《Future Partner》Dia lagi?
Advertisement
"Pagi Kak Di" ucap Prilly yang baru saja menuruni anak tangganya itu. Ia rupanya sudah rapih, udah siap untuk ke sekolah.
"Hai, Pagi Illyku. Udah siap banget nih kesekolah. " Jelas kak Di.
"Iyalah kan tiap hari tuh emang harus selalu semangat kak" Prilly mengoleskan selai srikaya di atas roti nya.
"Gimana kemaren acaranya? Have fun kann?" Kak Di mengira2 kalau memang seru..
"Oh , have fun dong Kak."
"Ohiya, Kamu hari ini gausah bawa motor dulu ya, motornya kakak service kemaren di bengkel Mang jono." Jelas Kak Di
"Loh,kok Kak Di gak bilang sama aku sih." Tanya Prilly sedikit bingung.
"Hm, gimana kakak mau bilang, kan kamu semalem balik malem"
"Eh iya kak, hehe. Yaudah kak gapapa.. "
"Nanti bareng kakak aja ya" Kak Di menawarkan tumpangan pada prilly. Entah mau atau tidak.
"Nooo, jangan kak. Ehmm, gak usah deh. Nanti aku biar naik angkot aja. Aku udah gede kak, jadi biar aja aku sendiri yah." Lagi lagi Prillypun menolak. Memang semenjak kelas 3 ini, Prilly sudah tak mau diantar dengan kakaknya. Mungkin gengsi.
"Yaudah deh, tapi kamu janji hati hati ya." Kak DI selalu memaklumi keputusan Prilly untuk tidak diantar.
"Sipp kak, yaudah aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum" Ucap Prilly sambil menyalami tangan kakaknya itu.
"Walaikumsalam," Kak Di mengelus pucuk rambut Prilly. Rasanya ia sangat sayang dengan adik semata wayangnya itu.
***
"Duh, mana sih angkotnya. Pada gamau rezeki apa ya..." Prilly melangkah terus menerus. Tepat di persimpangan jalan.
Byur...
Mobil sport melaju dari arah bersamaan dengan laju cepat dan tak sengaja menciprati rok span Prilly yang terkena air tergenang tepat di depan Prilly saat ia berjalan.
"Duh, tuh mobil gak bisa pelan dikit apa. Gatau disini ada orang!!!" Prilly mendengus kesal.
Tepat di depan Prilly di bahu jalan tersebut mobil Sport itu terhenti. Seseorang laki-laki pun turun dengan kemeja casual yang tak terlihat formal dengan tatapan teduh menghampiri Prilly.
"Mba, maaf ya mba saya gak sengaja..." ucap lelaki tersebut mengakui kesalahannya itu.
"Heh, lo tuh kalau...." Deg.... rasanya lidahnya terhenti sesaat. Saat Prilly berbalik badan, tibatiba Prilly tidak melanjutkan emosinya saat itu?
"Nik..niko." ucap Prilly sambil tercekat kaget melihatnya.
"Eh, Prilly, yaampun sorry, sorry banget ya. Gue gak sengaja tadi. Maaf ya.." Ternyata dia adalah Niko, ya... Niko temannya dulu di SMP. Dan sekarang mereka bertemu lagi setelah semalam dia mengantar Prilly pulang.
"Ehmm, yaampun Nik, iya gapapa kok. Sorry gue juga gatau mobil lo. Jadi mau main marah aja tadi. " Prilly pun menatapnya sesekali.
"Okedeh, tapi gue boleh anter lo? Ini sebagai permintamaafan gue. Gimana?" Niko tanpa teka teki, langsung to the point.
"Hm, gausah Nik, gapapa kali. Gue bisa naik angkot disini. Kayaknya juga lo buru2 tadi, gapapa kok Nik" Prilly menolak bukan untuk jual mahal tapi memang dia tidak mau merepotkan yang nantinya akan ada maksud lebih jauh.
"Prill, please ya. Izinin gue anterin lo, toh ini kan sebagai permintamaafan gue. Gue kan tanggung jawab orangnya. Mau ya?" Jelas Niko yang mengharapkan Prilly tidak akan menolak tawarannya.
"Hm,okedeh" Prilly pun mengikuti Niko dan ia masuk dan duduk di kursi mobil depan tepat di samping Niko.
"Btw, kok lo naik angkot?" Tanya Niko heran.
"Hm, gapapa kali sehat pagi2 biar olahraga. Hehe" jawaban yg memang menurutnya selalu sama ketika ditanya sama siapapun
"Oh, olahragawati juga ya Prill" ledek Niko sembari melayangkan senyumannya.
Hhhh, iya deh Nik terserah aja. Batin Prilly.
Dia hanya membalas dengan senyuman saja.
Tak lama setelah Prilly memberi tahu jalan ke arah sekolahnya. Mereka pun sampai.
"Nik, thanks ya atas tumpangannya. Maaf ngerepotin" ucap Prilly dengan rasa tidak enak hati.
Advertisement
"Iya gapapa Prill,malah gue seneng,jadi bisa tau sekolah lo hehe" Tawa Niko memberikan arti. Entah apa itu artinya. Prilly sendiri tidak pernah ambil pusing.
"Okdeh gue masuk ya,bye"
"See u Prilly" Prilly hanya membalas senyum lalu menjauh dari mobil Niko dan segera masuk ke kelasnya.
Ali yang sedari tadi memperhatikan Prilly turun dari mobil sport tersebut lebih memilih masuk terlebih dahulu. Kemungkinan Ali masih badmood dengan Prilly atas kejadian semalam.
"Haiii Preleee" begitu Itte memanggilnya saat Prilly masuk ke kelasnya.
"Apaan tuh Prele, nama gue Prilly, u know" Prilly menaruh tas dan menduduki kursinya.
"Yaelah buat asik2an,bentar deh... btw, itu rok lo kenapa????" Tanya Itte tanpa memperdulikan suaranya itu.
"huh, jadi ceritanya tuh gue nunggu angkot dan kecipratan sama mobil yang lewat jadi begini deh" Prilly memelaskan mukanya.
Tak lama Ali masuk dengan tampang dinginnya. Tumben.
"Haiii, Aleeee" Begitu juga Itte memanggilnya. Memang ini anak, suka sekali ganti ganti nama orang.
Takada jawaban dari Ali. Itte langsung melirik ke arah Prilly, dengan tatapan bingung lah Prilly membalasnya.
"Tte anterin gue yuk ke koperasi,ganti rok nih" ujar Prilly segera bangkit dari bangkunya. Sedangkan Ali hanya terdiam tanpa memperhatikannya.
"Yuukk cus" jelas Itte langsung menggandeng tangan Prilly..
Tuh anak tau gak sih dia buat salah. Bukannya negor gue minta maaf,malah nyelonong pergi. Dasar chub cheeks. (Re: pipi chubby)
Tapi emang dia salah apaan ya,gue juga bingung. Hh tau lah, hati lagi gaenak banget pokoknya pagi ini. kalo soal semalem sebenernya udah gak bete sih. Karna ya gue mengerti dia capek. Batin Ali.
Tak lama Itte dan Prilly masuk ke kelas, karna bel sudah berbunyi.
"Li.... lo tau gak sih.." Ucap Prilly menengok memanggil Ali.
Ali tidak menjawab.
"Li... gue mau cerita"
Ali hanya berdehem.
"Ali....." Prilly mulai mengeraskan suaranya.
"Bisa cerita nanti aja gak? Udah mau masuk kan" kali ini Ali menjawab tanpa memperhatikan Prilly didepannya
"Hmm" Lama lama Prilly pun kesal sendirinya jadinya. Salah apa dia sampai Ali sama sekali tak menghiraukan ucapannya.
Hening... itulah suasana saat pelajaran dimulai.
Hm, lama2 bosen juga gue kalo gak ngomong sehari aja sama nih anak. Huh. Untung gue ganteng baik hati lagi.
Bel istirahatpun berbunyi,
"Prill... " ucap Ali memanggil Prilly.
"Hmm"
"Maaf tadi nyuekin. Kan tadi udah masuk jadi ya sekarang aja. Lo mau cerita apa tadi?" Ujar Ali yang masih seperti biasa,badmood.
"Engga deh, gak jadi Li. Hmm" Prilly yang masih duduk di kursinya itu membalas senyum terpaksanya.
"Prill... mau cerita apa?" Ali segera duduk bangku di hadapan meja Prilly. Ia baik2 menanyakan ceritanya. Karna memang dia sebenernya juga kepo.
"Woiii, lu berdua ke kantin gak?" Itte berseru.
"Engga te, lo makan duluan aja" jelas Prilly . Akhirnya itte hanya jalan sendiri terlebih dahulu.
"Heii... gak jadi cerita nih? Yaudah gue kekantin ya." Tanya Ali (lagi). Berharap Prilly menahannya.
"Li.... Gue mau cerita kalo tadi tuh..."
Belum sempat ia bercerita, Sinta pacar kesayangan Ali datang menghampiri.
Duh sinta ganggu aja deh. Batin Prilly.
"Sayang, ternyata kamu msh dikelas, ayo kekantin . Aku laper bgt nih" ucap Sinta Manja yang membuat Prilly enek melihatnya.
"Oh iya, yaudah deh" Ali sebenernya rada terpaksa karna memang dia sangat kepo dengan cerita Prilly. Tapi apa daya, Sinta kali ini yg meminta. Dia tak bisa menolak.
Sejak kejadian di reuni itu, entah kenapa Sinta jadi jarang negor Prilly. Mungkin kesal dengan teman2nya. Tapi, Prilly sangat tidak memperdulikan hal itu.
"Prill,lo mau ikut gak?" Ali berharap Prilly mau ikut. " gausah Li" singkat Prilly. Ali menatap tak tega melihat Prilly harus sendiri di kelas.
"yaudah gue duluan ya Prill" Ali membalas senyum termanisnya. Sebenernya dia khawatir banget kalo Prilly sudah makan atau belum.
Advertisement
Hhhh bete ya lama lama. Kenapa waktu gue sama Ali sekarang bisa keitung ya...
Rasanya bedaaaaaa banget!
Bahkan untuk ke kantin bareng lagi rasanya jaraaang bgt.
"Loh, ali mana pril?" Tanya itte heran mendekati Prilly yang sendiri sedang memakai earphonenya itu.
"Prill" tanya itte lagi.
"Gatau,sama Sinta" jawabnya singkat dan ketus karena Prilly tidak peduli.
***
Bel pun akhirnya berbunyi, mereka masuk dan belajar seperti biasa. Akhirnya, prillypun tak sempat berbagi cerita dengan Ali tentang Niko yang tadi pagi mengantarnya itu sampai bel pulang akhirnya berdering.
"Prill... lo tadi mau cerita apa? Ali menahan prilly yang masih memasukan buku ke tasnya.
"Gak, gak jadi Li. Males"
"Kok males sih? Cerita dong." Ali sangat penasaran
"Gak penting Li, gak usah dibahas"
"Hm yaudah deh gue gak maksa. Lo mau pulang? Yuk bareng ke parkiran."Ali pun menyerah.
"Gue gak bawa motor," ucap Prilly singkat
"Loh trus lo tadi berangkat naik apa?"
"Woi,lo berdua masih mau ngobrol disini? gue keluar duluan deh jadi nyamuk gue kalo lama lama disini" Itte pun bersuara saat merasa sudah ngga mood nunggu mereka.
"Iya masih lama te," ucap Ali
"Hm, yaudah Te lo duluan aja. Hati hati ya" Jelas Prilly.
"Hey, lo belom jawab jawaban gue tadi" Ali menggeser kursi di dekat Prilly dan mendudukinya"
"Sama Niko."
"Kok bisa sama Niko? Dia jemput lo? Kok lo gak cerita sama gue? Ali menatap sinis,rasanya dia sangat sensitiv apabila membahas tentang Niko.
"Gak sengaja ketemu dijalan. "
"Jadi lo tadi mau cerita tentang Niko yang nganter lo ke sekolah?" Ali pun menangkap maksud dari prilly.
"Iya. gak penting juga kan? Udah ah yuk keluar" Prilly hampir berdiri dan Ali masih menahan
"Penting lah,sekarang lo cerita deh, kok bisa ketemu dijalan?" Ali sangat penasaran sekali rupanya.
"Hm, gue niatnya mau naik angkot tapi pas gue nungguin, mobil dia lewat dan kenceng banget, trus dia gak liat kalo ada genangan air. Terus rok gue kecipratan air itu,jadi basah kotor. Dia gatega sama gue, akhirnya dia nawarin tumpangan buat anterin gue kesekolah. Yaudah gue mau." Prilly menjelaskan secara rinci kejadian tadi pagi itu.
"Kenapa lo mau?"
"Awalnya dia yang maksa. Tapi setelah gue pikir gaada salahnya. Toh itu sebagai permintamaafan dia."
"Lo kenapa gak telfon gue dari awal biar bisa berangkat bareng Prill."
"Bareng? Sinta mau lo taro mana? Udah lah. Gausah dibahas lagi."
"Ya kan gue bisa bawa mobil Prill"
"Gausah. Udah yuk keluar" prilly menutup pembicaraan tersebut agar Ali tidak membahasnya lagi. Dan dia mulai berdiri dan Ali mengikutinya berjalan keluar.
"Terus motor lo sampe kapan?"
"Gatau lusa kayaknya"
***
"Sayaang,ih kamu kok gak tungguin aku sih" Sinta berlari mendekat pada Ali yang baru saja melangkah keluat dari kelas dan bergelayutan manja di tangan kekar Ali. Rasanya Prilly malas melihat itu.
"Eh iya, maaf ya Sin. Yaudah yuk ke parkiran"
"Li, bentar deh, liat itu mobil kan mobilnya Niko!" ucap Prilly yang sedari tadi melihat mobil itu masuk ke halaman utama,
"Serius?" jawab Ali yang tiba-tiba ikut berhenti begitupun Sinta yang melirik heran.
"Iya,gue inget banget. Tadi dia nganter gue juga pake mobil itu" Jelas Prilly.
"Mau ngapain dia kesini,Prill?"
"Sumpah, gue gak nyuruh dia buat jemput gue loh Li" Prilly semakin heran dengan Niko.
Niko yang sudah memarkirkan mobilnya itu menghampiri dan berjalan mendekat ke arah Prilly, Ali, dan Sinta.
"Hai, Prill..." Sapa Niko
"Eh, Hai Li" Niko yang melihat Ali dan menyapanya
"Hai juga Nik" Ali dan Prilly berbarengan
"Prill, Aku kesini buat jemput kamu. Pulang bareng yuk" Jelas Niko yang membuat Prilly kaget.
"Ha? Tapi...." Prilly melirik ke mata Ali dengan memberi kode bahwa ia meminta izin.
Dan Ali membalas dengan tatapan teduhnya menandakan bahwa Ali mengizinkannya walau terpaksa. Yang terpenting bagi Ali, Prilly pulang dengan selamat. Prilly pun mengerti maksud dari sorotan mata Ali.
"Hm kenapa gak mau ya?" Tanya Niko seperti pasrah
"Hmm, ma..mau kok Nik."
"Yaudah yuk." ajak Niko
"Li, Sin duluan ya" Ucap Prilly yang hanya memberi senyum pada Ali.
"Hati-hati Prill" Ali menjawab dengan perhatiannya.
Sinta yang memperhatikan mereka dari tadi hanya diam seribu kata.
"Duluan Li." Ucap Niko dan dibalas anggukan oleh Ali.
Prilly sudah menuju parkiran mobil Niko. Begitu juga dengan Ali menuju parkiran motor bersama kekasihnya itu..
***
"Prill, kamu satu sekolah sama Ali juga?" Tanya Niko penasaran
"Iya,kenapa Nik?"
"Gapapa, bagus jadi ada yang jagain kamu" ucap Niko hanya memberi senyum singkatnya
"Iya Nik.."
"Btw, cewe tadi sebelah Ali itu siapa?"
"Oh Sinta, dia pacarnya Ali,Nik." Jelas Prilly
"Oh jadi,sekarang Ali udah gak takut sama cewe Prill,eh maksud gue.. udah berani pacaran?" Tanya Niko yang membetulkan pertanyaannya itu
"Iya udah berubah dia"
"Aku kira kamu yang bakal pacaran sama dia" pertanyaan Niko berhasil membuat Prilly tersentak dan melirik Niko
"Haha, Nik, Gue sama dia udah kayak sodara jadi mana mungkin" Prilly membalasnya dengan apa adanya
"Hm, nobodys know gonna what happen,Prill. Oiya pril, sabtu besok ada acara?" Niko tersenyum membalas jawaban Prilly
"Engga Nik. Kenapa?"
"Aku mau ajak kamu ke bandung ke kedai aku prill" ajak Niko.
"Oh gitu Nik, nanti gue kabarin deh ya bisa atau gaknya."
"Oh okedeh, kamu tulis kontak hp kamu aja tuh dihp ku. pass locknya Stela. Jadi nanti bisa aku kabarin kamu lg"
"Udah Nik" Prilly berfikir, mungkin Stela itu kekasihnya. Ah sepertinya Prilly tidak memperdulikan hal itu.
Tak lama sudah sampai di depan rumah Prilly.
"Makasih banyak ya Nik" Prilly pun membuka knop pintu mobil Niko dan bergegas keluar.
"Iya sama sama Prill"
"gue masuk dulu" Ucap Prilly dan Niko membuka jendela dan tersenyum mengiyakan.
Niko segera memutar mobil dan berlalu dari rumah Prilly.
Ketika Prilly ingin membuka pintu,ia di kagetkan dengan suara motor yang masuk ke halamannya..
*Tinnnnn*
"Ali.." Seru Prilly melihat motor Ali
"Heh, pipi bakpao" Teriak Ali sambil memarkirkan motornya dihalaman rumah Prilly. Ali segera membuka helm dan menaruh di jok Motor nya itu. Dan menghampiri Prilly yg masih mematung.
"Omg, heh Lentik ngapain lo kesini?"
"Enak aja lo, manggil lentik2. Emang eyke apaan?!!" Tegur Ali sembari bercanda
"Emang lentik tuh bulu matanya! Gue aja kalah" Ledek Prilly sembari duduk di kursi teras dan membuka sepatu ketsnya.
"Ini mah pake bulu mata palsu cyin! Makanya beli juga dong cyin!" Ali mengerdik tangannya seperti berlaga perempuan.
Prilly yang melihatnya geli.
"Hahah Najong tralala deh Li. Semoga keterusan" Prilly pun tertawa ceria melihat Ali.
"Hush, amit-amit deh Prill. Ih merinding gue bayanginnya" Ali pun menyudahi bercandannya itu. Sepertinya Ia takut keterusan. (Cucok)
"Btw, lo ngapain Ke sini?" Prilly pun menanya serius.
"Menurut lo? Emang gak boleh? Gue cuma mastiin lo pulang selamat"Tanya Ali melirik
"Ya boleh lah! Duhilah, ini gue utuh kok pulang dengan selamat" Prilly pun membalasnya sembari melirik Ali
"Terus tadi Niko gimana?"
"Gimana apanya?"
"Maksud gue.... dia gak ngapa-ngapain lo kan?"
"Heh sompret, lo mah nethink mulu. Gue bakal bilang kok kalau dia ngapa-ngapain gue." Jelas Prilly meyakinkan sahabatnya itu.
"Ohiya harus!!! Terus lo ngobrolin apa aja di mobil?" Harus banget ya Ali seposesif sampe kayak gini. Batin Prilly.
"Hm,mau tau aja apa mau tau banget?" Prilly pun meledek Ali yang sedang penasaran sembari memeletkan lidahnya dan Prillypun langsung masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Ali yang masih duduk di bangku tersebut.
"Prilly!!!! Pipi bakpao!! Awas lo ya!" Teriak Ali sembari berlari kecil masuk kerumah Prilly dan menghampiri Prilly menuju teras belakang.
"Sue lo! Capek gue!Hosh..hosh" Tegur Ali sambil diam dan duduk di kursi kayu tepat di Gazebo belakang.
"Hahah, emang enak!" Prilly pun juga duduk disebelahnya.
"Niko gak ngomong apa2 kok. Cuma dia ngajak ke bandung" Jelas Prilly jujur kepada sahabatnya itu
"Ha? Ngapain?!" Teriak Ali kaget mendengarnya.
"Dia ngajak gue buat liat kedai nya disana" Balas Prilly enteng sambil berdiri dan menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Terus lo mau??" Tanya Ali penasaran..
"Gue belom bilang bisa atau engganya. Makanya tadi dia minta kontak hp juga biar nanti bisa kabar2an."
"Hm itu mah dia Modus prill!" Ali langsung sewot dan membalas sperti itu.
"Masa? Ya kalo lo gak izinin sih gue gak bakal pergi. Tapi.. kalo lo izinin gue bakal..." belum selesai Prilly menjawab, tetapi Ali sudah berbicara duluan.
"Gue izinin!" Tegas Ali tanpa pikir panjang.
"Yakin? Tapi kok gue yakin yah?" Prilly berbalik badan dan melirik tajam mata elang Ali.
"Ya, gue izinin. Asal.. gue juga ikut" Ali pun mengizinkan tetapi ya memang ada syaratnya. Mana mungkin, Ali membiarkan sahabatnya pergi tanpanya. Dari dulu juga ngga pernah bisa.
"Hm, tuhkan pasti deh ada embel2nya!" Prilly memutar bola matanya sudah tau kebiasaan Ali.
"Hahah, iya lah harus pipi bakpao!!" Ali mendekat dan mencubit gemas pipinya yang memerah seperti tomat itu. "Lo kan tau gimana gue. Masih inget sama kata2 gue dulu kan? Jangan pernah pergi sendiri apalagi sama cowok... " sambung Ali. Dan dengan cepat Prilly menjawab. "Tanpa Aliandra Syahreza" Prilly mengerucutkan bibirnya sambil duduk di kursi kayu tersebut. dan Ali menatapnya tajam dengan senyuman mautnya itu.
Bayangkan saja. Dari dulu memang saat Prilly bertemu atau pergi dengan cowok lain selain Ali, Ali selalu ikut mengawasi dirinya. Makanya, Prilly malas untuk dekat cowok lain. Pasti bakal ribet gini. Hm ya walaupun Prilly tau. Bahwa Ali begini, karna dia yang emang posesif sama gue. Dan sekarang terjadi lagi. Batin Prilly.
-----------------------------
Jgn lupa votement ya guys
Maaf kalo belum dpt feelnya huhu.
Makasih guyss
Advertisement
- In Serial71 Chapters
The Exiled Villainess Returns
(Please heed the warnings above before reading) Reborn into the beautiful but deadly world of Ethetia, she comes to a sudden awareness that she is now Livia Katrina Valentine, a character of a game of a reverse harem she once played on Earth called Aster Academy: The Feuding Houses. But this revelation comes a bit too late. You see, Livia wasn't just anyone. She was not given the anonymity of being a background character, or even the blessing of being the heroine. Instead, she has bestowed the role of being the atrocious villainess. And that is exactly what she had been. As a result, Livia triggers her own death flag event at her debutante. Her memories of her past life have the grace to come only minutes before she is accused of poisoning the heroine, Amelia. But all is not helpless. Via last-minute intervention, Livia successfully manages to avoid having her head decapitated. Being exiled was a small price to pay for retaining a pulse. Plus, at least this way, Livia can finally start to live her life, to become more than just a cruel folly. Her exile should have been a new but unusual beginning to her story. But pitiless reality comes knocking. Ethetia had once only been a background setting in a game. A pretty and still picture that mostly went disregarded as the even prettier characters on the screen unloaded their dialogue, but now, it was Livia's world. As real and wonderous as planet Earth once had been, filled with small creatures with their own wills, ambitions, and needs. Such one creature decides that exile was not enough of a penalty. That Livia, the bullish and jealous tormentor of the heroine, deserves a fate more befitting of her past deeds. One worst than death. Livia's fate is ripped out of her hands. She is forced into a collar, sold to an empire rotten with greed, and placed inside a harem where she is expected to wither and die from the inside out. But Livia refuses to be forgotten. Burning with a deep rage against those who only wish to see her fall into her own grave, Livia makes a twisted promise to herself. A promise that pushes her through the darkest moments of her life and brings to light a newfound power rooted deep inside her. So keen to discard her as the villain she has once been, the little creatures in their own ignorance brought forth something they could never dream to fathom. A beacon of darkness.
8 160 - In Serial149 Chapters
Stranger than Fiction (Draft Edition)
Rewrite -> https://www.royalroad.com/fiction/55140/stranger-than-fiction 150k words of rewritten and new content, updating 3 times a day. Faith is like ice-cream. It comes in all flavors. Greek, Norse, Sumerian, Christian— just name it and it's there. Adventures, on the other hand, are like credit cards. The first taste is free, but the price only goes up from there. Family heirlooms, now those are true evil. You get burdened with them for sentimental reasons even if they’re icky. For Lukas Aguilar, it was a pendant. A small, weird metal nib with absolutely no vampiric tendencies. All he wanted was to finish the job at hand, and get on that book he had been postponing for a while now. Instead he got served with an apocalypse for breakfast, a cave full of eldritch monsters for the company and the whims of a ruined goddess for his To-Do list. Really, a simple NO from the universe would have sufficed. Acknowledgments Editor-in-Chief: Solo Starfish Artwork: Exodus
8 132 - In Serial8 Chapters
A Slothful existence
"In the endless and timeless nothing, the supreme one, Ahkasah, used its endless strength to create the world. It ripped its divine flesh and used it to form the countless dimensions. Its veins became the tunnels connecting dimensions. Its primordial breath evaporated and became the building block of everything, mana. It plucked its countless eyes to make the sun, the two moons and the countless stars. Its heart became the core of the world and its blood became the inhabitants of this world - the first gods." - 'The beginning', page 1, author unknown. This is the story of two Gods - Ahkasah and its usurper - and the artificial abomination they created that cuts the threads of fate - the undying behemoth. ---- One release per two weeks Also released on Webnovel under the same name.
8 162 - In Serial26 Chapters
Desmend Dylan: How to Build A Kingdom
Desmend Dylan is summoned to another filled with kings, queens, dragons, dwarves, horses, fortress, magic, and swords! And fucking hates it! From the modern world, Des has no interest in doing this. But Des is forced by the Goddess to be the king of a large Empire with extensive resources and people. In order to go home and cash in that lottery ticket, Des MUST get rid of the enemies of the with his knowledge of the modern world and countless hours of Tabletop, RTS, RPG, Base Building, and hours of political tv shows. He will face tedious shit. This world contains both native humans and a number of fantastical races, including elves, dwarves, and hobbits. However, the world is at war, with the humans waging a losing conflict against another group of great warriors, the "Blight," who wish to bring the end of the world.
8 112 - In Serial12 Chapters
Knowledge and Power
A lot of "Reborn/summoned into another World" stories already exist. And this is just another one of those. A renowned scientist died and is reborn in another world. While still living within our world he craved for knowledge but therefore was alone. He had no actual experience in actual relationships or anything else like that. And thus he gets another chance in another world. Most of his memories are still there and in this medieval world filled with adventures and magic he uses his knowledge to build machinery and develope new technology, while trying to socialize. He even tries to learn magic and invent revolutionary machinaries that are able to simplify everyones work and bring prosperity to the people. Even though he has a magical aptitude there is a problem with him, which makes this seemingly impossible. Absorbed in his work will he be able to change and socialize, or will it all be for naught and he falls back into his old habit. This story is something like his diary and without going too far into detail, experience it for yourself.
8 180 - In Serial23 Chapters
✔ War for me ( Yandere Jenlisa x Fem reader x Yandere Chaesoo )
[ COMPLETED ]You think you know someone, when you really don't. Lies cover up the truth. Bestfriends that I've known for life, but they aren't who I knew them as. Everything happened so suddenly and there was blood shedding because of me. People fighting to have me as theirs, I was truly trapped. " 𝕊𝕙𝕖 𝕓𝕖𝕝𝕠𝕟𝕘𝕤 𝕥𝕠 𝕦𝕤 " " 𝕀 𝕕𝕒𝕣𝕖 𝕪𝕠𝕦 𝕥𝕠 𝕥𝕣𝕪 𝕥𝕒𝕜𝕚𝕟𝕘 𝕙𝕖𝕣 𝕒𝕨𝕒𝕪, 𝕤𝕙𝕖 𝕚𝕤 𝕠𝕦𝕣𝕤." " 𝕃𝕖𝕥 𝕥𝕙𝕖 𝕨𝕒𝕣 𝕓𝕖𝕘𝕚𝕟."𝗣𝘀𝘆𝗰𝗵𝗼𝗽𝗮𝘁𝗵 - 𝗮 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗼𝗻 𝘀𝘂𝗳𝗳𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗳𝗿𝗼𝗺 𝗰𝗵𝗿𝗼𝗻𝗶𝗰 𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝗹 𝗱𝗶𝘀𝗼𝗿𝗱𝗲𝗿 𝘄𝗶𝘁𝗵 𝗮𝗯𝗻𝗼𝗿𝗺𝗮𝗹 𝗼𝗿 𝘃𝗶𝗼𝗹𝗲𝗻𝘁 𝘀𝗼𝗰𝗶𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗵𝗮𝘃𝗶𝗼𝘂𝗿.That's who they were.Started: February 24, 2022Ended: April 21, 2022cover by - @YEONA_DA_GREAT
8 232

