《LOVENEMIES [END]》32 - Keheningan Penonton
Advertisement
Untuk mencegah dampak negatif dari pandangan dunia terhadap pemuda di bawah umur, Bae Sooji menyarankan agar keduanya tidak memalsukan penampilan mereka dan mengandalkan kemampuan mereka yang sebenarnya.
Hari-hari latihan berikutnya, Kim Myungsoo mencoba mengoreksi Sooji ketika dia tidak tahan lagi dengan nyanyian gadis itu. Setelah mencoba melakukannya beberapa kali, dia menyadari bahwa mengajar Sooji bernyanyi adalah tugas yang sangat sulit.
Tidak peduli seberapa sulitnya dia mengajar atau menasihatinya, ketika Sooji membuka mulutnya untuk bernyanyi lagi, seolah-olah Myungsoo tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun padanya sebelumnya.
Selain itu, Sooji memiliki cara khusus yang aneh untuk bernyanyi dengan tidak selaras.
Myungsoo terpaksa mengakui bahwa gadis itu benar-benar memiliki semangat yang tidak bisa dihancurkan.
Sooji juga jengkel dengan ajaran Myungsoo. "Apa yang kau inginkan? Kau bahkan tidak bisa memainkan cello dengan benar dan kau masih ingin mengaturku?" Dia menatap Oh Sehun. "Sehun, apa pendapatmu tentang nyanyianku?"
"Aku pikir...," Sehun mengerutkan bibirnya dan menjawab,"...percaya diri adalah hal yang paling penting."
Bagaimanapun juga, ini adalah penampilan panggung yang benar. Selain berlatih untuk itu, mereka perlu mempertimbangkan pakaian panggung mereka. Apalagi mengingat penampilan Sehun.
Pertunjukan Sehun adalah tarian pedang. Tarian itu membutuhkan seperangkat pakaian yang terlihat bagus dan nyaman yang juga harus sesuai dengan tariannya.
Sooji tidak bisa menemukan sesuatu yang cocok untuk dipakainya bahkan setelah berhari-hari mencari. Pakaian yang dilihatnya terlalu mencolok atau harus diikuti oleh gaya rambut yang rumit. Pada akhirnya, hanya Sehun yang membeli pakaian untuk dirinya sendiri di situs online.
Pakaian Sehun memiliki lengan dan celana panjang putih dan terbuat dari kain yang lembut dan halus. Potongan lehernya longgar dan nyaman.
Pakaian itu harganya 89 won untuk satu set, termasuk biaya pengiriman. Bahkan jika pakaian itu tidak bagus, mereka tidak akan rugi jika akhirnya Sehun memutuskan untuk tidak jadi mengenakan pakaian itu.
Sooji tidak punya harapan tinggi terhadap penampilan mereka. Ketika Sehun berdiri di depannya dengan pakaian itu, Sooji memandangnya satu kali dan pikiran pertama yang muncul di benaknya adalah: penampilan seorang penari memang berbeda.
Seiring dengan postur tubuh yang luar biasa, bahu lebar dan pinggang yang kecil, Sehun memiliki kulit seputih salju dan sepasang mata serta alis yang membuatnya seperti karakter yang keluar dari komik. Ketika mengenakan pakaian itu, Sehun memancarkan aura yang menyilaukan hanya dengan berdiri dengan tangan yang santai di samping tubuhnya.
Sooji sedikit terpesona.
Sehun memegang pedang peraknya dan berjalan ke tengah studio dansa. Dia memutar pedang dan mulai menari.
Suara cello Myungsoo masuk pada saat yang tepat. Dengan alunan musik yang lembut, suara dari cello memenuhi ruangan. Uniknya, alunan cello dan tarian pedang tampak selaras.
Sooji mulai bernyanyi. "Kau adalah takdirku~ Kau—"
Ya, setidaknya mereka tampak selaras sebelum Sooji mulai bernyanyi.
Dengan masalah pakaian Sehun yang sudah terselesaikan, Sooji dan Myungsoo memilih pakaian mereka juga. Myungsoo akan mengenakan jas dan dasi biasa, sementara Sooji pergi berbelanja dengan Jung Soojung dan membeli gaun panjang berwarna krem dan sepasang sepatu hak. Gaun itu dirancang untuk melekat di pinggul pemakainya dan memamerkan bentuk tubuh pemakainya. Leher bulatnya dihiasi dengan butiran berlian berwarna-warni.
Sebelum pergi, Sooji juga memakai riasan. Karena dia tidak pandai berdandan, Soojung membantunya untuk meriasi wajahnya.
Advertisement
Ketika mereka menuju ke bawah, Soojung dengan hati-hati memegangi lengan Sooji. Dia sangat khawatir bahwa Sooji tidak akan terbiasa dengan sepatunya dan itu akan membuatnya jatuh. Sooji memiliki tinggi 1,68 m. Setelah memakai tumit 8 cm, dia jauh lebih tinggi dari Soojung. Soojung menatap wajah cantik Sooji dan berkomentar,"Rajaku, aku sangat mencintaimu."
"Oh? Katakan padaku alasannya. "
"Apa kau tahu berapa banyak keberanian yang harus kukumpulkan untuk berjalan di sampingmu? Kau terlihat seperti dewi sekarang!"
"Benarkah?" Sooji berdiri di depan pintu kaca gedung asrama dan menatap bayangannya. Kemudian, dia menepuk kepala Soojung. "Selir Jung, aku juga mencintaimu."
Keduanya kemudian keluar dari gedung asrama. Angin musim gugur dengan santai menggerakkan ujung gaun Sooji. Sooji menggosok lengannya yang terbuka, rasanya sedikit dingin.
Myungsoo dan Sehun menunggunya. Sooji bisa melihat mereka setelah dia melangkah keluar.
Kedua pria itu juga melihatnya.
Myungsoo merasa bahwa dia akan menjadi gila — dia benar-benar merasa bahwa Sooji sangat cantik.
Gaya rambutnya sama – rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkannya tergerai, tapi dia memakai riasan. Kulitnya bercahaya sementara matanya tampak lebih besar dari biasanya, membuat matanya tampak sangat cerah dan berbinar. Bibirnya yang tipis dicat warna merah menyala.
Lehernya ramping, tulang selangkanya terlihat jelas. Pinggangnya ramping.
Myungsoo tanpa sadar memikirkan mimpi memalukan yang dialaminya kemarin. Dalam mimpi itu, pinggang gadis itu persis seperti ini.
Sooji berjalan mendekat. Melihat bagaimana mereka berdua linglung, dia melambaikan tangannya pada mereka. "Hei! Kenapa kalian melamun seperti orang bodoh? Hahaha!"
Myungsoo tersadar dari lamunannya. Ternyata Sooji tetaplah Sooji. Perilaku gadis ini yang seperti ini sudah tidak asing baginya.
Soojung memutuskan untuk mempercayakan Sooji pada kedua pria itu dan memutuskan untuk pergi. Myungsoo, Sooji dan Sehun berjalan ke alun-alun dekat auditorium tempat audisi kompetisi menyanyi diadakan. Sepanjang jalan, mereka menarik perhatian banyak orang yang lewat.
Nama resmi kompetisi menyanyi adalah "Campus Idol" dan itu adalah acara terbesar yang diselenggarakan oleh Persatuan Mahasiswa dan Mahasiswi setiap tahun. Bahkan ada desas-desus bahwa ada yang langsung memasuki industri hiburan karena memenangkan kompetisi ini.
Tahun ini, "Campus Idol" dibagi menjadi dua segmen: audisi pendahuluan dan kompetisi resmi. Audisi pendahuluan pertama akan diadakan selama tiga hari berturut-turut. Setiap individu atau kelompok yang mendaftar untuk kompetisi akan naik ke atas panggung untuk tampil. Proses seleksi terdiri dari suara dari para juri dan mahasiswa/i UNK. Totalnya ada tiga juri. Jika kontestan menerima ketiga suara, mereka secara otomatis akan memenuhi syarat untuk masuk ke kompetisi resmi. Dan bagi peserta yang gagal, mereka juga dapat memenuhi syarat dengan mendapatkan suara yang cukup dari para mahasiswa/i.
Ini adalah hari terakhir audisi pendahuluan. Sooji, Myungsoo dan Sehun tampil menjelang akhir – itu adalah keputusan kelompok yang mereka buat setelah mengkonfirmasikan waktu yang paling tepat bagi Myungsoo dan Sehun. Namun, tampil menjelang akhir memiliki banyak kelemahan. Ini karena pemungutan suara dimulai sejak hari pertama audisi. Sebagian besar mahasiswa/i sudah memberikan suara mereka dan ini berarti ada lebih sedikit suara yang tersisa untuk kontestan yang tampil di hari selanjutnya.
Namun, Sooji tidak menganggap itu sebagai masalah. Dia percaya bahwa para juri memiliki selera yang baik dan tentu saja akan memilih mereka dengan suara penuh.
Advertisement
Alun-alun auditorium adalah area yang harus dilewati siapa pun yang akan menuju ke kantin. Pelajaran untuk hari itu sudah berakhir dan ada cukup banyak orang yang berkumpul di dekat panggung audisi.
Di atas panggung, pembawa acara mengumumkan penampilan berikutnya. "Penampilan selanjutnya, yaitu "My Destiny" yang akan dibawakan oleh Bae Sooji, Kim Myungsoo dan Oh Sehun."
Ada keributan di kerumunan.
"Kim Myungsoo? Apa itu Kim Myungsoo yang aku tahu? Kenapa dia ada di sini hari ini?"
"Ah? Dewa Es? Syukurlah aku tidak melewatkan ini!"
"Kenapa Bae Sooji lagi? Apa Bae Sooji dan Kim Myungsoo berkencan? Apa mereka berdua benar-benar berkencan?"
"Siapa itu Bae Sooji?"
"Mahasiswi tahun pertama yang terlibat dalam insiden klub seluncur beberapa waktu lalu. Dia benar-benar keren saat berseluncur. Kusarankan kalian untuk menonton videonya."
"Aku ada di sana saat itu. Kurasa ada sesuatu antara Bae Sooji dan Kim Myungsoo."
"Omong kosong, Kim Myungsoo adalah milikku!"
"Kalian, intinya adalah Oh Sehun! Sial! Kenapa dia juga ada di sana bersama Bae Sooji? Orang suci macam apa gadis itu?"
"Siapa itu Oh Sehun?"
"Apa tidak ada di antara kalian yang menonton seluncur indah?"
"Wow, gadis itu benar-benar cantik!"
Kerumunan berkicau terus-menerus.
Sooji mengangkat ujung gaunnya dan dengan santai di atas panggung melontarkan senyum ke arah penonton. Sikapnya tampak alami dan memberi kesan yang baik pada penonton.
"Kami akan mempersembahkan sebuah lagu kepada semua orang yang ada di sini yang berjudul 'My Destiny'." Sooji mulai membuka suara, Suaranya terdengar merdu saat dia berbicara dengan nada datar. Saat dia berbicara, wajahnya masih memancarkan sebuah senyuman yang samar. Dia melirik para juri dan mengedipkan mata.
Para juri tersenyum simpul sebagai balasannya.
Wow! Dewi!
Beberapa pria terus memandangi Sooji. Bahkan sebelum gadis itu mulai bernyanyi, mereka sudah bersorak dan bertepuk tangan untuk mengantisipasi penampilannya.
Di belakangnya, Myungsoo dan Sehun sama-sama dalam posisi.
Para gadis juga sangat senang melihat bagaimana Myungsoo akan memainkan cello. Ini akhirnya terjadi! Dewa mereka akan memainkan cello lagi!
Sehun mengangkat pedangnya dengan dingin. Ketika musik cello terdengar, dia mulai menari.
Setelah melihat cara pria itu menari dengan pedang, banyak orang langsung merasa itu luar biasa. Gerakannya mengalir dari satu gerakan ke gerakan lain; tarian pedang dieksekusi dengan anggun dan penuh semangat, menunjukkan kepercayaan dirinya yang tidak terbatas. Apa pria itu seorang professional?
Nada cello terdengar fantastis sementara tarian pedang itu mengesankan. Para penonton mulai mengagumi tim Sooji dan membahas ini dengan bisikan lembut.
"Luar biasa, memiliki orang-orang yang begitu tampan untuk meningkatkan penampilannya."
"Peningkatan apa yang sedang kau bicarakan? Mereka tampil sebagai tim."
"Kenapa Kim Myungsoo memainkan cello untuknya? Ah, rasa iri ini membuatku gila!"
"Sial, bukankah penampilan ini setara dengan tim juara? Aku mengumumkan bahwa pemenang 'Campus Idol' adalah... istriku, Bae Sooji!"
"Pergilah! Kapan dia menjadi istrimu?"
Diskusi semakin memanas ketika, tiba-tiba, Sooji membuka mulutnya. Ini sedikit lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan dan para penonton benar-benar lengah.
"Kau adalah takdirku~ Kau—"
"......"
"......"
"......"
Diam. Tiba-tiba saja keheningan memenuhi ruangan.
" Kau adalah takdirku~ Kau~
Kau adalah segalanya bagiku~
Jika aku hanya melihatmu, aku akan—"
"......"
"......"
"......"
Keheningan itu berlanjut. Seolah-olah tidak ada orang di sana.
Salah satu juri lalu meminum airnya. Namun, dia secara tidak sengaja meludah ke seluruh meja. Pria paruh baya itu langsung berusaha membersihkan keributan yang dibuatnya karena malu.
Dari semua yang hadir, dua orang paling tenang adalah pria yang memainkan cello dan seorang penari. Yang satu matanya tampak tenang, sedangkan pria yang lainnya kini sedang menggerakkan angin dengan pedangnya.
Sooji tampak sedikit panik. Dia mulai bereksperimen dengan aksi panggungnya. Sambil memegang mikrofon dengan tangan kanannya, dia meniru penyanyi di televisi dan mengangkat tangan kirinya ke atas, ke arah langit yang terbuka.
Sial!
Ini malah semakin mengacaukan penampilan gadis itu.
Beberapa orang bahkan sudah mengangkat botol air mineral mereka. Namun, botol-botol itu hanya diangkat dan akhirnya, tidak ada yang berani melayangkannya di udara.
Para pria tidak mau melempari Sooji, sedangkan para gadis, di sisi lain, sangat bersedia untuk melemparinya. Hanya saja, mereka takut botol-botol itu akan mengenai dua pria tampan di belakang.
Dengan demikian, Sooji berhasil menyelesaikan lagunya dengan aman dari awal hingga akhir.
Penonton merasa seperti jiwa mereka sedang dibersihkan. Tunggu, tidak. Jiwa mereka kini sedang diusir.
Sooji selesai bernyanyi dan dengan berseri-seri menghadap juri.
Ketiga juri mengangkat tanda silang berwarna merah.
Senyum Sooji membeku.
Ekspresinya sangat terluka dan beberapa penonton sebenarnya mulai merasa sedikit iba.
Myungsoo berdiri. Sambil membawa cello-nya, dia berjalan ke sisi gadis itu. Myungsoo bisa melihat dengan jelas ekspresi sedih gadis itu, seolah-olah mereka sudah kalah telak.
"Terima kasih, para juri." Meskipun Sooji sedikit sedih, dia masih berhasil mengucapkan terima kasih.
Tiba-tiba, seseorang mengambil mikrofon dari tangannya.
Bingung, Sooji berbalik dan menatap Myungsoo.
Dengan mikrofon di tangannya, Myungsoo mulai berbicara,"Kalau kalian ingin melihat kami di kompetisi resmi, tolong pilih kami. Terima kasih semuanya!"
Salah satu dari para penonton melambai padanya. "Baiklah, Dewa Es!"
Setelah mengatakan ini, Myungsoo memberikan mikrofon kembali kepada pembawa acara. Dia melihat Sooji menatapnya dengan pandangan kosong. Myungsoo lalu menyentuh bahunya. Dengan suara tenang, dia berkata,"Ayo pergi."
Suaranya sangat lembut.
Ketiganya lalu meninggalkan tempat itu dalam keheningan. Di luar, Jung Soojung dan Kim Jongin sudah menunggu mereka. Setelah melihat Sooji, Jongin langsung menghiburnya,"Bos, para juri itu buta. Jangan marah."
Sooji menunduk dan berkata dengan lembut,"Aku benar-benar berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan nyanyianku."
Myungsoo tiba-tiba sangat penasaran. Dia bertanya,"Apa tidak ada yang pernah mengatakan padamu bahwa nyanyianmu tidak selaras?"
"Ayah, ibu, kakek dan nenekku, semua mengatakan bahwa nyanyianku benar-benar bagus."
"Bagaimana dengan teman sekelasmu? Apa tidak ada dari mereka yang mengatakan sesuatu?" Segera setelah menanyakan ini, Myungsoo langsung menggelengkan kepalanya. "Lupakan saja. Kau mungkin tidak akan mempercayai mereka."
Sooji menatap ke atas, menengadah pada langit. Sebenarnya, memang ada orang yang mengatakan bahwa nyanyiannya tidak selaras, tapi hanya sedikit orang yang mengakuinya. Lagi pula, tidak ada orang yang suka terang-terangan menunjukkan kesalahan orang lain.
Tapi sebenarnya, Sooji memilih untuk tidak mempercayai mereka.
Jongin tiba-tiba berjinjit ke sisi Myungsoo dan berbisik di telinganya. "Bagaimana kau bisa memahami bosku dengan sangat baik? Aku akan memilihmu."
Myungsoo mengangkat alisnya, melihat ke samping dan memberi Jongin pandangan setuju.
Advertisement
- In Serial13 Chapters
Capitalist Monster Hunter
Despite becoming a Hunter, Han Yoo-sung was transmigrated into a strange world with neither magic nor martial arts. But everything changes when a message from the Gods appears before his despaired eyes…
8 213 - In Serial86 Chapters
I'm Not The Hero
Orrin is NOT the hero of the story. That would be his best friend, Daniel. Somehow they stumbled into this new world with magic. While Daniel is the Hero, Orrin gained a new class Utility Warder. Who brought them here? Why does Orrin seem to have powers even the Hero doesn't? And why does Daniel seem to be pulling away from him? Updates: Saturday Morning like an old school cartoon. Also Thursdays on weekdays I can keep my life together. Update: April 1, 2022. Participant in the Royal Road Writathon challenge
8 261 - In Serial8 Chapters
Life of a Core
After a disembodied voice had told him he was what amounted to an exceptionally talented rock, it had been hard to not let it go to his non-existent head. Until, random chance had decided to give him a square kick in the minerals. Which had in turn forced him to fend for himself in an unknown land, all while he attempted to make sense of his place in the world. Truthfully though, all he had really wanted to do from the start had been to bury himself a hundred feet below the ground and be left to his own devices. Yet, for one reason or another, nobody ever seemed willing to leave the dungeon-building core alone long enough to actually make one. Each chapter will average around two to three thousand words, the release schedule is still a WIP but you should expect the first six chapters to be released over the next six days. This is planned out as a dungeon building fiction, but don't expect it right off the bat! The story is a depiction of the everyday adventures (alongside an overarching plot) of what I imagine a dungeon core would experience when thrust into a random environment where everything and everyone tried to covet or eat him. I also really enjoy reading the comments and reviews people leave and would love to get some reader involvement with the story itself, likely through polls at the end of each chapter. I hope you enjoy my story! (If you feel like some of the characters seem familiar, you may have read some older work I wrote a while back under a different account. If you happen to be one of my old readers and recognize the similarities, I'm happy to have you back!)
8 105 - In Serial15 Chapters
In Pursuit of Bark's Finest
On the frontiers of transhumanity’s expansion into the galaxy thousands of light years from the light of Sol, things can get rather chaotic. There are countless millions of nascent interstellar nations securing their interests, pirate ships prospering off plunder and deniable mercenary work, dissidents setting up their own civilizations, and other groups all trying to push an agenda. When these groups crash into each other, the results can become extremely messy and convoluted. Recently, a frontier nation calling itself the Red Star Union has found itself at the focal point of one such complication. A freighter under their protection has been sabotaged, hijacked in interstellar space, and robbed of its cargo. This would be bad enough even if all it were carrying was luxury goods, but the freighter Nebula Plow was carrying more than just normal trade goods. Indeed, her cargo of Non-Orientable Wormholes for use in starship power plants was both very expensive and very, very dangerous. Now the Red Star Union has to worry about a pirate crew running around with several extra devices capable of converting matter into antimatter with negligible energy cost. With those, the pirates could be capable of inflicting untold damage if allowed to leverage their ill-gotten gains into a stronger position, a possibility the Union finds completely intolerable. Unfortunately, all that the Red Star Union has to go on for evidence is two names; that of the captain, and that of the ship. The Captain is going by the possible pseudonym of Fuller, while the ship is named Bark’s Finest. And thus the orders came down to the Union’s Bureau of Starforce Intelligence: find more information on these pirates, conclusively identify them, and figure out where exactly they’ve gone to ground so that the fleet can crush them before they get established. Of the many agents that the bureau assigned to this mission, one would happen to play an important role: Field Agent Madeline Zargosty. This is her story. This story is entirely pre-written, and will have one chapter released per week. If you want to read it all ahead of schedule and get access to some premium-exclusive bonus content, the entire book is available for purchase; links to the appropriate storefront pages will be posted at the end of each chapter. This story is also being posted to Scribblehub.
8 92 - In Serial26 Chapters
Shattered Destiny
In a distant galaxy, a man only wanting to live a happy and peaceful life with his family, had his short comings as unholy lifeforms attacked his planet. Dying with his family of three, a mysterious being gains interest and gives him another chance at life for her unknown plans. He then starts fresh, but as he continues to grow and go down the path of a warrior... something known as peace, can only last for so long.
8.09 205 - In Serial8 Chapters
life of a dragon slayer
FTO fanfic that is slightly inspired by something written someone
8 148

