《UTARI》Bab 1 - Pria ke Sembilan Belas
Advertisement
JAKARTA pukul lima sore.
Utari menatap kalender yang terletak di atas meja kerjanya. Dua hari lagi, batinnya sambil melihat angka "8" yang ditandai dengan tinta berwarna merah dari spidol marker. Ia masih ingat betul kapan ia menandai tanggal itu, sudah cukup lama sekitar sebulan yang lalu saat ibu meneleponnya dari rumah dan mengabarkan tanggal bahagia itu kepadanya dan mengingatkan dirinya berkali-kali untuk meluangkan waktu di hari itu agar bisa ikut merayakan hari bahagia itu.
"Iya, bu... sudah aku tandai di kalender nih. Nggak akan lupa." Kata Utari seraya menandai kalender dengan spidol merah, membentuk hati—tanda kalau hari itu adalah hari bahagia dan ia tidak boleh melupakannya. Seusai menuntaskan pembicaraannya dengan ibu di telepon, Utari memandangi angka "8" itu setengah menerawang. Tanpa ia sadari, air mukanya berubah. Ia lalu mengambil spidol merah itu lagi dan menambahkan garis bergerigi di tengah hati yang tadi dibuatnya melingkari angka delapan. Entah sejak kapan hal seperti ini dirasakannya, mungkin ini iri, mungkin ini dengki karena ia sama sekali tidak bahagia menyambut tanggal yang disebut ibu sebagai hari bahagia itu.
Azalea membuyarkan lamunannya. Perempuan itu adalah rekan kerja Utari—satu divisi dengannya—yang mejanya tepat berada di sampingnya. Ia telah selesai berkemas. Meja Azalea yang semula berantakan dengan tumpukan berkas-berkas pekerjaannya kini sudah tertata rapi kembali. Tumpukan kertas itu telah dirapikan dan dimasukannya kedalam kabinet yang berada di dinding sebelah kanan ruangan. Terkadang Utari begitu mengagumi ketelatenan Azalea dalam memperlakukan barang-barang yang dimilikinya. Ia tidak pernah melihat Azalea meninggalkan meja kerjanya dalam keadaan berantakan. Menurut Azalea, meja kerjanya haruslah nyaman seperti rumah baginya. Oleh karena itu, ia memajang beberapa foto dirinya dengan Johan, lelaki yang dinikahinya hampir dua tahun yang lalu, di meja kerjanya. Di dalam figura itu, mereka terlihat sangat, sangat bahagia. Begitu yang dipikirkan Utari setiap kali melihat ke arah meja kerja Azalea.
"Nggak pulang, neng? Ngelamunin apa sih?" Tanya Azalea seraya melirik ke arah kalender yang ada di tangan Utari. "Hmm... tanggal putus sama pacar?" Tanya Azalea lagi.
Utari pelan-pelan mengalihkan kepalanya ke tanggal yang ditandainya itu, lalu meletakkan kalender yang ada di tangannya ke tempat semula. Ia tahu Azalea hanya menggodanya. "Kamu pulang duluan saja deh, Za. Aku masih harus mengerjakan laporan yang diminta Pak Haris senin besok. Tanggung." Tangan Utari bergerak menuju tumpukan kertas yang ada di depannya dan berpura-pura membacanya dengan serius.
"Kamu yakin? Hari ini Johan padahal menjemputku. Siapa tahu kamu mau bareng. Nanti Johan aku minta antar sampai ke depan rumahmu. 'Kan lumayan, kamu nggak perlu panas-panasan sambil macet-macetan di dalam kopaja." Ya...Aku tahu suamimu akan melakukan apapun yang kamu minta, Azalea. Batin Utari.
Utari tertawa. "Kamu ini suka repot-repot deh, Za. Tapi, terima kasih ya atas tawarannya. Begitu pekerjaan ini selesai, aku akan segera pulang dan jalanan pasti sudah tidak macet lagi. Lagipula, aku nggak bisa menunda menyelesaikan laporan ini, Za. Soalnya weekend ini aku sibuk." Kata Utari sambil menghela napas panjang. Ia lalu menambahkan dengan senyuman, "salam ya buat suamimu."
"Ya sudah kalau begitu. Sayang sekali, Utari. Jangan kerja terus ah, rileks lah sesekali. Aku kasihan melihat kamu akhir-akhir ini uring-uringan terus." Tanpa disadari Utari, tangan Azalea sudah berada dipundaknya. Ia tidak tahan melihat wajah Azalea lama-lama yang saat itu menunjukkan ekspresi seperti orang iba. Beberapa hari ini, Azalea memang sering melontarkan pertanyaan yang sama setiap hari. Ia menanyakan kepada Utari apakah dirinya sedang menghadapi masalah yang berat. Utari selalu menjawab kalau ia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan keanehan yang ditemukan Azalea atas dirinya akhir-akhir ini mungkin ulah "tamu bulanan". Azalea tidak meneruskan pertanyaannya, sebagian besar perempuan biasanya langsung mengerti. Keesokan harinya, Azalea bertanya lagi kepada Utari dengan pertanyaan yang sama dan Utari menanggapinya dengan jawaban yang sama pula. Namun, kali ini Azalea tidak mengerti kalau Utari memang sedang terpikirkan sesuatu yang sedang tidak ingin dibahas olehnya.
Advertisement
"Oke deh kalau begitu. Aku duluan ya." Azalea menundukkan badannya dan menempelkan pipinya ke pipi kanan dan kiri Utari. "Kalau ada masalah cerita ya." Bisik Azalea. Utari hanya mengangguk dan tidak heran dengan perhatian yang ditunjukkan Azalea. Temannya yang satu itu menurutnya memang terkadang terlalu perhatian.
Ia tidak sendirian di kantor. Masih banyak orang yang bertahan duduk di meja mereka masing-masing. Ada yang terlihat begitu serius dengan layar komputer mereka, ada pula yang bersenda gurau dengan teman-temannya dan melontarkan candaan yang membuat ruangan di kantornya itu riuh oleh suara tawa. Tapi, Utari tidak tertarik untuk bergabung, meskipun beberapa temannya mencoba memanggil-manggil namanya. Ia hanya akan mengangkat tangan dan tidak mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Lalu, temannya yang lain akan melontarkan kalimat, "serius banget si Utari kerjanya, padahal udah jam pulang." Mereka tidak tahu kalau meskipun Utari terlihat sedang bekerja, sebenarnya ia tidak sepenuhnya sedang bekerja. Ia hanya sedang sibuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Merapikan folder-folder dalam komputernya dan menulis hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya. Tapi, terkadang ia pernah bertahan di kantor sampai pukul sembilan malam untuk mengerjakan laporan yang deadline-nya masih beberapa minggu lagi.
Utari mencoba menenggelamkan dirinya dalam hal yang sedang dikerjakannya saat ini. Tidak ingin terganggu, ia mengambil headset dari tasnya, menancapkannya ke CPU, lalu memainkan keras-keras Smell Like Teens Spirit karya Nirvana sehingga suara orang-orang yang sedang bersenda gurau di kantornya itu tidak terdengar. Ia menuliskan apa yang ingin dituliskannya di layar komputer mengikuti hentakan irama lagu yang keras, sesekali kepalanya bergerak-gerak. Terkadang ia merasa selera musiknya terlalu muda untuk orang seusianya, apalagi ia perempuan. Tidak banyak yang tahu soal selera musik Utari. Mereka mungkin tidak akan menyangka kalau perempuan berwajah kalem dan tidak terlalu banyak bicara itu menyukai musik-musik ber-genre alternative rock. Profil Utari lebih cocok, sekilas akan mengingatkan kita pada music keroncong yang mengalun merdu. Tanpa diburu waktu, tanpa terasa terburu-buru. Sangat berbeda dangan music rock yang begitu agresif dan terkesan berambisi. Tentu saja, banyak hal di dunia ini yang tampak tidak seperti yang seharusya.
Seseorang menepuk-nepuk pundak kanan Utari saat ia sedang asyik mengetik. Rupanya orang itu adalah Shiren atau biasa dipanggil "sirene" oleh teman-teman kantornya. Meskipun ia tidak tahu alasan Sirene menepuk pundaknya, ia merasa ada hal yang tidak beres. Jarang sekali perempuan itu menyapanya, meskipun Utari juga tidak pernah mengharapkan disapa olehnya sama sekali, sih. Utari pun melepaskan headsetnya. Sedari tadi Sirene terlihat seperti berbicara padanya.
"Belum pulang?" Tanya Sirene konyol. Ya, menurut Utari pertanyaa itu konyol. Mungkin karena ia merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Sirene.
"Kalau aku masih ada disini ya berarti belum pulang." Sesaat Utari memperhatikan kalau ruangan kantornya sudah lebih sepi. Ia melirik ke arah jam di atas mejanya dan baru ingat kalau ia harus sholat maghrib. "Ada apa?" Tanya Utari kepada Sirene seraya berdiri.
"Ini mau kemana? Mau pulang?" Tebak Sirene. Utari tak menggubris pertanyaan Sirene dan berjalan menuju tempat wudlu dengan mengenakan sandal jepit Swallow warna hijau miliknya. Sirene mengikutinya dengan langkah genit—cara berjalannya memang seperti itu. Saat Utari keluar dari tempat wudlu, Sirene masih berdiri menunggu Utari di depan pintu.
"Kamu menunggu aku dari tadi?" tanya Utari heran. "Ada apa, sih?"
"Begini, Utari. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Tapi, nanti saja deh habis kamu sholat."
Usai sholat, Utari kembali ke mejanya. Dengan sigap Sirene segera mendekatinya dan berkata, "Utari, aku diminta menyampaikan ini oleh Pak Jay." Utari terdiam, menunggu sesuatu dari Sirene.
"Iya. Pak Jay meminta aku bilang ke kamu kalau beliau ingin mengenal kamu lebih dekat katanya." Kata Sirene dengan senyuman penuh makna yang seketika membuat Utari teringat dengan wajah Pak Jay. Laki-laki paruh baya—mungkin usianya sekitar 45-50 tahun—yang berperawakan jangkung itu punya kumis dan alis yang tebal. Kedua bagian wajah tersebut terlalu sulit untuk tidak diingat Utari, sebab entah mengapa, setiap kali Utari tak sengaja bersitatap dengan Pak Jay, alis dan kumisnya yang tebal itu bergrak-gerak. Meskipun wajah lelaki paruh baya itu cukup tampan untuk ukuran lelaki seusianya, jujur saja, Utari merasa terganggu dengan gerakan kumis dan alis Pak Jay. Rasanya seperti ketika kau disiuli oleh para pemuda yang hobi nongkrong di pinggir jalan atau di depan gang-gang sambil menghisap lintingan rokok—mungkin juga ganja dan bernyanyi dengan gitarnya dengan nada fals. Kadang-kadang mereka juga membuatmu takut dan risih. Namun, Utari tidak pernah tahu kalau ternyata ada makna di balik gerakan aneh itu. Seperti isyarat kalau ia tertarik pada Utari.
Advertisement
"Oh, begitu." Kata Utari singkat. Ia tidak tahu respon apa yang lebih cocok ditunjukkan untuk pernyataan Sirene barusan. Meskipun begitu, Utari sengaja menunjukkan kalau ia tidak tertarik, sekalipun ia juga sebenarnya begitu terkejut.
"Sudah begitu saja?" Azalea mengernyitkan keningnya
Utari mengangguk dan kembali menautkan pandangannya ke layar komputer. "Memang harus bagaimana lagi?"
Sirene terdengar menghela napas, seperti kecewa. Mungkin ia muak dengan sikap Utari yang begitu tak acuh dengan dirinya sejak tadi. Tak ada alasan baginya untuk kecewa, kan. Mungkin.
"Tidak harus bagaimana-bagaimana, sih. Aku hanya menyampaikan saja. Ku beritahu ya, Utari. Kelihatannya beliau serius." Sirene sedang membual, begitu pikir Utari. Baginya, keseriusan hanya bisa dilihat dari tindakan bukan kata-kata. Terlebih kata-kata itu hanya titipan. Ia bahkan belum pernah sekalipun berbicara dengan Pak Jay—dan lelaki itu tak pernah sekalipun menyapanya, meskipun ia terlihat sangat ramah dengan karyawan di kantornya. Lagipula, Pak Jay jelas adalah pria beristri. Sekalipun tak ada lelaki lain di dunia ini, ia tak akan memilih Pak Jay sebagai pendamping hidupnya. Begitu pikir Utari, seperti melihat ada sesuatu yang tidak beres di luar sana, lantas ia cepat-cepat menutup pintu dan mengkuncinya dengan gembok berwarna hitam. Kau tak akan pernah bisa membuka pintu ini. Pintu hati ini.
"Iya, terima kasih atas informasinya ya, Shi-ren." Utari kembali mengetik dan menciptakan geming yang seolah-olah menyuruh Sirene untuk enyah dari hadapannya.
"Ah, yasudah kalau begitu. Aku pulang duluan ya, Utari. Nanti akan ku sampaikan ke Pak Jay kalau kamu sudah menerima informasi dariku. Jadi, minggu depan kalau bertemu dengan beliau, jangan lupa tersenyum ya. Daagh!" Sirene pergi dengan melenggak-lenggokkan pinggulnya menjauhi meja Utari. Ia terlihat tidak terlalu puas dengan upaya awalnya menjodohkan Utari dengan Pak Jay. Entah mengapa, Utari merasa Sirene berniat menjodohkannya dengan manajernya yang katanya ramah itu.
Kantor sudah semakin sepi. Jam menunjukkan pukul 20:12. Tidak terasa. Beberapa kali Utari disapa oleh rekan kerjanya yang hendak meninggalkan kantor. Ia hanya mengangguk dan menunjukkan senyum kecil. Pak Suratmo, satpam kantor mulai lalu-lalang, tanda kalau Utari harus segera angkat kaki dari kantor itu karena bisa jadi tinggal ia sendiri yang ada di sana. Utari pun mematikan komputernya, lalu merapikan tumpukan kertas yang berserakan di meja kerjanya dan meletakkannya di pinggir meja. Ia memasukkan beberapa barang yang ada di meja ke dalam tasnya. Sementara itu, ia mengeluarkan satu barang dari dalam tas, sebuah notes kecil. Ia menarik pita berwarna merah yang menjadi pembatas halaman notes itu, mengambil pulpen, dan menuliskan sesuatu di dalamnya.
"Nomor 19. Jay." Gumamnya lirih seraya menuliskan di dalam notes. Ia lalu meletakkan kembali pulpen yang digunakannya barusan ke wadah berwarna hijau yang bertengger manis di atas meja kerjanya yang terkesang gersang—tidak seperti meja kerja Azalea yang terlihat rapi dan begitu "homey." Notes itu dimasukkannya kembali ke dalam tas sebelum ia beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk keluar dari ruangan kantor. Rupanya benar, tinggal ia seorang diri yang ada di ruangan itu.
"Pulang duluan, pak." Kata Utari kepada dua orang petugas keamanan yang duduk di bangku dekat meja respsionis kantor sambil menganggukkan kepalanya dengan hormat. "Iya, Bu Tari... Hati-hati di jalan." Balas Pak Sumir dengan wajah ramahnya, seperti biasa.
Utari memencet salah satu tombol elevator dan menunggu di salah satu pintunya agak lama. Setelah hampir satu menit menunggu, elevator itu sampai ke lantai 51, tempat Utari berdiri. Pintu elevator itu terbuka. Ia menemukan seorang anak kecil—tidak terlalu kecil, mungkin usianya sekitar 12 atau 13 tahun—dengan seragam sekolah dan backpack yang menyangkut di kedua pundaknya berada di dalam elevator tersebut sambil beberapa detik terdiam menatapnya, tidak bergerak. Utari segera masuk ke dalam elevator dan menekan salah satu tombol agar pintunya tidak segera tertutup. Lantas, ia menengokkan kepalanya ke arah anak kecil yang terlihat masih memperhatikannya itu.
"Kamu mau turun di lantai berapa, dik?"
Anak kecil itu tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia menunjukkan angka "lima" dan "satu" dengan jari tangannya.
"Ini lantai 51." Kata Utari. Anak kecil itu mendongak, melihat tulisan digital di atas pintu elevator yang menunjukkan angkan "51" berwarna merah.
Tanpa berkata-kata, anak kecil itu berjalan keluar elevator. Saat sudah melewati mulut pintunya, anak kecil itu tidak langsung pergi. Ia membalikkan badan dan melihat lagi ke arah Utari. Pintu elevator bergerak secara otomatis, mempersempit pandangan Utari. Anak kecil itu memandangnya dengan tatapan kagum—setidaknya itu yang dirasakan Utari. Lalu, anak itu tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang ompong dan melambaikan tangan. Utari mengernyit kebingungan. Pertanyaan yang seharusnya muncul beberapa puluh detik yang lalu, membuat bulu tengkuknya berdiri. "Ada urusan apa seorang anak kecil ke lantai 51 gedung perkantoran jam segini?" Batinnya. Pintu elevator tertutup dan ruang sempir berukuran 3x3m2 itu membawa Utari meluncur turun menuju lantai dasar gedung.
UTARI membuka ponselnya saat ia sudah duduk di dalam bus yang tidak terlalu sesak. Sementara itu, antrian kendaraan di jalanan masih padat. Ada tiga pesan dari adiknya dan enam missed calls, masing-masing dari adiknya dan telepon rumahnya. Tapi, ia yakin betul kalau semua panggilan dan pesan di ponselnya itu datangnya dari ibu.
'Pulang jam berapa, Utari? Damar sudah sampai di rumah. Cepat pulang!!' Utari bisa membayangkan wajah cemas ibu saat ia membaca pesan itu. Ia menghela napas, lalu mulai mengetik balasan untuk ibunya. Terkirim.
Beberapa detik kemudian, ponsel Utari berdering. Nomor Utami, adiknya. Ia tidak menjawab panggilan itu dan membiarkannya hingga mati sendiri. Penumpang lainnya di dalam bus melihat ke arahnya dengan pandangan heran, ada juga yang merasa jengkel. Mungkin karena keberisikan dengan dering ponsel Utari yang seperti dering suara telepon lama. Utari menatap keluar jendela, seolah tidak memedulikan tatapan penumpang lain yang mencoba menintimidasinya untuk segera membungkam suara dering ponselnya. Mungkin juga sebenarnya mereka ingin menyadarkan Utari, "Heh, ponselmu berbunyi itu, bodoh!" Setelah dering ponselnya berhenti, Utari segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya itu dan mencopot batrenya. Kenapa tidak dari tadi ya, pikirnya.
Di samping Utari ada seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahun, betubuh kurus, wajahnya cekung dan berjanggut seperti kambing yang sudah beruban. Rambutnya agak gondrong keperakan, matanya yang merah seperti orang yang sedang mabuk mendelik ke arah Utari. Seketika ia merasakan ketidaknyamanan menyelubungi dirinya, seperti seekor anak sapi yang mendengar suara desis ular yang akan memangsanya. Utari tidak memperhatikan laki-laki itu sesekali dari ujung matanya, lalu membuang pandangannya ke luar jendela bus yang memampangkan peamndangan yang tidak terlalu menyenangkan. Sebuah truk pengangkut minyak yang baru keluar dari sebuah pom bensin melintang di jalan, tidak bisa bergerak dan harus mundur ke belakang untuk bisa berbelok. Sementara di belakangnya, terdapat antrian mobil yang juga ingin keluar dari pom bensin. "Menyusahkan sekali," pikir Utari yang sesaat kemudian menyadari kalau keadaan depresif seperti itu tidak akan terjadi selamanya. Seseorang (atau beberapa orang) akan mengatur kendaraan-kendaraan yang sedang stuck itu dan mereka akan terbebas dari keadaan itu apabila semua yang ada disana menjalankannya secara kooperatif, entah berapa lamanya. Semakin kooperatif, semakin cepat. Bus yang ditumpangi Utari bergerak bagaikan siput, sehingga ia bisa memperhatikan lebih lama apa yang terjadi dengan truk pengangkut minyak itu.
"Jangan lari dari masalah." Tiba-tiba pria tua yang ada di sebelahnya berbicara kepadanya. "Lihat truk itu, dia tidak akan selama-lamanya berada di sana, kan?" Sambung laki-laki itu seperti membaca pikiran Utari.
Utari mengalihkan pandangannya sebentar ke arah lelaki tua itu. Merasa tidak nyaman, ia lalu menunjukkan sikap tak acuh. Laki-laki itu pasti memperhatikannya dari tadi, sehingga perkataannya bisa membuat Utari merasa tersindir. Ya, bagaimanapun juga, malam ini ia akan sampai ke rumahnya dan harus menjelaskan sesuatu kepada ibunya.
Laki-laki tua itu berdiri. Sebelum ia berjalan menuju pintu bus, ia bertahan sebentar di dekat tempat duduknya. Ia menatap Utari yang saat itu merasakan kelegaan yang masih tertahan.
"Terkadang yang kamu pikir baik bagimu, belum tentu baik bagimu." Kata lelaki tua itu kepada Utari dengan suara yang lebih berat sambil berdeham, sebelum ia pergi menuju pintu bus dan turun dari bus itu. Utari tercenung mendengar perkataan lelaki tua itu, meskipun tidak mengerti sepenuhnya tentang apa yang sedang dibicarakannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Terkadang seseorang suka asal bicara dan sok tahu. Kejadian seperti itu tidak seharusnya tidak menganggunya, pikir Utari. Ia membuka dan merogoh-rogoh tasnya untuk mendapatkan sebungkus permen yang biasa asal dimasukkannya ke dalam sana. Namun, yang diambilnya bukan permen, melainkan sebuah notes kecil bersampul kulit berwarna merah marun. Ia membuka notes itu, di tempat pita pembatasnya yang berwarna merah diselipkan. Sejumlah nama tertera di sana, dari nomor 1 hingga 19, yang terakhir adalah nama Pak Jay, seorang manager bagian produksi di perusahaan tempatnya bekerja. Kecuali nama Pak Jay, nama-nama lain di atasnya sudah dilengkapi dengan usia, suku, dan hobi. Beberapa nama ada yang ditandai dengan 'ceklis'.
"Tinggal dua lagi, dan akan sampai ke angka 20," kata Utari lirih.
Advertisement
- In Serial42 Chapters
The Transported Wanderer.
While he was traveling around the world, visiting exotic places. Stian got lost and somehow found himself in an other world. Left with no choice, he decided to explore this new world until he finds a way back home.What kind of adventures, events and people Stian will encounter as he explores this new unknown world!?
8 162 - In Serial81 Chapters
Essentia Animus
Second Book of the Soul - Celesi Veil Trilogy When the living essence of three girls are put at risk, giving room for a second essence within themselves, even their hyper developed fantasy world might not be enough to contain their new found ambitions. Another story of another world, these three girls must adapt to their new essence, all while each is left to question if they are truly still even alive. While this story is a sequel of the previous story in the trillogy, it is also fully capable of standing alone in its own light, taking place in a distant corner of a Celese returning readers will be otherwise incapable of recognizing. However, the events of the story are a spoiler for the previous book, in case that matters to anyone. This story takes place over two centuries after the events of Vitae Memorandum, when Celese had developed into an advanced world, improved to a point that it is much like modern-day Earth while still using the gift instead of technology. The Aethyx languages are still present in this book, and even English still exists in the world after the events of the previous book, but are much less of a focus after the same closing events of the previous book. What is instead important is how the ending events of the previous book had resulted in the start of the Instrumentation Era, and exactly how the gift translates in a modern-day sense. While this book is still effectively a fantasy world of its own kind of magic, it isn’t the classical medieval scene that would be typical for such a story. The laws of science still do not exist in Celese, but that didn’t stop it from developing into something that looks similar enough. Earth itself still remains present on the other side of the veil, and its previous exposure continues to shape and advance Celese into the world it has become. This story contains scenes exibiting mania and similar dark themes, as it goes to great length to explore concepts of life and death. While the degree of such themes should not be considered to be as serious compared to matters such as actual horror, the psychological depth is still siginifcant enough to be potentially concerning for people sensitive to matters of this nature, such as any individuals with concerns questioning matters of suicide, mental harm, or a variety of emotional injuries. While none of these subjects actually occur in the story, readers who are currently troubled by such matters may find themselves considering old wounds if they are especially capable of empathy while reading, which could lead to furthered emotional or mental stress. Readers with a high capacity for empathy may find themselves troubled by concerns regarding any potential lack of mental/emotional control as well as considerations regarding the meaning of death. Readers who appreciate subtle dark themes in a story may instead find this to be an interesting twist of the same idea.
8 116 - In Serial19 Chapters
The Slayers Of The Seven
[Cover by CBMokedi][New chapter at least 2 times a week. I try to aim for Sunday and Tuesday, but sometimes post earlier or later] The Kingdom Of Sela is threatened by the verge of collapsing in on itself. The royal family all poisoned leaving no heir to the throne, the councilmen quickly put up five candidates that were fit to rule according to the Primordial Scroll. There are other major problems that this kingdom faces, like aggressive neighbors, overwhelmingly powerful beasts and a dangerous cult resurfacing after decades of silence.
8 756 - In Serial23 Chapters
The False Warlock
The universe consists of two known planes of existence. The Demon plane and the Mortal plane. The Demon plane is the home to seven races of demons, while the Mortal plane is home to the Human race and their bizarre mutations and magical skills.The Mortal plane is a plane where countless humans live in densely populated cities. The complete opposite to the sparse populations of the Demon plane. Just as much as the Demons have powers, there are some mortals who have powers too. Mutations that create powerful Humans called Vigors as well as magic users who can cast spells or traverse the two planes.The Demon plane is ruled over by seven Demon lords and a king, while the other, less powerful demons fall into line behind these Demon lords. These Demon lords grant powers to their subjects, creating the seven demon races. All Demons can move between the two planes, but most choose not to due to their hatred of the Human race, but some do for a single thing. To have children, for Demons can only be male. At least- they should.Elmira is the first female demon and due to her unique circumstance and the demon's hatred of Humans, they wish to make her their queen with which they can have 'pure' children with. Elmira and her brother, Lucifer have other ideas. As a plan hidden from her other brothers and Satan, her Father, Lucifer sends her off to the Mortal plane in an effort to hide her amongst the Humans. However, it takes time to get used to the Mortal plane and the people within who have their own ideas as to what she should do.Warning: Tagged 17+ for gore, strong language and violence.
8 190 - In Serial11 Chapters
The Best Way To Use A Clone
A.K.A. I am a hundred dudes, what you gon' do? Might eventually become completely different from its original premise.
8 125 - In Serial12 Chapters
Sandbox of Interest
Brumane, a supernatural world with an expansive past that is inhabited with various different beings that clash constantly. Isia, a normal world with advanced technology that is getting ever closer to releasing a space vessel that can explore the distant stars without restraint. The two worlds collide in mysterious and unseen ways. As if they are place in a sandbox... One may never notice, but it seems that the two worlds are actually pitted against each other. What may happen?
8 172

