《TGS 1st - Silly Marriage》Chapter 3 - My Nightmare
Advertisement
haloooooo.. maaf ya lama banget updatenya. hehehe. lagi berpetualang sebagai jobseeker soalnya. doain aja ya semoga mendapatkan yang terbaik. hehehe. thanks alot yang sudah mau nungguin. terima kasih untuk semua vote dan comment kalian. kalian semua adalah aspirin-ku ketika aku butuh semangat. hehehe.
xoxo - shabrina
------------------------------------------------------------------------------------
Alex's POV
Sial! Betina yang satu ini sepertinya mengalami kelainan hypersex. Lihat saja aksinya di atas pangkuanku. Gila!!! Dia bahkan terus menstimulasiku agar terus bermain bersamanya.
Untung saja tadi, Siska, sekertarisku sudah ku beri pesan agar tak membiarkan seorangpun masuk ke ruanganku. Bisa gawat jika aku ketahuan bercinta di ruang kerjaku di kantor dengan seorang perempuan maniak sex.
Kukulum lagi ujung payudaranya yang menggelantung menggairahkan. Seiring gerakan naik turunnya, dadanya turut menggodaku. Oh...this amazing breast... aku yakin dada Naraya lebih dahsyat dari yang satu ini.
Wait! Am I just thinking about Naraya? Wohoo... This's incredible. Kenapa bisa perempuan itu yang terlintas di kepalaku walaupun aku melakukan sex dengan wanita lain?
Yeah...aku mengakui bahwa sejak melihatnya secara langsung di klub malam, kepalaku tak henti-hentinya memikirkan tubuhnya. Yeah... wondering bagaimana wanita keras kepala itu akan menjerit, meronta, dan mendesah di bawah kendaliku. Selain mendapatkan kepuasan, I will get the jackpot.
Okay, bunyi telepon kantor mengganggu sejenak kegiatanku. Aku kemberikan tanda pada wanita seksi di atas pangkuanku agar lebih slow down. I need to pick up this phone.
"Siska, bukankah tadi saya sudah bilang untuk tidak diganggu?"tanyaku sedikuit geram.
Kudengar suara Siska yang sedikit takut. "Ada seseorang yang memaksa bertemu bapak. Saya sudah bilang bahwa bapak tidak bisa ditemui. Tapi, Bu Naraya memaksa,"ucapnya.
Naraya? Yah...ini memang sudah waktunya dia akan muncul di hadapanku. Dia pasti datang untuk menjawab penawaranku. Dan kutebak, dia pasti setuju.
Aku menoleh pada pasangan ML ku kali ini. "Cukup untuk hari ini, Jean. Talk to you later,"kataku sambil merapikan kemeja dan dasiku.
"Gonna catch you up tonight, Hon,"ucap Jean
"No. Not tonight. I'll call you later.,"kataku.
Setelah memberikan kecupan singkat, wanita yang bernama Jean itu kemudian meninggalkan ruanganku. Tak berapa lama kemudian, Naraya muncul dari balik pintu. Dan seperti biasa, wajahnya terlihat sebal menatapku.
"Hai sweety,"sapaku melangkah mendekatinya yang sudah duduk di sofa tanpa kupersilahkan.
"Jangan deket-deket gue! Stop di situ!"kata Naya setengah berteriak.
Tapi aku memilih acuh saja terhadap perintahnya dan duduk di sebelahnya di sofa panjang. Dia bergidik sebal dan menggerutu pelan. Duh, baru kali ini kutemukan wanita seperti dia yang bahkan tak mencoba menunjukkan aset-aset berharganya padaku. Haha.
"Gue terima syarat lo!"jawabnya.
Aku tersenyum tenang. Sudah kuduga bahwa Naya tak akan menolak bentuk kerja sama ini. Keadaan perusahaannya sedang terdesak. Bagaimanapun para investor pasti mendesaknya untuk segera mencari bala bantuan. Dan itu tak mudah, karna hanya ada beberapa saja perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaannya.
"Good choice,"ucapku. "Lusa lo akan menandatangani kontrak perjanjian kita. Dan hari berikutnya gue akan selesaikan masalah dalam perusahaan lo. Gue rasa, gue bisa menyelesaikan masalah lo sebelum pernikahan kita bulan depan,"lanjutku.
"Bulan depan????"tanya Naya kaget. Matanya membulat lucu.
"Gue nggak mau nunda-nunda. Lagian semakin cepat semakin baik,"kataku final.
Naya tergagap. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi dia berakhir dengan mengatupkan bibirnya terpaksa.
"Damn asshole!"umpatnya pelan.
"Lusa, orang kepercayaan gue akan ke kantor lo. Dia bakal melakukan inspeksi. Tapi nantinya gue yang tetep bertindak supaya perusahaan lo selamat,"kataku.
"Hemm,"hanya itu tanggapan Naya atas ucapanku.
"Yang manis sedikit dong, sebentar lagi kan kita menikah,"ucapku sambil nyengir menggodanya. Tapi ketika dia menatapku galak, akhirnya aku tak bisa lagi menahan tawaku yang sejak tadi sudah kutahan.
###
Naya's POV
Ugh!
I wanna throw my fits on his face! Dasar playboy kurang ajar! Sekarang seringai kemenangannya membuatku bergidik ngeri. Ini semua gara-gara investor-investor yang mendesakku menerima tawaran menikah dari Alex. Seenaknya saja mereka menyuruhku menikah. Itu kan bukan hak mereka. Tapi, what can I do? Mereka mengancam akan menjual semua saham mereka di perusahaanku dengan harga murah. Aku nggak bisa diam begitu saja membiarkan perusahaan yang Papa bangun jatuh.
Advertisement
Aku telah berjanji kepada Papa untuk mempertahankan perusahaannya.
"So, dinner malam ini bareng temen-temen gue dan temen-temen lo,"kata Alex membuyarkan lamunanku.
Aku mengerutkan kening. "Ngapain gue harus dinner bareng lo dan temen-temen playboy lo itu?"tanyaku.
"Kita umumin pernikahan kita, sweetheart,"ucap Alex dengan gaya flamboyannya.
"Nggak perlu! Lo bisa bilang sendiri sama temen-temen lo, gue juga bisa bilang sendiri ke temen-temen gue!"tolakku mentah-mentah. Lagipula ada yang perlu ku diskusikan dengan Kikan dan eve. Mereka harus membantuku mencari jalan keluar agar Alex tidak jadi menikahiku.
"No! Kita dinner bareng malam ini. Mereka juga perlu jadi saksi perjanjian kita, sayang,"ucapnya memaksa. Sialan! Sepertinya dia mengancam.
"Ngapain sih ngelibatin mereka?"
Alex berjalan mendekat ke arahku dan duduk di sampingku. Aku menggeserkan badanku agar tak terlalu dekat dengannya.
"Karena dengan menjadikan temen-temen gue dan lo menjadi saksi, lo nggak akan mengingkari perjanjian kita!"tandasnya.
"Gue? Yang ada elo kali yang bakal mengacaukan perjanjian kita!"balasku sebal. Dasar jerk!
"Gue tau apa yang lo pikirin dalam kepala cantik lo itu Naya. Gue kasih tau ya,,kalau lo macem-macem, gue nggak segan-segan melakukan sesuatu ke elo!"ancam Alex padaku.
Ih...dikira aku takut dengannya?
Aku mendengus kesal. Pemaksaan! "Fine! Sms ke gue tempat dan jamnya!"kataku sebelum beranjak pergi dari ruangan Alex.
"Deuuh... jangan galak-galak dong, Nay. Gue kan calon suami lo,"ucap Mr. Mesum itu sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Najis!"
###
Okay! Untuk sementara aku menerima penawarannya gara-gara terdesak jajarab investor. Sialan! Tapi, aku akan mencari jalan untuk membuat si mesum itu ilfil dan akhirnya membatalkan niatannya menikah denganku. Ahhh.. cowok berkelas dan mesum macam Alex, aku sudah tau apa yang akan membuatnya tak lagi tertarik denganku. Lihat saja Alex!
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri gitu?"tanya Eve yang duduk di sampingku. Dia masih sibuk memoleskan make up ke wajahnya.
"Where's Kikan?"tanyaku balik ketika tidak menemukan si pemilik kamar. Yah, malam ini aku dan Eve akan berangkat ke tempat dinner dari rumah Kikan. Kikan meminta kami untuk menginap di rumahnya karena ayahnya sedang mengurusi bisnis di luar negeri.
"Dunno. Mungkin ke kamar Nat, Ren dan Nick?"jawab Eve menyebutkan nama ketiga keponakan Kikan.
"Make up lo udah kayak nenek-nenek nutupin keriputnya, Ev!"tegurku.
Bukannya berhenti memoles make up, sahabatku itu masih saja memperbaikinya disana-sini. "Duh...nggak mungkinlah , Nay. Sebagai model papan atas, gue harus selalu tampil cantik,"katanya sok diplomatis.
"Ini cuma 'fake dinner', Ev,"sergahku.
"Yeah...by the way, you need to destroy your image tonight,"kata Kikan yang muncul di ambang pintu. Dia terlihat stunning dengan cocktail dress rancangan Stella McCartney.
"Lo darimana?"tanyaku yang beranjak mendekatinya.
"Ngobrol sama Nat, Ren dan Nick. Just check them,"jawab Kikan.
Baru saja aku akan menanggapi perkataan Kikan, tiba-tiba Nick dan Nat muncul.
"Tante Kikan, Nat boleh ikut gak?"tanya Nat.
"Ih, Nat. Tante Kikan kan mau ada urusan orang dewasa,"sergah Nick. Kemudian lelaki kecil itu menatapku. Senyumnya mengembang lebar. "Halo tante Naya yang cantik,"ucapnya mendekat ke arahku dan mengulurkab tangannya meminta digendong.
"Hei, little boy. Tante kangen berat nih sama kamu,"kataku mencium pipinya yang memerah. Beberapa waktu yang lalu dia pernah bertanya padaku apakah aku mau menjadi istrinya ketika dia besar nanti? Hahahha.
"Tante nggak akan ketemu cowok lain kan malam ini?"tanya Nick.
Oh my god! Darimana sih bocah lima tahun ini mengerti soal beginian?
"No! Kan cuma kamu cowok terbaik di dunia!"
Nick memeluk erat leherku. Aku tertawa geli.
"Lo jangan PHP-in anak kecil dong, Nay,"kata Kikan.
"Ih siapa bilang gue PHP. Gue tungguin nih ponakan lo sampe gede,"jawabku.
"PHP itu apa , Tante?'tanya Nick.
Aku memutar bola mataku. Kikan tertawa pelan. "PHP itu pembohong, Nick,"jawabku singkat. Yah, memberikan penjelasan mudah untuk anak lima tahun tentang PHP memang nggak gampang. Tapi pembohong kan intinya sama aja dengan PHP.
Advertisement
"Come on boy, kamu harus belajar,"kata Kikan sambil mengambil Nick dari gendonganku.
Nick mengerang pelan. Tapi akhirnya menurut saja. Kikan memberi isyarat padaku bahwa dia akan mengantarkan keponakan-keponakannya ke kamar dahulu.
"Cute boy,"komentarku setelah Nick, Nat, dan Ren berlalu.
"Nay, gue berangkat dulu ya. Kevin udah nunggu gue di bawah. See you there,"ucap Evelyn bergegas mengambil clutchnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian dengan setengah berlari dia keluar kamar.
Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Dasar pasangan over mesra. Harus ya kemana-mana berdua?
Aku mematut pantulan diriku di cermin. Apakah riasanku kurang sederhana ya? Aku kan harus membuat si mesum itu ilfil padaku. Mungkin harusnya aku datang pakai baju lusuh sekalian. Atau mungkin baju maid, biar dia malu sekalian.
"Buruan, Nay. Jangan kelamaan mikir,"satu suara menyadarkanku dari rencana-rencana licikku. Aku menoleh dan mendapati Kikan telah berdiri di belakangku. Tangannya sudah membawa sebuah tas tangan kecil.
"Apa gue nggak usah dandan aja ya, Kan?"tanyaku.
"Ah udah nggak usah ngapa-ngapain lagi. Mending lo ancurin aja image lo pas dinner bukan malah ngehapus dandanan lo. Itu sih nggak begitu ngaruh!"
Aku berdecak. Benar juga sih kata Kikan. Mau pakai make up atau tidak sepertinya tidak akan terlalu banyak berpengaruh. Ya sudahlah, satu-satunya kesempatanku adalah di saat kami semua sudah duduk di hadapan piring-piring sajian makan malam. Dan itu kesempatan besarku untuk menghancuran image.
Kikan menarik pergelangan tanganku, memaksaku untuk mengikutinya agar kami segera berangkat.
Yeah, the faster we go, the faster it will end.
###
Oke ini cara mudah. Aku mungkin terlihat anggun, berkelas dan intelligent di depan semua kolega bisnisku. Tapi, selama masa sekolahku, aku adalah siswa super bandel yang bahkan memiliki catatan konseling lebih banyak daripada murid laki-laki yang paling bandel di sekolahku. Aku tinggal menggunakan keahlian masa laluku sebagai destroyer.
Tapi, kendalanya adalah dalam kondisi dinner seperti ini aku tidak memiliki keleluasaan bergerak. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki ide. Lihat aja nanti Alexander! Dia pasti sebentar lagi akan membatalkan pertunangannya padaku.
"Hello, sweetheart,"ucap Eve yang baru saja datang bersama Kevin. Perasaan tadi mereka berangkat lebih dulu. Kenapa malah sampai belakangan? Pasti mereka 'doing something' dulu sebelum ke sini.
"Mana Alex?"tanya Kevin ketika hanya nelihat aku dan Kikan yang sudah sampai terlebih dahulu dan duduk manis menunggu kedatangan yang lainnya.
"Like I care?"jawabku sinis.
Kevin tertawa kecil. "Dia calon suami lo, Nay! "Ucapnya mengingatkan.
"Lagian kemana sih tiga teman playboy lo itu, Kev? They're playboy, but they're not gentlemen enough karena membuat perempuan menunggu,"sergahku jengkel.
"Calm down, Nay. Lo udah kangen sama Alex?"tanya Kevin yang duduk di hadapanku.
Oh please! Apa dia bilang? Aku kangen sama Alex? The hell must be frozen when I do that!
"Sweet. Gue nggak nyangka kalau lo akan kangen gue,"kata satu suara annoying yang kukenal. Alex telah berdiri tak jauh dariku. Entah dia datang dari mana. Menyusul di belakangnya Enzo dan Victor.
"Go to hell!"umpatku tak peduli. Aku memalingkan mukaku agar tak melihat seringai liciknya.
"Gue bersedia ke neraka asalkan gue sudah bercinta sama lo,"ucap Alex.
Aku mendengus kesal. "You late! So, shut the fuck up dan sebaiknya kita mulai makan! Gue benar-benar ingin dinner ini cepat berakhir!"tandasku.
Seserti biasa, Alex hanya tersenyum mengejek mendengar kata-kata pedasku. Dia duduk di sebelahku dan memberikan satu kedipan genit. YUCK!
Tak lama kemudian, setelah kami semua duduk di tempat masing-masing, beberapa pelayan datang membawakan hidangan-hidangan. Mulai dari hidangan pembuka dan main course. Desert akan disajikan belakangan setelah kami menyelesaikan main course.
Kutatap semangkuk cream sup asparagus di hadapanku. Kemudian aku melirik Kikan yang duduk di hadapanku. Aku mengedipkan sebelah mataku padanya dan dia membalas dengan seringai tipisnya.
Okay, girl, the game's started!
Aku menyendokkan supku dengan semangat hingga menimbulkan bunyi denting sendok yang beradu dengan pinggiran sup. Tanpa aku menoleh pun, aku tau bahwa Alex dan teman-temannya menatap ke arahku. Kemudian dengan cueknya aku makan dengan cepat dan rakus seakan-akan aku belum makan selama seminggu. Mungkin jika dalam situasi normal, aku akan makan dengan pelan dan menikmati cream sup ini. Tapi, kali ini akal sehatku sedang kuliburkan. Aku harus melakukan hal yang memalukan agar Alex ilfil denganku.
"Nay! Pelan-pelan!"hardik Eve.
Eve ini gimana sih? Kok malah menyuruhku berhenti? Dasar plin plan. Bukannya tadi aku sudah mengatakan rencanaku padanya?
Tapi aku memilih untuk tak menjawab hardikan Eve. Aku masih meneruskan gaya makanku yang lebih mirip orang kesurupan.
Aku menyelesaikan hidangan pembuka lebih cepat dari yang lainnya. Mereka masih menikmati sup, ketika aku sudah mulai mengambil piring steakku dan memotong dagingnya dengan cepat. Dengan sengaja, aku mengunyah dengan barbar ketika daging steak sudah berada di mulutku.
"Wow,"kudengar salah satu berkomentar singkat. Mungkin Enzo.
Kemudian Victor tertawa pelan. "Suit yourself, Nay,"katanya.
Aku hanya mengedikkan bahuku sambil tersenyum miring. Dari sudut mataku, aku meilirik ke arah Alex. Berharap dia menunjukkan muka marah.
But...
Ini kenapa malah cowok ini menyeringai lebar padaku? Apa maksudnya coba???
"Cut the crap, Nay. Usaha lo nggak akan berhasil,"kata Alex dengan senyum meremehkan.
"What do you mean?"tanyaku berpura-pura tak mengerti.
"Silahkan aja kalau lo mau membuat gue ilfil. Tapi sayangnya gue sama sekali nggak terpengaruh,"desis lelaki itu.
Dammit!!
"Gue--ogah-nikah-sama-lo!!!"
Bukannya marah atau terkejut, Alex justru tertawa mendengar kalimatku. Ini cowok sebenernya waras nggak sih?
###
Alex's POV
Hahaha!
Naraya...naraya...
Dengan rencana gampang seperti itu dia mau menghancurkan semua rencanaku? Jangan harap. Kalau aku mau, aku bisa menghancurkan rencananya. Tapi, jika dia menghentikan rencananya, aku akan kehilangan tontonan menarik.
"Hei hei! Lo berdua kenapa sih? Katanya mau nikah, kok jadi gini?"tanya Enzo.
"Nggak bakal gue nikah sama dia!"serang Naya yang langsung menunjukku.
"Remember, you need my help. And there's a price for that,"kataku kalem.
"Gue nggak bisa nikah sama lo, Alex!"desisnya.
"Oh ya? Kenapa?"tanyaku masih santai.
Kulihat Naya terdiam. Kemudian matanya menatapku berani. I like that flame in her eyes. Membuatku semakin tertantang untuk menaklukannya.
"Karena gue bukan tipe lo!"jawabnya.
For your information, she's really my type actually. Membuat naluri pemburuku bangkit.
"Ohoo...darimana lo tau?"tanyaku.
"Well, lo suka cewek seksi, cantik, dan dangkal. Jelas itu semua bukan gue,"jawabnya berani.
"You're stalking me?"godaku.
Naya merutuki dirinya karena sepertinya dia salah strategi dalam menghadapiku. Don't blame me! Gue terlahir untuk menang, bukan untuk kalah dari wanita.
"Sepertinya lo berdua harus mendapat konseling pernikahan dari psikolog sebelum menikah,"celutuk Enzo di tengah perdebatanku dengan Naya.
"Bukan psikolog yang mereka butuhin. Tapi pasal perjanjian yang harus diperjelas. Kalian bakal hancur kalau nggak terikat peraturan yang jelas!"kata Victor.
Aku menatap Kevin yang duduk di sampingku. "Lo harus perjelas di setiap pasalnya seperti yang gue minta, Kev!"ucapku pada Kevin yang juga merupakan pengacara pribadiku.
"Hei! Gue punya hak dong untuk menolak perjanjian menikah itu!"sergah Naya.
"Hak lo udah jadi milik gue Naya! Tepat ketika lo setuju untuk menerima bantuan gue!"tandasku tajam.
"Gue punya pacar, Alex!"
What!!!
Aku tidak salah dengar kan? Apa katanya tadi? Pacar?
Sejauh yang kutau Naraya tidak memiliki seorang kekasihpun. Dan jika dia memiliki kekasih, pasti Kevin akan tau dan memberiku informasi.
"You lie!"ucapku menyeringai.
"Nick. Namanya Nicky Fallensa Irawan!"ucap Naya lantang.
Okai. Kalau dia sebegitu yakinnya mengucapkan nama itu pasti lelaki itu memang mempunya hubungan dengan Naya. Tapi, kenapa aku tak pernah tau? Aku telah melakukan research kecil kecilan setelah memutuskan membantu Naya. Tidak mungkin hal ini terlewatkan olehku.
Aku melirik sekilah teman-temanku. Kulihat Kevin dan Enzo menatapku penuh arti. Apa mereka tau siapa pria bernama Nick ini?
"Lo harus putusin dia, Nay!"desisku tegas.
" I can't. Gue ci...cinta mati sama dia,"ucap Naya.
Aku benci ketika Naya mengucapkan kalimat itu. Apa yang seharusnya menjadi milikku akan tetap menjadi milikku. Jadi, jangan harap aku akan melepaskan Naya walaupun dia mengatakan bahwa dia mempunyai kekasih. Hell no!
"Lo akan tetap menikah sama gue, Nay! Jadi gue harap lo bisa secepatnya putusin cowok itu dan ngelupain dia!"desisku.
"Jadi cuma ada dua pilihan untuk lo. Lo putusin cowok itu dan menikah dengan gue, atau kita batalin rencana kerjasama ini,"tandasku.
Naya menatapku sebal. Bisa kudengar bibirnya mengumpat dan menyumpahiku sedemikian rupa. Tapi dia menatapku nyalang. Seperti ingin menerkamku atau membunuhku. Tapi aku hanya menyeringai.
Admit it, Naraya. You're not gonna win this game!
###
Aku memilih diam ketika ketiga temanku sibuk mengobrol entah tentang apa di dalam mobil. Enzo yang memegang kemudi mobil menatapku heran ketika menyadari bahwa aku tak bersuara sejak kami keluar dari restauran.
Advertisement
- In Serial225 Chapters
Katalepsis
For Heather Morell, nightmares and hallucinations lurk around every corner, relics of schizophrenia and childhood bereavement. Until she meets Raine and Evelyn, that is — self-proclaimed bodyguard and bad-tempered magician — and learns she’s not insane at all. The spirits and monsters she sees are all too real, the god-thing in her nightmares is teaching her how to surpass human limits, and her twin sister who supposedly never existed could still be alive, somewhere Outside, beyond the walls of reality. Heather plunges into a world of eldritch magic and fanatic cultists, trying to stay alive, stay sane, and deal with her own blossoming attraction to dangerous women. But being ‘In The Know’ isn’t all terror and danger. Sometimes the monsters wear nice dresses and stick around for afternoon tea. Sometimes you find you have more in common with them than you think. Perhaps this is Heather’s chance to be something more than the defeated husk she’d grown up as, to find real friendship and meaning among things like herself - and perhaps, out there on the rim of the possible, to bring her twin sister back from the dead. Katalepsis is a Ancient Greek word which means ‘comprehension’, or perhaps more accurately, ‘insight’. Katalepsis is a serial web novel about cosmic horror and human fragility, urban fantasy and lesbian romance, set in a sleepy English university town. New chapters are currently posted once a week, on Saturdays. This is a Royal Road mirror of Katalepsis' own website, located here, currently updated at the same time with a new chapter every Saturday.
8 142 - In Serial19 Chapters
Explosions/Shadows (Bakugo X Reader)
I write this on wattpad, fanfiction.net, and A03. Wattpad: https://www.wattpad.com/story/231598824?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create&wp_uname=MelodyRenslow&wp_originator=Sr5KaHHc22l68xfNJt2J2GrYueewUao17MZPlOy4zNox8xHA8nBBMUtMQVB4MNjafebbo5EuLnhv9u360%2FvJ%2FARbCki11gJCZJLDtf7yc3j47bQx86CZgUwo4lybJHdz fanfiction.net: https://www.fanfiction.net/s/13797722/1/Bakugo-X-Reader-Explosions-and-Shadows A03: https://archiveofourown.org/works/30310224 Cover done by gej302, thanks so much for making it! I love it!
8 152 - In Serial84 Chapters
A Trade Of Hearts |✔
Hate at first sight, revenge at next and then comes total chaos!∆∆∆"The ones you love the most have the power to hurt you the most."Vanessa Catherine Hudson at twenty-four is more familiar with this statement than she'd like to be.The tabloids would say that she has it all, until someone looks at her from her own looking glass. With bitter memories of an incident that changed her life for the worse, she returns back home to New York, after three long years, with just one goal: She has to become the next CEO of Hudson Enterprises...then things get complicated.This complication's name is Adrian Greys, CEO of Greys & Co. by day and playboy by night. He is ambitious, arrogant and has quite the temper. He is certainly not the type one should mess with.He looks like just another rich brat who inherited his father's legacy but is there more to those moody blue eyes?So what happens when Vanessa decides to put the haughty 'playboy billionaire' in his place?Afterall, what can go wrong......except everything?|#1 in Love||#2 in Romance||#1 in Billionaire||#1 in Chicklit||#1 in Drama||#1 in CEO|
8 412 - In Serial61 Chapters
The Blood Order
"Are you coming to bed firefly?" He says to me laying his hands over my waist joining me in looking over the city. "I want to look out for a little longer if that is alright?" I mumble hoping that he heard me anyways, I wasn't ready to walk into that bedroom, and I don't think I ever would be. "Of course, I'll be getting ready for bed, come in whenever you are ready." He says confidently and walks away leaving my waist cold something for which I am grateful. Especially when my mind burns with other more dangerous thoughts. The warmth that forever lingers in the air, never burning the skin, but always reminding about what is around us. I force air into my lungs feeling the unexpected warmth fill me. He stands in the room watching me even though he said he was getting ready for bed. He is worried about me, about me jumping. I have contemplated it I will admit, but he would stop me before I fell even two feet. I was stuck, and no one could save me. Not even myself, my fucking weak self. His presence is demanding no matter where we are, but right now I could sense everything about him, and I try to suppress the unwanted feelings that curl right under my skin."Firefly? About done?" He calls out and I release my hand from the guard rail not realizing that as I looked at the lights that covered the shining city with the falling fire in the background that my subconscious was thinking about how nice it would be... how relieving it would be... to just fall. True freedom. I take a step back and wrap my hands together turning around to a fully clothed unchanged man and nod once. I could see the fear in his eyes that I would, he knows if he gave me the chance...I wasn't ready for this, but I had to survive. No matter what.Highest Ranks: #17 In Romance #5 in Soulmates
8 201 - In Serial34 Chapters
Outta Her System
(Book 1) Lanae Roberts moves out of her hometown after her mother was killed by gang members. She leaves without contacting most of her family members and friends, including Omari, a family friend that she has grew feelings for. After three years she returns. But everything has changed, including Omari.Omari Hills, aka Lucky on the streets of Harlem, is the leader of the gang that was once led by Lanae's mom. Their gang image went from soldiers to savages. They show no more mercy and are ruthless. Omari is cold as ice since Lieasha died and Lanae disappeared. He blames his self for what happened. He sees her after three years and doesn't take it so lightly. Will Lanae tell Omari about her feelings for him? Or will it remain a secret, forever?
8 135 - In Serial45 Chapters
After The Villain's Mother Fan Wears The Book (MTL) ✓
NOT MINEORIGINAL TITLE: 反派親媽粉穿書后AUTHOR: 西瓜尼姑 Fu Qingqing is a mother fan of the beautiful and tragic villain Gu Yuandi in the ancient dog-blood novel "The Runaway Wife". The role she hates most is the female partner of the same name as her-Gu Yuandi's fiancée. In the book, the female partner is glamorous and has a great body, but she exists to set off the grace and purity of the hostess, vicious and wise. Then the heroine hooks up with the hero,sending Gu Yuandi into the land of immortality,causing Gu Yuandi to destroy the world in the book. Hastily, the garbage world is ruined (╥﹏╥) But why do you want to abuse me Di Zai. When she woke up, Fu transmigrated. Grab the heroine's halo? You shine by yourself. Hook up the hero and the boss? I run faster than you guys. Fu Qing personally led Gu Yuandi's life on the right track. She accompanied him to heal his lame and blind eyes, and watched him become an awesome existence in the book. Then she packs up her baggage and prepares to run away. But halfway, he was surrounded by ten luxury cars. The man got out of the car, his suit and leather shoes, his eyes were forbearing, and his eyes were red. He suppressed the craziness in his blood, and asked with a dumb and desperate smile: "So you want to abandon me. Huh?" Fu Qingming: Ah, I feel angry when I see Di Zai sad. It seems that i can't be a mother fan,i should be his wife. (╥﹏╥)Gu Yuandi knew that he was a demon hated even by his parents. He had decided to merge with the darkness forever and swallow the world mercilessly. Until she brought the light, he made the incomplete him a little healthy. He didn't want to ruin the world. He just wants to enjoy the world with his sweetheart. One sentence introduction: the villain's mother fan Daily intention: love our villain cub
8 131

