《TGS 1st - Silly Marriage》Chapter 4b - The Agreement (2)
Advertisement
Hai!!! Aku menepati janji nih untukupdate pada hari minggu hehe. makasih yang sudah memberikan komen , kritik, vote dan saran. Itu berarti banget buat aku. Hehehhe.
Just share aja yah...ada seorang temen yang tanya sama aku, dari cerita-cerita yang aku tulis mana sih cerita yang paling aku suka???
jawabannya..... T-rex Love!!
hehehe. genre chicklit yang manis. Itu ceritapanjang yang pertama kali berhasil aku selesaikan. sebelum itu aku hanay nulis cerita-cerita pendek sekitar 30 halaman word. Paling banter cuma 50 halaman. T-rex Love aku tulis waktu SMA kelas X dan itu aku niat banget nulisnya. Semangat banget deh nulis itu tiap malem. Hehehehe.
oke sorry ya kalau aku cerita geje. sekarang selamat membaca chapter ini. hehehe
xoxo- shamlia
----------------------------------------------------------------------------------------------
Naya's Pov
Euh... kenapa mr. Mesum ini harus ikut aku menjemput Erik di airport? Aku kan nggak mungkin tiba-tiba memperkenalkan cowok ini pada Erik sebagai calon suamiku. Nggak ada angin, nggak ada hujan tiba-tiba aku harus memperkenalkan seorang stranger sebagai bakal suamiku.
"Lo nggak usah ikutan deh, Lex. Gue bisa sendiri kok. Gue bisa pulang naik taksi nanti sama adek gue,"ucapku.
"Berarti dia calon adik ipar gue kan? Gue punya hak dong ketemu dia!"
"I haven't told him about you, jackass. Gue akan cerita ke dia pelan-pelan. Nggak dengan lo nongol tiba-tiba begini!"elakku masih enggan mengajaknya ke airport.
"Gue yang akan ngomong langsung ke Erik. Lagipula gue yakin Erik akan setuju. Siapa lagi sih cowok yang mau sama kakaknya yang galak selain gue?"
Aku menatapnya garang. Galak dia bilang??? Gara-gara dia kan aku jadi galak begini. Kalau aja hidupku tidak terkontaminasi racunnya, i'll be fine.
"Lex, this is my family matters. Lo bukan siapa-siapa kami. Jadi let me explain this fuckin' wedding plan to my brother!"tandasku.
Bukannya mundur, cowok ini justru menatapku tajam. Kemudian dia memajukan wajahnya padaku. Apa lagi sih yang mau dilakukannya? Dia nggak malu apa sama driver nya? nggak usah pake nyosor-nyosor deh. It's disgusting.
"Don't say fuckin' wedding, Nay! Lo yang butuh gue. Sekali lagi lo bikin gue marah, gue bisa batalin perjanjian kita dan lo harus terima akibatnya!"bisikan ancaman itu mungkin terdengar pelan. Namun, aku bisa merasakan tiap tekanan yang Alex berikan. Lekaki itu tidak main-main dengan kata-katanya.
Akhirnya aku hanya bisa mengikuti kemauannya. Kami tiba di bandara dan langsung menuju pintu kedatangan luar negeri. Aku menunggu di luar garis pembatas dengan resah. Rasanya ingin sekali aku menenggelamkan lelaki yang berdiri di sebelahku dengan tenangnya ini. Kenapa dia harus ikut???
Tanpa sadar aku mendesis pelan. Kemudian aku pusatkan perhatianku pada lalu lalang passanger yang keluar dari pintu kedatangan. Tak lama kemudian, seseorang lelaki tinggi menggunakan kacamata hitam melambaikan tangannya padaku.
"Erik!"panggilku dengan semangat.
Dengan langkah panjangnya, Erik menghampiriku. Kemudian dia memelukku tanpa melewati pembatas ruang penjemputan. Aku tersenyum bahagia.
"You got tall,"kataku sambil menepuk pipinya pelan.
"And you get someone new...,"kata Erik sambil melirik Alex yang berdiri di sampingku.
Oh God! Gue lupa kalau ada si mesum satu itu.
"Alex. Naraya's soon to be husband,"kata Alex dengan PD-nya sambil menyalami adikku.
Erik menyalami tangan Alex sambil menatapku tak mengerti.
"Don't ask!"cegahku sebelum Erik sempat bertanya.
###
Dan sekarang disinilah kami, di sebuah kafe donat di airport. Erik memaksa kami menceritakan padanya secepat mungkin. Dia tidak ingin berada dalam kebingungan dalam perjalanannya menuju rumah.
"Jadi?"tuntut Erik selepas menyedot Ice Latte-nya.
"Udah jelas kan? Kakak kamu akan menikah. Dan aku calon suaminya,"kata Alex dengan tenang.
Andai saja aku bisa setenang dia. Telapak tanganku sudah berkeringat sejak tadi. Aku tak terbiasa berbohong kepada Erik. He'll caught me in a lie as fast as lighting speed. Dia terlalu bisa membaca pikiranku. Jadi aku hanya diam ketika Alex dengan lancarnya menceritakan karangan percintaan kami seperti membacakan sebuah karangan Bahasa Indonesia. Begitu santai dan mengalir apa adanya.
Advertisement
"Aku terlalu cinta sama Naya. Jadi kuharap kamu nggak menghalangi pernikahan kami. But, Naya insist me to ask your permission first,"kata Alex.
"Tapi, Kak Naya nggak pernah cerita apapun tentang Kak Alex. Dia nggak pernah cerita kalau dia punnya pacar,"sanggah Erik sambil melirikku tajam.
"Ya jelas, karena kita nggak melalui tahap pacaran, Erik. Aku jatuh cinta pada Naya pada pandangan pertama, lalu aku langsung melamarnya dan dia menerima lamaranku. Aku harap kamu nggak masalah dengan itu,"tandas Alex.
Ugh! Saking lancarnya dia mengarang cerita rasa-rasanya aku ingin sekali menyiram wajahnya dengan Americano yang ada di depanku. Ini semua kan sebenernya akal-akalan dia saja agar mendapatkan tujuan utamanya, One night stand. Tapi, sialnya justru aku makin terperosok dalam rencananya. Dan sekarang bukan one-night-standing lagi yang dia inginkan. A marriage! This badass man wants to marry me! Yang perlu digarisbawahi adalah pernikahan ini tanpa cinta. Pure nafsu dan bisnis.
"Kak Naya beneran udah siap nikah?"tanya Erik padaku. Tatapan matanya seperti mencari kejujuran dari mataku. Ini membuatku tergagap.
"Em...kakak sih...,"aku menggantung kalimatku. Rasanya susah sekali berbohong kepada Erik. Aku tak tega membohonginya. Tapi, mau bagaimanalagi? Apalagi yang bisa kulakukan untuk membatalkan pernikahan ini? Yang bisa membatalkannya adalah pihak Alex. Aku disini menjadi pihak yang powerless. Apalagi aku memang membutuhkan bantuan Alex untuk memperbaiki perusahaan papa.
Ketika aku tak juga bersuara, aku mendengar Alex berdehem sambil melempar lirikan tajam sebagai tanda bahwa aku harus menjawab pertanyaan Erik.
"Kak?"tanya Erik.
"Kakak siap kapanpun, Rik. Kalau kamu masih ingin kakak berada di sampingmu, maka kakak tidak akan menikah. Tapi kalau kamu siap melepas kakak maka kakak juga siap menikah,"begitulah akhirnya kalimat yang keluar dari mulutku.
Erik menghembuskan nafasnya panjang. "Bukan aku yang harus menentukan kesiapan kakak. Kak Naya yang akan menikah. Bukan aku. As long as you're happy, I'll be happy too. Jadi kakak beneran udah siap?"tanya Erik lagi.
Aku menatap Alex ragu. Alex membalasnya dengan tajam. Seperti ada belati di matanya yang siap menusukku kalau aku mengatakan tidak siap. Ah!!! Dilematis. Aku berada di posisi yang tidak bisa memilih.
"I'm ready,"jawabku pelan.
Erik memberikan senyumannya. Raut wajahnya nampak lega. Ingin rasanya aku berteriak menangis agar adikku itu sadar bahwa aku membohonginya. Tapi, bukankah itu akan menimbulkan masalah baru kalau Erik tau bahwa aku terlibat perjanjian bodoh dengan Alex? Aku hanya ingin Erik tetap bahagia dan berkonsentrasi dengan studi kedokterannya.
"Selamat, Kak Nay. Semoga Kakak bahagia dengan Kak Alex,"katanya tulus. Senyum bahagianya membuat hatiku trenyuh. Bukankah untuk dialah aku berjuang mempertahankan perusahaan Papa?
"Thanks, Rik,"kata Alex membuyarkan pikiranku.
"Nah, Naraya. Sepertinya lo harus pulang dan bersiap-siap untuk dinner malam ini,"lanjut Alex membuatku mengeryit heran.
"Dinner? Sama siapa?"tanyaku tak mengerti maksud ucapannya.
"My parents just arrived this morning from Canada. Dan mereka bilang ingin ketemu kamu dan keluarga kamu,"ucap Alex seketika membuatku tertegun.
Oh! Oh! Oh no! Another Alex's disaster comes. Oh God...
###
Sepertinya seharian ini emosiku cukup terkuras untuk semua yang aku sebut "Alex's disaster". Dan malam ini aku harus kembali bergelut dengan emosiku agar tidak meledak karena dengan seenaknya lelaki itu menjadwalkan sebuah dinner dengan orang tuanya. I'm not ready yet for in-laws-things.
But, despite that I'm not ready yet, I put a high expectation to this. Semoga saja orang tua Alex tidak menyetujui pernikahan ini, sehingga mau tidak mau Alex akan membatalkan perjanjian dan aku akan memberikan negosiasi lain agar dia tetap membantu perusahaanku. Licik ya? Aku hanya ingin untungnya saja. But, it's a game alex! Setelah negosiasi itu aku jelas akan terhindar dari pernikahan mimpi buruk ini. Yeah... And I'm gonna free. Yihaaaa
Advertisement
"Kak? Udah siap?"tanya Erik yang melongok dari balik pintu kamarku. "Kak Alex udah jemput tuh,"lanjutnya.
"Kamu turun aja dulu, Rik, Nanti kak Naya nyusul,"kataku.
Aku bergegas memoleskan lipstik merah di bibirku dan menyambar tas tangan kecil di atas bed.
Hah! It's gonna be a long night.
Aku segera menyusul Erik dan Alex yang sudah berada di parkir basement apartement ku. Kulihat Alex berdiri di samping mobilnya sambil tersenyum tengil kepadaku.
"Kamu bareng kita aja, Rik. Nggak usah bawa mobil sendiri,"kataku saat Erik sudah mengeluarkan kunci mobil Hammer-nya.
"Nggak apa-apa, Kak Alex?"tanya Erik meminta ijin pada Alex.
Cih! Kenapa Erik harus merasa sungkan pada Alex. Pokoknya Erik harus berada satu mobil denganku dan Alex agar Alex tak bisa macam-macam. Bisa saja dia memberikanku ancaman yang aneh-aneh agar aku tak merusak acara dinner malam ini.
"Sekalian bareng aja, Rik. Entar pulangnya gue anter sekalian,"kata Alex mengajak Erik masuk ke mobilnya.
Tunggu !!! Tadi aku mendengar Alex memanggil Erik "Lo" ? Sejak kapan dia jadi begitu akrab dengan Erik? Perasaan tadi siang ketika kami menjemput Erik mereka masih menggunakan bahasa formal aku-kamu.
"Ya udah deh kak, gue ikut lo aja,"jawab Erik.
Oh God!!! Erik juga sudah bisa berbicara akrab dengan Alex. Gimana sih mereka bisa cepet akrab begini? Apa ini yang namanya the power of men? Men can be close easily.
"Thanks, Rik, lo mau ikut dinner malam ini,"kata Alex sambil mulai menjalankan mobilnya. "Lo pasti masih capek karena perjalanan panjang."
Kudengar Erik tertawa pelan. "Nggak juga kok, Kak. Lagian kan kesempatan kenal keluarga baru,"jawabnya Erik. Telingaku rasanya gatal mendengar pembicaraan mereka yang udah seperti kaka-beradik asli.
"Nggak usah sungkan Rik kalo lo butuh apa-apa. Bilang aja, entar kalau bisa gue pasti bantu,"kata-kata manis itu keluar dari bibir Alex.
Cih! Minta bantuan dia? Bisa-bisa Erik disodori perjanjian aneh-aneh. Disuruh jual diri mungkin? Atau disuruh jadi OB di perusahaan Alex? Pikiranku selalu merujuk ke arah negatif kalau sudah berhubungan dengan Alex.
"Jangan gitu, Kak. Justru Erik yang harus bantu-bantu kalian berdua. Kalau persiapan pernikahannya ada yang bisa dibantu, gue siap kok,"kata adikku diiringi tawa ringannya.
Rasanya aku ingin sekali berteriak dan mengatakan semua kebohongan ini. Erik? Tahukah kamu bahwa kakakmu ini sedang terjerat seorang lintah darat kejam bernama Alex?
"Udah diserahin ke WO kok, Rik. Easy aja. Take your time in Jakarta. Kebetulan adek gue juga lagi di Jakarta. Lo bisa ajak dia jalan. Tapi jangan mau kalau diajak ngegodain banci,"kata Alex lagi.
"Hah? Banci?"tanya Erik.
"Si Evan emang hobi banget ngegodain banci. Pernah lho dia dikejar-kejar waria. Tapi, tenanga ja dia nggak homo. Masih demen cewek. Ngegodain waria cuma untuk cari hiburan aja,"jelas Alex.
Kemudian kudegar Erik membalas ucapan Alex. Dan ... bla...bla...bla... mereka sudah berbicara akrab dan melupakan aku yang juga hadir disini. Bagus! Aku dicuekin!
"Eh Kak Naya diem aja?"tanya Erik tersadar bahwa aku tak juga mengeluarkan satu patah katapun setelah mobil Alex memasuki gerbang rumah.
Aku menatap takjub rumah Alex, sampai-sampai aku tak menjawab pertanyaan Erik. Beneran deh, ini rumah besar banget. Perasaan dulu rumah Papa juga tak sebesar ini.
Dan bukan masalah ukuran saja yang membuatku harus menelan ludah saking takjubnya. Tapi pekarangan yang ditata apik rasa-rasanya menambah nilai plus. Tatanan taman yang struktur rumit tapi sedap dipandang dengan lampu-lampu taman yang menyala indah. Malam hari seperti ini pun taman sederhana seperti itu mampu membuatku berhalusinasi akan kenyamanan yang bisa kurasakan jika aku duduk di gazebo yang ada di tengah taman.
Aku kembali tersadar ketika Alex sudah memasukkan mobilnya ke dalam carport. Kali ini mungkin orang mengira bahwa di carport milik keluarga Davrio akan berjejer mobil-mobil mewah yang limited edition. Bahkan mungkin salah satu seri limousin. Tapi nyatanya, cuma ada tiga buah mobil, termasuk mobil yang dikendarai Alex. Satu mobil hitam Jeep Wrangler entah seri yang mana, satu mobil merah Jeep Cherokee, dan yang dipakai Alex saat ini Dodge Charger SXT . Kukira mobil-mobilnya akan seperti beberapa artis tanah air yang sedang hobi mengoleksi mobil sport yang harganya mencapai miliaran.
"Gila! Ini kan Wrangler Unlimited Rubicon, Kak!"seru Erik begitu turun dari mobil dan menatap mobil hitam yang ada di sebelah mobil yang kami naiki.
"Yap. Mobil yang dibuat karena terinspirasi dari game Call of Duty,"jawab Alex.
"Keren juga selera mobil lo,"komentar Erik.
Aku menghela nafas. "Apa bagusnya mobil mirip raksasa begini?"tanyaku sebal.
"Cewek mana tau bagusnya sih, kak. Ini sih mobil impian tiap cowok,"ungkap Erik yang masih menatap takjub mobil hitam itu.
Alex tertawa pelan. "Besok gue pinjemin deh kalo lo mau. Sekarang kita dinner dulu. Keburu laper,"ajak Alex. Alex menggandeng tanganku ketika kami bertiga berjalan menuju bangunan utama.
Tahan Naya! Ini cuma sandiwara. Nggak mungkin aku menunjukkan wajah enggan digandeng ketika bersama Erik. Bisa-bisa kebohonganku terbongkar.
"Ma! Pa! Van!"panggil Alex ketika kami sudah memasuki rumah.
Sekali lagi aku dibuat takjub dengan interior rumah. Jangan salah! Tidak nampak benda-benda yang terlihat mewah. Justru rumah ini ditata dengan furnitur simpel dan sederhana tapi berhasil memberikan kesan elegan. Tidak banyak furnitur yang ada di ruang tamu depan, sehingga menimbulkan kesan luas.
Aku jadi makin penasaran untuk menjelajah lebih dalam rumah ini untuk mengetahui interior design-nya. Benar-benar menimbulkan kesan homey.
Aku tersadar dari kekagumanku ketika sepasang pria dan wanita berjalan mendekat ke arah kami.
"Kalian udah dateng?"sambut wanita yang pasti adalah Mama Alex. Sementara lelaki yang tampak bersahaja di sebelahnya adalah Papa Alex.
"Nay, Rik, kenalin ini Mama dan Papaku. Sebentar lagi mereka juga akan jadi orang tua kalian,"kata Alex.
"Jadi ini yang namanya Naraya?"tanya Mama Alex yang masih nampak cantik walaupun terdapat beberapa garis keriput di wajahnya. Tapi wanita itu masih tampak memukau, dan aku yakin ini bukan hasil operasi plastik atau produk anti ageing.
"Kenalin, Ma, Pa, ini Naraya, calon istri Alex,"kata Alex memperkenalkanku kepada kedua orang tuanya.
Aku tersenyum gugup sambil mencium tangan kedua orang tua Alex. "Salam kenal Om, Tante,"sapaku ramah.
"Yang ini Erik, adiknya Naya,"kali ini Alex memperkenalkan Erik. Erik bergantian mencium tangan orang tua Alex.
"Makasih OM, Tante, atas undangan makan malamnya,"kata Erik sopan.
"Aduh... jangan panggil Om dan Tante. Kan sebentar lagi kita akan jadi satu keluarga,"ucap Mama Alex sambil merangkul bahuku. Walaupun aku lebih tinggi dari Mama Alex, tapi rasanya rangkulan beliau pas di bahuku. Aku jadi teringat Mama yang sudah lebih dulu meninggal ketika melahirkan Erik.
"Cie! Yang sebentar lagi kawin!"celutuk satu suara.
"Kenalin ini adek gue satu-satunya. Evandra,"kata Alex sambil mengusap kepala seorang lelaki yang baru saja bergabung dengan kami.
"Evan aja udah cukup!"celutuk Evan. Kemudian perhatiannya teralih pada Erik yang berdiri di sebelahku. "Semoga kita jadi sodara yang baik ya! Kakak gue dapet istri, gue dapet sodara baru!"sambut Evan dengan ceria.
"I hope so. Semoga kita bisa cepat akrab,"balas Erik.
"Udah pendekatannya dilanjutin nanti aja setelah makan. Papa udah keburu lapar,"sela Papa Alex dengan senyum ramahnya. Papa Alex terlihat berbeda dengan kedua anak lelakinya. Papa Alex terlihat tenang dan bersahaja. Sementara kedua anak lelakinya mempunyai senyum khas mesum dan seringai jahil yang menyebalkan.
"Ayuk, ayuk. Udah Mama siapin dari tadi,"ajak Mama Alex sambil membimbingku ke ruang makan.
Kami duduk mengelilingi meja makan. Aku duduk di antara Alex dan Erik. Alex tak juga melepaskan genggaman tangannya pada tanganku. Sepertinya dia berusaha menunjukkan kemesraan kami di depan keluarganya. Dan berkali-kali juga Mama Alex memujiku. Senang sih dipuji, tapi bukan ini yang kuharapkan. Aku lebih berharap kalau Mama Alex langsung mendepakku dari kandidat calon mantu.
"Ini Mama sendiri yang masak lho, Nay. Makan yang banyak ya,"ajak Mama Alex sambil menyodorkan menu-menu masakan jawa yang kaya rempah-rempah.
"Iya, dan korbannya aku, Ma. Bisa-bisanya mama nyeret aku ke dapur untuk bantu masak,"keluh Evan.
"Kan cuma bantu sedikit, Van. Lagian kan untuk calon istri Abang kamu sendiri,"kata Mama Alex pada anak bungsunya.
"Gue harap sih elo cuci tangan sebelum bantuin Mama masak,"sambung Alex.
Semuanya tertawa geli. Tak terkecuali Papa Alex yang ikut tersenyum hingga matanya terlihat seperti garis ketika tersenyum.
Jujur, aku iri dengan keluarga yang dimiliki Alex. Disamping dirinya sendiri yang mendekati sosok sempurna, keluarganya pun kelijatan bahagia. Haruskah Tuhan menciptakan manusia seperti Alex?
Beda jauh denganku yang sudah yatim piatu, payah dalam mengurus perusahaan, dan berpenampilan biasa-biasa saja.
"Papa nggak nyangka kamu cepat juga nyari calon istri. Papa kira kamu cuma bisa main-main aja,"kata Papa Alex dengan suara baritonnya.
"Cepet-cepet kasih Mama cucu ya."
Hukk!
Aku tersedak. Ini artinya aku harus cepat-cepat hamil??? Mempunyai anak bukan bagian rencanaku dalam pernikahan kontrak ini.
"Memang mama mau punya cucu berapa?"tanya Alex.
Cih! Nambah-nambahin aja nih si Alex!
"Sebanyak-banyaknya dong, Lex. Biar ramai di rumah,"jawab mama.
Sebanyak banyaknya itu berapa banyak? Aku membatin ngeri. "Naya nggak buru-buru kok, Ma. Alex sama Naya kan sibuk juga di perusahaan,"kataku sedikit tergagap karena berbohong.
"Lho, justru harus cepet-cepet Nay. Kan kalau kalian punya anak, bakal sering di rumah. Kurangi deh kesibukan kalian. Kan di perusahaan juga ada bawahan kalian,"ucap Mama.
Aku menyambut kalimat Mama Alex dengan tawaku yang sejujurnya terdengar hambar alias garing. Ini juga lagi usah menggagalkan pernikahan, tapi beliau malah sudah membuat rencana memiliki cucu. Dosa apa sih aku Tuhan? Kok sepertinya rencanaku amburadul semua?
"Mama tenang aja deh, dalam waktu satu tahun Alex bisa kok bikin Naya hamil. Mama tinggal doain aja semoga prosesnya lancar,"kata Alex.
Advertisement
- In Serial35 Chapters
The Third String.
" No! Get away from me. You are not my mumma and you will never be. I hate you and papa hates you too. I don't wanna talk to you.!" Sahil screamed." Sahil, baby I am not trying to take your mumma's place. Please just let me tend to your would or you will get infection." I tried to pacify my four year old son." No. I can do it on my own!" He shouted and ran back to him room.I sighed and knocked my mother in law's room. She is not fond of me either. Only two people in the house truly understand me, my father in law and my sister in law who is in her first year college. My so called husband wants nothing to do with me. I am only his son's nanny who is incapable of doing her job." Where is Sahil?" The deep voice roared in the living room." In his room." I replied not looking at him." You had one fucking job. To take care of my son and you couldn't do that too." He directed his anger towards me." 5...4...3...2...1" I counted backwards to calm my anger." I tried to aid to him. He wouldn't listen to me." I said honestly.Without a word, he stormed into Sahil's room." Like father, like son. God, why do you have to make things so difficult for me!" I exclaimed, climbing up to my room.Shivanya Sharma- A practicing criminal lawyer by profession, big softie at heart. She is loved by everyone and has a very supporting family. Has three close friends and can do anything for them. Is twenty five but still loves chocolates.Abhimanyu Singhania- A twenty nine year old entrepreneur. He used to be a jolly personality but after his wife Aditi's death, he built walls so high around him, no one can see the real him. He has a son, Sahil whom he loves to the moon and back and can fight with the world for him. Gets married to Shivanya only for Sahil.What has destiny in store for both of them? When two fireballs collide, will it lead to destruction or creation of something beautiful?
8 250 - In Serial57 Chapters
Ashes Of You And I (Completed) | ✔️
"Her troubled eyes held fire. The kind of fire that was capable of burning me to ash."*****I grabbed her chin with my free hand, making her look at me. "I hate that I don't know you. I hate not being a part of your life, like I was before."I leaned a little closer, as her intoxicating scent filled my lungs. "Trust me, I can't hate you, no matter how hard I tried.""So you have... " It came out as more of a question than a statement from her as she looked at me with her big blue eyes."What?" I frowned, dropping my hand from her chin and grabbing her hand, instead."You have tried hating me then?" She asked, tilting her head to the side. This time it sounded more like a statement than a question."I have." I sighed, dropping my head in shame. "And it made me lose the most important person in my life." *****One night. What harm can one night do? It can change lives. Turn best friends into enemies. Turn someone's life upside down. Emily Waters and Ryder Green, were inseparable, joint to the hip, always had each others back and loved each other behind the best friend facade. But one night changed it all. He thinks he has changed for worse but what he doesn't know is that Emily has changed for the worst. Three years later, what if the girl is back, with baggage that she doesn't think anyone could handle? What will happen when they meet? Will the sparks ignite again? Read to find out.***Best rankings:#5 - romance (16/08/2022)#1 - streetfighter (03/09/2021)#4 - hot (27/11/2021)#1 - comeback (15/04/2022)#4 - gangs (04/12/2021)#8 - badass (02/07/2021)#2 - bestfriends (16/08/2022)#9 - friendstolovers (06/07/2021)#2 - rebellion (03/09/2021)#4 - bully (21/08/2021)#2 - past (25/10/2021)#2 - Enemiestolivers (01/10/2021)
8 104 - In Serial31 Chapters
A Demon's Mate
""Ok, I admit it may not be the smartest idea to smile and act all cutesy to some stranger but he seems different, I feel safe with him.Suddenly a tiny whooshing sound can be heard followed by a loud thump. I crane my head to see my best friend unconscious with a tiny dart in the side of their neck. Oh, that isn't good."Sorry beloved," whispers a velvety voice.Slowly everything goes fuzzy and my thoughts become watery. Why does my arm hurt? I turn to my arm to see a dart similar to the one my friend got hit by. Oh... Definitely not good.""**Completed****This is the first story I've put online, it's under edited n has mistakes but I wanted to share it. I'm slowly making changes to the grammar n vocabulary but other than that it's finished**
8 59 - In Serial48 Chapters
Bonded | Kylo Ren x Reader |
Read Warnings: Ever since Luke Skywalker took you to train at his Jedi Temple, you have become close to a particular young man by the name of Ben Solo. One night, tragedy strikes and you are thrown into an unknown world all alone. That is, until the Force bonds you to a masked stranger. Warnings:LanguageHeavy/Intense SmutViolenceSexual SituationsThe rest is TBD
8 630 - In Serial46 Chapters
Mindful Beauty
Damien Petrotti barricaded himself within his logical, black and white walls, believing there is no area for second chances, for grey areas, or messy emotions. When he first meets the quiet and soft-spoken Ella Cortesa, a Spanish, delicate girl, he can't help but dislike her naivety and ignorance of the world. He lives in the court, deciding between right and wrong, and she lives advising people, giving them psychological help. He's not as cold as she thinks, and she's not as naive as he thinks.A modern combination of mind over heart, or is it heart over mind?•••Ch. 39 Excerpt"Thank you for having the patience with me." Damien broke the silence, almost inaudibly when he began to feel Ella's full body trust him enough to begin to fall unconscious over him.Thinking that Ella wouldn't respond, Damien was ready to close his eyes and also go to sleep, but then he felt Ella's cold hand give him the smallest and most adoring squeeze on his warm fingers, her hum of something incoherent before she stilled completely, her breathing falling deeply.Even in her sleep, she could sense Damien, she would respond even in unconsciousness, and that made Damien's heart skip a beat."To say that you are my whole existence and life would be the biggest understatement, my Ella." Damien sighed, incredulous that he had been blessed with such a beautiful and extraordinary human.
8 186 - In Serial36 Chapters
Sir (Man X Man) (Teacher x Student) ✔
It is the first day of Ryan's college. He's feeling anxious and nervous. After all, it's his first day in the new city, he and his mother just moved so that it'll be closer to his college and they knew no one except each other in this city. Feeling out of place he entered the class and saw a man whom he thought he would never see again."Mr.Dildo?" was the only thing he could get out in his confused state............................................................................................................................Ryan is a 17 year old boy, who is good at academics. His life is as normal as it can get with a mother who has cancer and a late father. One day at a bus station he meets a man. Who seems to be a constant in his life. Who is that man? How does that man become a constant in his life? Read to find out the story of Ryan.~~~#1 in LGBT (08/03/2021)#1 in bxblove (28/04/2021)#1 in Homosexual (06/08/2021)#2 in feelgood (22/05/2021)#1 in Versatile (10/11/2021)#1 in Demisexual (17/01/2022
8 209

