《Future Partner》Tega
Advertisement
Hari berlalu dengan kedatangan DIA kembali dikehidupan Prilly. Dia selalu mencari-cari kesempatan untuk mendekati prilly. Berkali-kali. Tapi sayang, tidak ada celah diantaranya.
----
"Halo Li" Prilly mendial nomer salah satu kontak sahabatnya. Ya siapa lagi kalau bukan Ali? Prilly memanggil suara di sebrang telpon sana.
"......."
"Plis gue bareng lo ya? Gue ngeri nih si Dani nyamper gue"
"......."
"Okey. Gue tunggu dirumah ya sekarang. Bye" Prilly mematikan telepon tersebut. Sepertinya, Ali yang akan jemput Prilly. Karna, selama masih ada Dani, dia gak mau berangkat sendiri. Bukannya karna manja, atau apa. Dia hanya khawatir dengan orang yang selalu punya ambisi tinggi.
****
Tak lama Handphone Ali bergetar kembali dengan suara lagu dari penyanyi coldplay.
"Hallo. Sayang?" Sapa Ali. Sangat jelas sekali, yang menelepon adalah Sinta.
"......."
"Tapi, bukannya kata kamu hari ini kamu diantar sama supir kamu?" Ali mulai memperlihatkan muka betenya. Karena u know kan? Dia udah bilang sama Prilly, kalau bakal jemput.
"......"
Muka Ali berubah muram.
"Engga kok, yaudah oke tunggu"
Sepertinya Ali akan jemput Sinta? Mungkin Sinta juga udah ngancem yang buat Ali gak bisa nolak. Ali itu emang orangnya gategaan kalo sama cewek. Apalagi sama orang yang dia sayang yaitu Sinta. Dan tak terlupa juga Prilly. Ya, dia hanya menyayangi Prilly sebagai sahabat. Mungkin tidak lebih, tidak kurang perasaannya itu.
Ali pun mencoba menelpon tetapi tak dijawab. Akhirnya ia mengirimi SMS ke nomer tersebut.
Begitulah isi pesan yang diketik oleh Ali.
****
"Kamu nunggu siapa sih dek? Nunggu Ali? Bolak-balik mulu daritadi" tegur Kak Di yang sedari tadi melihat Prilly keluar masuk pintu depan terlihat gelisah.
"Iyaa, dia lama banget sih Ka? Padahal dari rumahnya kesini juga kepleset nyampe. Heran deh" Prilly mulai bad mood gak karuan.
"Ya gak kepeleset juga kali dek. Mungkin dia kemana dulu gitu. Yaudah kamu bareng kaka aja" Kak Di berusaha mencairkan.
"Ya, gak bisa kak, ini tuh udah mepet waktunya"
Prilly akhirnya duduk mendekati Kak Di yang berada diruang tamu sedang membereskan berkas-berkas tugasnya. Ketika Prilly ingin menelpon, ternyata ia lupa mencharger hpnya semalam. Akhirnya lah, handphone tersebut ditinggal di kamarnya.
Tak lama...
Suara motor terdengar memasuki halaman rumah Prilly.
"Eh itu kayaknya Ali deh, aku kedepan ya Kak" Prilly yang tadinya berniat menghempaskan dirinya ke Sofa buru-buru beranjak untuk mengambil Tas dan berlari kecil ke pintu depan.
Prilly yang sedang buru-buru mengakibatkan tali sepatunya lepas dan ia langsung jongkok menunduk kebawah untuk mengikat kembali. Ia langsung berbicara tanpa melihat orang didepannya.
"Lo kemana sih? Lama banget tau gak, Li" Prilly mulai berdiri mendongakan wajahnya melihat seorang tersebut.
"Ekhem" Orang tersebut sepertinya kenal dengan Prilly dan memakai seragam yang sama persis dengannya.
"Lo????" Prilly berusaha pergi kedalam dan ingin menutup pintu nya kembali tapi tertahan oleh tangan kekarnya itu.
"Tunggu. Tunggu dulu dong Prill"
Hhhh. Mimpi apa sih Prill semalem? Kejadian yang sangat gue cemaskan akhirnya beneran kejadian. batin Prilly.
"Apaansi lo? Ngapain coba lo disini?" Muka Prilly berubah super super jutek.
"Kenapa sih? Prill, gue cuma mau bareng doang kok sama lo berangkatnya. Salah? Tenang aja,gue gabakal ngapa-ngapain lo." Tegur si Dani.
Advertisement
Hhhh. YaAllah ampuni hamba ya. "Eh, engga salah tapi tuh..."
"Dek, Ali udah dateng?" Kak Di yang mungkin mendengar Prilly berbicara akhirnya keluar.
"Eh loh, bukan Ali ya?" Ketika melihat sosok laki-laki yang memang berbeda dengan Ali, kak Di langsung menatap Prilly heran.
"Bukan kak!" Jawab Prilly ketus tanpa mau menoleh pada Dani.
"Oh ini Kakaknya Prilly ya, kenalin saya Dani kak" Dani langsung menyambar salaman dan memperkenalkan diri dengan enaknya.
"Eh iya, saya Diandra panggil kak Di aja, oh kamu Dani, temannya Prilly ya"
"Iya kak Di, lebih tepatnya mantanya! Hehe. Kakak sama adik sama-sama cantik yaa" Sumpah si Dani pengen gue getok. Siapa suruh dia mengakui itu! Ohmygoo....dddd!!!!
"Yaudah Prill bareng Dani, nanti kalau nunggu Ali kamu telat" Kenapa Kak Di malah mendukung, gak tau aku lagi kesel banget apa! Huh. Batin Prilly.
"Tapi kak...." Prilly berusaha mengelak tapi ya sudahlah... hanya bisa berucap kata PASRAH. Tolong garis bawahi.
"HHH.. iyaiya Kak. Yaudah aku berangkat ya. Bye Kak.. Assamualaikum." Ucap Prilly dengan menyalimi tangan Kak Di, dan diikuti oleh si Dani. Asli si Dani carmuk! Caper! Baper! Fix. Yaallah tolong. Batin Prilly yang seakan-akan terus menjerit.
Sepanjang perjalanan, Dani selalu bercerita diikuti dengan masa lalu yang dulu bersama Prilly, yang bahkan sekarang sudah tidak di kenang oleh Prilly. Dan Prilly hanya menimpali hanya kata Ya, Tidak, dan Sama sekali tidak menjawab.
****
Tak lama Ali pun sampe di sekolah dan memakiran motornya di halaman sekolah. Ali mengeluarkan sebuah hanphone-nya dan mendial nomer yang tak asing, terteralah nama kontak Prilly Bawel. Ali berusah menelpon Prilly tapi tak kunjung di angkat. Ia berpikir, kalau dia jemput kerumahnya pasti sudah berangkat. Lebih baik sekarang Ali menunggu Prilly dikelas.
"lo ngapain sih buru-buru banget?" Dani bertanya tanpa kenal waktu.
"Heh, ini tuh udah telat. Makanya liat jam dong" Tanpa mendengarkan suara yang dikeluarkan oleh Dani, Prilly buru-buru memasuki kelasnya.
Beruntung, Pak setya belum masuk. Tak lama, langkah Prilly juga diikuti oleh Dani dibelakangnya. Ali yang melihat mereka masuk bersamaan, merasa heran. Kok bisa? Batin Ali. Ali merasa kesal dengan Prilly, kenapa hanya gara-gara dia tak menjemputnya, kok malah Dani yang menjemput Prilly. Selama pelajaran berlangsung Ali dan Prilly tak saling menatap, dan berbicara.
"Prill, kok lo bisa sama Dani?" Tanya Itte yang ternyata juga heran. Itte sebenarnya sudah mengetahui bahwa Dani cinta pertamanya Prilly sekaligus mantan pertamanya makadari itu dia juga menanyakan dengan tampang heran.
"Kenapa lo heran? Gue lebih heran. Ali gak jemput gue, dan Dani yang kerumah gue. Akhirnya gue sama dia bareng daripada gue telat. Dah segitu aja ceritanya" Prilly berusaha meceritakan dengan singkat, padat.
"Hooo, pantes. Tapi, Ali tadi bareng Sinta"
Deg... Rasa kesal Prilly memuncak, jadi Ali tidak menjemput dirinya karena Sinta. OK! Entah apa yang membuat Prilly merasa kesal sekali. Dibuat menunggu ternyata begitu. Ok, ini bukan cemburu ya! Inget. Gue cuma kesel, sekarang sahabat sudah tak penting setelah PACAR!
****
"Prill" Panggil Ali mencegah Prilly untuk keluar kelas dengan memengang tangannya.
"Kenapa?" Ucap Prilly berhenti sesaat, singkat, padat dan jelas. Prilly masih belum mau menatap Ali
Advertisement
"Sini dulu, gue pengen ngomong. Te, lo duluan aja" Pinta Ali dengan muka serius. Itte pun mengiyakan dan mengangguk.
"Prill.. gausah dengerin dia. Udah jelas2 dia gak mau jemput lo tadi. Hahah, sahabat macem apa kaya gitu!" Ledek Dani dengan tampang songongnya, sembari menatap Ali dengan tajam. Ali pun tak mau kalah membalas tatapannya, dengan mengepal tangannya erat, yang berarti dia siap kapan aja menghabisi Dini. Tapi, tidak untuk sekarang, Ali masih menahannya.
"Apaan sih lo Dan, udah deh gak usah ikut campur! Mending lo keluar aja." Tak lama Prilly angkat bicara, ia pun kesal dengan perkataan Dani meledek Ali, walaupun ia sedang tak ingin membela Ali. Setidaknya ia menahan Dani.
"Oww.. Oke, tapi kalo lo diapa-apain bilang gue!" Dani berusaha untuk menjadi pahlawan untuk Prilly, oke ralat! Lebih tepatnya, sok pahlawan. Prilly pun jengah oleh sikap Dani yang seolah-olah Prilly itu masih miliknya. Iapun hanya melengos tanpa mau mendengar.
Ali sedari tadi hanya diam menahan amarah melihat sikap Dani yang songong. Jangan harap Dan, lo bisa ambil Prilly lagi. Batin Ali. Entah kali ini Ali membatin tanpa tau apa yang sekarang dipikirkannya.
"Ada apa? Cepetan ngomongnya, gue laper nih mau makan" Tungkas Prilly, sembari menduduki kursinya kembali.
"Gue mau nanya, kenapa lo bisa bareng Dani?"
"Hm harusnya, gue yang nanya. Kenapa lo gak jemput gue? Oh ya, gue tau Sinta lebih penting."
"Gausah bawa2 Sinta, dia gak salah. Yang gue tanya itu lo, kenapa lo bisa sama Dani? Katanya.. udah trauma. Tapi lo masih tetep keras kepala" Ali hanya melirik Prilly sesaat.
"Gue udah nunggu lo berjam-jam, lo gak dateng, ngabarin aja gak. Dan akhirnya, Dani yang dateng."
"Gue udah ngabarin lo, gue telpon lo, tapi hp lo mati, akhirnya gue sms lo. Kalo kaya gitu, mesti salah gue juga? Salah Sinta juga? Hah?" Suara Ali sudah mulai meninggi.
"Hhh, tapi lo kan bisa telpon ke rumah gue atau ke Kak Di buat ngabarin. Kenapa sih? Sesusah itu?"
"Lo tau kan? Gue udah gapake telpon rumah lagi. Dan gue bahkan belum punya nomer kak Di yang baru. Lo lupa?" Lagi-lagi meninggi.
"Yaudah sih, biasa aja kali. Gue juga gak masalah kok lo mau jemput Sinta kek. Emang dia kan lebih penting buat lo"
"Gue sekarang bukan mau bahas Sinta! Gue mau bahas lo kenapa bisa sama Dani! Kenapa sih lo susah banget jawabnya!" Kali ini bener Ali pun ikut emosi.
"Mau gue jawab apa lagi? Gue udah bilang, bukan gue yang nyuruh dia dateng ke rumah gue! Itu semua karna dia yang dateng sendiri! Bukan gue yang mau!!" Prilly pun ikut meninggikan suara.
"Hahaha, Muna. Katanya, gak mau. Katanya, trauma. Tapi gue yakin lo seneng! Kalo pun, lo gak mau, lo pasti bisa nolak dia." Entah apa yang Ali pikirkan sampai dia bisa mengucap kata-kata seperti itu yang membuat prilly nyesek.
"Muna? Hey!! Lo emang gak pernah mikirin gue, Li. Lo gak pernah mikir apa alesannya gue bisa bareng dia tadi, gue cuma gak mau telat sampe sekolah! Itu doang gak lebih. Gue seorang Prilly yang gak pernah menjilat ludahnya sendiri! Inget! " Prilly berusaha menahan air yang ingin membahasi pipinya begitu saja. Ia pun langsung melengos pergi dari Kelas. Prilly tak tahan dengan gertakan Ali yang terus menerus mengintrogasi dirinya.
"Prill.. Prill.. " Ali mengejar keluar kelas, tapi sayang Prilly berhasil dengan cepat menjauhi Ali.
Sorry gue gak bermaksud Prill, Ali berbicara sendiri seketika ia menyadari kata-kata sudah terlampau membuat Prilly sedih.
Astaga Li!!!! Lo bego banget, kenapa lo bisa ngomong gitu!!! Arghhhh, prill maafin gue. Nyesel. Satu kata yang Ali pikirkan.
****
"Te, gue bareng dong pulang" Prilly mengejar Itte yang terlebih dahulu keluar kelas.
"Oh yaudah yuk" ajak Itte. Sesaat mereka ingin melangkah menuju parkiran.
"Prill.. Prill" panggil Dani. Hh astaga, kenapa lagi sih Dhino. Sesaat Prilly dan Itte pun berhenti.
"Bareng gue aja Prill, gue tau lo sama dia beda arah" Dani bener-bener seperti dukun.
"Gak usah. Gue sama Itte aja."
"Yaampun prill, gue cuma gamau lo kenapa2." Terang Dani yang sok Perhatian.
"Gausah sok peduli, sok care atau apapun itu. Karena gue ngga bakal luluh."
"Bodo prill, lo luluh atau gak. Gue cuma mau peduli aja sama lo." Dani pun menatap dengan tatapan sendu yang sulit diartikan.
"Terserah. Gue bilang gak, ya gak." Prilly pun langsung menggandeng Itte, tetapi tertahan.
"Tuh prill, yaudah gapapa lah. Lo sama dia, lagi pula gue juga mau pergi dulu prill, gapapa kan? " ucap Itte yang membuat Prilly kesal dengannya, kenapa Itte malah membiarkan seperti ini.
"Hhh, kok lo gitu sih? Gak ah, gapapa deh gue bareng lo, mau pergi kemana dulu gue gak papa kok." Prilly pun memohon pada Itte, tetapi sepertinya Itte tidak menerima permohonan Prilly
"Tapi prill, gue pasti sampe malem. Udah ya, lo gapapa sama Dani aja dulu. Yaudah, gue balik ya, mau langsung pergi dulu, bye prillyku! Muah. Sorry ya Prill. Dadah!" Setelah mencipika cipiki, Itte langsung pergi ke parkiran tak bertanggung jawab.
"Jadi, lo bareng gue kan?" Dani menatap dengan tatapan sok imut.
"Menurut lo? Sumpah, gue terpaksa ya!" Dani hanya menyengir melihat Prilly kesal seperti itu, rasanya sama seperti dulu. Masih imut, dan lucu. Prilly pun langsung berjalan mendahului Dani.
Tak lama, prilly melihat Ali yang keluar bersama Sinta yang menuji parkiran.
"Eh kak Prill, itu siapa kak? Pacar baru? Cie"
Prilly memutar bola matanya malas.
"Bukan siapa-siapa" Prilly langsung membalas dengan cepat sebelum Dani mendengar.
Dani mendekat ke Prilly dengan menyetir motornya yang hendak keluar.
Prilly yang masih kesal dengan Ali, hanya melirik sesaat
"Kenapa Li? Mau bilang munafik? Ya! Emang gue munafik" Prilly langsung menaiki motor Dani dan segera pergi dari mereka berdua. Sesaat Ali pun kaget saat Prilly berbicara seperti itu, ia pun menatap Prilly dari kejauhan dengan tatapan sendu, merasa bersalah.
"Kamu kenapa?" Tanya Sinta yang dibuat kepo.
"Engga. Udah yuk pulang" Ali hanya tak ingin, masalahnya dengan Prilly jadi diketahui oleh orang lain. Walaupun itu pacarnya sekalipun, ia tetap tidak mau
Muna, alias munafik. satu kata yang masih terlintas di otak Prilly sampai menjelang pulang.
Semenjak dari awal mereka beradu mulut, Prilly rasanya malas untuk berbicara dengan Ali lagi. Menatapnya saja rasanya sudah.... Ah entahlah.
-------
Tbc...
Advertisement
- In Serial17 Chapters
Tower of Arnold: A Somnus Story
The most underrated character of Tower of Somnus finally gets his due: Hear Arnold Jacques's side of the events for the first time ever. Read a story about how the world's nicest guy tried to win over the world's hottest girl by buying a hundred thousand dollar video game from space.
8 61 - In Serial57 Chapters
Path of Pandora – My Worldbuilding System
Hachiro Tanuki finds himself on a plain, floating in the void. Next to him is a mysterious obelisk, which upon closer inspection reveals a secret to the boy. [ Congratulations! ][ You’ve unlocked: “System of the Developer” ] Follow Hachiro Tanuki as he builds up the world around himself, while keeping it safe from the waves of monster attacks! – – – This novel is a mixture of Tower Defense and Sandbox. The world-building works similar to Roguelike titles, as in the protagonist unlocks new tiles and creatures over time, while enemies get increasingly stronger. If you want to see your idea for a tile, creature, or any mechanic make it into the novel, leave a comment on the newest chapter! I'd be more than happy to include any fan suggestions! ^^ Feel free to join our Discord! :D( https://discord.gg/2bGcaxHtC7 )
8 234 - In Serial38 Chapters
Mark of the Mountain [formally : the masked queen (drottingr)]
Lyssia - the masked Drottine of Ilvana - has to discover the strength of her own voice and uncover the dark secrets that threaten to undermine the safety of her people while maintaining her own secret, a struggle that may force her to choose between her kingdom and her life. * * * * * * * * * * Participant in the Royal Road Writathon challenge! * * * * * * * * * * Armed with an uncontrollable talent for premonition and a dangerous secret that could cost her her life, Lyssia - the masked Drottine of Ilvana - has to learn to survive in a land designed to weed out the weak. Lyssia always thought her survival at court depended upon her identity as the greatest pretender of all. But when Magnor - the newly crowned King of Dunival - arrives unannounced and threatens the tenuous peace between their two kingdoms, Lyssia soon realizes that he carries secrets even more dangerous than her own. As Lyssia struggles to discover the true intentions behind Magnor's visit, she is faced with an impossible choice: Sacrifice her secret - her freedom - her life to save a dying land... or allow Ilvana to be overcome by what lies hidden in the shadows. Can Lyssia find the strength to stand and fight for her people, or will the lies she has hidden behind her entire life prove too strong to be overcome? * * * * * * * * * * A kongdomr of warriors, though rusted their swords A kongdomr of voices, raised in hopeful song A kongdomr of drakuns, forsaken, forgotten A kongdomr of masks, neither young nor old A kongdomr of faces, expectantly raised To this new chance, a new age A new Drottingr Ilvana of legend Rise, Warriors, Rise * * * * * * * * * * CAST, DEFENITIONS, PLAYLIST CAST Ilvanian (the three-pointed mountain) Lyssia (Lys) - Drottine of Ilvana, heir, present day 22YO Dizean - Kongr of Ilvana, Lyssia's father Azerian (Az) - Lyssia's maternal cousin, present day 22YO Carryn - Lyssia maternal aunt, Azerian's mother Roakev (Ro) - Lyssia's paternal cousin, present day 24YO Eindre - Lyssia's paternal uncle, Roakev's father and Drengr Nimeah - Eindre's wife, Roakev's mother Seaka - old Lach and Lyssia's former caretaker Bjarke - Master Skald, employed the Kongr of Ilvana Aturnel (the guardian) - highest mountain point on Ilvania-Listoria border Thivness (the wildness) – dangerous, impassable cliff between eastern forest and sea Vatn – Lesser mountain named after the lake found at its feet Arvid – Lyssia’s Dubkir horse, named after her great grandfather Sikurd – Roakev’s Dubkir horse, named after an old hero from a Lay Isi - girl Lyssia meets on road to Steiner Mart Diyana - Lyssia's songbird, also Rilken's wife Ofrid - Lyssia's maternal cousin, close to Roakev's age Reeza - Lyssia's older maternal cousin, has a oat named OdilHoney - good natured mare rode by Lyssia Hanne – village representative’s niece celebrating her wedding Ardbon - Karl involved in Steiner Mart fight Liefer - Karl involved in Steiner Mart fight, his son’s name is Nurik Rilken - the last Drakun Kongr of Ilvana Steiner Mart - Eda-Yute Mart held every year in Steiner Field, also called the crossroads Gavin Brinson – young western Jarl, not allied with Halvor, his family crest is a raven Sidne – Gavin’s wife, very pregnant and very helpful Halvor - outspoken jarl from western stead Sorev – Halvor’s son, family crest is a bear in mid-maul, one of eight Jarlsons present, but the only one hailing from the west Fulrik – sonless western Jarl allied with Halvor Calvin – one of the Jarlsons atttending the peacemeet, the oldest and tallest of the lot Angar – eastern Jarl in possession of the Dubkir herd, family crest is a shield painted with bright green and yellow stripes Dubkir heir – Angar’s son…when will Lyssia learn his name? Ingar – former Kongr of Ilvana and Lyssia’s grandfather Scyftan River – the unofficial divide between eastern and western Ilvana Listorian (the five-pointed flower) Andev - Kongr of Listoria Igone (of the green thumb) - Andev's wife, Drottingr of Listoria Thisska - Listorian Drakun, bonded to Igone Linea - Drottine of Listoria, Murel's twin, heir, present day 20YO Murel - Drottine of Listoria, Linea's twin, heir, present day 20YO Ansev - Kongre of Listoria, twin's younger brother Sundric - Kongre of Listoria, twin's younger brother Giall - Jarl that travels to Ilvana with royal party Dunival (the spinning dustdevil) Magnor - recently crowned Kongr of Dunival, present day 25YO Tirne - Kongre-Slad of Dunival, younger son of Rijek, present day 22YO V???? - Magnor’s self-proclaimed “second”…another name Lyssia can’t seem to learn! Deceased Erina - Lyssia's mother, deceased Rijek – former Kongr of Dunival, deceased Anitra – former Drottingr of Dunival, Magnor and Tirne’s mother, deceased The Five Kongdomren - Ilvana, Dunival, Listoria, Sinnet, Nukrevn Aonta...Definition and Cast to be discovered DEFINITIONS Kongr/Kongre - King/Prince Drottingr/Drottine - Queen/Princess Kongdomr (Kongdomren) - Kingdom (Kingdoms) Jarl/Karl - landowner/non-landowner, may be beholden one particular Jarl Lach – healer Fyr/Slad - heir/none Middig/Dreg - master/apprentice Skald - historian and musician Drengr – champion Drakuns - Dragons, the Ancient Ones Bjurn – bear Elke(Elken) – gigantic, majestic elk, native to Ilvana Ban-maudr – “executioner thorns”, found in the eastern forest, very painful and hard to remove Yute - Thanks yearly celebration between cold and growing seasons Urd/Eda/Aon(-Yute) - past/present/future, two weeks each Lay - Ilvanian historical songs Laikari - Listorian historical plays Ridineig - fast-paced dancing tune Drigneig – type of song, a dirge, “opposite” of ridineig Lur - long trumpet like instrument Bowed lyra – larger version of hand lyra, played with a bowed stick Jorki – similar to a pan flute, jokingly called “child’s flute” Drakuns - Dragons, the Ancient Ones Diyana - songbird Wulv – wolf, native to Dunival Wulvken – umm…we’re still not sure Volvstot/wulvstot – “witchbrew/wolfbrew”, dark beer that Magnor brings from Dunival Fovk - fox Vas Morginnen - Good Morning Vas Heill - Good Health Vas Daginnen – Good Day Adhuil - prosperous, prosperity Ami - genderless term of endearment Dunga - insulting way of saying someone is stupid Saedas - sweetness, another way of saying happinessSaedhirte- sweetheart Hviss - an (improper) oath Slegrl – sly Standa – stop An-rivic – be still! Brudpar – “bridal pair”, bride and groom Dubkir – famous Ilvanian horses, half-wild and bred for the hunt * * * * * * * * * * Playlists: https://youtube.com/playlist?list=PLcaiTcdQkK6nXrjYq29srJ7GMsebdd-Sp https://youtube.com/playlist?list=PLcaiTcdQkK6msFQiYhbaYhZ0VqFJ0mROi Lyssia character portrait by @soretoothproductions!
8 363 - In Serial12 Chapters
The Wand and The Wolf
Kyda and Ibhan were opposing forces from the moment they met. But Kydas belief in mates keeps her tethered to the brooding warlock who had been happily living a life of isolation before he met her. Well, maybe not happily per se, but quietly and contently. But soon, a conspiracy within the pack, and some magic that just doesn't add up, finally begins to widen the chasm between the two of them. A chasm they had just begun to build a bridge over. Will the rule of opposite attraction win, or will the nature of their relationship burn out just as it should?
8 74 - In Serial8 Chapters
On the way up
in a world where one's potential is determined from birth, by a simple roll of the dice. one will find a boy who has had everything taken from him, now he is fighting his way up again. so that one day he may have the girl and the power that is rightfully his. English is my second language and I'm dyslexic, this is just fun, will try to upload relatively often but it's hard. cover is not mine. cant drav too save my life. soo if enny body want to make one i wood love that work in proces. wil opdate ass sune ass i get to ride at translate a new chapter
8 199 - In Serial18 Chapters
Dangerous Woman
Some girls like to do their hair and makeup. Others are more into sports. A few are bookworms. Many dream about marrying their true love.And then, there's Red.(AU where Red is female. I got this off a few stories on Fanfiction.net)
8 96

