《[COMPLETED] Our Happy Ending || Markhyuck》45
Advertisement
Jaehyun hanya bisa menghela napas pasrah menatap anaknya yang tengah tersungkur di lantai sambil memegangi pipinya. Beberapa saat yang lalu Johhny menampar Mark dengan keras dan membuatnya terjatuh seperti itu.
Malam itu, Jaehyun ada di dalam kamarnya, dan ia mendengar semua perdebatan itu. Malam itu juga ia pergi kerumah sakit dan menceritakan semuanya pada Johnny. Jaehyun pun ikut marah pada anaknya itu, tidak seharusnya ia membentak dan memarahi Haechan seperti itu.
Esok paginya, Mark diminta datang kerumah sakit dan begitulah yang terjadi. Saat Mark sampai di sana, Johnny langsung menamparnya dengan keras. Ia benar benar marah dan kecewa dengan Mark, Johhny saja sebagai Ayah Haechan, tidak pernah membentak anaknya seperti itu.
Mark sadar dan tau akan kesalahannya, karena itu dia hanya diam pasrah saat Johnny menamparnya. Malam itu seletah pulang dari rumah sakit Jaehyun sudah menampar Mark duluan, ia benar benar malu sebagai seorang ayah karena Mark seperti itu .
" Mark tetap ke sekolah? Tadi udah izin sama guru?" Tanya Jaehyun di parkiran rumah sakit, Mark pun hanya mengangguk lemah
" Yasudah...Haechan?" Tanya Jaehyun lagi
" Tadi Mark pergi dia masih tidur... Mark pegang kepalanya panas... dia demam" Jelas Makr hati hati
Jaehyun yang mendengarnya menepuk pelan keningnya, Haechan sampai sakit karena ulah anaknya itu
" Tuh! Kamu liat! Jadi sakit kan Haechan... Kenapa sih dari dulu kalau marah tu nggak pernah bisa nahan emosi! Ayah heran lo kenapa kamu bisa se emosian itu!"
Mark hanya menundukkan kepalanya
" Johnny tau?" Mark mengangguk pelan
" Pantes aja tadi dia nampar kamu abis abisan! Yaudah nanti Ayah bawa ke dokter!"
" Mark nanti ngga pulang ya ....." Titah Mark lagi hati hati
" Kenapa? Mau kabur? Mau kamu apa sih nak? Trus Haechan sendiri di rumah?! Kamu jangan nambah nambah masalah deh!" Tanya Jaehyun frustasi
" Ngga ayah... Mark ngga mau Haechan takut aja... dia pasti takut liat Mark... Mark nginep aja di rumah Jeno beberapa hari sampe dia tenang....Mark juga udah mintaJaemin temennya Haechan buat nginep di rumah nemenin selama dia sakit..." Jelas Mark
" Haah... yaudah... tenangin diri kamu di sana! Ngga usah mikirin apa apa! Ayah yang ngerawat Haechan.... udah sana... kamu izinya sama guru cuma telat satu jam!"
" Iya ayah... titip Haechan ya..."
Jaehyun pun hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya menatap motor Mark yang sudah menjauh dari pekarang rumah sakit.
" Gimana?" Tanya Jaemin sedikit khawatir pada Jeno
" Ya... gitu ...udah 3 hari dia ngga tidur... Haechan udah ngga demam kan? " Tanya Jeno
" Iya... besok katanya masuk sekolah.. duh mereka kira kira kenapa ya ? Ya mereka emang sering berantem...tapi ngga pernah kaya gini sebelumnya" Titah Jaemin khawatir
Advertisement
Jaemin masih ingat bagaimana frustasinya Mark menelfonnya pagi pagi dan menyuruh Jaemin kerumah untuk menemani Haechan yang sakit, Mark bahkan sudah meminta izin pada guru Jaemin. Kemudian Jeno pun masih ingat Mark masuk ke kelas dengan pipi kanannya yang memerah bahkan bengkak dan wajahnya benar benar kusut.
" Udah kamu tenang aja... kita ngga usah ikut campur dulu... kita ngga tau mereka berentem karna apa... sebagai temen... sekarang kita cuma bisa nemenin mereka sekarang..."
" Iya kak... tapi tetap aja selama di rumah Haechan tu murung terus... diajak ngomong pun kadang ngga mau, terus Kak Mark tiap ke sekolah kusut gitu...Kasian aja liat mereka kaya gitu"
" Iya sih... Mark juga banyak diam kok di rumah, aku sampe takut dia tiba tiba gila, mana tiap malam nangis, kan horor ya aku lagi tidur tenang... tiba tiba kebangun karna isakan tangis...kirain hantu"
" Ish kak Jen! Mulut tu ya...." Jeno terkekeh dan mengelus pelan kepala Jaemin
" Udah makanya kamu jangan khawatir.... tugas kita hibur mereka..."
" Iya iya.... yaudah Jaemin balik ke kekelas dulu yaa..."
" Eung... hati hati nanti aku anternya ke rumah Mark lagi ya?"
"Iya... kak Mark minta aku nginep di sana sampe dia pulang... tu orang aja masih frustasi gimana mau pulang"
" Hahahah oke deh...sana balik kekelas"
Jeno pun terkekeh melihat Jaemin yang berlari menuju kelas
Jeno hanya bisa menghela nafasnya kasar menatap Mark yang babak belur tengah terduduk lemah sambil menundukkan wajahnya.
Beberapa saat yang lalu, Mark dan Jeno tidak sengaja berpapasan dengan Jihoon, Jihoon pun menyapa mereka dan menanyakan kabar Mark. JIhoon memancing Mark menanyakan kenapa ia tidak pernah lagi bermain dengan Haechan. Mendengar hal itu Mark entah kenapa langsung melayangkan tinjunya.
Jeno sampai kewalahan melerainya, pasalnya mereka beradu tinju dan Mark benar benar kalut dalam amarahnya. Tapi karna sudah hampir seminggu Mark itu tidak tidur membuat tenanganya berkurang dan Jihoon benar benar menghajar Mark habis habisan. Beruntung Jeno bisa melerainya dengan cepat pasalnya Mark bisa saja pingsan di buatnya, dan Jeno semakin lega karena tidak ada guru yang tau perkelahian mereka itu.
Sudah hampir satu minggu Mark menginap di rumahnya dan selama itu pula Mark tidak pernah tidur, Mark hanya menutup matanya sebentar untuk mengistirahatkan matanya tapi ia masih terjaga. Jeno tidak berani bertanya kenapa ia bertengkar dengan Haechan selama itu. Tapi satu hal yang Jeno tangkap, Mark benar benar sedang patah hati saat ini.
Jeno membalikkan badannya menatap pintu akses menuju atap ketika mendengar suara makian seseorang
" Tadi ku lihat mereka kemari! Kenapa kau melarang ku sih!" Kesal Haechan
" Ngga kok... mereka ngga ke atap! Aku lihat tadi mereka ke taman kok" Jaemin gelagapan mencari alasan
Advertisement
" Yaudah kalo emang ngga di atap kenapa?! Kan cuma liat! kenapa kau takut banget aku ke atap?! Pasti mereka diatas kan?!"
Jaemin mengalah ia pun terpaksa melepas tangan Haechan dan Haechan pun dengan kesal menghentakkan kakinya sambil membuka pintu.
Tadi saat makan di kantin, Haechan mendengar anak anak yang bercerita Mark dan Jihoon beradu tinju, awalnya Haechan ingin mengabaikannya tapi tiba tiba saja telinga panas mendengar Mark yang hampir pingsan.
Haechan sebenarnya masih sedikit kesal pada Mark tapi, saat tau Jaehyun dan Johhny menampar Mark, ia tidak tega. Haechan bahkan marah pada mereka berdua karna sampai tega menampar Mark seperti itu.
Haechan hanya dibentak, Mark bahkan tidak memukulnya. Bagi Haechan, jika ingin menghukumnya lakukan lah hal yang sama, karena itu Haechan sedikit kasihan padanya, belum lagi Jaemin yang keceplosan mengatakan Mark tidak tidur berhari hari.
Haechan ingin meminta maaf duluan, walaupun ia sebenarnya masih gengsi, tapi ia juga tidak nyaman bertengkar dengan Mark seperti itu, belum lagi Mark tidak mau pulang karna mengira dirinya takut melihat Mark. Hanya saja sudah 3 hari sejak Haechan kembali ke sekolah, Mark selalu menghindarinya yang membuat Haechan geram.
" Hae- Haechan?" Tanya Jeno sedikit kikuk melihat wajah kesal Haechan
" Kak Jeno bisa turun dulu ngga? Aku mau ngomong sama pecundang itu!" Jelas Haechan sedangkan Mark hanya menunduk seolah tidak peduli dengan kehadiran Haechan
" Uhmm itu.. aduh.. ee..." Jeno tidak tau harus mengatakan apa pasalnya aura Haechan benar benar menyeramkan.
" Kalo kak Jeno ngga mau turun ngga papa, tapi jangan salahin Haechan kalo kursi itu melayang ke kepala kak Jeno" Ancam Haechan sambil menunjuk kursi kursi bekas yang ada di atap
" Udah kak kita turun aja.... " Jaemin yang tidak ingin pacarnya itu diamuk oleh Haechan menarik paksa Jeno turun.
Setelah mendegar suara pintu tertutup. Haechan berjalan dengan kesal, menarik tubuh Mark kasar dan membawanya ke tepi atap sambil sedikit mendorong tubuhnya
" Mau mati kan? Sini aku bantu!" Titah Haechan sambil mendesakan tubuh Mark pada tembok
Mark hanya diam, menatap Haechan sedikit kaget pasalnya tubuhnya seolah olah akan Haechan lempar dari atas sana
" Kau Mau mati kan? Yaudah loncat sana! Ngga bisa loncat? Mau ku dorong apa ku lempar? Pilih!" Lagi Haechan mendesakkan tubuh Mark
" Maaf...." Cicit Mark pelan
Haechan pun membanting kasar tubuh Mark ke lantai. Ia benar benar geram dengan Mark
" Mau mu apa ha?! Kau tidak makan! Kau tidak tidur! Kau pikir kau tuhan? sudah kubilang kan jangan berlagak sok hebat!"
Mark masih terduduk diam, menundukan kepalanya dan kini air matanya mengalir
" Dan lagi apa apaan itu! Kau kalah dari si Jihoon perundung itu? Heol! Memalukan sekali! Kau yang melayangkan tinju duluan kau yang hampir pingsan! aku malu sebagai teman mu!"
" Lalu sombong sekali kau menghindari ku di sekolah! Kau fikir kau hebat begitu setelah menyatakan cinta mu? kau tidak peduli jawaban ku begitu?!"
Mark mendongakan kepalanya menatap Haechan tidak percaya
" Kau tau kau adalah orang terpayah dan pengecut yang ku kenal! Heol! Hanya berani dan bersuara lantang saat menyatakan cinta! Tapi kau tidak tidak berani mendengar jawabannya! Kau tidak diajar sopan santu ya?! "
" Kau tau?! Aku lelah memikirkan jawaban yang bagus untuk membalasnya! Dan kau sama sekali tidak ingin mendengarnya? Heol! Merugi sekali kau! Aku tidak pernah memberikan hatiku pada orang lain! Dan kau setelah seenaknya merebut hatiku, kau mengabaikannya begitu saja?!"
Haechan benar benar kesal, ia tidak ingin Mark terpuruk seperti itu, terlebih lagi mengira bahwa Haechan tidak menerima cintanya.
" Kan aku mengatakan aku membenci mu! bukan menolak cintamu! Bisa bedain ngga! Benci ... menolak... Heol itu dua kata yang berbeda!"
Mark berdiri dari duduknya, masih menatap Haechan tidak percaya, air matanya pun masih mengalir deras
" Apa liat liat? Udah milih mau ku lempar atau ku dorong dari atas sini?! "
Mark pun berjalan perhalan menuju Haechan
" Kau mau mati kan? Jadi supaya cepat a-"
Haechan tidak melanjutkan kalimatnya pasalnya Mark tiba tiba menaruh kepalanya pada pundak Haechan.
" Aku mengantuk....." Cicitnya pelan
Haechan hanya bisa mengehela nafas kasar dan mengelus pelan kepala Mark
" Kau tidak mau mendengar jawaban ku?"
" Kau menolakku....." Cicit Mark dengan suara yang sangat lemah, matanya benar benar berat saat ini
" Mana mungkin bodoh! jangan tidur dulu ! Aku belum selasai memarahi mu!" Kesal Haechan, tapi tangannya masih setia mengelus pelan kepala Mark seolah menyuruh Mark untuk tidur
" Omelan mu membuat ku mengantuk...." Cicit Mark masih dengan kepala yang ia sandarkan di pundak Haechan, ia pun perlahan menutup matanya
" Heol! yasudah tidur sana!" Haechan tersenyum puas mengelus pelan punggung Mark
Haechan bisa mendengar helaan nafas panjang dari Mark, kemudian perlahan ia bisa mendengar suara nafas Mark yang mulai teratur. Haechan masih berdiri di sana, menahan bobot tubuh Mark dengan memeluknya, membiarkan Mark tertidur.
Jaemin dan Jeno bergegas kembali ke atap pasalnya sudah hampir 1 jam lebih Haechan dan Mark tidak turun turun dari atap. Mereka berdua pun melongo ketika melihat Haechan yang beridiri menahan tubuh Mark yang tertidur.
" Yak! Bantu aku bawa dia ke uks.." Bisik Haechan sambil berteriak
" Astaga... kau berdiri sadari tadi? ngga capek apa?" Jeno memindahkan tubuh Mark ke punggungnya dan menggotongnya, Haechan pun mengurut pelan pundak kananya
" Capek si ngga kak... pegel yang ada..."
" Kenapa ngga telfon aku siiih... kan jadi sakit tu pundak kamu" Kesal Jaemin
" Kan hp ku di kelas Nana...." Haechan mencubit kesal pipi Jaemin
" Kalian udah baikan?" Tanya Jeno
" eung... jadian malahan" Jawab Haechan santai
" HAH?!" Pekik Jeno dan Jaemin berbarengan sedangkan Haechan dengan cepat mendekatkan telunjuknya ke mulutnya
" Shhht! Berisik nanti dia bangun!" Haechan pun tersenyum malu.
Advertisement
- In Serial31 Chapters
Day of Wrath [Doom 2016/Eternal rewrite]
A hundred years ago, the mysterious Phobos Event occurred. Classified by the UAC as a "mining accident," Phobos is now permanently quarantined while Deimos is just gone. No bodies or survivors were ever found.The year is 2149, and the UAC holds dominion as the undisputed superpower in the Solar System, leader in the fields of energy, aerospace, and defense. Their crowning achievement, Argent Power, has revolutionized physics and brought clean renewable energy to a world in crisis.But that is about to change. Deep in the heart of the UAC Mars Base, recovered directly from a prison tomb in Hell itself, is a lone stone sarcophagus. Containing not artifacts, not demon, but a man. A living human being in perfect hibernation. The man has been identified as a long-lost Space Marine, the only known survivor of the Phobos Event. "Day of Wrath" is primarily located on SpaceBattles. Don't forget to check out our Discord, and I (regrettably) have a Twitter which I use EXCLUSIVELY to post story updates!
8 144 - In Serial6 Chapters
Transcendental Shifter
I was probably around seven when it first happened... I had hoped one day I could change many people's lives... I had thought this every day after all of my family died... I had hoped I could make nobody suffer the same ordeal I had to... Shortly after my family's death, I caught a fever... The doctor told me I may not make it... Then it just happened... I had a dream much different from anything I'd had before... A new chapter is released every Monday. You can also find this story on ScribbleHub: https://www.scribblehub.com/series/408468/transcendental-shifter/
8 179 - In Serial12 Chapters
Imperium
A young fledgling city-state of Etris seeks to make a distinguished name for itself in the chaotic era of human emergence with the Titanomachia only a few decades behind them the ordinary citizens of Etris await the coming of their divine Consul. The one who will lead them to become the prophesied Etrian Empire is yet to be born. In the faraway tribal regions of Gallia a young boy is born to the tribe chief of the Veraxes. The boy is pale and smaller than most young ones in the tribe yet his destiny is to outshine all who came before and shall come after him. In another city-state of Junia the city lord has recently been bestowed a son and a daughter by the Gods and he has begun preparations of an invasion of the tribes that surround his territory. A prelude to an epic begins in 100 C.D. Hey everyone second time writing a story on Royal Road the first time was an experiment that made me learn much but hopefully this time it will be better. As always 3 chaps a week for this one could be in the middle of the week or at the end but 3 will fall definitely. Discord Link: Imperium Discord Have fun reading.
8 96 - In Serial91 Chapters
Individuals Toxic Behaviors
What kind of sick game are you playing?Do you think this is funny? What does he want from me? Why is my step brother acting this way towards me? -🔮𝐔𝐩𝐝𝐚𝐭𝐞𝐝 𝐞𝐯𝐞𝐫𝐲 𝐰𝐞𝐞𝐤 🔮- -𖤍-People always claim that everyone has something different and special about them. Some individuals like to show it more than others.It can be displayed in many different ways. For example, through love and manipulation, lies, and physical pain.Sometimes, it crosses a fine line between good and evil.Could it be an unhealthy obsession that goes down the wrong way or... sweet vengeance?What will little Emma do to survive her new stepbrother's? 🍒𝐖𝐀𝐑𝐍𝐈𝐍𝐆-𝐀𝐃𝐔𝐋𝐓𝐒 𝐎𝐍𝐋𝐘🍒𝐏𝐋𝐄𝐀𝐒𝐄 𝐁𝐄 𝐀𝐃𝐕𝐈𝐒𝐄𝐃 𝐓𝐇𝐀𝐓 𝐓𝐇𝐈𝐒 𝐈𝐒 𝐒𝐄𝐗𝐔𝐀𝐋𝐋𝐘 𝐄𝐗𝐏𝐋𝐈𝐂𝐈𝐓 𝐌𝐀𝐓𝐄𝐑𝐈𝐀𝐋 𝐈𝐒 𝐍𝐎𝐓 𝐓𝐎 𝐁𝐄 𝐕𝐈𝐄𝐖𝐄𝐃 𝐁𝐘 𝐌𝐈𝐍𝐎𝐑𝐒 𝐔𝐍𝐃𝐄𝐑 𝐓𝐇𝐄 𝐀𝐆𝐄 𝐎𝐅 18.𝐈𝐅 𝐘𝐎𝐔 𝐀𝐑𝐄 𝐍𝐎𝐓 𝐎𝐅 𝐓𝐇𝐄 𝐋𝐄𝐆𝐀𝐋 𝐀𝐆𝐄 ... 𝐏𝐋𝐄𝐀𝐒𝐄 𝐅𝐈𝐍𝐄 𝐀𝐍𝐎𝐓𝐇𝐄𝐑 𝐁𝐎𝐎𝐊 𝐓𝐎 𝐑𝐄𝐀𝐃.𝐓𝐡𝐚𝐧𝐤 𝐲𝐨𝐮 (◍•ᴗ•◍). And if you still want to read it, well... Knock yourself out, 𝒀𝒐𝒖 𝒍𝒊𝒕𝒕𝒍𝒆 𝒓𝒂𝒔𝒄𝒂𝒍𝒔🤨©All rights reserved. ⚠Guys...this story is dark-dark, darker than my inked soul. I don't recommend this book for weak-hearted readers. It will contain everything you won't expect to find in a normal book. If you get easily triggered, please skip this book and read another one, 𝐓𝐇𝐀𝐍𝐊𝐒.
8 111 - In Serial51 Chapters
The Hybrid
I jumped to my feet and punched him in the side. There was hardly an effect. "You're weak" he spat, walking a step closer towards me. I growled as I had had it with this blood sucking devil! My blue eyes fumed in anger as my wolf was released. I am a white wolf.Liam's eyes bulged as he saw my true form. He then smiled ready to fight. I lunged for the bastard, knocking him to the ground. His other minions rushed towards me all attaching me at once. I attempted to fight against them. They kept coming on me and it was becoming too much for me to handle. My fur had gone from a snowy white, to a bloody reddish color. So much blood. I laid down. Maybe just a minute of rest.I saw Liam walk up to me. He looked down at me and smiled. "What's wrong little wolf? No more energy?" He smirked.Then Liam was suddenly thrown to the damp ground by something, a jet black wolf with glowing red eyes. He was beautiful with his gleaming coat and strong legs. The black wolf left Liam on the ground and fiercely killed all of Liam's minions easily. He wasn't finished with his prowl, he turned back to face Liam but realized that the pureblooded vampire had already run off. Then I hear a deep growl. "Mate", and my heart stops. ------------Alexandra's pack is mercilessly destroyed by werewolves most hated species: vampires. The species has hated each other since the beginning of time. But what happens when she finds out she is half vampire and half werewolf? A hybrid cross species who is on the run from the vampire Liam who wants to use her as a trophy. She meets her mate, Tyler, who is the leader of a ruthless pack called the Silvermoon pack. But will he be able to protect her from the relentless vampire out to get her?-----My very first attempt at writing a book so be gentle! Many errors and typos!
8 142 - In Serial52 Chapters
second best // dnf
| completed |the dream team meet up in Florida for two weeks in the summer. everything is fine to begin with however, dream has a crush on george but george has a boyfriend. then, after a while sapnap also develops feelings for George. will these three best friends remain best friends when all of their secrets start to unravel...angst :)tw/cw: blood | death | hospitals | panic attacks | alcohol | violence | gore | language |please read tw and cw before reading the story as they are not listed in the chapters| Sequel currently being re-edited |
8 186

