kembali hendak memastikan apa yang telah ia dengar tidaklah salah. Sedangkan Ga Eun dan Umji bertukar pandangan, sama halnya begitu tidak yakin.
"Ya, aku ingin meminta maaf kepada Daniel sebelum akhirnya aku benar-benar tidak diberi kesempatan lagi untuk tinggal di dunia ini"
Penjelasan Seon mengakibatkan semua yang dihalanya termangu tanpa memberikan reaksi apa-apa. Tertegun sekaligus tenang menanggapnya.
Semoga apa yang dikatakan Seon mengiringi pada kenyataan dan kesungguhannya.
Advertisement
- In Serial93 Chapters
Demon Hero Reaper Saviour
What if the kingdom of men and the world as you know it will end tomorrow?What if the powers-that-be, in their last act of desperation, decided to send someone into the past to avert it?What if they chose the strongest and bravest warrior as their last best hope?What if that person couldn't make it? And all they've got was you?
8 101 - In Serial40 Chapters
Rock Hard
There lies a rock. It sleeps within a cavern, alongside a marbled altar, and in the company of a glowing, green gem. There lies a world. It waits with bated breath, as its sentient beings are put through the meat grinder that is the tutorial There lies a couple, who know not what this system offers, nor what it might entail for their world. All they know is that they must live. This is the story of how that one rock averts the fate of this doomed world, and does its best to save this group of friends. [Congratulations User! You are the first of your kind to achieve sentience. Please select a class] Holder of the [RoyalRoad Writathon Achievement], completed in 3 weeks instead of 5 Update Schedule: 2 Chapters a week, on Monday and Saturday (times may vary, because my schedule has only gotten crazier since I've started), at an average length of 2K words.
8 85 - In Serial213 Chapters
Soul of the Warrior
In a world where Classes, Stats, and Levels are the everyday norm, Reivyn has a secret. He was unusually aware of his surroundings from an incredibly early age, and Skills and Stats were acquired easily. He was just the son of an ordinary village family, and nothing appeared out of the ordinary on the surface. But below the surface, dreams of another life help shape his mentality and growth. Why does he have some remembrance of a past life, and what is his purpose in this new one? "Soul of the Warrior" is what I call a Semi-Isekai LitRPG. I say "semi," because Reivyn's past life is remembered like a dream, and very incomplete. It is still Isekai, though, as he remembers enough that it directly shapes his personality and his sense of self. The System that governs the world of "Soul of the Warrior" is a combination of modified versions from Selkie's "Beneath the Dragoneye Moons" and Kosnik4's "Magic Smithing." I have changed enough of these Systems and combined them in a way that is unique that I'm mostly sure it's fine, but I still have requested permission to use these ideas. They have both graciously granted me permission. Winner of the April Writathon Challenge. Release Schedule is Mon, Wed, Fri on Royal Road.
8 923 - In Serial9 Chapters
Tales of a Vagabond
Some people are meant to be heroes, they stand out as pillars of virtue and righteousness. Some people are meant to be villains, they stand out as vile miscreants who plot and scheme and want to burn the world. Then there is Nibingul, someone who walks between the lines. A filthy vagabond that just wants to be left alone with his pigeons, chickens, goats, and other assorted stolen livestock and his refuge under various bridges throughout Teleria. Follow the exploits of this underdog hero as he adventures, mostly unbathed and unwillingly through the land.
8 138 - In Serial12 Chapters
Loving Lucianna
Lucianna Fabio and Sir Balduin de Soler had each given up long ago on love. Sir Balduin never had the means to support a wife until, now in his fifties, an unexpected advancement in his career suddenly allows him to reassess his future just as the lovely Lucianna travels to his homeland of Poitou to chaperone the young woman who marries the young baron whom Sir Balduin serves.Lucianna harbors a secret, painful memory from her past that has kept her unwed, as well. Now in her forties, she thought herself too old to love and marry until she met Sir Balduin. But love is not restricted only to the young, and suddenly their lonely autumn lives feel very much like spring again.Until Lucianna’s brother appears without warning and threatens to revive the secret that will destroy Lucianna’s second chance at love.LOVING LUCIANNA is based on characters from my medieval romance, ILLLUMINATIONS OF THE HEART, available on Amazon, Barnes and Noble, and other online retailers.*********************Thank you for reading my first draft of LOVING LUCIANNA. I have finished formatting the final draft for formal publication on October 11, 2014. Among other things, the published version explores in more depth the relationship between Lucianna and Siri's mother, Elisabetta, in a series of flashback scenes.LOVING LUCIANNA is the first in a projected series of romances focusing on older heroines and heroes which I've subtitled HEARTS IN AUTUMN.The final version of LOVING LUCIANNA will be released October 11, 2014. I'd love you to join me at my launch party on Facebook on October 15. https://www.facebook.com/events/728586173902965/ There will be games and prizes! Come and help me celebrate the formal release of LOVING LUCIANNA!
8 173 - In Serial40 Chapters
Land Before Love.
Aleenia is forced into an arranged marriage. It wasn't uncommon for her not to know the man she is going to wed. But it would seem nobody knows who her soon to be husband is. As no-one goes and no-one talks about the people from the Southern lands. At least, not positive talk. In a deal to save her people, she is thrown into an ancient tribe. Their clothes, food, customs' and language foreign to her. And her husband becomes the greatest mystery to her of all. There are different creatures lurking in the woods. Ageless tales of their people that have her questioning everything. And something is closing in on the horizon that can bring down all that she has ever believed and cared about. Aleenia must tread carefully. As she must make a decision. Land before Love?.-.-.-.-.-.-.( #2 Historical Fiction August 19th 2018)( #355 in Romance August 14th 2018)(#152 in Werewolf December 9th 2017)
8 131

