《Hati Tak Bisa Dipaksa, Sudah Terbit》Part 1 Prologue
Advertisement
Prolog
Langit Tanpamu
Sayang,
kau sedang apa?
Kupikir...
Bali akan mengubah suasana hatiku,
setelah kau pergi.
Tapi Bali tanpamu, sama seperti langit tanpa senja.
So plain, so ordinary.
Sayang, bukannya aku tak rela melepasmu.
Aku mungkin hanya rindu.
Apakah di sana kau juga rindu padaku? Pada Athalia?
Sayang, apa kau ingin dipeluk?
Sudah lama aku tak memelukmu...
Ponsel yang terletak di samping tempat tidur terus menerus bergetar dan menjerit. Lelaki muda berambut hitam itu masih berbaring telungkup di tempat tidurnya. Sayup-sayup dia memang mendengar jeritan ponselnya, tapi dia baru saja bisa tidur kembali setelah malam super panjang yang dilaluinya semalam. Malam 5 Februari, tahun keempat sejak kepergian Gracie-nya.
Dia, lelaki muda itu, bernama Adam. Sebetulnya separuh nyawanya sudah terjaga begitu ponselnya bergetar. Tapi dia masih menolak untuk membuka matanya, yang dengan paksa dipejamkannya erat-erat hingga terlihat berkerut. Dia masih ingin berlindung dalam gelap yang tercipta dari mata yang tertutup.
Dalam gelap dia tidak perlu melihat benda-benda lain kecuali benda yang memang ingin dibayangkannya untuk dilihat.
Dalam gelap dia tak perlu memikirkan perasaan dan pendapat orang lain.
Dalam gelap dia masih bisa menyentuh belahan jiwanya.
Tidak, dia belum ingin bangun dari mimpinya. Dia masih ingin membayangkan Gracie-nya. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai hingga ke pinggangnya yang kecil. Tubuh Gracie yang kurus dan mungil begitu mudah diangkat. Ah! Adam bisa membayangkan gelak tawanya, saat dia melingkarkan lengan kurusnya ke lehernya lalu bersama-sama mereka berjalan-Gracie dalam gendongannya-menuju ke laut lepas.
Matahari terasa membakar kulitnya, pasir pun terasa hangat di telapak kakinya. Tapi tak ada yang bisa menghentikan derap langkahnya menuju laut, bersama Gracie dalam pelukannya, langsung berjalan ke tengah hingga air laut menutupi dadanya. Air laut yang hangat, sehangat tubuh Gracie dalam pelukannya. Sehangat pelukan lengan kecil di lehernya, sehangat hatinya. Lalu tiba-tiba saja dia tersedu.
"Gracie!"
Bisiknya masih dengan mata yang dipaksakan terpejam. Dia membalik tubuhnya hingga telentang lalu mengulurkan tangannya.
"Gracie!"
Bisiknya lagi, lalu dia terduduk di atas tempat tidurnya yang kosong dengan mata basah. Ponselnya sudah berhenti menjerit dan bergetar.
Dia mengusap wajahnya yang basah dengan punggung tangannya lalu membanting tubuhnya ke atas kasur. Matanya yang hitam dan besar memandangi langit-langit kamar hotelnya dengan pandangan kosong.
Rasanya baru kemarin dia menginap di sini. Pulau yang sama, hotel yang sama, kamar dengan ornamen yang sama yang pernah mereka tiduri dulu.
Kamar yang indah dengan ranjang raksasa yang empuk dan nyaman, heavenly bed, judul promosi katalognya. Karena bulu angsa yang melapisi bantal, alas kasur dan selimutnya yang lembut.
Menurut Gracie, mereka harus menginap di situ dan merasakan seperti apa itu heavenly bed. Dia ingat tertawa setengah mengejek.
"Itu kan cuma promosi pihak hotelnya aja, Gracie!"
Ujarnya sambil menariki rambut panjang Gracie yang harum. Gracie menggeser duduknya lebih dekat lagi dan memeluknya.
"Tapi kita harus coba, Kak. Siapa tahu nanti kakak berminat buka resort atau hotel baru dengan konsep yang sama. Heavenly bed. Tempat tidur senyaman di surga."
Adam terkekeh mendengarnya. "Kau sudah merasakan surga?"
Tapi Gracie-nya tidak tersinggung mendengar nada mengejek dari suara Adam. Dia malah menciumi leher Adam sambil bergumam.
"Hmmmmh... Nanti kalau aku masuk surga duluan, aku akan tahu bedanya. At least aku bisa bayangkan dari sekarang, bahwa surga itu indah, Kak!"
"Mau apa kamu ke surga duluan? Memangnya surga masih bernama surga tanpa aku?"
Cibirnya sambil menciumi pipi Gracie-nya. Perempuan kecil itu mendesah. Lalu dia tertawa, memamerkan dua lesung pipit di pipinya yang kemerahan. Matanya yang bening, menyipit saat dia sedang tertawa. Bulu matanya yang panjang jadi terlihat jelas dan membuat Adam gemas.
"Surga bagiku, adalah di mana pun kamu berada, Gracie!"
Desah Adam tak hendak melepaskan diri dari belahan jiwanya. Perempuan kecil berambut kelam itu menarik napas panjang tanda menyerah. Diraihnya kepala lelakinya ke dalam pelukan dadanya yang hangat, lama mereka saling berdiam diri seperti itu, dengan pikiran melantur masing-masing. Rasa damai pelan-pelan menyingkirkan segala rasa yang lain. Adam merasa dia sudah di surga.
Advertisement
Sekarang dia terkenang masa itu. Masa bahagianya bersama Gracie. Hari ini dia berada di pulau yang sama, hotel yang sama, kamar hotel yang sama, dengan 'heavenly bed' yang sama, hanya saja tanpa surganya karena surga kecilnya itu sudah pergi dalam tidur lelapnya, empat tahun yang lalu, hari ini.
Lalu ponselnya bergetar lagi. Ibarat seorang tentara yang sedang terlibat perang puputan yang pantang pulang sebelum menang, maka itu pula rupanya yang terjadi dengan ponselnya. Pantang berhenti sebelum Adam menerimanya.
Dia mendesah, berguling mendekati nakas lalu meraih ponselnya untuk melihat siapa yang sudah meneleponnya sepagi ini, tanpa kenal putus asa.
Orang rumah sudah tahu kebiasaan Adam. Tidak pernah tidur sebelum sholat di sepertiga malam, yang dilanjutkannya dengan menderas hapalan Alquran lalu sholat Subuh. Barulah dia tidur, sampai pukul 11 siang kadang, sholat Duha lalu lanjut Dhuhur dan makan siang. Adam baru benar-benar on setelah makan siang.
Orang-orang terdekatnya seharusnya sudah hapal kebiasaannya, dan baru akan menghubunginya sesudah pk. 12 siang jika ada perlu dengannya, kecuali jika ada sesuatu yang mendesak.
Adam mengernyikan keningnya setelah melihat siapa yang menelepon. Dik Ara. Telepon dari rumah.
"Wa alaikum salam, Dik,"
Ujarnya membalas sapaan adik perempuannya. Entah kenapa, begitu mendengar suara ceria adiknya, tirai kelabu yang sudah beberapa hari ini menyelubungi jadi tersingkap dari hatinya dan memberinya sedikit rasa riang.
Jarak usia Adam dan adik satu-satunya ini cukup jauh, 10 tahun. Omongan di sekitar rumahnya saat itu adalah orang tuanya memutuskan untuk memberinya adik karena khawatir dengan sifat egois dan manja dari putra tunggalnya saat itu.
Fatima Azzahra Utara lahir untuk menyeimbangkan dunia serba tunggal milik Adam Mahesa Utara di sepuluh tahun pertama hidupnya.
Adam adalah cucu pertama, dan satu-satunya cucu lelaki di keluarga besarnya. Adam juga anak pertama dan satu-satunya pewaris semua bisnis yang dimiliki ayahnya.
Adam melewatkan 10 tahun pertama hidupnya dalam didikan ketat ayahnya dengan cara home-schooling, termasuk juga belajar menghapal Al Quran, dan baru dimasukkan ke sekolah umum saat SMP.
Dunianya yang sempit membuatnya sedikit gagap ketika akhirnya harus belajar berinteraksi dengan teman-teman baru di sekolahnya. Mungkin mirip dengan anak tunggal lainnya di muka bumi ini, Adam mengalami banyak kesulitan ketika harus berinteraksi dan berbagi dengan teman-temannya.
Dia jadi pemarah, manja dan sedikit tidak peduli pada lingkungannya.
Itu sebabnya konon, kenapa Ara dilahirkan. Untuk menetralisir dunia serba tunggal milik Adam. Adam harus belajar berbagi perhatian dan kasih sayang orang tua, kakek nenek, tante dan Oomnya ketika Ara dilahirkan.
Meski awalnya agak cemburu, tapi Adam sangat memuja adiknya. Menikmati perhatian dan kemanjaan sang adik kepadanya dan diam-diam dia harus mengakui, adiknya adalah teman terbaiknya karena kedua orang tuanya adalah orang-orang yang selalu sibuk dan jarang bisa bersamanya.
Di samping itu sifat Ara yang ceria dan selalu penuh rencana membuat dunia Adam menjadi terasa lebih menantang dan menyenangkan. Tiba-tiba saja rasa humornya muncul.
"Mau bicara dengan siapa ya, Dik? Oh, Kak Adam? Kak Adamnya masih tidur. Mau tinggalkan pesan? Kenapa? Oh, ini dengan asistennya kak Adam. Hmh? Oh iya, nama saya Adam."
Lalu dia tertawa terkekeh-kekeh mendengar omelan adiknya yang nyaris terkecoh dengan suara resminya tadi.
"Kak, gimana Bali? Maksudku, are you enjoying yourself, there?" (Apakah kamu menikmati dirimu sendiri di sana?)
Tanyanya setelah puas memarahi kakaknya. Adam mendesah.
"Gimana Bali, ya? Ya Bali masih tetap Bali. Ngapain gangguin orang tidur?"
"Kok Bali tetap Bali. Seneng gak, di sana? Jelas enggaklah! Ara yakin! Gak ngajak-ngajak Ara, sih!"
Suara di sana terdengar ketus dan manja. Adam terkekeh lagi, lalu terdiam. Tidak berminat mengomentari adiknya.
"By the way anyway busway, Kak! Ibu ingin tahu jam berapa Kakak pulang, besok?"
Adam merasa sedikit geli mendengar gaya bicara adiknya, tapi setelah itu dia mengerutkan dahi dan berusaha mengingat-ingat.
Advertisement
"Besok? Siapa yang mau pulang besok?"
"Ih! Kak Adam, ini! Kan kita ada acara di pesantren minggu depan, Kak. Ayah bilang kakak harus hadir, kan? Athalia dan mama papa juga besok sudah sampai sini! Masa lupa sih, Kak? Ngapain aja sih, di Bali?!? Mabuk-mabukan yah, sampai lupa hari?" Omelnya dengan suara galak.
"Masha Alloh, Ara!!! Masa iya aku mabuk-mabukan ke klab gitu? Enggak laah.."
"Ya buktinya sampai lupa pulang gitu! Kalo gak ke klab kakak ke mana aja dong sampe dua minggu gak pulang? Bali tuh kecil, Kak. Seminggu dikelilingin juga habis, udah!"
Serunya masih dengan nada suara yang galak. Adam nyaris bisa membayangkan adik semata wayangnya ini sedang bertolak pinggang dengan mata melotot sambil meneleponnya. Mau tidak mau bayangan itu membuatnya tersenyum.
"Aku jalan-jalan aja, Dik. Ke Jimbaran lihat sunset sambil makan seafood. Ngadem di Ubud sambil ngobrol sama monyet. Terus ke Seminyak sambil menyusuri toko-toko cantiknya. Aku banyak beliin kamu oleh-oleh, nih... Mau gak?"
Meski Ara tak bisa membayangkan apa yang diobrolkan kakaknya dengan para monyet, tapi dia senang sekali mendengar kata 'oleh-oleh'. Walaupun dia curiga kakaknya akan membeli pakaian dengan ukuran mbak Grace seperti biasanya dan bukan ukurannya.
Tapi dia tak tega menyebutkan hal itu kepada kakaknya. Ara tahu persis hari apa ini dan kenapa kakaknya secara tiba-tiba memutuskan berangkat ke Bali. Mencoba menemukan Gracie di setiap sudut pulau Dewata, pulau kenangan mereka berdua.
Dalam hati Ara berdoa agar kali ini kakaknya tidak salah membelikan pakaian atau sepatu sesuai ukurannya dan bukan ukuran kakak iparnya.
"Belilah oleh-oleh buatku sebanyak-banyaknya, Kak. Aku pasti mau. Tapi kakak harus pulang, ini sudah dua minggu, Kak. Ayah mulai ingin tahu kenapa kak Adam sulit dihubungi? Dan lagi, apa kakak gak kangen sama Atalia? Besok dia datang ke sini, Kak. Pasti dia nanyain kakak deh, kan selama ini dia pikir kak Adam lagi ada urusan di Bogor!"
Atalia! Gadis kecilnya, adalah bukti dari keagungan Tuhan. Satu dari tujuh keajaiban dunia.
Sepanjang usia perkawinan mereka yang singkat mereka berdua memang tidak mengharapkan kehadiran seorang anak.
Mereka menikah di usia yang terlalu muda sehingga kehamilan, di usia Grace yang baru menginjak 17 tahun sangat tidak disarankan oleh siapa pun. Itu sebabnya Adam selalu memakai pengaman.
Tapi pada tahun ketiga pernikahan mereka, Gracie jatuh pingsan. Seluruh keluarganya menjadi sangat cemas. Apalagi Adam. Butuh waktu beberapa hari buat Adam untuk membujuk Gracie agar periksa ke dokter.
"Aku gak mau dirawat, Kak Adam. Aku takut!"
Rajuknya sambil menundukkan kepalanya. Adam berusaha menyabarkan dirinya.
"Kan belum tentu harus dirawat, Gracie. Kita cuma akan periksa saja. Bisa aja hanya masuk angin."
Adam melihat wajah istrinya bersinar. "Iya! Pasti karena masuk angin ya, Kak. Ya udah aku nanti minta tolong dikerokin mama aja."
Katanya riang. Adam menghela napas panjang.
"Tetap harus diperiksa untuk memastikan, Gracie. Please?"
Gracie-nya tentu saja menolak dengan riang. Baru setelah setiap pagi selama satu minggu dia tak bisa berhenti muntah dan terpaksa membangunkan suaminya yang baru saja tidur untuk membantunya di kamar mandi, Gracie merasa tidak enak hati.
Dan ternyata, kabar tak terduga itu yang mereka dapatkan setelah Gracie diperiksa.
Positif. 5 Minggu. Selama beberapa menit setelah dokter menyampaikan kabar gembira itu mereka berdua cuma bisa bengong.
"Hamil? Siapa yang hamil, dokter? Tapi kenapa?"
Adam malah bertanya dengan bodohnya. Dalam logikanya, kehamilan Gracie, secara medis, sangatlah tak mungkin. Bukankah selama ini mereka selalu berhati-hai? Gracie yang masih bengong di sebelahnya akhirnya menoleh kepadanya.
"Aku, Kak! Aku hamil!"
Bisiknya, dengan linangan air mata di pipinya. Adam tak henti mengucap syukur sambil memeluk Gracie-nya. Bertiga mereka tertawa dan bergembira. Meski dokter meninggalkan banyak pesan bagi Gracie, tapi mereka terlalu gembira untuk merasa keberatan apalagi cemas.
"Keagungan Tuhan, ini pasti keagungan Tuhan!"
Seru ayahnya, mengetahui bahwa sebetulnya mereka tidak sedang merencanakannya. Gracie baru akan merayakan ulang tahunnya yang ke- 20, dan Adam 24.
Sementara ibunya serta papa dan mamanya Grace memeluk dan menciumi mereka berdua dalam air mata haru.
Ara menari-nari kegirangan akan kemungkinan hadirnya anggota keluarga baru di rumah mereka.
Itu sebabnya Adam menamainya Atalia, yang berarti keagungan Tuhan. Atalia Grace Utara saat ini tinggal bersama orang tua Gracie di Bekasi sementara dia berlibur sebentar ke Bali dan besok mertuanya akan membawa putri kecilnya itu ke rumah orang tuanya di Bogor untuk mengikuti rangkaian perayaan berdirinya pesantren Bina Taqwa milik keluarga besar ibunya.
Perayaan bagi pesantren berarti rangkaian kegiatan yang selama sebulan penuh diselenggarakan oleh yayasan dengan melibatkan seluruh santri, para ustadz dan ustadzah dalam naungan yayasan dan dilaksanakan sekali dalam setahun.
Dimulai dengan kegiatan bakti sosial seperti sunatan masal atau donor darah, aneka lomba dengan mengundang sekolah-sekolah terdekat untuk berpartisipasi, parade marching band di siang harinya dan ditutup dengan malam budaya di mana para finalis lomba akan ditampilkan sepanjang malam dan mendapatkan hadiah tertinggi dari pihak yayasan sebagai puncak acaranya.
Dulu Adam selalu terlibat di dalam rangkaian perayaannya. Mulai dari melatih anak-anak yatim asuhan ayahnya untuk menarikan rampak bedug, menjadi peserta lomba adzan sampai akhirnya menjadi juri lomba adzan, mengiringi pembacaan shalawat dengan berbagai alat tabuh kesayangannya, sampai memimpin marching band untuk berparade keliling desa sambil membawakan lagu-lagu popular disamping juga lagu-lagu Islami.
Dulu waktu dia masih SMP kemudian SMA. 6 tahun tersibuk dan terhebat dalam hidupnya. 6 tahun yang dia lewatkan bersama sahabat-sahabatnya di pesantren. 6 tahun pasang surut usahanya untuk mendapatkan simpati dari Amalia Grace Permadi, putri tunggal sahabat sekaligus partner bisnis ayahnya.
Sudah 4 tahun Grace pergi. Sudah 4 tahun pula Adam melewatkan rangkaian kegiatan ulang tahun pesantren asuhan keluarga besar ibunya.
Dia dan Gracie biasa membantu keluarganya menyukseskan acara itu. Adam akan giat melatih anak-anak yatim untuk menyanyikan lagu-lagu religi. Lalu dia dan sahabatnya Akbar akan bermain perkusi, diiringi sahabat-sahabat mereka dalam group Kwadran A yang sangat terkenal di desanya. Seringnya juga ada Gracie yang memainkan electone-nya sambil sesekali tersenyum kagum padanya di panggung.
Begitu banyak kenangannya bersama Gracie dalam tiap acara peringatan itu. Gracie dan keluarganya selalu hadir sebagai salah satu tamu undangan untuk merayakannya bersama.
Maka berpartisipasi dalam perayaan ulang tahun pesantrennya setelah Gracie pergi adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukannya tanpa terkenang pada belahan jiwanya.
Tahun lalu akhirnya dia bersedia hadir di puncak acara, tapi hanya sebagai tamu dan itu pun tidak disaksikannya sampai selesai.
Rasanya terlalu pedih. Meski dia didampingi kedua orang tua Gracie dan keluarga besarnya, tapi kenangan tahun-tahun bahagianya bersama Gracie dalam setiap acara di pesantren membuat hatinya suram. Adam lebih baik pergi jauh.
"Memangnya ada acara apa, minggu depan, Ara?"
Adam bukannya tidak tahu. Dia hanya sedang tidak bersemangat terhadap apa pun. Dia mendengar adiknya yang cantik mengomel lagi. Lalu karena tidak ada tanggapan darinya, akhirnya mereka sama-sama terdiam.
'Kakak gak kasihan sama Athalia?"
tanya Ara setelah beberapa detik yang sepi. Adam mendesah pelan. Itu senjata andalan adiknya tentu saja, untuk membuatnya menuruti kemauannya.
Ara tahu Adam tidak mungkin tega membiarkan Athalia mencarinya. Adam menghela napas panjang. Berat sekali ketika dia akhirnya bicara.
"Baiklah. Aku akan cari tiket untuk pulang. Tapi aku gak janji, ya!"
Dia menghela napas panjang lagi ketika mendengar suara
Yes! Yes! Yes!' Yang riang dari adiknya di ujung sana.
Adam tak tahu apakah dia akan bertahan lebih lama dalam perayaan itu dibandingkan tahun lalu. Atau apakah dia sanggup tidur di kamar penuh kenangan mereka berdua. Kamar tempat Athalia dilahirkan. Kamar tempat mereka memadu kasih. Kamar tempat Gracie-nya tertidur untuk selamanya.
Dia membanting tubuhnya kembali ke ranjang tapi matanya sudah tidak mengantuk lagi. Maka diambilnya lagi ponselnya lalu jarinya sibuk mencari-cari. Beberapa tombol ditekan dan tak lama menguarlah suara tabuhan keras perkusi yang dipadu dengan bas, elekton dan tambourine.
Adam memejamkan matanya kembali dan membiarkan kegelapan mimpinya mengambil alih pikirannya.
Mimpi tentang panggung gemerlap menjelang tengah malam. Dia dan Akbar sibuk menabuh deretan gendang dan bongo di hadapan mereka dengan tawa yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Gracie pada elekton, Rafi pada bas, Bara pada drum, diiringi sorak sorai penonton setia mereka.
Teriakan dan tawa, irama perkusi yang keras menghentak, sepanjang malam, seolah tak ada lagi hari esok.
Advertisement
- In Serial49 Chapters
Because of Karson
Dakota is just like every other 17 year old high school senior. Or that's what everyone thinks. Everyone sees Dakota as this funny, sarcastic, and caring girl. What people don't see is how much she is truly suffering inside. People don't know that the smile she always wears is completely fake. They don't know what's really going on at home. They don't see the bruises she has to cover up every morning. They don't see her having to step up to take care of her two younger siblings. She puts on a fake smile as soon as she walks through the school doors and slowly builds her walls up higher as each day goes on. She thinks no one will ever see past her facade...that is, until three new bad boys come strolling into town taking an automatic interest in Dakota. And one certain bad boy can read her like an open book. Will Dakota eventually let these three bad boys in? Or will she keep everything in until she finally reaches her breaking point?Warning: explicit language, violence, sexual assault, abuse, and sexual content ----------------------------Highest Rankings: #1 Past#1 Underground #1 Abuse#1 Broken#1 Fighter #2 Boxer#1 hurt#2 sad
8 195 - In Serial64 Chapters
Mr. Executive
Alexander James is at the top of the food chain with his multi billion dollar company. Just the sound of his name makes men's blood boil in jealousy and women to go to long lengths just to get a second look back for his other worldly good looks. He's known to be a player and getting every woman he wants with just a snap of his fingers.Nora Davis is the awkwardly clumsy girl that most people wouldn't even give a second glance at. So when Nora who's been looking hard to find a good job after being fired unjustly from her previous one gets desperate and applies for a job at Alex & Co Enterprises knowing she won't get in but life is full of surprises and Nora receives exactly that in the shape of a smirking and adonis looking Alexander James.[COMPLETED BUT NEEDS A LOT OF EDITING SO BEAR WITH ME PLEASE]
8 205 - In Serial41 Chapters
Only mine
Jace Smith, a 19 year old heir of the Italian mafia, or mostly known as "The Devil", he doesn't have a soft spot for anyone, but with an arranged marriage with a girl he hates that can change.Hazel Williams, an 18 year old daughter of an abusive mother and a father who was the leader of the American mafia before he died, Hazel still has the choice to accept the offer to become the heir. She knows how to fight too. With an arranged marriage with the guy she hates everything turns upside down.
8 93 - In Serial41 Chapters
Vaughn
Her eyes widen as she sucks in a deep breath, feeling the full length of me."Do you believe me now kitten?" I whisper. "It pains me as well."I continue to rub my dick with both our hands. "You make me so damn fucking hard."She brings her face closer, confidently massaging my erection on her own."Show me." She whispers. •••••••••••VAUGHN - MissBelleStories••••••••••••Hold onto your panties ladies, the Vaughn brothers are coming to town.**Please Note: The original story is DOUBLE TEMPTATION which can be found on Episode Interactive. It is played in Alexis POV. I have also published this mature version under VAUGHN on Episode Interactive. The major difference is that this version is narrated through Benjamin and Bradley. This version contains adult themes, strong sex scenes, strong language and is recommended for 18+.****PLEASE READ: This story does not include any supernatural beings. This is not a vampire or werewolf story and it also does not include any incest scenes. The VAUGHN twins do not share nor do they have sex with eachother.**
8 146 - In Serial55 Chapters
Marriage Merger
Ximena Dos Ramos is the heiress to the Dos Ramos Cooperation and it is the sole preoccupation of her entire existence. With her father constantly breathing down her neck, how could she possibly hope to be in a normal relationship?One mysterious man that she keeps on bumping to manages to effortlessly pique her interest and little does she know they're about to have both their fates inextricably intertwined...And not in a good way! It could either be the beginning of something beautiful, or a means to a very terrible end as past mistakes resurface and awful secrets threaten to haunt them all. Greed and ambition breed catastrophe, but can love manage to change the circumstances of a planned marriage?Cover attribution designed by Freepic.diller - Freepik.com
8 149 - In Serial42 Chapters
Saints: The Supernatural School - Year 1 (bxb)
Thomas is a teen that got invited to go to a private school for the supernatural. Being 16 and a tribrid it's hard. Also whenever you gay as well.Saints The Supernatural School is for 16 years old to 21-year-old because those are the hardest years for a supernatural teen. From Dragons, Mermaids to Werewolfs.But Thomas carries a different gene then the rest of the family members because his mom is a dragon and his dad is a werewolf. Also, his grandfather was a wizard. He inherits all three of there genes so It make him a tribrid.How will Thomas adjust to his new school, new friends, and a new passion for some friends? Come into my world that I have made with supernatural creatures. ~~~Complete Witchcraft - #1Dragon - #1Gay kiss - #1Merman - #2Friends Forever - #4Bad guy - #4Merfolk - #13Fairies - #14Witch - #21Supernatural - #34Bxblove - #115Lgbt - #448School - #543
8 196

