《BRAINWASH》3. CARRY ALL THE WEAKNESS
Advertisement
Eyang Kung menarikku kedalam dekapannya. Di belakang Eyang Kung, Eyang Uti membelai lembut rambutku. Matanya sudah basah sejak meninggalkan rumah tadi.
"Jaga dirimu baik-baik ya, Nduk," pesan Eyang Kung sambil menepuk punggungku.
Aku mengangguk sambil mempererat pelukan pada tubuh kurus eyang kung. Aku enggak pernah menyangka akan seberat ini meninggalkan Eyang Kung dan Eyang Uti. Selama ini aku terlalu sibuk menyusun rencana untuk membawa kembali kebahagiaan keluargaku, hingga aku lupa bahwa bukan hal mudah berjauhan dengan kedua orang yang sudah merawatku penuh cinta sejak kecil.
"Sudahlah, Pak, Bu. Jangan memberatkan langkah Maira. Toh, Maira bukan mau pergi berperang ke Israel, kok. Maira cuma mau kuliah," kata Mama lengkap dengan kerlingan mata jengahnya.
Cepat-cepat kuhapus bulir bening yang sudah menggelayuti bulu mata. Jangan sampai Mama melihat aku menangis. Mama paling benci mendapatiku menangis. Makanya, Mama lebih memilih menggelontorkan uang untuk menghentikn tangisanku daripada menghiburku. Aku enggak ingin menciptakan perdebatan antara mama dan kedua eyangku.
Kupaksakan seulas senyuman untuk mengenyahkan kekhawatiran di benak Eyang Uti dan Eyang Kung. "Maira bakal baik-baik aja, Kok. Betul kata mama, Maira cuma mau pergi kuliah, masih di Indonesia, masih sama-sama pulau jawa. Eyang Kung dan Eyang Uti bisa kapan saja jenguk Maira ke Jogja." Kutatap Eyang Kung dan Eyang Uti bergantian. Kuharap tatapanku bisa meyakinkan mereka.
Eyang Kung mengangguk untuk menimpali omonganku. Entah anggukan setuju atau sekadar menguatkan saja.
"Nek koen uwis ora kerasan ndhek kono, muliho yo, Nduk Ayu,"[1] kata Eyang Uti setelah mendekat ke arahku. Tangan keriputnya menyentuh pipiku. Kelabu menggelayuti wajah senja Eyang Uti.
Aku mengangguk sambil menggigit bibir dalamku agar enggak menangis. "Doakan Maira supaya betah di sana, ya," sahutku setelah berhasil mengendalikan gelombang air mata.
Suara decakkan Mama sukses menahan diriku agar enggak larut salam suasana sedih. Aku membasahi bibir kemudian meneguk saliva kepayahan.
Setelah melirik sekilas pada arloji di pergelangan tangannya, Mama berkata, "sudah sana cepat masuk. Keretanya sebentar lagi berangkat."
Aku mengangguk patuh pada Mama. Setelah mencium punggung telapak tangan Mama, Eyang Kung dan Eyang Uti, aku berjalan masuk ke pintu keberangkatan. Aku langsung menuju jalur enam di mana kereta yang akan membawaku ke Yogyakarta berada.
Awalnya aku berniat menggunakan kelas ekonomi, tapi Mama bersikeras menyuruhku membeli tiket eksekutif. Mama bilang, "jangan bikin malu. Masa anak Direktur Marketing otomotif ternama naik kereta kelas ekonomi."
Semua perhatiannya padaku hanya untuk menyelamatkan gengsinya. Kadang aku berpikir, apa Mama pernah benar-benar memikirkanku? Apa Mama pernah benar-benar peduli padaku?
Mama enggak pernah banyak bicara padaku selain soal Papa. Kalau sudah menyangkut Papa, pasti Mama akan langsung meluangkan waktunya. Hal itu yang membuatku semakin yakin bahwa Mama akan berubah seperti dulu jika Papa kembali.
Advertisement
Dua puluh menit setelah menduduki kursiku, kereta melaju meninggalkan stasiun Gubeng. Aku sengaja memilih kursi di sebelah jendela agar bisa menikmati pemandangan. Senggaknya, pemandangan di sepanjang jalan bisa sedikit mengobati kegelisahanku tentang tinggal satu atap bersama ibu dan adik tiri.
Ponsel dalam genggamanku bergetar dan mengeluarkan bunyi singkat. Sebuh pesan masuk ke benda pipih canggih berwarna hitam.
Kuembuskan nafas perlahan sebelum mengetik balasan.
Kira-kira jam berapa sampai di Stasiun Tugu?
Sebuah lengkungan senyuman merekah di bibirku mengetahui kenyataan bahwa Papa masih perhatian padaku. Aku senang karena tanpa diminta, Papa sudah lebih dulu menawariku.
Memangnya Papa enggak kerja?
Hari ini Papa cuti khusus buat nyambut kamu.
Senyumku kian lebar membaca pesan dari Papa. Aku enggak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta karena selama ini aku sibuk belajar demi mendapatkan nilai terbaik. Namun, kurasa enggak ada yang mengalahkan rasa cinta pada seorang ayah. Aku pernah enggak sengaja baca artikel parenting. Di artikel itu disebutkan bahwa ayah merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya. Kurasa, aku setuju dengan artikel itu.
Jemariku baru saja akan mengetikkan pesan balasan untuk Papa ketika sebuah pesan lain darinya muncul di ruang obrolan kami.
Dariseminggu lalu,
Aku tertegun membaca pesan Papa. Untuk apa wanita itu dan anaknya menantikan kedatanganku? Apa mereka sudah menyusun rencana untuk membuatku enggak betah di rumah itu? Tanpa sadar, aku tersenyum sinis. Lihat saja, enggak akan kubiarkan mereka merisakku. Aku yang akan lebih dulu membuat mereka enggak nyaman. Lagi-lagi ponselku bergetar. Pengirim yang sama seperti sebelumnya.
Sejak beberapa hari lalu, Mama Ambar sibuk mempersiapkan kamarmu. Katanya, Mama Ambar ingin kamu nyaman di kamar barumu.
Senyumku surut. Kebahagiaan yang sempat kurasakan sirna begitu saja. Rasanya, aku ingin berlari dan kembali ke pelukan Eyang. Kenapa, sih, enggak ada yang benar-benar memikirkanku? Kenapa enggak ada yang benar-benar peduli dengan perasaanku? Kenapa aku enggak punya orang tua yang mencintaiku?
Mama lebih mencintai karir, uang, kecantikan dan teman-temannya. Papa hanya memikirkan keluarga barunya. Enggak ada satupun dari mereka yang bisa memahami lubang menganga di hatiku.
Dengan kesal, kumasukkan ponsel ke dalam tas. Kusandarkan kepala pada jendela di sisi kiriku. Sebenarnya aku enggak mengantuk, tapi kupikir memejamkan mata lebih baik dan bisa menghalau laju air mata yang sudah menusuk.
Sayup kudengar suara-suara kenangan masalalu muncul lagi di kepalaku. Sekelebatan bayangan masa kecilku kembali terputar seperti film monokrom.
"Maira," panggil Papa sore itu di sebuah taman hiburan , di Surabaya.
Aku mengalihkan pandangan dari kaus-kaus cantik yang dipajang di sebuah toko, kemudian memandng Papa yang berdiri di sebelahku.
"Sudah milih?" tanya Papa. Aku menjawabnya dengan sebuah anggukan penuh semangat. "Jadi, Maira mau kaus yang mana?" tanyanya lagi dengan nada lembut khas milik Papa.
Aku menunjuk kaus berwarna merah muda dan putih bergambar unicorn."Maira mau kaus unicorn yang itu, Pa," jawabku penuh semangat. Kali ini Papa yang mengangguk untuk menimpaliku.
Advertisement
"Eva juga mau yang itu, Pa. Eva mau baju yang sama kayak Mbak Maira," pinta Evalia yang saat itu masih berusia delapan tahun.
Dengan cepat kukatakan, "enggak boleh. Kamu pilih yang lain aja."
"Tapi, Eva mau samaan kayak Mbak Maira," rengek Evalia.
"Tapi, aku enggak mau samaan dengan kamu," ketusku sambil melotot sebal ke arah gadis kecil yang hanya terpaut usia dua tahun denganku itu.
Anak kecil menyebalkan itu langsung memeluk kaki ibunya sambil menangis. Aku mencibir kecengengannya.
Papa yang melihat kejadian itu langsung berjongkok di hadapanku demi menyejajarkan tinggi kami. Sambil mengusap puncak kepalaku, Papa berkata, "enggak apa-apa, ya, bajunya samaan sama Eva. Kan, kalian saudara."
Dengan amarah setinggi gunung, kukatakan pada Papa, "aku enggak mau! Aku juga enggak mau saudaraan sama dia." Kutunjuk Evalia yang masih menangis di pelukan ibunya. "Lebih baik aku enggak usah dibelikan baju dari pada harus kembaran sama anak cengeng itu."
Setelah menghentakkan kaki penuh kekesalan, aku berjalan keluar toko souvenir. Awalnya aku hanya akan duduk di kursi panjang taman hiburan ini, tapi suara anak cengeng itu kembali menggangguku sehingga aku terus berjalan ke area wahana.
"Mbak Maira," panggil suara cempreng dan serak Evalia sehabis menangis.
Aku meliriknya sekilas. Dia berusaha berlari mengejarku. "Mau apa kamu?" ketusku tanpa menghentikan bahkan memperlambat langkahku .
"Tunggu, Mbak," pinta Evalia yang mulai terengah.
"Aku bukan Mbakmu. Aku enggak punya adik,"omelku yang enggak ditanggapinya.
"Mbak, aku enggak akan minta baju kembaran lagi, deh. Asal Mbak Maira jangan marah lagi, ya?" tawar Evalia.
Huh! Dia pikir siapa dirinya? Dia cuma anak dari pelakor yang sudah merebut Papa dari aku dan Mama. Mana pantas dia melakukan tawar-menawar begitu denganku.
"Mbak, tunggu, Mbak." Kali ini Evalia berhasil memegang tanganku, membuat aku mau enggak mau menghentikan langkah kakiku.
"Apa lagi, sih?" keluhku dengan kekesalan yang kian memuncak.
"Tolong jangan marah lagi, Mbak." Dia mengiba dengan tatapan yang merana.
Kalau saja dia bukan anak dari wanita yang merusak keluargaku, aku pasti sudah luluh. Sayang, kenyataannya dia lahir dari hasil merebut kebahagiaan orang lain.
"Aku udah nunggu lama banget buat ketemu dan main bareng Mbak Maira. Jadi, aku enggak mau kita marahan," ujar Evalia. Dia menatapku penuh harap.
"Siapa suruh kamu pengin main sama aku? Aku enggak pernah minta buat ketemu dan main sama kamu. Asal kamu tahu, ya, aku benci sama kamu dan ibumu. Ibumu udah bikin Mamaku sedih," kataku padanya. Wajah Evalia memerah, pun dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Ahh, dasar cengeng!" ejekku.
"Mbak Maira boleh ngejek aku, tapi jangan Mamaku," katanya yang sebentar lagi pasti akan menangis kencang. "Mamaku itu wanita paling baik dan hebat di muka bumi ini," imbuhnya lagi.
Aku berdecak kesal. "Enggak ada wanita baik-baik yang ngerebut suami orang."
Tanpa kuduga, Evalia maju dan mendorongku sambil berteriak, "jangan ngomong jelek tentang Mamaku!"
Mendengar jeritannya dan dorongannya yang membuat aku mundur beberapa langkah ke belakang, amarahku pecah. "Mamamu bikin keluargaku hancur. Dasar anak pelakor!" Kudorong sekuat mungkin tubuh mungil Evalia.
Aku enggak tahu kalau doronganku berkekuatan membuat Evalia terhuyung dan kepalanya menabrak besi pagar pembatas wahana permainan. Aku pengin menjerit, tapi entah mengapa suaraku tertahan di kerongkongan. Aku cuma bisa terdiam sambil melihat Papa dan wanita jahat itu histeris menghampiri tubuh Evalia yang mulai lemas. Darah mengucur dari kening anak itu.
Dunia serasa berputar dan telingaku berhenti berfungsi. Aku hanya melihat orang-orang berteriak dan mengevakuasi Evalia. Papa menggendong tubuh mungil Evalia. Dia enggak peduli dengan kausnya yang dipenuhi noda darah. Wanita itu mengikuti Papa di belakangnya sambil terus menangisi anaknya yang mulai enggak sadarkan diri. Mereka pergi meninggalkanku. Tanpa menoleh sedikitpun ke arahku yng masih berdiri mematung. Mungkin Papa lupa kalau ada anaknya yang lain di sini.
Aku diam saja waktu petugas membawaku ke kantor mereka. Aku juga diam saja ketika mereka memberiku air. Aku duduk diam di ruangan itu menunggu Papa kembali menjemputku. Mungkin tadi Papa lupa kalau aku juga ikut ke taman bermain ini dengannya. Mungkin tadi Papa panik sehingga enggak menyadari kalau aku tertinggal.
Namun, sampai jam berganti, Papa enggak juga muncul. Saat itulah aku mulai menangis dan menyadari bahwa papa lebih menyayangi Evalia. Saat itulah aku sadar kalau Evalia dan ibunya sudah merebut banyak tempat di hati Papa.
Jam delapan malam, Eyang Kung dan Eyang Uti datang menjemputku. Mereka berdua membawaku pulang tanpa memarahiku, menanyaiku dan menyudutkanku. Eyang Uti terus membelai lembut rambutku sepanjang perjalanan pulang. Ia membiarkan aku membasahi bajunya dengan air mata.
Ingatan itu malah membuat bulir bening lolos di mataku yang terpejam. Perlahan aku menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-paruku dan mengembuskannya perlahan. Ponsel di dalam tas kembali bergetar seperti angin yang menerbangkan kilasan masalalu yang kembali menggerogoti batinku.
Mama benar. Aku harus melakukannya. Mungkin inilah satu-satunya cara mengembalikan Mama seperti dulu. Hanya Papa yang bisa membuat Mama kembali jadi Mama yang menyenangkan. Hanya Papa sumber kebahagiaan Mama.
Tanpa membalas pesan Mama, kupasang earbuds ke telingaku. Kuputar lagu Amateur untuk menemani perjalanan kali ini. Lagu yang seolah mengerti betul dengan harapan yang kutuliskan dalam setiap doaku.
💜💜💜
Advertisement
- In Serial148 Chapters
Cold Hearted Devil Fell In Love
When Ivy Hughes meets Ceo and Underworld boss Noah Adler sparks and fists fly. The first time she meets him she hates him, the second time she meets him she saves his life. Burnt by love before she wants to be free with no ties but Noah wants her everything.
8 1623 - In Serial42 Chapters
Claimed By The Devil
He was ruthless,He was powerfull,He was heartless,He was the devil,He was the king,He was engaged!!Sebastian Knight, the 26 year old billionare, the CEO of Knight Enterprises, one of the most trusted, powerfull, and successful chain of business the world has ever witnessed. He was also the world's most feared Mafia. He practically ruled the world, but unfortunately he was engaged to Scarlett Rose, a girl who loved his money and fame more than him.She was innocent,She was kind,She was the angel,She had a soft heart,She was engaged!!Padgett Eve, was 25 year old and was the daughter of the businessman Marcus Eve. She was the naive girl who everybody around around her loved, exept her father, she was engaged to Colton Blake, the CEO of Blake Corporation. He agreed to save Marcus's dying company in exchange of thier daughter.What will happen when Padgett and Scarlett meet each other after a long time at a college reunion? What happens when the devil claims the angel as his?Read out to find more
8 330 - In Serial64 Chapters
Her Mate - Olivia (The Gray Wolves Series #1)
Suddenly, I feel a hand that intertwines mine. The touch is warm but still not enough to comfort me after the news I've just got. I feel someone is leading me out of the office. Nothing is really clear to me. I barely see my parents, Julie and Eli's face as the hand keeps on pulling me away from them. No more links with Elijah. I don't know if I closed my mind or if he did. But I can't feel him anymore. My feet follow the lead. I raise my head and I see that the Prince is calmly leading me to the stairs. Before we start to climb the stairs, I feel a hand on my lower back while the other is still intertwined with mine. The Prince looks at me and no emotions can be read on his face. Does he have a heart? Can lycan love as gently as wolves? A wolf would be difficult to live with as a human. How is it going to work with a lycan? Is it even possible? I've never heard of such a thing. What has Moon Goddess done?Olivia is the daughter of the Blue Lakes Pack's Alpha and twin sister of the soon-to-be Alpha. Despite her Alpha bloodline, Olivia never got the chance to meet her wolf. Without a wolf, Olivia has the choice to stay in her pack or travel the world and live among humans. But the day she turns 20, when her brother becomes the new Alpha, nothing goes as expected. When some rebellious wolves threaten to attack, the Royal Lycan Family decides to send one of the Princes to take care of the situation. What happens when a kind Wolf-less girl meets a mysterious Lycan Royal Prince? One thing is sure: Olivia's journey will not be the one she expected. WARNING: this story contents some sexual scenes, violent battle scenes and inappropriate language that are not suitable for young readers under 18.
8 329 - In Serial25 Chapters
Lead to You
"Dear DiaryNow there is nothing but uncertainty around my future. I got married, to Ethan Carter.The merger that let us to this pinnacle came at a cost.Both Ethan and I do not know each other, at all. Both of us have married into something unknown , it's like spending your life with a stranger.Mom used to say how lucky she was to find true love in Dad and he was equally grateful to have her in his life. Will I ever get a chance at finding true love?S."Skylar Evans had lost her mother years ago and still hadn't recovered from the past. She had pushed herself to bring out the best in her but what happens if she gets thrown into an arranged marriage with a man she's never met?Ethan Carter never wanted to inherit his business yet he was forced into it by his father. The arranged marriage with someone he barely knew bound him even tighter to it. Will he ever come to terms with this?Will both of them find love in this marriage? Will they ever overcome their past to see through the future? What hurdles do they have to pass to find the path that will lead them to each other?Highest Rankings:#1-Marriage#9-Romance#1-Short story#2-billionaire#2-arranged marriage#3-love story
8 336 - In Serial71 Chapters
His Name Was Tate
"Why do you keep doing stuff like that?" I asked in a whisper.I walk over to him and grab his arm to stop him from painting. His body stiffened under my touch, and I couldn't help but smile at his reaction. "What do you want from me, Tate?" I asked arms made its way around his waist. I could feel my stomach jump to my throat. I laid my head on his back, rubbing my face against him. Engulfing myself in his scent. My heart began to pound uncontrollably but I quickly regain control before I continued. "Earlier today you said you'd never see me more than a friend." His breathing was uneven. Like he was nervous. "But the way you look at me, the way you talk to me? They say something completely different." He became even more ridged under my touch. I could help but giggled at his demeanor. The usual cool, collected Tate was now at my mercy. "Do you want me as a friend-" I said in a whisper. I began to become more bold and allowed my hands to travel. They landed over his chest and I could feel his heart thumping und my hand. While the other hand glided over is abs. "-or do you want me?" I asked.He removed my hands off of him and turned so that he was facing me. The look in his eyes rocked me to my core. There was a hunger in them. And it terrified me, but in a good way. In a way I wanted to explore. A smile soon crossed his lips. He was so close that I could feel his breath. "Your treading on dangerous waters, Little owl." He said in a low tone that made my body shiver. I ignored the pounding in my head and lungs and began to move a little closer so that our bodies were flushed against each other. His arms wrapped around me quickly holding me against him. "I like danger." I said in a whisper. "I know what I want." I said I'm a drunken daze. "And what is that?" He said in a chuckle."You."Read up on the love story of Tate and Meloni. Will this cool and calculated playboy be able to resist the charms of the innocent yet strong girl with a deadly secret?
8 236 - In Serial24 Chapters
This Farm Girl is Overpowered
Wakes up as a 9 years old in an ancient time. Their house is falling out and their field is not plowed. The villagers refuse to helped them out. Her only companion is an old woman that is on verge of dying. Her siblings are all sold by her heartless father.So now, how to say this?Isn't it a bit pitiful?Maybe....If she is not a high rank Magician in her past life.◇◇My original Work◇◇
8 218

