《[Indonesian] Great world traveler》Chapter empat
Advertisement
Beberapa jam kemudian setelah aku meninggalkan hutan kabut aku sampai disebuah kota perbatasan, kota Jerkin.
Saat ini aku sedang berada di salah satu bar kota dan sedang menikmati makan malamku berupa daging panggang tusuk, yang dioleskan saus hitam yang rasanya seperti kecap.
Bukan hal yang sulit untuk memasuki kota, hanya dengan menghipnotis para penjaga gerbang aku sudah dapat memasuki kota ini, tanpa perlu mengatakan sepatah kata pun. Tapi hanya unutk kali ini saat aku membutuhkan informasi lebih dari siapa pun, aku tidak boleh memanfaatkan kekuatanku untuk hal yang buruk terus-terusan. Hal itu hanya akan membawa dampak buruk pada jiwaku nantinya. Dan ia pasti akan marah.
Mayoritas penduduk kota Jerkin hanyalah orang biasa, pedagang dan petualang. Para petualang biasanya melakukan pekerjaan dengan melaksanakan quest-quest yang disediakan oleh guild. Dan para pedagang biasanya menjajakan barang dari luar atau dalam kota. Sebelum memasuki kota, aku juga melihat para pedagang dan para petualang yang mengantri di depan gerbang. Ini hampir seperti game. Ya, jika kuingat dulu memang begitu. Hanya saja dulu masih belum berkembang seperti sekarang. Aku memang telah melewatkan banyak hal.
Aku tak berpikir, kota di wilayah pinggiran, seperti ini akan memiliki penduduk sesibuk ini. Dulu seingatku kota dipinggiran tak beda jauh dengan desa. Bangunan mereka dominannya seperti rumah penduduk desa, dari kayu. Sedangkan sekarang dominan bangunan kota terbuat dari batu.
Hn, aku masih penasaran dengan kota-kota yang lain apalagi dengan ibukota kerajaan Hyugland. Sepertinya mereka menggabungkan banyak kerajaan kecil hingga membentuk sebuah kerajaan besar. Itu mungkin dampak dari peperangan melawan ras iblis. Bukan dampak yang buruk, kurasa.
Konflik antara ras iblis dan manusia menciptakan persatuan antar kerajaan manusia, yang biasanya saling berperang. Mereka menyatukan kekuatan untuk melawan ras iblis. Tapi aku masih bingung, bagaimana hal itu dapat terjadi? Dulu, tidak ada permushan seperti ini antar ras.
Namun sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu. Untuk saat ini aku harus kesana terlebih dahulu. Lalu aku mendengar pembicaraan beberapa orang yang kuduga adalah petualang, yang duduk di meja belakangku. Sebenarnya niatku disini memang untuk mengumpulkan informasi.
"Hei! kau tau, kudengar Academy town kembali membuka pendaftaran murid baru" [petualang A]
"Yah... Aku sudah tau itu, aku sudah mendaftarkan putriku sebulan yang lalu... " [petualang B]
"Sebulan yang lalu? Kau tak menceritakannya padaku? " [petualang A]
"Untuk apa? Kupikir itu percuma saja" [petualang B]
"Ha?" [petualang A]
"Kau mau masuk kesana bukan? Itu percuma, mereka membatasinya dengan umur, untuk manusia batasnya adalah umur 20 tahun. Kau sudah 36, mana bisa masuk kesana, dasar bodoh!!" [petualang B]
(Oh, jadi sekarang ada yang namanya Academy ya?, dan namanya 'Academy town', apa kah itu sebuah kota Academy? Kenapa mereka memberi nama yang membosankan seperti itu,... tapi... menarik.)
Setelah mendengar informasi yang menarik aku kembali diam dan mendengarkan pembicaraan lanjut mereka, sambil meneguk segelas air. Tapi akhirnya aku terkejut...
"Begitukah? Jadi tidak bisa ya, padahal aku ingin melihat kecantikan elf yang seksi itu" [petualang A]
Mereka membicarakan tentang elf. Ras elf yang biasanya identik dengan hutan karena ras mereka yang tinggal di hutan dan menjaga kelestarian hutan dengan ketat. Kadang mereka dijuluki sebagai peri hutan, karena ras mereka masih kerabat dari ras peri. Ciri-ciri mereka adalah bertelinga panjang dan berbadan ramping. Ras elf juga adalah ras paling Setia kepada orang yang dipercayainya dan takkan pernah menghianatinya. Jenis ras yang tunduk dengan masternya.
Advertisement
Seringnya elf wanita, di jadikan budak s*x karena bentuk tubuh mereka yang mempesona, belum lagi keindahan dari telinga panjang dan wajah halus mereka. Tapi ada satu elf yang berbeda di dunia ini, seorang elf wanita yang kekuatannya diperkirakan dapat melenyapkan sebuah kota dalam sekejap, bahkan lebih. Jantungku berdetak kencang mengingatnya, perasaan ini semakin memuncak kala aku mengingatnya.
(Elf? Apakah itu...? tidak... tidak mungkin.)
Semakin ku perjelas pendengaranku.
"Ha?! Kau mau cari mati apa, daftar ke Academy hanya untuk mengintip keseksian kepala Academy, Felis Kelina sang elf paladin!? " [petualang B]
Brussh
(Apa? F-Felis? Jadi Kepala Academy? Dan Elf paladin?)
Sesuatu yang membuatku terkejut, hingga menyemburkan air di mulutku. Setelah mereka mengatakan tentang 'Felis Kelina'. Seorang elf wanita pirang gelap, yang menjadi teman pertama sejak petualanganku di mulai, dan yang selalu Setia denganku.
Sulit dipercaya
Dialah elf yang berbeda dengan yang lainnya. Itu karena ia adalah elf dari dunia yang berbeda, yang telah melakukan banyak perjalanan bersamaku, dan mendapatkan banyak kekuatan selama perjalanan. Di adalah teman seperjuanganku, kekasihku. Tapi aku tidak tau, sekarang ia sudah di takuti seperti itu, Elf Paladin? Kepala Academy? Yang benar saja... apa yang sudah kau lakukan selama ini, dan apa yang sudah aku lewatkan???
"Hei... Kau bicara terlalu keras..." [petualang A]
Mungkin mereka menyadari aku terkejut. Itu karena aku cukup kuat menyemburkan air dimulutku sehingga mereka mengetahuinya.
"Ah, maaf" [petualang B]
"...Aku tidak ingin ada orang yang merebut elf itu sebagai target cintaku, aku ingin menikmati kecantikannya.. Dan tubuhnya" [petualang A]
(Bajingan itu....apa yang mereka bicarakan?)
Entah kenapa aku menjadi panas dan ingin menghajar mereka. Mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan. Itu seperti pelecehan bagiku.
"Sebaiknya jangan, kau hanya akan mati sebelum berhasil mendapatkannya! Elf paladin tidak se-bodoh dan se-lemah yang kau kira. Tapi..... aku juga ingin menikmati nya sedikit" [petualang B]
Bruak
Suara hentakan tanganku di meja terdengar oleh semua orang di ruangan itu. Mereka merasa terganggu dan itu membuat mereka menatap kesal padaku.
"Bisa tenang, tidak?! " [orang1]
"Jangan berisik!! " [orang2]
"Tolong tenang, tuan! " [pelayan]
Sedangkan aku hanya berdiri diam sambil menunduk. Perasaanku pukulanku tadi cukup pelan. Mungkin aku tak menyadarinya karena emosi. Aku bersyukur tak menghancurkan meja ini, karena aku tidak mau repot membayar uang ganti rugi.
"Hei, bocah! Jangan berisik kau! [Petualang A]
"...."
Aku diam sejenak mencari kata-kata yang Bagus untuk di ucapkan. Lalu, merasa sudah siap aku pun menoleh kearahnya, sambil menunjukan tatapan dan ekspresi menantang. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya. Tapi aku yakin, emosinya meningkat setelah melihat reaksiku.
"Terimakasih informasinya, dengar pak tua! aku! akan ke Academy town dan mendapatkan elf itu lebih dulu! dan menjadikannya milikku! Sehingga kalian tidak akan bisa mendapatkannya. Dan.... Tentunya, Aku juga akan menikmatinya.... tua-tua seperti kalian tidak pantas mendapatkannya!! "
Entah dari mana munculnya kata-kata jahat seperti itu, tapi sebenarnya itu tidak benar. Aku memang sudah mendapatkannya sejak lama. Aku tidak benar-benar melakukan hal-hal kasar terhadap Felis. Tapi jika kuingat, dulu malah ia yang sering memintaku untuk melakukan hal-hal kasar itu.
"K-kau_" [petualang A]
Ekspresinya mulai kacau, kutebak ia tidak tau apa yang harus dikatakan. Kemudian pak tua disebelahnya tersenyum dan menggantikan ia untuk berbicara.
"Baik! Aku akan pegang kata-katamu bocah! Apakah kau akan berhasil mendapatkan elf itu atau tidak? Jika berhasil, aku akan memberikanmu putriku jika tidak aku akan memburumu sampai mati. Bagaimana? " [Petualang B]
Advertisement
Ia membuatku bertaruh, apakah aku bisa mendapatkan Felis, atau tidak. Jelas saja aku sudah mendapatkan hatinya sejak lama. Haruskah kukatakan itu? Tentunya tidak, aku tidak ingin membuat gempar sedunia.
Juga, aku tidak menginginkan putrinya sama sekali. Apa yang membuat seorang ayah berpikir untuk menjual putrinya sendiri? Aku tidak tau.
"Aku tidak tau apa yang membuatmu bertaruh seperti itu, tapi baiklah! Akan kuterima"
Setelah mendengar jawabanku, ia pun tersenyum. Aku tak dapat mengartikan senyum itu, yang jelas itu bukan senyum jahat. Lalu ia mengulurkan tangannya.
Awalnya aku agak curiga apa yang akan dilakukannya, tapi ternyata itu aman-aman saja.
"Hm.... Cordy Mayor, itu namaku! "
Nama yang aneh kupikir. Lalu namaku... namaku... mungkin akan buruk jika aku memberitahukan nama asliku jadi, namaku bagi mereka adalah...
"?Baiklah... Aku Nikola Mylene,"
Alasanku tidak menggunkan nama asliku, aku takut ternyata aku sudah dikenal sebagai legenda di dunia ini. Dan kembalinya diriku akan membuat menggemparkan satu dunia.
" Dengan begitu kau, telah menerima taruhanku Cordy Mayor. Sang Raja taruhan yang tak terkalahkan, bertaruh untuk mendapatkan Felis sang elf paladin! Jika kau tidak berhasil aku akan memburumu sampai mati, tapi jika kau berhasil kau akan mendapatkan putriku sebagai hadiahnya!!!" [Cordy]
Ia mengucapkan itu dengan keras, dan itu menarik perhatian semua orang.
"""Uooo"""
Setelah itu cahaya muncul dari tangan kami yang bersalaman. Membentuk sebuah lingkaran biru lalu membungkus tangan kami, dan menghilang. Aku merasakan firasat buruk tentang hal ini.
(Sialan...)
Dan terlebih semua orang di ruangan menonton dengan takjub, bersorak, dan mata melongo. Mereka semua menghentikan makan dan menonton kami. Sepertinya pak tua ini, terkenal di kota ini. Dan Raja taruhan katanya? Aku jadi ingin tertawa, tapi kutahan.
Kemudian kami melepaskan tangan kami.
"Taruhan sudah di pasang, dan kau tidak akan bisa lepas darinya. Jika dalam waktu sebulan kau belum melaksanakannya, maka aku akan terus muncul didekatmu dan menerormu sampai mati!! Apa kau takut bocah? kau telah terjebak" [Cordy]
Ia mencoba menakutiku, dan mengatakan telah menjebakku. Itu percuma aku sama sekali tidak merasa terjebak. Namun setelah kupikir sekali lagi, kurasa aku memang terjebak, untuk mengurus putrinya suatu hari nanti. Ah, aku takkan peduli soal itu.
"Fhufu... Aku tidak takut. Aku bahkan akan menyelesaikannya dengan cepat. Itu hal yang mudah..." [Nikola]
"Bhuahahaha... Aku suka gayamu. Kalau begitu buktikan. " [Cordy]
"Baik., kurasa sudah cukup, aku pamit dulu. " [Nikola]
Dan, datang sudah satu masalah.
Aku sangat tidak ingin menciptakan harem dimasa depan kelak, ataupun di masa yang telah berlalu. Jadi akan ku pikirkan soal Putri tuan Cordy kapan-kapan.
~
Setelah pamit, aku membayar makanan dan menuju keatas, tepatnya ke kamar sewaanku. Seperti yang kukatakan sebelumnya ini adalah penginapan dan restoran.
Aku beruntung, ternyata Zelioth telah menyiapkan 10 koin emas di kantong jubah yang di berikannya.
Uang disini terbagi atas koin tembaga, perunggu, perak, dan emas. 1 koin emas sama dengan 10 perak, sama dengan 100 perunggu, dan sama dengan 1000 tembaga. Dan biaya penginapan satu malam adalah 1 koin perak, ditambah makan malam 3 koin perunggu. Itu biaya yang cukup murah bagiku.
Kemudian aku juga telah menerima taruhan aneh, dari orang aneh. Yang menawarkan Putrinya sendiri seperti barang. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang ayah bisa menjadikan putrinya sebagai hasil taruhan untuk orang yang tak dikenal. Hanya satu yang bisa kusimpulkan, 'ia gagal sebagai seorang ayah', mungkin saja, atau 'ia sudah muak dengan kenakalan putrinya' itu akan menjadi buruk jika aku menang.
Huh..., sudah banyak aku menyaksikan hal seperti ini, di bagian dunia-dunia yang lain.
Jadi tidak ada gunanya aku berpikir terlalu keras, yang ku perlukan saat ini adalah istirahat untuk perjalanan besok, ke-Academy town. Sebelum itu, aku mengirim sebuah transmisi,
Aku akan ketempatmu, jadi tunggu aku disana. Aku akan dalam mode penyamaran.
Setelah itu aku tidur. . .
~~
Di sebuah gedung Indah, di salah satu ruangan yang lampunya masih menyala, dan berbeda dari semua lampu atau alat penerang sihir yang ada di dunia itu.
Seorang elf wanita berambut pirang gelap, Felis Kelina. Menatap lembut ke-kejauhan kawasan hutan di hadapannya, lewat jendela yang terbuka dan angin yang menggoyangkan rambutnya dan menerpa tubuhnya, membuatnya lebih erat memeluk dirinya di dalam mantel merah gelap yang hangat itu.
"Baik... Aku akan menunggumu, Sayangku Armil"
Lalu air mata mengalir di wajah cantiknya, dan jatuh ke lantai. Ia menangis bukan karena sedih, lantaran itu karena ia senang, dan bahagia. Setelah menerima sebuah kabar, langsung tanpa perantara.
Kemudian ia menutup jendela mematikan lampu, dan berjalan menuju kamarnya.
Lalu, tidur...
~~~
Beberapa Bulan yang lalu, sebuah desa telah hancur menjadi reruntuhan kerena serangan goblin. Semua laki-laki disana terbunuh, sedangkan perempuannya menjadi mainan bagi para goblin. Tempat itu pun menjadi sarang goblin
Jeritan dan tangisan para wanita berperut buncit, yang selalu di jadikan objek hubungan badan untuk para goblin, telah menjadi musik di reruntuhan itu. Disana mereka menggali lubang dan membuat goa. Reruntuhan desa menjadi tempat yang menyeramkan sejak saat itu.
Hal itu membuat kecemasan penduduk Kota dan desa di sekitar reruntuhan desa itu. Quest-quest pembersihan sarang goblin pun telah ditempelkan di guild petualang kota dan desa, sebagai misi rank-B. Akan tetapi setiap party petualang yang mengambil quest tersebut, belum ada satupun yang kembali. Hingga harapan penduduk hampir musnah.
Hal seperti itu harusnya ditangani oleh guild petualang bagian pusat di ibukota. Namun karena jarak dan kondisi tertentu menghalangi jalannya informasi dan bantuan. Guilp petualang bagian pusat memang sudah mengetahui itu, tapi mereka belum mengambil tindakan tentangnya.
Sampai akhirnya quest itu diambil oleh salah satu party atau kelompok besar, serigala kuning. Dengan begitu harapan penduduk kembali tumbuh terhadap mereka. Bukan hanya penduduk biasa, bahkan bangsawan yang mengepalai kota itu pun berharap banya kepada Party serigala kuning. Meskipun ia tidak memikirkan keselamatan mereka, ia masih memikirkan nasib penduduk kotanya nantinya.
Party serigala kuning pun memanggul banyak harapan di pundak mereka.
Dan pagi yang Indah itu adalah hari keberangkatan mereka.
30 orang yang merupakan campuran dari petualang rank-B dan rank-A, berjalan di kota dengan kereta dan kuda mereka. Penduduk kota memberi jalan untuk mereka hingga sampai ke pintu gerbang. Mereka menatap Party serigala kuning dengan tangan di dada mereka seakan mengatakan. 'Semoga berhasil'.
Mereka berharap banyak pada Party serigala kuning.
"Ketua... Ayo kita berangkat. "
"Ya... Menuju pertempuran "
Pagi itu serigala kuning berangkat menuju pertempuran mereka.
~~~~~
Advertisement
-
In Serial67 Chapters
12 Miles Below
The world is in ruins.Extreme sub-zero temperatures suffocate the surface, making even simple survival an ordeal. Frozen derelicts of bygone eras span across massive ice wastes. And the elite few hoard any technology rediscovered within.The only escape from the deadly climate is beneath the surface. But it’s another disaster underground. Monstrous machines lurk in the depths. Unhinged demigods war against them, dying over and over, treating it all like a game. The land itself shifts over time, more contraption than rock. And an ominous prophecy states that the key to everything waits at the last level — but nobody’s ever reached that far.When an expedition into the far uncharted north goes terribly wrong, Keith Winterscar and his father get trapped together in a desperate fight for survival. Stumbling upon an ancient power struggle of titanic scale; the two will need to set their differences aside while they struggle against Gods, legends, and the grand secrets of the realm that lies below.
8 467 -
In Serial65 Chapters
Doomsday Pillars
The world end on January 2020, it was started with a plague that brought death upon 80% of the population. When the survivors thought there was no more hope.. They came. 1008 pillars dropped from the sky and spread all around the world in more than 100 countries. The pillars become defensive bases to the of the survivors left. But in the end.. after 10 years The human race still lost. This is a story of Alex, given a second chance to start anew, one month before it all started. This time it will be different for his family, friend, and the human race
8 158 -
In Serial9 Chapters
Of the House of Deyspring
Terrisa and Horax have been inseparable since birth--after all, they're twins. But ordinary shroom farmers in their tiny village don't typically learn swordplay and combat archery. When their mothers' secret comes to light and their whole world turns upside-down, will their bond as twins break or hold? Featuring lesbian, gay, bisexual, and transgender characters front and center, Of the House of Deyspring is a high fantasy set in a world of glowing mushrooms, impossibly vast forests, good food, and a war against the usurper king and his horde of demonic soldiers. Content warnings for profanity, violence, sexual content, and potentially triggering or traumatic content. Comments are appreciated. Though I have the basics of writing down, any tips or suggestions you may have are welcome.
8 85 -
In Serial9 Chapters
Esoteria: The Planes of Man
Esoteria: The Planes of Man The first book in a litRPG adventure. In the near future, advancements in technology have allowed for massive evolution of virtualized treatments, training and fun. Jay is excited to finally have an opportunity to join the massively huge game of Esoteria which includes a full body immersion experience. To return to role-playing, sword fights, exploration and LOOT! It's a dream to "live" the game. *** Author's Note *** It's been many moons since I've put pen to paper, or in this case, mind to keyboard and drafted any creative writing. The creative spark has once again returned and I am excited to share this tale with you. I hope to have regular postings and look forward to your comments and feedback. I'll update the description a bit more once I get a few chapters down.
8 145 -
In Serial38 Chapters
Making of a Gentleman
Number one expert in the Devata realm was on his end of life span. He was unwilling to hand over his sect to his ungrateful disciples. He decided to burn all his power and sect's resources to create a microchip that was designed to help him find and create a successor. He named the system as -Gentleman's system Discord: raghunandan#4640
8 74 -
In Serial50 Chapters
Do you want to play a game?
Y/n was born into a poor family in Korea and when she was 9, their parents abandoned her. Before they left, they said that they couldn't take care of her anymore. <><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>She are now 27 and are in dept with alot of yen to many people. One day, a stranger in a business suit sat next to her in a train station and asked, "Do you want to play a game with me?"<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>This is a Worker x fem. Y/n reader and is based off of the popular series, Squid game. I hope you enjoy! (This is going to be all in Y/ns POV)
8 216
