《Totally My Type》Chapter 8
Advertisement
Aku enggan menatapnya. Jangan tanya siapa dia! Yang pasti dia adalah Huang Renjun. Yena yang mengetahui perubahan sikapku ini segera bertanya, namun aku berpura-pura tidak mendengarnya bicara. Aku mengabaikan semua orang, bahkan ibuku sendiri. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun, jika aku berbicara dengan orang lain aku akan marah tanpa alasan pada lawan bicaraku. Aku tidak ingin melukai persaaan siapapun.
.
"Lee Hea! Apa kau tidak mendengarkan, huh?" Sebuah suara dengan dinamik kasar menusuk lubang telinga, aku segera menoleh.
.
Mati aku! Jung saem menatapku tajam, wanita itu berada di sampingku sekarang.
.
"Bisakah kau mendengarkanku? Aku tahu kau tidak terlalu tertarik dengan mata pelajaranku, tapi bisakah kau menghargaiku sedikit saja?" Jung saem berkacak pinggang. "Kau keluarlah! Aku tidak ingin melihat wajah menyedihkanmu itu."
.
"Aku memang menyedihkan, lalu kenapa?"
.
"Kau–"
.
"Aku akan keluar, aku juga ingin mencari udara segar." Aku bisa merasakan jika semua perhatian orang-orang di kelas tertuju padaku yang mulai meninggalkan kelas. Langkahku menuju sebuah tempat yang sepi, toilet. Aku akan menghabiskan waktuku di sana untuk sementara waktu, menenangkan pikiran.
.
Aku membasuh mukaku dengan air yang berasal dari wastafel di hadapanku seraya menatap cermin besar yang berada di atas wastafel. Lihatlah wajahmu yang payah itu! Kenapa hanya karena masalah Renjun kau bisa seperti ini? Mana senyumanmu, Lee Hea? Ternyata patah hati sepahit ini sampai aku tidak bisa tersenyum barang sedetik.
.
"Berhentilah memikirkan dia, Lee Hea! Sadarlah! Ini semua sudah berakhir, dia tidak menyukaimu lebih dari teman." Aku mencoba tersenyum tapi senyuman yang mengembang terkesan terpaksa dan membuat wajahku aneh. Aku kembali membasuh mukaku. "Kau bisa, Lee Hea! Anggap saja kemarin itu hanyalah angin." Senyuman dengan kesan terpaksa kembali muncul. "Aku tidak bisa melakukannya." Ujarku putus asa.
.
"Kau ini kenapa, huh?" Aku segera mencari sumber suara yang bertanya padaku. Oh, dia adalah Mila, tetangga Yoon Sanha dan Renjun. "Kau terlihat buruk, Lee Hea? Kau sedang putus cinta?" tebaknya. "Aku kemarin mendengar percakapanmu dengan Renjun, aku juga melihat bagaimana hancurnya di taman dekat akademi." Ujarnya sembari menahan tawa.
Advertisement
.
"Kau! Yak!" Gertakku.
.
"Kau benar-benar menyedihkan, Lee Hea." Tawanya meledak. "Kau seperti orang bodoh." Tawanya memenuhi ruangan. Aku hanya bisa mendesah kesal sembari melangkah pergi dengan tandas. "Lee Hea." Panggil Mila, aku segera memutar tubuhku. Menatapnya yang tengah melipat lengannya di depan dada dengan gaya sok keren.
.
"Apa? Kau ingin menertawaiku lagi?"
.
"Tidak." Ujarnya tenang. "Sepertinya kau salah paham dengan Renjun." Imbuhnya sembari menatapku serius. "Sebaiknya jangan menyerah pada cintamu itu, berusahalah sekali lagi dan jelaskan perasaanmu dengan jelas sejelas jelasnya." Ujar Mila dengan penekanan di setiap kalimatnya.
.
"Kau ini siapa? Kenapa kau menyuruhku seperti itu? Tidak usah ikut campur!" Sungutku sembari memutar badan seraya meninggalkan toilet wanita.
.
.
.
"Kau jadi melamun. Apa yang terjadi saat kau tidak mengikuti pelajaran tadi?" Tanya Yena.
.
"Tidak banyak yang terjadi."
.
"Kalau begitu makanlah makan siangmu dengan cepat, jangan melamun!" Perintah Yena sembari tersenyum. "Kenapa kau melamun lagi?" Tanya Yena. "Sebenarnya apa yang terjadi? Katakanlah! Apa ada yang menganggu pikiranmu?"
.
"Apa aku perlu berusaha lagi untuk mendapatkan Renjun?"
.
"Apa maksudmu?"
.
"Aku sudah mengatakan perasaanku padanya tapi aku tidak lebih dari teman baginya."
.
"Kau sudah mengatakannya?"
.
"Tentu saja."
.
"Jadi itu alasanmu melamun dan enggan berbicara dengan siapa-siapa." Yena mengangguk mengerti. "Jika dia benar-benar tipe idealmu, mengapa tidak? Tidak ada salahnya mencari kesempatan ke dua selagi kesempatan itu masih ada."
.
"Bagaimana caranya? Melihat wajahnya saja membuatku hancur, aku langsung mengingat penolakan yang kuterima."
.
"Mulailah bicara dengannya lagi."
.
.
.
Aku menunggu sosok Huang Renjun melinta di pintu gerbang, dia masih mengerjakan piketnya. Udara dingin yang masih menyelimuti Kota Seoul menusuk permukaan kulit walau mantel tebal sudah berusaha menghangatkan tubuhku. Kenapa Renjun lama sekali? Yang lainnya sudah pulang lima menit yang lalu.
.
"Hea."
.
"Renjun." Aku menimpali suara khas miliknya sembari tersenyum cerah. Aku kembali teringat penolakan kemarin, senyumanku segera luntur. "Maaf aku harus segera pergi." Ujarku sembari berlari secepat yang kubisa untuk meninggalkan Renjun. Aku tidak bisa berbicara lebih lama dengannya, aku tidak bisa menatapnya terlalu lama.
Advertisement
.
"Lee Hea!" Teriaknya, membuat langkahku seakan kehilangan daya untuk berlari lebih jauh. Aku berhenti saat itu juga. "Kau ingin pulang bersama? Ini sudah terlalu malam. Aku khawatir jika kau pulang sendirian." Ujarnya sembari menyusul langkahku, dia berhenti di belakangku. "Bolehkan aku mengantarmu?"
.
Apa benar aku hanya temanmu, Huang Renjun? Kenapa kau selalu menghawatirkanku? Kau membuatku berharap lebih. Perasaanku mudah tersentuh oleh semua bentuk perhatianmu, mudah tersentuh setiap perkataan manismu. Aku mudah tersentuh. Membuatku gila dengan perasaan aneh ini untuk pertama kalinya. Kau yang pertama kali bisa membuatku segila ini.
.
"Aku bisa pulang sendiri." Ujarku sembari mengepal kuat. Aku segera meninggalkannya tapi dia kembali memanggilku, aku kembali menghentikan langkahku. Kenapa aku selemah ini di hadapannya? Ada apa sebenarnya, Lee Hea? Kau ini kenapa! "Ada apa lagi?" tanyaku tanpa memalingkan tubuh.
.
"Kau benar-benar memperlakukanku berbeda dengan yang lainnya, apa itu karena kau membenciku? Apa kau membenciku karena kau sudah tahu jika aku menyukaimu lebih dari teman?" Pertanyaannya mampu menyeret kakiku untuk memutar tubuh.
.
"Apa yang kau bicarakan?"
.
"Yoon Sanha bilang jika kau hanya menyukaiku sebagai temanmu, tidak lebih dari itu. Saat kita bertemu terakhir kali, aku ingin membuktikan perkataan Sanha. Saat itu kau mengatakan jika kau menyukaiku tapi rasa suka itu berbeda dengan apa yang kurasakan kan?"
.
"Tunggu sebentar...Biarkan aku mencerna perkataanmu." Aku meremas kuat pangkal rambutku. Jadi intinya Renjun mengira aku hanya menyukainya sebagai teman dan aku juga berpikiran sama sepertinya. Jadi benar kata Mila, ini hanya sebuah kesalahpahaman. Dan itu semua karena seorang Yoon Sanha. Sialan! "Renjun, sepertinya ada kesalahpahaman di sini." Aku tersenyum. Aku merasa jika akan ada hal baik setelah ini, seakan ada cahaya yang berasal dari surga menyinar hidupku.
.
"Maksudmu?"
.
"Aku mengira kau hanya menyukaiku sebagai temanmu, aku berpikiran seperti itu setelah kau mampir untuk makan malam." Aku menarik napas dalam. "Jadi aku mengira kau mempunyai perasaan yang berbeda denganku. Sebenarnya, aku menyukaimu lebih dari itu." Renjun menelungkupkan tangan di wajahnya. Aku segera menatap ujung sepatuku.
.
"Jadi perasaan kita tidak berbeda?"
.
"Seperti itulah."
.
"Jadi Yoon Sanha berbohong padaku. Syukurlah." Aku tidak bisa menahan senyumku saat ini. Saat itu juga sebuah tangan terulur di hadapanku, aku segera mendongak. Renjun tersenyum dengan wajahnya yang memerah. "Aku akan mengantarmu pulang." Senyumannya begitu cerah. Aku membalas senyuman itu seraya menerima uluran tangannya. "Bisakah kita berkencan saat akhir pekan?"
.
"Tentu saja." Aku tersenyum sembari menatapnya, retina kami saling bertemu untuk sesaat. Detik selanjutnya kami kompak memalingkan wajah, menyembunyikan guratan merah yang timbul di pipi hingga membuat telinga ikut memerah karena malu. Genggaman hangat Renjun kurasakan sepanjang jalan menuju rumah. Bagaimanapun juga lelaki seperti Renjun adalah tipe idealku, baik, pintar, polos, hangat, dan bertanggungjawab serta pemberani. Dia juga menyayangi keluarganya, dia benar-benar lelaki idamanku.
.
.
Advertisement
- In Serial50 Chapters
Across the Realms [Dropped]
Disclaimer: I'll leave this on here for anyone to read. The last time I uploaded a chapter was nearly a year ago, and to all the readers who still kept their trust in me after I came back from my umpteenth hiatus, I am sorry. I will not carry on writing this; I started off without the correct foundations of a novel, nor commitment to fully finish it and I do not want to lie to you all once again. Maybe one day, I may decide to re-write the novel, with a new basis or at least a comprehensive starting point with many of the narrative errors cleared up; but, till then, this is goodbye. And, once again, thank you for the motivation you gave me. Even now, I see many emails come through with people commenting. Goodbye. A child blessed by the Astral. An unprecedented destiny. Watch his path, as he marches up the stairway of Heaven. A March of a Sovereign. [Adventure, Wuxia, Martial Arts, Fantasy] This is a Qihuan novel; it has eastern and western fantasy elements. More often than not in Xianxia or Xuanhuan there is a severe lack of character development, being a western writer I'm changing that. My characters, from my totally unbiased view, feel fleshed out and actually have emotions. This is my first attempt at a novel, I'm writing as a means to better convey my thoughts. I will, hopefully, steadily improve chapter-by-chapter. I'm very open to feedback and constructive criticism. As one can see this is a cultivation novel, so you know how this goes. I've decided to jump-start the whole rags-to-riches scenario. He is strong from the start and is given the utility to do so. *The cover art is not my own, all rights reserved to the owner. I will take it down if necessary. *The style of the recent chapters is comparatively different than Chapter 1.
8 101 - In Serial18 Chapters
The fire within
When Rey meets Darth Maul in the forest of an unknown planet, she is brave enough to engage with him in a lightsaber fight. However, when he overpowers her, to his surprise, he finds something interesting enough to spare her life. Bringing the unconscious Rey into his ship, he doesn't realize, how much his life will change, as they heading into the unknown future together.
8 192 - In Serial40 Chapters
Black Boar Band
Devin Tenfingers just wanted to make enough money to live comfortably. That isn't so much to ask, is it? In a new land, across the sea from the Old World, the town of Mossglenn Depot is the only civilization in an untamed wilderness. Funded by private enterprise, Guilds and Contracts are the way of law. Devin created the Black Boar Band, his very own guild, to get moderately rich and make enough of a name for himself that people might pause on the streets when they see him. Unfortunately, many others had the exact same idea. During a disastrous Contract, Devin and his ragtag band of people find themselves embroiled in a conspiracy involving his hated rival, Bronn of Bronn's Buyable Blades. As they dig deeper into this conspiracy, they soon discover there is more to this land than anyone previously thought, or imagined. And perhaps they are not the first to inhabit it. [participant in the Royal Road Writathon challenge]
8 103 - In Serial7 Chapters
The Princess, the Witch and the young Dracolich
After an incident involving a Necromancer and his legions of dead invading a small settlement, the castles ruler a young princess ally’s a witch and a newly created dracolich to adventure to find the invading forces and defeat them, along the way the setting begins to change, the dead arisen and the lands twisted, what was a journey to redeem their people becomes a mission to save the lands and quite possibly the world itself...
8 223 - In Serial345 Chapters
YLTESCIA: A Reincarnator's Tale in the Lands of Merusia
At the meager age of 27, a young man lost his life in an unfortunate accident but by the mischievous tides of fate, he was a given a second chance at life in a world of swords and magic. With the goal to conquer the great labyrinths and explore the vast world, a legendary adventurer will be born in the lands of Merusia. This is the story of the man who was once named Matteo Alcantara, as he enjoys his new life in a world of fantasy and adventures as Grey Silverdrake. Disclaimer: This work is a reboot of my previous work titled "Gokaiku", so don't report it or something because of the similarities.
8 183 - In Serial17 Chapters
risky ; the goonies
"that's way too risky," "oh, stop being a baby,"[mikey walsh x oc]
8 114

