《LOVENEMIES [END]》3 - Kecelakaan
Advertisement
Bae Sooji akan segera berulang tahun sebentar lagi. Dia sudah memberitahu Kim Myungsoo seminggu sebelumnya dan menyuruh bocah itu untuk menyiapkan hadiah untuknya.
Myungsoo tidak berniat untuk merayakan ulang tahun Sooji. Dia awalnya berencana untuk melipat pesawat kertas dan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun untuk Sooji.
Namun, hari itu, Myungsoo melihat laba-laba palsu dijual di supermarket. Laba-laba palsu itu terbuat dari plastik dan ukurannya sebesar mangkuk sup. Penampilannya yang gelap dan terlihat seperti aslinya sudah cukup untuk membuat rasa gatal pada tulang belakang punggung seseorang.
Benda menjijikkan itu sangat cocok digunakan untuk menaku-nakuti anak nakal seperti Sooji. Setidaknya, itu yang Myungsoo pikirkan.
Akibatnya, Myungsoo diam-diam membeli seekor laba-laba dan bahkan menghabiskan dua won tambahan untuk pemilik toko untuk membungkusnya dengan baik.
Sambil membungkus laba-laba, pemilik toko bertanya padanya,"Kepada siapa kau akan memberikan hadiah ini?"
Myungsoo mengerutkan bibirnya dan dengan jujur menjawab,"Teman semejaku."
"Oh, apa temanmu laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan."
Pemilik toko lalu memberikan hadiah yang dibungkus itu dan dengan khawatir dan memperingatkan,"Nak, jika kau memberikan ini kepada seorang gadis, aku takut kau akan dipukuli."
Sooji mulai tidak sabar membuka hadiahnya saat Myungsoo memberikannya padanya.
Myungsoo berdiri di samping dan diam-diam mengamati ekspresi wajah gadis itu, mengantisipasi saat gadis itu menjadi pucat karena ketakutan.
Sooji memberikan wajah terkejut saat melihat laba-laba. Dia membelai bagian belakang laba-laba tersebut dengan jarinya dan berkata,"Aku hampir berpikir ini laba-laba sungguhan dan melompat karena terkejut."
"Melompat karena terkejut? Kenapa kau tidak benar-benar melompat agar aku bisa melihatnya?" Myungsoo mendengus kesal.
Bocah kecil itu kecewa, lalu bertanya pada Sooji,"Apa kau tidak takut?"
"Tidak sama sekali. Ibuku berkata bahwa semua hewan takut pada manusia. "
Myungsoo menatap Sooji dengan takut-takut.
Saat makan siang, Sooji menggantung laba-laba itu di punggung Myungsoo. Ketika mereka berdua sampai di kantin, anak-anak lain mulai menangis karena ketakutan dan mereka hampir bertengkar karena itu.
Akibatnya, orang tua mereka bahkan diberitahu karena kejadian ini.
Ketika Nyonya Kim mendengar apa yang terjadi, dia tidak percaya. Dalam perjalanan pulang, dia bertanya kepada Kim Myungsoo,"Apa kau gila? Ini adalah hadiah ulang tahun untuk seorang gadis dan kau memilih untuk memberikan laba-laba? Kau akan berakhir melajang selama sisa hidupmu jika kau seperti ini." Nyonya Kim menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
Suasana hati Kim Myungsoo sedang tidak baik dan dia menatap kosong ke luar jendela mobil.
Jalannya untuk membalas Sooji terlalu sulit.
Pada awal November, Sooji menyambut acara sekolah yang paling disukainya — tamasya musim gugur.
Tahun ini, lokasi perjalanan musim gugur mereka adalah Gunung Namsan yang di terletak di sebelah utara Sungai Han. Jaraknya sekitar 3 menit dari statiun Myeongdong.
Sekolah Myungsoo dan Sooji memutuskan untuk mampir ke Kebun Stroberi. Kegiatan yang direncanakan sudah pasti termasuk menyaksikan stroberi yang dipetik oleh petani. Para siswa dan siswi juga akan memilih stroberi secara langsung jika mereka berkelakuan baik.
Advertisement
Setelah tiba di Gunung Namsan, anak-anak mulai berkicau dengan teman sekelas mereka. Melihat anak-anak didiknya yang mulai gelisah, Guru Kang memperingatkan,"Dengarkan instruksiku. Berhentilah berlari. Ada harimau di gunung ini yang akan memakan anak-anak kecil. Sooji, mengapa syal merahmu berantakan seperti itu?"
Sooji secara tidak sengaja membuka syalnya saat bermain dengan teman sekelasnya yang lain beberapa saat yang lalu dan dia tidak bisa mengembalikan syalnya ke bentuk aslinya. Gadis kecil itu menyerah setelah mencoba beberapa kali dan dengan santai menyampirkan syal merah di lehernya. Ia kini terlihat seperti seseorang yang baru saja keluar dari pemandian umum.
"Guru Kang, aku tidak tahu bagaimana mengikatnya," ujar Sooji.
Guru Kang tidak memiliki waktu untuk mengurusi Sooji saat ini. Guru Kang akhirnya memanggil Kim Myungsoo," Myungsoo, bantu Sooji untuk mengikat syal merahnya."
Myungsoo sebenarnya sedikit enggan untuk menuruti perintah Guru Kang, tetapi dia akhirnya tetap melakukannya.
Saat Myungsoo mengikat syal merah Sooji, Sooji terus bergerak gelisah dan menggeser kepalanya. Myungsoo akhirnya dengan tidak sabar berkata,"Berhenti bergerak."
Myungsoo dan Sooji berdiri sangat dekat satu sama lain. Sooji memeriksa wajah Myungsoo. Bulu mata bocah itu sangat panjang, seperti sepasang kipas kecil. Bibirnya juga mengerucut, yang menghasilkan ekspresi yang sangat tegas dan serius di wajahnya.
"Myungsoo, kau terlihat seperti bonekaku."
"Berhenti berbicara," ujar Myungsoo dingin.
Sooji tiba-tiba merasa tangannya gatal. Karenanya, gadis kecil itu mengangkat tangannya dan mulai meremas wajah Myungsoo. Tangannya yang satu berada sebelah kiri dan yang lain di sebelah kanan, ia mencubit pipi Myungsoo, solah-olah dia sedang bermain dengan adonan.
Kim Myungsoo mengerutkan alisnya. "Berhentilah bermain-main."
Myungsoo pasti sudah mengumpulkan seluruh karma buruk seumur hidupnya hingga akhirnya dia harus dihukum dengan membantu Sooji mengikat syalnya, sementara ia harus membiarkan gadis itu bermain dengan wajahnya.
Guru Kang membawa anak-anak berjalan kaki ke daerah yang relatif datar. Dengan pemandangan seluruh Gunung Namsan yang tidak tertutup, area ini sempurna untuk piknik makan siang.
Wanita itu kemudian mengarahkan semua orang untuk duduk makan siang.
Setelah makan siang, mereka memiliki waktu luang yang singkat dimana para siswa dan siswi diizinkan untuk melakukan hal-hal mereka sendiri. Namun, mereka tidak diizinkan berkeliaran terlalu jauh dan harus tetap berada dalam pandangan guru.
Myungsoo duduk di rumput dan mengamati pemandangan dengan tenang. Perjalanan ini bukan murni untuk bersantai. Mereka harus mengumpulkan tugas esai setelah ini. Mereka harus menulis esai minimal dua lembar tentang perjalanan mereka kali ini.
Untungnya, Sooji tidak datang mengganggunya. Dia tengah ribut bermain dengan temannya yang lain.
Myungsoo masih asik memandangi pemandangan ketika seseorang tanpa diduga menepuk punggungnya. Dia menoleh dan melihat Sooji tersenyum padanya.
"Kim Myungsoo, lihat, apa ini?" Sooji dengan riang mengulurkan tangannya di depan Myungsoo.
Myungsoo menurunkan pandangannya dan melihat Sooji kini memegang cacing di tangan kanannya. Cacing itu sebesar jari tangan dan berwarna hijau kusam dengan segelintir bintik berwarna di sepanjang punggungnya. Sooji memegang cacing itu secara terbalik, mengakibatkan cacing itu meliuk-liukkan tubuhnya. Sangat menjijikkan.
Advertisement
Wajah Myungsoo langsung berubah. Dia melompat dan berlari.
Jujur saja, dia tidak takut pada ular, tikus atau bahkan kecoak. Satu-satunya hal yang ia takuti adalah cacing.
Hal ini karena Myungsoo pernah mengalami mimpi buruk dan trauma karena ada cacing yang merangkak ke telinganya.
Sooji memandang Myungsoo yang berlari dan tertawa. Dia mengangkat cacing dan mengejarnya sambil berkata,"Berhenti berlari. Lihatlah betapa menggemaskannya cacing ini!"
Myungsoo mengambil langkahnya dan berlari lebih cepat.
Myungsoo kini berlari seperti kuda kecil liar, dengan panik dan tanpa tujuan berlari ke arah mana pun yang bisa membawanya pergi.
Guru Kang melihat ada sesuatu yang aneh dan segera berteriak"Hei! Kim Myungsoo, Bae Sooji, apa yang kalian lakukan? Berhentilah berlari dan kembali."
Myungsoo menutup telinganya. Dia berlari terlalu cepat. Sooji agak takut. Dia buru-buru membuang cacing itu dan berseru,"Aku sudah membuangnya. Berhenti berlari. Lihat, aku tidak punya apa-apa lagi di tanganku sekarang!"
Tapi sudah terlambat.
Myungsoo berlari terlalu cepat. Bocah tampan itu akhirnya tersandung sesuatu dan jatuh dalam sekejap, tubuhnya yang mungil terjatuh di atas dedaunan yang tertiup angin musim gugur. Guru Kang membuka mulutnya melihat hal itu.
Kim Myungsoo mendarat dengan mulus di semak-semak di sisi jalan.
Kening Guru Kang mulai berdenyut-denyut. Ia lalu terburu-buru berlari menghampiri Myungsoo.
Setelah mendengar bahwa putranya berada di rumah sakit, Nyonya Kim mengesampingkan pekerjaannya yang tidak selesai dan bergegas menuju ke sana.
Dia berlari ke ruang konsultasi 1 departemen pediatri dan melihat putranya duduk di kursi. Seorang dokter memberikan obat untuknya dengan kapas. Dokter itu seorang wanita dengan rambut bergelombang dengan mengenakan kacamata dengan bingkai emas tipis. Saat menggunakan obat, dokter tersebut berkata pada Myungsoo,"Katakan padaku apa itu menyakitkan. Jangan ditahan."
Guru Kang berdiri di samping dan memperhatikannya dengan penuh perhatian.
Nyonya Kim menghela napas lega. Ia sempat berpikir bahwa putranya akan terlihat seperti mayat saat ia tiba di rumah sakit. Ini adalah berkat besar bahwa putranya masih bisa duduk dengan santai seperti ini.
Nyonya Kim berjalan masuk, menurunkan nada bicaranya dan bertanya,"Dokter, anakku... Dia... Bagaimana keadaannya?"
Dokter itu tidak mengangkat kepalanya. Dia terus mengoleskan obat dan menjawab,"Dia jatuh ke semak-semak duri. Tidak terlalu parah, jadi jangan khawatir. Putramu benar-benar tangguh. Dia tidak menangis kesakitan atau membuat keributan sama sekali. Anak ini pasti akan bisa pergi ke mana saja ketika dia besar nanti."
"Kenapa dia masih harus memakai obat jika lukanya tidak parah?"
"Wajahnya sedikit tergores oleh duri. Aku baru saja membersihkan goresannya dan sekarang aku menggunakan sedikit antiseptik untuk disinfeksi. Untung saat ini musim gugur. Pakaian yang lebih tebal melindunginya dari goresan lebih lanjut di tubuhnya."
Nyonya Kim mengerutkan alisnya dan memandang Myungsoo. Tidak peduli apa putranya saat ini baik-baik saja atau tidak, tetap saja hatinya mencelos.
"Maaf, Nyonya Kim. Ini adalah kelalaianku sehingga aku gagal merawat anak-anak dengan baik. Mereka berlari terlalu cepat dan aku tidak punya cukup waktu untuk merespon," ujar Guru Kang merasa bersalah.
Nyonya Kim baru saja akan menjawab ketika sesosok gadis kecil muncul dari belakang Guru Kang.
Sosok mungil itu memiliki dua ekor kuda di sisi kepalanya dan memiliki wajah yang kecil dengan sepasang mata bundar yang gelap, membuatnya tampak lucu.
Anak itu berjalan di depan Nyonya Kim dan memberikan lima buah stroberi ke tangannya. Stroberi itu berwarna merah cerah dan tampak segar. Bahkan ada beberapa tetes embun di permukaannya, sepertinya buah itu baru saja dipetik dari pohon.
Hati Nyonya Kim meleleh. Dia membungkuk, membelai kepala anak itu dan tersenyum. "Bukankah kau Bae Sooji? Apa yang kau lakukan disini? Ya Tuhan, mengapa matamu merah? Siapa yang membuatmu menangis? Berhentilah menangis. Bibi akan membantumu memukul orang itu."
Guru Kang kemudian menjelaskan,"Kim Myungsoo terjatuh dan dia bersikeras untuk ikut apapun yang terjadi."
Mendengar ini, dokter yang menggunakan antiseptik untuk Kim Myungsoo tiba-tiba tertawa pelan dan berkata,"Dia merasa bersalah. Guru Kang, bawa dia kembali dan tanyai dia. Dia pasti berperan besar dalam insiden ini. Jika dia berani untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, beri tahu ayahnya."
Nyonya Kim merasa bahwa kata-kata dokter itu sedikit aneh, maka dari itu dia bertanya,"Apa kau mengenal Bae Sooji?"
"Tentu saja. Aku ibunya. "
"..."
Reaksi pertama Nyonya Kim adalah heran. Tentu saja. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu ibu Bae Sooji. Di masa lalu, Kepala Sekolah Bae selalu menjadi orang yang menghadiri pertemuan orang tua dan guru. Namun, karena anak-anak kedua keluarga tersebut adalah teman semeja, mereka terlihat lebih akrab dibandingkan dengan orang tua dari siswa lain. Reaksi keduanya, Bae Sooji adalah anak yang sangat menggemaskan.
Nyonya Bae berdiri tegak, memandang Nyonya Kim dan meminta maaf sambil berkata,"Aku benar-benar minta maaf tentang ini. Anakku terlalu nakal. Aku dengan tulus meminta maaf kepadamu."
Nyonya Kim menggelengkan kepalanya. "Itu bukan masalah besar. Sangat normal bagi anak-anak untuk bermain." Nyonya Kim mengelus kepala kecil Sooji dan dengan penuh perhatian memandang Myungsoo. Ada sesuatu yang wanita itu khawatirkan. Dia dengan hati-hati bertanya,"Itu... Kim Myungsoo... Dia... Apa dia akan cacat? Jika dia berakhir dengan wajah yang cacat, bagaimana dia akan mendapatkan seorang istri di masa depan?"
Nyonya Bae tertawa geli dan menjawab,"Tenang saja, dia tidak akan cacat. Kalaupun anakmu cacat, aku akan menikahkan putriku dengannya sebagai kompensasi."
Kim Myungsoo yang saat ini sedang menahan rasa sakit dan menahan keinginan untuk menangis tiba-tiba menangis.
"Bisakah aku menolak?" protesnya dengan lemah.
Advertisement
- In Serial19 Chapters
LML
A cataclysm occurred in the world, which rolled back its development for many centuries. The power in it returned to the church, because otherwise, as the "2nd coming", the event that destroyed the earth, cannot be called. A big war is brewing, humanity has already mastered all places suitable for life, and the rulers are trying to expand their possessions at the expense of others. Our hero, Marzio, lives in one of the free Italian towns. He is the bastard of a major feudal lord who made his name in the war. His mother, despite her righteous lifestyle, practices quackery. For which one day, on an unremarkable and ordinary day, she is sentenced to death. Seeing the burning of his own mother and losing faith in people, Marzio begins his journey. Thanks to the connections of his small family, he escapes from the city and, together with a trade caravan, moves to another city, where he plans to enter the academy and become stronger. Along the way, he contacts people who call themselves "diggers" - plunderers. So, he finds himself in the ruins of the old world, which was much more developed and finds more and more evidence of the terrible secret of the true cause of the fall of the world, which the church so zealously hides. But the second coming gave not only the suffering and wrath of God, but also monsters from mutated animals. In a fight with them, he falls into the eyes of the detachment of the sacred order, after which they, having estimated its potential, take it to themselves and, with their patronage, he enters the academy. At the academy, he meets new friends, and his origin is revealed there. Since he is the only male descendant, he can claim the title and possession of his father. Thanks to this, our hero receives a certain amount of attention from the opposite sex. After training, Marzio learns about the so-called knowers who are aware of the artifacts of the ancients and how things truly are. New prospects are opening up for him, but also new dangers. He becomes part of the squad that helped him. And using modern for us and futuristic for the Middle Ages, small arms are engaged in protecting the secrets of the church and persecuting a group calling themselves apostates, who want to reveal all the cards that will drive the world into a new branch of chaos and the fight against the regime. As cover, his order sided with minor rulers to fight the old-fashioned way and maintain the balance of power. More and more secrets are revealed to Marzio, and a serious intriguing game unfolds behind him, into which he is sucked in with more and more force. But the hero is the hero, in order to grow and cope with the twists and turns of fate, he stoically withstands all trials and even not knowing about the threats from the east and another continent continues to go forward to meet his fate, for the sake of freedom, revenge and struggle.
8 227 - In Serial50 Chapters
Solitary warrior
Ye Mo is an orphan, barely remembering his parents everyday is a fight for survival. In a world where the strong rule and the weak comply fortune will strike and change his destiny forever.
8 184 - In Serial11 Chapters
Mystic Reality
SynopsisLong ago, there were 15 Gods that bicker and babbled on their own prowess. The Supreme God, the one who rules the 15 Gods, thought of a competition to determine their prowess by themselves. But the game had a twist, because the Gods are immortal, the competition would be done by a mortal representative that would be called champions. The game was a competition of strength and wit with limitless champions that would represent each God. The arena would be a world that is created by the Supreme God. The prize of the representative will be to rule the whole world as an Emperor. While to his God, they will become the fated successor of the Supreme One.And so, the competition begins.
8 129 - In Serial212 Chapters
The Tamer is Repulsive
What works in a game does not always work as well in reality, a fact that a certain FDMMORPG (Full-Dive-Massively-Multiplayer-Online-Role-Playing-Game) player discovers when he is yanked from the game-world into another one. His unique set of in-game skills and traits, designed to help him get the most powerful monsters on his side, end up nearly causing his death. Escaping at the last moment, The Repulsive Tamer named Vaile goes on a grand adventure to see those Tamed Beings of his that exist in the New World, but he must be careful. After all, death is but a heartbeat away when you are the ugliest conceivable being to ‘civilized people’ and an absolute hunk to monsters. (WARNING! THIS NOVEL CONTAINS CONTENT THAT IS NOT SUITABLE FOR YOUNG READERS! IF YOU ARE UNDER 16-21 OR HAVE ISSUES WITH INTENSE DEPICTIONS OF CRUELTY AND/ OR OTHER NSFW CONTENT, THEN KNOW THAT YOU HAVE BEEN WARNED!) (There are acts and opinions in this novel that I do not condone. Read at your own peril and watch out for depictions of violence, cruelty, attempted snu-snu and more.) (I did not make the art.)
8 228 - In Serial18 Chapters
'MCYTS smutshots'
Hello all readers! :]To start off, NO MINORS!!!and what I mean about no minors is no requests of anyone under 18, only for fluff and angst chapters. There will not be any sexual written thing of any mcyts that are under 18 in this book.!I'll be respecting everyone's boundaries as well, if they don't want to be written in any type of way then please let me know, also if I did something wrong please do tell me!This will also include some angst and fluff here and there as told, most is smut though.Book cover made by me !Enjoy, you hornees
8 296 - In Serial57 Chapters
For the Taking
Mates are gifts. Mates are two halves of a shared soul.Mates were created for each other.So then why was I cursed? Why am I unable to shift let alone find my mate?It's been nearly five years since the time I should have been able to shift. I have long given up on the fact that I was defective and broken. I had two werewolf parents, but it didn't matter, I was still human.Over the years I've kept myself in the shadows of my own pack. I was unwelcomed and didn't belong. I was the black sheep. No one wanted a weak link in the pack and I, to them, was a weak member, unable to pull their load. If I couldn't pull my load and I had nothing to really offer my own pack, they soon saw me as a nuisance. Just another mouth to feed. I was a shameful excuse for a werewolf. ~A mate is a target.A mate is easy prey.A mate is the quickest way to weaken an alpha.So, when I laid my eyes on her I wanted nothing more than to reject her, but I couldn't, not while he had his hand wrapped around her throat. I couldn't let him, or anyone know who she was to me. I had to take her with me where I could keep an eye on her from a distance. But I should have known that distance was subjective. She'd be the death of me.Updated: Weekly⚠️Mature Content⚠️
8 111

