《LOVENEMIES [END]》24 - Merusak dan Memprovokasi
Advertisement
Ketua klub sepatu roda sangat tulus dalam menyelenggarakan makan malam ini dan bahkan secara khusus memesan ruangan pribadi. Tidak mudah memesan ruangan di restoran mana pun yang berlokasi di kampus dan ini masih menjadi misteri bagaimana pria itu melakukannya.
Bae Sooji terlambat dua menit. Setelah tiba, dia melihat beberapa orang sudah duduk di sekeliling meja di dalam ruangan tersebut. Ketika gadis itu membuka pintu, ruangan yang penuh dengan orang-orang tersebut menoleh secara serempak menuju pintu masuk. Di kursi terdekat ke pintu, ada juga seorang pria dengan kepalanya menoleh untuk menatap Sooji. Ketika orang-orang di ruangan itu menyapa Sooji, pria itu tersenyum padanya, lesung samar muncul di pipi kirinya. Pria itu adalah anggota seluncur indah yang Kim Jongin ceritakan tadi. Namanya Oh Sehun.
Sooji bertukar sapa dengan orang banyak dan dengan acuh tak acuh menuju ke ruangan itu. Melihat kursi di samping Sehun kosong, dia meletakkan tasnya dan duduk di samping pria itu.
Setelah duduk, Sooji mendengar pria di sampingnya memberikan sapaan lembut. "Halo."
"Halo, aku Bae Sooji."
"Aku tahu." Dia menyunggingkan senyumnya. "Aku Oh Sehun."
"Aku juga tahu itu."
Saat mereka berbicara, Jongin yang duduk tepat di seberang Sooji, mengedip padanya. Pria itu kini sedang menempatkan peralatan makan ekstra yang diatur di depannya di atas kaca transparan Lazy Susan – baki bulat yang dapat berputar yang diletakkan di atas meja makan yang juga bulat – dan memutarnya ke Sooji.
Sooji mulai mengatur ulang peralatan makan yang ada di depannya.
Sehun mengambil cangkir kosongnya. Sambil memegang teko, dia melap cangkir itu sebelum mengisinya dengan air.
Sooji mengawasinya dari samping. Tangan pria itu dengan santai mencengkeram cangkir porselen putih, jari-jarinya yang panjang dan proporsional berwarna putih susu tampak bersinar di bawah pencahayaan ruangan. Ini adalah pemandangan yang sangat estetis.
Sehun mendorong cangkir air ke depan Sooji. Melihat tatapan Sooji terpaku pada tangannya, dia menarik tangannya, sedikit malu.
Jongin sedikit terkesan dengan bagaimana bosnya berhasil menggoda seseorang yang lebih muda hanya dengan tatapannya saja.
Ketua klub kemudian menyerahkan menu. "Silahkan pesan. Tidak perlu sungkan."
Jika Kim Myungsoo hadir, Sooji pasti akan memesan hidangan seperti kroket dan ikan asam manis untuk membuat pria itu jijik. Makanan yang tinggi lemak dan mengandung gula adalah sesuatu yang harus dihindari oleh para atlet. Namun, karena pria itu tidak ada di sana, Sooji memutuskan untuk memesan dua hidangan sayuran sehat yang tinggi protein.
Sambil menunggu hidangan, Sooji mengobrol dengan orang-orang yang hadir di sana. Menjadi orang yang mudah bergaul, gadis itu bisa melakukan percakapan terlepas dari apa dia mengenal orang tersebut atau tidak.
Sehun duduk di sampingnya dan diam-diam mendengarkan obrolan mereka.
Suasana itu benar-benar santai sebelum akhirnya seseorang membuka pintu.
Sooji berpikir bahwa orang yang datang itu adalah pelayan yang datang untuk menyajikan hidangan. Dia berbalik dan malah mendapati Myungsoo berdiri di sana.
Advertisement
Tanpa menunggu yang lain bereaksi, dia dengan cepat berdiri dan mendorong pintu hingga tertutup. "Kau memasuki ruangan yang salah."
Ketua klub dengan cepat menghentikannya. "Sooji, dia berada di tempat yang benar. Aku yang mengundang Dewa Es." Dia meninggikan suaranya dan dengan keras berseru,"Dewa Es, Dewa Es, silahkan masuk!"
Mendengar panggilan ketua klub, Myungsoo membuka kembali pintu dan berjalan ke ruangan itu.
Ketua klub sangat senang dan senyum menjilat muncul di wajahnya. "Astaga, aku hampir mengira kau tidak akan datang. Cepat, tambahkan kursi ke meja. Kami akan meminta pelayan untuk membawa peralatan makan tambahan. Ini, lihatlah menunya. Pesan saja apa pun yang kau inginkan."
Ada beberapa kursi cadangan di ruangan itu. Myungsoo mengambil sebuah kursi dan menyelipkannya di antara Sooji dan Sehun. "Permisi. Aku ingin menambah tempat duduk di sini."
Sooji tetap duduk dan tidak bergerak. Dia pura-pura tidak mendengarnya. Tanpa berkata apa-apa, Myungsoo membungkuk dan mengangkat kursi Sooji.
Setelah memindahkan Sooji sedikit ke samping, sekarang ada tempat kosong di antara Sooji dan Sehun.
Pria itu segera menyelipkan kursi di antara mereka dan duduk disitu. Ruangan itu terlalu kecil dan Myungsoo adalah seseorang yang bertubuh besar. Setelah pria itu duduk, mereka bertiga berkumpul dengan rapat. Sehun bisa merasakan kakinya bersentuhan dengan kaki Myungsoo.
Sehun diam-diam bergeser sedikit ke samping.
Suasana hati Sooji yang awalnya baik benar-benar hancur dibuat Myungsoo. Sooji membungkuk ke arah Myungsoo dan dengan suara rendah bertanya,"Apa yang kau lakukan di sini?"
Myungsoo berbalik dan bergumam ke telinganya. "Aku juga diundang ke sini sama sepertimu."
"Bukankah biasanya kau tidak suka pertemuan makan malam seperti ini? Kenapa kau tidak seperti dirimu yang biasa hari ini?
"Aku dalam suasana hati yang baik hari ini."
Sooji memutar matanya. Dalam benaknya, dia mencoba menebak motif apa yang dimiliki Myungsoo.
Satu demi satu, hidangan disajikan. Myungsoo sekali lagi bersandar di samping telinga Sooji dan diam-diam berbicara,"Hidangkan makanan untukku."
Sooji hampir tidak bisa percaya Myungsoo mampu membuat permintaan tanpa malu seperti itu. "Enyahlah."
"Aku akan memberimu 1 won untuk setiap sumpit yang kau sajikan."
"Kubilang enyah."
"2 won."
"Enyah, enyah, enyah."
"5 won, 10 won, 20 won?"
Brak—
Sooji membanting tangannya di atas meja dan berdiri.
Semua orang terkejut dengan tindakannya tersebut.
Dia meraih lengan Myungsoo dan menyeretnya ke pintu. "Keluar."
Myungsoo tidak melawan dan diseret keluar begitu saja oleh gadis itu. Masih menyeret Myungsoo, Sooji melihat sebuah sudut dan mendorongnya ke dinding.
Myungsoo bersandar dan menatap Sooji, senyum misterius tersungging di bibirnya.
"Kim Myungsoo." Sooji menunjuk ke arahnya. "Aku pikir kau harus mengganti namamu menjadi Orang Gila. Apa pun masalahmu, pergilah dan segera obati dirimu, oke? Berhentilah berkeliaran dan menjadi ancaman bagi orang banyak."
Advertisement
"Aku akan memberimu 50 won untuk setiap sumpit yang kau sajikan."
Sooji meraih kerah baju Myungsoo. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?"
Myungsoo tersenyum. "Bae Sooji, jangan pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan. Dia masih di bawah umur, apa kau benar-benar akan menggodanya?"
Sooji menempatkan satu tangan di pinggangnya dan menatap Myungsoo. "Singkirkan saja pertanyaan apakah aku tertarik padanya atau tidak untuk saat ini. Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa itu menjadi urusanmu?
"Aku menentang apa pun yang kau inginkan."
"Oh, kalau begitu aku ingin menjadi orang miskin."
"Tentu, permintaanmu dikabulkan. Dalam beberapa hari, kau akan menjadi orang miskin."
Sooji sudah tidak memiliki tenaga untuk terus bertengkar dengannya. Gadis itu menyapukan jari ke rambutnya. "Terkutuklah kau, Kim Myungsoo."
"Aku akan memberimu 100 won untuk setiap sumpit yang kau sajikan."
Ketika mereka berdua kembali ke ruangan itu, Sooji mulai menimbun makanan ke dalam mangkuk Myungsoo. Hal itu membuat sebuah gunung kecil berdiri tegak di depannya.
Dengan nada yang manis, Myungsoo berkata,"Cukup, aku tidak akan bisa menghabiskannya."
"Astaga, apa kau lupa jumlah roti kukus yang kau makan saat kita kecil? Aku memiliki keyakinan penuh pada kemampuanmu."
Ketua klub dan semua orang saling memandang. Masing-masing dari mereka memiliki pandangan yang curiga di wajah mereka.
Sehun memperhatikan mereka dengan kepala miring. Ketika dia kebetulan bertemu dengan tatapan membara Sooji, pria itu menatapnya dengan tatapan yang hangat.
Sooji menggembungkan pipinya dan melemparkan tatapan tak berdaya pada Sehun.
Menopang wajahnya, Jongin merasa bahwa perjalanan bosnya ke dalam suatu hubungan menjadi semakin menarik.
Setelah makan, semua orang berkemas dan mulai pergi. Sooji mengangkat jarinya ke wajah Myungsoo. "10.000 won." Tanpa menunggu tanggapan pria itu, Sooji menuju ke lantai bawah mengikuti Jongin dan yang lainnya.
Myungsoo mengikuti di belakang mereka dengan tangan di sakunya. Karena kakinya yang panjang, apa yang orang lain anggap sebagai langkah berjalan normal, bagi pria itu adalah berjalan santai yang lambat. Dari bagaimana pria itu berjalan, pria itu kini tampak seperti seorang kakek tua yang berjalan-jalan di taman sambil memegang sangkar burung.
Ketika mereka keluar dari gedung, Sooji dan Jongin keduanya pergi untuk mengambil sepeda mereka. Sooji juga bergabung dengan barisan pemilik sepeda. Beberapa waktu yang lalu, dia menghabiskan 80 won untuk membeli sepeda bekas yang kuat.
Sehun berdiri di samping mereka dan menyaksikan mereka membuka kunci sepeda mereka masing-masing. Di matanya yang jernih, ada sedikit keajaiban dan kekaguman.
Melihat Sehun berdiri di sana dengan linglung, Sooji bertanya,"Dimana sepedamu?"
"Aku berjalan kaki ke sini."
"Kau akan menghabiskan waktu yang sangat lama untuk pulang ke asrama." Sooji menunjuk ke samping. "Kenapa tidak menyewa sepeda saja? Harganya tidak mahal."
Sehun mengerutkan bibirnya. "Aku akan berjalan kaki saja."
Sooji melemparkan kunci yang telah dilepasnya ke keranjang sepeda. Dia menegakkan tubuh dan dengan cermat memeriksa pria itu. Dia tiba-tiba tergelitik. "Apa kau tidak tahu bagaimana caranya mengendarai sepeda?"
Sooji memukul pelan kepalanya. Rona merah menyebar di pipi Sehun. Dia mengalihkan pandangannya dan menjawab,"Aku tidak punya waktu untuk belajar caranya mengendarai sepeda."
Pria itu berbalik dan pergi. Sooji menyetir sepedanya di sampingnya, mengikuti Sehun. "Bagaimana kalau aku memberimu tumpangan? Lagi pula, kita menuju ke arah yang sama."
"Tidak apa-apa. Aku cukup berat."
"Itu bukan masalah." Sooji menunjuk ke arah Jongin. "Aku bahkan bisa membonceng tumpukan lemak itu."
Jongin memprotes perkataan Sooji. "Bos, jujurlah padaku. Bagaimana bisa aku disebut gemuk?"
Sooji terkikik. Dia menunjuk ke kursi belakang di sepedanya. "Ayo. Aku berjanji tidak akan membuatmu jatuh."
Sehun naik ke sepedanya sambil tersenyum. Dengan pijakan kuat di pedal, Sooji dengan mulus mengayuh sepedanya keluar.
Myungsoo berdiri di tangga yang mengarah keluar dari restoran, lengannya disilangkan ketika dia melihat mereka berdua pergi.
Jongin melihat bibirnya sedikit melengkung. Dia segera berbalik dan bergumam,"Dia sangat tangguh. Bagaimana mungkin dia bisa membonceng seorang pria dengan kecepatan seperti itu?"
Sooji kini sedang menggigit bibir bawahnya. Dia mengalami sedikit kesulitan menyetir sepeda — meskipun Sehun tampak cukup kurus, pria itu memang cukup berat.
Sebenarnya, ini bisa dimengerti. Bagaimanapun, dia ramping dan berotot dan otot lebih padat dan lebih berat dari gumpalan lemak.
"Sehun, berapa tinggimu?" Sooji bertanya padanya.
"1,78 m." Sehun menjawab.
"Mm. Kau masih muda. Kau mungkin masih akan tumbuh lagi. "
"Aku tidak ingin bertambah tinggi lagi."
" Kenapa tidak?"
"Kalau aku bertambah tinggi, pusat gravitasiku juga akan lebih tinggi. Hal itu akan membuatku lebih mudah jatuh. "
Sooji langsung mengerti. Dia ingat ketika dia masih berseluncur. Menjadi tinggi memang tidak menguntungkan dalam hal berseluncur. Gadis itu mencoba menghiburnya. "Jangan terlalu dipikirkan. Itu tidak akan berdampak sebesar itu, 'kan? Dan ketika kau lebih tinggi, kakimu akan lebih panjang dan terlihat sangat bagus."
"Mm."
"Ngomong-ngomong, kau terlihat baik-baik saja seperti sekarang," Sooji menambahkan.
Sehun menggumam lagi, kali ini dengan sedikit senyum. Tawa lembutnya sedikit tertahan karena malu dan senang mendengar ucapan Sooji. Sooji sedikit terpesona oleh Sehun. Dia memutuskan bahwa ketika mereka menjadi teman dekat di masa depan, Sooji ingin menyentuh lesung pipinya.
Pada saat ini, Myungsoo melaju melewati mereka dengan sepedanya. Ketika dia melihat mereka berdua, dia mengeluarkan cahaya dari sepedanya dan berteriak, mengejutkan mereka.
Sooji hampir jatuh dari sepedanya.
"Dasar gila," dia mengutuk.
Myungsoo tidak merasa tersinggung. Seolah-olah dia sedang pamer, pria itu dengan mudah mengayuh dan meninggalkan mereka di belakang.
Sooji merasa bahwa Kim Myungsoo sangat sombong.
Sungguh, itulah yang terjadi jika kalian terlalu memanjakan anak-anak.
"Tunggu saja, aku akan mengajarimu bagaimana caranya bersikap yang baik," batinnya.
Advertisement
- In Serial88 Chapters
Isaac Unknown: The Albatross Tales (Book 1)
Everywhere Isaac goes people die. The magician has learned to shrug in the face of death. Not foolhardy enough to laugh, nor fast enough to run, he greets its repeated appearance with blasé resignation. Whether he's collecting arcane artifacts for the mysterious agency known as Arrangement or doing a freelance demon summoning, all of his half-hearted attempts at preserving life seem to go awry. Blanketed by the shadow of his former master - a magician most believe to be a myth - Isaac just wants to do his job and keep his head low. As he encounters professional witch hunters, a failed feline familiar, angry cannibals, a possessed moonshine jug, and a competitive cabal of necromantic surgeons, Isaac finds that he's becoming very popular with the wrong kind of people. Book 1: The Albatross Tales - complete Book 2: The Furious Sons - TBA Cover by @Guinealove2005 at Instagram - Her business inquiry email is: [email protected]
8 170 - In Serial84 Chapters
The Most Powerful Ant in the Universe
As an ant, I am very weak, to the point that anything can defeat me without trying at all. And then a strange person gives me unimaginable potential... New chapter daily (Haven't missed one yet)!
8 100 - In Serial10 Chapters
Humanity Extinguished
I had the same nightmare again. The loss of my first life continues to haunt me, but now it aches like an old wound. A more grievous injury to my psyche was the losses yet to come and the inevitable hellscape I would return to again and again. Reincarnation is my curse. The lives themselves weren't all that bad. Losing people you cared about hurt and all, but even that pain was preferable to experiencing the nothingness between lives for months at a time. It was enough to drive anyone mad. Now I have to focus on breaking this horrible cycle. Thankfully I have all the time in the world. Trace is an average man driven by extraordinary circumstances in an indifferent and cruel world. His reincarnations give him a few key advantages but also take a heavy toll on him. He lives in a world where magic is uncommon and underpowered compared to the limitless physical adaptations you can acquire by getting your hands a little bloody. This story is one of hardship and terrible lows, but also monumental achievements and grand heights. The main character has flaws. While some of these flaws will fade with time, others will worsen. Thank you for taking the time to read my synopsis. I plan to release 2-3 chapters a week. Cover art is 'The Siege and Destruction of Jerusalem by the Romans Under the Command of Titus, A.D. 70' by David Roberts.This art is in the public domain.
8 141 - In Serial11 Chapters
Intercessor
"In my defense, I hadn't actually been trying to get hit by a truck." Artemis wakes up alone in a giant futuristic facility with no hint of where she is, how she got here, or what this means. Yet within two weeks, she is shot at with all the guns, a voice is beginning to speak in her head, and she is tormented by a seemingly sentient and possibly trollish space Roomba. Her only hope is Scarlet, another girl who is a complete stranger and almost shot her in the head. Oh, and she has fox ears and a tail. That is possibly worth mentioning. Artemis is not a nerd. She has never heard of the isekai genre, she can't fight worth a damn, and the blue-collar skills she learned at her community college are absolutely useless in a universe where technology is often indistinguishable from magic. She only has one thing going for her: A mysterious ability to interface with highly advanced technology left behind by the Antecessors, the long lost precursor civilization with technology that no one has been able to adequately replicate. Finding herself in a universe where civilizations are locked in an interstellar Cold War, where societies are so stratified that the aristocracy commands fleets of starships while slaves wash clothes with their hands, Artemis decides to run away from it all. She has a ship. She'll find a crew. She'll find a way to make a living at the fringes of civilization, learn how to cope with danger, and survive the affections of a universe where everyone is a cute girl with animal ears and tails. Welcome to Intercessor. AKA Kemonomimi Yuri Space Fantasy. Commissioned by Shaderic. Please leave your sense of shame at the door.
8 123 - In Serial30 Chapters
Trolls world tour A Trollex Story
King trollex as the main focus of the story while he goes through the journey of saving his music with the help of new friends This is a trolls World tour fanfic that I wrote in my spare time to take the characters and put them in a plot that I'd personally like to see. This plot may not be for everyone so if you don't care for it please don't be a hater and simply exit from the story.
8 225 - In Serial185 Chapters
Ink & Tears
This is a collection of poems that I have written about my struggles with depression, anxiety, love, nature, and the darker aspect of the world that seems to always hammer on my heart. I hope this reaches some of you.
8 125

