《[COMPLETED] Our Happy Ending || Markhyuck》24
Advertisement
" Huuuft"
Haechan merebahkan kepalanya bebeas ke meja belajar, membiarkan buku buku yang keras itu menjadi bantal bagi kepalanya. Ujian tes nya minggu depan dan Mark benar benar memaksa Haechan belajar dengan lebih keras, lihat saja, hari ini minggu dan sekarang sudah menunjukkan waktu makan siang, tapi Haechan belum juga diizinkan untuk beranjak dari kursi belajar itu sedari pagi.
Haechan baru tau, untuk urusan belajar Mark orangnya sangat tegas dan serius, ia tidak akan membiarkan Haechan salah sedikitpun. Jika Haechan salah dalam mengerjakan soal, Mark pasti akan mengomeli Haechan dan menjelaskan berulang kali cara mengerjakannya.
Baik tapi menyeramkan....
Begitulah cicit Haechan setiap kali Mark mengajarinya.
Mark menatap Haechan dari tempat tidurnya, sedikit kasihan melihat Haechan yang menundukkan wajahnya ke meja belajar. Mark sadar ia terlalu keras dengan Haechan, Mark hanya takut, jika anak itu tidak lulus dan tidak bisa bersekolah di SMA yang sama dengannya.
" Belajar yang bener!" Teriak Mark dari tempat tidurnya
" hmmm" Jawab Haechan masih dengan posisinya, seolah tidak peduli jika Mark memarahinya
" Capek?" Tanya Mark kasihan
Haechan hanya mengangguk pelan dengan masih merebahkan kepalanya. Melihat rambut halusnya yang bergoyang membuat Mark gemas.
" 30 menit!"
Haechan langsung berbalik menatap Mark, kemudian Mark mengangguk pelan
" YES!" Sorak Haechan kegirangan dan berlari keluar, Mark terkekeh pelan melihatnya ia tau anak itu pasti lapar.
" YAK JUNG MAAAARK!" Teriak Haechan dari bawah
Mark memutar matanya malas, salah satu alasan kenapa ia menyuruh Haechan terus belajar karena ia pasti diam dan telinga Mark pasti akan tenang.
" Apa sih teriak teriak!" Mark turun dari tangga
" Ramyeon ku mana?!" Haechan menunjuk lemari yang sudah kosong
" Ramyeon mu?" Tanya Mark bingung
" Semalam masih ada satu! Kok sekarang ngga ada!"
" Oh... sudah ku makan"
Advertisement
" Kapan?!"
" Tadi pagi.."
" Kenapa dimakan kan itu punya ku! mana tinggal satu!" Protes Haechan
" Heol.. memangnya ada tulisan SEO HAECHAN disana tidak kan?!"
" Ya tetap saja aku sudah menyimpannya untuk nanti!"
" Salah ku ?!"
" YA SALAH MU!"
Mereka saling buang pandang,
Semalam Haechan sebenernya ingin langsung membuatnya, kemudian ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk dimasak siang ini. Haechan sudah berharap dapat menyantap semangkuk ramyeon panas setelah lelah disiksa Mark belajar, tapi semuanya sirna.
Mark sedikit tidak tega, pasalnya Haechan benar benar sangat ingin memakannya. Mark juga tidak tau kalau Haechan ingin membuat Ramyeon itu, jika Mark tau, pasti Mark akan menyimpannya untuk Haechan
" Makanya besok tu disimpan baik baik!" Kesal Mark
" Biasanya juga disitu!"
" Aduh ini kalian kenapa ribut ribut sih..." Johnn keluar kamar
" Tuh! pencuri ramyeon ku!" Kesal Haechan
" Pencuri katamu?! kan tidak ada namamu disana!" Protes Mark
Johnny pun paham apa yang terjadi
" Udah udah... kan emang tinggal satu... tadi Jaehyun titip pesen katanya suruh stock bahan bahan dapur" Johnny pun memberikan secarik kertas pada Haechan
" Yeees belanja!" Girang Haechan ketika melihat banyaknya barang barang yang harus dibeli
" Ayah ikut kan?" Tanya Haechan lagi
" Ngga... kan mau check up ke dokter..."
" Oiya... bener..." Haechan mengangguk ngangguk pelan
" Yaudah sekalian aja paman, aku bawa mobil" Mark menawarkan
" Heol... siapa yang mengajakmu!" Kesal Haechan
" Memangnya bisa kau bawa segitu banyak ha?!"
" Bisa!"
" UDAH JANGAN BERANTEM!" Pekik Johnny frustasi
" Udah semua kan? " Johnny memastikan semua barang yang harus dibawa untuk berbelanja sudah terbawa.
Haechan dan Mark pun mengecek barang masing masing
" Tunggu kertasnya mana?" Tanya Haechan dari kursi belakang
Advertisement
" Kan tadi kau yang pegang!" Mark menoleh dari kursi pengemudi
" Ngga ada! kan ku taruh di meja ku suruh kau yang bawa!" Jelas Haechan
" Mana ada!"
" Ck.. tunggu sebentar!"
Haechan pun keluar dari mobil, berlari menuju rumah, sedangkan Mark hanya menggeleng pasrah. Sepuluh menit berlalu Haechan belum juga kembali.
" Ck.. lama sekali" Cicit Mark sambil menatap jam tangannya,
Drrt drrt
Mark mengambil ponselnya, menghela nafas kasar ketika melihat siapa yang menghubunginya
DEVIL is Calling...
Begitulah tulisan di ponsel Mark.
" YAK! KERTASNYA TIDAK ADA!"
Teriak Haechan dari seberang telfon membuat Mark menyeringit dan menjauhkan ponselnya dari telinganya.
" Ya terus dimana?!" Balas Mark
" Ya mana ku tau! di saku mu?!"
" Ngga ada! Coba cari lagi yang bener!"
" Ngga ada Mark! aku udah mutarin dapur ngga ada!"
" Di kamar? siapa tau kebawa!"
" Ngga ada juga! udah lah!"
Tuuut
Haechan memutus panggilan itu sepihak. Mark menghela nafas kesal, ia pun meronggoh saku baju dan celananya.
" Ck.. dia yang lupa taro... dia yang marah!" Gumam Mark kesal sambil kembali memeriksa semua saku baju dan celananya
Johnny benar benar gemas melihatnya, mereka benar benar seperti orang yang baru saja menikah, berdebat dengan hal hal kecil. Johnny semakin tidak sabar bagaimana kehidupan rumah tangga mereka berdua nantinya.
Mark tiba tiba ingat, Haechan memang meletakkan kertas itu di meja, kemudian sambil berlari ke kamar, Haechan menyuruh Mark untuk menyimpannya. Mark ingat Haechan berteriak menyuruhnya, tapi ia tidak ingat apakah ia menyimpan kertas itu atau tidak. Mark pun kembali memeriksa saku baju dan celananya, tapi tetap tidak ada.
Kemudian ia baru ingat, di jaketnya itu ada kantong kecil di bagian lengannya, Mark pun memeriksa disana dan ya, ternyata kertas belanjaan itu ada di kantong jaket miliknya.
" Haaaaaaaaah"
Mark mengehela nafas pasrah sambil menatap kesal kertas itu. Kemudian ia bisa melihat Haechan yang sudah berjalan mendekati mobil
Johnny menutup mulutnya, menahan tawanya melihat wajah Mark yang pasrah sekaligus ketakutan.
" hahahahah Sabar ya" Johnny terkekeh sambil menepuk nepuk pelan pundak Mark
Mark meniup poninya kasar, sambil mengangguk pelan.
Haechan sedikit mengehentakkan kakinya saat berjalan menuju mobil, ia benar banar kesal. Ia sudah memutari rumah tapi kertas itu tidak ada seolah menghilang ditelan bumi. Haechan sangat yakin ia menaruh kertas itu di meja makan tadi dan menyuruh Mark untuk menyimpannya.
" Ck... awas saja jika ada, mati kau!" Kesal Haechan sambil berjalan menuju mobil
" Yak! jelas jelas tadi ku-"
Haechan dengan kesal masuk kedalam mobil sambil mengomel ngomel, kemudian ia terdiam ketika melihat sesuatu di tangan Mark.
Mark menghela nafasnya kala Haechan masuk , ia pun memicingkan matanya dan menutup mulutnya rapat rapat. Sedangkan Johnny tersenyum penasaran menatap keduanya, menunggu apa yang akan terjadi.
" MARK SIALAN! PERCUMA SAJA AKU KE DALAM SANA DASAR BODOOOH!"
Teriak Haechan sambil memukul mukul Mark sedangkan Mark hanya bisa pasrah menyelamatkan kepalanya. Johnny tertawa puas melihat tingkah kedua anaknya itu.
" Iya iya iya iya maaf maaf maaf! aku lupa!" Mark membela diri
" Makanya kalo orang suruh liat yang benar tu liat! Orang udah capek mutarin rumah! ternyata disini! menyebalkan!"
" Hahahahahaha, udah udah Mark nya jangan dipukulin terus.... kasian" Johnny menengahi
Mark mengelus pundaknya pelan sedangkan Haechan menyandarkan pungunggunya kasar.
Mark menatap Haechan dari kaca spion, ia benar benar terlihat kesal dan jujur Mark sebenarnya kasian, tapi tetap saja menggoda Haechan adalah prioritas utama Mark
" Udah?" Tanya Mark sambil menoleh ke bangku belakang
" Apanya yang udah?!" Tanya Haechan kesal tanpa menatap Mark
" Ngamuk kaya orang gila..." Mark tesenyum tipis
" JALAN SANA BODOH!"
Haechan pun dengan kesal menjambak rambut Mark dari belakang
" Iya iya iya maaf maaf, jalan nih jalan!" Mark pun menghidupkan mesin mobil
" Haedeeeuh.... kalian ini ada ada saja" Johhny menggeleng heran melihat tingkah Mark dan Haechan.
Advertisement
- In Serial1064 Chapters
Master, This Poor Disciple Died Again Today
A silly cultivation novel about an airheaded master putting his foot in his mouth and his poor, clever disciple ducking the fall. In the midst of faking his death, Xiao Hui finds himself trucked and summarily reincarnated into a cultivation world. With great hopes for what is to come, he gets himself taken in by a sect and chosen by a powerful master, but his master seems to have a hole in his brain! What's a poor disciple to do? What Hui does best, of course! -Cultivation/progression fantasy -Neither grimdark nor fluffy, but interwoven with both silly and intense moments -Not your typical cultivation protagonist [participant in the Royal Road Writathon challenge]
8 1018 - In Serial29 Chapters
The Elder of Mediocrity
In a world of cultivators, psykers, mages, witches, conspiracies and a Cold War, everything is extraordinary. Well, most everything. Oz “Da Shan” Elderweiss is just your average guy in a not average world. He’s not that strong, he’s not that weak — and he’s not getting any better. Da Shan discovers that you’re never too old to have your own coming of age saga. Filled with a burning desire for revenge, but the inability to carry it out, he hatches an insane scheme to change his potential and achieve exponential growth. But his enemies are quite literally the members of his own household and his close friends. He must fight tooth and nail for what he believes in and for the freedom to carve his own path. Join him as he battles people with both the best and worst intentions, with his life on the line. Current Word Count: 136 000, First arc complete. A lot of new content has been added to the early chapters since the end of May. The first chapters are still under construction and editing, but all the major changes are done. I was a webnovel junkie for a long time, but I found it hard to find novels with solid characters, decent plot, philosophical underpinnings and a fully painted world to keep me going. I've taken from every genre I've liked to make a story that satisfies my own cravings for a good story. If you like the story or have suggestions please leave a comment or review. I hope this novel is fun, provocative but above all fun. Enjoy. Yours truly, James Paul Addington PS I will release at least two chapters a week, or one really long chapter. Concerning the tags: The story is primarily Fantasy with Wuxia influence in some elements. Romance won't happen for the first two arcs or so (roughly 40 chapters), I want to build the world before I do that. Tragedy is because of an event that occurs in the book, not the tone of the book. The book is more lighthearted. Slice of Life doesn't occur till the third arc (the romance happens during that arc as well). Magic will also show up more in later arcs, but appears throughout. Reincarnation it's not a reincarnation like in the traditional sense, but it has a similar concept.
8 77 - In Serial31 Chapters
Planet At War
A planet in a perpetual state of war. And the story of its soldiers fighting on it. I'm using this book to challange myself to write everyday, so if you find any bad grammer or weirdly structured sentences, please tell me! That's how a writer get's better at writing. Thanks for giving this book a chance
8 209 - In Serial12 Chapters
Scum in Another World
I may have finished my goal in my previous world, but something unexpected happened. I am now in another participating a war game hosted by angels not from my world. Maybe I should have gotten hit by a truck or something. Note: My english isn't perfect. I might learn something if people would kindly point it out. Thanks for reading this trash story about trash MC doing his trashy things.
8 79 - In Serial50 Chapters
The Other Granger- COMPLETED
Elaine Granger: a name no one took the time to know. That all will change when she discovers who she really is.
8 173 - In Serial7 Chapters
The Belly Games
The Belly Games are an annual competition held in a private island. 24 people are chosen to participate each year , 12 being men and 12 women. This year I've been chosen to participate. Can't say that I'm not nervous as I've heard many stories. Guess I'll have to see for myself. My name is Michaela , I'll see you in the belly games😏
8 109

