《TGS 1st - Silly Marriage》Chapter 5a - The Wedding (1)
Advertisement
Hai!!! Saya muncul lagi. Terima kasih atas saran, kritik dan komennya ya. Heheheh. Jangan lupa kasih kritik dan saran untuk chapter ini. Makasih.
xoxo - shamlia
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Chapter 5 - The wedding
Naya's Pov
Sepertinya memang aku harus berhenti berusaha menggagalkan rencana pernikahanku dan Alex. Tampaknya aku harus pasrah saja dengan semua takdirku. Tiga hari lagi statusku akan berubah menjadi Mrs. Davrio. Dan mau hujan, badai atau kemarau, pernikahan akan tetap berlangsung. Mama Alex yang sebentar lagi jadi mama mertuaku yang nampak sangat excited dengan pernikahan ini. Beliau benar-benar memberikan banyak bantuan kepada WO sehingga walaupun sederhana, pernikahan ini memiliki konsep yang apik. Pernikahanku dan Alex yang bertema garden party akan diselenggarakan di halaman villa milik keluarga Davrio yang berlokasi di puncak.
Yah...menghindari pemberitaan media memang paling tepat untuk saat-saat ini. Lucky for us, karena pernikahan diselenggarakan secara tertutup dan di lokasi yang jauh dari keramaian ibu kota.
"Nay??? Lo nggak apa kan? Ngelamun aja lo!"tegur Kikan saat aku berada di restorannya siang ini untuk mengurus menu yang akan disajikan di pernikahanku.
Melamun? Akhir-akhir ini aku memang cukup sering melamun. Apa yang kulamunkan? Tentu saja this wedding matters!
"Lo lagi nggak sehat, Nay?" Kikan menatapku khawatir. Aku menggeleng pelan.
"Gue agak kecapekan aja, Kan. This mess makes me tired,"ungkapku.
"Dari awal gue kan udah minta lo supaya nggak ngelakuin perjanjian ini, Nay. Masih ada tiga hari, Nay. Lo bisa cancel semuanya,"kata Kikan prihatin.
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Andai saja semuanya bisa dibatalkan semudah kata-kata sahabatku itu. "Nggak bisa, Kan. Gue masih bisa kok nanggung semua ini. Demi masa depan perusahaan Papa. Lagian nggak semua tentang pesta ini adalah hal yang buruk. Gue jamin makanan di pernikahan gue pasti enak. Kan elo yang ngurus menu-menunya!"
Kikan akhirnua tersenyum tipis. "Kalo untuk masalah itu, lo nggak usah khawatir. Semuanya beres kok! Dan gue jamin, tamu-tamu bakal ketagihan,"kata Kikan semangat.
"Termasuk Enzo?"tanyaku.
Kulihat rona merah muncul di pipi Kikan. Bukannya mereka hanya sexualy involve, bukan romantically involve?
"Lo mulai suka ya sama Enzo?"tebakku.
"Nggak lah, Nay! Sejak awal kan hubungan gue sama dia bukan tentang cinta. Hanya kebutuhan fisik!"elak Kikan.
"Lo udah ngelakuin sama dia?"tanyaku menyelidik. Setauku Kikan hanya pernah satu kali berhubungan intim. Dan itu dengan mantan pacarnya beberapa tahun yang lalu.
"Udah,"jawab Kikan singkat.
Aku menatapnya curiga. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Kikan. Tapi aku tak tau apa.
"Jangan pernah melibatkan hati kalau berurusan dengan Alex dan teman-temannya, Kan. Gue nggak mau lo akhirnya sakit hati karena Enzo,"kataku.
"Lalu, hubungan lo dan Alex itu namanya apa? Apa enggak melibatkan hati?"tanya Kikan membuatku mengkerutkan kening.
"Oh kalau masalah itu sih tenang aja, Kan. Diantara gue dan Alex itu cuma ada bisnis. Mungkin bisa dibilang kami ada masing-masing kepentingan disini. Dan lebih banyak rugi di gue!"keluhku.
Kikan tertawa. "Watch out, Naraya! Lo tau kan dalam bisnis pun ada kemungkinan terlibat masalah hati,"ujar sahabatku itu.
Aku mencebikkan bibir. Aku kan sudah bertekad dari awal untuk tidak melibatkan hati atau cinta dalam pernikahan bisnisku dan alex. Pernikahan yang diawali dengan penandatanganan sejumlah pasal-pasal yang tercantum dalam selembar kertas putih.
"Hei Nay! Sepertinya ada seseorang yang terus menerus ngelihatin lo deh,"bisik Kikan menatap mataku tajam. Kemudian dia meremas tanganku agar aku tak langsung berbalik menatap orang yang dimaksud Kikan.
"Mana?"
"Arah jam tiga,"jawab Kikan masih dalam bisikan.
Aku jadi berdebat dalam bisikan dan desisan kecil dengan Kikan. Mauku aku langsung mendatangi orang yang itu dan menanyakan apa maksudnya sampai harus mengintai seperti itu. Tapi, Kikan ingin membiarkannya saja dan segera menyingkir mencari tempat yang lebih private di restaurannya. Dia takut kalau orang itu memiliki maksud tidak baik.
Advertisement
"Oo... he's getting closer. Gue harap ini bukan kode disaster 911 kita ya!"kata Kikan.
Aku terkekeh pelan mendengar kode itu. Disaster 911 adalah kode yang aku, Kikan dan Eve pakai untuk keadaan buruk atau membahayakan.
"Hai, ladies. Kenalin, gue Raka." Seorang lelaki menyodorkan tangannya padaku. Aku tak lantas menyambut tangannya. Mataku justru menatap lelaki itu dari atas ke bawah.
Kemeja formal warna biru muda, celana kain warna hitam, sepatu warna senada dengan celana yang dipakainya, dan sebuah jam tangan cartier. Aku menatapnya menilai.
"Ehem!"Kikan menyadarkanku lewat dehemannya.
Aku menjabat tangan lelaki bernama Raka itu. "Naraya,"kataku.
Kemudian lekaki itu juga bersalaman dengan Kikan.
"Boleh gue gabung dengan kalian?"tanyanya.
Kikan langsung mempersilahkan Raka duduk di satu kursi di antaraku dan Kikan.
"Well, ada urusan apa?"tanyaku.
"Nothing. Tapi sayang sekali kalau aku melewatkan kesempatan untuk menyapa wanita cantik seperti kalian kan?"
Picisan!
"Maaf gue nggak suka lelaki penyebar gombalan. Dan Kikan juga sudah punya pacar? Lo tau Lorenzo Baratha si pilot seksi itu? Dia pacar Kikan. Dan sebentar lagi gue juga akan menikah dengan lelaki paling tidak berperikemanusiaan, namanya Alex Davrio!"cetusku tanpa mencoba mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutku.
Kikan melotot menatapku.
"Yeah, I heard about your wedding. Tapi, gue nggak tau kalau sahabat cantik lo ini pacarnya Lorenzo,"kata Raka.
"Yah...mereka baru aja jadian kok,"jawabku asal tanpa mempedulikan injakan kaki Kikan pada kakiku. Aku meringis menahan sakit.
"Anyway, congratulation ya, Naraya. Gue harap kita bisa semakin akrab. Mungkin kita bisa kerjasama bisnis lain kali,"ucap Raka.
"Maksud lo??"tanyaku.
Raka terkekeh. "Yah...gue berharap kita bisa berkerjasama kapan-kapan. Yuk, gue cabut dulu, Nay, Kan,"kata Raka berpamitan.
"Menurut lo dia aneh nggak sih?"tanyaku pada Kikan.
"Emang kenapa?"
"Yah nggak tau sih. Tapi kenapa dia jadi ngajakin kita kenalan?"
"Yah karena lo cantik mungkin?"
Aku mencibir mendengar jawaban Kikan yang benar-benar tak masuk akal itu. Aku masih merasa aneh dengan Raka. Tapi entah apa alasan dibalik keanehan yang kurasakan.
###
Aku berjalan beriringan dengan Kikan di jalan setapak kecil di antara makam-makam yang berjejer rapi dalam barisan. Aku sudah menatap lurus pada makam papa dan mama walaupun masih ada jarak lima belas meter diantara kami. Aku bisa merasakan hatiku menghangat ketika aku semakin dekat dengan tempat peristirahatan mereka.
Aku berhenti dan berdiri di antara kedua nisan orang tuaku. Perlahan aku melangkah mendekati nisan Papa dan membersihkan nisan yang mulai nampak kusam dengan air yang kubawa. Sementara Kikan membantuku membersihkan nisan mama.
Selesai membersihkan, aku menabur bunga dan menyiram air di dua kuburan itu. Kemudian aku duduk di pinggiran. Menatap kedua nisan itu dengan penuh rasa sayang.
"Hai Ma, Pa. Tiga hari lagi Naya akan menikah,"kataku pelan. Kurasa Papa Mamaku akan sangat tidak setuju dengan pernikahan ini jika mereka berdua masih ada di dunia. Aku selalu ingat kata-kata mereka bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral yang tidak bisa didasari oleh keuntungan. Tapi, kali ini aku melanggar pesan mereka. Aku melakukan pernikahan ini untuk menyelamatkan perusahaan Papa. Kuharap mereka berdua bisa mengerti situasiku.
"Maaf ya, Ma, Pa, Naya nggak bisa menjaga perusahaan Papa. Salah Naya karena sejak dulu Naya tidak mau belajar dan hanya bisa merengek manja."
Sial! Airmataku mulai menetes. Biasanya aku tidak akan menangis di depan makam kedua orang tuaku. Aku tidak ingin menunjukkan kesedihanku pada mereka. Tapi kali ini sepertinya kelenjar airmataku sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Aku tertunduk di depan kedua makam orang tuaku. Aku malu sekali sebenarnya untuk menunjukkan diriku di depan mereka.
"Doakan Naya ya, Ma, Pa. Naya harap Alex bukan orang jahat yang hanya bisa menyakiti Naya,"bisikku lirih.
Advertisement
Kemudian aku larut dalam isakan tangisku. Aku masih enggan beranjak dan menghapus airmataku. Sampai akhirnya Kikan merangkul bahuku dan mengajakku meninggalkan tempat itu.
###
Akhirnya hari malapetaka itu tiba. Hari ini aku dan Alex menyelenggarakan pernikahan kami di salah satu villa di puncak. Tadi pagi sudah berlangsung upacara keagamaan yang membuatku merasa bersalah pada Tuhan karena aku mengucapkan janji suci bukan untuk cinta.
Dan sekarang ini aku dan Alex tengah bersiap-siap untuk resepsi pernikahan kami. Sebenarnya, sudah sejak tadi aku ingin sekali melepas kebaya ketat yang membalut tubuhku ini. Ribet! Kebaya warna turqoise ini sebenarnya indah, tapi asal tau saja ya, aku sampai harus diet hebat untuk bisa masuk ke kebaya ini. Dan lagi-lagi Alex berhasil membuatku untuk diet, tentunya diiringi dengan ancamannya yang sepertinya tidak main-main itu.
"Breath... You'll be fine,"kata Alex yang berdiri di sebelahku. Saat ini kami tengah bersiap-siap membuka pintu di depan kami yang langsung terhubung dengan kebun yang jadi tempat resepsi kami.
Alex menyodorkan lengannya padaku. Aku menatapnya sebal. Tidak ada pilihan lain selain menggandeng mesra tangannya. Inhale...exhale Naraya and you'll be fine.
Perlahan kami bersama membuka pintu dan kemudian terdengar tepukan tangan dan sorak sorai dari para tamu yang telah menunggu kami. Aku terpaksa tersenyum lebar yang seolah-olah menunjukkan kebahagiaanku. And, what's the best from garden party? You don't need to just sit in chair. Jadi aku nggak perlu terus terusan pasang senyum lebar.
But what's the worst from garden party? You need to blend with guests. Dan kain jarik ketat ini membuatku sulit melangkah.
"Jalan yang pelan, Lex! Gue sulit jalan!"bisikku ketika kami untuk sekian kalinya harus menghampiri tamu penting Alex. Ingatkan aku bahwa aku masih harus menyapa relasi bisnisku dan jajaran investor di perusahaanku. Membayangkannya saja sudah membuatku ingin pingsan.
"Bisa bahasanya diganti yang lebih halus? Lebih baik ditambah sapaan mesra juga,"bisik Alex di telingaku. Kalau saja beberapa tamu tidak sedang menatap kami kagum, mungkin aku akan langsung menginjak kakinya saat itu juga.
Dan setelah bergelut dengan kebaya ribet dan high heels killer ini, akhirnya kami selesai menyapa tamu-tamu penting. Untung ini private party, jadi undangannya terbatas.
"Wonderful acting!"puji Victor yang sudah berdiri di dekat kami.
"Yeah, seharusnya gue dapet oscar untuk akting gue yang benar-benar kelihatan pure ini,"komentarku. "and excuse me, kalau boleh gue mau menghampiri sahabat-sahabat gue. You two just enjoy the chat,"lanjutku sembari melepaskan genggaman tangan Alex dan menghampiri kedua sahabatku yang nampak berbincang di dekat meja minuman dengan Enzo dan Kevin.
"Wow! You look so georgeous, Nay!"puji Eve.
"So, kenapa lo berdua nggak gabung sama Alex dan Victor? Jadi gue bisa have a little time dengan sahabat gue?"usirku pada Enzo dan Kevin.
Enzo tertawa pelan. Tawanya terdengar begitu elegan. Memang, aku akui bahwa diantara keempat sahabat itu yang paling terlihat elegan adalah Enzo. Alex? Dari tampangnya saja sudah menunjukkan arogansi dan sok kuasa. Victor? Bulu-bulu halus yang tumbuh di bagian bawah wajahnya membuatku geli setiap melihatnya. Tapi, kata Eve justru itu yang membuat wanita terpukau dengan playboy kelas kakap satu itu. Kevin? Sebenarnya dia cukup oke kalau saja dia tidak lebay jika sedang pacaran dengan Eve. Kalau kudengar cerita dari Eve, Kevin terlalu posesif dan berlebihan.
"Hati-hati Nay dengan mulut lo yang tajam. Bisa-bisa nanti malam Alex harus memborgol lo biar lancar,"kata Kevin sebelum akhirnya dia dan Enzo menyingkir.
"Dasar gila!"umpatku.
"Hei! He's my boyfriend!"protes Eve tak terima.
"Diem deh Eve! Gue lagi nggak ingin membahas lo dan Kevin. Yang penting nanti malam lo berdua harus tolongin gue! Ajak gue ke tempat lain kek biar gue bisa menghindari Alex!"kataku memaksa.
"Sorry, Nay. Gue kayaknya nggak bisa deh. Nanti malam Kevin ngajakin gue ke satu tempat romantis. Mumpung kita lagi di puncak. Makan malam romantis gitu deh,"ucap Eve.
Aku melotot kepada Evelyn. Bisa-bisanya dia meninggalkanku sendirian dan asik dengan rencananya dan Kevin.
"Lo bisa bantu gue , Kan?"tanyaku beralih pada Kikan penuh harap.
Kikan meringis memamerkan deretan gigi putihnya. "Sorry, Nay. Enzo udah keburu bikin janji sama gue,"jawab Kikan.
What??? Bisa-bisanya kedua sahabatku ini meninggalkanku di dalam kandang singa bernama Alex.
"Ya ampun! Jahat banget sih lo berdua. Kalian tega nyerahin gue sama Alex???"
"Duh, jangan norak deh, Nay! Namanya orang udah nikah ya lanjutannya kawin alias manufacturing baby!"cetus Eve membuatku semakin cemberut.
"Gue kan masih betah perawan, Ev,"rengekku.
"Mau jadi perawan tua lo??? Udah bagus ada cowok hawt yang mau sama elo!"hardik Eve.
"Ih! Emang gue segitu nggak lakunya?"balasku kesal.
"Udah deh kalian berdua. Jangan malu-maluin!"hardik Kikan.
Dasar Evelyn! Dia sebenarnya temanku bukan sih? Rela banget dia mengorbankanku pada Alex.
"Hai, we meet again! Dan kali ini bertambah satu lagi wanita cantik,"sapa seseorang membuatku menoleh. Raka.
"Raka? Lo diundang juga?"tanyaku kaget. Perasaan aku tidak mencantumkan nama Raka dalam daftar undangan pernikahan. Mungkin Alex yang melakukannya.
Raka tidak menjawab pertanyaanku. "Well, pesta yang meriah, Nay. Tapi cukup sepi untuk sebuah pernikahan yang melibatkan pemilik dua perusahaan besar,"komentar Raka sambil mengedarkan pandangan ke pesta pernikahanku.
"Yeah...gue dan Alex cuma ngundang sedikit orang. Inti dari pernikahan kan bukan pestanya,"jawabku sekenanya.
"Yah, tapi dengan begini justru kalian berdua bisa tenang tanpa terganggu kehadiran media,"kata Raka.
"Lo sendirian, Ka?"tanya Kikan.
"Yah...gue terpaksa datang sendirian karena sepertinya stok wanita cantik di Jakarta sudah habis. Lo jadi pacarnay Enzo, Naya menikah dengan Alex, dan...,"Raka berbalik menatap Eve. "Kamu pasti Evelyn, model papan atas yang menjadi kekasih Kevin."
"Sayang sekali ya lo datang sendirian, Ka."
Aku terkejut dengan kehadiran Enzo tiba-tiba di sebelah Kikan dan langsung memeluk pinggang Kikan dengan posesif.
"Itu mungkin karena lo bajingan, Ka. Sehingga nggak ada satu pun wanita yang mau sama lo!"kata Alex yang tau-tau sudah berdiri di sampingku dan merangkulku erat-erat.
Ada apa dengan mereka? Setelah kedatangan Enzo dan Alex tiba-tiba saja atmosfer di antara kami berubah menjadi tegang. Aku bisa merasakan cengkeraman tangan Alex yang menguat di pinggangku.
"Kamu yang mengundang Raka, sayang?"tanya Alex membuatku tergagap dengan panggilan barunya untukku.
"Bukan. Aku pikir kamu,"jawabku.
"Relax. I got one!"kata Raka sambil menunjukkan undangan pernikahan yang terbatas itu.
"Cara kotor apa lagi yang lo pakai?"tanya Alex sinis.
"Well, sepertinya pertanyaan lo itu tanda buat gue untuk menyingkir. Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian berdua,"ucap Raka sebelum akhirnya pergi dari hadapan kami.
"Gue harap, lo jauh-jauh dari cowok itu!"desis Alex di telingaku.
Aku mengkerutkan keningku tak paham dengan maksud perkataannya. "Kenapa?"tanyaku.
"Pokoknya kalo gue bilang lo harus jauhin dia, itu berarti lo harus jauhin dia, Nay!"kali ini Alex sudah memerintahku dengan penuh penekanan.
Aku menatapnya tak mengerti. Meskipun masih penasaran dengan alasan dibalik perintah Alex, akhirnya aku hanya mengangguk mengiyakan perintah suami baruku itu.
###
Berkali-kali aku melirik jam dinding yang ada di kamar. Suara air dari kamar mandi semakin membuatku gugup dan takut jika sewaktu waktu Alex akan keluar dari kamar mandi. Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Ugh! Aku benar-benar belum siap menghadapi Alex malam ini.
"Lho sanggulnya udah dilepas, Nay?"tanya Alex membuatku kaget. Aku terkesiap saat melihatnya bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxershort. Badannya memang tidak sesempurna bintang L-men. Tapi cukup mengundang para wanita untuk mencari kenyamanan dalam dada bidang itu.
Hei! Hei! Aku mikir apaan sih!
"Nggak mandi?"tanya Alex lagi ketika aku masih saja terdiam.
"Oh-oh iya, gue mandi dulu!"cetusku segera berjalan ke kamar mandi.
"Nay! Bahasanya tolong diperhalus ya! Tolong lo-gue diganti aku-kamu karena kita udah menikah. Ngerti?"tanya Alex mengingatkanku.
Aku ingin muntah rasanya ketika lagi-lagi Alex menyuruhku menggunakan bahasa halus jika berbicara dengannya. Tapi aku hanya mengiyakan sekenaku dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah membersihkan badanku, aku justru malah menatap diriku di cermin wastafel lama-lama. Belum siap untuk mengumpankan diriku ke buaya yang ada di luar. Aku terdiam cukup lama, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Kikan. Mungkin dia masih bisa membantuku kalau aku memaksanya.
"Kikan! Please bantu gue, Kan!"mohonku begitu suara nada sambung menghilang.
"Hhhh... Maafhh Nayh...guehhh...,"suara Kikan terdengar aneh. Apa dia dalam bahaya? Kok suaranya kayak ngos-ngosan begitu?
"Hei Kikan! Kikan! Lo nggak apa-apa kan?"tanyaku panik.
"Ngggahh apah-apah kokh! Aaarrrggghhh!"teriakan Kikan terdengar mengerikan di telingaku.
"Kikan! Kikan! Jawab gue sekarang lo dimana???"tanyaku semakin tak sabar.
"Enzohh! Pelan-pelanh!"
Hahh?? Enzo?
Kalau memang ada Enzo , pasti cowok itu akan menolong Kikan kan kalau sahabatnya itu dalam bahaya? Kok malah disuruh pelan-pelan?
"Kikan? Ada Enzo disitu? Lo emang lagi ngapain?"tanyaku ragu-ragu.
Bukannya menjawab pertanyaanku, Kikan justru lagi-lagi mengerang dan nenyebutkan nama Enzo.
"Nay! Besok pagi aja deh lo telepon lagi! Ganggu aja lo!"kali ini suara Enzo yang terdengar. Sepertinya handphone Kikan direbut oleh Enzo dan secara sepihak cowok itu juga memutuskan sambungan.
Aku menatap jengkel ponselku. Aku tidak mencoba menelepon Eve karena aku tau itu akan percuma! Kalau sudah ada Kevin, Eve akan melupakan bahwa di dunia ini urusannya tidak hanya seputar Kevin!
Tuhan... tolong aku, please.
Akhirnya aku hanya bisa mengambil nafas panjang dan meraih handle pintu. Aku benar-benar hanya bisa memohon agar buaya yang menungguku di luar sana sudah tidur. Yah...mudah-mudahan saja.
####
Advertisement
- In Serial53 Chapters
Mahnu, An Immortal's Journey (Complete)
Even though the God, Mahnu, helped end the war between God’s and humans, the land of Kralaide still has shadows.Trouble starts to rise over one of the towns and her journey changes from loneliness to near complete devastation.A tablet, a box and a chest is part of her journey but new emotions can still be felt even though she has been around a very long time.Is it a hero’s fate that she can hear thoughts and feel the sufferings of the people in Kralaide?…Or a cruel destiny?
8 116 - In Serial10 Chapters
The Girl's Secret. Earl Grey x reader
An 'X reader' already! Heehee. I haven't found a lot of these, at least... not with this guy! Anyway~ Enjoy!
8 91 - In Serial90 Chapters
Arrows & Anchors (SAMPLE)
American journalist Brooke Fray is still rebuilding her confidence and her life, six months after a nasty break-up. Lately, Brooke has known nothing but apathy. But things change when she has a chance encounter with lead guitarist Julian Miles of popular rock band Ascend the Stars. Hearts flutter, sparks fly, and an intense relationship develops - one that they hope to make last a lifetime. But the couple is being brutally tested by the thousands of miles that separate them, their own deeply-rooted insecurities, a manipulative ex-partner, and a jealous bandmate who is secretly coordinating Julian's complete destruction.Word Count: 200,000+
8 200 - In Serial81 Chapters
Memoirs of A Healer/Clinical Social Worker: Autobiography of Bruce Whealton
A loving spouse. A healer. How does this person cope with evil villains willing to destroy everything? They convicted the victim... now how does the victim goes on with life as a healer?As the book opens, I was in a psychiatric hospital following a suicide attempt in December 2019. What starts as a simple conversation with another patient changed my life. Most of the rest of the book tells the reader how I got to this point. I experienced profound injustice between 2004 and 2006. By opening with a story about suicide, I want the reader to understand that the injustice was not just something that happened long ago.This book is an account of all the accomplishments and successes that I had in overcoming tremendous odds and challenges. Growing up, I was paralyzed by shyness and lacked social skills, and so the idea of becoming a psychotherapist never occurred to me when I went off to college. I learned that I could overcome those limitations. I wanted to bring that hope and healing to others. Activities like that make life meaningful and bring me joy. The reasons why I was suicidal in 2019 were set in motion in 2000 when a meteor would come crashing down upon the life that I had built leaving me powerless to do anything other than watching everything burn to ashes - the home that I had, the life I had known, the love I had, my career, everything would disappear almost as if it never existed. In that one the year 2000, I could not imagine things could get any worse. But the nightmare would continue for the next few years... culminating in a suicide attempt in 2019. Now, I am connecting with others, building relationships, and finding a reason to live again. I am writing my own story of my life. I will fight against the injustice of the past and offer my gifts to the world. I have so much to offer. I have quite a story to tell. I hope you will help me to move on with my life.
8 138 - In Serial10 Chapters
All About Him
(COMPLETE VER.)A heartbreak is an inferno eating you alive, and one of the many ways i deal with the excruciating pain is thru the play of words where i can construct trauma into unimaginable things, and this is one of my creations that wouldn't have been possible with him, so thanks to him, because it is both a blessing and curse for leaving me. -SarahFor anyone who's interested in a poetry collection, this is the book for you:) ©All Rights Reserved
8 222 - In Serial49 Chapters
Seeing the light at the end of the tunnel
[EDITING]For him, the whole world was on fire except her.And he didn't let a single flame touch her. For her, she herself was on fire. And she protected the whole world from her flames. Especially him.+++Living with the demons of her past who are no one but her own self and her parents who bring out a constant reminder as to why she deserves such demons. Rhea Sangster moves into a new town along with her alcoholic mother, splitting away from the few remnants of her once happy and wholesome family. With a past as dark as hers and a promise, she made to never accept any sort of happiness as to which she thought she deserved but was proved wrong when he comes crashing back in...Being diagnosed with a disorder that could ruin one's life by uncontrollable anger, Damien Jones strives each day with the hope of not blacking out and causing harm to the few people he actually cares about. From being in rehab for less than a year and having to retake his senior year as a high schooler while living with his stepbrother, stepfather and mother in the opulent side of town which he merely despised. From spending his time racing and skating, keeping his mind away from drugs he finds the biggest drug of his life. Everything spins when he meets the eyes of the girl who once was able to cure him...
8 151

