《TGS 1st - Silly Marriage》Chapter 1 - One Night Stand Planning
Advertisement
Naraya's Pov
"Fill!"perintahku pada bartender yang berdiri di dekatku. Kusorongkan gelas alkoholku padanya.
"Lo gila, Nay! Lo udah habis berapa gelas? Lo besok masih ada meeting penting kan?"tegur Kikan yang mengingatkanku berapa banyak alkohol yang sudah aku teguk. Sepuluh gelas? Lima belas? Dua puluh? Entahlah aku sudah tak ingat. Rasa-rasanya walaupun meneguk seratus gelaspun ingatan akan Rapat Umum Pemegang Saham tadi siang masih juga belum hilang dari kepalaku.
Okay. Can I say it? Today is fuckin' shit day! Gara-gara keuntungan perusahaan yang turun dari tahun sebelumnya dan adanya penggelapan dana yang dilakukan oleh salah satu karyawan, para investor di perusahaanku mengancam akan menarik investasinya. Ditambah lagi kinerja perusahaan yang buruk juga ikut disorot.
God! Just kill me now!
Kuteguk lagi alkohol dalam gelasku. Masa bodoh jika esok pagi aku tidak akan bangun gara-gara hangover berat. Rasa-rasanya memang aku butuh untuk istirahat seharian dan berharap seseorang bakalan menyelesaikan this messed up thing!
"Hei! Are you okay?"tanya Evelyn.
"Okay. Just tonight, let me get drunk. Udahlah both of you just get laid aja sana! Nyari partner one night stand dan leave me alone!"keluhku.
"Hei, hei, one night stand apaan?"celutuk seseorang menyeruak diantara kami.
"Sayaaaang... I really miss you, darl,"rengekan manja Evelyn mulai terdengar.
God! Here we go the disgusting couple!
"Lo kesini sama siapa Kev?"tanya Kikan.
Kevin menghentikan ciumannya dengan Eve sejenak untuk menjawab pertanyaan Kikan. "Who else? Alex dan Enzo tuh di pojok,"jawab Kevin.
"Alex? As in Alexander Caesar Davrio?"tanya Kikan dengan mata melotot.
Okay ya, please. Kenapa sih harus segitu takjubnya denger nama cowok pewaris tunggal Davrio Grup?
"Nay, ikutan duduk di pojok yuk. Lumayan lho bisa deket sama si Alex. Come on,"ajak Kikan.
"Lo aja sana. Gue lagi menikmati drinking,"usirku malas. Lagian kenapa harus dekat-dekat dengan Alexander itu?
"Fine then. Gue mau ke dance floor. You in?"Kikan menawariku untuk turun.
"No thanks. Let me just drink, drink, and drink,"ucapku.
Sendirian, setelah ditinggalkan teman-temanku, aku kembali meneguk isi gelasku. Sepertinya kali ini aku mulai mabuk. Pikiranku sudah melayang-layang. Tapi, tak akan kuhentikan tegukan gelas sampai aku benar-benar tak sadarkan diri. I need my fast track runaway!
"One more glass, like this little miss,"suara seorang lelaki terdengar di sebelahku.
Aku menoleh dengan malas. Aku yakin yang disebutnya 'little miss' itu aku. Tak ada pengunjung perempuan selain aku yang duduk di meja bartender.
Okay, this man... tall, atletic, and with his shirt on he looks so sexy. Wondering him without shirt... hm... I think it will be a yummy dish.
Sejenak aku menatap terkesima pada lelaki itu. Namun, aku segera kembali meneguk isi gelasku tanpa memperhatikannya lebih jauh.
"How many glass?"tanya cowok itu tiba-tiba.
Aku meneguk minumanku. "Can you just shut up? I can take care of myself!"
"Closing price PT. Farian Pulp and Paper menurun di banding kemarin,"gumaman cowok itu kontan langsung membuatku menoleh dan memperhatikannya. Dia tersenyum karena berhasil mengalihkan perhatianku. "Itu jadi headline utama koran sore ini,"lanjutnya lagi.
Sudah dari tadi aku meneguk gelas-gelas alkohol, tapi kepalaku masih belum menunjukkan perlawanan. Tapi sekarang setelah cowok ini mengucapkan kalimat yang paling tidak ingin kudengar, mendadak kepalaku menjadi pusing berat. God! Who's this fuckin guy?
"Di pertengahan tahun ini, perusahaan lo jadi sorotan gara-gara kasus penggelapan dana yang dilakukan karyawan. Munculnya pesaing baru yang masuk dalam pasar, membuat pendapatan perusahaan lo menurun. Hmmm... bisa dibilang, perusahaan lo sedang berada di ujung tanduk,"lanjutnya lagi.
"Can't you just shut up?"sahutku menatap lelaki yang duduk di sampingku.
Advertisement
"Greetings. Alexander Caesar Davrio,"katanya tenang.
Shit! That guy is... Oh! Salahku juga kenapa tidak pernah benar-benar mengamati wajah lelaki itu jika muncul di pemberitaan media.
"Okay Mr. Davrio, what do you want? Sepertinya kita nggak ada urusan disini,"ucapku brusaha tenang.
"Perusahaan lo bakal berakhir kollaps kalau lo nggak cepat ambil tindakan,"lanjut Alex.
Gosh!! This jerk make me want to puke in his shit face!
"Just tell me what do you want and go get yourself out of my sight!"sahutku tak sabar.
Bukannya balas membentak atau marah atau jengkel, si cowok sialan ini justru menyeringai. Can I just say it? In spite of his minus character, this smirk makes his face more seducing?? God, I think my brain's broken!
"Really?"this guy asking me that question.
"Just spill it!"
"I can help you,"ucapnya tenang.
Okay...I need more time untuk mendefinisikan kalimat 'I can help you'-nya seorang Alex Davrio.
"Do you think my company needs your help, boy?"tawaku sinis. Dia pikir aku akan terpuruk dan putus asa hanya gara-gara masalah sepele ini?
"Yep, I do... Kepercayaan investor lagi terganggu akibat beberapa kasus di perusahaan lo. I don't think that it will be fixable soon..."
Oh Gosh!
Aku sudah menarik kerah kausnya untuk mengancamnya, tapi wajah tampan itu tetap tenang seakan ancamanku tidak mempan sama sekali.
"Sekali lagi lo ngomong, biar gue robek mulut sialan lo itu,"desisku tak main-main.
Alex berdecak. Dia justru menggelengkan kepalanya mendengar ancamanku. "Bibir manis ini bukan untuk dirobek sayang. Tapi, untuk dicium!"
Sedetik kemudian, kurasakan sebuah kehangatan menempel di bibirku. Bibir Alex.
What the..
aku berusaha menjauhkan bibirku dari bibirnya. Namun, bibir itu semakin menyerangku bertubi-tubi. Alex memperdalam ciumannya. Dia memaksa memainkan lidahnya. Oh God... he's seducing me. And I can't resist this hot kisser. Gosh...
Tanpa sadar, bibirku membuka dan memberikan akses penuh kepada lidahnya untuk menyusuri tiap rongga mulutku. Otak ku mulai tak sadar. Bibir manis ini terus menggodaku untuk membalas ciumannya. Sentuhan-sentuhan jemarinya yang membelai lembut punggungku ikut menggodaku.
Sepertinya hari ini akal sehatku sedang mengambil cuti. Tanpa terasa bibirku mulai mengikuti gerakan bibirnya. Memberikan balasan yang tak kalah panas dari bibirnya. Tanganku mulai meraih rambutnya yang lembut. Aroma maskulin dari tubuhnya tak membantuku untuk berpikir jernih.
"Just get laid, man,"satu suara mengganggu kegiatan kami.
Aku segera menjauhkan bibirku dari bibirnya. Aku tergagap dan segera merapikan pakaianku yang berantakan akibat 'aksi' tangan Alex.
Alex menatapku dengan matanya yang menggoda. Dia mengelap bibirnya dengan jarinya. "Lo ganggu gue aja, Vic,"ucap Alex tanpa menatap lawan bicaranya yang duduk di belakangnya. Dia masih menatapku intens.
Victorio Arland, investor muda yang menanamkan sahamnya di beberapa perusahaan besar dia Asia, termasuk di perusahaanku. Lelaki itu menatapku dan memberikan salam lewat tangannya. "Hello Naraya. It's good to see you. My apologize jika gue nggak pernah hadir dalam RUPS perusahaan lo. But, finally I can see you right here."
"Gue harap lo dateng ke RUPS dan nggak lagi nyuruh sekertaris lo yang cerewet itu untuk datang dan mengomentari cara kerja gue,"desisku. Aku ingat bagaimana sindiran sekertaris pribadinya ketika mengikuti RUPS (1) dan mengaku sebagai wakil yang dipercaya.
"Hei, bukannya dalam struktur governance (2) gue ada di tingkat yang lebih tinggi dari lo? Wajar kan kalau gue memberikan sedikit saran agar investasi gue nggak terbuang sia-sia,"jawab Victor tenang.
"Out of bussiness ya, Vic. Gue lagi ingin membahas hal lain. Can you just leave us alone?"tanya Alex tanpa mengalihkan tatapannya dariku.
"What will you do? Really? Are you wanna make this woman your one night stand?"tanya Victor kali ini menatapku dari bawah ke atas seakan-akan menilai penampilanku.
Advertisement
"Kalo bisa gue pake tiap hari ini cewek,"ucap Alex.
Victor tertawa kecil. Apa sih maksud mereka berdua? Yang pasti aku harus cepat melepaskan diri dari pria bejat satu ini dulu.
"Okay. Semoga cepat deal ya,"kata Victor meninggalkan kami berdua.
"Define "the deal" ?"tanyaku memaksa.
"Peruasahaan lo butuh bantuan dana kan? Dan lo nggak mungkin dapat itu dari investor karena mereka udah nggak percaya lagi sama lo. Kalo lo mau, gue bisa bantu," Lelaki di hadapanku ini menyeringai sombong.
"Maksud lo??"tanyaku masih tak mengerti arah pembicaraannya. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya menawarkan bantuan. Pasti ada sesuatu dibalik ini semua.
"Just do one night stand with me. Just one night. Make me your first man yang layak mendapatkan kehormatan untuk merasakan tubuh lo,"lanjut cowok di depanku ini.
What the...
Tanpa sadar, tanganku sudah melayang ke pipinya. Bukannya terpukul atau malu, lelaki itu justru menyeringai sambil memegang pipinya yang tertampar tadi.
Good, Naraya! You just make a problem again!
"Wow! Buas juga ya... It's making me imagine how wild you are under my control...,"lagi-lagi cowok brengsek itu berkata vulgar. sepertinya dia berusaha memancing emosiku.
"Listen ya Mr. Alexander, I'm not going to do anything related with you!" bentakku emosi. Benar-benar pelecehan! One night stand dia bilang? I'm a virgin! Dan aku masih percaya bahwa the virginity harus dihadiahkan kepada seseorang yang benar-benar mencintaiku. Bukan kepada psikopat mesum seperti dia!
"Let see...berapa lama lo mampu bertahan? Seberapa jauh yang mampu lo lakuin untuk menyelamatkan perusahaan tanpa bantuan gue,"lelaki itu lagi-lagi menunjukkan evil smirk nya yang menyebalkan. "Just call me if you've changed your mind, Naraya. And I know you would...,"bisik Alex.
###
Akibat kata-kata si mr mesum itu aku malah makin banyak menegak alkohol. Sampai-sampai aku tak sanggup lagi berjalan menuju mobilku. Akhirnya terpaksa Eve mengantarku pulang dengan Kevin yang mengikuti kami dari belakang dengan mobilnya.
"Duh, Nay... lain kali kalo drunk kira-kira dong. Lo besok ada meeting penting. Dan gue jamin lo bakal hangover besok,"omel Evelyn sambil merangkulku masuk ke dalam apartemen.
"Suruh aja si Sella mundurin jadwal meetingnya,"jawabku masih dengan mata tertutup. Ku dengar, Eve menghela nafas panjang setelah mendengar jawabanku.
Tapi tak lama kemudian aku mendengar samar-samar bunyi keypad ponselnya dan sahabatku itu berbicara sejenak dengan lawan bicaranya di telepon. Mungkin Sella.
"Already done. Pastiin lo datang pukul tiga sore tepat. Kasian Sella yang harus menelepon satu persatu sekertaris investor-investor itu. Pasti dia bakal dihujani pertanyaan atau mungkin sedikit makian,"keluh Eve.
"Hmmm... para investor itu memang suka mengomel. Huh! Memangnya gampang apa jadi CEO?"rancauku. Sedetik kemudian aku memegangi kepalaku.
"Go to sleep, Naraya. Lo terlalu banyak minum malam ini,"kata Eve sambil memasukkan keycard apartemenku. Tak lama kemudian aku sudah bisa merasakan ranjang empukku.
"Sweet dream, beb. Kalau ada apa-apa lo bisa telepon gue atau Kikan,"ucap Eve sebelum akhirnya mengecup puncak kepalaku seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya.
"Hmmm... thanks...,"gumamku yang kemudian larut dalam alam mimpiku.
###
Alexander's POV
Sudah sejak satu jam yang lalu aku melihat wanita itu pergi dengan dirangkul oleh Kevin dan kekasihnya, siapa namanya ya...? Hm...sepertinya Evelyn.
Sepertinya wanita itu mabuk berat. Tidak heran, aku melihatnya menegak bergelas-gelas alkohol. Sepertinya dia butuh pelarian dari segala masalahnya.
Hmmm... Naraya...
Aku jadi mengingat reaksinya ketika aku mengajukan penawaranku tadi. Hahhaha. Sebuah bantuan kecil bagi perusahaan yang hampir kolaps dibalas dengan sebuah one night stand? Mungkin terdengar tidak adil. Tapi, dari gerak-geriknya pun aku tau bahwa perempuan itu masih perawan. Nice... dan aku yang akan mendapatkan kehormatan untuk merasakan tubuhnya pertama kali
Tanpa sadar aku menjilat bibir bawahku, mencoba mengingat rasa bibirnya yang tertinggal. Jika dilihat dari teknik ciumannya, Naraya bukan seorang yang berpengalaman. Dia masih tersengal mengikuti permainanku tadi. Tapi, respon tubuhnya yang tak bisa kutebak itu membuatku semakin penasaran bisa kubuat apa dia di atas ranjang. Aku yakin tubuh seksinya itu bisa membuatku berkali-kali menginginkan mengintiminya.
"Hei, just stop your dirty imagination, dude!"sahut Enzo yang sudah duduk di sebelahku. Kulihat kemeja biru tuanya sudah berganti dengan T-shirt original Coldplay berwarna hitam tadi ketika kami datang ke klub.
"Gimana partner malam ini? Kuat hook up sama lo yang hormon testoteronnya berlebihan?"tanyaku iseng.
"Kikan...not bad lah. Permainanya di ranjang memang nggak pandai. Dan dia mengakui kalau hanya pernah satu kali berhubungan badan. Tapi, ternyata mengajari anak polos itu ternyata asyik juga ya,"komentar Enzo.
"Lo mau nyoba dia lagi?"tanya Victor.
Itan mengangguk. "Masih polos gitu. Gampang di manipulasi dan nggak banyak maunya,"canda Enzo.
"Hmmm... You two just gonna have fun with those girls kan?"
"Lo juga, Lex?"tanya Enzo kaget.
"Dia barusan french kiss sama si direktur PT. Farian Pulp and Paper,"kali ini Victor menggantikanku menjawab.
"Naraya Helena Ibrahimovic?"tanya Enzo tak percaya. Kemudian dengan cepat dia menoleh kepadaku. "Are you nuts? That crazy girl yang selalu bungkam tiap diliput media??"
"Crazy girl that gonna make me go wilder,"kataku menyeringai.
Dilihat dari tabiat keras kepalanya, aku jadi membayangkan bagaimana serunya dia di ranjang. Stubborn girl comes to stubborn mind. Stubborn mind comes to hard sex. Hahahhaa.
Bisa kubayangkan mulut pedasnya akan berteriak menikmati setiap alur permainanku. Mungkin desah nafasnya akan memburu seperti pelari marathon. Lekuk tubuhnya yang seksi akan terlihat hotter dibawah sentuhanku.
"I don't believe it!"seru Victor sambil menyeringai mengejek.
"What?"tanyaku.
"You just have dirty thought about her. Hahaha. Segitu liarnya fantasi lo tentang dia?"tanya Victor membaca pikiran kotorku.
"One kiss and it makes me turn on,"komentarku sebelum meneguk isi gelasku.
"Can I taste it too?"tanya Victor menyeringai jahil.
Kali ini aku benar-benar tersentak. Biasanya Victor tidak akan mau ikut merasakan wanita manapun yang bermain denganku, Enzo maupun Kevin.
"Don't even try, dude. I'm warning you,"ucapku memperingatkan.
"She's off limit then. She's yours. I'm just teasing you,"lanjut Victor disambung tawanya.
"No. No. I'm really warning you. Cuma gue yang bisa nyentuh dia."
"Yeah... As a friend, yang bisa gue katakan adalah have fun with her,ya. Don't forget her high pride, dude. Gue yakin, ini nggak akan semudah bayangan lo,"ucap Victor.
Ah... her pride ya? Itu sudah kusadari sejak awal. Tidak akan semudah itu untuk menyeretnya ke atas ranjang. Tapi, aku yakin aku telah melemparkan umpan yang tepat untuk wanita itu. So I'll just stay calm and wait my bait get a hook.
"Don't worry,"kataku pada Victor. "It's my playground,"lanjutku senang.
###
Author's POV
Naraya mengusap kedua matanya. Masih berat rasanya untuk bangun. Kepalanya terasa sakit akibat alkohol yang ditenggaknya semalam. Selain itu...tiba-tiba saja bibirnya terasa berkedut mengingat ciuman panasnya semalam.
Great! Padahal dia tidak ingin mengingat ciuman dari si mesum itu. Tapi sepertinya lapisan tipis bibirnya mengingatkannya akan sentuhan lembut bibir Alex disana.
"Jerk!"umpat bibir pucat itu.
Dia meraih ponselnya yang masih berada di dalam clucth bag yang tergeletak di atas lantai. 3 misscalls dari Eve dan Kikan, dua messages dari mereka juga, dan tiga BB massagger juga dari kedua sahabatnya dan dari adik lelakinya.
Tak lama kemudian, satu panggilan masuk ke nomor ponselnya. Sebuah panggilan internasional dan bisa dipastikan itu dari adik lelaki semata wayangnya.
"Good morning, Kak,"satu sapaan terdengar senang dari suara bariton di seberang.
"You too, handsome,"balas Naya sembari tersenyum. Dia benar-benar merindukan suara itu.
"I miss you, Kak. Gimana kabar kakak?"tanya Erik.
"A little bit bad. A little trouble with the company. Tapi, fixable kok. How's your day my little doctor?"tanya Naya.
"Are you okay?"tanya Erik bukan menjawab pertanyaan Naya, justru bertanya.
"Hei, calm down. Aku udah bilang fixable kan?"
Naya mendengar suara decakan Erik, seakan tak puas dengan jawabannya. "Kalau ada apa-apa segera telepon aku ya, Kak,"desak Erik.
"Siap bos!"canda Naya.
"Oh ya kak, dua minggu lagi aku balik ke Jakarta. Liburan semester ku dimulai tiga hari lagi. You're gonna happy if you see me, right?"
"Of...of..course, Boy. Hei, bawa oleh-oleh kan?"tanya Naya sedikit tergagap. Biasanya dia akan bergembira ketika mendnegar adiknya itu akan pulang. Namun, kali ini situasi sedang tak mendukungnya untuk over excited atas kepulangan adiknya. Kalau bisa, dia ingin Erik tidak menyaksikan semua masalah yang sedang terjadi. Too hard for him.
"You don't sound excited. What happen?"tanya Erik.
Nah kan... dia udah sensing bahwa something happen. Aduh... harus aku jawab apa? Aku nggak mau Erik ikut terlibat dalam masalah ini. He's gonna be a great doctor, not CEO, batin Naya.
"Ini karena kakak baru saja bangun tidur. Siapa yang nggak senang kalau adik kesayangannya akan pulang?"jawab Naya cepat untuk mengcover kegugupannya.
Erik menghela nafasnya. "Talk to you later. Love you,"ucap Erik akhirnya.
"Love you too, brother,"balas Naya. Dan ketika suara Erik tergantikan dengan suara nada sambung yang terputus, Naya mendesah lega.
Yah, pokoknya aku harus mencari jalan keluar sebelum Erik tiba dua minggu lagi, batin Naya pasti.
--------------------------
Advertisement
- In Serial55 Chapters
Lovely Villainess
Mia Young, a hard working orphan who finds comfort in her favorite novel "Lovely Heroine." While coming home from a long day of work she gets hit by a truck while pushing another out of the way. But once she wakes up she finds herself in the body of, Alina Eirlys, the villainess of her favorite novel that is fated to die at the hands of the crowned prince while suffering of a horrible disease.Is the novel all that it seems? Can she survive? Will she find love? Will she become a...lovely villainess?***All the rage, resentment, bitterness, sorrow, and pain were no longer contained as they spilled with my tears. I couldn't help but hate myself more for being alone, I've pushed away anyone who dared to get close.I could only blame myself.-Cough, cough.Red once again spilled from my lips, staining my tear stricken face and the surrounding snow.Oh, how I wanted to scream, that I too need love. I am lost like a child, only too scared and proud to let anyone close. I wanted to shout my grievances to the world to maybe receive love in return but I knew better than anyone I would receive scorn and ridicule.The sounds around me blurred from the ringing in my ears. I felt my sight dim. I was so tired but a part of me was not yet ready to embrace death. I felt the cold about to devour me but as it devoured me it turned into warmth.I wondered who it was embraced me. Death or ...
8 377 - In Serial60 Chapters
Tortus Bay
Henry Cauville never meant to get caught up in a murder investigation. He came to the sleepy seaside village of Tortus Bay to forget his past, and to start a new life. Little could he have known that his arrival would coincide with the death of a beloved community leader, or that said community would be holding a strange festival at the end of the month—about which none of them will speak. Now, Henry must deal with the repercussions of an unfortunate public misunderstanding while coming to terms with a startling, mystical discovery and what it means for both himself and the world at large. Welcome to Tortus Bay, where there are no tortoises.
8 132 - In Serial48 Chapters
THOSE SUMMER NIGHTS
Eden's promised herself that this summer was going to be memorable. She wasn't going to stay at home and wait for the fun to knock on her door. She would go out looking for it.When Eden's mom sets her and her friends up for a summer trip, she's ecstatic. What happens when she realizes that there's more to the agreement? By more, meaning a brown-haired boy and his friends for a whole summer. Will this summer become more than just a trip?
8 203 - In Serial34 Chapters
Alone (Werewolf Story)
At our orphanage, when you turn 16 you 'graduate.' This pretty much means that the leaders think you can take care of yourself enough to go to school. They provide us with a small apartment and enough money for food and water each month. But other than that we are all alone.Today was my 16th birthday. Today I would be leaving this prison forever. I would start school at Montgomery Prep next week and move in tonight. I would leave all of my friends behind in this small crammed cabin and try to survive off of the measly amount of money given to me by the leaders. To say I'm scared is an understatement.
8 160 - In Serial55 Chapters
The Woman In The Palace
Highest rank #1 in Historical He glared at me with irritation. "Come inside!" ...And I did. He pointed to the stack of books on the floor. "Pick them up and arrange them the way they're supposed to."With trembling hands, I did what he asked quickly. Fret in the way I moved, picking up the books into my arms and lap one by one only for them to fall back on the floor over and over. I was a mess, upset, and it was obvious. This wasn't the kind of first meeting I dreamed of.The second prince was mean, and he was irritable. He had no clue who I am which made me resent it even more.He scowled as he watched me made mistakes after mistakes and after a while, he grew frustrated and bent over, picking the books himself."Forgive me, I didn't mean to snarl at you the way I did. I'm not used to being distracted. No one ever walks in my office unless they have my permission. I don't even know how the guardsmen let you in." I wanted to say because unlike you, they recognized who I am. But I kept my mouth shut in fear of aggravating his anger. His voice took a lot gentler tone, I imagined he must've realized how upset I was and felt bad about it.I said nothing.When we're done, I rose up to my feet, couldn't wait to get out of this room. This man was so impolite to me that I couldn't wait to get away from him."I apologize, your highness. I didn't mean to distract you in your private office." I stepped back getting ready to leave when a sliver of sunlight struck highlighting my face. "Wait!" He murmured and I turned back to look at him."You're beautiful." He said breathlessly.I would have blushed, but he was so mean and rude to me that his compliment lost its impact long ago."I need to go," I told him."Wait." A wave of panic rose in the tide of his voice. The prince was afraid to lose me. "What's your name, girl?" He asked quickly. "Jasmine, my name is Jasmine, your highness.""My Jasmine?" He murmured hopeful.
8 517 - In Serial4 Chapters
Big Shots
MATURE THEMES || SHORT STORYThis book was previously entitled 'His Nude Model' in HIGH SCHOOL SMUT. Everyone knows Ross Vasiliev- famous photographer, known not only for his astonishingly gorgeous body and handsome face, but also for his world-recognised photography skills. His interest in photography took him a step further: he decides that there should be more than just taking pictures of places and backgrounds... and taking nude photos might just help him gain even more popularity.Nobody's never heard of Selena Ashworth. Her five million Instagram followers aren't worth mentioning when she's a beautiful award-winning vogue model, well-known for her perfect bust and fleshy ass. What ensues when the two big-shots meet and find they need more than the other party asks for?[NOTE: This is a quick read, therefore things may get fast paced. It is intended to be a short story.][Achievements]#1 photographer - 30/1/19 #1 photography - 6/2/19 #19 model #22 naked#31 famous#125 sexy #223 short chapters
8 113

